Jump to content
  • Kemerdekaan indonesia 74
  • Kemerdekaan indonesia 74
  • Kemerdekaan indonesia 74

Search the Community

Showing results for tags 'teroris'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

There are no results to display.

There are no results to display.

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 21 results

  1. Direktur Institute for Policy Analyst of Conflict (IPAC) Sidney Jones mengatakan sistim perekrutan anggota dari kelompok Jamaah Anshorut Daulah (JAD) tidak seketat Jamaah Islamiyah (JI).
  2. Menjelang tahun baru 2017, dunia makin terancam terorisme. Kematian-kematian tragis para gembong teroris seperti Osama bin Laden, Azahari, Noordin M Top, Santoso, Imam Samudera ternyata tidak menyurutkan kelompok-kelompok radikal Islam untuk menghentikan aksi terorismenya. Bahkan belakangan ini, gerakan mereka makin intensif dan mengancam kemanusiaan. Di Indonesia, Rabu 21 Desember 2916, Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri (Densus 88) mengepung sebuah rumah kontrakan di Kampung Curug, Kelurahan Babakan, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, Banten. Di dalam rumah itu, terdapat tiga teroris yang sudah mempersiapkan bom. Dan polisi kemudian menembak mati ketiganya karena mereka melawan dan melemparkan bom ke arah petugas. Di hari yang sama, polisi juga menangkap tiga terduga teroris di tiga tempat berbeda. Di Kota Payakumbuh Sumbar, Densus 88 menangkap Hamzah yang telah menyiapkan bahan peledak. Lalu di Kabupaten Deli Serdang, Sumut, polisi menangkap Syafii, yang telah lama dipantau gerak-geriknya. Ketiga, di Batam, Densus menangkap Abisya, juga teroris yang lama diamati polisi. Menurut polisi, para teroris yang tewas dan ditangkap Rabu itu adalah anggota Jamaah Ansharud Daulah (JAD), organisasi sayap ISIS di Indonesia pimpinan Bahrun Naim, warga Solo, yang kini bermukim di Suriah. Sebelum tertangkap, mereka berencana akan menusuk polisi di hari pesta akhir tahun, kemudian ketika orang ramai menolong polisi, salah seorang di antara mereka akan meledakkan diri dengan bom. Dengan demikian, di samping polisi, korbannya makin banyak. Bagi kelompok teroris, makin banyak korbannya makin baik karena niatnya untuk mendirikan negara sesuai keinginan mereka makin mulus. Para korban tersebut dianggap orang-orang yang akan merintangi niatnya. Apakah tewasnya tiga teroris di Jawa dan tertangkapnya tiga teroris lain di Sumatera di atas akan bisa menghentikan terorisme di Indonesia? Fakta menunjukkan, aktivitas terorisme tampaknya tidakterganggu dengan penangkapan dan tewasnya mereka. Malah, mereka menyusun strategi baru lagi untuk melakukan aksi-aksi teror dengan modus baru. Di kawasan Eropa, kondisinya lebih parah lagi. Selasa 19 Desember 2016, seperti halnya di Indonesia, tiga teror melanda tiga negara dengan modusyang berbeda. Mungkin ini hanya kebetulan. Tapi ketiganya menunjukkan kepada kita bahwa terorisme tidak pernah mati dan teroris tidak kekurangan akal untuk mengacaukan tatanan dunia yang tidak sesuai keinginannya. Teror pertama adalah pembunuhan Dubes Rusia untuk Turki, Andrei Karlov oleh seorang polisi Turki, Mevlut Mert Altintas. Altintas diduga merupakan anggota jaringan terorisme di Turki. Karlov ditembak mati dalam jarak sangat dekat dari belakang oleh Altintas, ketika memberikan sambutan dalam suatu acara pameran foto bertema ”Rusia dari Pandangan Orang-orang Turki” di Gedung Cagdas Senat Merkezi, Ankara. Terbunuhnya Dubes Rusia ini menyentak para pemimpin internasional. Dunia cemas, kalau-kalau peristiwa tersebut akan memicu perang dunia seperti kasus terbunuhnya Pangeran Ferdinand, putra mahkota Kerajaan Austria oleh teroris Serbia, tahun 1914. Maklumlah, Turki dan Rusia selama ini hubungannya kurang akrab. Apalagi sebelum peristiwa penembakan Dubes Rusia ini, pada November 2015, Turki menembak jatuh pesawat tempur Su-24 Rusia yang dianggap melanggar kedaulatan udara Turki. Alhamdulillah, kedua pemimpin negara tersebut, Erdogan (PM Turki) dan Putin (Presiden Rusia) menyadari bahwa kasus penembakan Dubes Karlov itu ”didalangi” pihak ketiga yang ingin merusak hubungan Rusia-Turki yang baru saja pulih setelah kunjungan Erdogan ke Rusia, Agustus 2016 lalu. Teror kedua, serangan atau teror dengan menggunakan truk besar yang ditabrakkan ke kumpulan massa di sebuah pasar Natal, di Berlin, yang menewaskan 12 dan melukai lebih 50 orang. Serangan ini mirip teror di Kota Nice, Prancis, Juli lalu. Pengemudi diyakini sengaja menabrakkan truknya untuk membunuh orang sebanyak mungkin. Sopir truk itu diduga adalah Anis Amri, pengungsi dari Tunisia yang tidak diterima untuk menetap di Jerman. Surat kabar Jerman Die Welt melaporkan, pelaku diperkirakan datang ke Jerman pada 16 Februari 2016. Teror dan kekerasan ketiga terjadi di sebuah musala di Zurich, Swiss. Kali ini, seorang pria membabi buta menembak kaum muslim yang sedang salat. Kepolisian Zurich, masih mengumpulkan bukti-bukti. Belum dapat disimpulkan motif penembakan yang melukai tiga orang jamaah itu. Meski tidak ada hubungan ketiga aksi teror tersebut, benang merah radikalisme dan terorisme semakin mencemaskan dunia. Perbedaan ideologi dan aliran keagamaan yang mestinya menjadi ”alat untuk saling mengenal dan menghargai pihak lain” justru menjadi alat teror dan kebencian. Padahal, jika dikaji secara mendalam, jangankan aksi teror yang menewaskan banyak orang atau merusak kehidupan, menyakiti orang lain saja dilarang oleh agama manapun. Karena itu semua tokoh agama, baik di Indonesia maupun belahan bumi lainnya, harus bersama-sama membina umat dan mengembalikan kehidupan agama sesuai tujuan yang dikehendaki Allah. Yaitu, agama diturunkan ke bumi untuk kemaslahatan manusia. Dalam bahasa Islam, agama diturunkan untuk memperbaiki akhlak manusia. Aksi terorisme tampaknya sulit dihentikan jika ketimpangan di berbagai lini kehidupan masih terus terjadi. Sangat mungkin aksi-aksi itu dipicu oleh rasa tidak puas pada ketimpangan dan ketidakadilan di sekitar mereka, lalu ketidakpuasan itu diekspresikan melalui ”keyakinan agama mereka yang ekstrem”. Namun demikian, karena basis tindakan terorisme ini umumnya dari ajaran agama, maka peran kaum agamawan tetaplah sangat urgen, di samping, tentu saja peran aparat keamanan menjadi sangat penting. Mereka harus mampu mengendus setiap gerakan yang berpotensi mengancam keamanan masyarakat, baik dilihat dari aspek ideologis maupun aspek keamanan. Noor Huda Ismail, seorang pengamat terorisme, dalam penelitiannya menemukan bahwa para teroris itu umumnya adalah orang-orang yang hidup dalam keretakan rumah tangga; hidup dalam kemiskinan yang kronis; dan berada dalam asuhan yang salah. Intinya, kata Ismail, terorisme hanya tumbuh di masyarakat yang hidup dalam ketidakbahagiaan. Itulah sebabnya, Ismail, mencoba mencari solusi dengan mendirikan ”warung makan dan bistik” di Solo dan Semarang. Melalui Yayasan Prasasti Perdamaiannya, Ismail menjelaskan, para teroris dan calon teroris harus diajari bagaimana memberikan ”servis” kepada para tamu restorannya. Menyervis tamu resto adalah strategi pemasaran yang mengutamakan keramahan dan kepuasan pengunjung. Dari resto bistik inilah, kata Ismail, para mantan teroris belajar bersikap ramah dan memperhatikan keinginan orang lain. Dari metode ini, sedikit demi sedikit karakter radikal dan ekstrem seseorang akan terkikis. Apa yang dirintis Ismail, menurut kami ada benarnya. Apalagi bila dipadukan dengan ajaran-ajaran agama, khususnya yang berkaitan keharusan manusia untuk saling menghargai orang lain. Nabi Muhammad bersabda, sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling banyak manfaatnya untuk kehidupan orang lain. Terkait dengan persoalan di atas, ketika dunia kini cemas melihat perkembangan terorisme, mungkin perlu ada solusi alternatif. Yaitu, bagaimana dunia melalui PBB, kembali menata keadilan baik secara ekonomi maupun sosial, agar kekayaan dunia terdistribusi dengan adil dan merata. Dunia membutuhkan keadilan yang komprehensif sehingga dirasakan oleh seluruh umat manusia. Jika itu terjadi, niscaya terorisme akan berhenti dengan sendirinya.
  3. Direktur FBI James Comey (kiri) Biro investigasi Amerika Serikat, Federal Bureau of Investigation (FBI) mengeluarkan uang lebih dari US$1 juta atau Rp13,1 miliar untuk membuka kunci keamanan iPhone milik teroris pria pelaku penembakan di San Bernardino, California. Hal ini merupakan pernyataan Direktur FBI James Comey saat berbicara dalam forum keamanan di London, Inggris. Ketika itu Comey memberi gambaran jumlah biaya yang dikeluarkan untuk membuka kunci keamanan, yang disebutnya itu lebih besar dari sisa gajinya selama tujuh tahun di FBI. Media di Amerika Serikat kemudian menghitung pendapatan Comey yang berjumlah sekitar US$180.000 per tahun. Jika dikalikan tujuh tahun maka jumlahnya US$12,6 juta. “Kami membayar banyak” untuk alat peretasan,” kata Comey. “Tapi itu layak.” Pertarungan hukum antara FBI dan Apple bekalangan ini mencuri perhatian publik setelah FBI meminta Apple membuka keamanan iPhone 5c milik Syed Ridwan Farook dan istrinya. Penembakan yang dilakukan Farook di San Bernadino menewaskan 14 orang dan melukai setidaknya 22 orang pada peristiwa 2 Desember 2015. Pasangan itu meninggal dalam baku tembak dengan polisi. FBI hendak melacak iPhone milik Farook, tetapi tidak bisa membukanya karena fitur keamanan yang diterapkan Apple. Departemen Kehakiman AS meminta Apple untuk membangun peranti lunak baru yang bisa membuka kunci keamanan iPhone, tetapi perusahaan menolak karena jika itu dilakukan maka bisa mengganggu keamanan jutaan iPhone lain. Apple tetap menolak untuk membuka akses hingga kasus ini akhirnya dibawa ke pengadilan. Sejumlah perusahaan teknologi belakangan ini telah meningkatkan fitur keamanan, termasuk aplikasi pesan instan WhatsApp yang memberi fitur enkripsi dari ujung ke ujung. “Ada sejumlah besar penjahat dan teroris yang menggunakan WhatsApp, dan itu masalah,” kata Comey seperti dikutip dari The Wall Street Journal. FBI telah berinisiatif mengajak peretas profesional dari perusahaan keamanan untuk membobol iPhone, dan mungkin ini bisa terjadi di kemudian hari untuk membobol fitur keamanan dari layanan lain.
  4. Polisi menangkap empat orang warga negara Turki yang diduga terkait dengan kelompom militan. Draf revisi UU Terorisme yang diusulkan pemerintah Indonesia mendapatkan sejumlah kritik karena dinilai 'rentan pelanggaran HAM' dan 'berpotensi merampas kebebasan sipil'. Sejumlah pasal dalam draf revisi UU yang dianggap rentan di antaranya adalah perpanjangan masa penangkapan dari semula tujuh hari menjadi 30 hari. Wakil ketua lembaga pemerhati HAM Setara, Bonar Tigor, menilai masa penahanan yang panjang ini melanggar HAM. ”Masa 30 hari ini sangat bertentangan dengan konvensi internasional tentang hak sipil dan politik. Standar internasional seseorang boleh ditangkap dan dimintai keterangan itu 1x24 jam," kata Bonar dalam keterangan pers Kamis (03/03). "UU Terorisme yang lama juga sebetulnya banyak mendapatkan kritikan karena itu tujuh hari, ini kok ditambah 30 hari, ini berpotensi abuse of power. Akan ada pelanggaran kebebasan hak sipil,” jelas Bonar. Menurut Bonar, pelanggaran HAM juga dapat terjadi karena tanpa ada kewajiban terduga pelaku pidana terorisme didampingi pengacara. Pasal lain yang dianggap tidak memiliki landasan hukum dalam UU No 15 tahun 2003 yaitu 43A, yang memberikan kewenangan untuk membawa atau menempatkan seseorang yang diduga melakukan tindak pidana terorisme ke suatu tempat dalam waktu enam bulan. 'Mirip Guantanamo' Serangan di kawasan Thamrin Jakarta, yang membuat pemerintah percepat pembahasan revisi UU Terorisme. Anggota Badan legislasi DPR, Arsul Sani, mengatakan sepakat untuk merevisi UU terorisme tetapi perluasan kewenangan aparat untuk memberantas terorisme harus diimbangi dengan HAM. “Yaitu kewenangan oleh aparat penegakan hukum dalam konteks pencegahan untuk menempatkan seseorang ini bisa tersangka, keluarganya atau orang yang terimplikasi dengan dugaan kelompok teroris, menempatkan di satu tempat selama enam bulan, kita ingin bertanya konteksnya seperti apa dan konsep operasionalnya seperti apa?" kata Arsul. "DPR tidak mau ada model-model Guantanamo di Indonesia nantinya,” katanya. Arsul menilai model penahanan seperti itu mirip dengan penjara di Teluk Guantanamo yang dibangun AS untuk menampung terduga kasus terorisme tanpa melalui pengadilan. Sebelumnya, organisasi HAM Kontras menyebut, gagasan revisi UU Terorisme bisa diselewengkan untuk membungkam kalangan yang tak sepaham atau kritis terhadap pemerintah. Komite pengawas Menanggapi banyak kritik terhadap draf revisi UU Terorisme yang merupakan insisiatif dari pemerintah itu, juru bicara Kemenpolhukham, Agus Barnas, mengatakan perluasan kewenangan yang diberikan kepolisian untuk memperpanjang masa penangkapan dan penahanan terduga pelaku tindak pidana terorisme masih sejalan dengan aturan Ia juga menegaskan isi draf tersebut akan tetap menghormati HAM. Upaya untuk merevisi UU terorisme telah dilakukan sejak beberapa tahun lalu, tetapi kemudian dipercepat setelah serangan bom dan senjata di kawasan Thamrin, Jakarta, pada 14 Januari lalu. Setara mengatakan untuk mencegah penyelewengan dan pelanggaran HAM kerja aparat yang melakukan pemberantasan terorisme harus ada mekanisme akuntabilitas dengan membentuk komite pengawas.
  5. Seperti yang tercantum dalam deklarasi Lisa Olle, manajer privasi global Apple dan Tim Kepatuhan Penegakan Hukum, aparat penegak hukum melakukan panggilan darurat ke pusat Apple pada 5 Desember sore atau tiga hari setelah Syed Rizwan Farook dan istrinya Tashfeen Malik menembak 14 orang dalam aksi terorisme di San Bernardino. iPhone 5c milik Farook sekarang menjadi bahan perdebatan kontroversial antara pendukung privasi dan FBI. Informasi baru menyoroti upaya Apple untuk bekerja sama dengan operasi penyelidikan FBI sebelum disajikan ke pengadilan federal mengenai bantuan membobol iPhone Farook. Rupanya pada awal Januari, Apple dan para pejabat pemerintah telah berdiskusi bagaimana cara terbaik untuk mengambil data telefon, meskipun informasi yang tersimpan di Apple rupanya disediakan minggu sebelumnya. Pada 5 Desember, Apple menyerahkan dua paket informasi setelah menerima pemberitahuan hukum untuk mencari informasi pelanggan, mungkin data pelanggan iCloud, meskipun itu tidak ditentukan dalam deklarasi Olle ini, yaitu tiga nama dan sembilan akun tertentu. Sehari kemudian, Apple menerima surat perintah pencarian untuk e-mail, pesan, dan informasi lain yang terkait dengan tiga rekening terpisah. Permintaan lain pada 16 Desember mencari informasi terkait dengan salah satu nama dan tujuh akun yang berbeda. Apple memberikan informasi masing-masing untuk tiga permintaan tersebut. Adapun akun iCloud yang melekat di iPhone Farook ini, Olle menyatakan bahwa surat perintah pencarian resmi disajikan pada 22 Januari untuk mencari data komunikasi dari pelanggan yang diminta pada Desember. Apple memenuhinya dan pada 26 Januari memberikan pemerintah data apa pun yang dimilikinya. Ia kemudian mengungkapkan bahwa FBI memerintahkan County Departemen Kesehatan San Bernardino, untuk me-reset Apple ID iPhone Farook pada 6 Desember tanpa konsultasi dengan Apple terlebih dahulu. Perwakilan perusahaan, termasuk CEO Apple Tim Cook, mengatakan itu adalah langkah yang salah karena langkah tersebut membatalkan kemungkinan menggunakan fitur sinkronisasi otomatis iCloud untuk mendapatkan backup tanpa membuka perangkat. Tampaknya Olle adalah bagian dari tim yang bertanggung jawab untuk menangani pengambilan data alternatif dari iPhone 5c milik Farook. "Sepanjang penyelidikan, saya dan perwakilan Apple lainnya, termasuk seorang insinyur senior, terus membuat diri kami sendiri tersedia untuk pemerintah, atas dasar 24/7, berpartisipasi dalam teleonference, memberikan bantuan teknis, menjawab pertanyaan dari FBI, dan menyarankan alternatif potensial untuk pemerintah untuk mencoba untuk mendapatkan data dari perangkat Subjek," demikian isi deklarasi Olle. Penyidik telah gagal dalam upaya mereka masuk ke iPhone 5c Farook yang dilindungi melalui metode enkripsi kuat dan dirancang untuk menggagalkan serangan brute-force. Untuk menghindari lapisan keamanan khusus ini Apple perlu menulis iOS baru versi dikompromikan, menandatangani kode dan menginstalnya pada perangkat. Namun, Apple menolak untuk mematuhinya dan mengutip langkah ini melampaui batas wewenang federal dan implikasi hak Amandemen Pertama potensial. Pada bagiannya, Apple menegaskan bahwa pihaknya telah memenuhi ribuan surat perintah penggeledahan yang valid mencari data pelanggan yang dianggap penting untuk investigasi kriminal. Sampai kasus San Bernardino, bagaimanapun perusahaan belum diminta untuk membangun solusi perangkat lunak yang seolah-olah mengalahkan enkripsi iOS. Apple dan pengacaranya berpendapat bahwa pemerintah, jika dibiarkan preseden dalam kasus ini, akan mendapat kekuatan "tak terbatas" yang suatu hari mungkin melanggar hak-hak sipil dasar. Di sisi lain, FBI, Departemen Kehakiman dan konten White House Apple mengungkap bahwa software itu hanya akan digunakan untuk satu perangkat Farook itu saja. Sidang perkara ini akan digelar pada 22 Maret. Sidang tentang masalah ini dijadwalkan untuk 22 Maret.
  6. Sebelum kejadian hanya dia yang tahu kalau ada bom di tasnya. Menurut kamu siapa orang yang mengambil foto ini?
  7. Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu memimpin 'Apel Kebhinekaan' yang dihadiri berbagai organisasi keagamaan dan masyarakat di Lapangan Banteng, Jakarta, Minggu 17/1 Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu memimpin langsung apel kebhinekaan yang diikuti berbagai organisasi keagamaan dan masyarakat, serta sejumlah organisasi keagamaan, antara lain Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI), Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI), Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN), dan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI). Dalam acara yang dilaksanakan hari Sabtu (16/1) ini turut hadir Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto dan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi. Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengingatkan bangsa Indonesia untuk bersatu melawan segala bentuk ancaman, termasuk teror. Menurutnya bentuk perlawanan tersebut dapat diwujudkan melalui bela negara. Ia menyerukan masyarakat supaya tidak takut terhadap tindakan teroris karena menurutnya para teroris memang sengaja ingin menimbulkan ketakutan dalam masyarakat. Ditambahkannya, yang perlu diutamakan adalah terbangunnya kebersamaan yang kokoh dan kuat. Teror bertentangan dengan agama sehingga harus menjadi musuh bersama, ujar Ryamizard. Ia berharap acara apel kebhinekaan lintas agama ini dapat menumbuhkan kesadaran untuk bela negara. Ryamizard mengatakan, "Karena kebersamaan 250 juta rakyat Indonesia adalah kekuatan yang maha dahsyat sehingga tidak ada kekuatan lain yang dapat melawannya, apalagi hanya teror-teror kecil . Perang ke depan bukan lagi perang dengan menggunakan alutsista, melainkan perang dengan cara mencuci otak." Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj mengatakan Indonesia saat ini sudah darurat radikalisme, terorisme, dan narkoba. Ini dikarenakan reformasi yang – menurut Said Agil – sudah kebablasan, dimana ideologi dari luar Indonesia mudah sekali masuk. “Padahal jelas aliran dari Timur Tengah tidak cocok untuk Indonesia”, tegasnya. Di Timur Tengah tidak ada ulama yang nasionalis dan keberadaan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) justru sangat berbahaya sehingga ISIS harus dilawan. "Tidak ada yang lebih dzalim daripada orang yang melakukan kejahatan dengan mengatasnamakan Islam. Mengaku Islam tetapi melakukan kejahatan seperti membom itu orang yang paling dzalim atau keji," ujar Said Agil. Hal serupa disampaikan tokoh agama Katolik Franz Magnis Suseno yang menyatakan pengeboman di Sarinah Thamrin, Jakarta itu tidak ada hubungannya dengan agama. Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Irjen Anton Charliyan menyebutkan bahwa di Indonesia sekarang ini ada 1.085 gerakan radikal. Polisi telah berupaya menekan perkembangan gerakan radikal ini, baik secara fisik maupun secara ideologi. Khusus penekanan secara ideologi tidak bisa dilakukan oleh polisi sendiri, tanpa bantuan komponen lain, seperti ulama dan tokoh masyarakat. "Mari kita sama-sama meningkatkan kepedulian terhadap terorisme, terorisme merupakan ancaman. Semua komponen ikut terlibat untuk menekan gerakan terorisme ini. Perlu disadari gerakan terorisme ini bukan hanya terjadi di Indonesia tetapi terjadi di seluruh dunia secara internasional," ajak Anton. Tim Densus 88 hari Sabtu (16/1) menjemput lima napi teroris dari Lapas Tangerang. Kelima narapidana itu menurut Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Anton Charliyan diperlukan untuk mengembangkan penyidikan kasus di Sarinah – Thamrin, Jakarta. Anton Charliyan menolak mengungkapkan nama kelima narapidana yang dijemput Densus 88 dari Lapas Tangerang.
  8. Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull, kiri, dan Presiden Indonesia Joko Widodo saat berkunjung ke pasar Tanah Abang di Jakarta, 12 November 2015. Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull memuji Presiden Indonesia Joko Widodo yang dinilainya telah menjadi tokoh utama yang mendorong kemajuan Islam moderat di Indonesia saat ini dan mengalahkan pandangan tentang Islam yang selama ini digembar-gemborkan ISIS. Hal ini disampaikannya dalam diskusi di CSIS, Washington DC hari Senin (18/1). "Saya melihat keseriusan Presiden Joko Widodo melawan ISIS. Sebagai pemimpin negara, yang mayoritas penduduknya beragama Islam terbesar di dunia, yang dipilih secara demokratis, ia memainkan peran penting dalam menjelaskan tentang Islam dan mengalahkan pandangan ISIS atau kelompok-kelompok ekstrimis lainnya. Jadi, ia seharusnya bisa bersuara lebih lantang, lebih luas cakupannya melawan ISIS dan radikalisme," ujar Turnbull. Turnbull : "Saya pernah diajak blusukan oleh Jokowi" Di hadapan forum yang dihadiri ratusan diplomat, pengambil kebijakan dan pengamat itu, Turnbull menceritakan kedekatannya dengan Jokowi. "Saya pernah diajak 'blusukan' ke sebuah pasar yang sangat ramai. Udara Jakarta yang sangat panas membuat saya melepaskan jas yang saya kenakan. Kucuran keringat di dahi membuat saya hampir tidak bisa berkonsentrasi tapi saya benar-benar kagum melihat bagaimana Jokowi santai saja menanggapi begitu banyak orang di pasar itu," ujarnya. Lebih jauh Turnbull mengatakan telah menelepon Jokowi hari Jumat lalu (15/1) sehari setelah serangan teror di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat. "Joko Widodo mengutuk keras tindakan para teroris. Tidak saja karena aksi kekerasan yang dilakukan terhadap sesama umat Muslim, tetapi terutama karena telah mencemarkan agama Islam itu sendiri," tegas Turnbull. Turnbull: Australia dan Amerika harus dukung Indonesia melawan teror Turnbull mengatakan Australia dan Amerika harus memberi dukungan penuh kepada Indonesia untuk melawan teror dan gerakan radikal. Selama ini Australia telah menjadi salah satu mitra terbaik Indonesia di kawasan dalam upaya pemberantasan teror. Salah satu diantaranya adalah kerjasama erat antara Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Indonesia dan Australia dalam memantau dan saling berbagi informasi tentang metode dan aliran dana jaringan teroris di kedua negara. Juga pelatihan personil keamanan dan kerjasama inteljen. Turnbull: "Kirim pasukan yang tepat di tempat yang tepat untuk mengalahkan ISIS" Dalam diskusi selama satu jam di CSIS, Turnbull juga menegaskan perlunya tindakan militer untuk menghancurkan ISIS secara langsung di kubu pertahanannya, termasuk dengan mengirim pasukan darat. "Tetapi kita harus mengirim pasukan yang tepat, di tempat yang tepat." Ditambahkannya bahwa "semua upaya harus memiliki satu tujuan utama yaitu mengalahkan ekstrimis, mencegah orang menjadi anggota, menggagalkan rencana serangan mereka dan menghukum keras mereka jika terbukti melakukan serangan." Tetapi pemimpin yang baru empat bulan berkuasa di Australia itu juga buru-buru menambahkan bahwa masyarakat tidak bisa pukul rata menyalahkan warga Muslim dan agama Islam atas kejahatan yang dilakukan sekelompok kecil teroris. "Karena inilah yang diinginkan teroris. Hari ini mereka membuat kita menyalahkan warga Muslim dalam komunitas kita karena hal itu akan semakin menguatkan narasi yang mereka sebarluaskan kepada anak-anak muda Muslim bahwa Amerika atau Australia tidak menghendaki mereka, dan bahwa mereka tidak punya masa depan di negara-negara ini, bahwa negara-negara ini bukan negara mereka." Turnbull akan bertemu Obama Selasa Malcolm Turnbull untuk pertama kalinya berkunjung ke Washington DC dalam kapasitas sebagai perdana menteri Australia. Turnbull dijadwalkan bertemu Presiden Barack Obama di Gedung Putih hari Selasa (19/1), dilanjutkan dengan pertemuan bilateral dan makan siang bersama.
  9. Pemerintah AS lewat deplu terus menawarkan kerjasama anti-terorisme kepada Indonesia setelah aksi teror Thamrin yang telah diklaim dilakukan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Berbagai pihak juga memuji kesigapan aparat RI dalam menangani peledakan bom dan penembakan tersebut
  10. Kepala Kepolisian RI Jenderal Badrodin Haiti memastikan bahwa salah satu terduga teroris Sarinah pada Kamis, 14 Januari, adalah seorang pria bernama Afif. “Nama aliasnya Afif. Nama sebenarnya saya lupa,” kata Badrodin di Mabes Polri, Jumat, 15 Januari. Afif adalah seorang pelaku yang tertangkap kamera wartawan saat menodongkan senapan ke arah petugas kepolisian di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis pagi. “Ya benar, yang fotonya beredar itu dia sedang menembak,” ungkap Badrodin. Polisi yang ditembak pun menderita luka cukup berat. Ia mengenakan topi hitam dengan logo Nike, memakai kaos hitam dengan tulisan warna-warni di bagian dada, bercelana jins biru, memakai sneakers, dan menenteng ransel dengan tali merah. Menurut Badrodin, Detasemen Khusus 88 Anti-teror Polri memang tidak asing dengan sosok Afif. Densus 88 pernah menangkap Afif akibat terlibat dalam pelatihan perang dan kepemilikan senjata di Aceh pada 2007. Ia divonis 7 tahun penjara dan sempat mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Pria asal Karawang, Jawa Barat, ini dilaporkan memiliki hubungan dekat denganpemimpin spiritual Aman Abdurrahman yang kini sedang mendekam di penjara Nusakambangan. Menurut kabar yang beredar, Afif adalah tukang urut Aman. “Kemungkinannya terhubung dengan Aman Abdurrahman ada,” kata Badrodin saat ditanya terpisah. Sumber Rappler di Solo membenarkan tentang hal ini. Afif dikenal sebagai simpatisan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Ia juga diyakini memiliki hubungan dengan Bahrun Naim, yang menurut Polisi merupakan otak serangan teror Sarinah. Bahrun saat ini diyakini sedang berada di Suriah.
  11. Rumah salah satu terduga teroris, MA, di Kembangan, Jakarta Barat. Haripah mengaku kaget ketika tetangganya, yakni MA, yang tinggal beberapa meter dari rumahnya, ternyata seorang terduga teroris. Ia mengetahui hal itu sebelum polisi melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di rumah MA di Kembangan, Jakarta Barat, Jumat (15/1/2016) malam. (Baca: Buku Jihad Ditemukan di Kontrakan Afif di Kabupaten Bogor) Menurut Haripah, pada hari ketika ledakan bom terjadi, foto terduga teroris yang tewas pun beredar di media sosial. Ketika melihat beberapa foto, Haripah kaget karena merasa mengenali salah satunya. "Waktu lihat foto teroris, ya Allah... ternyata tetangga saya," ujar Haripah, Sabtu (16/1/2016). Ia tidak habis pikir bahwa tetangganya itu bisa terlibat aksi teror tersebut. Sebab, dalam kesehariannya, MA dikenal sebagai orang yang pendiam. Haripah mengatakan bahwa MA tidak banyak bergaul dengan para tetangga, demikian juga istrinya, MS. Hanya ibunda MA yang masih aktif mengikuti pengajian dengan warga. (Baca: Pasca-penggerebekan, Keluarga Terduga Teroris Menutup Diri) Setelah melihat foto MA, Haripah semakin kaget karena daerah tempat dia tinggal didatangi Densus 88 tepat pada malam hari setelah bom meledak di dekat Sarinah, Thamrin, Jakarta. Malam berikutnya, polisi datang kembali untuk melakukan olah TKP. "Kami semua heran, enggak ada yang menyangka, selama ini kayaknya orang baik-baik. Dia bergaul dengan siapa ya, kok bisa-bisanya bikin bom begitu," ujar dia. Semalam, polisi melakukan olah TKP di rumah dua terduga teroris di Kembangan. Lima terduga teroris tewas saat pengeboman dan penembakan di dekat Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis kemarin. Tiga terduga teroris tewas karena bom, sedangkan dua lainnya tewas ditembak mati.
  12. Di Paris aja usai teror bom nggak ada yang kayak gini, semuanya pada ngumpet di rumah.
  13. Partai Demokrat mengutuk keras aksi teror bom Sarinah, Jakarta Pusat. Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Pandjaitan mengatakan apapun bentuk dan motifnya, aksi tersebut telah menelan korban yang tidak berdosa. "Partai Demokrat meminta pemerintah untuk tidak boleh takut dan negara tidak boleh kalah terhadap teror serta terus berupaya semaksimal mungkin melindungi setiap warga negara di manapun berada dengan cara yang terbaik dan juga mengoptimalkan kerjasama internasional untuk menangkal teror," ungkap Hinca di Jakarta. Dia berharap negara dapat meningkatkan peran intelijen untuk melakukan deteksi dini dan upaya pencegahan agar aksi teror tidak terjadi lagi di masa depan. "Kontribusi masyarakat luas juga penting, agar semua upaya pencegahan yang dilakukan negara berhasil," tegasnya. Hinca mengajak semua elemen bangsa ini bergandengan tangan memainkan peran maksimal, utamanya peran para pemuka agama dan tokoh masyarakat, serta segenap pimpinan pemerintahan dari tingkat pusat hingga daerah, untuk intensif mencegah setiap warganya untuk tidak melakukan aksi-aksi kekerasan atas nama apapun termasuk agama. "Masyarakat luas tidak boleh menambah masalah yang ada, misalnya dengan menyebarluaskan berita-berita palsu. Cegah kepanikan dan ketakutan yang tidak perlu," urainya. "Masyakarat justru harus makin bersatu dan tidak terpancing oleh tindakan adu domba. Media melakukan peranya yang membuat masyarakat tenag dan teduh lewat tayangan yang sesuai dengan kaidah jurnalistik," sambungnya.
  14. Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengungkapkan, selain Ibu Kota Jakarta, para teroris juga menjadikan Bali sebagai target serangan. "(Wilayah yang berpotensi diserang adalah) Jakarta dan Bali," ujar Ryamizard di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (14/1). Ryamizard menyebutkan, untuk kawasan Jakarta, dua bulan lalu teroris menarget kawasan Senayan dan Bundaran Hotel Indonesia. Menurutnya, Jakarta dan Bali sangat strategis untuk menyebarkan teror dan ketakutan di dunia. "Bali ini dengan Jakarta begitu meledak, dunia ini, 'wah Bali!', tapi kalau misalnya Parung (yang dibom), 'wah di mana itu Parung?'," katanya. Ryamizard mengapresiasi langkah kepolisian yang berhasil mencegat masuknya bom ke dalam gedung untuk meminimalisasi jumlah korban dan ledakan. Ia mengaku telah mendapatkan informasi mengenai serangan teroris ini sebelumnya, namun belum mengetahui waktu kapan tepatnya serangan akan dilakukan. "Ya dia akan lihat, kalau pelaku itu kan melihat, kalau dia lihat aparatnya siap, ya tidak (menyerang), tapi kalau tidak siap, dia lakukan itu," ujarnya. Ia pun tidak mau menyimpulkan bahwa pelaku merupakan jaringan Negara Islam Iran dan Suriah (ISIS) karena belum ada informasi pasti terkait hal itu. "Serangan itu ada di mana-mana. Namanya teroris di mana-mana. Kemarin saja ada di Paris begitu. Seperti Paris, dia bawa pistol, kemudian bom meledak," katanya. Yang jelas, tutur Ryamizard, para teroris ingin membuat takut dan menyebar teror sehingga warga panik dan terpecah-belah. Oleh karenanya, masyarakat harus berhati-hati dan waspada. "Tadi saya sama Pak Luhut kan dari Kalimantan. Semua sudah siap. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa. Tapi yang jelas, semua bangsa ini, kalau melihat yang mencurigakan, laporkan saja," ujarnya.
  15. Drone telah menjadi salah satu inovasi teknologi yang tengah meningkat popularitasnya. Baru-baru ini sekelompok ilmuwan asal Oxford memperingatkan bahaya pesawat nirawak ini bila jatuh ke tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab, seperti kelompok teroris. "ISIS dilaporkan terobsesi meluncurkan serangan terorganisir menggunakan sejumlah besar drone yang ditujukan kepada orang banyak untuk menciptakan kembali kengerian seperti peristiwa 9/11," tulis kelompok peneliti 'Oxford Research Group' dalam laporan 'Perseteruan Penggunaan Drone oleh Aktor Non-Negara terhadap Target Orang Inggris'. Kelompok peneliti ini juga tengah melakukan sebuah proyek bernama 'Remote Control Project', di mana peneliti melakukan analisa terhadap tren penggunaan teknologi di bidang militer, serta ancaman yang mungkin muncul di masa yang akan datang, sebagaimana ditulis dalam situs Oxford Research Group. "Drone adalah pengubah permainan di tangan yang salah," ungkap salah seorang peneliti bernama Chris Abbot. Mengutip dari IB Times, para ilmuwan mengklaim bahwa pesawat tanpa awak ini dapat dijadikan sebuah alat pembawa bom ke target-target potensial, seperti stasiun tenaga nuklir atau bahkan ke atas mobil perdana menteri Inggris. Drone juga diklaim sebagai perangkat udara sederhana, terjangkau, sekaligus efisien untuk bisa dimodifikasi menjadi perangkat peledak. "Pemerintah harus menangani ancaman ini dengan serius dan berkomitmen untuk melakukan berbagai penanggulangan yang masih dapat memberikan legitimasi untuk penggunaan komersil dan pribadi," kata Abbot. Kini tengah terdapat setidaknya 200 iklan yang memasarkan drone kepada masyarakat, di mana mungkin saja drone dapat menjadi sebuah alat pembawa bom hanya dengan membutuhkan modifikasi sederhana. Drone yang tergolong sebagai kendaraan udara 'tak berawak' ini memang tengah menjadi buah bibir di kalangan masyarakat internasional. Selain menjadi bentuk inovasi teknologi yang mendominasi di tengah pameran CES 2016 yang baru saja berlangsung di Las Vegas, drone juga ternyata tengah menyita perhatian kalangan pemerintah, khususnya para pembuat kebijakan. Keberadaan drone memang seperti 'memakan buah simalakama', di satu sisi menjadi solusi sebagai alat pengantar barang dari berbagai bisnis serta menjadi 'kepanjangan mata' manusia yang dapat memantau dari langit. Tapi di sisi lain, berbagai serangan dengan menggunakan drone pun cukup mengkhawatirkan berbagai pihak. Pada November 2015, diketahui terdapat sebuah drone yang menabrak kincir besar di Seattle. Di bulan Januari 2015, sempat ada drone misterius yang jatuh di halaman rumput Gedung Putih. Bahkan, sempat ditemukan drone misterius yang bersifat radiokaktif pada atap kantor pemerintahan perdana menteri Jepang pada bulan April 2015. Abbot menambahkan untuk ke depannya Inggris harus lebih 'bersiaga' karena saat ini para kelompok ekstrim, pelaku kriminal, korporasi, dan bahkan rakyat jelata memiliki akses yang begitu luas untuk bisa mendapatkan drone serta bisa saja merencanakan serangan terhadap negaranya di suatu waktu. "Peperangan teknologi remot kontrol ini sangat tidak mungkin dikendalikan," tulis Abbot dan rekan-rekan sejawatnya dalam laporan.
  16. Badan Inteljen Amerika CIA yakin serangan serangan di Paris Jumat malam (13/11) “bukan satu-satunya serangan yang direncanakan ISIS” dan selagi aparat berupaya mengungkap seluruh rencana tersebut, masyarakat harus meningkatkan kewaspadaannya. Serangan teror ISIS di kota Paris, Perancis dan kota Beirut, Lebanon yang menewaskan ratusan orang menjadi fokus perhatian Direktur CIA, John Brennan dalam diskusi “Global Security Forum 2015” yang diselenggarakan CSIS di Washington DC Senin pagi (16/11). Brennan mengatakan dari informasi yang berhasil dikumpulkan, diketahui bahwa serangan di Paris ini tidak direncanakan dalam satu dua hari, tetapi pasti telah direncanakan dengan sangat seksama selama beberapa bulan, tidak saja terkait target serangan tetapi juga pelaku dan bahan pendukungnya. “Jadi saya mengasumsikan serangan di Paris ini bukan satu-satunya operasi yang direncanakan ISIS dan CIA serta semua badan inteljen kini sedang berupaya keras mengungkap rencana ISIS berikutnya. Meningkatkan kewaspadaan menjadi hal yang harus dilakukan semua orang sekarang ini,” kata Brennan. Melihat serangan yang terjadi di Paris-Perancis dan Beirut-Lebanon, Brennan mengatakan ia yakin serangan ISIS kini tidak saja terbatas di wilayah Irak dan Suriah tetapi juga meluas ke negara-negara lain. “ISIS kini memperluas ancamannya ke luar, ke negara-negara lain, untuk memperluas dan memperkuat ideologinya tentang kekhalifahannya. Dan kita harus bekerja keras agar upaya ISIS itu tidak berhasil,” tembah Brennan. Lebih jauh Brennan mengatakan aparat keamanan sudah beberapa kali berhasil menggagalkan upaya ISIS untuk menempatkan orang dan barang guna melancarkan serangan. Tetapi keberhasilan mereka melakukan serangan di Paris menunjukkan prinsip dasar ideologi yang mereka anut yaitu membunuh dan menyebarkan teror. “Prinsipnya sangat sederhana: serang dan bunuh sebanyak mungkin orang. ISIS akan bunuh sebanyak mungkin orang, tidak peduli anak-anak sekali pun. Karena itu target kita sekarang juga sangat jelas, mengatasi ISIS di Timur Tengah dan juga di negara-negara lain,” tegasnya. “Global Security Forum 2015” merupakan acara tahunan CSIS yang mengupas berbagai isu yang dihadapi dunia, seperti keamanan, kebijakan pertahanan, ekonomi dan kemajuan teknologi . Tahun ini isu keamanan menjadi fokus perhatian, terkait keberadaan ISIS dan serangan yang dilakukan, krisis kemanusiaan di Irak dan Suriah, konflik di Laut Cina Selatan, krisis di Ukraina Timur, migrasi pengungsi ke Eropa hingga soal “Kemitraan Trans-Pasifik” dan isu anggaran pertahanan.
  17. Abaaoud berusia 27 tahun dan tinggal di Molenbeek, pinggiran Brussels yang terkenal dengan rumah bagi militan. Abdelhamid Abaaoud memegang bendera ISIS yang dimuat majalah online Dabiq. Pria yang merupakan warga negara Belgia ini dicurigai sebagai otak di balik aksi teror di Paris yang menewaskan sedikitnya 129 orang dan 350 lainnya luka-luka pada Jumat kemarin.
  18. Serangan teroris di Paris yang menelan korban sedikitnya 129 tewas dan ratusan lainnya luka-luka mengundang berbagai reaksi, termasuk di AS. Aparat keamanan di berbagai kota AS memperketat keamanan termasuk di masjid-masjid untuk mencegah terjadinya aksi balas dendam.
  19. Sebuah ledakan besar terjadi di pusat kota Bangkok, Thailand, sekitar 15 menit yang lalu. Dilansir Reuters beberapa menit lalu dilaporkan banyak korban terluka dan meninggal di tempat yang menimbulkan kekacauan besar di pusat kota. Kerusakan yang terjadi cukup besar, dan adanya kawah bisa mengindikasikan ledakan itu berasal dari bom. Jika hal itu benar ledakan bom, hal ini menjadi sebuah serangan yang sangat jarang terjadi di ibu kota. Kepolisian setempat mengatakan ada lima korban jiwa dan sekitar 20 orang terluka parah. Ledakan terjadi dekat sebuah kuil besar di Bangkok kata Kepala Kepolisian Thailand Prawut Thawornsiri.
  20. Meirina Wanti adalah satu-satunya wanita yang terbilang berani mengajar ngaji para napi di lapas Kelas I Surabaya di kecamatan Porong, kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Di dalam lapas yang dihuni terpidana mati Umar Patek ini, wanita yang disapa Mei ini, mengajar napi pembunuhan, narkoba, pencurian, pemerkosaan hingga terorisme. Mei pun tidak serta merta mengajar di hotel prodeo ini. Bahkan untuk memberikan secercah ilmu agama di dalam jeruji besi itu, perjuangan yang ditempuh Mei bukan main lamanya. "Lembaga Sekar Mentari menerobos izin mengadakan aktivitas pendidikan di penjara. Pada masa pengajuan proposal tidak bersahabat dan baru dikabulkan setelah nangkring di kantor administrasi Lapas Porong selama lima tahun," tulis Mahbib Khoiron menceritakan kisah Mei dikutip buku Mendidik Tanpa Pamrih terbitan Kemang. "Padahal pihak lapas tidak dibebani menggaji gurunya lho!" ucap Mei dalam buku tersebut. Perjuangan dakwah di dalam sel dengan tembok setebal 6 meter ini pun terbilang sulit. Semula banyak napi yang memadati kelas yang hanya bertembok triplek tipis, karena dijanjikan keringanan masa tahanan. Namun, seiring perubahan peraturan yang dibuat lapas, kini semakin banyak bangku yang tidak terisi. Para napi umumnya mengikuti kelas dengan pakaian sekenanya. Celana pendek dan kaos oblong. Beberapa napi cukup fasih menulis dan membaca huruf Arab namun mayoritas masih terbata-bata. "Napi yang tersangkut kasus pembunuhan dan narkoba biasanya lebih mudah menerima pelajaran ketimbang napi yang terjerat kasus pemerkosaan," cerita Mei. Bukan hanya kesulitan dalam memberikan pelajaran mengaji, Mei juga kerap dihadapkan dengan perilaku beringas para tahanan. Terkadang mereka bertengkar dan adu jotos di dalam kelas. "Teruskan. Sampai salah satu dari kalian mati. Saya pengen lihat teruskan," gertak Mei dan seketika para tahanan berhenti berkelahi. Memang Mei memperlakukan para tahanan sebagai teman dibandingkan anak didik. Bahkan, Mei mempersilakan para tahanan curhat di depan kelas, termasuk mengkritik dirinya mengajar. "Napi tampak cukup 'berwawasan' membela tegaknya negara khalifah, mengharamkan celana menutup mata kaki, menuding kafir orang yang tidak menerapkan syariat Islam," kutip buku tersebut. Mei paham, mereka kebanyakan penghuni lapas blok F, yaitu blok khusus tahanan teroris atau tahanan lain yang akrab dengan tahanan teroris, salah satunya Umar Patek yang telah divonis mati. "Bahkan ada yang sampai tidur bareng," kata Mei. Mei sendiri sebenarnya khawatir dengan menyebarkan ajaran berbeda ini di lingkungan lapas. Apalagi hujan kritik kerap datang dari siswanya yang memang orang dengan status tak biasa ini. "Kami tidak ingin mengkafirkan kelompok berbeda. Perbedaan pendapat biasa. Yang kita sebarkan adalah Islam rahmatan lil alamin. Dikritik tidak apa, kuncinya istiqomah," tutup Mei bijak.
  21. Pemerintah Perancis mengeluarkan peringatan yang menunjukkan tanda-tanda seseorang telah dirasuki paham Islam radikal dan berpotensi menjadi teroris. Salah satunya adalah perubahan pola makan dan tidak lagi mendengarkan musik. Diberitakan Al-Arabiya, hal ini disampaikan pemerintah Perancis dalam situs peringatan terorisme atau yang mereka sebut jihadisme, menyusul serangan ke majalah Charlie Hebdo dan supermarket Kosher di Paris yang menewaskan 17 orang. Dalam sebuah infografis, Perancis menunjukkan sembilan tanda-tanda seseorang berpotensi seorang teroris versi mereka. Salah satunya adalah berubah pola makan, digambarkan dalam infografis dengan tidak lagi memakan baguette, roti panjang khas Perancis. Selain itu, Perancis juga mengatakan seorang yang radikal tidak mendengarkan musik. Alasannya, mereka menghindari musik agar bisa fokus dalam menjalankan "misi". Tanda-tanda teroris lainnya versi Perancis adalah tidak pergi ke bioskop, tidak berolahraga, mengubah cara berpakaian, menjauhi keluarga, mencurigai kawan lama, sering membuka situs jihadi dan keluar dari sekolah. Peringatan tersebut banyak dikritik karena dianggap lelucon. Media The Local mengatakan bahwa butir-butir peringatan tersebut adalah tanda-tanda yang juga bisa dimiliki oleh semua orang, dan yang paling mendekati adalah seorang ayah baru. "Kebanyakan ayah baru juga terpaksa mematikan musik, bukan karena mengalihkan mereka dari "misi", karena 'kau akan membangunkan bayi itu lagi!'," tulis The Local. Setelah tragedi Charlie Hebdo 7 Januari lalu, insiden Islamofobia kian meningkat di Perancis. Menurut lembaga National Observatory Against Islamophobia, lebih dari 100 kasus penyerangan terhadap Muslim dilaporkan ke polisi sejak penembakan Charlie Hebdo. Di antaranya penembakan ke masjid di provinsi Digne-les-Bains dan Soissons. Sebuah bom rakitan meledak di luar masjid di pusat kota Villefranche-sur-Saone. Pada peristiwa lainnya, kepala babi hutan diletakkan di luar masjid di Corte in Corsica. Selain ancaman kekerasan, Muslim di Perancis juga kerap menjadi sasaran serangan verbal dari warga lainnya.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy