Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'ular'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 7 results

  1. Sebuah fosil reptilia berusia 90 juta tahun menjadi kunci jawaban atas hilangnya kaki ular. Hasil pindaian CT Scan tulang telinga dalam Dinilysia patagonica ini mengisi ruang kosong dalam sejarah evolusi ular. “Bagaimana ular kehilangan kaki telah menjadi pertanyaan besar bagi para peneliti. Fosil telinga dalam ini mengungkap banyak informasi yang berguna,” kata Hongyu Yi, ketua tim peneliti dari University of Edinburgh’s School of GeoSciences seperti dilansir dari Science Daily, Sabtu, 28 November 2015. Pertama-tama, para peneliti membandingkan model 3 dimensi virtual dari fosil telinga ini dengan model telinga kadal dan ular saat ini. Mereka menemukan adanya kesamaan struktur, terutama bagi spesies yang menghabiskan waktunya di dalam liang. Bentuk ini tak ditemukan dalam spesies yang tinggal di air ataupun permukaan tanah. Temuan ini sekaligus membantah teori yang mengemukakan kalau ular menghilangkan kaki untuk hidup di air. Para peneliti menyimpulkan, perubahan fisik ini terjadi karena nenek moyang ular menyesuaikan diri untuk berburu di liang-liang. Nenek moyang ular dipastikan merupakan reptil yang tinggal di dalam liang. Mark Norell dari American Museum of Natural History, yang juga terlibat dalam penelitian ini, mengatakan teknologi berperan sangat besar dalam pencerahan ini. “Hal ini tentu mustahil terjadi sepuluh tahun lalu. CT Scan merevolusi bagaimana kita mempelajari hewan purba,” kata dia. Ia berharap, metode serupa dapat memberi penjelasan lebh baik tentang evolusi spesies lain seperti kadal, buaya, dan kura-kura. Dinilysia patagonica sendiri juga ditetapkan sebagai ular liang terbesar yang ada. Ia berukuran 2 meter, dengan struktur fisik hampir menyerupai ular moderen. Para peneliti masih mencari spesies purba lain, yang diduga menurunkan model tubuh tak berkaki seperti ular saat ini.
  2. Semakin berkembangnya teknologi, pasti selalu ada inovasi-inovasi diberbagai bidang, seperti pada bidang otomotif. Para produsen kendaraan roda 4 sedang berlomba-lomba menciptakan kendaraan ramah lingkungan dan juga hemat bahan bakar. Seperti produsen mobil listrik asal California, Amerika Serikat, Tesla, baru-baru ini memperkenalkan teknologi pengisi ulang daya (charger) untuk mobil listrik mereka. Uniknya bentuk dari charger tersebut menyerupai seekor ular. Dilansir dari Live Science, sekitar seminggu yang lalu, Tesla mengunggah sebuah video dimana sebuah alat charger mengisi daya pada mobil listrik mereka secara otomatis, tanpa bantuan manusia sekalipun untuk mengisi daya ke soket charger pada mobil tersebut hingga penuh.
  3. Selama ini kita melihat ular memangsa hewan hewan bahkan manusia, tapi kali ini ular ini makan sesama ular! Penasaran? Yuk lihat langsung video nya ndral
  4. Kebiasaan mengambil foto selfie yang dilakukan secara serampangan tanpa memperhatikan keamanan bisa berakibat fatal. Tak jarang bahkan bisa pula merenggut nyawa. Dan kali ini, seorang warga Amerika bernama Todd Fassler menjadi korban terbaru gara-gara aktivitas foto selfie yang dilakukannya. Aktivitas foto selfie yang dilakukan oleh Fassler ini memang sangat berbahaya. Bagaimana tidak, pria tersebut berupaya untuk mengambil foto selfie bersama dengan seekor rattlesnake yang dikenal sebagai salah satu ular paling berbisa di negara Amerika. Alih-alih mendapat foto yang bagus, Fassler ternyata harus masuk rumah sakit gara-gara gigitan rattle snake. Fassler pun terpaksa harus menginap di rumah sakit hingga beberapa hari. Terlebih bisa yang menjalar ke tubuh Fassler cukup banyak, bahkan hingga menghabiskan stok serum penawar bisa ular. Dia pun diketahui menderita luka memar pada bagian lengan kirinya. Sebagai tambahan, Fassler tidak hanya harus menderita gigitan ular karena ulahnya saat mengambil foto selfie berbahaya. Dia juga harus menderita secara finansial karena dikenakan biaya pengobatan yang tak sedikit. Pihak rumah sakit pun membebankan biaya pengobatan sebesar 153 ribu USD atau setara 2 miliar rupiah kepada Fassler.
  5. Seekor piton sepanjang 3,9 meter ditemukan oleh seorang pesepeda gunung di samping jalur sepeda di Lake Eland Game Reserve, Afrika Selatan. Pesepeda gunung tersebut kemudian mengunggah foto piton tersebut di media sosial facebook dengan caption, “Rocky Phyton Afrika yang baru saja saya lihat sepertinya sudah memangsa seekor babi atau mungkin sapi.” Mungkin saat itu si piton tergoda ketika melihat mangsanya, yang merupakan landak seberat 12,7kg ada di depannya. Petugas setempat kemudian mendapati piton tersebut mati dengan ratusan duri landak keluar dari dalam tubuhnya. “Belum diketahui apa sebab kematian si piton. Yang pasti saat kami temukan bagian perutnya sudah tertancap banyak sekali duri landak. Kami tidak tahu apakah dia mati karena tertancap duri tadi atau tidak,” cerita petugas. Foto-fotonya: 1. Tewas 2. Ini landaknya 3. Kepala ularnya 4. Perutnya ketancep duri 5. Ini wujud ularnya
  6. Ternyata Binatang Purba masih ada yang hidup. Yaitu berupa Ular Buta! Ular buta (ular purba) telah ditemukan sebagai salah satu dari beberapa spesies yang hidup sekarang di Madagaskar yang telah ada sejak pulau ini terlepas dari India sekitar 100 juta tahun lalu, menurut sebuah studi yang dipimpin oleh Blair Hedges dari Penn State University di amerika serikat dan Nicolas Vidal, dari Muséum National d’Histoire Naturelle di Paris. (Credit: Frank Glaw) ScienceDaily (31 maret 2010) “Ular buta tidaklah cantik, ia jarang ditemukan,dan sering dikira cacing tanah,” kata Blair Hedges, professor biologi dari Penn State University. Bagaimana Ular Purba Mampu Bertahan Hidup? “Walau begitu, mereka memberikan sejarah evolusi yang sangat menarik.” Hedges dan Nicolas Vidal, dari Muséum National d’Histoire Naturelle in Paris, adalah wakil ketua tim yang menemukan kalau ular buta adalah salah satu dari sedikit kelompok organisme yang tinggal di Madagaskar saat ia berpisah dari India sekitar 100 juta tahun lalu dan masih hidup hingga sekarang. Hasil studi mereka diterbitkan tanggal 31 maret 2010 dalam Royal Society journal Biology Letters. Ular buta (ular purba) memuat sekitar 260 spesies dan menjadi kelompok terbedar dari ular mirip cacing di dunia — scolecophidians. Hewan bawah tanah ini umumnya di temukan di benua selatan dan kepulauan tropis, namun ada di semua benua kecuali antartika. Mereka memiliki penglihatan yang tereduksi dan inilah mengapa di sebut “buta” — dan mereka memakan serangga sosial seperti rayap dan semut. Karena hampir tidak ada fosil ular buta, evolusi mereka sulit dipahami. Juga, karena gaya hidup bawah tanah mereka, para ilmuan telah lama berpikir bagaimana mereka bisa menyebar dari benua ke benua. Dalam studi ini, tim menyelidiki evolusi ular buta dengan memeriksa genetika spesies hidup. Mereka mengekstrak lima gen nukleus, yang menyandi protein, dari 96 spesies ular mirip cacing untuk membuat pola percabangan evolusi mereka dan memungkinkan tim ini memperkirakan waktu divergensi beragam silsilah ular buta dengan jam molekul. “Penemuan kami menunjukkan kalau apungan benua berpengaruh besar pada evolusi ular buta,” jelas Vidal, “karena memisahkan populasi satu dari yang lain saat benua-benua berpisah.” Mutasi pada gen merekam sejarah ular bermata kabur ini. Penelitian genetika mengungkapkan kalau leluhur ular mirip cacing muncul di Gondwana, superbenua selatan purba. Pemisahan awal terjadi sekitar 155 juta tahun lalu saat Gondwana terpecah menjadi Gondwana timur (massa daratan Antartika, India, Madagaskar dan Australia) dan Gondwana barat (massa daratan amerika selatan dan Afrika). Penduduk Gondwana timur ular buta lalu berdiversi menjadi beberapa silsilah termasuk sebuah famili baru yang dinamai dalam studi ini dan hanya ditemukan di Madagaskar. Kemudian, Gondwana timur terpecah menjadi sebuah massa purba yang disebut para peneliti “Indigaskar” (India plus Madagaskar) dan pecahan lain memuat Australia dan Antartika. Penelitian menunjukkan kalau famili baru di Madagaskar muncul sebagai hasil dari pemecahan massa daratan Indigaskar sekitar 94 juta tahun lalu. Isolasi panjang Madagaskar telah membawa pada evolusi banyak hewan endemik unik termasuk famili ular buta ini, beraneka ragam lemur, dan mamalia langka lainnya. Sayangnya, baik hewan maupun tanaman Madagaskar kini terancam punah karena kehilangan habitat. Kata anggota tim Miguel Vences, profesor dari Technical University of Braunschweig, Jerman dan salah seorang pejabat bidang keanekaragaman hayati di Madagaskar, “Penemuan akar purba kelompok hewan di Madagaskar memberi kita alasan lebih besar untuk melindungi habitat mereka yang semakin lenyap.” Jika ular buta berawal dari Indigaskar, menyisakan sebuah famili hidup endemik sebagai bukti di Madagaskar, bagaimana mereka semua muncul di berbagai lokasi di dunia yang ada sekarang Eropa, Asia, Australia, Afrika dan Amerika? Filogeni yang dibuat oleh tim Hedges dan Vidal menunjukkan sederetan diversifikasi ular buta, keluar madagaskar, yang terjadi antara 63 hingga 59 juta tahun lalu. Periode diversifikasi terbesar ini bertepatan dengan waktu permukaan laut rendah, saat hubungan antara benua terbentuk dan persebaran hewan demikian lewat menempel pada benda-benda yang mengapung di lautan adalah mudah. Ular buta bergerak keluar Afrika lewat Eropa dan Asia superbenua purba Laurasia di Utara atau keluar India dan kemudian dari Asia tenggara ke Australiasekitar 28 juta tahun lalu. Karena tidak ada hubungan darat antara Asia dan Australia masa itu, ulat buta ini hanya dapat mencapai Australia dengan menyeberangi samudera hanya dengan menumpang pada benda-benda yang hanyut. Setelah itu, pemisahan silsilah ular buta mungkin terjadi karena mereka mengikuti evolusi dan tersebarnya mangsa mereka semut dan rayap dalam beragam daerah geografi. Mengapung menyeberangi samudera tampaknya mekanisme yang tidak masuk akal bagi hewan bawah tanah bisa menyebar ke benua baru, namun ada kejadian kedua penyeberangan samudera oleh ular buta pada kelompok yang tersisa di Gondwana Barat : Gondwana Barat terpisah sekitar 100 juta tahun lalu, membuat Afrika dan Amerika Selatan menjadi benua yang terpisah, namun pemisahan genetik antara ular buta Afrika dan Amerika Selatan terjadi hanya pada 63 juta tahun lalu. Penemuan ini menunjukkan kalau ular buta mungkin tetap di Afrika saat Gondwana Barat membelah dan kemudian baru bergerak ke Amerika Selatan dan kemudian ke India Barat dengan mengapung menyeberangi Atlantik dari timur ke barat. Perjalanan ini jarang didokumentasikan. Hanya enam atau tujuh vertebrata lainnya yang diduga melintasi Atlantik dalam arah menuju ke barat. Namun, penyeberangan akan membutuhkan waktu setidaknya enam bulan dan mungkin terlalu sulit bagi ular buta, yang memiliki kebutuhan makanan relatif kecil dan mungkin menumpang pada rakit tanaman bersama dengan mangsa serangganya.
  7. Seekor predator, ular terbesar di dunia sepanjang 14,6 meter dan berbobot 1,13 ton yang melata melalui hutan-hutan hujan 60 juta tahun yang lalu ini dihidupkan kembali oleh Museum Smithsonian. Pada masa dinosaurus, ular predator Titanoboa merupakan ular terbesar di dunia. Bahkan ukurannya yang besar jauh di atas ular anaconda yang selama ini dianggap orang sebagai ular terbesar di dunia. Para ilmuwan dari Museum Smithsonian merekonstruksi ular raksasa ini untuk mengetahui bagaimanakah kehidupan di bumi setelah dinosaurus lenyap ditelan zaman. Sebuah acara TV pun dibuat untuk memberi tahu pemirsa kenapa ular Titanoboa bisa tumbuh sedemikian besarnya. “Penemuan begitu fantastis sehingga ular ini tampak seperti hasil fantasi. Sesosok makhluk yang muncul di era yang dibayangkan Steven Spielberg di masa lalu,” ungkap David Royale, kepala program Saluran Smithsonian. Saluran Smithsonian membuat film yang mengisahkan penemuan ular raksasa yang hidup 60 juta silam ini. Selain itu, mereka juga merangkai temuan-temuan rangkanya untuk membuat rekonstruksi ular ini. Sebuah patung yang berukuran sama seperti Titanoboa yang sebenarnya dipamerkan di Grand Central di New York untuk memromosikan film tersebut. Tulang belakang Titanoboa ditemukan di daerah tropis hutan hujan di Kolombia yang telah ada sejak zaman Palaeosen. Kemudian fosil ular raksasa lainnya ditemukan di kawasan tambang di Cerrejon, Kolombia. Sebelumnya, tak pernah ditemukan fosil hewan bertulan belakang yang hidup 65-55 juta tahun silam di Amerika Selatan. Dr. Jonathan Bloch yang berprofesi sebagai paleontologis sekaligus kurator Florida Museum of Natural History mengatakan fosil tengkorak Titanoboa hampir mustahil untuk ditemukan karena amat rapuh sehingga sangat mungkin telah musnah ditelan waktu. Ia juga mengatakan bahwa setelah dinosaurus punah, Titanoboa yang panjangnya melebihi ukuran bus kota ini menjadi penguasa daratan sebagai predator terbesar di muka bumi .
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy