Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'tragis'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

There are no results to display.

There are no results to display.

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 3 results

  1. "Ketahuilah, karena kita sama-sama orang Indonesia." Hidup di daerah perkotaan memang sangat menguntungkan. Kamu bisa menikmati berbagai fasilitas dan hiburan yang tidak akan ada habisnya. Namun ironisnya, dalam berbagai hal yang kita dapatkan itu, masih banyak hal yang kita keluhkan seperti jalanan yang macet, internet yang lambat dan listrik yang mati. Padahal yang kita keluhkan ini masih tidak sebanding dengan nasib mereka yang tinggal di perbatasan Indonesia. 1. Malam yang gelap gulita hanya ditemani oleh cahaya bintang. Mereka yang tinggal di perbatasan Indonesia pasti merasakan tidak adanya listrik di malam hari. Satu-satunya yang menjadi penerang hanyalah cahaya bintang dan sedikit cahaya dari negara tetangga. Ketika kita mengeluhkan listrik mati, bagi penduduk perbatasan listrik itu bagaikan barang berharga yang belum tentu mereka dapatkan setiap hari. 2. Jalan rusak adalah makanan sehari-hari bagi mereka. Di perkotaan, kita mengenal jalan mulus yang sudah diaspal. Sedikit ada lubang saja, kita pasti sudah ngomel dan mengatakan kalau pemerintah itu tidak peduli. Namun berbeda dengan mereka yang tinggal di perbatasan. Bagi mereka, jalan rusak itu sudah biasa dihadapi setiap hari. 3. Sulitnya transportasi membuat dunia mereka semakin sempit. Jika di kota kita melihat jalan yang luar biasa macet dengan berbagai macam kendaraan. Sedangkan di daerah perbatasan, kamu bisa menghitung berapa kendaraan yang lewat setiap minggu. Transportasi sangat langka untuk mereka, padahal mereka juga butuh itu untuk bisa keluar dan mencari nafkah. 4. Mendapatkan sinyal untuk menelpon saja butuh perjuangan yang keras. Bagi anak muda, fasilitas yang paling jarang digunakan dalam smartphone adalah sms ataupun telepon. Karena di zaman serba internet sekarang ini, mereka bisa menggantikan itu semua melalui aplikasichatting dan video call. Namun bagi penduduk perbatasan, bisa telepon saja sudah anugerah. Karena sinyal untuk menelpon itu saja sudah sangat sulit diperoleh. 5. Sumber daya alam yang katanya kaya, namun tidak bisa dirasakan oleh mereka. Hasil alam Indonesia itu sangat kaya dan beragam. Namun sayang itu semua tidak menjamin rakyat Indonesia makmur. Buktinya mereka yang tinggal di daerah perbatasan negara sangat jarang menikmati nasi. Mereka hanya memakan ubi, bahkan terkadang ada yang memakan ubi racun yang diolah. Hal ini terpaksa mereka lakukan supaya tetap bertahan hidup. 6. Mereka hidupnya di daerah rawan konflik. Hidup mereka penuh ketakutan, karena mereka tinggal di daerah perbatasan Indonesia dengan negara tetangga. Sehingga mereka sering mengalami konflik dengan negara tetangga seperti permasalahan perbatasan. Sebenarnya memang pemerintah yang bertanggungjawab, tetapi kenyataannya pemerintah hanyalah menjawab, sedangkan yang menanggung adalah mereka. 7. Saat kita berganti-ganti fashion, mereka tidak mengenal itu sama sekali. Kini fashion di Indonesia sangat berkembang, buktinya nilai impor di Indonesia meningkat. Namun keadaan itu tidak dinikmati mereka yang tinggal di daerah perbatasan. Karena bisa memakai pakaian saja mereka sudah bahagia. 8. Ingin rasanya mereka menjerit untuk menyatakan bahwa mereka juga warga Indonesia. Fakta tragis yang harus mereka hadapi adalah mereka menjadi korban kesenjangan ekonomi di Indonesia. Mereka sebagai warga Indonesia belum bisa menikmati fasilitas seperti di perkotaan. Suara hati mereka menjerit untuk diberi fasilitas layaknya fasilitas yang kita dapat sekarang. Kita dan mereka adalah saudara. Sebuah persaudaraan yang terikat karena satu negara. Jadi jangan mengeluh dengan keadaanmu yang sekarang. Ingat kalau masih ada saudaramu yang menelan pil pahit karena susahnya hidup di perbatasan negara.
  2. Firman Nurhidayat, 21 tahun, mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia, baru pulang sebelum mengalami nahas, terseret mobil sejauh 30 kilometer. Ia bahkan sempat mengunggah status di media sosial Path yang menerangkan bahwa ia sedang berada di kafé dengan pacarnya. “At Ganesha Mocktail (The Art of Healthy Drinks) with Resthi Oktaviani,” demikian tulisan Firman pada akun Path bernama Firman Nrh, sekitar pukul 18.00, Jumat, 27 Februari 2015. Beberapa jam setelah peristiwa nahas itu, Resthi Oktaviani, pacar Firman, menulis sebuah pesan dalam kolom komentar status "terakhir” korban seret maut itu. Pacar Firman mengatakan perjumpaan malam itu adalah kencan terakhir mereka. “Firman, ini terakhir nemenin aku makan ya” kata Resthi. “Terakhir pergi sama aku. Terakhir ketemu. Terakhir ke kostan aku. Terakhir segalanya” Resthi menambahkan, “Kita LDRannya infinity ya? hehe.” Tak hanya di Path, Resthi mengunggah rasa dukacitanya di media sosial Line. Ia menuliskan rasa cintanya kepada Firman. “Aku sayang kamu. Tapi kuasaku kecil dibanding kuasaNya” kata Resthi, Sabtu 28 Februari. “Allah lebih menyayangimu, sehingga beliau memintamu kembali.” Seperti diberitakan sebelumnya, Firman Nurhidayat, 21 tahun, tersangkut di kolong mobil yang dikendarai Yana hingga terseret 30 kilometer. Mobil Honda CRV yang dikemudikan Yana itu sempat ditinggalkan pemiliknya di jalan tol Cipularang kilometer 116 point 600. Sebelum tersangkut, Firman bersenggolan dengan pengendara sepeda motor dari arah berlawanan. Insiden tersebut tepat terjadi di samping mobil Yana di Jalan Raya Kebon Kopi, Kelurahan Cibeureum, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, pada Jumat malam, 27 Februari 2015, sekitar pukul 22.00.
  3. Pengendara motor, Firman Hidayat, 21 tahun, tewas setelah terseret mobil Honda City sejauh kurang lebih 30 kilometer dari Jalan Raya Kebon Kopi, Kota Cimahi, hingga jalan tol Cipularang kilometer 116 poin 600. "Jarak antara TKP dengan ditemukannya korban sekitar 30 kilometer. Korban terseret sejauh itu. Hingga helm yang dipakai habis," ujar Kepala Unit Lalu Lintas Kepolisian Resor Cimahi Inspektur Dua Tomi Fidianto kepada Tempo, Sabtu, 28 Februari 2015. Firman yang tercatat sebagai mahasiswa di perguruan tinggi di Kota Bandung mengalami kecelakaan di Jalan Raya Kebon Kopi, Kelurahan Cibeureum, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, pada Jumat malam, 27 Februari 2015. Menurut Tomy, saat melaju di Jalan Kebon Kopi korban terjatuh akibat bersenggolan dengan motor dari arah berlawanan. Korban terpelanting dan masuk ke dalam kolong mobil Honda City. Tomy mengatakan, saat korban terjatuh, pengendara mobil Honda City berinisial Y, sempat melihat kejadian tersebut. Namun, ia tidak menyadari tubuh korban menyangkut di kolong mobilnya. Karena, tak ingin disalahkan, pengendara Honda City terus melanjutkan perjalanan menuju arah tol Cipularang. Menurut Tomy, saat pengemudi mobil Honda City tersebut memasuki jalan tol Cipularang kilometer 116 poin 600, seorang pengendara truk yang berada satu jalur dengan mobil memberi isyarat bahwa ada sesuatu yang tersangkut di kolong Honda City. Y pun meminggirkan mobilnya lalu melihat jenazah korban sudah menyangkut di kolong mobilnya. Menurut keterangan polisi, korban merupakan seorang mahasiswa yang tinggal di Jalan Kebon Kopi, Kelurahan Cibeureum, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi. Saat kecelakaan korban menggunakan sepeda motor Yamaha Vega R. Sedangkan Y, 43 tahun, pengendara Honda City, merupakan seorang pengusaha bertempat tinggal di Maleber, Kecamatan Andir Kota, Kota Bandung. Kini jenazah korban masih berada di Rumah sakit Cahaya Kawaluyan Kota Baru, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Sedangkan Yana kini mendekam di tahanan Polres Cimahi. Ini dia korban tewas yang terseret ndral
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy