Jump to content
  • Kemerdekaan indonesia 74
  • Kemerdekaan indonesia 74
  • Kemerdekaan indonesia 74

Search the Community

Showing results for tags 'silicon valey'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

There are no results to display.

There are no results to display.

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 7 results

  1. Setiap tahun Silicon Valley menerima ribuan anak magang di berbagai perusahaan teknologi. Menurut Bloomberg, anak magang di Silicon Valley rata-rata digaji $6,800 per bulan. Anak magang seperti apa yang dicari oleh Silicon Valley?
  2. Sebuah organisasi yang didirikan mahasiswa Indonesia berupaya menjembatani Silicon Valley dengan mahasiswa Indonesia, lewat program mentoring "Indo2SV" agar bisa mendapat kesempatan magang di Silicon Valley.
  3. Suasana di kantor inkubator teknologi MuckerLab di Santa Monica, California. Para wirausaha dengan akar imigran menjelaskan arti menjadi bagian dari sebuah 'startup'. Mengelola sebuah perusahaan dengan sebuah mesin treadmill di dalam kantor, di pusat Silicon Valley, bukanlah sesuatu hal yang dibayangkan Monisha Perkash ketika ia dan orangtuanya pindah dari Nepal ke Amerika Serikat. "Ketika saya pertama kali pindah ke sini, saya ditelepon ayah saya, yang tinggal di Texas, dan ia mengatakn, 'Monisha, saya sudah cari di seluruh peta dan saya tidak bisa menemukan Silicon Valley di mana pun," ujar Perkash. Silicon Valley adalah sebuah wilayah di California yang terbentang dari San Francisco ke San Jose, dan bukan saja merupakan lokasi raksasa-raksasa teknologi seperti Google, Apple dan Facebook. Perkash mengatakan karakteristik penting Silicon Valley adalah bahwa tempat itu sebuah budaya yang mewujudkan kewirausahaan. Budaya ini menular, dan menyentuh Perkash ketika ia datang ke Silicon Valley. "Awalnya orangtua saya sangat bingung. Saya telah mulai kuliah pengantar kedokteran dan diterima di fakultas kedokteran, dan ketika saya memutuskan tidak mengambilnya, mereka tidak paham kenapa," ujar Perkash, salah satu pendiri dan CEO Lumo Bodytech. Ia dan dua kawannya ingin membentuk sebuah perusahaan baru (startup) bidang teknologi untuk meningkatkan kehidupan orang-orang. Mereka kemudian mendirikan Lumo Bodytech untuk mengembangkan alat sensor yang dapat dipakai di badan. Salah satu produk mereka, Lumo Run, dapat dipakai di pergelangan tangan pelari untuk melacak pergerakan orang tersebut. Dipasangkan dengan ponsel, alat itu menyedikan pelatihan personal untuk pelari. Sensor lain, Lumo Lift, dipakai di bagian kerah pakaian dan bergetar ketika pemakai membungkuk, sebagai pengingat untuk duduk tegak. Perjalanan Para Pendiri Salah satu pendiri dan COO Lumo Bodytech, Charles Wang mengatakan sensor-sensor itu membantu memperbaiki postur tubuh dan mengurangi risiko cedera dan sakit punggung. "Ada banyak penelitian yang menunjukkan bahwa postur sangat berkaitan dengan sakit punggung, kesehatan punggung," ujar Wang, yang lahir dari orangtua yang berasal dari Taiwan. Ia awalnya mengikuti jalur yang diinginkan banyak orangtua imigran untuk anak-anaknya. Wang adalah seorang dokter dan sempat praktik sebelum memutuskan menjadi wirausaha. Ia mengatakan orangtuanya sangat mendukung. "Saya kira untuk mereka, hal ini adalah, 'Bisakah kamu mencari sesuatu yang sangat kamu pedulikan dan kamu lakukan dengan bersemangat'," ujar Wang. Pendiri ketiga, CTO (kepala divisi teknologi) Andrew Chang, mengatakan bahwa menjadi bagian dari sebuah startup tidak seperti pekerjaan-pekerjaan sebelumnya yang ia kerjakan. "Kecepatan pergerakan pekerjaan ini tidak bisa dibandingkan, kecepatan membuat keputusan, berjalannya bisnis dan lain sebagainya, karena dalam bidang ini sangat kurang birokrasi." Chang menambahkan, "Ada banyak orang di sini yang sangat ingin mengubah dunia. Kita ada di satu titik dimana kita memiliki semua infrastruktur teknis untuk memungkinkan hal itu terjadi, untuk membuat sekelompok orang melakukan perbaikan dramatis yang dapat memantul ke seluruh dunia karena sedemikian terhubungnya kita sekarang ini." Membuat Orangtua Bangga Perkash mengatakan keterhubungan dan karakteristik kolaboratif Silicon Valley telah mendorong budaya startup. Keberhasilan perusahaan telah menjadi sumber kebahagiaan untuk orangtuanya, tambahnya. "Saya ingin membuat mereka bangga, dan saya ingin mereka tahu bahwa dengan memberi kita peluang untuk mengejar keinginan kita, mengejar mimpi kita, telah mendorong saya maju. Jadi dalam banyak hal, saya melakukan apa yang saya lakukan untuk menghormati mereka," ujar Perkash. Kepada siapa pun yang ingin mengikuti jejaknya, Perkash menyarankan agar tidak takut gagal tapi melihatnya sebagai peluang untuk belajar. (www.voaindonesia.com
  4. Google Launchpad Accelerator kembali digelar untuk kedua kalinya. Indonesia masih turut serta dalam kegiatan tersebut, bersama dengan beberapa negara termasuk India dan Brasil. Program pembinaan startup tersebut memberikan fasilitas mentor dan sokongan dana hingga 50.000 dollar AS atau sekitar Rp 666 juta, tanpa keterikatan saham. Tujuan program ini untuk menemukan startup yang bisa berpengaruh besar pada pasar lokal. Nah, kali ini ada enam startup karya anak bangsa yang terpilih untuk unjuk gigi selama dua minggu di markas Google, Silicon Valley, AS. Pertama adalah HijUp yang merupakan platform e-commerce khusus busana perempuan Muslim. Startup ini adalah buatan Diajeng Lestari yang memang memiliki minat besar pada bidang fesyen. Kedua adalah Talenta, yakni layanan software berbasis cloud yang bertujuan membantu bisnis kecil dan menengah untuk mengelola proses Sumber Daya Manusia (SDM). Menyasar pasar enterprise, perusahaan bisa menggunakan software Talenta untuk mengelola kehadiran karyawan, permohonan cuti, pengaturan lembur, hingga pembayaran gaji. Ketiga, Javis Store. Startup ini merupakan platform jasa pembuatan situs web toko online yang instan dan anti ruwet. Prosesnya diklaim cepat, memiliki fitur lengkap, menyediakan beragam template, pembayaran lengkap, dan gratis selamanya. Keempat, ruangguru.com. Berawal dari perhatian pada sektor pendidikan, startup ini didirikan dua sejoli Iman Usman dan Belva Devara. Intinya, startup ini berbentuk situs yang menghubungkan siswa potensial dengan para guru atau pengajar untuk belajar di luar sekolah atau universitas. Kelima adalah IDNtimes.com yang tak lain merupakan media online independen. Konten-kontennya berkisar di dunia generasi muda Indonesia. Keenam, CodaPay. Startup tersebut memungkinkan para merchant menerima pembayaran di Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, serta Singapura, dengan menggunakan saluran pembayaran yang dapat digunakan semua konsumen tanpa harus memiliki kartu kredit atau kartu debit. Enam startup di atas akan bergabung di tahap kedua rangkaian acara Launchpad Accelerator pada 13 Juni 2016 mendatang. Setelah menghabiskan dua minggu di Lembah Silikon, keenam startup bakal menjalani enam bulan mentorship serta akses ke alat bantu dan referensi dari Google. Para peserta juga bakal mendapat 'kredit' produk dan publisitas dari Google. Ini merupakan salah satu langkah untuk merealisasikan misi Google melatih 100.000 pengembang Indonesia hingga 2020 mendatang.
  5. Perusahaan teknologi dunia kini sedang berlomba-lomba menghadirkan inovasi baru, dan salah satunya adalah teknologi mobil otomatis yang dapat menyetir sendiri tanpa dikendalikan oleh manusia. Untuk mencapai terwujudnya hal itu, perusahan otomotif asal Jepang, Toyota dikabarkan telah menggelontorkan dana miliaran Dollar untuk membangun pusat penelitian AI dan teknologi robotik yang ada di Silicon Valley, California, AS. Presiden Toyota, Akio Toyoda Seperti yang dilansir dari BBC Indonesia, Senin (09/11/2015), perusahaan asal negeri Matahari Terbit itu mendirikan R&D di Silicon Valley karena mereka ingin menjadi yang terdepan dengan memimpin teknologi pembuatan mobil yang dapat mengendarai sendiri tanpa dikendalikan manusia. Seperti yang kita ketahui, Jepang sendiri saat ini sedang gencar-gencarnya mengembangkan teknologi robot dengan kecerdasan buatan yang tinggi. Presiden Toyota, Akio Toyoda mengatakan, perusahaannya akan mendirikan dua pusat penelitian. Pusat penelitian pertama akan berada di dekat Universitas Standford. Sedangkan pusat penelitian yang kedua akan didirikan di kota Cambridge, Massachusetts yang akan berdekatan juga dengan kampus Massachusetts Institute of Technology. Perusahaan riset teknologi robotik itu akan mempekerjakan sekiranya 200 orang dan akan mulai beroperasi pada awal tahun 2016 mendatang. Perusahaan juga mengatakan bahwa rencananya mendirikan pusat penelitian ini bukan karena mereka mampu melakukan inovasi, namun karena mereka harus melakukan inovasi. Terlebih pada bidang teknologi otomotif yang menggunakan kecerdasan buatan. Diketahui, langkah Toyota mendirikan pusat penelitian di Silicon Valley ini berkatian dengan perusahaan raksasa asal Silicon Valley, Apple dan Alphabet (Dulu bernama Google) yang kita ketahui selama ini tengah mengembangkan mobil yang bisa mengendarai diri sendiri.
  6. Para raksasa teknologi Silicon Valley memutuskan untuk bersatu demi memerangi pornografi anak. Mereka adalah Facebook, Google, Microsoft, Yahoo, dan Twitter. Lima perusahaan teknologi raksasa tersebut bekerja sama dengan Internet Watch Foundation (IWF), sebuah organisasi asal Inggris yang menerapkan sistem baru untuk membantu mendeteksi dan memblokir gambar anak berbau porno di ranah online. IWF sebagai yayasan sosial telah memperkenalkan teknologi baru yang mampu memberi label atau tag gambar yang memiliki konten kekerasan seksual menggunakan kode dasar yang bekerja seperti sidik jari digital atau hash. Hash tersebut diciptakan dari algoritma. Ada miliaran gambar di internet dan dengan menciptakan sidik jari digital dari satu gambar, ia bakal membantu mengidentifikasi gambar secara spesifik yang bertentangan dengan hash 'jahat'. IWF menyimpan catatan semua hash dan hanya membaginya kepada lima perusahaan teknologi raksasa itu. Saat sistem ini diimplementasikan, semua gambar yang diunggah ke Facebook, Twitter, dan situs web lain yang tersinkronisasi bakal dipindai dan diidentifikasi. Apabila sebuah gambar atau foto sebelumnya telah diberi label oleh IWF, sistem tersebut akan mendeteksi hash-nya dan secara otomatis dilarang untuk diunggah dan dibagikan. IWF memperkirakan, dalam sehari bisa menyingkirkan 500 laman web yang mengandung pornografi anak dan angka tersebut bisa terus meningkat jika gambar berbau porno berhasil terlacak lebih banyak, serta menambah daftar hash 'jahat'. Untuk saat ini, IWF mengakui belum bisa mendeteksi pornografi dalam format video. "Daftar hash IWF bisa menjadi pengubah 'permainan' di dalam perang melawan pornografi anak secara online," ujar CEO IWF, Susie Hargreaves dalam sebuah pernyataan di laman publikasi resmi IWF.
  7. Guest

    Trending Taufik! Silicon Beach

    Trending Topic dari VOA kali ini mengenai Silicon Beach, yg tampaknya bisa menandingi Silicon Valley. Silicon beach adalah lokasi start-up tech di Los Angeles. Ngobas: http://ngobas.com VOA Indonesia. http://www.voaindonesia.com
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy