Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'who'.

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • CLINIC NGOBAS
    • Coronavirus
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • Ngocol
    • Ngocol Video
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • ABOUT NgobasTV
    • EVENT
    • WESER
    • LAPOR KOMANDAN

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Categories

  • Files
    • Website
    • Smartphone
    • Computer
  • Games
  • E-Book

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 3 results

  1. Seorang petugas kesehatan tampak membersihkan tangannya setelah mengambil sampel tes usap (swab test) dari seorang pasien di pusat tes COVID-19 di Hyderabad, India, pada 11 Oktober 2020. (Foto: AP/Mahesh Kumar A.) Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada Jumat (9/10) mengumumkan bahwa pihaknya telah menetapkan dan merilis definisi klinis standar pertama dari gejala yang umum dikenal sebagai “long COVID”. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan pengobatan untuk para penderitanya. Berbicara secara virtual kepada reporter dari markas besar WHO di Jenewa, Kepala Manajemen Klinis WHO Janet Diaz mengatakan definisi ini disetujui setelah melakukan konsultasi dengan para petugas kesehatan di seluruh dunia. Ia mengatakan, kondisi di mana gejala dari sakit yang diderita tetap bertahan melampaui apa yang dialami oleh pasien lainnya, biasanya disebut sebagai “post-COVID,” salah satu dari banyak istilah mirip yang dipakai. Gejala ini terjadi pada orang yang sudah terkonfirmasi atau kemungkinan mengidap infeksi virus corona baru, yang “biasanya terjadi tiga bulan sejak mengidap COVID-19 dengan gejala yang berlangsung paling sedikit dua bulan, dan gejala tersebut tidak bisa dijelaskan oleh diagnosa alternatif.” Gejalanya mencakup “keletihan, kesulitan bernapas, disfungsi kognitif,” kata Diaz, tetapi ada juga gejala lainnya, yang pada umumnya punya dampak merugikan pada kesehatan sehari-hari. Diaz menjelaskan bahwa sampai sekarang, kurangnya kejelasan di kalangan para petugas medis tentang kondisi ini telah mempersulit usaha memajukan penelitian dan pengobatannya. (jm/pp)
  2. WHO mengeluarkan imbauan Selasa (16/2), bahwa negara-negara yang berusaha memberantas wabah Zika sebaiknya mempertimbangkan digunakannya nyamuk hasil rekayasa genetika, meskipun metode ini masih kontroversial. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan imbauan Selasa (16/2), bahwa negara-negara yang berusaha memberantas wabah Zika sebaiknya mempertimbangkan penggunaan 'metode kontroversial' untuk melawan penyebaran wabah tersebut. WHO merekomendasikan digunakannya nyamuk dan 'agen biologi' hasil rekayasa genetika yang akan mencegah jentik-jentik nyamuk untuk bisa menetas atau berkembang menjadi nyamuk. "Mengingat besarnya krisis Zika, WHO mendorong negara-negara yang terkena dampak untuk meningkatkan langkah-langkah, baik melalui pendekatan lama dan baru dalam upaya mengendalikan nyamuk,'' kata WHO. Dewan Penasihat WHO menganjurkan uji coba untuk menggunakan "nyamuk jantan yang disterilkan," sebuah teknik yang digunakan untuk melawan demam berdarah di Kepulauan Cayman. WHO mengatakan bahwa lembaga-lembaga PBB lainnya telah mengerahkan nyamuk jantan yang disterilkan itu untuk mengendalikan hama-hama pertanian lainnya. Namun, para pakar lingkungan telah memperingatkan terhadap penggunaan nyamuk hasil rekayasa genetika tersebut, bahwa dampak jangka panjang dari pembunuhan terhadap seluruh populasi serangga itu belum diketahui. Virus Zika ditularkan terutama oleh nyamuk Aedes aegypti. Juga hari Selasa (16/2), Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (US FDA) merekomendasikan agar orang-orang yang memiliki potensi tertular oleh Zika untuk menunda melakukan donor darah, setidaknya selama empat minggu. Peringatan FDA tersebut di antaranya ditujukan kepada orang-orang yang menunjukkan gejala Zika, siapa pun yang telah melakukan perjalanan ke negara-negara yang dilanda wabah Zika, dan mereka yang telah melakukan hubungan seks dengan seseorang baru saja melakukan perjalanan ke salah satu negara tersebut dalam tiga bulan terakhir. Sebelumnya awal bulan ini, WHO juga mengimbau para petugasnya untuk tidak menerima sumbangan darah dari orang yang baru saja kembali dari negara-negara yang terjangkit virus Zika. "Dengan risiko kejadian infeksi baru virus Zika di banyak negara, tindakan pencegahan yang tepat adalah menunda sumbangan darah mereka yang baru kembali dari daerah yang terkena wabah virus Zika," kata WHO kepada kantor berita Perancis, AFP, Kamis (4/2) lalu. Seperti yang dilansir dari VOA Indonesia.
  3. Halo jendral2 sekalian yang makin imut2 Ane mau numpang berbagi info nih buat ente sekalian yang suka "autis" sama Smartphone nya. Tapi mohon maaf sebelumnya kalo repost Semoga bermanfaat Anda pasti mengerti akibat dari merokok dan apakah anda memiliki Handphone. tapi Saya kira bahwa kebanyakan dari Anda pasti banyak yang memiliki Handpone. lalu apa hunbungan antara Handphone dan rokok? mungkin Anda bertanya demikian. tapi Tahukah Anda bahwa Merokok memiliki akibat yang buruk namun Ternyata handphone memiliki dampak yang lebih Buruk Lagikenapa demikian? Bahaya merokok bagi kesehatan memang tak diragukan lagi. Namun siapa sangka pemakaian ponsel jauh lebih membahayakan kesehatan Anda. Dr Vini Khurana, seorang ahli bedah syaraf menyebutkan bahwa radiasi ponsel dapat lebih membunuh ketimbang bahaya merokok. menurut Vini dari data 10 tahun terakhir, semenjak pemakaian ponsel mulai menjamur, jumlah penderita kanker otak meningkat hingga dua kali lipat. Dikutip dari The Independent, Dr. Vini dan tim telah memaparkan hasil penelitiannya dan tim mengenai bahaya pemakaian ponsel dalam sebuah jurnal kesehatan.Kesimpulan dari seluruh penelitian tersebut adalah ada hubungan erat antara tumor otak dengan pemakaian ponsel. Dan yang paling mengkhawatirkan, risiko terbesar pemakaian ponsel adalah pada anak-anak. Vini juga membandingkan, jika tiap tahunnya 5 juta orang meninggal karena merokok, entah berapa banyak yang akan kehilangan nyawa karena pemakaian ponsel yang berlebihan. Mengingat jumlah pemakai ponsel tiga kali lebih banyak dari perokok. Penelitian ini memang belum diakui oleh WHO, namun di awal tahun ini beberapa negara maju telah mengatur pemakaian ponsel warganya. Sebut saja Prancis dan Jerman telah menghimbau rakyatnya untuk mengurangi pemakaian ponsel. Jadi tidak ada salahnya untuk mulai mengontrol waktu pemakaian ponsel Anda!
×
×
  • Create New...