Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'silicon valley'.



More search options

  • Pencarian Berdasarkan Tag

    Jenis tag dipisahkan dengan koma.
  • Pencarian Berdasarkan Penulis

Jenis Konten


Forum

  • NGOBAS ANSWERS
    • Pertanyaan Umum
  • MEDIA MUDA
    • Berita Muda
    • Muda Anonim
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • KEUANGAN
    • Bukan-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • GAYA HIDUP
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • TEMPAT ISTIRAHAT
    • LAPOR KOMANDAN

Blog

There are no results to display.

There are no results to display.

Categories

  • Topik Berita
  • Acara
    • Dokumentasi Event
  • Officer

Cari hasilnya di...

Cari hasilnya yang...


Tanggal Dibuat

  • Mulai

    End


Pembaruan Terakhir

  • Mulai

    End


Saring dari jumlah...

Joined

  • Mulai

    End


Group


Situs


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Minat

Ditemukan 12 results

  1. Ada argumen yang kuat tentang kenapa kita tak seharusnya mereplikasi Silicon Valley dan membuat versinya di berbagai negara di dunia. Kini ada sebuah kontes popularitas global dan bukan Twitter yang saya maksud. Pemimpin dari kota-kota terbesar dunia saling berkompetisi untuk melabeli kota mereka sebagai 'Silicon Valley berikutnya'. Dari London ke Beijing, Tel Aviv sampai Tallinn, ada pertandingan untuk menciptakan kota teknologi yang akan menarik orang-orang terbaik — dan investor dengan kocek yang dalam. Tapi, apakah Silicon Valley dan budaya yang berkembang seputar pusat teknologi itu harus menjadi contoh untuk diikuti oleh kota-kota dunia? Dan biaya untuk mengikuti Silicon Valley pun nantinya akan dibayar oleh uang pajak. Dalam 60 tahun terakhir, dunia telah melihat Silicon Valley berubah dari jaringan kecil manufaktur teknologi yang khusus menjadi sebuah nukleus global bagi teknologi bernilai miliaran dolar. Silicon Valley adalah tempat Apple, Google, Facebook, Netflix, dan banyak perusahaan serupa berada, yang jika digabung, nilai mereka bisa mencapai triliunan dolar. Jika dilihat dari data, Valley adalah kawasan seluas 4.801 km persegi dengan tiga juta orang, 38% dilahirkan di luar Amerika Serikat. Dihitung per kapita, Silicon Valley adalah salah satu tempat terkaya di dunia, lebih kaya dari banyak negara. Penduduknya rata-rata menghasilkan $125.580 per tahun (sekitar Rp1,7 miliar) dan pada 2015, kawasan ini berada di nomor tiga, setelah Zurich dan Oslo, dari sisi PDB. Jadi mudah dipahami mengapa banyak negara ingin mendapat kesuksesan yang sama. Apakah ada rumus atau resepnya? Satu kesamaan dari banyak perusahaan besar Silicon Valley adalah kemampuannya bergerak cepat, berinovasi serta berkembang. Tapi apakah ini sesuatu yang bisa direka ulang di tempat lain? Dan jika benar bisa, haruskah kita melakukannya? Karena kumpulan perusahaan perintis yang melesat kemudian hancur tentu punya kekurangan. Bagi Dan Breznitz, seorang pakar dan konsultan inovasi di University of Toronto, jawabannya adalah 'tidak'. "Bayangkan Silicon Valley — seorang lulusan Stanford atau MIT, bukan orang biasa, dan Anda memberi mereka setumpuk uang agar mereka bisa membuat perusahaan sehingga menjadi sukses dan menjadi miliarder," katanya, mencontohkan kisah sukses banyak pendiri perusahaan perintis yang kemudian akan gagal. "Ini benar-benar sebuah tempat perjudian." Meski ada data yang menyebut bahwa perusahaan perintis yang gagal di AS bisa mencapai 90%, namun angka yang lebih tepat adalah 60%, tapi tetap saja itu adalah tingkat kegagalan yang tinggi dan merupakan risiko investasi. Breznitz berargumen bahwa ada situasi unik yang berperan dalam menciptakan Silicon Valley — tim penelitian universitas di California yang mendorong lahirnya perusahaan semikonduktor — dan model itu mungkin tak ideal untuk menjadi contoh pusat inovasi di negara-negara lain di dunia. Dan seperti dia katakan, Valley membutuhkan beberapa dekade untuk sampai ke posisinya sekarang. Untuk menyusun ekosistem pendidikan dan industri yang menyokong pusat inovasi seperti itu dalam waktu cepat adalah hal yang sulit. Dan kini, ada peribahasa baru untuk zaman kita: Silicon Valley tak dibangun dalam sehari. Bidang pendukung Analis itu menyatakan satu poin yang kadang terlupakan: bahwa negara-negara lain di seluruh dunia yang sukses secara ekonomi sudah mendapat pemasukan, bukan dengan berusaha mengembangkan Silicon Valley versi mereka, tapi dengan melakukan diversifikasi dan mengambil keuntungan dari pertumbuhan ekonomi di AS. Contohnya Taiwan, yang unggul di bidang produksi cip — sebuah industri yang menumpang dari kesuksesan Silicon Valley. "Bukan karena Taiwan sekedar punya fasilitas pabrik," kata Breznitz. "Mereka mengembangkan teknologi di sekitarnya yang memungkinkan pembuat perangkat keras untuk menciptakan sesuatu secara lebih efisien." Sektor teknologi di Taiwan bernilai sekitar $130 miliar (hampir Rp 1.800 triliun). Meski begitu, baru-baru ini Taiwan bereksperimen dengan jalur inovasi mirip Silicon Valley dalam upaya mengikuti perubahan dan berkompetisi dengan Cina. Sementara di Jerman, mereka mempertahankan dominasi industri manufaktur di Eropa dengan meningkatkan kemampuan dan berinvestasi di sektor yang spesifik. Inilah sebabnya perusahaan Jerman seperti Siemens mengembangkan fasilitas manufaktur di Cina — dan tidak sebaliknya. Fraunhofer Institutes di Jerman yang terkenal memiliki beberapa cara untuk meningkatkan sisi teknis dari perusahaan-perusahaan terbesar di negara itu, dan memastikan agar mereka tetap kompetitif. Situs SoundCloud berbasis di Berlin. Dan Anda mungkin akan terkejut saat mengetahi bahwa algoritme kompresi MP3 diciptakan oleh teknisi Fraunhofer — bukan oleh entrepreneur Silicon Valley. Spesialisasi Sejarah menyimpan banyak contoh-contoh pusat industri yang dulunya kuat namun kemudian kalah oleh saingan mereka. Contohnya adalah kebangkitan galangan kapal di Asia pada 1950an dan 1960an, dengan teknik manufaktur yang baru dan desain yang bisa beradaptasi dengan mudah, menjadi akhir bagi industri perkapalan Inggris. Tapi tetap saja, ada beberapa Silicon Valley imitasi yang muncul seperti di Shenzhen di Cina atau di Tel Aviv di Israel yang menjadi unggul karena memiliki area spesialisasi, kata analis industri teknologi Paul Triolo dari Eurasia Group. Shenzhen berfokus pada pengembangan inovasi di perangkat keras, sementara Tel Aviv terkenal karena inovasinya di bidang keamanan siber. London juga memiliki Silicon Roundabout dengan fokus di teknologi keuangan (karena besarnya sektor keuangan di kota itu) dan kecerdasan buatan, dengan penelitian yang dilakukan oleh universitas terkemuka seperti University of Central London dan Imperial College. "Banyak dari pusat teknologi dunia kini melayani pasar khusus, sementara Valley cenderung berfokus pada hal-hal yang besar dan berlebihan — seperti media sosial, contohnya," kata Triolo, yang merujuk pada platform besar seperti Facebook atau Google yang berusaha untuk menempatkan diri di jantung kehidupan digital konsumen. Budaya Valley Perusahaan teknologi yang berkembang cepat akan sering menghadapi serangkaian masalah. Dari mulai kebijakan manajemen yang terburu-buru yang menimbulkan gesekan di kalangan staf sampai pendekatan yang kacau dalam upaya melindungi data pribadi pengguna. Meski budaya Valley yang disruptif dan tak peduli aturan telah lama dikritik, namun laporan terbaru akan pelecehan seksual dan penutupan akan kebocoran data telah merusak reputasi sebagian perusahaan. Dan kegagalan dalam mengakui skala dan keseriusan atas kerusakan ini, oleh majalah Wired, baru-baru ini disebut "gelembung teknologi selanjutnya". Facebook, contohnya, tak lagi dilihat sebagai "peretas yang bersenang-senang membangun alat yang lucu", tulis Erin Griffith, tapi sebagai "pengepul data pribadi yang berkuasa dan mungkin berniat jahat". Perusahaan lain telah menghadapi kritikan yang lebih keras. Perusahaan berbagi tumpangan Uber berkembang dalam kecepatan yang mencengangkan menggunakan dana investasi besar dari perusahaan pemodal ventura tapi tak pernah mendapat untung. Dari awalnya dielu-elukan di media, perusahaan tersebut kemudian terhambat oleh keputusan manajemen yang buruk dan pertikaian internal. Tahun lalu, direktur eksekutifnya mengambil cuti panjang, setelah mengatakan bahwa dia membutuhkan "bantuan kepemimpinan". Analis industri teknologi, Patrick Imbach di KPMG di London mengatakan bahwa aturan internal masih cukup untuk kebanyakan perusahaan, dan bagi perusahaan yang buruk, "semoga pasar bisa memperbaikinya". Dengan kata lain, perusahaan akan menghadapi tekanan dari pemegang saham, atau mengalami kekeringan investasi, jika tidak mengubah langkah mereka. Aksi tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) adalah salah satu hal yang menjadi semakin penting. Baru-baru ini, CSR disebut sangat penting oleh manajer dana investasi terbesar dunia, BlackRock. Dan jika orang-orang investasi, para pemegang uang, memperhatikan CSR maka perusahaan teknologi pun harus mendengarkan. Satu hal yang diyakini Imbach akan kita lihat pada 2018, sebagai tanggapan langsung akan skandal-skandal terbaru, adalah keragaman di dewan direksi di Silicon Valley. Ini adalah satu "pelajaran" dari masa sekarang: memiliki dewan direksi dengan pandangan yang lebih luas, contohnya dari sisi isu ras atau gender, yang semakin dilihat sebagai aset yang berharga. Meniru model Cina Mungkin tantangan terbesar AS di masa depan akan datang dari Cina. Beberapa kota di sana sudah memiliki budaya perusahaan perintis yang berkembang, kata investor Hans Tung dari perusahaan pemodal ventura GGV Capital, lalu merujuk Beijing, Shanghai, Hangzhou dan Shenzhen. Cina juga sudah memiliki raksasa teknologinya sendiri, termasuk Alibaba, Tencent dan Baidu. Beberapa kota-kota Cina itu kini "menyaingi" Silicon Valley, kata Tung. Dia meyakini bahwa dengan memprioritaskan perusahaan perintis, masyarakat harus membuat pilihan-pilihan yang sulit akan budaya kerjanya. Contohnya, budaya Cina yang bekerja dalam waktu yang panjang, yang menuntut banyak dari pegawainya, akan semakin menuntut lebih seiring dengan semakin banyaknya investasi yang dikucurkan. Dan meski sudah bekerja keras, banyak perusahaan-perusahaan baru ini yang tidak mendapat untung — karena jika ada banyak perusahaan perintis, maka proporsi perusahaan yang gagal juga tinggi. Perusahaan perintis di Cina jelas bernasib kurang lebih sama dengan saingan mereka di belahan dunia lain. Satu laporan baru menyatakan bahwa 90% dari bisnis realitas virtual Cina sudah bangkrut. Dan perusahaan AS yang juga meluncurkan perusahaan perintis di Cina juga sering gagal. Contohnya, situs diskon konsumen Groupon yang mencoba membuka bisnis di Cina. Gelembung? Banyak negara dan investor besar yang santai menanggapi budaya perusahaan perintis ini dan akan nasib investasi mereka. Mereka melihat bahwa sektor teknologi yang berkembang itu sehat. Tapi ada satu manajer investasi yang khawatir, yaitu Robert Naess di Nordea Bank. Naess menjelaskan bahwa di AS, pemodal ventura dan "pendukung dana" lain, kini menunggu untuk waktu yang sangat lama sebelum mendapat untung dari investasi mereka di perusahaan teknologi besar. Ini artinya, pasar memberikan dana yang sangat besar agar perusahaan-perusahaan ini sukses dan terus sukses. "Saya menahan diri untuk tidak menyebutnya sebuah gelembung," kata Naess. Dan ada tanda-tanda lain akan perlambatan, contohnya, di area yang dulunya bisa diandalkan, seperti elektronik, yang mendorong pertumbuhan perusahaan seperti Google dan Apple. Simon Bryant, analis di Futuresource menjelaskan bahwa meski ada banyak antusiasme akan teknologi 'smart home' dan perangkat Internet of Things, tak ada banyak tanda yang menunjukkan bahwa konsumen berniat membelinya. Membandingkan pasar hari ini dengan era kejatuhan Dotcom 18 tahun lalu juga tak selalu membantu, karena sebagian besar analis merasa bahwa itu adalah era yang berbeda. Dan Breznitz menyebut bahwa gelembung era dotcom adalah sesuatu yang perlu terjadi untuk mengawali apa yang kini terjadi. Bahkan, menurutnya gelembung era dotcom menjadi fondasi fisik yang membuat raksasa teknologi saat ini mampu membangun kerajaan bisnis mereka. Butuh banyak investasi dan antusiasme untuk menempatkan infrastruktur serat optik itu — dan itulah antusiasme yang ada di gelembung , dia menambahkan. "Hampir semua orang yang berinvestasi di serat optik kehiangan uang mereka — orang-orang yang membeli serat optik dengan harga murah, seperti Google, mendapat keuntungan besar," kata Paul Triolo, menyetujui. "Semua serat optik itu akhirnya digunakan oleh analisis big data dan Cloud," katanya. Pada akhirnya, sebagian orang merasa bahwa keributan dan kekecewaan dari gelembung pertama adalah pembelajaran yang menciptakan Valley yang sangat menguntungkan. Kekacauan itu adalah sesuatu yang buruk yang harus terjadi, menurutnya. Dan akhirnya, sebagian kecil orang menjadi sangat kaya. Jadi, dari Shenzhen sampai Dublin, dan berbagai pusat inovasi lain yang ingin mengambil keuntungan dari sukses ini mungkin tetap tergoda: mari membuat pengorbanan besar, mengambil risiko besar — meski jalannya tidak bertanggungjawab. Tampaknya kini kita semua sedang menjadi penjudi besar. Jadi, siapa yang takut menghadapi gelembung berikutnya?
  2. Elon Musk, Kepala SolarCity dan CEO Tesla Motors, berbicara di KTT Energi SolarCity di Manhattan, New York. Beberapa eksekutif Silicon Valley memberikan sumbangan kepada upaya-upaya hukum untuk mendukung para imigran yang menghadapi pelarangan. Silicon Valley mengambil tempat di depan pada akhir pekan dalam perlawanan korporat terhadap larangan imigrasi Presiden AS Donald Trump, dengan mendanai gugatan hukum, mengkritik rencana tersebut, dan membantu para pegawai yang terimbas perintah eksekutif Trump itu. Dalam sebuah industri yang telah lama bergantung pada imigran dan merayakan kontribusi mereka, serta mendukung aktivisme liberal seperti hak-hak gay, pada awalnya tidak banyak konsensus mengenai bagaimana merespon langkah Trump hari Jumat (27/1). Namun, meski sebagian besar di dalam industri teknologi tidak secara langsung mengkritik presiden baru dari Partai Republik itu, mereka melangkah lebih jauh dibandingkan para mitranya di sektor lain, yang sebagian besar tutup mulut selama akhir pekan. Sebagian besar dari bank-bank besar AS dan perusahaan otomotif, misalnya, menolak berkomentar saat ditanya Reuters. Trump memerintahkan larangan sementara terhadap orang-orang yang datang dari tujuh negara berpenduduk mayoritas Muslim dan penangguhan 120 hari terhadap pemukiman pengungsi. Aksi ini memicu protes global, dan menimbulkan kebinungan dan kemarahan setelah para imigran, pengungsi dan pengunjung dilarang naik pesawat dan terlunta-lunta di bandar-bandar udara. Perusahaan-perusahaan besar seperti Apple Inc, Google dan Microsoft Corp menawarkan bantuan hukum pada para pegawai yang terimbas perintah eksekutif itu, menurut surat-surat yang dikirim kepada staf. Beberapa eksekutif Silicon Valley memberikan sumbangan kepada upaya-upaya hukum untuk mendukung para imigran yang menghadapi pelarangan. CEO Tesla Elon Musk dan direktur Uber Travis Kalanick mengatakan di Twitter bahwa mereka akan membawa keprihatinan industri mengenai imigrasi ke dewan penasihat bisnis Trump, dimana mereka menjadi anggotanya. Kalanick telah menghadapi kecaman di media sosial karena setuju menjadi bagian kelompok penasihat tersebut. Dalam tulisan di halaman Facebooknya hari Minggu, Kalanick menyebut larangan imigrasi itu "keliru dan tidak adil" dan mengatakan bahwa Uber akan menyediakan dana US$3 juta untuk membantu para pengemudi dengan masalah-masalah imigrasi. Di antara yang terimbas larangan tersebut adalah Khash Sajadi, warga Iran keturunan Inggris yang merupakan kepala eksekutif perusahan teknologi Cloud 66 di San Francisco, yang terjebak di London. Seperti banyak pekerja teknologi lainnya, ia memegang visa H1B, yang memungkinkan warga-warga negara asing dengan keahlian khusus untuk bekerja di perusahaan-perusahaan AS. Sajadi mengatakan ia berharap perusahaan-perusahaan teknologi besar seperti Google dan Facebook akan mengambil tindakan hukum untuk melindungi para pegawai yang terdampak. Hal itu dapat membantu membuat preseden untuk orang-orang dengan situasi sama, namun ada di perusahaan lebih kecil. "Pada akhirnya, hanya berbicara saja tidak akan mengubah sesuatu" jika mereka tidak kaya dan tidak tinggal di pesisir Timur atau Barat [tempat perusahaan-perusahaan teknologi besar berada], ujarnya. Protes 'Tech Against Trump' Respon dari perusahaan-perusahaan teknologi telah "sekuat mungkin," ujar Eric Talley, profesor hukum korporasi dari Fakultas Hukum Universitas Columbia. "Salah satu aspek sulit dari reaksi terhadap pemerintahan Trump dalam dua minggu pertamanya adalah mencoba menyeimbangkan keinginan mengekspresikan keprihatinan yang sah dengan konsekuensi berdiri terlalu jauh dari orang-orang lain," ujarnya. Industri teknologi juga memiliki isu-isu lain yang mungkin menempatkan mereka di pihak yang berlawanan dengan Trump, termasuk kebijakan perdagangan dan keamanan dunia maya. Presiden Mountain View, inkubator perusahaan rintisan Y Combinator di California, Sam Altman, menulis dalam tulisan blog yang dibaca banyak orang, mendesak para pemimpin sektor teknologi untuk bersatu melawan larangan imigrasi itu. Ia mengatakan ia telah berbicara dengan beragam orang mengenai pengorganisasian tapi tetap tidak yakin tindakan apa yang paling baik. "Jujur saja kami belum tahu," ujarnya. "Kami sedang membahasnya dengan kelompok-kelompok legal dan teknologi, tapi hal ini belum pernah terjadi sebelumnya dan saya kira tidak ada yang memiliki buku panduannya." Pada perusahaan transportasi Lyft, para pendirinya John Zimmer dan Logan Green, menjanjikan dalam blog perusahaan akan mendonasikan satu juga dolar dalam empat tahun ke depan untuk Serikat Kemerdekaan Sipil Amerika (ACLU), yang memenangkan gugatan melawan sebagian perintah eksekutif Trump pada Sabtu malam. Eksekutif lain, seperti Stewart Butterfield dari Slack dan kedua mitra Union Square Ventures, Albert Wenger dan Fred Wilson berjanji akan menyamai kontribusi untuk ACLU. Michael Dearing, pendiri perusahaan permodalan Harrison Metal, membentuk upaya yang disebut Project ELLIS -- singkatan dari Entrepreneurs' Liberty Link in Silicon Valley -- untuk membantu perusahaan-perusahaan rintisan dan perusahaan-perusahaan teknologi yang lebih kecil dengan isu-isu imigrasi. "ELLIS" juga merupakan referensi untuk Pulau Ellis di New York, tempat jutaan imigran tiba. Dalam kurang dari sehari, kelompok ini telah menangani dua kasus, ujarnya. Dave McClure, mitra pendiri 500 Startups dan pengkritik yang vokal terhadap Trump, mengatakan perusahaan investasinya akan segera membuka dana pertama di Timur Tengah dan akan menggeser perhatian untuk mendukung para wirausaha di negara-negara asal mereka, jika membawa mereka ke Amerika Serikat mustahil. Para pegawai rendahan telah mendesak para eksekutif untuk bertindak lebih jauh pada akhir pekan. Tak lama setelah mengetahui perintah Trump, Brad Taylor, insinyur berusia 37 tahun yang bekerja di perusahaan analisis web Optimizely, mulai mengorganisir "Tech Against Trump," sebuah demonstrasi yang dijadwalkan berlangsung pada 14 Maret. Selain berdemonstrasi di Palo Alto, California, para penyelenggara acara ini mendesak para pegawai industri teknologi di perusahaan-perusahaan yang diam saja terhadap Trump untuk keluar dari kantor mereka. Taylor mengatakan ia terharu dengan pernyataan-pernyataan para pemimpin teknologi selama akhir pekan namun ia ingin melihat industri ini maju lebih jauh. "Tujuannya bukan untuk melawan industri teknologi, namun untuk mendesak mereka agar ada di pihak yang benar dalam sejarah," ujarnya.
  3. Organisasi nirlaba "Leaders" mengirimkan beberapa perusahaan rintisan Palestina untuk belajar belajar bisnis di Silicon Valley, AS. Program ini mendapat dukungan dari Konsulat AS di Palestina.
  4. Guest

    Apa itu Silicon Valley?

    Silicon valey adalah tempat mangkal perusahaan-perusahaan teknologi besar di San Fransisco Amerika Serikat. Presiden Joko Widodo meminta bantuan dukungan untuk Indonesia juga kepada perusahaan-perusahaan teknologi yag ada di silicon valley.
  5. Dua pemeran film serial Silicon Valley, Kumail Nanjiani dan Thomas Middleditch, tiba-tiba dihampiri dua orang pemuda kulit putih berusia 20-an tahun ketika sedang berada di dalam sebuah bar di kota Los Angeles, AS, akhir minggu lalu. Kedua pemuda tersebut rupanya ingin mengajak berdebat karena tidak suka dengan sikap politik Nanjiani dan Middleditch yang dikenal sebagai penentang Presiden terpilih AS, Donald Trump. Tapi, Nanjiani tak mau melayani ulah mereka. “Hei, kami tidak mau berdiskusi soal politik sekarang,” kicau Nanjiani di Twitter, mengulangi ucapannya malam itu. Penolakannya malah berbuah ejekan dari kedua pemuda pendukung Trump yang mulai berteriak dan mendekati Nanjiani. Middleditch yang berusaha menghentikan tindakan agresif itu malah diajak berkelahi. Beruntung, sebelum situasi menjadi makin panas, petugas bar menghampiri mereka, lalu mengusir kedua pemuda tadi ke luar bar. Silicon Valley adalah serial TV yang ditayangkan di HBO yang bercerita seputar kehidupan startup teknologi di AS. Seperti diketahui, mayoritas perusahaan teknologi di AS memang berseberangan dengan cara pandang Donald Trump selama kampanye. Berbau rasial Insiden tersebut diduga dilatarbelakangi rasisme karena Nanjiani adalah komedian asal Pakistan yang bertampang Asia. Dia besar di kota Karachi, lalu pindah ke AS saat kuliah dan kini memiliki dua kewarganegaraan. Nanjiani menyayangkan peristiwa tersebut bisa terjadi di Los Angeles yang dikenal sebagai kota liberal. Lokasinya pun tidak sepi, melainkan ramai dengan pengunjung ketika itu. “Saya tidak bisa membayangkan seperti apa rasanya menjadi orang yang berpenampilan seperti saya di wilayah lain negeri ini,” ucapnya. Semenjak Trump memenangi pemilu AS Rabu pekan lalu, gelombang serangan berbau hate crime yang dilatarbelakangi kebencian berbasis SARA telah melanda Negara Paman Sam. Para pelakunya disinyalir memperoleh justifikasi dan berani muncul ke permukan karena menganggap tindakan mereka sesuai dengan pandangan Trump terhadap politik dan masyarakat AS. Sang presiden terpilih itu memang sering menyuarakan kebencian terhadap golongan minoritas di AS ketika berkampanye.
  6. Berbagai perusahaan teknologi di Silicon Valley, Amerika jadi incaran banyak pencari kerja dari seluruh dunia. Selain menawarkan gaji dan tunjangan menggiurkan, mereka juga menawarkan berbagai fasilitas yang memanjakan karyawan, mulai dari ruang video game sampai layanan cukur rambut.
  7. Sektor industri teknologi AS di Silicon Valley, California, biasanya termasuk kalangan yang banyak ingin mendukung capres, melalui sumbangan dana. Namun dalam pilpres kali ini, tak begitu banyak dana digalang Silicon Valley, baik untuk Donald Trump maupun Hillary Clinton.
  8. Permainan Coding terbaru Osmo, adalah mainan yang mengajarkan anak semuda usia lima tahun konsep dasar Coding. Termasuk menggunakan cara logis untuk membuah perintah. Menurut Pendiri Osmo, merasa tidak takut bereksperimen adalah budaya perusahaan perintis di Silcon Valley.
  9. Presiden Jokowi di Amerika Maya, profesional muda di bidang IT yang telah lama berkarier di Silicon Valley, San Fransisco, Amerika Serikat (AS), terjebak dilema ketika dihadapkan pada pilihan akan tetap di negeri orang atau kembali ke Indonesia. Maya yang bernama lengkap Maya Novarini itu tidak pernah merasa yakin kariernya akan berkembang jika memilih pulang ke Indonesia karena belum banyak kebijakan yang mendukung profesional untuk berwirausaha. Maka wajar jika perempuan yang berprofesi sebagai software engineer itu kemudian tampak bersemangat ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) dikabarkan akan menemui masyarakat dan diaspora Indonesia yang menetap di San Fransisco. Maya pun hadir pada Selasa malam sekitar pukul 19.00 waktu setempat, Auditorium Palace of Fine Arts, San Fransisco, karena sangat ingin menanyakan langsung kebijakan apa yang ditawarkan Jokowi kepada para profesional seperti dirinya. Dalam pertemuan yang dihadiri hingga 800 orang Indonesia yang rindu ingin bertemu Presidennya. Maka Maya pun langsung tunjuk tangan ketika Presiden Jokowi membuka sesi tanya jawab dengan masyarakat dan diaspora Indonesia soal apa pun. "Apa kira-kita yang diusung Pemerintahan Jokowi terkait kemudahan atau insentif untuk start up lokal Indonesia?" ucap Maya, seperti dikutip dari Antara . Baginya untuk kembali pulang ke Indonesia, merintis bisnis masih mendatangkan keraguan yang besar. "Untuk kami kembali pulang ke Indonesia merintis bisnis agak bagaimana gitu ya, kalau di Singapura, Brunei, Malaysia pemerintahnya sudah memberikan banyak kemudahan. Kemudian di Chili, di Belanda juga. Bagaimana di Indonesia," katanya. Ia sempat mendengar ada dana Rp12 triliun akan digelontorkan dalam bentuk pinjaman untuk generasi digital maka ia pun mempertanyakannya. Segudang keraguan Maya sejatinya mewakili ratusan ribu diaspora Indonesia di berbagai belahan dunia. "Maya kalau mau pulang, pulang saja," jawab Presiden Jokowi di Auditorium besar itu. Suaranya menggema hingga tepuk tangan hadirin seketika menggema. "Kalau mau jadi entrepreneur, pulang saja nanti perkara di sana pontang-panting itu nanti, yang jelas dengan semua pengalaman yang Maya punyai dari sini akan menjadi nilai tambah yang besar bagi negara kita," kata Presiden. Mantan Gubernur DKI itu bahkan mengaku memiliki target khusus untuk bisa menciptakan 1.000 technopreneur, developer seperti Maya yang bisa menjadi bibit tumbuhnya generasi digital di Tanah Air. Sebab tanpa generasi digital, Indonesia tidak akan mampu mengejar ketertinggalannya dari negara-negara lain di bidang TIK. Presiden mengaku masih banyaknya prasyarat yang harus dipenuhi untuk mencapainya termasuk internet broadband yang belum masuk hingga pedalaman sampai akses pendanaan. Hal-hal yang masih menjadi kekurangan itu menurut dia harus bisa dikejar karena industri ekonomi digital dan ekonomi kreatif memiliki peluang yang sangat besar. Ia membuka kesempatan kepada seluruh generasi muda Indonesia untuk menciptakan karya kreatif termasuk aplikasi-aplikasi baru yang inovatif. "Hal-hal seperti ini yang punya anak-anak muda, anak-anak tua udah enggak punya," katanya. Untuk akses pendanaan, presiden menargetkan suku bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) bisa ditekan sampai 7 persen, tahun ini 9 persen dari sebelumnya 22 persen agar bisa membiayai start up pemula. Roadmap E-Commerce Pada kesempatan itu, Presiden Jokowi meminta Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara untuk menjelaskan insentif yang ditawarkan pemerintah di bidang e-commerce. Rudiantara kemudian mengatakan pemerintah telah menyusun roadmap e-commerce untuk Indonesia. Potensi e-Commerce Indonesia bisa mencapai 130 miliar dolar AS pada 2020 sehingga seluruh kebijakan terkait ekonomi digital harus segera dieksekusi. "Roadmap mencakup isu logistik, pendanaan, broadband mencapai pelosok, hingga SDM dalam konteks digital ekonomi," katanya. Rudiantara menegaskan roadmap tersebut sudah selesai disusun dan akan dilengkapi aturan pendukung dalam bentuk Peraturan Presiden (Perpres). Soal pendanaan, Rudiantara mengatakan KUR akan disiapkan dalam skema khusus agar bisa mendanai start up. "Tapi tidak dalam bentuk KUR yang seperti sekarang yang melibatkan bank tapi dalam bentuk venture capital," katanya. Sementara Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi menekankan ekonomi menjadi salah satu topik besar yang dibahas dalam KTT AS-ASEAN. "Misi dari Presiden adalah bagaimana teknologi dapat diakses oleh UMKM kita. Teknologi harus mendatangkan manfaat bagi semua," katanya. Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly terkait kebijakan property right untuk start up lokal hingga terus mengkaji kebijakan dwikewarganegaraan bagi para diaspora di berbagai belahan dunia. Sejumlah kemudahan yang disiapkan itulah yang mendorong Jokowi meminta Maya untuk kembali ke Indonesia. Demikian juga dengan 'Maya-Maya' lain dimanapun berada di berbagai belahan dunia. Indonesia butuh dara baru untuk membangun generasi digital.
  10. Ditemui di kantor pusat Google, Mountain View. Ben Gomes, VP dan Google Fellow, pimpinan dari seluruh upaya engineering Google di bidang pencarian, mengatakan bahwa ada tiga tahapan yang dihadirkan oleh Google Search: Jawaban, Percakapan dan Ramalan.Maksudnya bagaimana? Tak lengkap ceritanya jika kita juga belum mengenal sosok brilian di balik Google Search, yaitu Ben Gomes itu sendiri.Dari "Kampung Kecil" di IndiaBen Gomes adalah pria dengan latar belakang beragam. Ia lahir di Tanzania, Afrika. Ia dibesarkan di India, tepatnya di Bangalore, tapi pada masa ketika Bangalore belum menjelma sebagai hub teknologi India.Di masa kecilnya, Gomes bercerita, ia tinggal di wilayah yang boleh dibilang minim informasi. Satu-satunya sumber ilmu adalah perpustakaan di wilayah itu, yang hanya memperbolehkan keluarganya meminjam empat buku per minggu.“Itu artinya, dua untuk Ibu saya, dan dua untuk saya,” ujarnya.Hal itu nampaknya sangat menyiksa bagi Gomes kecil. Bocah yang sangat haus pengetahuan ini mendambakan lebih banyak informasi dan ilmu, tapi bukan hanya jatahnya sangat sedikit, judul buku yang diinginkannya pun tak selalu ada.Ia membandingkan masa-masa itu dengan saat ini, ketika seorang pengguna smartphone bisa mengakses puluhan miliar laman web lewat Google. Google Search Sebagai Pemberi JawabanKetertarikan Gomes pada komputer konon dimulai di masa sekolahnya. Di sana Gomes bertemu dengan Krishna Bharat, seorang pemuda yang menggemari komputer. Hubungan keduanya pun menjadi akrab, dengan bumbu-bumbu saling bersaing. "Seorang kawan baik saya di sekolah, kami sering berkompetisi untuk mendapatkan nilai yang lebih baik dan lain-lain, seperti lazimnya anak-anak di India," tutur Gomes.Setelah di India, Gomes dan Bharat sama-sama mengejar gelar doktor di Amerika Serikat. Di saat itu, Bharat lah yang menurut Gomes memberitahunya tentang Google dan keduanya bergabung di perusahaan hampir bersamaan.Tidak seperti sekarang, Google ketika itu masih perusahaan yang relatif muda. Namun menurut Gomes ada hal yang sangat menarik dari bekerja di Google."Pekerjaannya sangat berguna untuk orang-orang, tapi juga dari sisi teknis sangat menantang dan menarik," papar Gomes.Kombinasi itu, ujarnya, menjadikan pekerjaan di Google sesuatu yang sulit sekaligus memuaskan. "(Pekerjaan kami adalah) memahami bahasa dan cara pikiran (manusia) bekerja," ia menambahkan.Search ketika itu adalah kemampuan mencari sebuah kata yang ada di dalam dokumen. Namun Google menawarkan lebih dari itu, Google menawarkan sebuah jawaban.Tidak cukup lagi, ujarnya, untuk menampilkan hasil yang menunjukkan bahwa kata tertentu ada di halaman tertentu. "Kami harus memahami niatan (pengguna), untuk apa ia melakukan pencarian itu," kata Gomes.Google Search Sebagai PercakapanSeperti dipaparkan oleh Ben Gomes, langkah kedua dalam Search adalah memberikan percakapan. Apa maksudnya? Dalam hal ini, Search bisa memberikan konteks pada pencarian yang dilakukan, sehingga pencarian selanjutnya akan merujuk pada konteks tersebut.Hal ini tampak pada pencarian melalui suara. Ben mencontohkan, ia bisa bertanya pada Google: Who is the President of United States? Lalu, setelah ada jawabannya, bisa bertanya: How tall is he? Dalam pertanyaan susulan itu, Ben tak perlu menjelaskan bahwa yang dimaksud He di situ adalah Obama.Bercakap-cakap dengan komputer, beberapa tahun lalu mungkin masih dianggap fiksi ilmiah belaka. Sekarang hal itu bisa dilakukan, bahkan dalam berbagai bahasa dan dialeknya."Saya lahir di Afrika, tumbuh di India, aksen saya campuran, saya tinggal di Amerika. Ada sedikit aksen Inggris dan Amerika. Lima tahun lalu saya harus mengajak orang Amerika Serikat dengan dialek midwest sempurna untuk melakukan demo voice search," ujar Gomes. Google Search Sebagai RamalanBukan ramalan dalam arti 'meramal nasib', namun bahwa layanan pencarian itu bisa mengantisipasi apa yang dibutuhkan oleh penggunanya.Melalui pembelajaran, ia bisa menyediakan informasi yang dibutuhkan pengguna bahkan sebelum pengguna itu memintanya.Hal itu tampak pada Google Now, yang bisa menampilkan informasi sesuai konteks penggunanya. Misalnya, apabila sedang mengunjungi sebuah tempat, ia bisa menampilkan secara otomatis hal-hal yang menarik dari tempat itu."Ada hal-hal yang saya tidak mau menghabiskan waktu untuk melakukan pencarian, seperti berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk mencapai kantor? Hal-hal ini langsung disediakan Google Now," katanya.Tentunya, Gomes mengatakan dari ketiga aspek itu Google terus melakukan perkembangan dan perbaikan. Dalam setahun, ujarnya, ada 1.000-an perubahan pada Google Search."Kami menjalankan 60.000 uji coba, dan hanya 1.000 yang diluncurkan," ujarnya.Selalu menarik untuk melihat bakal dibawa ke mana produk Google yang satu ini, dan bagaimana ia akan berpengaruh pada produk-produk lainnya. Sumber : tekno.compas.com
  11. Para pekerja magang dan pegawai asal Indonesia yang bekerja di berbagai perusahaan teknologi di Silicon Valley, California, AS Silicon Valley adalah sebuah kawasan di selatan San Francisco Bay Area yang merupakan pusat dari ratusan perusahaan teknologi global, termasuk Google, Apple dan Facebook. Sekelompok pemuda Indonesia mengadakan program mentoring untuk membantu para pelajar dan mahasiswa Indonesia magang di Silicon Valley, Amerika Serikat. Silicon Valley adalah sebuah kawasan di sebelah selatan San Francisco Bay Area yang merupakan pusat dari ratusan perusahaan teknologi global, termasuk Google, Apple, dan Facebook. Reinardus Surya Pradhitya (Adhit), 24 tahun, merasakan sendiri betapa sulitnya menembus perusahaan-perusahaan teknologi di Silicon Valley. Karena itu setelah diterima di Facebook pada tahun 2013 sebagai Software Engineer, dia memutuskan untuk berbagi ilmu dan pengalaman. Nino Aquinas (kiri) dan Reinardus Surya Pradhitya (Adhit) penggagas program "Indo2SV" (foto: courtesy). Pada tahun 2014, Adhit dan temannya, Nino Aquinas, yang bekerja di perusahaan teknologi Quora menggagas pendirian Indo2SV. Ini adalah sebuah program yang bertujuan membantu para mahasiswa Indonesia mempersiapkan diri dengan matang agar diterima magang di Silicon Valley. Setiap tahun Indo2SV menyeleksi ratusan pendaftar dan memilih delapan orang peserta. Selama tiga bulan, para peserta di Indonesia dipandu lewat e-mail dan Skype oleh para mentor yang berbasis di California. Pada tahun pertama, hanya ada enam mentor yang terlibat, kini bertambah menjadi delapan mentor. Semuanya adalah warga Indonesia yang bekerja di berbagai perusahaan teknologi di Silicon Valley. Hal-hal yang mereka ajarkan mulai dari cara menulis surat lamaran, programming, sampai wawancara. Adhit mengatakan bahwa pelajaran tersebut sebenarnya tersedia secara luas di internet, namun Indo2SV menawarkan sesuatu yang berbeda. Sekelompok pemuda Indonesia mengadakan program mentoring untuk membantu para pelajar dan mahasiswa Indonesia magang di Silicon Valley, Amerika Serikat. Silicon Valley adalah sebuah kawasan di sebelah selatan San Francisco Bay Area yang merupakan pusat dari ratusan perusahaan teknologi global, termasuk Google, Apple, dan Facebook. Reinardus Surya Pradhitya (Adhit), 24 tahun, merasakan sendiri betapa sulitnya menembus perusahaan-perusahaan teknologi di Silicon Valley. Karena itu setelah diterima di Facebook pada tahun 2013 sebagai Software Engineer, dia memutuskan untuk berbagi ilmu dan pengalaman. Pada tahun 2014, Adhit dan temannya, Nino Aquinas, yang bekerja di perusahaan teknologi Quora menggagas pendirian Indo2SV. Ini adalah sebuah program yang bertujuan membantu para mahasiswa Indonesia mempersiapkan diri dengan matang agar diterima magang di Silicon Valley. Setiap tahun Indo2SV menyeleksi ratusan pendaftar dan memilih delapan orang peserta. Selama tiga bulan, para peserta di Indonesia dipandu lewat e-mail dan Skype oleh para mentor yang berbasis di California. Pada tahun pertama, hanya ada enam mentor yang terlibat, kini bertambah menjadi delapan mentor. Semuanya adalah warga Indonesia yang bekerja di berbagai perusahaan teknologi di Silicon Valley. Hal-hal yang mereka ajarkan mulai dari cara menulis surat lamaran, programming, sampai wawancara. Adhit mengatakan kepada VOA bahwa pelajaran tersebut sebenarnya tersedia secara luas di internet, namun Indo2SV menawarkan sesuatu yang berbeda.
  12. Perkembangan ekosistem #startup teknologi di Indonesia meningkat dengan sangat pesat. Bisa dibilang hampir setiap bulan ada startup lokal yang mendapat pendanaan dari para investor. Bagaimanapun, di saat bersamaan, banyak juga startup teknologi yang gagal di tengah perjalanan mereka karena beberapa alasan seperti tidak memiliki tim yang kuat, tidak mempunyai model bisnis yang jelas, tidak memahami pengguna mereka dan alasan lainnya. Hal inilah yang menggerakkan seorang pengamat startup bernama Anis Uzzaman untuk menulis sebuah buku tentang dunia startup. Anis adalah seorang CEO dan General Partner dari Fenox Venture Capital yang telah meluncurkan sebuah buka berjudul Startupedia : Panduan Membangun Startup Ala Silicon Valley. Anis sudah malang melintang di industri startup teknologi di Amerika Serikat. Selain itu Anis adalah orang yang sudah berinvestasi di banyak startup lebih dari 50 startup di seluruh dunia. Anis juga sudah memiliki pengalaman merasakan asam garam dunia startup Silicon Valley, Amerika Serikat. Dalam buku yang ia luncurkan itu, Anis mencoba berbagi ilmu dan pengalaman yang sudah ia alami selama ia menjadi seorang VC yang tidak hanya bertugas memberikan dana kepada startup teknologi namun mengarahkan mereka untuk membangun startupnya dengan benar. Startupedia adalah buku yang baik buat Anda yang ingin mendirikan startup teknologi. Lalu apa sebenarnya isi dari buku ini? simak baik – baik informasi berikut. 1. Bangun Tim Solid dan Berkualitas Startup teknologi yang sukses sudah tentu harus memiliki sebuah tim yang solid dan tentunya berkualitas. Karena tim merupakan inti utama yang dimiliki startup yang baru dibentuk, dan sangat menentukan apakah startup tersebut bisa sukses atau tidak. Jika Tim yang ada pada startup tersebut tidak kompeten sudah tentu startup itu pasti akan stuck atau kemungkinan terburuknya akan tenggelam. 2. Buat Produk yang Memecahkan Masalah Buatlah sebuah produk yang menarik dan sudah tentu menyelesaikan permasalahan yang ada. Hal tersebut akan menarik banyak konsumen untuk startup teknologi Anda. Dalam bukunya, Anis merekomendasikan sebuah metode untuk membangun sebuah startup, yaitu dengan menggunakan metode “The Lean Startup” dari Eric Ries yang telah terbukti banyak digunakan oleh startup – startup yang telah besar. 3. Memiliki Paten Itu Penting Sebagian besar startup #teknologi yang berada di kawasan Asia Tenggara tidak memiliki paten untuk semua produk yang mereka ciptakan. Hal tersebut tentu sangat bertolak belakang dengan iklim startup yang ada di Silicon Valley. Dengan tidak memiliki paten, sudah tentu akan membuat kompetitor dapat menggunakan ide startup mereka dengan gampangnya. Bahkan dapat dijiplak atau ditiru. Dengan memiliki paten, sebuah startup sudah tentu akan dengan sangat mudah melindungi produk mereka dari para peniru diluar sana yang baru akan terjun. Dengan adanya paten produk yang mereka buat sudah tentu terjamin secara hukum. Jarangnya startup yang memiliki paten di Asia Tenggara disebabkan oleh birokrasi dalam pembuatan paten yang berbelit belit dan membutuhkan waktu lama. Jadi para startup itu enggan memikirkan pembuatan paten. 4. Sistem Pemasaran yang Tepat Salah satu kunci keberhasilan sebuah startup teknologi adalah bagaimana mereka memasarkan produk dari startup mereka. Dengan pemasaran yang tepat, sebuah startup sudah tentu akan mendapatkan sebuah umpan balik dari pengguna secara maksimal. Dari umpan balik tersebut startup Anda dapat melakukan inovasi yang lebih baik lagi untuk memenuhi kebutuhan para pengguna secara maksimal. 5. Mencari Pendanaan Mencari sebuah pendanaan bagi startup teknologi bukanlah perkara mudah. Pasalnya jika startup anda tidak memiliki kriteria yang baik darI segi bisnis sudah tentu pendanaan akan sulit didapat. Dalam buku ini pun dipaparkan bagaimana startup Anda memperoleh pendanaan, bagaimana cara mengelola dana tersebut hingga pendanaan yang diperoleh itu menghasilkan suatu novasi yang dapat diharapkan untuk startup Anda terus melangkah maju. Pendanaan yang didapat bukan hanya sebagai dana operasional, namun dapat digunakan sebagai dana startup anda berekspansi untuk mengembangkan startup Anda. Jadi jangan sampai salah dalam menggunaan pendanaan. Startup di Silicon Valley memiliki kebiasaan dimana mereka akan merencanakan langkah – langkah dengan baik startup mereka mulai dari awal berjalan sampai dengan mereka mendapatkan tujuan mereka. Hal ini sangat bertolak belakang dengan kondisi startup di tanah air.
×
×
  • Membuat baru...

Important Information

Kami menggunakan cookie. Mereka tidak menakutkan, tetapi beberapa orang berpikir mereka. Terms of Use & Kebijakan Privasi