Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'tentara'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 7 results

  1. Helm militer yang digunakan saat ini masih memberikan akses bagi daya ledakan untuk melakukan penetrasi melalui wajah. Menambahkan kaca helm pada helm standar militer, bisa membantu melindungi tentara dari cedera otak. Penelitian baru yang memodelkan bagaimana gelombang kejut (shock wave) melewati kepala menemukan bahwa penambahan pelindung wajah bisa membelokkan porsi substansial ledakan yang jika tanpa pelindung tersebut akan dengan mulus menjangkau otak. Studi ini merupakan bagian dari sejumlah besar penelitian baru untuk menghentikan cedera otak traumatis. Diperkirakan 1,5 juta orang Amerika menderita cedera otak traumatis ringan setiap tahun, dan hampir 200.000 anggota tentara terdiagnosa menderita cedera tersebut sejak tahun 2000, menurut Armed Forces Health Surveillance Center di Silver Spring, Maryland. Walaupun tubrukan langsung seperti membenturkan kepala jelas-jelas dapat mencederai otak, daya yang berlangsung ketika bahan peledak mengirimkan gelombang kejut melalui kepala lebih sulit untuk dikarakterisasikan. Dalam studi tersebut, para peneliti yang dipimpin oleh Raúl Radovitzky dari MIT’s Institute for Soldier Nanotechnologies menciptakan model komputer terperinci kepala manusia termasuk lapisan lemak dan kulit, tengkorak, serta berbagai jenis jaringan otak. Tim tersebut memodelkan gelombang kejut dari sebuah ledakan yang diledakkan tepat di depan wajah dalam tiga kondisi: dengan kepala telanjang, dilindungi oleh helm yang sekarang digunakan dalam pertempuran, dan dilindungi oleh helm tersebut dengan tambahan pelindung wajah polikarbonat. Hasilnya menunjukkan bahwa helm yang digunakan saat ini oleh pihak militer tidak memperburuk kerusakan seperti yang ditunjukkan oleh beberapa penelitian sebelumnya. Akan tetapi setidaknya dalam hal perlindungan dari ledakan, helm tersebut juga tidak banyak membantu. Penambahan pelindung wajah akan memperbaiki beberapa masalah, menurut laporan tim tersebut. "Pelindung wajah banyak perperan dalam membelokkan daya dari gelombang ledakan dan tidak membiarkannya secara langsung menyentuh jaringan lunak," kata Radovitzky. "Kami tidak mengatakan bahwa ini merupakan desain terbaik bagi pelindung wajah, tapi kami mengatakan kita perlu melindungi wajah." Untuk memvalidasi model tersebut, para peneliti di MIT dan di mana pun juga harus melakukan eksperimen di dunia nyata. Akan tetapi karya tersebut menunjukkan kelemahan utama pada helm yang digunakan saat ini. "Helm ini tidak didesain untuk menghentikan tekanan gelombang dan tidak didesain untuk menghentikan peluru," tutur Albert King yang merupakan direktur Bioengineering Center di Wayne State University Detroit. "Seperti halnya helm American football tidak didesain untuk menghentikan geger otak tapi untuk menghentikan fraktur atau keretakan tengkorak." Mendesain helm yang tahan ledakan membutuhkan pengetahuan lebih baik tentang apa yang terjadi dalam otak ketika disapu oleh ledakan. Para tentara yang mengalami ledakan acapkali menggambarkan angin atau gelombang yang membuat mereka melihat bintang-bintang. "Saya pusing," merupakan laporan yang biasa didengar. Cedera otak traumatis "ringan" yang diakibatkan, tidak menyebabkan kehilangan kesadaran jangka panjang, dan pemindaian otak memperlihatkan hasil normal. Akan tetapi melabelkan cedera ini sebagai cedera ringan merupakan istilah yang tidak cocok, kata Douglas Smith yang merupakan direktur Center for Brain Injury and Repair di Universitas Pennsylvania di Philadelphia. "Bukan ringan; terminologi itu membuat orang tersesat," tutur Smith. "Hal tersebut merupakan sesuatu yang serius yang bisa menyebabkan disfungsi berat." Smith beserta para koleganya mengerjakan sensor yang bisa ditempatkan dalam helm atau kendaraan dan seperti alat pendeteksi radiasi yang dipakai oleh para pekerja di pabrik nuklir akan mengindikasikan eksposur terhadap daya ledakan yang dapat menyebabkan cedera otak. Sensor tersebut digambarkan dalam sebuah makalah yang akan diterbitkan di NeuroImage. Walaupun sebuah sensor mengindikasikan eksposur terhadap daya ledakan, masih belum jelas bagaimana tepatnya daya tersebut menyebabkan trauma otak. Dalam kondisi sehari-hari, otak secara gampang dapat menahan sedikit tubrukan. "Jatuhkan diri anda ke kursi maka otak anda akan bergoyang seperti gel agar-agar," ujar Smith. Namun dalam kecepatan yang sangat tinggi, sel-sel otak bukannya melonggar tapi bisa retak dan pecah seperti kaca. Efek jangka panjang dari sel-sel otak yang rusak ini sebagian besar tidak diketahui. Di samping sakit kepala kronis, pusing dan kesulitan mengingat kata-kata, penelitian menunjukkan bahwa ketika otak lumpuh walau hanya beberapa menit, cenderung menimbulkan depresi. Scott Matthews yang merupakan seorang psikiater di Universitas California, San Diego, yang mempelajari cedera otak traumatis ringan pada para veteran, memperhatikan bahwa kausalitas tidak dapat dipastikan. Akan tetapi pada para tentara yang pernah terlibat dalam pertempuran, dia melihat depresi dua kali sesering pada orang-orang dengan cedera otak traumatis. "Ada bukti yang kian banyak bahwa kehilangan kesadaran bisa mengubah otak," kata Matthews. Membongkar penyebab serta efek dan mendesain eksperimen untuk menjelaskan cedera otak traumatis serta akibat buruknya tetap sangat menantang. Lagi pula menerjemahkan temuan-temuan signifikan tersebut ke dalam kebijakan yang berarti bisa sama sulitnya. Bahkan mengimplementasikan sesuatu yang sesederhana helm dengan pelindung wajah memiliki permasalahan, kata Smith. "Bagaimana anda menyebarkan sesuatu yang seperti itu?" katanya. "Ada hal-hal praktis seperti masalah temperatur dan kemudian ada keinginan para tentara bisa bertemu dan bersalam-salaman di pedesaan tanpa terlihat seperti orang luar angkasa." Penelitian tersebut dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences.
  2. Peran aktif Indonesia dalam misi menjaga perdamaian dunia dengan mengirimkan ribuan personil TNI ke berbagai negara konflik, mendapat apresiasi dari PBB. Terlebih lagi, Indonesia juga memiliki pusat pelatihan penyiapan pasukan penjaga perdamaian dengan fasilitas kelas dunia. TNI juga menargetkan masuk 10 besar negara yang menyumbang pasukan perdamaian di Persatuan Bangsa Bangsa (PBB). Tahun 2016, TNI bertekat merealisasikan dengan mengirimkan 4.000 prajurit untuk menjadi penjaga perdamaian di dunia. Berikut ini adalah beberapa foto kiprah TNI dalam menjaga perdamaian dunia yang telah Bintang.com rangkum. #1 TNI Pasukan TNI sedang disiapkan untuk misi perdamaian dunia. #2 TNI Anggota TNI melakukan patroli bersama tentara militer nasional PBB lainnya. #3 Pasukan TNI wanita Prajurit wanita TNI yang tergabung dalam Satgas Kontingen Garuda (Konga) TNI Unifil Lebanon. #4 TNI saat sedang menjaga perdamaian di Lebanon Anggota perdamaian dunia TNI sedang bercakap-cakap dengan beberapa warga Lebanon. #5 TNI saat sedang menjaga perdamaian di Libanon Beberapa anggota TNI sedang dipersiapkan untuk berjaga di perbatasan Lebanon. #6 TNI Sebelum bertugas menjaga perdamaian dunia, anggota TNI dan tentara militer perdamaian dunia PBB, melakukan latihan menembak bersama-sama. #7 TNI di Lebanon Prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Batalyon Mekanis TNI Konga XXIII-F/UNIFIL (Indobatt), melaksanakan latihan kesiap siagaan menghadapi ancaman kondisi keamanan di wilayah Lebanon Selatan. #8 Anggota TNI melakukan latihan misi perdamaian dunia Latihan anggota TNI, jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan saat misi perdamaian dunia. #9 TNI Prajurit perdamaian dunia TNI yang bertugas di Lebanon mendapatkan kenaikan pangkat. #10 TNI Anggota perdamaian dunia TNI sedang gelar latihan bersama di Srilangka. #11 TNI Konga Sejumlah anggota TNI, beserta alutista penjaga perdamaian dunia. #12 TNI TNI perdamaian dunia, sedang melakukan patroli di negara yang mengalami konflik. #13 TNI Penjagaan yang sedang dilakukan anggota TNI diperbatasan tempat konflik berlangsung. #14 TNI Anggota TNI wanita yang sedang melakukan tugas perdamaian dunia.
  3. Tentara China diberi Tokok 6 Sampai 7 Sekali Hisap Rahasia Cepat Berhenti Merokok Ala Tentara – Merokok memang membuat ketagihan karena nikotin yang terkandung dalam rokok membuat orang kecanduan dan memang susah untuk berhenti dari kencanduan tersebut. Jika tidak merokok maka tubuh akan terasa lemas dan sakit-sakit, tapi jika terus merokok maka tubuh anda akan rusak, sel-sel penting anda akan mati dan otak sudah terkontaminasi oleh rokok. Tidak hanya itu asap pada rokok membuat paru-paru anda rusak dan asap anda akan memaparkan kepada orang-orang disekitar anda jika anda merokok pada sembarang tempat. Ini adalah gambar-gambar yang di ambil menunjukkan cara membuat rasa kapok akan dampak rokok pada tubuh manusia, dengan latihan seperti ini rokok itu akan membuat anda kapok dan berhenti untuk menggunakannya. Tentara Dipaksa untuk merokok sambil Sit Up Untuk Menyiksa Paru-Paru Mereka Tembakau rokok di campur dengan teh hangat dan tentu saja mereka harus meminumnya Maka dari itu merokok adalah aktivitas yang tidak bermanfaat dan dapat merusak tubuh, bagi anda yang merokok berhentilah mulai dari sekarang karena sel-sel hormon akan rusak karena rokok dan membawa kepada keturunan anda.
  4. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, dua tentara perempuan lulus dari ranger school, pendidikan militer AS yang sangat menguji ketahanan fisik dan mental. Departemen Pertahanan AS mengizinkan tentara perempuan mengisi posisi tempur tahun 2013 yang lalu. Selengkapnya ikuti laporan Patsy Widakuswara.
  5. Identitas tentara Amerika Serikat yang menembak mati Osama bin Laden akhirnya terungkap ke publik. Rob O'Neill merupakan anggota pasukan khusus Angkatan Laut, SEAL yang meraih penghargaan karena menembak Osama tepat di kepala, pada penggerebekan tahun 2011. Selama bertahun-tahun, pria berusia 38 tahun ini merahasiakan identitasnya dari publik. Namun O'Neill mengambil risiko ketika mengungkapkan identitasnya dengan menerima wawancara televisi setempat, Fox. Dengan wawancara ini, tentara yang tumbuh besar di kota pertambangan Montana, AS ini, terancam didepak pasukan elite yang telah menjadi bagian hidupnya selama 16 tahun. Dengan membuka identitasnya ke publik, O'Neill memilih untuk melanggar kode etik untuk tetap diam, yang berlaku bagi setiap personel US Navy SEAL. Tidak hanya itu, dia juga membahayakan nyawanya dan keluarganya. O'Neill mengatakan, dirinya membunuh Osama dari jarak dekat, dengan melepas tembakan sebanyak 3 kali ke dahi Osama, dalam penggerebekan SEAL di markas persembunyian Osama di Abbottabad, Pakistan. Dalam wawancara terpisah dengan MailOnline, ayah O'Neill menuturkan bahwa banyak orang menghawatirkan keselamatan anaknya dan keluarga setelah dia membuka diri ke publik. "Orang-orang bertanya apakah kami khawatir jika ISIS akan datang dan menangkap kami karena Rob membuka diri ke publik. Saya katakan, saya akan menggambar dengan cat sebuah simbol target besar di pintu rumah saya dan mengatakan, datang dan tangkap kami," tutur sang ayah. Sebelum ini, muncul banyak pertanyaan publik soal bagaimana sebenarnya Osama tewas. Keterangan dari sumber lain mengklaim bahwa O'Neill hanya menembak Osama sebanyak satu kali dan membiarkannya luka parah. Sedangkan sejumlah klaim lainnya menyebut Osama tewas ditembak oleh dua tentara SEAL dengan tembakan di bagian dada, bukannya dahi. Dalam wawancaranya dengan Fox, O'Neill menjelaskan bagaimana dirinya meminta sang istri untuk mempersiapkan satu tas penuh guna berjaga-jaga, jika mereka harus kabur dan menyelamatkan diri dalam waktu singkat. Laporan lain dari media setempat ITV menyebut, istri O'Neill sempat berencana mengganti nama belakang anak-anaknya. Menghapusnya (O'Neill) dari kehidupan mereka untuk alasan keamanan.
  6. Tentara AS pembunuh Osama bin Laden dianggap sebagai pahlawan yang berhasil mengubah jalan sejarah. Namun, ternyata jasa-jasanya kini tidak dianggap dan dia hidup merana tanpa harta dan istri yang meninggalkannya. Pria yang menolak disebutkan namanya ini mengaku telah bergabung di angkatan laut AS dan menjadi pasukan khusus SEAL selama 16 tahun. Kisah pria yang hanya disebut "Si Penembak" ini akan tertuang dalam laporan khusus majalah Esquire Maret nanti. Dilansir Daily Mail, Senin 11 Februari 2013, Si Penembak menyatakan mundur dari pasukan SEAL Team Six pada September tahun lalu. Menurut peraturan angkatan bersenjata AS, tentara baru akan menerima tunjangan pensiun jika telah bertugas selama 20 tahun. "Saya meninggalkan SEAL pada Jumat. Tunjangan kesehatan saya dan keluarga saya diputus pada Jumat tengah malam. Mereka mengatakan 'Kau telah keluar, tunjangannya berakhir. Terima kasih untuk pengabdian selama enam belas tahun'. Sialan, " kata dia kesal. Setelah operasi pembunuhan Osama bin Laden Mei 2011 lalu, kehidupan pernikahannya dengan istrinya guncang. Mereka bercerai namun masih hidup bersama untuk berhemat, karena belum mampu hidup sendiri-sendiri. Tidak ada lagi tunjangan pensiun, kesehatan, perlindungan bagi dirinya, anak-anak dan mantan istrinya, padahal sebagai pembunuh orang nomor satu al-Qaeda dia berpotensi menjadi target pembunuhan para militan. Untuk itu, dia telah melatih anak-anak dan pasangannya untuk menghadapi serangan. Dia telah memerintahkan anak-anaknya bersembunyi di bathtub jika ada serangan. Bathtub adalah tempat teraman dan terkuat untuk menghindari peluru. Selain itu, istrinya juga telah dilatih menggunakan senapan, dengan pisau sebagai senjata cadangan di laci dapur. Dia juga sudah mempersiapkan tas darurat yang berisi pakaian, makanan dan kebutuhan lainnya untuk bertahan hidup selama dua minggu di persembunyian. Wartawan Esquire, Phil Bronstein, yang mewawancarai mantan tentara ini mengatakan bahwa saat ini Si Penembak sedang mencari kerja sebagai warga sipil. "Bagaimana cara dia menghidupi dan memberi makan keluarganya akan menjadi mimpi buruk," kata Bronstein. Kepada majalah Esquire juga, Si Penembak mengisahkan bagaimana cara dia membunuh Osama bin Laden di lantai tiga rumah persembunyiannya di Abbottabad, Pakistan. Dia menembak Osama tiga kali tepat di jidatnya.
  7. Helm militer yang digunakan saat ini masih memberikan akses bagi daya ledakan untuk melakukan penetrasi melalui wajah. Menambahkan kaca helm pada helm standar militer, bisa membantu melindungi tentara dari cedera otak. Penelitian baru yang memodelkan bagaimana gelombang kejut (shock wave) melewati kepala menemukan bahwa penambahan pelindung wajah bisa membelokkan porsi substansial ledakan yang jika tanpa pelindung tersebut akan dengan mulus menjangkau otak. Studi ini merupakan bagian dari sejumlah besar penelitian baru untuk menghentikan cedera otak traumatis. Diperkirakan 1,5 juta orang Amerika menderita cedera otak traumatis ringan setiap tahun, dan hampir 200.000 anggota tentara terdiagnosa menderita cedera tersebut sejak tahun 2000, menurut Armed Forces Health Surveillance Center di Silver Spring, Maryland. Walaupun tubrukan langsung seperti membenturkan kepala jelas-jelas dapat mencederai otak, daya yang berlangsung ketika bahan peledak mengirimkan gelombang kejut melalui kepala lebih sulit untuk dikarakterisasikan. Dalam studi tersebut, para peneliti yang dipimpin oleh Raúl Radovitzky dari MIT’s Institute for Soldier Nanotechnologies menciptakan model komputer terperinci kepala manusia termasuk lapisan lemak dan kulit, tengkorak, serta berbagai jenis jaringan otak. Tim tersebut memodelkan gelombang kejut dari sebuah ledakan yang diledakkan tepat di depan wajah dalam tiga kondisi: dengan kepala telanjang, dilindungi oleh helm yang sekarang digunakan dalam pertempuran, dan dilindungi oleh helm tersebut dengan tambahan pelindung wajah polikarbonat. Hasilnya menunjukkan bahwa helm yang digunakan saat ini oleh pihak militer tidak memperburuk kerusakan seperti yang ditunjukkan oleh beberapa penelitian sebelumnya. Akan tetapi setidaknya dalam hal perlindungan dari ledakan, helm tersebut juga tidak banyak membantu. Penambahan pelindung wajah akan memperbaiki beberapa masalah, menurut laporan tim tersebut. "Pelindung wajah banyak perperan dalam membelokkan daya dari gelombang ledakan dan tidak membiarkannya secara langsung menyentuh jaringan lunak," kata Radovitzky. "Kami tidak mengatakan bahwa ini merupakan desain terbaik bagi pelindung wajah, tapi kami mengatakan kita perlu melindungi wajah." Untuk memvalidasi model tersebut, para peneliti di MIT dan di mana pun juga harus melakukan eksperimen di dunia nyata. Akan tetapi karya tersebut menunjukkan kelemahan utama pada helm yang digunakan saat ini. "Helm ini tidak didesain untuk menghentikan tekanan gelombang dan tidak didesain untuk menghentikan peluru," tutur Albert King yang merupakan direktur Bioengineering Center di Wayne State University Detroit. "Seperti halnya helm American football tidak didesain untuk menghentikan geger otak tapi untuk menghentikan fraktur atau keretakan tengkorak." Mendesain helm yang tahan ledakan membutuhkan pengetahuan lebih baik tentang apa yang terjadi dalam otak ketika disapu oleh ledakan. Para tentara yang mengalami ledakan acapkali menggambarkan angin atau gelombang yang membuat mereka melihat bintang-bintang. "Saya pusing," merupakan laporan yang biasa didengar. Cedera otak traumatis "ringan" yang diakibatkan, tidak menyebabkan kehilangan kesadaran jangka panjang, dan pemindaian otak memperlihatkan hasil normal. Akan tetapi melabelkan cedera ini sebagai cedera ringan merupakan istilah yang tidak cocok, kata Douglas Smith yang merupakan direktur Center for Brain Injury and Repair di Universitas Pennsylvania di Philadelphia. "Bukan ringan; terminologi itu membuat orang tersesat," tutur Smith. "Hal tersebut merupakan sesuatu yang serius yang bisa menyebabkan disfungsi berat." Smith beserta para koleganya mengerjakan sensor yang bisa ditempatkan dalam helm atau kendaraan dan seperti alat pendeteksi radiasi yang dipakai oleh para pekerja di pabrik nuklir akan mengindikasikan eksposur terhadap daya ledakan yang dapat menyebabkan cedera otak. Sensor tersebut digambarkan dalam sebuah makalah yang akan diterbitkan di NeuroImage. Walaupun sebuah sensor mengindikasikan eksposur terhadap daya ledakan, masih belum jelas bagaimana tepatnya daya tersebut menyebabkan trauma otak. Dalam kondisi sehari-hari, otak secara gampang dapat menahan sedikit tubrukan. "Jatuhkan diri anda ke kursi maka otak anda akan bergoyang seperti gel agar-agar," ujar Smith. Namun dalam kecepatan yang sangat tinggi, sel-sel otak bukannya melonggar tapi bisa retak dan pecah seperti kaca. Efek jangka panjang dari sel-sel otak yang rusak ini sebagian besar tidak diketahui. Di samping sakit kepala kronis, pusing dan kesulitan mengingat kata-kata, penelitian menunjukkan bahwa ketika otak lumpuh walau hanya beberapa menit, cenderung menimbulkan depresi. Scott Matthews yang merupakan seorang psikiater di Universitas California, San Diego, yang mempelajari cedera otak traumatis ringan pada para veteran, memperhatikan bahwa kausalitas tidak dapat dipastikan. Akan tetapi pada para tentara yang pernah terlibat dalam pertempuran, dia melihat depresi dua kali sesering pada orang-orang dengan cedera otak traumatis. "Ada bukti yang kian banyak bahwa kehilangan kesadaran bisa mengubah otak," kata Matthews. Membongkar penyebab serta efek dan mendesain eksperimen untuk menjelaskan cedera otak traumatis serta akibat buruknya tetap sangat menantang. Lagi pula menerjemahkan temuan-temuan signifikan tersebut ke dalam kebijakan yang berarti bisa sama sulitnya. Bahkan mengimplementasikan sesuatu yang sesederhana helm dengan pelindung wajah memiliki permasalahan, kata Smith. "Bagaimana anda menyebarkan sesuatu yang seperti itu?" katanya. "Ada hal-hal praktis seperti masalah temperatur dan kemudian ada keinginan para tentara bisa bertemu dan bersalam-salaman di pedesaan tanpa terlihat seperti orang luar angkasa." Penelitian tersebut dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy