Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'sampah'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

There are no results to display.

There are no results to display.

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 5 results

  1. Dengan tema penyelamatan lingkungan hidup, Adidas rilis produksi dari material sampah laut yang telah didaur ulang. Seperti apa? Adidas bekerjasama dengan Parley For The Oceans untuk membuat produk sepatu yang terbuat dari material sampah-sampah di lautan yang didaur ulang. Mengutip HuffingtonPost, sepatu ini dibuat dari bahan pukat dan material-material buangan lainnya yang ditemukan di lautan oleh pihak Sea Shepherd (rekan dari Parley). Produk sepatu Adidas 'daur ulang' ini dipresentasikan di forum PBB, sebagai bagian dari seri perbincangan usaha konservasi lautan dari pihak Parley.Pihak Adidas mengatakan bahwa mereka berencana untuk menggunakan material plastik daur ulang ke produk mereka, mulai tahun 2016.
  2. 'Dunia' di luar Bumi tentunya tak hanya diisi oleh planet-planet lain yang berjejer di dalam sistem tata surya, serta tidak melulu soal komet atau asteroid, namun juga puing antariksa yang biasa disebut sebagai space junk. Siapa sangka, Bumi kita telah dikelilingi oleh jutaan puing antariksa sejak era 1950-an. Menurut Orbital Debris Program (ODP) dari badan antariksa Amerika Serikat, NASA, sejak tahun 1957 ada jutaan puing atau sampah antariksa yang terdiri dari beragam ukuran. Sejak satelit Rusia yang bernama Sputnik diluncurkan ke luar angkasa pada Oktober, 58 tahun lalu, badan antariksa dari berbagai negara mulai sering mengirim objek ilmiah lain agar mengorbit di sekitar Bumi. Semakin banyak objek atau instrumen ilmiah yang mengangkasa di sekitar orbit Bumi, maka menghasilkan 'badai' puing antariksa yang jumlahnya seakan kian meningkat. ODP pun menunjukan data bahwa saat ini ada sekitar 21 ribu potongan sampah dengan diameter ukuran lebih dari 10 sentimeter yang mengelilingi orbit Bumi. Kemudian untuk puing ukuran 1-10 sentimeter tercatat berjumlah 500 ribu potong. Yang lebih parahnya lagi, sampah berukuran kurang dari 1 sentimeter yang 'menghiasi' orbit Bumi jumlahnya sebanyak 100 juta. Mungkin membayangkan ukuran sekecil 1 sentimeter akan terdengar sepele, tapi nyatanya tidak semudah itu. Mengutip situs CNet, partikel sampah mungil tersebut mampu melintas dengan kecepatan mencapai 28.163 kilometer per jam dan bisa disebut cukup berbahaya. "Bahkan sampah kecil bisa merusak pesawat antariksa jika mereka sedang melintas pada kecepatan tinggi," ungkap NASA. "Malah sejumlah jendela pesawat luar angkasa harus diganti karena rusak akibat sampah-sampah mungil ini." Berikut video yang dirilis ke YouTube oleh seorang dosen sains dari University College London, Stuart Grey yang menampilkan ilustrasi dari jutaan 'gempuran' dramatis sampah antariksa di sekitar orbit Bumi selama enam dekade. Diketahui Grey menggunakan data dari kelompok Space-Track yang khusus memonitor sampah antariksa.
  3. Timbunan sampah selalu menjadi masalah kota metropolitan manapun di dunia, termasuk di kota New York, AS. Setiap bulannya, kota ini mendaur ulang 20 ton sampah plastik, logam dan gelas. Reporter VOA Patsy Widakuswara mengajak anda mengunjungi fasilitas persampahan canggih di wilayah Brooklyn. VOA Indoensia: http://www.voaindonesia.com Ngobas: http://ngobas.com
  4. Mungkin kamu nggak pernah membayangkan makan di tengah-tengah tumpukan sampah. Apalagi menikmati sajian yang memiliki nama-nama erotis. Kamu penggemar makan di restoran dengan konsep unik? Tujuh restoran unik di dunia yang akan memberikan pengalaman memukau bagi para pelanggannya. Restoran Alcatrazer - Jepang Tempat makan yang memiliki konsep bertema horor sudah banyak di dunia. Namun Alcatrazer memberikan hawa misterius dengan benar-benar menghadirkan suasana rumah berhantu dan rumah sakit yang seperti neraka. Minuman disajikan dalam bentuk jarum suntik. Mungkin ini akan mengurangi nafsu makan kamu, tapi percaya sensasi ini membuat kamu nggak bisa melupakannya. Restoran Bei Tou Incinerator - Taiwan Konsep rumah makan di cerobong asap menjadi daya tarik restoran yang terletak di ibukota Taiwan ini. Bukan hanya soal cerobong asap, hal lain ditambahkan buat mendukung temanya sebagai tempat pembuangan sampah. Berada di atas kompleks pembuangan limbah yang didukung dengan proses pembakaran sampah di bawahnya. Walaupun begitu, bau sampah yang menyengat disekitar nggak sampai tercium ke dalam berkat penyaring udara yang sudah disiapkan. Tapi apakah kamu bisa melupakan bau menyengat dan sensasi makan di atas tumpukan sampah. Restoran Seks - Taiwan Banyak yang beranggapan konsep makanan yang digabungkan dengan seks adalah sesuatu yang menarik. Bagi kamu yang menyukainya dapat berkunjung ke restoran yang terletak di Kaohsiung, Taiwan ini. Unsur-unsur erotis dikombinasi dengan hidangan yang disajikan lewat nama-nama menunya. Bagi kamu yang suka konsep baru buat menemani menghabiskan santapan, restoran restoran di atas bisa menjadi referensi buat pengalaman tak terlupakan.
  5. Solusi meredam peredaran sampah plastik ialah menghentikan pemakaian barang plastik sekali pakai. Sekitar delapan juta ton sampah plastik beredar di lautan dunia setiap tahun, menurut riset yang dikemukakan pada pertemuan tahunan American Association for the Advancement of Science (AAAS). Dr Jenna Jembeck, kepala tim ilmuwan dari Universitas Georgia, AS, berupaya mengetahui seberapa banyak sampah plastik yang beredar di lautan dunia dengan mengumpulkan data internasional mengenai populasi, sampah yang dihasilkan, tata kelola sampah, dan kesalahan dalam mengelola sampah. Dari data-data tersebut, Jembeck dan rekan-rekannya menciptakan beberapa model skenario untuk mengestimasi kemungkinan jumlah plastik yang masuk ke laut. Untuk tahun 2010, misalnya, jumlah sampah diperkirakan mencapai 4,8 hingga 12,7 juta ton. Batas bawah yang ditetapkan sebesar 4,8 juta ton itu kurang lebih sama dengan jumlah ikan tuna yang ditangkap di seluruh dunia "Kita seperti mengambil ikan tuna dan menggantikannya dengan plastik," komentar salah satu peserta studi Kara Lavender Law dari Sea Education Assocation di Woods Hole. Dari kisaran 4,8 juta ton hingga 12,7 juta ton, para ilmuwan menetapkan 8 juta ton sebagai perkiraan rata-rata. Jumlah itu hanyalah sekian persen dari total sampah plastik yang dihasilkan penduduk dunia setiap tahun. "Kuantitas sampah plastik yang ditemukan di laut sama dengan sekitar lima kantong belanja berisi plastik untuk setiap meter garis pantai di dunia," kata Jembeck. Produksi sampah Dalam kajian yang juga diterbitkan Science Magazine tersebut, para peneliti telah membuat daftar negara-negara yang punya andil atas sampah plastik di lautan. Sebanyak 20 negara teratas dalam daftar bertanggung jawab atas 83% dari semua sampah yang berujung di lautan. Cina, yang menghasilkan lebih dari satu juta ton sampah di laut, bertengger pada posisi puncak daftar tersebut. Posisi Cina itu, menurut para peneliti, merupakan konsekuensi dari jumlah penduduk Cina yang banyak dan sebagian besar tinggal di sepanjang garis pantai. Demikian juga Amerika Serikat yang masuk 20 besar dalam daftar itu. Kendati AS memiliki pengelolaan sampah yang lebih baik, volume sampah yang dihasilkan oleh masing-masing individu di sana luar biasa banyak. Jumlah sampah plastik sama dengan lima kantong belanja berisi plastik untuk setiap meter garis pantai dunia. Solusi Sebagai solusi, Dr Jembeck dan rekan-rekannya mengimbau kepada negara-negara kaya agar mengurangi konsumsi barang-barang plastik sekali pakai, seperti tas belanja. Adapun negara-negara berkembang harus meningkatkan praktik pengelolaan limbah mereka. Hal ini terbukti dari daftar yang termasuk beberapa negara-negara yang sedang berkembang pesat dan memiliki pendapatan menegah yang sedang mengalami kesulitan akut. “Saat ini pertumbuhan ekonomi memang positif, namun yang sering Anda lihat di negara-negara berkembang adalah infrastruktur pengelolaan sampah dikesampingkan. Dan memang demikian karena mereka lebih peduli pada mendapatkan air minum bersih dan meningkatkan sanitasi. "Namun dari perspektif limbah, saya tidak ingin mereka melupakan masalah pengelolaan ini karena bila dilupakan hanya akan bertambah buruk,” kata Dr Jembeck. Studi ini menunjukkan bahwa bila sampah plastik dibiarkan, 17,5 juta ton plastik per tahun dapat memasuki lautan pada 2025. Bila jumlah sampah plastik diakumulasikan dari tahun ini sampai 2025 , sedikitnya 155 juta ton plastik akan beredar di lautan. Salah satu peneliti lain, Roland Geyer dari University of California di Santa Barbara, mengatakan membersihkan lautan dari sampah plastik sangatlah tidak mungkin. “Menghentikan membuang sampah ke laut dari awal merupakan satu-satunya solusi. Bagaimana mungkin Anda membersihkan plastik di dasar laut yang rata-rata kedalamannya mencapai 4.200 meter?”
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy