Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'suka duka'.

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • CLINIC NGOBAS
    • Coronavirus
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • Ngocol
    • Ngocol Video
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • ABOUT NgobasTV
    • EVENT
    • WESER
    • LAPOR KOMANDAN

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Categories

  • Files
    • Website
    • Smartphone
  • Games
  • E-Book

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 2 results

  1. Dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang kompleks, dimana terdapat banyak perbedaan, kita sering sekali menghadapi hal-hal yang tidak enak menyangkut kehidupan pribadi kita. Salah satunya adalah masalah pasangan hidup, baik itu pacar atau suami. Pasangan hidup, terutama bagi wanita, masih dianggap sebagai salah satu hal yang dapat menaikkan gengsi atau status sosial dalam masyarakat. Contohnya, jika Anda menikah dengan pejabat atau pengusaha sukses, masyarakat tiba-tiba bisa menjadi hormat terhadap Anda dan keluarga. Salah satu hubungan yang banyak disorot masyarakat adalah pasangan campuran, yaitu salah satu pasangan berasal dari bangsa lain atau biasa disebut “Bule”. Masalah sering timbul jika Anda hidup dalam lingkungan yang kurang berpendidikan atau di daerah yang jarang sekali ada bule-nya. Masyarakat kita masih banyak yang berpikir bahwa bule adalah orang yang level-nya di atas orang lokal. Akibatnya masyarakat menganggap bahwa para bule pasti kaya, bule pasti lebih mudah cari uang, bule pasti lebih romantis, dan lain sebagainya. Dari pengalaman pribadi saya yang memiliki pasangan bule, cukup banyak hal yang menuntut saya untuk bersabar agar tidak terpancing emosi. Terutama tentang anggapan sebagian masyarakat yang memandang negatif hubungan wanita lokal dengan bule. Memiliki pasangan bule memang memiliki suka duka tersendiri, khususnya jika bermukim di Indonesia. Seperti apa contohnya?? Gak enaknya memiliki pasangan bule : 1. Dianggap Cewek Matre. Orang akan menganggap Anda sebagai cewek matre atau gold digger. Mereka pikir kita memilih bule karena menginginkan harta dan limpahan uang. Padahal banyak wanita Indonesia yang memiliki pendidikan tinggi dan karir bagus tetapi mereka memiliki pasangan bule. Ini artinya tidak semua hubungan dengan bule bermotif uang. Cinta itu tak pandang ras! 2. Dianggap Banyak Uang Jadi pasangan bule akan dianggap hidup dalam kemewahan. Tak jarang ada teman yang berusaha pinjam uang dari nominal kecil sampai besar. Ada yang minta ditraktir atau mengharap ditraktir. Aduh, dipikir bule itu mesin ATM?? Padahal tidak semua bule adalah orang kaya. Bule punya uang juga hasil dari bekerja atau berbisnis, bukan karena ada hujan uang di negerinya. Biasanya bule melakukan traveling setelah menabung berbulan-bulan. 3. Dianggap Cewek Murahan atau Pasangan Sementara. Berjalan dengan bule bisa membuat Anda dianggap cewek yang mudah ditiduri atau dibayar untuk service sex. Saya heran, kenapa masyarakat kita selalu mengaitkan sex dengan bule?? Sebagian besar orang Indonesia menganggap bule tidak bisa setia dan mudah berganti pasangan. Kalo pasangan kita bule, mereka akan bilang bahwa kita cuma dikasih senang sementara dan ujung-ujungnya akan diselingkuhi atau ditinggal balik ke negaranya. Padahal cowok lokal pun banyak yang tidak setia. Coba deh sesekali Anda ke Pengadilan Agama atau Pengadilan Negeri, tanya berapa banyak perceraian pasangan lokal yang diproses oleh mereka dalam sehari (belum termasuk cerai yang ditinggal begitu saja). 4. Dikatai Muka Pembantu. Banyak orang yang bilang bule itu punya selera yang aneh, cewek berkulit gelap atau berwajah “mbak-mbak” kok bisa dipacari atau diperistri? Hampir semua orang bilang kalo bule senang dengan cewek-cewek berwajah pembantu. Jadi, jika Anda punya pasangan bule berarti Anda masuk dalam kategori cewek jelek! Sayang sekali orang-orang lupa bahwa definisi dan standar kecantikan berbeda bagi tiap orang. Jika menurut Anda cantik adalah berkulit putih dan berambut lurus, belum tentu demikian menurut orang lain. 5. Dikira Tour Guide. Sering kali saat berjalan dengan bule, saya dikira Tour Guide (pemandu wisata). Pernah ketika saya pergi liburan dengan suami dan keluarganya ke tempat-tempat wisata di Indonesia, ada aja orang yang bertanya; “Bawa turis-turis dari mana, Mbak?” Hiyaaaa…. Wkwkwkwk… Gapapa, berarti saya pinter tentang budaya kalo dikira Tour Guide 6. Dikira Baby Sitter. Biasanya anak-anak hasil dari pernikahan campur memiliki wajah yang menawan (cantik atau ganteng). Rata-rata lebih kelihatan muka bule-nya daripada Indonesianya. Perbedaan wajah dan warna kulit yang mencolok antara ibu dan anak ini sering membuat si ibu kandung dianggap Baby Sitter, terutama kalau sedang jalan-jalan ke luar lingkungan, misalnya ke mall. Kadang si ibu sudah menjelaskan panjang lebar pun orang tidak percaya. Tidak jarang petugas imigrasi airport sering mencurigai si ibu menculik anak orang. 7. Diperhatikan Banyak Orang. Jika Anda berjalan dengan bule, lihatlah sekeliling Anda. Pasti hampir semua orang akan memandang Anda dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu mulai menilai fisik dan penampilan Anda. Ada yang saling berbisik dengan temannya, seolah-olah baru melihat alien turun dari planet. Kadang terlihat muka-muka mereka adalah muka envy. Saya tahu kok dalam hati mereka pasti merasa saya gak cantik tapi kok bisa dapat bule?? 8. Diberi Harga Mahal. Lebih baik jangan pergi ke pasar tradisional dengan bule, karena dengan adanya bule di samping kita biasanya harga langsung berubah naik minimal 3x lipat. Begitu juga dengan harga penginapan, taksi tanpa argo, persewaan mobil, atau ojek. Para penjual produk atau jasa akan membedakan harga bule dengan harga lokal. Kalau saya bilang, “Kok mahal sih??” Mereka menjawab, “Lho, kan yang bayar mas bule-nya??” *nguap – melengos pergi* Tempat-tempat wisata di Indonesia juga senang menetapkan harga berbeda untuk bule, bahkan ada yang sampai 300% lebih mahal daripada harga tiket lokal. 9. Dikerubuti Sales Bedakan jika Anda ke mall sendirian dengan saat Anda ke mall dengan pasangan bule. Saat sendirian belum tentu ada SPG atau sales yang menyapa Anda. Giliran ke mall sama bule langsung deh SPG dari berbagai produk hingga sales mobil dan condominium akan menghampiri Anda. 10. Sederhana Dianggap Kere. Banyak orang memandang kehidupan bule itu mewah. Makanya kalau lihat bule naik angkot, pasti dikatai bule kere (harusnya naik mobil pribadi atau minimal taksi silverbird), atau kalau ada bule makan di warung/warteg, langsung dipikir bule kere (harusnya makan di mall atau resto mahal). 11. Mau Tahu Love Story Kita. Kadang suka capek juga sih kalo ketemu orang selalu ditanya kisah cinta kita dari awal sampai menikah. Gimana gak capek kalo harus mengulang cerita yang sama lagi dan lagi? Banyak orang berpikir saya bisa kenal bule karena sering nongkrong di klub malam atau mengunjungi tempat-tempat yang banyak bule-nya. Saya sering ditanya: “Kenal suami di Bali ya??” **Aiiihh… Memangnya bule cuma ada di Bali? Ada juga yang bilang: “Kirain lo kenal bule gara-gara dugem…” **Yaelaaahhh… Padahal saya paling males kalo diajak dugem! Kadang kalau saya jawab singkat, misalnya: “Oh dulu kerja sekantor…” Teruslah dikejar pertanyaan “Kantornya di mana?”, “Kerjaan lo dulu apa?”, “Dia di bagian apa?” dan lain-lain. Kalau saya kasih jawaban singkat lainnya, misalnya: “Dulu teman nongkrong…” tetap ada pertanyaan yang mengikuti; “Nongkrongnya di mana??” **Ya di toilet lah, Mbak! Suatu ketika pernah saya jawab; “Dari internet…” Lalu dikomentari “Gila! Beruntung banget bukan scammer!” **Whoaaahhh… 12. Minta Dicarikan Jodoh. “Kenalin dong ama temen-temen bule lo…” “Lo ada temen bule single gak, say?” “Laki lo punya temen single, gak? Boleh dong kenalin ke gue…” Kata-kata seperti di atas pasti sering dilontarkan kepada pacar atau istri para bule. Lucunya ada orang yang waktu melihat kita pacaran sama bule dia agak sinis, eh saat kita nikah lalu minta dicarikan bule juga. Maksudnya apa ya?? *Gagal paham* 13. Ditanya Urusan Pribadi. Banyak juga yang tanya, “Gaji suami lo Dollar, ya??” atau “Enak dong, gaji suami lo pasti gede!” Selain itu ada juga yang mau tahu berapa uang bulanan yang saya terima dari suami, meski bertanyanya tidak secara langsung tapi mengarah ke situ. Ada juga tanya sambil becanda (tapi gak pantas), “Enak ya punya suami bule?? “Itu”nya kan gede!” Iya Mbak, gede ukuran sepatunya, susah nyarinya! 14. Banyak Digoda Cewek Aneh! Tidak sedikit wanita-wanita yang berupaya mendapatkan bule tanpa peduli bule tersebut sudah punya pasangan resmi. Mereka yang pernah mengenal pasangan kita di masa lalu tetap berusaha melakukan kontak agar tidak putus hubungan. Ada juga wanita-wanita yang tidak dikenal menyapa dan memberi nomor telepon padahal mereka tahu atau melihat si bule membawa pacar/istri (lokasi biasanya di mall, restoran, atau tempat wisata). Tak jarang pula banyak cewek-cewek yang meng-add pasangan bule kita di sosial media, dan berusaha menjalin pertemanan. 15. Harus Sabar Melayani Fans. Sering lagi enak-enak jalan berdua, tiba-tiba ada orang yang minta foto bareng sama pasangan saya. Sebenarnya kejadian ini lebih mengarah ke lucu daripada menyebalkan. Hanya saja biasanya orang yang minta foto bareng tidak ada basa-basinya pada saya, seolah saya ini asisten selebriti yang disuruh memotret atau dicuekin sampai mereka selesai foto-foto. Gak sopan! 16. Haters Gonna Hate! Sering sekali saya mendapat cemooh dari orang-orang yang sirik dengan wanita pasangan bule dan juga bulenya. Apa saja dikomentari jelek, mulai dari muka pembantu gak jelas, bule miskin, bule gak setia, dan lain-lain. Maaf saja, mereka yang berperilaku seperti ini biasanya adalah pecundang! Para pecundang wanita biasanya sirik karena tidak bisa mendapatkan bule meski sudah mencoba segala cara, atau pernah berhubungan dengan bule namun hubungannya bermasalah atau tidak berhasil. Begitu juga pecundang pria, mereka sirik dengan bule karena kalah tampilan dan merasa kalah pasaran dengan bule. Saya sudah biasa menerima komen-komen dengan kata-kata kasar, seperti orang yang tidak berpendidikan. Memang, kedengkian itu menghilangkan etika dan sopan santun… Nah, kalau ada duka pasti ada suka dong! Tapi enaknya punya pasangan bule tergantung masing-masing orang, tiap orang belum tentu merasakan hal yang sama. Berikut ini adalah sukanya memiliki pasangan bule versi saya (jadi jangan protes ya!) Enaknya memiliki pasangan bule : 1. Menerima Anda apa adanya. Kebanyakan bule tidak peduli dengan keadaan fisik Anda, misalnya: Anda skoliosis, gendut, pendek, kulit Anda gelap, atau rambut Anda jelek. Mereka juga tidak peduli Anda kaya atau miskin, berpendidikan tinggi atau tidak. Jika dia mencintai Anda, dia akan menerima Anda apa adanya. Justru ketika ada cowok lokal yang mendekati saya, mereka cenderung melihat saya dari tampilan luar saja. 2. Tidak Posesif. Jarang sekali bule yang melarang Anda melakukan ini itu atau membatasi pergaulan Anda. Bule lebih logis dalam berpikir. Mereka tidak cemburuan dan tidak curigaan. Anda tetap bisa bergaul dengan teman-teman Anda, pergi ke mana Anda suka, dan melakukan apa yang Anda mau (selama masih dalam hal yang positif dan bertanggung jawab). Kebanyakan teman-teman saya yang punya pasangan lokal sering dilarang ini itu oleh pasangannya. 3. Lebih mudah berkomunikasi. Kebanyakan bule lebih berpikiran terbuka dan smart. Mereka lebih mudah diajak bicara. Mereka akan membahas berbagai hal dengan Anda untuk mengetahui apa pendapat Anda. Mereka mau mendengarkan Anda. 4. Lebih mendukung Anda. Bule senang dengan kegiatan positif yang Anda lakukan atau sesuatu yang berhubungan dengan bakat atau cita-cita Anda. Misalnya jika Anda suka menulis, fotografi, atau berbisnis, mereka memberikan support penuh untuk mewujudkan impian Anda. Dukungan mereka dapat berupa semangat, ide-ide, bahkan dukungan financial. 5. Tidak Dipandang Rendah. Wanita bukan mahluk nomor dua untuk bule. Mereka menganggap setara derajat pria dan wanita. Anda tidak akan dianggap lebih rendah. Bule juga mau melakukan hal-hal yang biasanya hanya dilakukan oleh wanita di Indonesia, seperti memasak, mencuci piring, mencuci baju, dan bersih-bersih rumah. Suami saya tidak mengharuskan saya untuk memasak. Oh ya, Anda juga tidak perlu mencium tangan suami Anda sebagai tanda Anda berbakti, tapi dia yang akan mencium Anda. (Entah kenapa sejak saya kecil saya tidak suka melihat wanita yang mencium tangan pasangannya, apalagi jika statusnya masih pacaran!). 6. Lebih setia. Anggapan bahwa bule menyukai free sex adalah salah besar. Itu adalah stereotype atau imageakibat kebanyakan nonton film-film asing. Pada kenyataannya, cowok bule sangat menghargai komitmen jika hatinya sudah merasa terikat dengan seorang wanita. Sebab itulah mereka sangat pikir panjang untuk menikah dan jika telah menikah mereka tidak menyembunyikan statusnya. Sebenarnya sama saja dengan kehidupan masyarakat kita, berapa banyak yang sudah melakukan sex sebelum menikah atau tinggal bersama tanpa menikah? Banyak kan orang Indonesia yang nikah gara-gara hamil duluan?? Bukan rahasia lagi kalau banyak mahasiswa yang tinggal bersama di kos-kosan. Bedanya, bule melakukan secara terbuka namun bertanggung jawab, sedangkan masyarakat kita melakukan secara sembunyi-sembunyi (munafik) lalu lari dari tanggung jawab. 7. Lebih Jujur. Bule tidak akan mengatakan sesuatu yang hanya bertujuan untuk menyenangkan hati Anda, atau istilahnya janji-janji manis. Bule akan mengatakan apa yang mereka rasakan dalam hati atau pikiran mereka secara jujur. Meski terkadang kejujuran mereka membuat kita kecewa, itu masih lebih baik daripada dibohongi. 8. Lebih bertanggung jawab. Bule memiliki rasa tanggung jawab yang besar pada keluarga. Bule adalah pekerja keras, dan mereka pandai mengatur keuangan. Bahkan jika Anda bercerai, anak Anda tetap mendapatkan biaya hidup dan pendidikan. Selain karena rasa tanggung jawab juga karena undang-undang di negaranya lebih melindungi wanita. Saya tidak mengatakan bahwa cowok lokal tidak bertanggung jawab, tapi biasanya jika cowok lokal bercerai (apalagi sudah menikah lagi), mereka sering melupakan tanggung jawab pada anak dari mantan istri. Apalagi sekarang makin banyak cowok lokal yang mencari calon istri yang bekerja agar bisa membantu perekonomian rumah tangga. 9. Keluarga tidak ikut campur. Mertua dan saudara-saudara dari keluarga bule tidak akan ikut campur pada urusan pribadi Anda atau urusan rumah tangga Anda berdua. Mereka tidak melihat pada “bibit, bebet, bobot”. Bagi mereka, anak yang sudah dewasa memiliki hak memilih apapun sesuai dengan keinginannya sendiri mulai dari pekerjaan, tempat tinggal, pasangan hidup, sampai agama. Mereka selalu men-support apa pun pilihan anaknya. 10. Menambah pengetahuan. Dengan memiliki pasangan bule, berarti kita belajar tentang banyak hal yang kadang sama sekali belum pernah kita tahu. Hidup kita akan terasa lebih berwarna. 11. Kemungkinan besar punya anak cakep. Biasanya anak hasil dari perkawinan ras Asia dan ras Caucasian (kulit putih) memiliki wajah dan kulit yang bagus. Di Indonesia wajah-wajah campuran memiliki keuntungan tersendiri, entah itu campuran Bule, India, Arab, Cina, Jepang, dan lain-lain. Kepandaian dan pendidikan memang menentukan kesuksesan seseorang, namun tak bisa dipungkiri bahwa orang berwajah cakep biasanya lebih mudah mendapatkan pekerjaan dan jodoh.
  2. "Hi..Siri" demikian biasanya sapaan khas pengguna iPhone atau iPad ke perangkatnya. Layanan asisten digital ini memang sudah tak asing lagi bagi pengguna iDevice. Suara yang renyah dan bak seperti berbicara langsung membuat Siri gampang diingat. Tapi, tak banyak orang mengetahui siapa orang di balik suara Siri. Kehadiran Siri pertama kali diperkenalkan pada 4 Oktober 2011 lalu bersama iPhone 4s dan iOS 5. Fitur ini membawa dampak positif dan juga terkadang mengundang kontroversi, dari menjalin pertemanan dengan anak-anak pengidap autisme hingga dituding anti homoseksual atau homophobia. Dalam perjalanannya Siri pun tersedia dalam berbagai variasi, yaitu suara perempuan dan laki-laki dengan pemahaman beberapa bahasa berbeda. Jon Briggs, Susan Bennett, dan Karen Jacobsen adalah orang di balik suara Siri. Jon adalah suara lelaki Inggris pertama untuk Siri, kemudian Susan adalah pengisi suara perempuan Siri beraksen Amerika. Sementara suara perempuan Siri pertama menggunakan suara Karen. Ketiganya berbagi cerita mengenai awal mula bisa menjadi suara Siri yang digunakan oleh jutaan pengguna yang tersebar di berbagai negara. Awal Mula Bisa Menjadi Pengisi Suara Siri Karen sebagai pengisi suara perempuan pertama untuk Siri mengaku ia menjalani audisi. "Saya membaca ringkasan soal pekerjaan ini dan langsung berpikir, 'pekerjaan ini milik saya!'," kisahnya. Karen yang juga dikenal sebagai 'gadis GPS' karena suaranya sering digunakan sebagai pengarah navigasi di dalam sejumlah aplikasi GPS, merasa dirinya sangat cocok mengisi suara Siri. Kepercayaan diri Karen berbuah hasil karena setelah ikut audisi, ia langsung mendapatkan perannya. Selain itu, ia mengaku sempat bertemu Steve Wozniak di sebuah acara konferensi teknologi tahun 2014. Pendiri Apple itu mengenalinya sebagai pengisi suara Siri. Tentu Karen dibuat senang olehnya. Dari hasil kerjanya tersebut, Wozniak memuji suara Karen yang sudah sangat ikonik sebagai suara Siri. Seluruh suara orisinil Siri dari seluruh dunia berasal dari bank suara digital yang direkam pada 2005 silam. Susan yang juga mengisi suara untuk maskapai Delta Airlines itu mengakui dirinya turut menyumbang suara. "Dalam satu bulan, saya merekam suara empat jam tiap harinya selama lima hari tiap pekan," kisahnya. Sementara saat Siri diperkenalkan pertama kali, salah satu teman Susan mengirim email, bertanya, "saya sedang memainkan iPhone terbaru. Apakah Siri ini menggunakan suaramu?" Dari situ ia langsung membuka situs Apple dan mendengarkan suara Siri. Ia langsung mengenali suara yang tak lain adalah suaranya sendiri. "Saya senang sekali karena suara saya akhirnya dipilih," ungkapnya. Sementara Jon yang merupakan pengisi suara program bertajuk "Weakest Link" di salah satu media besar di Inggris bercerita bahwa ia sempat mengontak pihak Apple untuk bertanya apakah perusahaan ingin mempromosikan Siri. Jon yang juga berprofesi sebagai penyiar radio sangat paham bahwa suaranya sudah dikenal oleh banyak orang. Kendati tak disambut dengan hangat, suaranya masih terpilih untuk mengisi Siri versi pria beraksen Inggris. "Apple tentu merupakan perusahaan teknologi yang hebat, namun mereka tidak begitu menakjubkan ketika berhubungan dengan orang lain," katanya. Suatu hari seorang penggiat teknologi bernama Rory Cellan-Jones sedang mengulas iPhone 4s dan memainkan Siri. Jon yang sedang menonton kala itu mendengar suara Siri dan langsung mengenalinya. Itu adalah suaranya sendiri. "Rasanya cukup aneh ketika ada yang memasang suaramu di saku jutaan orang tanpa pemberitahuan, tentu saya pasti kebingungan jika ada yang bertanya 'apakah ini suaramu?'," lanjut Jon. Walau begitu Jon mengaku merasa sangat senang suaranya digunakan untuk fitur Siri. Pengisi suara Siri Apa rasanya berbicara dengan suara sendiri? Walau menggunakan iPhone, Karen merasa ia seperti manusia terakhir yang bisa memilikinya karena perusahaannya tidak menawarkan iPhone selama bertahun-tahun. Ia pun berceloteh, bagian paling menyenangkan adalah ketika anak lelakinya bertanya kepada Siri yang menggunakan suaranya. "Anak saya waktu masih kecil sedikit frustasi ketika ia bertanya kepada Siri dan ia tak memberi jawaban yang ia harapkan, karena ia tahu itu suara ibunya tapi malah terkesan Siri tak mengenalinya," ujar Karen. Sementara Susan yang menggunakan banyak produk Apple seperti iPhone dan MacBook, mengungkapkan beberapa kali berbicara kepada Siri dan ia malah mendapat jawaban yang tidak enak. "Saya pernah tanya 'apa yang sedang kamu lakukan?', ia lantas menjawab dengan lantang, 'saya sedang berbicara dengan Anda!' lucu sekali," tutur Susan. Lain halnya dengan Jon. Ia menggunakan Siri untuk membuat janji dan mengirim pesan teks. Sesekali ia mengirim pertanyaan konyol. Namun ia mengaku lebih sering mengaktifkan suara Siri versi perempuan. Selain itu, Jon mengatakan bahwa beberapa orang pernah mengatakan bahwa banyak yang mengajukan lamaran pernikahan via Siri versi suaranya. "Kemungkinan saya menerima lamaran pernikahan lebih banyak dari pria Inggris kebanyakan. Lucunya, saya masih lajang sampai sekarang!" kisahnya.
×
×
  • Create New...