Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'yakuza'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 6 results

  1. Pada bulan November 1988, Cowok A (18 tahun), Cowok B (jo kamisaku umur 17, kamisaku adalah nama keluarga yang dia ambil setelah keluar dari penjara), Cowok C (umur 16), dan Cowok D (umur 17) dari Tokyo menculik dan menyekap Furuta, siswi kelas 2 SMU dari Saitama selama 44 hari. Mereka menjadikan dia tahanan dirumah yang dimiliki orang tua Cowok C. Untuk menghindari pengejaran polisi, Cowok A memaksa Furuta untuk menelepon orangtuanya dan menyuruhnya mengatakan kalau dia kabur dari rumah dengan teman-temannya, dan tidak berada dalam bahaya. Bahkan cowok A membuat Furuta berpose sebagai pacar dari salah satu cowok–cowok itu ketika orangtua C, pemilik rumah sedang ada dirumah tersebut. Kalau mereka sudah yakin orang tua C tidak akan telepon polisi, mereka pun menyudahi sandiwara tersebut. Furuta mencoba kabur berkali–kali, memohon pada orang tua C untuk menyelamatkan dia, tapi mereka tidak melakukan apa-apa meskipun mereka tau kalau selama ini Furuta disiksa, karena mereka takut kalau Cowok A akan menyiksa mereka. Cowok A saat itu adalah pemimpin Yakuza kelas rendah dan telah mengencam siapapun yang ikut campur akan dibunuh. Menurut kesaksian para cowok itu dipersidangan, mereka berempat memperkosa Furuta, memukulinya, memasukan macam-macam ke dalam vaginanya termasuk tongkat besi, membuatnya minum urinnya sendiri dan makan kecoak, memasukan petasan ke dalam anusnya dan meledakanya, memaksa Furuta untuk masturbasi, memotong pentilnya dengan tang, menjatuhkan barbell ke perutnya, dan membakarnya dengan rokok dan korek api (salah satu dari pembakaran itu adalah hukuman karena dia berusaha menelepon polisi). Pada sebuah titik luka Furuta sangat parah hingga menurut salah satu cowok itu, Furuta membutuhkan waktu satu jam lebih untuk merangkak turun tangga untuk menggunakan kamar mandi. Mereka bahkan mengatakan kemungkinan kalau 100 orang tau kalau mereka menahan Furuta di rumah tersebut, tapi hal ini tidak jelas artinya apa 100 orang itu hanya tau atau mereka ikut memperkosa dan menyiksa juga saat berkunjung ke rumah tersebut. Cowok-cowok itu menolak membiarkan Furuta pergi, walau Furuta seringkali memohon pada mereka untuk membunuhnya saja dan menyudahi penderitaan tersebut. Pada tanggal 4 Januari 1989, dengan menggunakan alasan kekalahan salah seorang cowok itu main mahyong, keempat cowok itu memukuli Furuta dengan barbell besi, menuang cairan korek api ke kakinya, tangannya, perutnya, dan mukanya, dan lalu membakarnya. Dia meninggal tak lama kemudian hari itu karena shock. Kempat cowok itu menyatakan kalau mereka tidak menyadari betapa parah luka yang dialami Furuta, dan mereka percaya kalau Furuta hanya berpura-pura mati. Para pembunuh itu menyembunyikan mayatnya di drum 55 galon dan memenuhinya dengan semen. Mereka membuang drum tersebut di kota Tokyo. Penahanan dan Hukuman Para cowok itu ditangkap dan disidangkan sebagai orang dewasa, tapi karena Jepang menangani kejahatan yag dilakukan oleh yang masih dibawah umur, identitas mereka disembunyikan oleh persidangan. Tapi bagaimanapun juga, seminggu kemudian, majalah mingguan bernama Shukan Bunshun menerbitkan nama mereka, dengan menyatakan “hak asasi tidak dibutuhkan oleh penjahat biadab.” Mereka juga menerbitkan Nama asli Furuta dan detail tentang kehidupan pribadinya dan menerbitkanya dengan sangat nafsu di media. Kamisaku dituntut sebagai pemimpin para cowok itu, (entah benar atau tidaknya) menurut persidangan. Keempat cowok itu diberi keringanan dengan dinyatakannya bersalah dengan tuntutan “membuat luka fisik yang menyebabkan kematian”, dibandingkan tuntutan pembunuhan. Orang tua cowok A menjual rumah mereka dengan harga maksimum 50 juta yen atau 5 miliar rupiah dan membayarnya sebagai kompensasi untuk keluarga Furuta. Untuk partisipasinya di kejahatan ini, Kamisaku harus menjalani 8 tahun di penjara anak-anak sebelum dia dibebaskan di bulan agustus 1999. di bulan juli 2004, Kamisaku ditangkap karena mencelakai seorang kenalan, yang dia pikir membuat pacarnya menjauhi dia, dan dengan bangga membanggakan tentang keluarganya sebelum mencelakai kenalannya itu. Kamisaku dihukum 7 tahun dengan tuntutan memukuli. *Memukuli 7 tahun penjara, menyiksa Furuta sampe mati dipenjara 8 tahun? Mati aje loo* Orangtua Junko Furuta terkejut dengan kalimat yang diterima dari pembunuh anak perempuannya, dan bergabung dengan grup masyarakat melawan orangtua Cowok C yang rumahnya dijadikan tempat penyekapan. Ketika beberapa masalah ditimbulkan dari bukti (semen dan rambut yang didapat dari tubuh itu tidak cocok dengan para cowok-cowok yang ditangkap), pengacara yang menangani lembaga masyarakat memutuskan untuk tidak membantu mereka lagi karena merasa tidak ada bukti berarti tidak ada kasus atau dakwaan. Ada spekulasi bahwa bukti yang mereka dapat itu didapat dari orang tidak teridentifikasi yang memperkosa atau ikut memukuli Furuta. Satu dari yang paling menggangu dari kisah nyata ini adalah bahwa para pembunuh Furuta sekarang bebas. Setelah membuat Junko Furuta melalui berbagai penderitaan, mereka adalah cowok bebas sekarang. Semua hal menakutkan setengah mati ini dilakukan pada Junko Furuta dan dikumpulkan melalui sidang di Jepang dan blogs dari 1989. Mereka menunjukan kalau sakit yang dialami Junko Furuta dialami bertubi-tubi sebelum akhirnya dia meninggal. Semua ini terjadi dengannya sewaktu dia masih hidup, memang sangat mengganggu tapi inilah kenyataanya. Kronologis Hari 1 (22 November 1988) Penculikan Dikurung sebagai tahanan rumah, dan dipaksa berpose sebagai pacar salah satu cowok. Diperkosa (lebih dari 400 kali totalnya) Dipaksa menelepon orangtuanya dan mengatakan kalau dia kabur dan situasi aman Kelaparan dan kekurangan gizi Diberi makan kecoak dan minum kencing Dipaksa masturbasi Dipaksa striptease didepan banyak orang Dibakar dengan korek api Memasukan macam-macam *dari yang kecil sampe yang besar yang tidak bisa dibayangkan* ke vagina dan anusnya Hari 11 (1 Desember 1988) Menderita luka pukulan keras yang tak terhitung berapa kali Muka terluka karena jatuh dari tempat tinggi ke permukaan keras Tangan diikat ke langit langit dan badannya digunakan sebagai *itu loh yang isinya pasir buat tinju* sarana untuk ditinju Hidungnya dipenuhi sangat banyak darah sehingga dia cuma bisa bernafas lewat mulut Barbell dijatuhin ke perutnya Muntah darah ketika minum air (lambungnya tidak bisa menerima air itu) Mencoba kabur dan dihukum dengan sundutan rokok di tangan Cairan seperti bensin dituang ke telapak kaki, dan betis hingga paha lalu dibakar Botol dipaksa masuk ke anusnya, sampe masuk, menyebabkan luka. Hari 20 (10 Desember 1989) Tidak bisa jalan dengan baik karena luka bakar dikaki Dipukuli dengan tongkat bamboo Petasan dimasukin ke anus, lalu disulut Tangan di penyet *dipukul supaya gepeng* dengan sesuatu yang berat dan kukunya pecah Dipukulin dengan tongkat dan bola golf Memasukan rokok ke dalam vagina *mungkin maksudnya dijadiin asbak, dimatiin di vagina dan abunya dibuang kedalam* Dipukulin dengan tongkat besi Saat itu musim dingin bersalju *dingin pasti minus* disuruh tidur di balkon Tusuk sate dimasukin ke dalam vagina dan anus menyebabkan pendarahan Hari 30 Cairan lilin panas diteteskan ke mukanya Lapisan mata dibakar korek api Dadanya ditusuk-tusuk jarum Pentil kiri dihancurkan dan dipotong dengan tang Bola lampu panas dimasukin vagina Luka berat di vagina karena dimasukin gunting Tidak bias pipis dengan normal Luka sangat parah hingga membutuhkan sejam untuk merangkak turun tangga saja untuk menggunakan kamar mandi Gendang telinga rusak parah Ukuran otak menciut sangat sangat banyak Hari 40 Memohon sama para penyiksa untuk membunuhnya saja dan menyelesaikan penderitaannya 1 January 1989 Junko tahun baruan sendirian Tubuhnya dimutilasi Tidak bisa bangun dari lantai Hari ke 44 Para cowok itu menyiksa badannya yang termutilasi dengan barbell besi, dengan menggunakan alasan kalah main mahyong. Furuta mengalami pendarahan di hidung dan mulut. Mereka menyiram mukanya dan matanya dengan cairan lilin yang dibakar. Lalu cairan korek api dituang ke kaki tangan muka, perut dan dibakar. Penyiksaan akhir ini berlangsung sekitar 2 jam nonstop. Junko Furuta meninggal pada hari itu juga dalam rasa nyeri sakit dan sendirian. Gag ada yang bisa ngalahin 44 hari penderitaan yang udah dia alamin. Junko Furuta meninggal pada hari itu juga dalam rasa nyeri sakit dan sendirian. Gag ada yang bisa ngalahin 44 hari penderitaan yang udah dia alamin.
  2. Salah satu ciri khas mafia Jepang alias Yakuza adalah tato di sekujur tubuh mereka. Tak sembarang tato, gambar atau Irezumi bagi Yakuza dibuat dengan detil dan berwarna indah. Seorang artis tato seperti menggunakan tubuh untuk kanvas tempatnya melukis. Sejarah tato Yakuza sudah berumur ratusan tahun. Mungkin sama tuanya dengan organisasi Yakuza yang sudah berdiri sejak zaman shogun dan para samurainya. Tak cuma Yakuza pria, para wanitanya pun menato seluruh tubuh mereka. Kontras sekali kulit putih dihiasi rajah aneka warna. Sebenarnya tak ada keharusan Yakuza bertato. Apalagi kini polisi menyatakan perang terhadap Yakuza. Orang-orang bertato pun sering dianggap sebagai Yakuza dan menerima diskriminasi. Tapi tetap saja para Yakuza manato tubuh mereka. Berikut beberapa alasan Yakuza menghias tubuh mereka dengan tato. 1. Jadi jagoan di jalan 2. Agar aman di penjara 3. Rasa hormat pada pemimpin 4. Kebanggaan mengalahkan rasa sakit Sebab kalau pakai mesin, akan cepat luntur dan warna akan hilang, kata dia. 5. Menyukai keindahan dan seni tato
  3. Shoko Tendo (45) menghela napas saat menceritakan pengalamannya menjadi anggota Yakuza bertahun-tahun. Wanita ini bukan hanya anggota organisasi kriminal Jepang itu, dia juga putri bos besar Yakuza. "Tidak pernah saya berpikir kembali lagi ke dunia Yakuza," kata Shoko Sebagai anak petinggi Yakuza, Shoko besar di kalangan Yakuza. Dia pun mulai terlibat di dalamnya. Diakui, hal ini dilakukan atas pilihan sendiri. Tak ada saudaranya yang bergabung dengan Yakuza. Ayah Shoko pun tak ingin anaknya mengikuti jejaknya. Tapi Shoko memilih jalan hidupnya sendiri. Dia menjadi bagian organisasi Yakuza. Shoko pun terjerumus menjadi pecandu narkoba. Dia terlibat asmara dan seks dengan sesama anggota Yakuza. Dua hal ini pernah sangat lekat dengan dirinya. Wanita bertato ini juga akrab dengan kehidupan malam dan menjadi pacar gelap para anggota Yakuza. Hidupnya hancur-hancuran kala itu. Tapi Shoko cukup beruntung tak pernah merasakan dipenjara. Tugas wanita Yakuza biasanya menemani para pembesar atau jadi wanita simpanan. Mereka tak terlibat langsung dengan perang antar kelompok atau kekerasan lain. Tapi Shoko paham betul bagaimana kerasnya hidup di lingkungan Yakuza. Shoko juga tahu informasi A1 alias terpercaya soal penyelundupan narkoba yang dilakukan Yakuza. Narkoba itu salah satunya berasal dari Korea Utara. Rupanya sejauh itu kerja sama internasional Yakuza. Kini Shoko mengaku sudah tobat dan keluar dari dunia Yakuza. Shoko memilih membesarkan anaknya yang kini berusia 8 tahun seorang diri.
  4. Keberadaan gangster Yakuza di Indonesia bukanlah isapan jempol belaka. Yakuza yang juga dikenal dengan nama Gokudoo adalah organisasi atau sindikat kejahatan dari Jepang yang mulai muncul sekitar abad ke-17. Kelompok hitam ini memiliki sebuah semangat khusus yang dimiliki para anggota Yakuza. Tiap anggota Yakuza memiliki jiwa 'Bushido'. Karena itu, dulu banyak warga Jepang yang berbondong-bondong masuk menjadi anggota Yakuza. Bushido memiliki pengertian 'tata cara kesatria'. Para anggota Yakuza dikenal tak kenal kompromi. Mereka tak segan untuk melakukan kekerasan kepada siapa saja. Karenanya, pemerintah Jepang belakangan memperketat dan membatasi ruang lingkup Yakuza. Seorang wartawan asal Indonesia yang lama tinggal di Jepang, Richard Susilo, membuat situs tersebut khusus untuk mengulas berita tentang Yakuza dalam bahasa Indonesia. Situs yang beralamatkan di http://yakuza.in ini diharapkan menjadi bahan belajar atau sumber informasi bagi siapapun yang ingin mencari referensi data seputar Yakuza. Informasi tentang Yakuza pun semakin lengkap ketika putri bos besar Yakuza, Shoko Tendo mengunjungi Indonesia dua tahun lalu. Namun demikian, sepak terjang Yakuza diyakini sudah berkecambah di Indonesia. Ini dia cerita tentang keberadaan Yakuza di Indonesia: 1. 6 WNA yang dibekuk di Ancol dan Lebak bulus jaringan Yakuza Kepolisian Polda Metro Jaya mengamankan 96 Warga Negara Asing (WNA) yang merupakan bagian dari jaringan mafia Internasional Yakuza. Mereka menjadikan Indonesia sebagai tempat untuk melakukan penipuan secara online. "Mereka merupakan organisasi yang dilindungi oleh organisasi besar Jepang, Yakuza. 96 WNA ini menjadikan Indonesia sebagai tempat operasionalnya, jaringan ini terorganisir secara baik. Sebab, jaringan ini memakai berbagai cara untuk menghindari terendus dari incaran kepolisian," ujar Direktur Reserse Kriminal Umum, Kombes Pol Krishna Murti, di Mainhall Polda Metro Jaya, Jumat 21 Agustus 2015. Dari 96 orang WNA tersebut, kata Krishna, 82 orang merupakan warga negara Taiwan yang memang paham dialek China daratan, sedangkan 14 orang merupakan warga negara China. "Mereka rekrut orang dari Taiwan kemudian mereka mengincar para pejabat China daratan sebagai korban penipuannya," ujar. Selain menipu dengan mengaku sebagai orang tertentu, mereka juga mengaku sebagai pihak bank yang akan menambahkan limit kartu kredit. Tiga rumah di Jakarta dijadikan mereka sebagai markas. "Tempat pertama, di Pademangan, Jakarta Utara. Kedua, dua rumah di Jl Adyaksa Raya, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Mereka semua diringkus pada Kamis kemarin. Satu orang yang bertugas untuk mencari kontrakan dan melengkapi kebutuhan hidup 96 orang yakni berinisial W, warga Taiwan. Sedangkan satu WN Indonesia berinisial FSB merupakan orang yang bertugas mengurusi visa on arrival para 96 orang ini," jelasnya. 2. Geng motor, kecambah Yakuza di Indonesia Di Indonesia, geng motor menjadi momok menakutkan sebab mereka tak segan menyakiti siapapun yang menghalangi perbuatannya. Menurut Richard Susilo, penulis buku Yakuza Indonesia, geng motor itu bisa menjadi akar tumbuhnya Yakuza di Tanah Air. "Geng sepeda motor itu kecambah dari Yakuza di Indonesia. Gejala-gejala munculnya Yakuza sudah terlihat dengan menjamurnya geng motor. Seharusnya mereka dibabat habis, jangan disepelekan," kata Richard. Menurut pria berkacamata ini, perekrutan Yakuza itu diambil dari geng sepeda motor. Di Jepang, Yakuza akan merekrut anggota geng motor tersebut untuk dididik menjadi Yakuza. "Masyarakat Jepang dan Indonesia itu tak jauh beda. Perekrutan Yakuza itu diambil dari geng sepeda motor, itu harus dibabat habis. Tidak boleh disepelekan itu geng motor," jelas Richard. Pria yang tinggal di Jepang ini mengatakan setelah merekrut geng motor tersebut, mereka digodok dan dididik menjadi Yakuza. Yakuza akan memanfaatkan anggota geng motor itu untuk mencari uang untuk organisasi. Para anggota geng motor inilah yang dikerahkan Yakuza untuk melakukan aksi kotor tingkat rendah mereka. Mulai dari memeras hingga menjadi kurir narkoba. Keuntungan Yakuza merekrut geng motor ini karena Yakuza bisa cuci tangan dan mengaku tak terlibat kejahatan jika 'pesuruh' mereka tertangkap polisi. 3. Yakuza diduga kendalikan sindikat penipu asal China Kepala Polda Metro Jaya Jenderal Polisi Tito Karnavian menduga kelompok Yakuza Jepang mengendalikan sindikat penipu asal Taiwan dan China yang beroperasi di Indonesia. "Kejahatan ini dilakukan kelompok mafia dengan sasaran operasi berasal dari China Daratan," kata Tito seperti dikutip Antara, Jumat (21/8). Pernyataan Tito terkait dengan pengungkapan jaringan penipuan asal Taiwan dan China sebanyak 96 orang yang beroperasi di wilayah Ancol, Jakarta Utara dan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Kamis 20 Agustus 2015. Tito mengatakan dugaan keterlibatan kelompok Yakuza berdasarkan hasil kerja sama penyelidikan yang dilakukan kepolisian Taiwan dan China. Menurutnya, kelompok Yakuza beroperasi di wilayah China, Taiwan, Jepang dan Indonesia. Kepolisian Taiwan sempat meringkus delapan anggota kelompok kejahatan tersebut dan menyita sepucuk pistol, sejumlah uang bernilai miliaran dalam mata uang Yen, Bath dan USD. Selain itu juga terdapat perhiasan berupa emas dan berlian. Para tersangka direkrut pelaku kejahatan asal Taiwan yang sudah beroperasi di Indonesia. Tito menuturkan kelompok internasional itu terindikasi menipu secara online dan terlibat perdagangan manusia, pencucian uang dan kejahatan antarnegara. 4. Cara Yakuza cuci uang di Indonesia Eksistensi Yakuza, kelompok mafia di Jepang makin terjepit seiring diterbitkannya Undang-undang Anti-Yakuza oleh pemerintah setempat. Gerak-gerik dan berbagai aksi kriminal yang semula leluasa mereka lakukan mulai dibatasi ketat. Tak cuma keberadaannya yang dikekang, uang hasil kejahatan yang didapat tak bisa lagi dihambur-hamburkan sesuka hari di negara matahari terbit itu. Alhasil mereka harus putar otak untuk menyamarkan uang dari berbagai bisnis haram yang dijalankan. Salah satu cara yang dipilih kelompok Yakuza dengan mencuci uang ke negara-negara yang dianggap kondisi ekonominya cukup baik. Salah satunya Indonesia. "Karena digencet, dia (Yakuza) mental ke luar Jepang termasuk Indonesia dan mereka melakukan pencucian uang," tambah pria kelahiran 1961 ini. Dalam penelitian panjang yang dilakukannya, kelompok Yakuza ini cukup licik mencuci uang hasil kejahatan itu agar tak mudah terdeteksi pisah kepolisian. Di Indonesia, biasanya trik yang dilakukan dengan menikahi wanita Indonesia. "Kalau dipakai namanya (istrinya) untuk menyamarkan uang dari aksi kejahatan itu dan mereka bisa tetap kaya raya di Indonesia. Kalau sudah begitu susah ditelusurinya," ungkap pria berkacamata ini. Kemudian, agar kemudian tak mendatangkan kecurigaan, uang di rekening istrinya itu ikut dimainkan di pasar modal. Dengan begitu, uang terus berputar. Biasanya, uang yang mereka setorkan ke negara lain berasal dari aksi kejahatan yang dilakukan seperti bisnis narkotika, perjudian, pelacuran dan beberapa lainnya. "Uang-uang itulah yang kemudian dibawa lalu dicuci di Indonesia," pungkas Richard.
  5. Salah satu bisnis hitam anggota Yakuza di beberapa negara adalah prostitusi dan penjualan perempuan. Perempuan-perempuan asing yang tertangkap di Jepang biasanya memiliki kasus sama. Mereka diperalat oleh Yakuza dan terpaksa mencari uang di dunia malam sebanyak mungkin untuk menebus paspornya kepada para Yakuza. Tidak heran ada perempuan Indonesia kelahiran Pontianak, menjadi istri seorang anggota Yakuza di Jepang. Para perempuan asing itu biasanya men-charge tamu sekitar 12.000 Yen atau sekitar Rp 1,4 juta (kurs 116 per yen) sejam, plus minuman keras yang diminum bersama tamu. Bahkan terkadang mereka juga harus menemani tidur tamu-tamunya itu. Seperti diceritakan Richard Susilo dalam buku berjudul: "Yakuza Indonesia". Richard mengutip tulisan Yukio Murakami yang mewawancarai perempuan asal Pontianak itu, lalu dimuat dalam tabloid Nikkan Gendai, 25 Januari 2012. Menurut dia, kasus semacam itu tak ubahnya kasus perbudakan zaman sekarang. Sindikat kejahatan meraup uang dengan memakai perempuan Thailand dan Filipina. Mereka dipekerjakan di snack (sunaku kurabu), klub, atau tempat pemandian air panas di daerah-daerah agar jauh dari polisi. Para perempuan itu hanya diberi makanan kotak atau bento dan kosmetik untuk berdandan. Para perempuan budak itu seperti sapi perah, yang bekerja untuk membayar pinjaman kredit karena paspor ditahan. Mereka tidak boleh ke mana-mana dan pasti akan dikuntit dari jauh kalau pergi keluar, sehingga tidak akan mungkin kabur. "Apabila perempuan itu cantik dan banyak tamunya, maka suatu waktu pasti akan dibuat alasan yang dibuat-buat, misalnya tamu komplain pelayanan tidak bagus, sehingga si perempuan didenda cukup banyak, akibatnya jumlah uang tabungan tidak penuh-penuh dan paspor tidak bisa diterima kembali. Itu menjadi akal bulus para sindikat kejahatan di Jepang." Banyak sekali kasus semacam itu terjadi di Jepang. Semua itu terjadi karena si perempuan kurang berusaha untuk kabur kalau memang tidak mau dipekerjakan demikian. Atau, mereka memilih pasrah dan lebih memilih uang sehingga melakukan demikian. "Walau kami bekerja begini, masih lumayan dapat uang lebih banyak bila di-rupiahkan, bisa menabung sedikit dan bisa mengirim uang sedikit kepada keluarga di Indonesia, daripada kerja di Indonesia rasanya susah banget dapat uang," kata perempuan Indonesia asal Pontianak yang bekerja pada sebuah bar, klub malam di Shinjuku.
  6. "Banyak yang keliru, sebenarnya tidak ada tato khusus di Yakuza. Hanya etika kepada Komicho (ketua geng), jadi kelihatannya tatonya mirip. Jangan salah, untuk membuat tato itu mahal luar biasa, untuk satu tubuh tato seharga 1 juta Yen atau sekitar Rp 100 juta. Tetapi kita belum bicara tato bagian belakang, itu bagian depan saja," ujar Richard Susilo, penulis buku Yakuza Indonesia. Penuturan pria yang tinggal di Jepang ini, awalnya ada dua warna dasar yang menjadi keharusan yaitu merah dan hitam. Kebanyakan tato anggota Yakuza itu bergambar naga, harimau, kupu-kupu, bunga sakura, bunga Chrysantinum (bunga seruni, bunga krisan), gambar terkait Buddha (Fudo Myoo) serta setan atau tengkorak. "Fudo Myoo adalah dewa pelindung Buddha, dewa kekejaman, dewa marah, untuk mengusir segera semua yang jahat mengitari kita," jelas dia. Richard mengatakan, untuk mentato tubuh tidak bisa sekaligus karena zat untuk tato itu mengandung racun. Dalam seminggu hanya boleh dua kali, paling banyak tiga kali pengerjaan tato. Maka tidak heran dibutuhkan waktu yang lama untuk memenuhi tubuh dengan tato. "Tidak bisa sekaligus, tidak bisa ditato setiap hari, 2 kali dalam seminggu. Penyelesaiannya ada yang setahun, ada juga yang lebih. Tergantung tingkat kesulitan dan detail tato tersebut dan berwarna atau tidak," jelas dia. Menurut Richard, bagi Yakuza mengalahkan rasa sakit seperti saat ditato itu terhormat. Pengerjaan tato paling baik adalah dengan tangan disebut Tebori. "Sebab kalau pakai mesin, akan cepat luntur dan warna akan hilang," kata dia. Namun anggota Yakuza sekarang banyak yang tidak bertato, sebab Jepang sudah memberlakukan Undang-undang Anti-Yakuza. UU itu mempersempit ruang gerak Yakuza, sebab tempat-tempat umum di Negeri Matahari Terbit itu melarang orang yang bertato masuk ke tempat umum. "Seperti pemandian umum, restoran dan beberapa tempat umum lainnya. Bahkan bank di Jepang memberlakukan peraturan tak tertulis atas pelarangan anggota Yakuza membuka rekening perbankan, karena isi dalam UU itu, siapapun yang terkoneksi dengan Yakuza berarti bagian dari Yakuza," tutur dia.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy