Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'sekolah'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 25 results

  1. Tema “Jangan Tutup Sekolah Kami” yang diangkat dari kasus yang terjadi di Moro-Moro, Wilayah Register 45, Kabupaten Mesiji, Lampung. Tema ini sepertinya harus lebih menjadi perhatian masyarakat di tengah ramainya pemberitaan politik tanah air. Karena diundang untuk ikut dalam Hangout dalam topik ini, saya pun mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai kasus tersebut hingga akhirnya menemukan sebuah film dokumenter yang diunggah di Youtube. Setelah menyaksikan video lengkap, saya mendapat sedikit gambaran bagaimana kondisi siswa dan guru yang ada disana, serta menjadi tahu apa yang menjadi penyebab, hingga 400 siswa terancam harus kehilangan kesempatan mendapatkan hak belajarnya. Dari gambaran yang saya dapatkan tersebut, muncul pertanyaan dalam hati, tidak adakah koordinasi antara lembaga yang berwenang di Indonesia sehingga harus mengorbankan masa depan anak-anak yang merupakan generasi penerus bangsa? Dari semua referensi yang saya baca dan saya saksikan, berikut informasi yang saya dapatkan sehingga pembaca dapat memiliki gambaran bagaimana kondisi disana. Sekolah yang dibangun atas dasar swadaya masyarakat ini memang berada di Wilayah Register 45, yang merupakan lahan sengketa dan berada dalam kewenangan Kementerian Kehutanan. Alasan tidak dikeluarkannya izin kelas jauh untuk sekolah yang ada disana, karena Pemkab tidak ingin melanggar Undang-Undang No.18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan. Awal berdiri pada tahun 2000, kelas jauh ini menginduk pada SDN 04 Indraloka II, Kecamatan Way Kenanga, Kabupaten Tulang Bawang yang jaraknya 12 KM dari dusun Morodewe (salah satu dusun di Moro-moro) agar mendapatkan legalisasi dari pemerintah. Situasi berubah setelah terjadi pemekaran wilayah pada tahun 2008, yaitu pemecahan Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Tulang Bawang Barat dan Kabupaten Mesuji dari Kabupaten Induk Tulang Bawang, karena secara administrasi, letak wilayah kelas jauh di Moro-moro menjadi terpisah dengan sekolah induknya, sehingga sekolah di Moro-moro harus menginduk pada sekolah yang ada di Kabupaten Mesuji. Dari cerita yang disampaikan di kronologis penutupan sekolah di Morodewe, tergambar susahnya mencari sekolah induk baru untuk sekolah tersebut, hingga akhirnya mereka menemukan SD 2 Boku Poso namun dengan ketentuan kegiatan belajar harus dilaksanakan di Sekolah Induk tersebut, dengan alasan bahwa pelayanan pendidikan kelas jauh sudah tidak diperbolehkan oleh pemerintah. Menurut keterangan Narasumber, penggerak gerakan #savemoro-moro kemarin, jarak dari Moro-moro ke sekolah induk sekitar 10 kilometer, pulang pergi berarti 20 kilometer, artinya harus ada kendaraan yang mengantar mereka untuk pulang pergi sekolah. Dari cerita yang saya rangkum diatas, ada beberapa poin yang ingin saya soroti : Saling Lempar Tanggung Jawab karena alasan kewenangan Masalah pendidikan ini tentu berada dibawah tanggungjawab Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Lampung, namun karena Dinas Pendidikan ini berpegang pada peraturan bahwa kewenangan untuk pemberian rekomendasi izin pendirian sekolah ada di Pemerintah Daerah, maka seolah menyerahkan solusi penyelesaian masalah ini pada pihak Pemkab (Pemerintah Kabupaten) Dilain pihak, Pemkab yang memegang kewenangan untuk pemberian rekomendasi pendirian sekolah merasa tidak dapat mengeluarkan izin karena sekolah-sekolah tersebut berada di wilayah kewenangan kementrian kehutanan. Keputusan ini bisa dimaklumi karena pihak Pemkab mungkin takut bila kebijakannya akan melanggar Undang Undang yang dapat menimbulkan sanksi, tetapi seharusnya dilakukan koordinasi dengan Dinas Kehutanan dan diberikan solusi yang berpihak pada pendidikan anak-anak. Rendahnya Inisiatif Penyelesaian Masalah Bila kelas jauh sudah tidak diperbolehkan oleh pemerintah, maka seharusnya dinas pendidikan beinisiatif mengajak Pemkab dan Dinas Kehutanan untuk berdiskusi mencarikan solusi yang lebih baik dibandingkan dengan memutuskan agar siswa di Moro-moro mengikuti kegiatan belajar di sekolah induk yang jaraknya sangat jauh. Dengan jarak tempuh yang jauh berarti harus ada tambahan biaya yang dikeluarkan untuk ongkos pulang pergi, belum lagi waktu dan energi yang harus terbuang lebih banyak dan tentu bisa berakibat pada kemunduran prestasi siswa. Karena UUD 1945 pasal 31, sudah memberikan jaminan kepada semua warga negara untuk mendapatkan pendidikan, maka seharusnya kasus seperti ini tidak terjadi, karena hal ini berarti pemerintah tidak melaksanakan kewajiban untuk memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak di Moro-moro. Kasus yang terjadi di Moro-moro mungkin hanya satu kasus yang terangkat ke media, dan mungkin masih ada kasus-kasus serupa di pelosok tanah air. Belajar dari kasus ini, sangat diharapkan pihak dinas pendidikan lebih berinisiatif untuk berkoordinasi dengan lembaga-lembaga terkait bila menemukan kasus-kasus serupa, dan mencarikan solusi terbaik yang tidak memberatkan siswa. Semoga masalah pendidikan anak-anak di Moro-moro dapat diselesaikan dengan solusi yang tidak memberatkan siswa sehingga anak-anak bisa kembali ceria dan bersemangat belajar dan menjadi generasi penurus bangsa yang berkualitas.
  2. Bagi mereka yang berbakat seni termasuk seni ukir dan seni rupa sekarang terbuka peluang untuk ikut memoles tampilan special effects di Hollywood. Keahlian seperti ini diperlukan untuk memproduksi film-film blockbuster sarat efek visual, termasuk seri film "Avatar" dan "Avengers".
  3. Apa saja fungsi dan peran yang dijalankan oleh sekolah dalam mencapai tujuannya? Begitu banyak pakar dan pegiat pendidikan yang mencoba menjawab pertanyaan ini. Salah satu yang menarik adalah tulisan John Taylor Gatto, “Against School”. John Gatto adalah seorang mantan guru teladan yang telah mengajar selama 30 tahun lalu menjadi aktivis pendidikan. Ia telah mengeluarkan banyak buku dan tulisan berisi kritik terhadap model persekolahan formal seperti yang pada umumnya kita lihat dan alami sekarang. Dalam “Against School”, John Gatto tidak menuliskan pendapatnya sendiri tentang fungsi sekolah, namun ia “mengutip” tulisan Alexander Inglis. John Gatto menuliskan bahwa Alexander Inglis, salah satu bapak pendidikan modern, tanpa malu-malu menyebutkan enam fungsi persekolahan modern dalam bukunya “The Principles of Secondary Education” yang terbit pada tahun 1918. Enam fungsi tersebut adalah: Adjustive atau adaptive function. Sekolah bertujuan menanamkan reaksi yang tetap terhadap otoritas. Tujuannya adalah menghilangkan pemikiran kritis seutuhnya. Fungsi ini juga menegasikan konsep bahwa sekolah perlu mengajarkan materi yang menarik, karena kita tidak akan bisa menguji kepatuhan reaktif kecuali kita membuat anak mau belajar dan melakukan hal-hal yang bodoh dan membosankan. Integrating function. Bisa juga disebut sebagai conformity function karena tujuannya adalah membuat setiap anak menjadi mirip dan serupa satu sama lain. Orang-orang yang patuh menjadi mudah ditebak, dan oleh karenanya akan bermanfaat bagi pihak-pihak yang ingin memanfaatkan mereka untuk menjadi tenaga kerja massal. Diagnostic and directive function. Sekolah dimaksudkan untuk menentukan peran sosial yang pantas bagi setiap siswa. Hal ini dilakukan dengan memasukkan “bukti-bukti” matematik pada catatan kumulatif. Catatan ini menempel secara permanen pada setiap individu. Differentiating function. Sesudah setiap peran sosial mereka ditentukan, anak-anak kemudian dipilah berdasarkan peranan itu serta dilatih hanya sebatas untuk memenuhi tujuan yang telah ditentukan oleh sekolah itu dan tidak lebih dari itu. Tidak ada usaha untuk membuat siswa menjadi dirinya yang terbaik. Selective function. Fungsi ini bukan menggambarkan kewenangan pilihan oleh siswa, namun menggambarkan teori seleksi alami Darwin yang di[salah]gunakan untuk memilih “ras favorit”. Singkatnya, fungsi ini bertujuan meningkatkan mutu “kawanan ternak”. Sekolah digunakan untuk menandai mereka yang dianggap tidak layak – dengan nilai rendah, pengulangan kelas, dan hukuman-hukuman lain – secara sangat kentara sehingga para sesamanya akan menganggap mereka inferior dan menyingkirkan mereka dari pergaulan sosial dan “undian reproduktif”. Itulah tujuan dari segala tindakan yang mempermalukan siswa sejak kelas awal: agar mereka terbuang ke selokan. Propaedeutic function. Sistem sosial yang diimplikasikan oleh berbagai fungsi ini membutuhkan pasukan elit yang akan menjaga kelanggengan sistemnya. Oleh karenanya, sebagian kecil dari anak-anak di sekolah akan dilatih diam-diam untuk memastikan keberlanjutian proyek ini, bagaimana mengawasi dan mengendalikan populasi yang sengaja dibuat bodoh dan tidak berdaya agar pemerintah dapat berjalan tanpa tantangan dan perusahaan selalu mendapatkan persediaan tenaga kerja yang patuh. Wow! Keras sekali penjelasan dari Alexander Inglis seperti dikutip John Gatto ini. Namun apakah benar sekeras dan sevulgar itu Inglis menulis? Bila buku Inglis, Principles of Secondary Education, dibaca kembali maka sebenarnya ditemukan penjelasan yang berbeda dari yang dikutip Gatto. Alexander Inglis menulis bahwa fungsi-fungsi sekolah adalah: Adjustive atau adaptive function. Sekolah perlu menyediakan sarana agar siswa mampu melakukan adaptasi dan re-adaptasi dengan lingkungannya yang dinamis dan terus berubah dengan cepat. Namun di sisi lain sekolah juga perlu mengembangkan prinsip-prinsip tertentu diri siswa yang teguh dan tidak terombang-ambing dengan perubahan yang cepat. Integrating function. Masyarakat juga memiliki tuntutan kepada sekolah untuk menyiapkan siswa-siswa yang mampu berintegrasi ke dalam masyarakat dalam arti memiliki visi dan tujuan yang sejalan. Perkembangan kehidupan yang semakin heterogen membutuhkan benang merah penghubung berupa nilai-nilai, pengetahuan dan tindakan yang diterima secara umum [misal di Indonesia: Pancasila]. Differentiating function. Inglis menekankan bahwa integrating functiontidak boleh dilihat terpisah dan tidak berkorelasi dengan differentiating function. Dua fungsi ini bersifat suplementer satu terhadap yang lain. Saatintegrating function berfungsi mengembangkan sebagian kecil sifat homogenitas dari populasi yang heterogen untuk memastikan solidaritas sosial, maka differentiating function berfungsi menangkap, mengembangkan dan memanfaatkan perbedaan-perbedaan individual untuk tujuan kemajuan sosial. Siswa di sekolah memiliki perbedaan yang sangat beragam dalam kemampuan, minat dan sikap alami. Kegagalan menyadari fakta adanya perbedaan ini akan menimbulkan kegagalan mengembangkan kemajuan sosial semaksimal mungkin. Kebutuhan dunia sosial dan industri modern yang juga semakin beragam membutuhkan individu-individu yang tidak seragam. Kesemuanya ini tidak mungkin disediakan oleh satu model pendidikan yang seragam. Aktivitas-aktivitas kehidupan yang beragam membutuhkan model-model pendidikan yang beragam. Propaedeutic function. Fungsi ini menjelaskan bahwa persiapan menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi tidak selayaknya dianggap sebagai tujuan yang terpisah dari persekolahan. [Ingat di jaman Inglis menulis di awal tahun 1900-an ini, sangat sedikit siswa yang meneruskan ke pendidikan tinggi, sehingga banyak sekolah saat itu yang mengabaikan sama sekali persiapan bagi siswa yang ingin melanjutkan ke pendidikan tinggi.] Inglis menulis perlu ada keseimbangan dalam pendidikan menengah untuk menyiapkan siswa yang ingin melanjutkan ke pendidikan tinggi dan yang ingin langsung bekerja sesudah pendidikan menengah. Melebih-lebihkan atau, sebaliknya, mengabaikan salah satunya tidak akan membawa manfaat. Selective function. Fungsi seleksi muncul akibat adanya perbedaan individu yang menjadi faktor yang semakin penting saat siswa menapaki jenjang pendidikan. Perbedaan individu ini tidak memungkinkan ada satu model pendidikan yang fits for all, sehingga perlu ada fungsi seleksi untuk mengarahkan siswa ke model-model pendidikan yang berbeda [walau dengan keterbatasannya masing-masing pula]. Ada dua paradigma seleksi, yang pertama adalah mengeliminasi individu-individu yang tidak memenuhi satu set tuntutan standar tertentu yang seragam. Inglis menyatakan teori yang mendukung paradigma ini perlu dimodifikasi secara sangat signifikan [artinya: teori itu meragukan]. Paradigma ke-2 yang kontras terhadap paradigma pertama adalah seleksi berdasarkan diferensiasi.Ada dua pertimbangan yang menjadi justifikasi paradigma ini: 1. Setiap individu sangat berbeda dalam kapasitas, minat dan sikap. Perbedaan-perbedaan dalam kapasitas, minat dan sikap itu tidak bisa dinilai secara kumulatif menjadi satu penilaian karakter total, namun tetap harus dilihat sebagai bagian-bagian sifat diri yang terpisah dan berbeda namun saling terhubung dan berkaitan; 2. Tidak ada satu subjek atau kelompok yang dapat menyatakan dirinya eksklusif dan patut mendapat perhatian utama dalam persekolahan. Setiap subjek atau kelompok memiliki kedudukan setara. Artinya, seorang siswa yang lemah dalam satu kemampuan atau minat tertentu, namun memiliki kemampuan dan minat di bidang lain, maka siswa itu perlu mendapatkankan pendidikan dalam area di mana ia memiliki minat dan kemampuan. Ia tidak boleh dilucuti hak dan kesempatannya untuk mendapatkan pendidikan yang ia butuhkan hanya karena ia tidak memiliki minat dan kemampuan dalam subjek-subjek tertentu yang lebih disukai secara resmi oleh penguasa. Diagnostic and directive function. Demi mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan individu dan demi mencapai kemajuan bersama, maka setiap individu sebisa mungkin difasilitasi untuk melakukan hal-hal terbaik dan positif yang menjadi kekuatannya. Untuk menemukan apa yang bisa dilakukan dengan sangat baik dan dengan bahagia oleh setiap siswa maka siswa perlu dipaparkan pada sebanyak-banyaknya pengalaman yang berbeda. Maka sistem persekolahan yang dibangun perlu sebisa mungkin menyediakan ragam materi dan kegiatan yang memberikan kesempatan pada siswa untuk mencoba dan menjelajahi minat dan kemampuannya, serta membantu memberikan arah dan bimbingan. Selain arah dan bimbingan secara umum, perlu juga disediakan arah dan bimbingan dalam aspek-aspek yang lebih sempit, yaitu bimbingan moral, bimbingan sosial, bimbingan fisik dan bimbingan vokasional. Sesudah membaca dengan lengkap tulisan Alexander Inglis, maka muncul pertanyaan apakah John Gatto membaca tulisan yang berbeda? Apakah ia salah membuat interpretasi? Ataukah ia sengaja membuat peringatan bagi pembacanya bahwa fungsi-fungsi sekolah sebagaimana disusun oleh Inglis dapat dengan mudah terbelokkan seperti yang ia lihat pada banyak sekolah saat ini? Yang jelas, dengan membaca kedua ini maka para pegiat pendidikan akan mendapatkan pengingat tentang bagaimana fungsi persekolahan yang ideal dan sebisa mungkin diwujudkan seperti yang ditulis Alexander Inglis, serta bagaimana fungsi persekolahan yang seharusnya dihindari seperti yang ditulis oleh John Gatto.
  4. Zaman sekarang, anak sekolah memiliki jadwal yang padat. Mereka bisa belajar dari pagi hingga sore, belum lagi ditambah les. Begitu juga karyawan yang kerjanya kira-kira 8 jam sehari. Dengan seabrek aktivitas ini, kita jadi mudah ngantuk lho. Tak jarang yang ketiduran di sekolah maupun di kantor. Gimana ya cara mengatasinya? Rutinitas lari pagi setiap Jumat yang dilakukan siswa Labschool membuat teman kita dari kelas akselerasi SMP Labschool Kebayoran, Zidan Hidayat, bertanya-tanya. Ada nggak ya hubungan olahraga pagi dengan konsentrasi belajar? Ia mempresentasikan pembelajaran berbasis masalah berjudul “Pengaruh Olah Raga Pagi terhadap Kebugaran dan Konsentrasi Belajar Siswa serta Karyawan”, pada Jumat (11/03) kemarin. Dari survei online dan offline yang ia sebar ke 117 responden dari berbagai usia, mayoritas setuju bahwa olahraga pagi bisa menyehatkan. Mayoritas responden berolahraga dua kali seminggu dan melakukannya sebelum sarapan. Dengan berolahraga kita bisa mencegah pikun, menyehatkan jantung, dan membakar lemak. Ternyata, hasil survey juga membuktikan bahwa 53% responden tidak merasa ngantuk saat beraktivitas kalau paginya olahraga, lho! Jadi, teman-teman jangan malas bangun pagi untuk olah raga, ya. Selain badan sehat, di sekolah jadi nggak ngantuk dan bisa konsentrasi belajar.
  5. Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) telah mengusulkan ke Dinas Pendidikan DKI Jakarta agar jam masuk anak sekolah diubah, yang awalnya masuk pada pukul 07.30 WIB agar menjadi pukul 09.00 WIB. Menurut Ahok, usulan tersebut bukan tanpa alasan. Ahok melihat, jam masuk anak-anak sekolah tersebut juga menjadi salah satu penyebab kemacetan di Jakarta. Lantaran, banyaknya orang tua yang mengantar anaknya ke sekolah dengan menggunakan kendaraan pribadi. "Ini ada kajian seperti itu, biar ngurangin macet, cuma kadang-kadang jam 9 lebih macet. Kalau kita analisa, ketika sekolah libur, Jakarta itu agak lenggang, karena banyak yang antar-antar anak sekolah itu yang bikin macet," ujar Ahok di Balai Kota, Jakarta, Rabu (26/3). Untuk itu, Ahok menjelaskan Disdik DKI harus membuat rayonisasi terlebih dahulu apabila ingin merubah jam masuk sekolah tersebut. Ahok menceritakan pengalaman berat anaknya yang harus mengejar waktu lantaran masuk sekolah pada pukul 07.30 WIB. "Wong anak saya saja sekolah ke Tangerang Selatan. Pagi-pagi jam 06.15 WIB sudah harus jalan, pagi-pagi jam 05.40 WIB paling telat harus bangun, kadang-kadang enggak mandi itu anak. Semua jadi tekanan pagi-pagi itu," pungkas dia.
  6. Sekitar empat tahun yang lalu saya mengadakan seminar di sebuah sekolah ternama, dan hasilnya amat sangat mengguncang sekolah tersebut, karna setelah itu banyak guru dan kepala sekolah yang datang kepada saya mengatakan bahwa, apa yang saya sampaikan tidak pantas disampaikan kepada murid yang datang pada saat itu, karna saya lebih pro ke murid daripada ke sekolah tersebut. Tapi saya akan mengatakan lagi hal ini ke anda supaya anda dapat mendengarkan apa yang saya sampaikan pada saat itu walaupun dalam waktu yang singkat karna hanya dalam bentuk suara rekaman suara saya. Pertama, saya ingin mengatakan dulu bahwa sekolah itu, “penting”. Ok? Jadi, bukan mengatakan bahwa anda tidak harus sekolah, jangan sampe ke sana larinya. Tapi saya ingin mengatakan bahwa, walaupun sekolah itu penting,, namun banyak hal yang salah di dalam sekolah; terutama, di Indonesia. Mengapa? Begini saja... Anda pasti tau bahwa banyak sekali anak2 yang jelek nilai sekolahnya atau tidak baik di sekolahnya, tapi besarnya bisa sukses. Sedangkan anak2 yang sukses di sekolah, saya tidak mengatakan bahwa mereka tidak bisa sukses, tapi banyak sekali yang akhirnya kerja, menjadi pegawai biasa. Kenapa hal itu bisa terjadi? Karna masa depan tidak ditentukan oleh sekolah. Kalo anda liat dari, apa sih yang ingin dibentuk oleh sekolah? Menurut saya hanya satu, sekolah ingin membentuk anak2nya menjadi guru. Jadi, guru matematika, ingin membuat anak2nya menjadi guru matematika. Guru sejarah ingin membuat anak2nya yang belajar, menjadi guru sejarah. Begitu juga dengan guru2 lainnya. Anehnya, kalo kita ambil seorang guru, ambil saja, aroundtheworldlineat guru matematika. Lalu, kita beri test tentang geografi, saya berani yakin bahwa dia tidak menguasai geografi. Atau guru kimia, kita test seni rupa, saya yakin guru kimia tersebut tidak bisa melakukan test seni rupa, atau nilainya jelek.. Atau guru seni rupa, kita test olahraga, pasti dia juga tidak bisa olahraga dengan nilai baik. Lalu mengapa, kalau guru2 tersebut tidak bisa melakukan hal lain dengan nilai baik, tapi murid2nya dipaksakan mendapatkan semua nilainya baik. Aneh kan??? Kalau gurunya saja hanya menguasai satu mata pelajaran, mengapa semua murid harus menguasai semua mata pelajaran. Ya, mungkin untuk dasar, katanya. Tapi, toh ternyata ketika sudah dewasa sang guru pun sadar bahwa dia tidak menggunakan atau tidak memerlukan semua ilmu/pelajaran yang diberikan pada saat dia kecil. Iya tidak??? Karna, pada dasarnya tidak ada manusia yang bisa sempurna dalam segala hal, begitu juga murid2. Murid2 tidak bisa menguasai semua hal secara baik. Banyak sekali pelajaran2 yang diberikan dan tidak digunakan ketika dewasa. Contohnya begini saja, mempelajari peta buta. Saya sampai sekarang tidak tau kenapa saya harus mempelajari peta buta ketika saya kecil. Saya tidak menjadi ahli geografi, saya juga tidak menjadi tour guide, saya tidak menjadi itu. Lalu buat apa saya dulu mempelajari itu? Kalo saya ingin menjadi seorang tour guide atau saya ingin menjadi seorang ahli geografi, mungkin saya harus mempelajari hal tersebut. Atau, menghafalkan nama2 gubernur, menghafalkan nama2 walikota, yang sedangkan walikota atau gubernur berganti setiap berapa tahun sekali. Jadi, sangat amat tidak masuk akal, menurut saya. Saya tidak tahu sekarang masih atau tidak harus menghafal nama2 tersebut. Dulu saat saya masih sekolah, di SMP atau SMA saya lupa, guru akuntan saya mengatakan pada saya, karna nilai akuntan saya jelek. “Kalau nilai akuntansi kamu jelek, Ded, kamu tidak akan bisa menjadi orang sukses.” O ya? Ternyata saya bisa sukses dan saya bisa membayar akuntan yang bekerja pada saya. Itu adalah fakta.. Sekarang, begini sajalah, apa sih yang harus dirubah? Sekolahnya? Mungkin sistemnya. Mengapa tidak sejak kecil ketika anak masih dari sekolah SD, kita lihat dulu berapa lama, apa yang dia suka. Lalu kita bagi kelasnya. Aroundtheworldlineat Kalau anak tersebut suka matematika, berikan pelajaran matematika lebih banyak, kalau anak tersebut suka sejarah, berikan dia pelajaran sejarah lebih banyak. Jadi seperti orang kuliah tapi sejak kecil. Jadi sejak kecil anak itu sudah dijuruskan kepada apa yang dia suka, bukan dijejalkan dengan semua pelajaran yang dia suka atau tidak suka, harus bisa dan harus hafal. Ada anak dengan rengking satu yang bisa menghafalkan semuanya, tapi begitu dia menjadi dewasa, pikirannya telah terkotaki, kreativitasnya telah buntu, otak kanannya tidak akan jalan. Kenapa? Karna yang dipakai hanya otak kiri, menghafal, menghafal, menghafal, menghafal, menghafal. Akhirnya, bukan pintar, bukan cerdik, tapi jago menghafal. Menghafal rumus matematika, menghafal sejarah, menghafal peta buta, dan sebagainya.Dan biasanya anak2 tersebut pelajaran olahraganya atau pelajaran seni rupanya jelek karna otak kanannya tidak dipakai. Anak saya sekolah di sekolah internasional, dan sejak kecil, sejak SD, anak saya sudah diarahkan ke pelajaran mana yang dia lebih suka dan kelasnya lebih banyak. Jadi, kelasnya banyak dan anaknya sendiri yang datang ke kelas bukan gurunya yang datang ke kelas untuk mengajar anaknya. Lalu bagaimana merubah itu semua??? Memang susah karna sekolah pasti tidak akan ingin merubah. Butuh tahunan untuk merubah itu. Saya harap satu saat bisa. Tapi sebelum itu bisa, apabila yang mendengarkan suara saya ini orangtua, dengarkan ini baik2. Apabila yang mendengarkan suara saya ini adalah anak2, minta orangtua anda untuk mendengarkan suara saya, sebentar saja. Kalau seandainya orangtua mendukung apa yang paling anak sukai dalam mata pelajaran, mungkin dia akan menjadi anak yang lebih berhasil nanti kedepanya. Bagaimana caranya? Begini, pelajaran matematika merah, pelajaran seni rupa bagus, kenapa yang harus di lesi di rumah pelajaran matematika? Kenapa memanggil guru matematika untuk memberi les tambahan matematika? Tidak perlu kan? Kenapa tidak dilesi sesuatu yang memang anak itu suka! Kalau anak saya pelajaran matematikanya jelek dan pelajaran seni rupanya bagus, saya tentu akan meleskan anak saya seni rupa, supaya bakatnya sudah mulai dikembangkan sejak kecil.Bukan memaksakan hal yang memang mereka tidak suka. Kalau seni rupanya jelek, sejarahnya bagus, biarkan pelajaran seni rupanya jelek, pelajaran sejarahnya dibantu orangtuanya di rumah untuk lebih dikembangkan. Memang ada pelajaran2 yang kalau nilai anda jelek maka anda tidak lulus ujian atau tidak naik kelas. Ya, kalo pelajaran2 seperti itu dibantu supaya mendapatkan nilai secukupnya, cukup untuk lulus & naik kelas tentunya. Tidak perlu sembilan, tidak perlu sepuluh. ingat! nilai pelajaran anda tidak menentukan masa depan anda, nilai UAS anda tidak menentukan masa depan anda, anda rengking satu di kelas bukan berarti anda akan berhasil menjadi manusia kelak ketika anda dewasa, sama sekali tidak berhubungan menurut saya. Kuncinya adalah orangtua di sini. Orangtua harus mendukung apa yang anak suka. Kalau ada pelajaran yang jelek, pelajaran yang baik, dukung pelajaran yang baik... Jangan memaksakan terhadap anak dari yang asalnya pelajarannya jelek menjadi bagus, nilainya sembilan atau sepuluh, tidak penting! Ada lho, anak yang sampai bunuh diri karna dia tidak naik kelas, justru itu yang hancur masa depannya. Saya, pernah tidak naik kelas. Masalah? Tidak sama sekali. Orangtua saya marah? Tidak sama sekali pada saat itu. Kebetulan orangtua saya berpikiran luar biasa dan moderat, dan tidak semua orangtua bisa seperti itu. Tapi itulah yang saya harapkan dari para orangtua di Indonesia. Memberikan dukungan pada anak2nya, tidak memarahi anak pada saat nilai anaknya jelek, tidak menghakimi pada saat tidak semua pelajaran nilai sang anak mendapatkan yang terbaik. Kita harus mengerti dan mendukung apa yang anak itu suka. Ingat sekali lagi bahwa,
  7. Indeks Standar Polutan (PSI), yang mengkur polusi udara di Singapura selama tiga jam sekali ukur, mencapai 341 Jumat pagi, tingkat paling tinggi tahun ini. Seorang pekerja memakai masker di tengah kabut asap yang menyelimuti Singapura (10/9) Singapura menutup sekolah-sekolah hari Jumat (25/9) dan membagikan masker anti-polusi secara gratis kepada manula dan warga yang rentan di tengah tebalnya kabut asap yang menyelimuti negara pulau itu dengan polusi yang mencapai tingkat paling buruk tahun ini. Kabut asap yang berwarna kelabu itu mirip dengan awan yang menutupi sinar matahari dan menyebabkan suhu turun dan melenyapkan pemandangan horizon dan bahkan menyusup ke dalam rumah-rumah. Ini masalah tahunan bagi kawasan itu, akibat pembakaran hutan di negara tetangga Indonesia untuk merambah lahan untuk pertanian dan perkebunan. Usaha berkali-kali untuk menindak perusahaan-perusahaan yang melakukan pelanggaran tidak membantu. Sementara itu, penduduk di Singapura, Malaysia dan Indonesia menderita akibat asap itu, menghadapi bahaya kesehatan yang gawat, terutama bagi kaum lanjut usia, anak-anak dan orang yang menderita gangguan pernafasan. Indeks Standar Polutan (PSI), yang mengkur polusi udara di Singapura selama tiga jam sekali ukur, mencapai 341 Jumat pagi, tingkat paling tinggi tahun ini, kemudian turun ke bawah 300, angka yang berbahaya. Pemerintah Singapura memerintahkan semua sekolah dasar dan sekolah menengah ditutup. Masker gratis dibagi-bagikan di pusat-pusat masyarakat di seluruh pulau itu bagi kelompok yang rawan dari pukul 10 pagi hingga 10 malam. Relawan juga diperkirakan akan pergi dari rumah-ke-rumah untuk memberi masker bagi orang yang tidak dapat datang ke pusat-pusat masyarakat.
  8. Menyekolahkan anak di sekolah dengan program imersi bahasa bukan hanya trendi di Indonesia maupun negara-negara Asia, tapi juga di Amerika Serikat. Di California ada 48 sekolah mulai dari tingkat dasar hingga menengah atas, menawarkan kurikulum dwi bahkan multibahasa....
  9. Sekolah anak pemulung di Bantar Gebang, Bekasi. Kusut masai berserakan di rumah panggung reot itu. Gadis bernama Indah bersama bapaknya Wahab tinggal berdua di sana. Selepas bersekolah, Indah ikut mengais sampah di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. Meskipun anak pemulung, gadis berjilbab itu tetap bersemangat melanjutkan pendidikan koki untuk menggapai impian sebagai juru masak handal. Namanya memang tak sesingkat perjalanan hidupnya yang penuh liku. Semenjak ditinggal ibunya pergi pada umur dua tahun, lingkungan telah menempa hidupnya. Dia misalnya, pernah bekerja di warung-warung makan sejak kecil di sekitaran kawasan TPST. Gadis 14 tahun itu terbiasa memasak buat bapaknya. Semenjak umur sembilan tahun sudah bisa memasak segala macam jenis sayur maupun lauk-pauk. "Dari umur 7 tahun, sudah kerja di warung dari pelayan, ikut masak, sampai sekarang akhirnya suka masak dan bisa masak apa aja, hobi, sama cita-cita aku nanti jadi koki," ujar Indah kepada merdeka.com di kediamannya, Desa Ciketing Udik, Bantar Gebang, Bekasi pekan lalu. Seseorang media sempat datang ke 'gubuknya' dan mencicipi masakan Indah. Di usia 14 tahun, Indah bisa memasak seenak itu menjadi isyarat bakatnya yang luar biasa. Di dapur yang berjarak beberapa depa dengan kasur tempat tidur itulah setiap hari dia memasakkan bapaknya. Di ruang itu ada perabot lain, salah satunya televisi yang gambarnya sudah buram. Dari usia, sebenarnya Indah sudah telat dua tahun untuk bersekolah. Namun semangatnya itu tidak pernah redup. Meskipun, pekerjaan merawat bapaknya yang sudah sakit-sakitan juga dilakoni dara ayu itu. "Dulu sempat sekolah di SD Negeri, tapi pas bapak kecelakaan saat memulung, saya bantu bapak ikut mulung juga. Sempat enggak sekolah dua tahun, kelas tiga masuk SD Dinamika Indonesia, ngelanjutin," ujarnya polos. Sejak subuh, Indah sudah harus bangun. Sebelum berangkat sekolah kewajiban pertamanya yaitu memasak untuk dirinya sendiri dan bapaknya. Setelah selesai, dia berangkat ke sekolah yang berjarak hampir 800 meter dari 'gubuknya'. Jika tak ada tambahan kegiatan di sekolah, dia lalu pulang dari siang sampai sore hari ikut memulung sampah. "Nah, habis pulang sampai sore biasanya mulung, sambil bawa gerinjang (tas sampah), sama teman-teman juga banyak kok," ujarnya. Menurut dia, selain memulung sampah, dia biasa berinteraksi bersama bocah sebayanya. Setiap bulan, dari hasil memulung, Indah bisa mengantongi uang hingga Rp 250 ribu. Apalagi, bos pengepul sampah sudah menganggap seperti anak sendiri. Setiap kebutuhan hidupnya bisa ditanggung, misalnya meminta beras lebih dahulu. "Indah bisa ambil beras dulu, nanti dipotong pas dapat duitnya," ujarnya. Dia mengakui kalau selama ini masalah absensi menjadi yang utama. Dalam seminggu Indah bisa izin tak masuk sekolah sebab kelelahan memulung sampah. Namun sekolahnya lebih leluasa buat murid-muridnya. Terpenting mau bersekolah sudah lebih dari cukup. "Minggu kemarin, pas tujuh belas Agustus indah enggak masuk dua hari," katanya. Di tempat sama, Wahab mengaku sering melarang putrinya untuk pergi memulung. Namun, apa daya keinginan Indah untuk mencari uang untuk membantu keluarga lebih kuat. "Sudah sering saya larang tapi anaknya ngotot," ujarnya meninggi. Dia mengakui kalau anaknya selama ini memasak sehari-hari. "Dia sejak kecil sering ikut berjualan warung makanan, makannya jadi jago masak," ujarnya. Walau terlahir sebagai anak pemulung, Indah masih mengejar cita-citanya. Dia sudah memikirkan masa depannya untuk menjadi lebih baik. Menjadi koki handal merupakan angan-angannya nanti. Dan mengenyam bangku sekolah merupakan langkah awal menuju cita-citanya itu.
  10. PT Transportasi Jakarta akhirnya menerapkan peraturan kepada siswa pemegang Kartu Jakarta Pintar (KJP). Siswa tersebut dapat naik Transjakarta secara gratis mulai hari ini. Direktur Utama PT Transjakarta Antonius NS Kosasih mengatakan, seluruh koridor Transjakarta sudah menerapkan hal ini. "Sudah dipasang pengumumannya, dan sudah berlaku mulai hari ini," ujarnya, Senin (24/8/2015). Dalam pengumuman yang ditempel di setiap halte di setiap koridor, berisi pesan ketentuan-ketentuan pemegang KJP untuk gratis. Pemilik KJP harus mengenakan seragam sekolah dan memiliki Kartu Pelajar atau surat keterangan siswa dari sekolah. Waktu layanan gratis yaitu hari Senin sampai Sabtu. Terhitung sejak pukul 05.00 sampai 07.00 WIB, dan sejak pukul 12.00 sampai 18.00 WIB. "Ketentuan di atas tidak berlaku pada pendamping atau orang selain pemilik KJP. Pendamping diwajibkan membeli tiket Transjakarta," ucap Kosasih.
  11. Anak-anak di Bihar, India, makan siang gratis di sekolah Harus dipastikan berat tas tidak 10 persen lebih berat dari tubuh anak India mengeluarkan aturan baru yang meringankan anak-anak sekolah di negara tersebut. Para siswa dilarang membawa tas dengan isi yang memberatkan tubuh mereka. Pemerintah wilayah Maharashtra, di India bagian Barat, telah mengeluarkan aturan baru itu. Menurut mereka, tas berat yang dibawa para siswa akan menimbulkan efek kesehatan yang buruk pada siswa itu sendiri, terutama kondisi fisik mereka. Orang tua siswa pun diwajibkan untuk memantau berat tas sekolah anak mereka. Para orang tua harus memastikan jika tas sekolah anak mereka memiliki berat yang cukup untuk ditanggung berat tubuh sang anak. Bahkan di sekolah, anak-anak berusia di atas lima tahun, yang berada di kelas satu, diwajibkan meletakkan tas mereka ke atas timbangan untuk diukur beratnya, sebelum diizinkan masuk ke kelas. Para guru juga harus memastikan jika berat tas sekolah siswa mereka tidak lebih dari 2,5 kilogram. Siswa di kelas dua SMP, yang biasanya telah berumur 12 tahun, diharuskan membawa tas tidak lebih dari berat 4,2 kilogram. "Aturan baru ini mengharuskan tas sekolah yang dibawa anak-anak itu tidak boleh lebih berat 10 persen dari berat tubuh mereka. Sampai saat ini kami masih menemukan adanya siswa yang membawa tas dengan berat 20 sampai 30 persen dari berat mereka sendiri," ujar sekretaris departemen pendidikan India, Nand Kumar, seperti dikutip dari ABS-CBN News, Minggu 26 Juli 2015. Pemerintah beranggapan, beban yang berat dari tas yang dibawa para siswa bisa membahayakan kesehatan mereka, terutama pada tulang dan sendi. Belum lagi adanya stres dan kelelahan karena pelajaran yang berlebihan. "Ini akan berakibat buruk pada siswa di kemudian hari," kata dia. Siswa-siswa sekolah membawa tas berisi penuh dan berat telah menjadi pemandangan sehari-hari di India. Hal ini dipicu oleh semakin ketatnya persaingan untuk memperebutkan pendidikan dan karir yang baik di negara tersebut. Bahkan anak-anak itu kerap dipaksa untuk memberikan hasil dan nilai sekolah yang tinggi. Ini mengakibatkan para orang tua harus memberikan pelajaran tambahan kepada anak-anak mereka, bahkan sampai malam hari. Materi pelajaran dari pagi sampai malam pun disematkan semua di dalam tas anak sehingga terasa sangat berat. Selain buku pelajaran dan buku catatan, ada juga beberapa siswa yang memasukkan barang tidak berguna ke dalam tas, seperti kosmetik. Pemerintah India juga meminta para guru untuk memberikan pekerjaan rumah (PR) dan juga jadwal pelajaran sehingga para murid tidak harus membawa semua buku tiap hari.
  12. Apakah anda tahu : 1. Anak-anak Jepang membersihkan sekolah mereka setiap hari selama seperempat jam dengan para guru , yang menyebabkan munculnya generasi Jepang yang sederhana dan suka pada kebersihan. 2. Setiap warga negara Jepang yang memiliki anjing harus membawa tas dan tas khusus itu berguna mengambil kotoran piaraan mereka , karena mengatasi kebersihan adalah bagian dari etika Jepang. 3. Pekerja kebersihan di Jepang disebut " insinyur kesehatan " dan mendapatkan gaji setara Rp.50 Juta/ bulan , dan dalam perekrutannya menjalani tes tertulis dan wawancara. 4. Jepang tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah seperti di Indonesia , dan mereka sering terkena gempa bumi . tetapi itu tidak mencegah Jepang menjadi Negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia. 5. Jepang siswa dari tahun pertama hingga tahun keenam primer harus belajar etika dalam berurusan dengan orang-orang. 6. Masyarakat Jepang meskipun adalah salah satu negara dengan Pendapatan tertinggi di dunia, tetapi mereka tidak memiliki pembantu. Orang tua bertanggung jawab atas rumah dan anak-anak. 7. Tidak ada tes ujian dari tingkat pertama sampai tingkat ke tiga ( Setara SD kelas 1 sampai SD Kelas 3 , karena tujuan pendidikan adalah untuk menanamkan konsep dan pembentukan karakter, bukan hanya tes dan indoktrinasi. 8.Jika Anda pergi ke sebuah restoran prasmanan di Jepang Anda akan melihat orang-orang yang hanya makan sebanyak yang mereka butuhkan tanpa limbah apapun. Tidak ada sisa2 makanan. 9.Tingkat keterlambatan kereta di Jepang adalah sekitar 7 detik per tahun! Mereka menghargai nilai waktu, sangat tepat waktu untuk menit dan detik. 10. Jika anda bertanya kepada mereka" Apakah arti pelajar ? " Mereka akan Menjawab " Pelajar adalah masa depan Jepang ".
  13. Di mana pun anak bersekolah. Di sekolah negeri atau swasta. Sekolah unggulan maupun reguler. Di pedesaan atau perkotaan. Pada prinsipnya, semua sekolah itu sama tujuannya. Yaitu membentuk lulusan yang berkualitas. Cerdas secara intelektual maupun emosional. Setujukah Anda? Sekolah unggul merupakan sekolah yang memberikan layanan unggul kepada peserta didik dalam proses pendidikan. Sasarannya adalah bagaimana siswa dapat berkembang dengan baik sesuai potensi yang dimiliki sehingga prestasi belajar siswa bisa dipacu sedemikian rupa. Tentu saja harus melebihi pelayanan yang lazim diberikan oleh sekolah reguler. Dalam praktiknya, orang tua cenderung memilih sekolah untuk anak pada sekolah yang dianggap unggul. Mengapa? Ini pertanyaan yang bisa dijawab secara subjektif maupun objektif. 1.Sekolah unggul itu sebuah prestise. Sekolah unggulan atau favorit pastilah memerlukan biaya pendidikan yang tidak murah. Pada umumnya yang bersekolah disana adalah anak dari keluarga yang berkemampuan finansial memadai. Mempunyai anak belajar di sekolah unggul menjadi sebuah prestise. Orang tua merasa bangga jika anak dapat bersekolah di sekolah unggul. Tapi faktanya juga, masih banyak anak dari keluarga kurang mampu yang duduk di sekolah unggul. Mereka ini sering mendapat beasiswa atau bantuan dari pihak sekolah. 2.Sekolah unggul itu sebuah prestasi. Masuk sekolah unggul tidak mudah. Harus bersaing ketat untuk lolos seleksi pada penerimaan peserta didik baru (PPDB). Selain memiliki persyaratan akademis juga dibutuhkan persyaratan lainnya. Misalnya keterampilan atau kecakapan yang dimiliki siswa yang dibuktikan dengan piagam atau sertifikat prestasi. Berhasil masuk sekolah unggul menjadi sebuah prestasi bagi anak, bahkan orang tuanya. Terlepas dari uraian di atas, belajar pada suatu lembaga sekolah haruslah mengedepankan matra sikap dan tingkah laku serta pendidikan karakter anak. Bagaimana pun, pendidikan berkualitas akan tercermin dari kecerdasan otak maupun kecerdasan hati lulusan suatu lembaga pendidikan.
  14. Program reintroduksi atau sekolah orangutan, tempat di mana orangutan sitaan yang sudah terbiasa hidup dengan manusia belajar bagaimana cara bertahan hidup di alam liar. Kondisi orangutan Sumatera memang semakin mengkhawatirkan, penyebabnya adalah perburuan dan penghancuran hutan sebagai tempat tinggal mereka. Sebagian orangutan dipelihara manusia sebagai binatang piaraan. Zoologische Gesellschaft Frankfurt (FZS) memulai program reintroduksi orangutan di Sumatera. FZS, organisasi perlindungan alam yang berpusat di Frankfurt, Jerman, berkonsentrasi menangani satwa yang terancam punah. Langkah yang diambil FZS ini adalah hasil kerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jambi dan Pan Eco Foundation, organisasi perlindungan alam asal Swiss yang merehabilitasi orangutan Sumatera di kota Medan. Tahun 2007, reporter DW Indonesia Vidi Legowo-Zipperer mengunjungi sekolah orangutan itu. Inilah kisahnya. Tempat Ideal bagi Orangutan Perjalanan untuk bertemu orangutan Sumatera dimulai juga. Pukul 7.30 pagi, dari kantor Zoologische Gesellschaft Frankfurt atau FZS, yang bermarkas di kota Jambi. Peter F. Pratje, koordinator FZS untuk Sumatera, turut berada di dalam mobil yang melaju ke kabupaten Tebo. Di sana, mobil Kijang ini akan digantikan oleh mobil khusus jalur offroad milik FZS. Peter, yang sudah 10 tahun tinggal di Indonesia, dan sangat fasih berbahasa Indonesia, bercerita, mengapa FZS memilih Taman Nasional Bukit Tigapuluh sebagai tempat perlindungan terakhir bagi orangutan Sumatera. “Kalau mau reintroduksi orangutan harus cari tempat dimana orangutan sudah punah, tetapi macam hutan yang habitat aslinya ada Orangutannya. Jadi di Bukit Tigapuluh, kami tahu, sekitar 150 tahun yang lalu masih ada populasi orangutan.“ Reintroduksi adalah usaha menolong orangutan yang dulunya dipelihara manusia untuk pulang kembali menetap di hutan. Diperkirakan masih ada ratusan orangutan yang dipelihara manusia. Kini populasi orangutan Sumatera diperkirakan kurang dari 6000 ekor. Angka ini terus menurun setiap tahunnya. Empat jam waktu yang diperlukan dari Jambi hingga ke Tebo. Dan menurut Pak Mulyono, supir FZS, lamanya waktu yang diperlukan hingga ke kamp FZS tidak bisa dipastikan. Ini tergantung cuaca dan kondisi jalan saat itu. Menurut Peter, jika jalur ini sulit dilewati kendaraan, berarti mereka memang telah menemukan lokasi reintroduksi yang sesuai. Kandang Terpisah Kesan pertama saat memasuki lahan kamp, mengingatkan pada tempat peristirahatan yang dipenuhi cottage-cottage kecil. Bedanya, ini berada di tengah hutan. Cottage yang berupa rumah panggung, disebut di sini sebagai mess - tempat menginap tamu dan para staf FZS yang sebagian besar direkrut dari Suku Talang Mamak, warga desa terdekat dari kamp FZS. Menurut Peter, mereka terus berupaya menjaga hubungan baik dengan masyarakat lokal. Sungai kecil mengalir melintasi kamp FZS. Air sungai selain dialirkan ke kamar-kamar mandi di mess, juga digunakan sebagai air untuk masak dan minum. Sebuah jembatan kecil menghubungkan lahan kamp berisi mess dan dapur dengan wilayah sekolah orangutan. Sebuah jalan setapak yang dihiasi batuan kecil merupakan jalan menuju ke tempat-tempat yang berkaitan dengan orangutan. Jalan utama setapak berakhir di Kandang Besar. Ada empat kandang disini. Tiga kandang hanya dihuni masing-masing satu orangutan besar. Ada Kombi, Handsome dan Roma. Sementara satu kandang yang berukuran lebih besar dihuni oleh Petra, Joko, Susilo, Bobo dan Masita, Orangutan yang paling dituakan di kandang itu. Belajar untuk Hidup di Hutan Pukul 8 pagi, program reintroduksi yang disini lebih dikenal dengan istilah sekolah orangutan sudah dimulai. Ada tiga kelas yang berbeda. Di kandang besar, orangutan belajar di dalam kandang mereka. Ada lagi kandang kecil, di mana orangutan dibawa keluar kandang untuk berlatih di dalam hutan. Sementara kelas yang terakhir adalah kelas pantau, di mana orangutan dilepas di hutan, namun dipantau oleh seorang staf yang mengikuti mereka dan mencatat kegiatan mereka setiap dua menit. Manajer kamp yang bertugas, Julius dan staf FZS Damson, memulai kerja mereka di Kandang Besar. Mereka membagikan satu karung plastik kepada tiap-tiap orangutan. Menurut Julius, karung tersebut berisi berbagai jenis daun. “Jadi biasanya ada daun yang bisa dimakan ada yang tidak bisa dimakan, ada buah-buah. Jadi, dia coba cari di dalam tumpukan itu. Jadi, seperti sebuah permainan.“ Bunyi kentungan yang dipukul oleh staf FZS adalah pertanda waktunya makan bagi para murid sekolah orangutan. Julius datang dengan menenteng dua ember berwarna biru muda. Bunyi dan warna ember itu sangat diingat orangutan. Kali ini menunya adalah susu segar. Julius dan Damson menggunakan cangkir plastik untuk memberi minum satu persatu murid-muridnya. Walau pun para orangutan ini dulu dipelihara manusia, hukum rimba ternyata masih berlaku disini. Siapa yang kuat, ialah yang paling berkuasa. Petra, yang paling kecil di kandang, menangis sambil berguling-guling di lantai besi karena jatah susunya selalu direbut Masita, orangutan yang paling tua disana. Selain susu, Julius dan Damson juga memberi sayur dan buah-buahan seperti terong, nenas dan timun. Biasanya yang diutamakan adalah buah-buahan yang ada di hutan. Di tempat yang dinamakan Kandang Kecil terdapat dua kandang yang masing-masing berisi dua orangutan berukuran kecil, Marni dan Carolin, serta Ronaldinho dan Wintho. Ada lagi satu kandang yang dihuni Bimbim orangutan bertubuh besar. Setiap harinya, orangutan di sini bergantian belajar di sekolah orang utan. Siap Kembali Hidup di Hutan Selain menerima orangutan sitaan, FZS juga terkadang harus menerima kembali orangutan yang tadinya sudah dilepas ke alam liar lalu kembali lagi ke lokasi reintroduksi. Roma dan Bimbim misalnya, keduanya kembali ke lokasi reintroduksi karena mengganggu ladang penduduk lokal. Sekitar pukul 5 sore, staf FZS mulai membersihkan kandang. Pekerjaan mereka baru selesai jika para orangutan sudah tertidur di atas sarang hasil buatan mereka sendiri. Walaupun demikian, jam normal tidur para orangutan adalah sekitar pukul 6 sore. Jadi di saat kamp mulai gelap dan generator dinyalakan itulah, para staf yang memantau orangutan kembali ke kamp. Tujuan dari sekolah orangutan ini adalah agar para orangutan siap jika dikembalikan ke habitat asli mereka. Jika ditanyakan, kapan mereka akan dilepas dari kandang? Jawaban yang diperoleh selalu ”saat musim buah”. Julius juga mengatakan hal yang sama. ”Sebelum musim buah kita takut melepas karena buah di hutan tidak ada. Jadi, kita melepas pada musim buah, mereka beradaptasinya juga tidak susah, mereka langsung mengenal buah hutan.”
  15. Semasa sekolah dulu, rasanya mustahil kamu bisa dijuluki murid pintar kalau dapat ranking bontot. Apalagi kalau gak lulus ujian nasional, rasanya dunia selesai di titik itu. Ketatnya persaingan waktu sekolah mungkin memang bertujuan supaya kitaa berlomba-lomba jadi lebih pintar. Tapi tahukah kamu, negara dengan pendidikan terbaik dan murid terpintar di dunia yaitu Finlandia justru melakukan hal yang sebaliknya? Berbeda dengan kita yang harus menghadapi ujian nasional tiap mau naik jenjang sekolah, seumur-umur pelajar di Finlandia hanya menghadapi 1 ujian nasional ketika mereka berumur 16 tahun. Tidak hanya minim pekerjaan rumah, pelajar di Finlandia juga mendapatkan waktu istirahat hampir 3 kali lebih lama daripada pelajar di negara lain. Namun dengan sistem yang leluasa entah bagaimana mereka justru bisa belajar lebih baik dan jadi lebih pintar. Makanya kali ini Hipwee bakal mengulas habis rahasia Finlandia yang satu ini. 1. Di Finlandia, Anak-Anak Baru Boleh Bersekolah Setelah Berusia 7 Tahun Beri kesempatan mereka untuk belajar dengan caranya sendiri Orang tua jaman sekarang pasti udah rempong kalau mikir pendidikan anak. Anaknya belum genap 3 tahun aja udah ngantri dapat pre-school bagus gara-gara takut kalau dari awal sekolahnya gak bagus, nantinya susah dapat SD, SMP, atau SMA yang bagus. Di Finlandia tidak ada kekhawatiran seperti itu. Bahkan menurut hukum, anak-anak baru boleh mulai bersekolah ketika berumur 7 tahun. Awal yang lebih telat jika dibandingkan negara-negara lain itu justru berasal dari pertimbangan mendalam terhadap kesiapan mental anak-anak untuk belajar. Mereka juga meyakini keutamaan bermain dalam belajar, berimajinasi, dan menemukan jawaban sendiri. Anak-anak di usia dini justru didorong untuk lebih banyak bermain dan bersosialisasi dengan teman sebaya. Bahkan penilaian tugas tidak diberikan hingga mereka kelas 4 SD. Hingga jenjang SMA pun, permainan interaktif masih mendominasi metode pembelajaran. Pelajar di Finlandia sudah terbiasa menemukan sendiri cara pembelajaran yang paling efektif bagi mereka, jadi nantinya mereka tidak harus merasa terpaksa untuk belajar. Maka dari itu meskipun mulai telat, tapi pelajar umur 15 di Finlandia justru berhasil mengungguli pelajar lain dari seluruh dunia dalam tes internasional Programme for International Student Assessment (PISA). Itu membuktikan faedah dan efektivitas sistem pendidikan di Finlandia. 2. Cara Belajar Ala Finlandia: 45 Menit Belajar, 15 Menit Istirahat Cara belajar ala FInlandia: banyak istirahat! Tahukah kamu bahwa untuk setiap 45 menit siswa di Finlandia belajar, mereka berhak mendapatkan rehat selama 15 menit? Orang-orang Finlandia meyakini bahwa kemampuan terbaik siswa untuk menyerap ilmu baru yang diajarkan justru akan datang, jika mereka memilliki kesempatan mengistirahatkan otak dan membangun fokus baru. Mereka juga jadi lebih produktif di jam-jam belajar karena mengerti bahwa toh sebentar lagi mereka akan dapat kembali bermain. Di samping meningkatkan kemampuan fokus di atas, memiliki jam istirahat yang lebih panjang di sekolah juga sebenarnya memiliki manfaat kesehatan. Mereka jadi lebih aktif bergerak dan bermain, tidak hanya duduk di kelas. Bagus juga kan jika tidak membiasakan anak-anak dari kecil untuk terlalu banyak duduk. 3. Semua Sekolah Negeri Di Finlandia Bebas Dari Biaya. Sekolah Swasta pun Diatur Secara Ketat Agar Tetap Terjangkau Gak mungkin konsen belajar kalau perut kosong. Finlandia adalah negara pertama dengan program makan siang gratis untuk semua siswa Satu lagi faktor yang membuat orang tua di Finlandia gak usah pusing-pusing milih sekolah yang bagus untuk anaknya, karena semua sekolah di Finland itu sama bagusnya. Dan yang lebih penting lagi, sama gratisnya. Sistem pendidikan di Finlandia dibangun atas dasar kesetaraan. Bukan memberi subsidi pada mereka yang membutuhkan, tapi menyediakan pendidikan gratis dan berkualitas untuk semua. Reformasi pendidikan yang dimulai pada tahun 1970-an tersebut merancang sistem kepercayaan yang meniadakan evaluasi atau ranking sekolah sehingga antara sekolah gak perlu merasa berkompetisi. Sekolah swasta pun diatur dengan peraturan ketat untuk tidak membebankan biaya tinggi kepada siswa. Saking bagusnya sekolah-sekolah negeri di sana, hanya terdapat segelintir sekolah swasta yang biasanya juga berdiri karena basis agama. Tidak berhenti dengan biaya pendidikan gratis, pemerintah Finlandia juga menyediakan fasilitas pendukung proses pembelajaran seperti makan siang, biaya kesehatan, dan angkutan sekolah secara cuma-cuma. Memang sih sistem seperti ini mungkin berjalan karena kemapanan perekonomian Finlandia. Tapi jika memahami sentralnya peran pendidikan dalam membentuk masa depan bangsa, seharusnya semua negara juga berinvestasi besar untuk pendidikan. Asal gak akhirnya dikorupsi aja sih. 4. Semua Guru Di Finlandia Dibiayai Pemerintah Untuk Meraih Gelar Master. Gaji Mereka Juga Termasuk Dalam Jajaran Pendapatan Paling Tinggi di Finlandia. Profesional S2 yang dibayar tinggi Disamping kesetaraan fasilitas dan sokongan dana yang mengucur dari pemerintah, penopang utama dari kualitas merata yang ditemukan di semua sekolah di Finlandia adalah mutu guru-gurunya yang setinggi langit. Guru adalah salah satu pekerjaan paling bergengsi di Finlandia. Pendapatan guru di Finlandia pun lebih dari dua kali lipat dari guru di Amerika Serikat.Tidak peduli jenjang SD atau SMA, semua guru di Finlandia diwajibkan memegang gelar master yang disubsidi penuh oleh pemerintah dan memiliki tesis yang sudah dipublikasi. Finlandia memahami bahwa guru adalah orang yang paling berpengaruh dalam meningkatkan mutu pendidikan generasi masa depannya. Maka dari itu, Finlandia berinvestasi besar-besaran untuk meningkatkan mutu tenaga pengajarnya. Tidak saja kualitas, pemerintah Finlandia juga memastikan ada cukup guru untuk pembelajaran intensif yang optimal. Ada 1 guru untuk 12 siswa di Finlandia, rasio yang jauh lebih tinggi daripada negara-negara lain. Jadi guru bisa memberikan perhatian khusus untuk tiap anak, gak cuma berdiri di depan kelas. Jika Indonesia ingin semaju Finlandia dalam urusan pendidikan, guru-guru kita selayaknya juga harus mendapatkan sokongan sebagus ini. Kalau perhatian kita ke guru kurang, kenapa kita menuntut mereka harus memberikan yang terbaik dalam proses pembelajaran? Tidak adil ‘kan? 5. Guru Dianggap Paling Tahu Bagaimana Cara Mengevaluasi Murid-Muridnya. Karena Itu, Ujian Nasional Tidaklah Perlu. Guru yang selalu mendampingi tahu yang dibutuhkan siswanya via itec.aalto.fi Kredibilitas dan mutu tenaga pengajar yang tinggi memungkinkan pemerintah menyerahkan tanggung jawab membentuk kurikulum dan evaluasi pembelajaran langsung kepada mereka. Hanya terdapat garis pedoman nasional longgar yang harus diikuti. Ujian nasional pun tidak diperlukan. Pemerintah meyakini bahwa guru adalah orang yang paling mengerti kurikulum dan cara penilaian terbaik yang paling sesuai dengan siswa-siswa mereka. Diversitas siswa seperti keberagaman tingkatan sosial atau latar belakang kultur biasanya jadi tantangan sendiri dalam menyeleraskan mutu pendidikan. Bisa jadi gara-gara fleksibilitas dalam sistem pendidikan Finlandia itu, semua diversitas justru bisa difasilitasi. Jadi dengan caranya sendiri-sendiri, siswa-siswa yang berbeda ini bisa mengembangkan potensinya secara maksimal. 6. Siswa SD-SMP di Finlandia Cuma Sekolah 4-5 Jam/hari. Buat Siswa SMP dan SMA, Sistem Pendidikan Belajar karena pingin pasti hasilnya lebih efektif Tidak hanya jam istirahat yang lebih panjang, jam sekolah di Finlandia juga relatif lebih pendek dibandingkan negara-negara lain. Siswa-siswa SD di Finlandia kebanyakan hanya berada di sekolah selama 4-5 jam per hari. Siswa SMP dan SMA pun mengikuti sistem layaknya kuliah. Mereka hanya akan datang pada jadwal pelajaran yang mereka pilih. Mereka tidak datang merasa terpaksa tapi karena pilihan mereka. Pendeknya jam belajar justru mendorong mereka untuk lebih produktif. Biasanya pada awal semester, guru-guru justru menyuruh mereka untuk menentukan target atau aktivitas pembelajaran sendiri. Jadi ketika masuk kelas, mereka tidak sekedar tahu dan siap tapi juga tidak sabar untuk memulai proyeknya sendiri. 7. Gak Ada Sistem Ranking di Sekolah. Finlandia Percaya Bahwa Semua Murid Itu Seharusnya Ranking 1 graduation students Gak ada yang putus sekolah Upaya pemerintah meningkatkan mutu sekolah dan guru secara seragam di Finlandia pada akhirnya berujung pada harapan bahwa semua siswa di Finlandia dapat jadi pintar. Tanpa terkecuali. Maka dari itu, mereka tidak mempercayai sistem ranking atau kompetisi yang pada akhirnya hanya akan menghasilkan ‘sejumlah siswa pintar’ dan ‘sejumlah siswa bodoh’. Walaupun ada bantuan khusus untuk siswa yang merasa butuh, tapi mereka tetap ditempatkan dalam kelas dan program yang sama. Tidak ada juga program akselerasi. Pembelajaran di sekolah berlangsung secara kolaboratif. Bahkan anak dari kelas-kelas berbeda pun sering bertemu untuk kelas campuran. Strategi itu terbukti berhasil karena saat ini Finlandia adalah negara dengan kesenjangan pendidikan terkecil di dunia. Emang sih kita gak bisa serta merta menyontek sistem pendidikan Finlandia dan langsung menerapkannya di Indonesia. Dengan berbagai perbedaan institusional atau budaya, hasilnya juga mungkin gak bakal sama. Tapi gak ada salahnya ‘kan belajar dari negara yang udah sukses dengan reformasi pendidikannya. Siapa tahu bisa menginspirasi adminitrasi baru untuk mengadakan perubahan demi pendidikan Indonesia yang lebih baik
  16. Fenomena cabe-cabean masih marak di kalangan remaja. Tak sedikit di antara mereka yang sengaja menjadi cabe-cabean karena faktor ekonomi. Sekolah sudah tidak mau, akhirnya keluyuran daripada di rumah tidak ada pekerjaan. Seperti juga yang terjadi pada N, remaja usia 15 tahun yang memilih melakoni pergaulan salah kaprah. Bersama teman-temannya, N keluyuran dan melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya untuk remaja seusia N. Orang-orang menyebutnya cabe-cabean. Remaja gadis seusia N harusnya duduk di bangku sekolah mengenyam pendidikan dengan baik. Namun, kondisi justru membawa N menjadi remaja cabe-cabean. N memutuskan berhenti sekolah saat dia duduk di bangku kelas 3 Sekolah Menengah Pertama. Padahal sebentar lagi N akan ujian kelulusan. "Harusnya saya UN (Ujian Nasional). Tapi saya bandel dan sering bolos, jadi berhenti aja. Terus kata orang tua saya, ya udah kalau mau berhenti sekolah mau ngapain di rumah aja? Akhirnya saya kerja di Pasar Pagi," tuturnya. Keluarga N memang tergolong keluarga tidak mampu. Kondisi ini juga yang menjadi alasan N tidak melanjutkan sekolah dan memilih hidup di jalanan. Setiap hari N pergi dan pulang hingga larut malam. Tak jarang dirinya pun menjadi pelampiasan nafsu para lelaki hidung belang. Malam itu mungkin nasib N sedang apes. Atau mungkin justru nasib inilah yang membawa N ke jalan yang benar. Saat itu N baru saja pulang nonton konser dan sedangah keluyuran di sekitaran Kota Tua, Jakarta Pusat. Tengah malam, N terkena razia yang dilakukan oleh Dinas Sosial DKI Jakarta. N kemudian dibawa ke Panti Sosial Bina Karya Wanita (PSBKW) Harapan Mulya untuk dibina. Di sinilah N mengaku kalau dirinya sudah insyaf dan ingin melanjutkan sekolahnya. N menyesali perbuatannya, dan ketika orang tuanya datang menjenguk, dia melontarkan keinginannya untuk sekolah lagi. "Iya saya mau sekolah lagi. Ada tawaran dari om saya, saudaranya Bapak. Dia kan nggak punya anak, nah saya mau diangkat jadi anak dan disekolahin," ungkap N. Dari PSBKW sendiri N juga sebenarnya sudah menawarkan sekolah paket di Panti Sosial Bina Remaja (PSBR) Taruna Bangsa, Tebet-Jakarta Selatan. Di sana N bisa melanjutkan sekolah tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun. "Di sana mereka dibina gratis. Dapat keterampilan juga. Jadi kalau masalahnya ekonomi, ya di sana saja," tukas Helmiaty Bakrie, Kepala PSBKW. Tapi N mengatakan kalau dirinya tidak ingin lagi berpisah dari orang tuanya. Ia mengaku ingin tetap tinggal bersama ayan dan ibunya. Meski begitu, N juga masih mempertimbangkan tawaran yang diberikan PSBKW. "Saya masih bingung. Tapi yang penting nantinya saya bisa sekolah dan punya ijazah. Supaya bisa kerja bener," kata N.
  17. Rencana pengadaan perangkat suplai daya bebas gangguan atau UPS (Uninterruptible Power Supply) yang mencapai Rp 5,8 miliar per sekolah di Jakarta dinilai berlebihan oleh Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Praktisi teknologi Johar Alam Rangkuti pun menyatakan demikian, ia menilai tak seharusnya komputer di sekolah menggunakan UPS dengan daya dan harga sebesar itu. Menurut Johar Alam, jika tujuan UPS ini adalah menopang pasokan listrik untuk perangkat komputer, maka untuk menghemat anggaran bisa saja memakai UPS mandiri yang terhubung langsung ke komputer, bukan UPS dengan daya besar dan memakan ruang untuk menyimpannya. "Kalau harga UPS sekolah mencapai Rp 5 miliar itu tidak masuk akal karena mungkin kapasitas daya listrik yang dipakai sekolah tidak sesuai dengan kapasitas UPS tersebut," jelas Johar yang juga pendiri perusahaan pusat data sekaligus chairman Indonesia Data Center (IDC). Harga satu UPS yang dimaksud Johar, saat ini dihargai sekitar Rp 500.000 dengan daya 300 Watt. Jika satu sekolah punya 100 komputer, maka anggaran belanja per sekolah hanya Rp 50 juta. Johar mengaku sebuah bangunan pusat data milik perusahaannya memiliki 10 unit UPS dengan kapasitas masing-masing 200.000 watt. Di tahun 2009, IDC membeli satu unit UPS tersebut dengan harga US$ 60.000 di kala nilai tukar rupiah terhadap dollar masih Rp 10.000. Itu berarti, satu UPS dibeli dengan harga Rp 600 juta. Jika sebuah pusat data membutuhkan 10 UPS dengan kapasitas 200.000 watt, maka di tahun 2009 itu IDC berinvestasi Rp 6 miliar untuk menopang kinerja server-server dengan UPS. Dengan harga UPS mencapai Rp 5,8 miliar per sekolah, Johar menilai angka tersebut sangat mubazir. Ia mengibaratkan hal itu seperti sebuah keluarga berisi lima anggota pergi ke Bandung dengan memakai bus besar. "Secara logika kita bisa hemat dengan memakai mobil yang lebih kecil," tegas Johar. UPS sejatinya berfungsi menopang daya listrik untuk komputer ketika terjadi mati listrik dari PLN. Dengan alat ini, komputer guru/staf dan laboratorium komputer masih bisa beroperasi selama masih ada pasokan listrik di UPS. Biasanya, keberadaan UPS memungkinkan pengguna sesegera mungkin menyimpan dokumen yang sedang mereka kerjakan agar tidak hilang ketika listrik padam. UPS juga bisa menopang daya sebuah router jaringan agar tetap berjalan mengalirkan koneksi internet ketika mati listrik. Cekcok Ahok vs DPRD DKI Jakarta Rencana pengadaan UPS di sekolah Jakarta ini menjadi salah satu yang dipermasalahkan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau populer disapa Ahok dalam draf Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2015. Ahok berkata, Pemprov DKI Jakarta tak pernah mengajukan anggaran Rp 6 miliar untuk UPS di satu sekolah. Ia menuding oknum DPRD mengubah APBD yang telah disepakati tanpa lewat e-budgeting. Oleh sebab itu ia mempertanyakan dari mana "dana siluman" itu berasal. Ahok banyak mencoret anggaran untuk membeli UPS yang rata-rata nilainya berada di angka Rp 5,8 miliar per sekolah SMK dan SMA. "Bayangkan, dana UPS di satu sekolah mencapai Rp 6 miliar. Padahal satu genset Rp 150 juga saja sudah keren, sudah genset otomatis yang begitu mati lampu langsung nyala seperti di rumah sakit,” kata Ahok. Ahok kini berhadapan dengan DPRD DKI Jakarta gara-gara ia mempertahankan draf APBD versi e-budgeting untuk dikirim ke Kementerian Dalam Negeri guna disetujui. Pemprov Jakarta, menurut Ahok, kukuh menggunakan draf APBD 2015 versi e-budgeting yang tidak memasukkan rincian anggaran hingga satuan ketiga seperti yang diinginkan DPRD. Gara-gara itu, DPRD melayangkan hak angket terhadap Ahok guna menyelidiki soal APBD tersebut. Ahok berkeras memakai draf e-budgeting untuk mencegah masuknya anggaran fiktif yang menurut dia jumlahnya mencapai Rp 12,1 triliun.
  18. Kita pasti sudah akrab dengan sejarah Indonesia. Bahkan, zaman pra-sejarah pun ikut kita pelajari sejak duduk di bangku sekolah dasar. Kita diberitahu bahwa Kerajaan Kutai adalah kerajaan pertama di Indonesia dan Belanda menjajah Indonesia selama 3,5 abad (meskipun ini kemudian menuai perdebatan). Tidak lupa, ada juga kisah Keris Mpu Gandring yang digunakan untuk membunuh keturunan Ken Arok dan Tunggul Ametung. Buku sejarah yang begitu tebal dan tidak ada habisnya dibahas dari sekolah dasar hingga menengah atas seakan telah merekam seluruh peristiwa bersejarah di Indonesia. Tapi, sebenarnya ada lho fakta-fakta unik dari sejarah yang nggak diajarkan di bangku sekolahmu. Berikut ini beberapa di antaranya: 1. Koran Pertama yang Terbit dan yang Dibredel di Indonesia adalah Koran yang Sama 2. Marco Polo Bertemu dengan Masyarakat Kanibal di Nusantara 3. Bung Karno Tidak Puasa Saat Proklamasi 4. Stasiun KA Bandung Dirancang untuk Persiapan Pemindahan Ibukota dari Jakarta ke Bandung 5. Permen Jahe Sempat Jadi Komoditas Utama Batavia 6. Bendera Pusaka dari Sprei dan Penjual Soto 7. Demi Patung Dirgantara, Bung Karno Jual Mobil 8. Penulis Naskah Pidato Bahasa Inggris Bung Karno yang Pertama Berdarah Viking 9. Draf Naskah Proklamasi Sempat Hilang 10. Nusantara Bukan Wilayah Majapahit 11. Belanda Membawa Narapidana Pertama ke Nusakambangan 12. Kemelut Perang Diponegoro 13. Indonesia Pernah Masuk Piala Dunia 14. Hotel Indonesia Adalah Hotel Bintang 5 Pertama di Asia Tenggara Nah, itu dia beberapa fakta sejarah Indonesia yang cukup unik, tapi mungkin tak pernah diterangkan oleh guru Sejarah-mu. Mungkin kamu mau menambahkan fakta-fakta sejarah yang lain?
  19. Hal absurd itu emang ga kenal waktu dan tempat ya, mau dimana aja dan kapan saja pasti ada aja. Nah kali ini ane mau bahasa hal absurd yang biasa ada disekolahan. 1. Why Always Me Maksudnya apa nih? Ini itu hal absurd yang kejadian, saat guru nunjuk seseorang buat manju. Ya lu mulu yang kena suruh maju. Dari sekian puluh murid, selalu aja lu mulu yang maju, kaya kaga ada yang lain aja. WHY ALWAYS ME 2. Nilai Sama Ini super banget absurdnya, bayangin aja kalau lu liat gabar diatas. Lu ngisi susah payah jawabanya cuma dikasih nila 1. Terus lu pasrah cuma nulis Insya Allah Tidak juga dikasih 1. Nah ini maksudnya apa coba 3. Bangku Ketuker Butuh kesabaran yang ekstrim untuk ngejalani yg satu ini. Waktu sekolah, ini bener2 hal yang paling bikin gue kesel. Gimana enggak? Udah capek mondar mandir bawa kursi bagus ke kelas, ternyata besoknya kursi yang gue pakek berubah jadi jelek dan cacat. Nyeselin juga klo bangku bagus dituker ama temen atau kelas lain secara diam2. Bawaannya pengen di jitak aja tuh orang 4. Pamer Boxer Hal absurd tingkat akut yang sampai sekarang gue masih menkerutkan kening kenapa ini terjadi sewaktu sekolah. Boxer itu sama dengan Celana Dalam. Buat apa coba pamer2 celana dalam? dan ini menjadi salah satu segi fashion yang terkesan gaul klo di sekolah 5. Stand Up Comedy di kelas baru sadar setelah nongol yang amanya stand up comedy. Ternyata lu pada juga pernah ngelakuinnya atau ngeliat secara langsung. Maksundya saat gada guru di jam pelajaran biasanya kalau ada yang suka ngelawak, pasti dia majua kedepan buat ngelawak. meski garing juga sih
  20. Siswa dari sekolah swasta lebih banyak diterima di Universitas Oxford atau Cambridge. Ratusan sekolah menengah dan sekolah kejuruan di Inggris tidak mengirim siswa ke universitas-universitas terkenal. Data Departemen Pendidikan Inggris menunjukkan lebih dari 1.600 sekolah menengah dan sekolah kejuruan tidak mempunyai lulusan yang diterima di Oxford atau Cambridge. Data juga menunjukkan siswa sekolah swasta berpeluang lebih besar untuk diterima di universitas bergengsi. Meskipun siswa dari banyak sekolah menengah atas tidak masuk ke perguruan tinggi top, mayoritas sekolah menengah dan sekolah kejuruan mempunyai sejumlah lulusan yang melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Pejabat Departemen Pendidikan Inggris David Laws mengatakan, "Amat penting bagi orang tua untuk mendapat akses informasi agar mereka bisa menilai bagaimana sekolah menengah atau sekolah kejuruan menyiapkan anak muda untuk menghadapi masa depan mereka." Ia mengatakan puas dengan analisis data itu sebab siswa dari banyak sekolah termasuk di daerah miskin, melanjutkan ke pendidikan tinggi. Namun ia menekankan banyak sekolah yang harus lebih keras melakukan perbaikan dalam menyiapkan generasi muda.
  21. Pendidikan seks di sekolah-sekolah sedang diberikan untuk memberi informasi siswa tentang masalah yang berkaitan dengan seks. Hal ini dianggap penting bagi masyarakat bahwa siswa memahami informasi yang tepat tentang seks, praktek seksual, pelecehan seksual anak dan penyakit menular seksual. Namun, seperti semua ideologi, pendidikan seks di sekolah juga memiliki pro dan kontra. Pro Pendidikan Seks di Sekolah mempunyai pandangan; Pendidikan seks di sekolah-sekolah dapat membantu anak memahami dampak dari seks dalam kehidupan mereka. Hubungan seks bebas dapat diatasi dengan memberi dan memperluas cakrawala mereka tentang bahayanya. Hal ini juga dapat menjawab semua pertanyaan yang ada dibenak mereka tentang tubuh mereka yang berubah dan lonjakan hormonal. Anak-anak sering ingin tahu tentang jenis kelamin lawan jenis. Pendidikan seks di sekolah dapat membantu memberi pemahaman perbedaan dan menjaga keinginan untuk mengeksplorasi hal-hal untuk diri mereka sendiri. Pelecehan seksual terhadap anak adalah kejahatan sosial yang melanda ribuan anak di seluruh dunia. Pendidikan seks di sekolah dapat berperan aktif dalam mengendalikan peristiwa penganiayaan ini. Adalah jauh lebih baik untuk mengajarkan anak tentang seks di sekolah, bukan membiarkan mereka menggunakan sumber lain seperti materi pornografi dari internet. Hal ini penting karena sumber seperti internet memiliki sejumlah informasi yang mungkin menyesatkan dan menyebabkan informasi yang salah. Dengan masalah seperti kehamilan remaja dan penularan penyakit yang meningkat, dapat menyadarkan anak dari bahaya ini. Pendidikan seks di sekolah adalah wadah mengubah anak menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab. Oleh karena itu, pendidikan seks bisa membantu mereka memahami manfaat pantang seks bebas setidaknya menjadi anak yang lebih bertanggung jawab. Kontra Pendidikan Seks di Sekolah: Besar kemungkinan informasi yang diterima siswa pada usia dini tidak seperti yang diharapkan, artinya pemahaman mereka justru ke arah yang salah. Jika tidak diajarkan dengan benar, pendidikan seks di sekolah dapat menjadi masalah ejekan dan menjadi sesuatu yang selalu mengalihkan perhatian seluruh kelas ketika diajarkan. Fakta bahwa sebagian besar sekolah dalam pendidikan seks memperlakukan hal ini seperti kursus ekstrakurikuler dan bukan yang utama juga merupakan kontra utama. Sebagian besar guru yang diberi tugas untuk mengajar pendidikan seks untuk siswa tidak ahli dan tidak memiliki ide jelas tentang pendidikan seks itu sendiri. Hal ini bahkan lebih berbahaya karena informasi yang salah ini sangat mematikan. Pendidikan seks di sekolah mungkin bertentangan dengan ideologi keagamaan yang juga dianut di rumah anak. Ini menyebabkan perbedaan masalah mendasar ketika anak di rumah dan di sekolah, sementara seharusnya sekolah adalah rumah kedua mereka.
  22. Dalam salah satu adegan di film Sokola Rimba, tokoh dr. Astrid, seorang peneliti asing, mengatakan pada Butet Manurung saat berbincang di pedalaman Bukit Dua Belas Jambi, “Kita suka merasa lebih tahu, padahal dalam banyak hal Orang Rimba justru lebih maju dari kita.” Dokter Astrid sedang bicara tentang “savior complex”, yaitu paradigma psikologis saat suatu pihak merasa perlu menjadi penyelamat pihak lain, semisal dari “keterbelakangan”. Savior complex biasanya disertai asumsi bahwa apa yang ia bawa pasti lebih baik daripada apa yang dimiliki orang lain dan oleh karenanya orang yang hendak diselamatkan tersebut perlu menerima bantuannya walau sebenarnya mungkin tak dibutuhkan. Pendidikan, atau lebih tepatnya persekolahan, sering menjadi alat pemuas savior complex. Sebuah film dokumenter berjudul “Schooling the World” secara spesifik membahas tentang pendidikan sebagai alat pemuas savior complex. Film yang mengangkat kasus di Ladakh, Himalaya, ini berangkat dari pertanyaan: apa yang sesungguhnya terjadi saat cara sebuah budaya/peradaban belajar dan memahami dunia mereka kita ganti dengan cara kita? Apa yang terjadi ketika kita membangun persekolahan di masyarakat tradisional di sekeliling dunia dengan keyakinan bahwa sekolah adalah cara satu-satunya atau cara terbaik bagi anak-anak pribumi untuk meraih kehidupan yg lebih baik? Adakah asumsi dan arogansi superioritas budaya yang terbawa di balik berbagai proyek bantuan pendidikan yang bertujuan “memajukan” masyarakat primitif? Apakah institusi pendidikan yang digadang-gadang sebagai alat penyelamat peradaban telah berhasil memenuhi janji-janjinya? Film Schooling the World dapat disaksikan di YouTube berikut: Bagian 1: Bagian 2: Bagian 3: Bagian 4: Bagian 5: Bagian 6: Bagian 7: Beberapa kutipan menarik dari beberapa tokoh dalam dokumenter Schooling the World, antara lain: Film ini dapat menjadi alat bagi kita untuk melakukan refleksi. Sekolah seperti apa yang menjadi alat pembunuh keberagaman serta kearifan lokal, dan sebaliknya sekolah seperti apa yang membuat siswa-siswanya menyadari benar-benar kelebihan, kebutuhan dan tantangan unik di dalam masyarakatnya serta siap berperan di dalamnya? Sekolah seperti apa yang mendorong siswa menjadi interdependen terhadap masyarakatnya, atau malah sebaliknya, justru membuatnya terasing di tengah lingkungannya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan ini perlu terus dipikirkan oleh para pegiat pendidikan dan juga oleh penguasa pendidikan.
  23. Tinggal di desa kecil di propinsi Gan Shu. Awalnya dia bukan pelacur. Setiap penduduk di desa tersebut tidak mengerti kenapa seorang gadis secantik Xia yang mempunya paras tubuh yang indah dan rupa yang menawan tidak melakukan seperti gadis-gadis lainnya. Karena Xia menolak akan hal ini, ayah nya Xia selalu menghukum dia.Suatu hari Xia mendengar bahwa sebuah sekolah di desa membutuhkan jasa seorang guru Xia langsung dengan sukarela menjadi seorang guru dengan tanpa imbalan. Pas hari pertama Xia masuk ke sekolah menjadi seorang guru, setiap murid kaget dan terpukau akan kecantikan guru baru mereka Sejak saat itu Kelas selalu menjadi penuh dengan canda tawa setiap murid. Kelas mereka lebih layak untuk di sebut sebagai tempat penampungan daripada bangku bangku sekolah yang normal. Dalam kondisi kelas yang sekarat ini, Xia mengajarkan beribu ribu kata kata chinese dan pengetahuan laennya kepada murid murid nya Suatu hari badai besar menghancurkan kelas mereka semua murid tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Lalu kepala sekolah datang ke kota untuk merundingkan hal tersebut dengan walikota yang mengurus budget bagian pendidikan agar memberikan sumbangan uang utk membetulkan sekolah mereka akan kepala sekolah kembali dengan tangan kosong. Kepala sekolah mengatakan kepada Xia bahwa walikota akan memberikan uang kalo hanya Xia yang datang kepada dia dan meminta uang kepadanya secara personal, Xia yang tidak pernah keluar dari desa dan meninggalkan rumah nya dan tidak pernah bertemu dengan walikota sebelumnya, telah memutuskan untuk berangkat dari rumah untuk mengunjungi sang walikota. Sebelumnya Xia kwatir kalo kunjungan dia akan mengacaukan suasana, akan tetapi dia tetep memutuskan pergi demi murid murid nya. Xia berjalan lebih dari 10 kilo untuk ke kantor sang walikota setelah sampai, Xia duduk di depan kantor yang bagus di ruangan sang walikota. Setiba nya di kantor, sang walikota menyambut kedatangan Xia dengan sepasang mata pemburu yang haus akan Xia dan mununjukan tangannya ke sebuah ruangan dan mengatakan “Uang kamu ada di kamar tersebut… kalau kamu mau, kamu ikuti aku” Xia melihat sebuah ruangan dengan ranjang yang besar, ranjang tersebut lah yang telah merenggut keperawanan Xia, Sang walikota telah memperkosa Xia. Darah segar dari keperawannan nya telah meninggalkan bekas dan jejak di sprei darah merah tersebut menjadi lebih merah daripada warna bendera national China. Xia tidak menangis sedikit pun yang ada di pikiran nya adalah berpuluh puluh mata murid murid nya yang akan kecewa kalo tidak ada kelas buat mereka belajar. Setelah itu Xia bergegas balik ke rumah yang gelap dan tidak memberi tahu kepada seorang pun tentang kejadian tersebut. Hari berikutnya, para penduduk membeli kayu dan membetulkan kondisi kelas. Akan tetapi kala ada hujan yang deras, kelas tersebut tetap tidak bisa di gunakan. Xia mengatakan kepada murid muridnya bahwa walikota akan membangun sebuah sekolah yang bagus buat mereka. Dalam kurang lebih 6 bulan, kepala sekolah mengunjungi walikota 10x akan tetapi tetep tidak diberikan dana yang dijanjikan kepada mereka. Hanya walikota lah yang tau apa yang telah terjadi pada Xia akan tetapi tidak bisa berbuat banyak tentang itu. Pada saat semester baru berganti, banyak murid yang tidak bisa melanjutkan sekolah nya karena biaya dan mereka harus membantu orang tua nya untuk bekerja… Jumlah murid nya berkurang dan bekurang. Xia sangat sedih akan kondisi seperti itu. Ketika Xia mengetahui bahwa harapan murid muridnya telah hilang bagaikan asap. Dia lalu kembali ke kamarnya. Xia membuka bajunya, dan melihat tubuh telanjangnya di depan cermin. Xia bersumpah akan memakai tubuhnya yang indah untuk mewujudkan impian dari murid muridnya untuk bisa kembali sekolah… Xia tau semua gadis dari desa bekerja sebagai pelacur di kota untuk mencari uang dan itu cara yang gampang untuk dia untuk mendapatkan uang. Dia membersihkan dirinya dan mengucapakan selamat tingal kepada kepala sekolah, ayah dan sekolah… Dia mengikat rambut nya dengan kuncir dua dan berjalan menuju kota. Ketika dia berangkat ke kota, ayahnya tersenyum bangga akan tetapi kepala sekolah menangis sedih akan pilihan yang Xia lakukan….Di dalam glamor kehidupan kota, Xia tidak senang sama sekali dia menderita, dalam benak pikirannya, hanya ada sebuah kelas yang hancur dan keprihatian dan kesedihan dan kekecewaan expressi dari murid muridnya…. Xia masuk ke buat salon, berbaring di ranjang yang kotor dan menderita kerja kotor yang kedua di dunia percabulan… Malam itu di dalam diary nya Xia menulis “Sang walikota tidak bisa di bandingakan dengan tamu pertama nya lebih parah dan lebih kejam akan tetapi paling tidak tamu nya telah membayar dan memberi uang” Xia mengirimkan semua uang penghasilannya kepada kepala sekolah dengan mengirit irit biaya untuk hidup nya dengan harapan bisa mengirim lebih banyak lagi ke kepala sekolah. Sang kepala sekolah menerima uang tersebut dan mengikuti untuk menggunakan uang utk membangun sekolah… Ketika setiap orang yang menanyakan sumber uang tersebut, sang kepala sekolah hanya menjawab bahwa di dapat dari donasi dari organisasi social. Akan tetapi seiring waktu, penduduk mengetahui bahwa sumber dana dari seorang mantan guru yang bernama Xia. Banyak reporters yang ingin meliputi berita ini akan tetapi di tolak oleh Xia dengan alasan bahwa dia hanya seorang pelacur biasa.Dengan uang tersebut, sekolah telah berubah drastis…Bulan pertama, ada papan tulis baru…Bulan ke dua, ada bangku kayu dan bangku…Bulan ke tiga, setiap murid mempunyai buku masing masing. Bulan ke empat, setiap murid mempunya dasi masing masing. Bulan ke lima, tidak ada seorang murid pun yang datang ke sekolah tanpa alas kaki. Bulan ke enam, Xia kembali mengunjungi sekolah Xia disambut dengan gembira dan para murid menyapa”Guru, kamu telah kembali guru, kamu cantik sekali”Melihat kegembiraan dari para murid muridnya, Xia tidak berkuasa untuk menangis,Tidak peduli berapa banyak air mata yang di teteskan nya dan berapa banyak derita, keluh kesan dan kisah sedih yang dia lalui dalam 6 bulan, Xia merasakan semua kisah sedih dan penderitannya itu sangat seimbang dan pantas untuk harga yang dia bayar untuk melihat apa yang Xia lihat saat itu. Setelah beberapa hari di rumah, Xia kembali ke kota. Pada bulan ke tujuh, sekolah telah mempunyai lapangan bermain yang baru. Pada bulan ke delapan, sekolah membangun lapangan basket…pada bulan ke sembilan, setiap murid mempunya pensil yang baru. Pada bulan ke 10, sekolah mempunya bendera nasional sendiri, setiap murid bisa menaikan bendera setiap hari nya. Hingga suatu waktu Xia dikenalkan kepada seorang businessman. Sang pengusaha luar asing bersedia membayar 3000 rmb buat satu malam. Dengan pikiran yang lelah yang telah dia lalui bbrp tahun lalu, Xia dengan lelah menuju hotel sang pengusaha asing. Dia bersumpah bahwa itu adalah pekerjaan kotor yang terakhir bagi dia dan setelah itu dia akan kembali ke desa dan bersama sama murid muridnya di sekolah. Akan tetapi nasib berkata lain sungguh tragis telah terjadi malam itu dimana Xia bersumpah untuk terakhir kali nya, Xia di diperkosa dan di siksa hingga terbunuh oleh 3 pengusaha asing tersebut. Xia baru saja bertambah umur nya menjadi umur 21 tahun. Xia saat itu juga meninggal tanpa mencapai keinginan yang terakhir, yaitu untuk membangun satu kelas bagus dengan 2 komputer yang bisa digunakan oleh murid murid. Seorang pelacur telah meninggal dunia… keheningan yang di penuhi air mata. Saat itu langit kota ShenZen masih berwarna biru seperti lautan. Para murid2, guru2 dan beberapa ratus penduduk menghadiri acara pemakaman Xia di desa kecil bernama “GanShu” Pada saat itu, semua hanya bisa melihat foto hitam putih dari Xia dalam foto itu Xia mengikat rambut nya 2 dengan senyuman bahagia… Kepala sekolah membuka diary Xia dan membacakanya di depan para murid murid nya dan Xia menulis “Sekali melacur, bisa membantu satu anak yang tidak bisa sekolah. Sekali menjadi wanita simpanan, bisa membangun sebuah sekolah yang telah hilang harapan. Bendera setengah tiang dikibarkan.
  24. Ceritanya pas gw kelas 2SMA. Gw biasanya sarapan pagi di kantin skul gw yang letaknya di bawah tanah. Pengap2 gitu lah. Untuk menuju kantin ada dua tangga. Satu melewati kantor kepala sekolah dan satu lagi berdekatan ama ruang agama Islam, Budha dan kristen. Jadi gw turun tadi sebelum makan, melewati ruang kepala sekolah. Bener2 kantin yang juga aneh. Gak jual sarapan lagi. Gw bawa nasi bungkus dari rumah. Hehehe.. Sarapan ama kakak gw dan temen gw. Gak lama jam 7 gitu, temen2 gw yang lain dateng dan ikut comot kerupuk2 dari nasi bungkus gw. Jam 7.15 gitu baru bel sekolah gw berdentang.. Jadi, selesai makan, gw ama temen2 plus kakak gw jalan mau menuju ke atas. Ninggalin kantin lah. Terus kita naik ke tangga yang dekat ama ruang agama tadi yang gw ceritain. Biasanya kita juga lewat disana. Dan sambil ngobrol soal film dan lain2. Di sebelah ruang agama Budha itu tetanggaan ama ruang agama Islam. Di dekat ruang agama Islam itu ada tangga kecil. Isinya ada mainan untuk anak TK. Dulu ruang musik itu ruang nya anak TK. Ruang musik itu tetanggaan ama ruang agama Kristen. Mainan disana itu udah lama gak kepegang. Kita yang udah biasa lewat pun gak merasa ada yang aneh. Tapi yang tiap hari kita liatin itu yang mainan jungkat-jangkit. Permainan yang dua orang naikin kek timbangan gitu lah. Jadi, pas kita lewat, kita udah menginjakan kaki ditangga, eh, tuh jungkat jangkit gerak sendiri. Naek.. Turun.. Naek.. Turun.. Sumpah, gw langsung ngerasa aneh banget.. Temen2 gw langsung tereak supaya lari. Gw malah penasaran.. Tapi, takut dikasih penampakan, gw ngabur... Semua juga kabur.. Kita lari mpe ruang komputer. Dan diatas udah rame banget.. Gak mungkin kita tereak ada apa yang dibawah tadi.. Kita diem2 ajah.. Mpe berminggu2 setelah kejadian itu, temen gw - H - dapat mimpi aneh.. dy lagi jalan dikantin itu sendiri. Terus dy didalam mimpinya ini, melewati tangga yang yang dekat ama ruang agama. Disana dy liat ada mainan jungkat-jangkit. Di mimpinya itu dy liat ada makhluk kecil lagi duduk disatu sisi. Ciri2nya, tuh makhluk pendek. Mukanya udah tua dan jenggotan.. Kata H, mukanya marah gitu. Dy waktu tuh sempat mau muncul pas kita lewat setelah sarapan itu. Makhluk itu sempat ngasi pesan ke H. Esoknya H cerita ke kita semua. Terang aja kita semua kaget.. Tapi gw lupa pesannya apa.. Intinya, semua orang di skul gw itu harus sopan lah ama dy. Gw juga gak ngerti sopan gimana..
  25. Lho kok Cinta Itu Ibarat Tingkatan Sekolah, gimana menjelaskannya ?? Cinta itu kadang rumit, kadang menyenangkan, kadang bikin sedih, kadang bikin penasaran juga. Sekolah pun demikian harus di lalui dari yang mudah sampai susah dan jadi spesialis, kalau berhasil melalui kita bahagia, tetapi rintangan yang harus di hadapi di perjalanan juga nga ringan dan mudah. Udah deh langsung saja kenapa artikel ini bisa berjudul seperti itu : TK : TULUS KASIHnya SD : SALING DEWASA SMP : SALING MENGERTI DAN PERCAYA SMA : SALING MENERIMA APA ADANYA SARJANA : SURAT ... JANJI ... NIKAH Gimana ndral?
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy