Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'wartawan'.

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • CLINIC NGOBAS
    • Coronavirus
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • Ngocol
    • Ngocol Video
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • ABOUT NgobasTV
    • EVENT
    • WESER
    • LAPOR KOMANDAN

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Categories

  • Files
    • Website
    • Smartphone
  • Games
  • E-Book

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 4 results

  1. Udin bergegas pulang malam itu menggunakan Honda Tiger 2000 berwarna merah hati selepas merampungkan pekerjaan. Jam menunjukkan pukul 21.30, kalender mencatat tanggal 13 Agustus 1996. Raut wajahnya nampak tegang dan gelisah. Tidak nyana nasib buruk memang menimpanya malam itu. Ia diserang pria tak dikenal tak lama setelah menginjakkan kaki di rumah. Ia dipukul, kepala dihantam, dan perut disodok besi. Udin terluka parah tak sadarkan diri. Ia dibawa ke RSU Jebugan Bantul sebelum akhirnya dipindahkan ke RS Bethesda Yogyakarta untuk menjalani perawatan intensif. Tiga hari kemudian, Jumat 16 Agustus 1996, tepat hari ini 25 tahun yang lalu, pihak RS Bethesda memberi kabar: Operasi tak mampu menghentikan pendarahan hebat di kepala. Nyawa Udin tak tertolong. Ia meninggal dunia pukul 16.50. Meninggalnya Udin adalah bukti betapa brutalnya rezim Orde Baru yang tak menghargai nyawa manusia. Udin tewas tanpa tahu siapa yang membunuhnya dan apa motif di belakangnya. Melawan Tiran “Mas Udin selalu bilang, kalau memang ada kesalahan, ya, harus diberitakan sesuai fakta. Memang begitu kerjanya wartawan,” kata Marsiyem, istri Udin, kepada Rappler Indonesia pada 2015 silam. Udin, yang punya nama lengkap Fuad Muhammad Syafruddin, adalah wartawan surat kabar harian asal Yogyakarta, Bernas. Semasa bekerja sebagai wartawan, Udin sudah banyak menulis laporan yang membikin telinga penguasa panas. Sebelum meninggal, Udin disibukkan dengan peliputan pemilihan Bupati Bantul untuk masa jabatan 1996-2001. Ia mengikuti tiap perkembangan peristiwa dengan saksama. Pemilihan saat itu dianggap alot dan rumit. Pasalnya, terdapat tiga calon yang maju dan semuanya berlatar belakang militer. Satu calon yang mencolok ialah sang petahana, Sri Roso Sudarmo. Keikutsertaan Sri Roso sebetulnya cukup mengejutkan. Pasalnya, menurut Danrem 072/Pamungkas Kolonel (Inf.) Abdul Rahman Gaffar, Sri Roso bakal dipindahtugaskan ke daerah lain. Entah mengapa yang terjadi justru sebaliknya. Masuknya kembali Sri Roso ke gelanggang memicu Udin membongkar borok pemerintahan. Selama memegang kendali kekuasaan, Sri Roso dianggap tidak kompeten dan penuh praktik KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme). Maka, jadilan laporan-laporan yang sarat kritik macam “Tiga Kolonel Ramaikan Bursa Calon Bupati Bantul,” “Soal Pencalonan Bupati Bantul: Banyak ‘Invisible Hand’ Pengaruhi Pencalonan,” “Di Desa Karangtengah Imogiri, Dana IDT Hanya Diberikan Separo,” hingga “Isak Tangis Warnai Pengosongan Parangtritis.” Tak cuma menyerang Suroso, laporan Udin juga menampar Orde Baru yang kala itu telah berada di senja kala kekuasaan. Laporan paling bikin gempar adalah soal surat kaleng yang menuturkan ada calon bupati yang diduga kuat bakal memberikan dana sebesar satu miliar rupiah kepada Yayasan Dharmais milik Soeharto. Walaupun tidak dijelaskan siapa calon yang dimaksud, belakangan jelas bahwa sosok tersebut adalah Sri Roso. Hal ini dibuktikan dengan penemuan “surat pernyataan” bersegel yang ditulis dan ditandatangani oleh Sri Roso. Surat tersebut menjelaskan bahwa Sri Roso setuju “membantu” pendanaan Yayasan Dharmais apabila terpilih sebagai Bupati Bantul periode 1996-2001. Udin bukannya tak khawatir dengan semua laporan yang ditulisnya. Ia sadar sedang melawan tiran. Berkali-kali ia sadar tengah diikuti orang tak dikenal yang mengawasi gerak-geriknya. Namun rasa takut tak menghentikan niatnya untuk menulis dan menyebarkan kebenaran kepada publik. Keberanian itu pula yang menuntunnya pada laporan terakhir tentang dugaan kasus korupsi pembangunan jalan. Tulisan yang kelak diberi judul “Proyek Jalan 2 Km, Hanya Digarap 1,2 Km” tersebut terbit sehari sebelum Udin meninggal. Isi laporannya: memblejeti kejanggalan proyek peningkatan jalan di ruas Tamantirto-Pengkolan, Kasihan, Bantul. Yang Ditangkap adalah Tumbal Kasus Udin menemui jalan buntu. Polisi tak bekerja maksimal dalam mengusut tuntas pembunuhan tersebut. Beberapa rekan Udin akhirnya membuat tim investigasi pencari fakta. Berdasarkan penyelidikan, tim menyimpulkan bahwa tewasnya Udin tak bisa dilepaskan dari berita-berita yang ia tulis. Laporan Udin dipandang memancing kemarahan penguasa. Dalang di balik pembunuhan Udin mengerucut pada satu nama: Sri Roso. Tentu Sri Roso menolak hasil penyelidikan itu. Sepekan setelah kematian Udin, Sri Roso menggelar konferensi pers dan menyatakan sama sekali tak terlibat dalam pembunuhan. Pernyataan Sri Roso juga dipertegas kepolisian. Diwakili Kapolres Bantul, Letkol Pol Ade Subardan, polisi mengatakan kasus Udin tak punya dalang dan pembunuhnya akan ditangkap dalam kurun waktu tiga hari. Polisi memang menangkap “pelaku” pembunuhan Udin. Ia bernama Dwi Sumaji alias Iwik yang bekerja sebagai sopir di perusahaan iklan. Masalahnya, Iwik bukanlah pelaku sebenarnya. Ia hanya tumbal. Dalam persidangan tertanggal 5 Agustus 1997, Iwik dipaksa mengaku bahwa ia membunuh Udin. Iwik terpaksa mengaku di bawah ancaman dan pengaruh alkohol yang disuplai Serma Pol Edy Wuryanto alias Franki, Kanitserse Polres Bantul. Iwik dijadikan tumbal untuk melindungi kepentingan bisnis, politik, serta nama baik Sri Roso. Pada November 1997, pengadilan akhirnya memvonis bebas Iwik. Majelis hakim berpendapat tidak ada bukti yang menguatkan Iwik adalah pelaku pembunuhan. Penangkapan Iwik adalah satu dari sekian keganjilan pengusutan kasus Udin. Sebelumnya, muncul pengakuan Tri Sumaryani yang menyatakan diiming-imingi sejumlah uang oleh “oknum tertentu” jika bersedia berkata pada publik dan persidangan bahwa ia berselingkuh dengan Udin. Perselingkuhan tersebut, menurut Tri Sumaryani, membikin suaminya murka dan akhirnya membunuh Udin. Belum lagi masalah barang bukti yang dihilangkan. Lagi-lagi yang bertanggung jawab ialah Edy Wuryanto. Edy melarung sampel darah serta mengambil buku catatan milik Udin. Alasannya, kata Edy, demi “kepentingan penyelidikan dan penyidikan.” Tindakan Edy digugat oleh istri Udin. Pada April 1997, Majelis hakim menyatakan Edy bersalah dan dianggap melakukan tindakan melanggar hukum. Namun ketika itu Edy hanya dimutasi ke Mabes Polri, alih-alih dijerat hukuman. Pada 2003, aa dihukum 10 bulan atas kasus menggelapkan barang bukti. Belum ada tanda-tanda kasus Udin bakal diselesaikan secara tuntas kendati telah berlalu dua dekade. Aparat masih belum bisa mengungkap siapa dalang yang membunuh Udin dan apa motif yang melatarinya. Sri Roso memang dicokok polisi, namun bukan karena terlibat dalam pembunuhan melainkan gara-gara kasus suap kepada Yayasan Dharmais. Orde Baru sudah tumbang dan tergantikan oleh reformasi. Sayang, kebebasan pers masih punya pekerjaan rumah besar yang belum terselesaikan. Dan kasus Udin mengingatkan kita akan hal itu.
  2. Sebanyak 110 wartawan tewas sepanjang tahun 2015, menurut laporan Reporter Lintas Batas (RSF) yang dirilis pekan ini. Meskipun sebagian wartawan tewas di negara-negara berkonflik seperti Irak dan Suriah, RSF mencatat bahwa sebagian besar wartawan tewas di negara-negara yang dinilai aman, seperti Perancis. Laporan RSF yang dirilis pada Selasa (29/12) mencatat sebanyak 67 wartawan tewas karena dibunuh. Dari jumlah tersebut, sebanyak 49 di antaranya dibunuh dengan cara ditargetkan karena profesi mereka, dan 18 lainnya tewas ketika melakukan peliputan. Sementara, sebanyak 43 wartawan berasal dari berbagai negara terbunuh tanpa alasan yang jelas. RSF tidak dapat memastikan alasan kematian mereka, dan biasanya terjadi karana adanya imunitas terhadap pelaku serangan kepada wartawan di beberapa wilayah, seperti di Amerika Selatan, Timur Tengah, dan sub-Sahara Afrika. Dari 110 wartawan yang tewas, sebanyak 27 di antaranya merupakan pewarta warga atau jurnalis amatir, dan tujuh di antaranya merupakan pekerja media. Dari total 110 wartawan yang tewas, terdapat dua wartawan wanita, terdiri dari satu wartawan asal Somalia, dan satu lainnya dari Perancis. "Mayoritas bukan wartawan yang berada di tempat yang salah pada waktu yang salah dalam serangan bom. Mereka wartawan yang dibunuh agar mereka berhenti melakukan pekerjaan mereka," kata Sekjen RSF, Christophe Deloire kepada Reuters. "Hari ini, jika Anda seorang wartawan, bahkan jika Anda hanya memiliki pembaca di negara Anda, Anda membuka diri untuk orang dari sisi lain dunia, ekstremis agama, yang bisa menempatkan Anda dalam daftar hitam, dan kemudian orang lain datang dan membunuh Anda," kata Deloire. Dalam persentase jumlah wartawan yang tewas tahun ini, sebanyak 36 persen di antaranya tewas dalam zona perang, sementara 64 persen di antaranya tewas di luar zona perang. Persentase ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan tahun lalu, di mana dua pertiga dari jumlah wartawan yang tewas terbunuh di medan perang. "Wartawan dapat terbunuh di kota-kota yang jauh dari konflik bersenjata, seperti yang terjadi dalam serangan di [kantor majalah satire] Charlie Hebdo di Paris pada 7 Januari lalu," bunyi laporan RSF. Penerbit Charlie Hebdo, Riss menyatakan pada 8 Oktober lalu, "Kami hampir tidak pernah mengirim jurnalis ke medan perang. Pada 7 Januari, perang yang mendatangi kami." Serangan di kantor Charlie Hebdo yang diluncurkan oleh tiga ekstremis bersenjata menewaskan delapan wartawan. Sementara di negara-negara berkonflik, sebanyak 11 wartawan tewas di Irak dan 10 lainnya tewas di Suriah tahun ini. Kedua negara ini pun termasuk dalam daftar negara yang "mematikan" untuk wartawan, disusul dengan Yaman, Sudan Selatan, India, Meksiko, Filipina, dan Honduras. Jika dihitung dalam satu dekade terakhir, yaitu sejak 2005, total 787 wartawan tewas ketika tengah melakukan pekerjaan mereka, atau dalam situasi yang terkait dengan pekerjaan mereka.
  3. CEO BMW Harald Krueger Acara konferensi pers pembukaan booth BMW di Frankfurt Motor Show (FMS) 2015 diwarnai insiden ambruknya CEO BMW Harald Krueger di atas panggung. Akibat insiden tersebut, acara yang sudah mulai berjalan itu terpaksa dihentikan. Krueger ambruk ketika sedang berbicara tentang produk terbaru. Seorang juru bicara, sebagaimana dikutip dari Worldcarfans, Selasa (15/9/2015), mengatakan, "Saya sedikit kehilangan kata-kata. BMW akan coba mengulang konferensi pers di hari berikutnya." Sampai saat ini tidak diketahui apa penyebab Krueger ambruk. BMW mengatakan kesehatan Kruger stabil dan dia pulih. Sejumlah orang berharap kejadian tersebut bukan sesuatu yang serius dan Krueger bisa kembali memimpin BMW. Dijadwalkan, di FMS 2015 BMW akan memperkenalkan mobil M6 GT3 dan M6 Coupe Competition Edition.
  4. Video yang diunggah ke internet yang diklaim menunjukkan pemenggalan sandera Jepang, Kenjo Goto, oleh kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS. Video menunjukkan seorang pria beraksen Inggris memenggal kepala Goto. Di video tertera pula simbol yang sama dengan simbol-simbol sejumlah video ISIS sebelumnya. Pemerintah Jepang menyatakan sedang mencari tahu keaslian video, sementara Amerika Serikat mengecam keras tindakan kelompok militan tersebut. "Kami bekerja untuk mengukuhkan keaslian video. Amerika Serikat mengecam keras aksi ISIS dan kami menyerukan pembebasan segera semua sandera," kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional Bernadette Meehan. Video itu muncul kurang dari seminggu setelah seorang warga negara Jepang, Haruna Yukawa, dipenggal. Perundingan Goto, 47 tahun, adalah seorang wartawan lepas terkenal dan pembuat film yang pergi ke Suriah pada Oktober lalu. Dilaporkan, ia pergi ke Suriah untuk membebaskan seorang warga Jepang lainnya, Haruna Yukawa. Video yang diklaim menunjukkan pemenggalan Yukawa muncul kurang dari seminggu lalu. Jepang, bekerja sama dengan Jordania, berusaha membebaskan Goto dan pilot Jordania, Mu'ath Al-Kaseasbeh. Namun, perundingan mencapai jalan buntu pada Sabtu 31 Januari 2015 pagi. Dalam pesan video Selasa lalu, ISIS menyatakan, Goto hanya "mempunyai waktu hidup 24 jam" dan Al-Kaseasbeh "bahkan lebih singkat". Kelompok yang menyebut diri Negara Islam itu kemudian menentukan tenggat waktu saat matahari terbenam hari Kamis bagi pembebasan Goto dengan syarat Jordania membebaskan perempuan Irak, Sajida al-Rishawi, yang dijatuhi hukuman mati karena pengeboman di Amman pada 2005. Tetapi, perundingan mungkin menjadi rumit karena Jordania juga menuntut Kaseasbeh dibebaskan. Belakangan muncul kabar bahwa kelompok militan itu berhubungan lewat e-mail dengan ibu Goto, yang mengeluarkan tuntutan terbuka agar putranya dibebaskan. Semula ISIS menuntut pembayaran tebusan 200 juta dollar AS untuk pembebasan dua warga Jepang. Simak pesan ISIS untuk pemerintah Jepang dibawah ini: (Offline) 55e4b7013aab396ead3a978173d47b5e
×
×
  • Create New...