Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'simulator pesawat'.

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • CLINIC NGOBAS
    • Coronavirus
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • Ngocol
    • Ngocol Video
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • ABOUT NgobasTV
    • EVENT
    • WESER
    • LAPOR KOMANDAN

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Categories

  • Files
    • Website
    • Smartphone
    • Computer
  • Games
  • E-Book

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 1 result

  1. Kebanyakan garasi hanya untuk menyimpan mobil, sepeda motor, atau barang-barang lainnya. Tetapi untuk James Price lain ceritanya. Pria 52 tahun asal Negara Bagian California, Amerika Serikat itu membangun simulator pesawat seharga USD 150 ribu setara Rp 1,3 miliar dari sepotong kokpit Boeing 737, seperti dilaporkan surat kabar the Daily Mail, Jumat (20/4). Price sudah 'terbang' dengan simulator selama 20 tahun. Tetapi dia tidak dapat menerbangkan pesawat komersial sekelas Boeing 737 karena tidak bisa mendapatkan lisensi pilot. Dia mulai serius menekuni hobinya pada 1994. Waktu itu dia membangun sebuah ruang simulasi terbang dari kayu memanfaatkan ruangan tidak terpakai dalam rumahnya. Price yang bekerja sebagai operator lalu lintas udara membeli kokpit bekas itu setelah bercerai pada 2000 seharga USD 1500 setara Rp 13,7 juta dari sebuah pesawat Boeing 737 bekas milik maskapai Continental. Setelah dipotong, dia menyewa truk untuk mengangkut ruang kemudi itu ke hanggar di Bandara Livermore Municipal. Sejak itu dia mulai membangun simulator sendiri buat memenuhi impiannya. Sedikit demi sedikit ruang kemudi itu dilengkapi dengan panel-panel asli dari Boeing, tempat duduk, batang kendali, instrumen terbang, lampu-lampu penunjuk yang berfungsi normal. Pada 2009, Price memindahkan potongan kokpit itu ke rumahnya setelah dirasa cukup lengkap. Tetapi dia harus memotong bagian belakangnya sepanjang 1,2 meter dan mengeluarkan semua isi garasi. Di depan moncong, Price menempatkan tiga buah layar besar yang mengelilingi jendela kokpit buat menampilkan gambar seolah-olah sedang melakukan penerbangan. Menurut Price, simulator milik dia sama canggihnya dengan kepunyaan sekolah penerbangan ternama. Dia mengatakan alat latih terbang itu punya tampilan sebenarnya dari setiap bandara di dunia. "Alat itu juga bisa menampilkan cuaca mirip aslinya yang terhubung dengan internet," kata Price. Bagi Price, proyek simulator miliknya akan selalu dilengkapi dengan instrumen mutakhir, sesuai perkembangan zaman.
×
×
  • Create New...