Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'satelit'.

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • CLINIC NGOBAS
    • Coronavirus
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • Ngocol
    • Ngocol Video
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • ABOUT NgobasTV
    • EVENT
    • WESER
    • LAPOR KOMANDAN

Calendars

  • Calendar

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Categories

  • Files
    • Website
    • Smartphone
  • Games
  • E-Book

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 7 results

  1. Apple dikabarkan sedang mengembangkan teknologi satelit untuk menemukan cara baru mengirimkan data secara langsung ke perangkat. Proyek satelit sudah masuk tahap awal, Apple pun telah mengumpulkan beberapa insinyur dari industri dirgantara, satelit, dan antena. Bahkan, CEO Apple, Tim Cook telah menyatakan minatnya dalam proyek tersebut. Namun, masih belum jelas apakah Apple berencana untuk membangun satelit sendiri atau akan menggunakan satelit yang ada. Ketertarikan Apple terhadap satelit, kemungkinan mereka ingin mengirimkan data secara langsung ke perangkat, serta mengurangi ketergantungan pada operator nirkabel. Teknologi seperti satelit dapat memungkinkan Apple untuk menghindari jaringan nirkabel tradisional dan meningkatkan fungsi seperti pelacakan lokasi. Untuk mensukseskan ambisinya, Apple merekrut sejumlah nama-nama besar seperti; Michael Trela dan John Fenwick, mantan kepala teknik satelit di Google dan mantan kepala operasi pesawat ruang angkasa di Google, serta Matt Ettus, pendiri Ettus Research. Jika ini terealisasikan, maka Apple menjadi pendatang baru di pasar satelit yang semakin ramai dan secara bersamaan menjadi pesaing SpaceX dan Amazon. Amazon akan siap dengan Project Kuiper-nya, yakni rencana untuk membangun jaringan 3.236 satelit dalam upaya menyediakan akses internet global. Amazon juga mengumumkan pekan ini akan membangun markas riset untuk Project Kuiper di Redmond, Washington, atau tidak jauh dari pangkalan Amazon di Seattle. Sedangkan pada tahun lalu, SpaceX milik Elon Musk meluncurkan dua satelit pertama dari jaringan Starlinknya. Jaringan itu diharapkan dapat beroperasi setelah setidaknya 800 satelit dikerahkan.
  2. Salah satu satelit milik militer Amerika Serikat meledak secara tiba-tiba. Satelit itu terpecah hingga 43 bagian. Belum diketahui pasti apa penyebab ledakan tersebut, namun dugaan kuat kenaikan suhu yang secara tiba-tiba menyebabkan satelit pemantau cuaca itu tak stabil, lantas meledak. Diluncurkan 1995, satelit bernama DMSP-F13 itu punya fungsi utama untuk mengirimkan data cuaca secara real-time ke tentara AS. Data ini kemudian dipakai untuk keperluan strategi militer. Tapi DMSP-F13 hanya satu dari enam satelit AS dengan fungsi serupa. Ada pula satelit ketujuh bernama DMSP-F20 yang dijadwalkan meluncur 2016. Meledaknya DMSP-F13 diklaim pemerintah AS tidak akan memberikan dampak yang signifikan, sebab pesawat nirawak itu bukanlah satelit utama untuk memasok data cuaca. “Karena satelit ini tak digunakan oleh layanan cuaca nasional atau badan udara angkatan udara, maka dampak dari ledakan ini akan sangat minim,” tulis pernyataan AS yang dikutip dari Space, Selasa (3/3). Meski demikian, AS dan sejumlah ilmuwan mengaku akan tetap menyelidiki penyebab ledakan tersebut. Pecahan satelit sendiri dilaporkan tidak akan membahayakan Bumi.
  3. Qualcomm dan Virgin Group akan menggelontorkan dana investasi untuk membangun 648 satelit kecil yang akan membawa internet berkecepatan tinggi dan akses internet global. Hal ini dikemukakan oleh pejabat perusahaan pada Kamis kemarin. Qualcomm dan Virgin Group akan berinvestasi pada OneWeb, perusahaan komunikasi dan satelit yang tengah bekerjasama dengan SpaceX untuk membangun mikro satelit. "Perusahaan tengah mempertimbangkan dan meninjau proposal yang dikirim pada kami," ujar Greg Wyler, CEO OneWeb dikutip dari Reuters. Sayangnya, Wyler tidak memberikan keterangan mengenai nilai investasi yang akan diberikan dua perusahaan tersebut. Kedua perusahaan pun enggan untuk berkomentar mengenai jumlah investasi ini, namun mereka optimistis investasi akan ini. "Kami sangat senang untuk bergabung dengan Virgin sebagai investor awal. Kami berharap dapat membantu dana awal untuk studi kelayakan teknis sistem satelit ini," kata Kepala Eksekutif Qualcomm, Paul Jacobs. Peluncuran 648 satelit mikro ini telah direncanakan sejak tahun lalu. Elon Musk, CEO SpaceX adalah tokoh utama yang merencanakan peluncuran ini. Dikutip dari The Guardian, satelit yang dikembangkan bersama OneWeb nantinya akan diluncurkan dengan memanfaatkan fasilitas dari SpaceX. Satelit yang dibuat memilki berat sekitar 136 kilogram setiap unitnya dan akan diorbitkan pada ketinggian 1.207 kilometer di atas permukaan bumi. Seluruh satelit ini nantinya diharapkan dapat membawa koneksi internet hingga daerah-daerah terpencil di seluruh dunia.
  4. Saat ini Google terus bergerak dalam usahanya mengembangkan teknologi internet agar lebih maju lagi. Pasalnya pihaknya selalu memberikan akses Internet kepada orang-orang dari sudut terpencil yang ada di planet ini. Sebentar lagi Google akan memberikan gebrakan terbaru yaitu meluncurkan satelit untuk menyediakan akses internet. Diperkirakan perusahaan raksasa yang berbasis di AS ini nantinya akan menggunakan dana sebesar $1 milyar untuk pengembangan proram tersebut. Menurut sebuah sumber terpercaya perusaahaan ini nantinya akan meluncurkan sekitar 180 satelit kecil yang memiliki kekuatan sangat luar biasa. Dimana satelit ini nantinya akan terbang dalam orbit rendah daripada satelit konvensional. Untuk investasinya sendiri diperkirakan akan menghabiskan uang sebesar 1 hingga 3 miliar dolar Amerika. Bisa kita bayangkan betapa canggihnya satelit yang akan diresmikan ini. Dengan biaya yang sangat fantastis tersebut sudah pasti Google akan memberikan hasil maksimal bagi semua pengguna internet yang ada di dunia ini. Memang pihak perusahaan tak menampik bahwa biaya sebesar itu digunakan untuk pembiayaan pengadaan satelit yang terbilang mahal. Biaya yang tepat dari satelit ini akan tergantung pada kapasitas mereka dan peralatan teknologi yang akan digunakan. Sampai dengan saat ini peralatan yang akan digunakan memang beluum ada namun mereka sudah bersiap untuk menyediakan peralatan tersebut. Perusahaan Google berharap rencana peluncuran ini dapat berjalan dengan lancar. Ini bukanlah proyek pertama yang dilakukan oleh perusahaan Amerika untuk menyediakan akses internet mudah bagi semua penduduk bumi. Sebelumnya Google telah melakukan beberapa gebrakan baru untuk senantiasa memudahkan kita berkomunikasi dengan seluruh manusia yang ada di bumi. Beberapa proyek yang dilakukan oleh perusahaan ini antara lain adalah proyek Loon Project, dimana internet akan dilancarkan dengan menggunakan balon. Sedangkan baru-baru ini Google juga mmebeli Titan Aerospace. Dimana alat tersebut digunakan untuk memancarkan internet. Dan untuk peluncuran 180 satelit ini memang masih rencana, meskipun demikian mereka yakin proyek satu ini juga akan berhasil untuk dijalankan. Semoga info menarik ini dapat menambah wawasan anda dan kami pastikan anda akan dapat menikmati akses internet lebih mudah dan cepat.
  5. Sepanjang sejarah, satelit milik Indonesia yang telah diluncurkan mencapai 13 satelit. Selama 36 tahun sejak pertama kali Satelit Indonesia mengorbit pada 1976, tiga satelit gagal beroperasi secara penuh, yaitu Satelit Palapa B2 gagal mengorbit saat peluncuran, Satelit Palapa C1 yang hanya mampu beroperasi selama dua tahun karena masalah pengisian baterai, serta Satelit Telkom-3 yang hilang sebelum sampai pada orbitnya. Jejak satelit Indonesia di ruang angkasa dimulai dari peluncuran Satelit Palapa A1 milik Perumtel (sekarang Telkom) pada 8 Juli 1976 dengan menggunakan roket Amerika Serikat, Hughes (HS-333). Satelit itu diluncurkan dari Kennedy Space center, Tanjung Canaveral, di atas pada slot orbit 83 derajat BT. Nama Palapa ini diambil dari “Sumpah Palapa”, yang pernah dicetuskan oleh Patih Gajah Mada dari Majapahit pada tahun 1334. Generasi satelit Palapa diluncurkan 1977, yaitu satelit milik Perumtel, Palapa A2, dengan roket yang sama seperti Palapa A1. Enam tahun kemudian, Perumtel kembali meluncurkan Satelit Palapa B1 pada 18 Juni 1983. Kali ini Perumtel menggunakan jasa roket Challenger F2 (STS-7) dan diluncurkan dengan menggunakan pesawat ulang alik. Satelit Palapa selanjutnya, Palapa B2 yang diluncurkan 3 Febuari 1984 dari wahana Challenger F4 (STS-41-B) yang gagal beroperasi dan dijemput oleh roket STS-51A pada NOvember 1984. Satelit ini kemudian dibeli dan didaur-ulang oleh Sattel Technologies yang kemudian dibeli kembali oleh Perumtel pada tahun 1990 dengan nama Palapa B2R. Satelit B2R sendiri diluncurkan pada 13 April 1990. Satelit Palapa selanjutnya, Palapa B2P, yang dimiliki oleh Perumtel dan Satelindo kemudian diluncurkan pada 21 maret 1987 menggunakan roket Delta 6925. Kemudian Telkom meluncurkan satelit Palapa B4, 14 Mei 1992 dari Kennedy Space Center, Amerika Serikat. Lalu satelit milik Satelindo, Palapa C1 diluncurkan. Generasi pertama Palapa C ini diproduksi oleh Hughes, Amerika Serikat dan diluncurkan pada 31 Januari 1996 dari Kennedy Space Center, Amerika Serikat dengan menggunakan roket Atlas 2AS. Satelit ini dimaksudkan sebagai pengganti Palapa B4 pada Orbit Geostasioner 113 derajat BT dengan rentang operasi selama 7 tahun. Namun, satelit ini hanya berusia dua tahun saja, karena mengalami kegagalan pengisian baterai pada 24 November 1998. Satelit Palapa C1 pun dinyatakan tidak layak beroperasi. Berikutnya, Satelindo dan Indosat meluncurkan satelit Palapa C2 padav15 Mei 1996 dengan roket Ariane-44LH10-3. Satelit buatan Hughes (HS-601) ini diluncurkan dari Kourou, Guyana Prancis. Satelit ini beroperasi pada Orbit Geo Stasioner slot 113 derajat BT di ketinggian 36.000 km di atas permukaan bumi. Operasional satelit ini berpindah tangan ke PT. Indosat Tbk, setelah penggabungan Satelindo dengan Indosat. Untuk memberi tempat bagi Satelit Palapa D, orbit satelit ini dipindah ke 105,5 derajat BT. Menjelang akhir 1997, Indovision meluncurkan satelit Cakrawala I pada 12 November 1997 dengan roket Ariane-44LH10-3. Satelit buatan Orbital Sciences Corporation (OSC) (Star-1) diluncurkan dari Kourou, Guyana Prancis. Pada 1999, Telkom meluncurkan satelit keduanya. Telkom-1 yang dibuat Lockheed Martin (A2100A) dengan menggunakan roket Ariane IV, satelit ini memiliki masa operasi hingga 2016. Pada 2000, Asia Cellular Satelite (ACeS) meluncurkan satelit Garuda-1 yang memiliki masa operasi sampai 2015. Satelit buatan Lockheed Martin diluncurkan menggunakan roket Proton K Blok-DM3 dari Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan. Enam tahun setelah Telkom-1, Satelit Telkom-2 diluncurkan dari Kourou, Guyana Prancis menggunakan roket Ariane V. Sampai saat ini satelit ini masih beroperasi. Buatan Indonesia Pada 2006, satelit pertama buatan Indonesia, INASAT-1 diluncurkan. Satelit ini merupakan satelit metodologi penginderaan untuk memotret cuaca buatan LAPAN. INASAT-1 menggunakan komponen elektronik berukuran kecil, dengan berat sekitar 10-15 Kg. Kehadiran satelit ini dirancang untuk mengumpulkan data yang berhubungan erat dengan data lingkungan maupun rumah tangga yang digunakan untuk mempelajari dinamika gerak serta penampilan sistem satelit. Satelit ini dirancang bersama oleh PT.Dirgantara Indonesia dan LAPAN. Dari segi dinamika gerak akan diketahui melalui pemasangan sensor gyrorate tiga sumbu. Sehingga dalam perjalanannya akan diketahui bagaimana perilaku geraknya. Penelitian dinamika gerak ini menjadi hal yang menarik untuk satelit-satelit ukuran Nano yang terbang dengan ketinggian antara 600-800 km. LAPAN tidak berhenti di situ saja. Bekerja sama dengan Universitas Teknik Berlin (Technische Universität Berlin; TU Berlin), LAPAN membuat satelit LAPAN-TUBSAT. Ini adalah satelit mikro pertama Indonesia. Wahana yang dirancang berdasarkan satelit lain bernama DLR-TUBSAT, dan menyertakan sensor bintang yang baru. Satelit LAPAN-TUBSAT yang berbentuk kotak dengan berat 57 kilogram dan dimensi 45 x 45 x 27 cm ini akan digunakan untuk melakukan pemantauan langsung situasi di Bumi seperti kebakaran hutan, gunung berapi, banjir, menyimpan dan meneruskan pesan komunikasi di wilayah Indonesia, serta untuk misi komunikasi bergerak. LAPAN-TUBSAT membawa sebuah kamera beresolusi tinggi dengan daya pisah 5 meter dan lebar sapuan 3,5 kilometer di permukaan Bumi pada ketinggian orbit 630 kilometer serta sebuah kamera resolusi rendah berdaya pisah 200 meter dan lebar sapuan 81 kilometer. Pada 2009, PT Media Citra Indostar (MCI) yang mengelola dan mengoperasionalisasi satelit Indovision meluncurkan Indostar II atau Cakrawarta II. Satelit ini diluncurkan dengan menggunakan roket peluncur Proton-Briz milik Rusia dan lepas landas melalui Baikonur Cosmodome di Kazahkstan. Peluncuran satelit Indostar II ini terjadi pada tanggal 16 Mei 2009. Kehadiran Satelit Indostar II ini adalah untuk menggantikan Satelit Indostar I (Cakrawarta 1) yang telah sebelas tahun melayani Indovision dan habis masa orbitnya pada tahun 2008. Melenceng Pada 2009, Indosat meluncurkan satelit Palapa D dari Xichang Satellite Launch Center (XSLC) menggunakan roket Long March (Chang Zheng) 3B. Satelit ini dibuat oleh Thales Alenia Space, Perancis, dan dimaksudkan sebagai pengganti satelit Palapa C2 pada Orbit Geostasioner slot 113º BT yang akan selesai masa operasionalnya pada tahun 2011. Walaupun diluncurkan dari Cina, pusat kendali satelit tetap berada di Stasiun Bumi Jatiluhur, di Purwakarta, Jawa Barat yang dimiliki Indosat. Roket peluncur satelit ini sempat mengalami kegagalan dalam menempatkan Palapa D pada orbitnya. Namun pihak Thales Alenia mengendalikan satelit tersebut dan mengembalikannya ke jalur orbit aslinya. Meski sukses, operasi satelit Palapa D berkurang menjadi 10 tahun dari usia 15 tahun yang direncanakan. Awal pekan ini, Satelit Telkom-3 yang diproduksi ISS Reshetnev Rusia gagal mencapai orbit dan menghilang. Satelit yang diluncurkan dari Cosmodrome Baikonur di Kazakhstan dengan menggunakan roket Proton-M. Sedianya Satelit Telkom-3 ini direncanakan mengorbit bumi selama 15 tahun dengan membawa 42 transponder yang terdiri dari 32 transponder C-Band dan 10 transponder Ku-Band dengan massa 1,6 ton dan berdaya 5,6 Kilo Watt. (berbagai sumber)
  6. Bagian dari Proton-M diperkirakan akan masuk atmosfer beberapa bulan ke depan Roket milik Rusia Proton-M gagal membawa dua satelit, termasuk milik Telkom asal Indonesia, mencapai orbit. Bagian dari roket ini, Briz-M booster, diperkirakan tetap terbang di luar angkasa selama lima bulan. Seorang sumber di industri roket Rusia mengatakan kepada Kantor Berita Rusia, RIA Novosti, booster tersebut akan mendekati dan masuk ke lapisan atmosfer, setelah lima bulan 'mengambang' di angkasa raya. Senin lalu, Rusia meluncurkan roket Proton-M dengan peluncur Briz-M. Roket ini membawa satelit Telkom-3 and the Express MD2 dari Baikonur Space Center, Kazakhstan. Tapi, peluncuran ini gagal menyusul malfungsi mesin. Menurut Strategic Command Amerika Serikat, saat ini ada empat obyek dengan orbit yang mirip peluncuran Proton-M. Sumber RIA Novosti menduga keempat obyek itu adalah booster Briz-M, sebuah tangki tambahan, dan dua satelit yang dibawa Proton-M. "Mereka terpisah, tapi sistem kontrol berfungsi," kata sumber tersebut sambil menambahkan bahwa sistem kontrol satelit sudah diaktifkan. "Mereka seharusnya merespons komando." Akibat kegagalan ini, Badan Antariksa Rusia Roscosmos membekukan sementara waktu peluncuran Proton-M dengan Briz-M booster. Kedua satelit yang gagal dibawa tersebut sedianya akan melayani TV broadcast di Indonesia. Satelit Telkom-3 dibangun perusahaan roket Rusia, Reshetnev, dengan peralatan telekomunikasi dari Thales Alenia Space. Sementara Express MD2 merupakan satelit kecil yang didesain oleh Khrunichev State Research and Production Space Center untuk Russian Satellite Communications Company (RSCC). Kedua satelit ini masuk asuransi Russian Ingosstrakh and Alfa Strakhovanie. Sumber: http://teknologi.news.viva.co.id
  7. jokers

    Satelit

    Saat ini pertukaran informasi dapat berlangsung dengan cepat. Kamu bisa mendapatkan berita dari belahan dunia lain dengan cepat menggunakan televisi ataupun internet, kamu juga bisa berbicara lewat telepon dengan temanmu yang jaraknya ribuan kilometer. Hal tersebut menjadi mungkin karena adanya satelit yang ditempatkan di luar angkasa. Tahukah kamu apa itu satelit? Yuk kita cari tahu. Satelit adalah benda yang mengelilingi planet dengan periode revolusi dan rotasi tertentu dan memiliki orbit peredaran sendiri. Kamu tahu tidak, orbit itu apa?? Orbit merupakan titik lintasan/jalur peredaran satelit dalam mengelilingi sebuah planet. Dalam orbit terdapat dua istilah, yaitu apogee (titik terjauh dengan bumi) dan perigee (titik terdekat dengan bumi). Terdapat dua jenis satelit yaitu satelit alami dan satelit buatan. Satelit alami adalah benda-benda luar angkasa alami (bukan buatan manusia) yang mengorbit pada sebuah planet atau benda lain yang lebih besar daripada dirinya. Salah satu contoh satelit alami yang dimiliki bumi adalah bulan. Sedangkan Satelit buatan adalah benda buatan manusia yang diluncurkan ke luar angkasa dan beredar mengelilingi planet. Salah satu contoh satelit buatan yang dimiliki Indonesia adalah Satelit Palapa. Satelit buatan memiliki berbagai macam kegunaan seperti untuk tujuan telekomunikasi, mata-mata (militer), penelitian, pengamatan bumi dan benda-benda luar angkasa, dan sebagainya. Satelit buatan juga terdiri dari bermacam-macam jenis loh, tergantung dari fungsinya masing-masing. Berikut ini adalah beberapa contoh satelit buatan: Satelit astronomi: satelit yang digunakan untuk mengamati planet, galaksi, dan benda luar angkasa lainnya. Satelit komunikasi: satelit buatan yang dipasang di angkasa dengan tujuan telekomunikasi. Satelit pengamat bumi:satelit yang dirancang khusus untuk mengamati bumi seperti pengamatan lingkungan, meteorologi, pembuatan peta, dan lain sebagainya. Satelit navigasi: satelit yang menggunakan sinyal radio yang disalurkan ke penerima dipermukaan tanah untuk menentukan lokasi sebuah titik dipermukaan bumi seperti mengukur jarak antar bangunan. Satelit mata-mata: satelit pengamat bumi yang digunakan untuk tujuan militer atau mata-mata. Satelit cuaca: satelit yang diguanakan untuk mengamati cuaca dan iklim di bumi. Selain itu, masih banyak lagi jenis-jenis satelit buatan lainnya yang dimanfaatkan untuk keperluan manusia. Saat ini teknologi satelit semakin terus berkembang dan kemungkinan besar di masa yang akan datang akan bermunculan satelit-satelit lainnya yang lebih canggih. Dari berbagai sumber
×
×
  • Create New...