Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'resiko'.

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • CLINIC NGOBAS
    • Coronavirus
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • Ngocol
    • Ngocol Video
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • ABOUT NgobasTV
    • EVENT
    • WESER
    • LAPOR KOMANDAN

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Categories

  • Files
    • Website
    • Smartphone
  • Games
  • E-Book

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 5 results

  1. Masturbasi sebenarnya merupakan aktivitas seksual yang umum dan aman untuk dilakukan. Masturbasi bahkan bisa memberikan beragam manfaat bagi kesehatan. Di sisi lain, aktivitas ini kerap dikaitkan dengan gangguan produksi sperma hingga gangguan kejiwaan. Benarkah demikian? Masturbasi atau onani adalah tindakan memberikan rangsangan seksual pada diri sendiri dengan cara menyentuh, meraba, atau memijat organ kelamin. Tujuannya adalah untuk mencapai orgasme atau klimaks, layaknya berhubungan intim dengan pasangan. Pria biasanya melakukan masturbasi dengan menyentuh dan memijat penisnya, sedangkan wanita melakukan masturbasi dengan menyentuh dan memainkan area sensitif, seperti klitoris, vagina, dan puting payudara. Berbagai riset menyebutkan bahwa sekitar 70–90% pria dan wanita pernah melakukan masturbasi dan sekitar 25% rutin melakukannya setiap minggu. Hal ini menunjukkan bahwa masturbasi merupakan aktivitas seksual yang umum dilakukan. Manfaat Masturbasi bagi Kesehatan Walau penelitian mengenai manfaat masturbasi bagi kesehatan masih sangat terbatas, tetapi aktivitas seksual ini terbukti mampu membuat tubuh dan pikiran menjadi lebih rileks. Ada beberapa manfaat kesehatan yang dapat diperoleh dari melakukan masturbasi, antara lain: 1. Meredakan stres dan memperbaiki suasana hati Orgasme melalui masturbasi atau berhubungan intim bisa menjadi salah satu cara untuk melepas stres. Saat mencapai orgasme, tubuh akan melepaskan hormon dopamin dan endorfin yang bisa menimbulkan perasaan senang, nyaman, dan rileks. 2. Mengurangi nyeri Selain mengatasi stres dan memperbaiki suasana hati, masturbasi juga bisa bermanfaat untuk mengurangi nyeri. Ketika mencapai orgasme, tubuh akan menghasilkan hormon serotonin, dopamin, dan endorfin. Selain bisa menimbulkan rasa tenang dan nyaman, hormon tersebut juga bisa meredakan rasa nyeri. 3. Memperbaiki kualitas tidur Keluhan susah tidur atau insomnia bisa disebabkan oleh banyak hal, termasuk stres dan rasa cemas berlebihan. Apabila merasa susah tidur, Anda bisa mencoba masturbasi guna mencapai orgasme. Ketika mencapai klimaks, tubuh akan merasa lebih nyaman dan tenang, sehingga Anda lebih mudah tertidur. 4. Meningkatkan gairah seksual Tak hanya bisa dilakukan sebagai cara mencapai orgasme secara mandiri, masturbasi juga bisa dilakukan debagai salah satu teknik foreplay. Dengan melakukan masturbasi, Anda dan pasangan bisa merasa lebih bergairah saat berhubungan intim. Tak hanya itu, masturbasi juga bisa dilakukan bersama pasangan ketika Anda atau pasangan sedang bosan dengan seks penetrasi. 5. Mengatasi ejakulasi dini Pria yang mengalami keluhan ejakulasi dini bisa mencoba lebih sering masturbasi untuk mengatasi keluhan tersebut. Saat sedang melakukan masturbasi, cobalah cara stop-squeeze, yaitu dengan menahan ejakulasi saat akan mencapai orgasme. Coba rangsang penis dan tahan saat akan ejakulasi. Ulangi hingga 3–4 kali. Pada kasus tertentu, masturbasi juga bisa bermanfaat untuk mengatasi masalah seksual, seperti disfungsi seksual. Selain itu, masturbasi pun bisa dicoba sebagai salah satu cara mendapatkan orgasme bagi wanita. 6. Menurunkan risiko terjadinya kanker prostat Ada riset yang menyebutkan bahwa ejakulasi secara rutin, baik melalui masturbasi atau hubungan seks, bisa menurunkan risiko terjadinya kanker prostat. Riset tersebut menyebutkan bahwa pria yang rutin ejakulasi setidaknya 21 kali dalam 1 bulan berisiko lebih rendah untuk terkena kanker prostat. Meski bermanfaat, masturbasi tidak disarankan untuk dilakukan terlalu sering karena bisa membuat Anda mengalami kecanduan masturbasi. 7. Meredakan keluhan saat hamil Perubahan hormon selama kehamilan menyebabkan beberapa wanita hamil merasakan gairah seksual yang meningkat, tetapi takut atau tidak nyaman untuk berhubungan intim dengan pasangannya. Oleh karena itu, masturbasi saat hamil dapat bisa menjadi alternatif aman untuk melepaskan ketegangan seksual selama kehamilan. Aktivitas seksual ini juga dapat meringankan gejala kehamilan, seperti nyeri punggung bawah. Meski demikian, selama dan beberapa saat setelah orgasme, sebagian wanita hamil umumnya akan merasakan kram ringan. Risiko Masturbasi yang Perlu Diketahui Walau dapat memberikan beberapa manfaat, masturbasi juga bisa berisiko, terutama jika dilakukan terlalu sering, kasar, atau dengan cara yang salah. Berikut ini adalah beberapa risiko masturbasi yang penting Anda ketahui: Luka pada organ intim Pada pria, masturbasi yang dilakukan terlalu sering atau kencang bisa menyebabkan penis mengalami cedera atau terluka. Sedangkan pada wanita, masturbasi terlalu sering atau kasar bisa menyebabkan vagina atau klitoris terluka, bengkak, dan iritasi. Penularan penyakit menular seksual Meski tergolong aman, masturbasi tetap berisiko menimbulkan dampak negatif, termasuk risiko terkena penyakit menular seksual. Hal ini bisa terjadi ketika seseorang melakukan masturbasi setelah ia menyentuh kelamin, air mani, atau cairan vagina dari penderita penyakit tersebut. Selain itu, penyakit menular seksual juga bisa menular melalui pemakaian sex toys, seperti vibrator atau dildo, yang digunakan bergantian dengan orang lain. Kecanduan masturbasi Masturbasi yang dilakukan sesekali untuk melepas hasrat seksual adalah hal yang normal dilakukan. Namun, masturbasi terkadang bisa menimbulkan ketergantungan atau adiksi. Seseorang bisa dikatakan mengalami kecanduan masturbasi bila kesulitan atau bahkan tidak bisa berhenti melakukannya setiap hari dan terlalu banyak menghabiskan waktu untuk masturbasi hingga mengganggu aktivitas dan interaksi dengan orang lain. Selain itu, terlalu sering melakukan aktivitas masturbasi juga dapat menimbulkan masalah lain, seperti sulit mencapai orgasme saat berhubungan intim. Tips agar Masturbasi Tetap Aman dan Sehat Agar tetap nyaman dan aman saat masturbasi, Anda disarankan untuk mengikuti beberapa tips berikut ini: Cuci tangan sebelum menyentuh organ intim dan setelah orgasme. Gunakan pelumas sesuai kebutuhan, misalnya untuk kondisi vagina kering atau penis yang kurang sensitif. Coba gunakan sex toys saat masturbasi, tapi pastikan alat yang digunakan bersih dan tidak digunakan bergantian dengan orang lain. Masturbasi adalah aktivitas seksual yang normal dan alami untuk dilakukan. Selain bisa membuat Anda mencapai orgasme saat sedang jauh dari pasangan, aktivitas ini juga bisa membuat hubungan intim Anda dan pasangan semakin bergairah. Namun, Anda perlu waspada bila masturbasi membuat Anda sulit mencapai orgasme saat berhubungan intim dengan pasangan, menimbulkan kecanduan, atau merasakan keluhan tertentu setelah masturbasi, seperti nyeri atau perdarahan di organ intim. Apabila masalah yang timbul karena masturbasi sudah mengganggu kehidupan Anda sehari-hari, sebaiknya periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan.
  2. Berjalan dengan kecepatan lambat bisa menjadi indikasi awal penyakit alzheimer. Di masa depan, kecepatan berjalan akan digunakan bersama dengan tes memori dan kriteria diagnostik lain untuk menilai risiko seseorang terkena demensia, kata para ilmuwan seperti dilaporkan oleh Independent. Sebuah studi menemukan hubungan antara kecepatan berjalan khas orang tua dan jumlah protein yang dibangun di otak dengan tanda-tanda awal demensia. Para ilmuwan mengatakan, kecepatan berjalan yang lambat pada orang-orang alzheimer mungkin berhubungan dengan perubahan dalam otak yang terjadi sebelum timbulnya penyakit. “Ada kemungkinan gangguan berjalan ringan merupakan masalah memori yang menandakan penyakit alzheimer, bahkan sebelum orang tersebut menunjukkan gejala klinis,” kata pemimpin penelitian Natalia del Campo dari Rumah Sakit Universitas Toulouse di Perancis. Studi yang diterbitkan dalam jurnal online Neurology ini menganalisis otak pada 128 manusia yang rata-rata berusia 76 tahun. Para peserta tidak memiliki demensia, tapi memiliki gejala gangguan memori. Hasil pemindaian medis menganalisis kadar protein amyloid, yakni prekursor (senyawsa pendahulu) alzheimer, yang secara signifikan berkorelasi dengan kecepatan berjalan rata-rata. Laura Phipps dari Pusat Penelitian Alzheimer Inggris berujar, “Ada banyak alasan kenapa kecepatan berjalan seseorang lambat, tapi penting untuk mengeksplorasi mengapa dan kapan perubahan itu terjadi pada penyakit seperti alzheimer dan bagaimana mereka dapat mengelolanya.” Louise Walker dari Masyarakat Alzheimer berkata, “Riset menunjukkan bahwa orang-orang dengan penyakit alzheimer mengalami kesulitan berjalan, tapi masih belum jelas apakah itu disebabkan oleh kondisi itu sendiri atau faktor-faktor lain, terutama yang berkaitan dengan penuaan.” Menurutnya, penelitian jangka panjang masih diperlukan untuk menentukan apakah penumpukan protein amyloid, yang merupakan ciri penyakit alzheimer, berefek pada kecepatan berjalan yang lambat.
  3. Aktivitas memotret diri sendiri tanpa bantuan orang lain atau foto selfie sedang tren di kalangan remaja yang berupaya memuaskan hasrat dokumentasi diri di sebuah lokasi. Tetapi, aksi selfie ini bisa pula menimbulkan malapetaka. Sudah banyak kejadian nahas akibat selfie. Insiden selfie terbaru menimpa seorang turis Jepang usia 66 tahun yang meninggal karena jatuh dari tangga saat ia berusaha berfoto di Taj Mahal, India. Ada pula kecelakaan yang menimpa pilot Cessna 150 pada Februari lalu di Colorado, AS karena ia dilaporkan sibuk selfie. Fenomena selfie pun kemudian dianggap lebih berbahaya ketimbang kematian yang disebabkan oleh serangan hiu di laut. Menurut data The Huffington Post, insiden selfie tahun 2015 ini menelan banyak korban sebanyak 12 kematian dibanding delapan kematian akibat serangan hiu. Menyadari ada bahaya 'terselubung' dari aktivitas selfie, beberapa pemerintah negara seperti Rusia tergerak untuk merilis kampanye mengenai selfie yang aman. Tips tersebut disampaikan dalam ilustrasi seperti rambu dilarang masuk. Di antaranya adalah larangan selfie di perahu, di atap rumah, tengah jalan, sambil memegang senjata, di depan binatang buas dan di rel kereta. Juni ini, Uni Eropa turut mengeluarkan larangan selfie dan pengunggahan foto tempat terkenal seperti Menara Eiffel ke media sosial. Awal September kemarin, seorang pemuda 19 tahun di Houston tak sengaja menembak diri sendiri ketika hendak selfie dengan mengacungkan pistol ke arah kepalanya. Pada Juni lalu, adapun dua orang tewas di Pegunungan Ural, yang terbentang sepanjang Kazakhstan dan Rusia, setelah mengambil selfie ketika sedang menarik pin granat. Di bulan yang sama, seseorang berumur 21 tahun tewas setelah mengambil selfie di Jembatan Moskow dan terjatuh. Tak hanya itu, lima orang tewas karena selfie terlalu dekat dengan kawanan bison di Taman Nasional Yellowstone, AS. Kegiatan selfie mulai populer sejak tahun 2014 dan awalnya dianggap bermanfaat demi mengabadikan suatu momen. Tahun 2014 disebut sebagai ‘Tahun Selfie’ saking meluasnya tren ini seiring berkembangnya pula ponsel pintar dengan kamera depan yang canggih.
  4. Siapa yang tidak suka makan mi instan? Sayangnya, kebiasaan itu bisa mendatangkan beberapa konsekuensi kesehatan yang serius loh ndral. Sebuah studi baru dari The Journal of Nutrition menunjukan, konsumsi mi instan yang dimasak dengan menambahkan air mendidih dari microwave dapat meningkatkan risiko yang disebut sindrom kardiometabolik. Sindrom ini menyebabkan penyakit jantung, diabetes, atau stroke. Populasi masyarakat Asia merupakan konsumsi mi terbanyak. Peneliti dari Baylor University melihat informasi diet dari National Korea Kesehatan dan Survei Pemeriksaan Gizi IV dari tahun 2007 sampai 2009. Mereka mengidentifikasi dua pola makan utama, yaitu yang pertama pola diet tradisional yang terdiri dari tinggi beras, ikan, sayuran, buah, dan kentang. Sedangkan, pola yang kedua yaitu daging dan makanan cepat saji pola yang terdiri dari, daging yang tinggi, soda, makanan gorengan, dan makanan kenyamanan seperti mie instan dan ramen. Tidak mengherankan, produk makanan yang kedua dikaitkan dengan tingkat obesitas yang lebih tinggi dan tingkat kolesterol jahat. Sedangkan produk makanan yang pertama dikaitkan dengan pembacaan tekanan darah yang lebih baik dan risiko yang lebih rendah dari obesitas, tetapi tidak menunjukkan hubungan yang jelas dengan risiko mengembangkan sindrom kardiometabolik. Namun, ketika peneliti memeriksa angka-angka untuk konsumsi mi instan khususnya, mereka menemukan bahwa mengkonsumsi mi setidaknya dua kali dalam minggu dikaitkan dengan insiden 68 persen lebih tinggi dari sindrom metabolik di kalangan perempuan, bahkan setelah disesuaikan untuk faktor-faktor lain seperti asupan natrium, estrogen, dan lingkar pinggang. Mengkonsumsi mie seminggu sekali dikaitkan dengan prevalensi 26 persen lebih tinggi dari kondisi tersebut. Itu berarti, mi membuat wanita rentan terkena jantung. Resiko ini tidak ada pada laki-laki. Peningkatan risiko kemungkinan hasil dari kalori tinggi, karbohidrat olahan, lemak jenuh, dan kandungan natrium biasanya ditemukan dalam mie instan. Perempuan khususnya mungkin rentan terhadap efek kesehatan negatif karena hormon yang mempengaruhi perempuan secara tidak proporsional dan perbedaan metabolik. Misalnya, kimia Bisphenol A (BPA), ditemukan dalam wadah styrofoam sering digunakan untuk paket mie instan. Bagi para wanita dainjurkan jangan terllau sering mengkonsumi mie karena mie membuat wanita rentan terkena jantung.
  5. Dono, Kasino dan sejumlah pelawak nomer wahid Indonesia yang lain punya kesamaan tragis, yakni mati muda. Kini ilmuwan di Australia mengungkap hubungan fatal antara selera humor dan kesehatan. Pertunjukan Komedi Monty Python Wahyu Sardono alias Dono dan rekannya dari Warkop DKI, Kasino Hadiwibowo, memiliki kesamaan selain selera humor yang segar, yakni meninggal dunia di usia muda. Kini ilmuwan memastikan hubungan antara kematian prematur dan selara humor. Institut Kesehatan milik Universitas Mary MacKillop di Australia menemukan, semakin lucu seseorang maka semakin dini pula ia bisa meninggal dunia. Professor Simon Stewart, salah seorang peneliti yang terlibat, mengatakan pelawak paling lucu adalah yang paling terancam. "Anda tidak bisa memiliki segala sesuatu yang baik tanpa ada hal buruk. Maka mereka ini memiliki kemampuan komedi yang sangat tinggi tapi secara pribadi, tidak sedikit yang menderita depresi atau penyakit mental lain," katanya. Stewart dan timnya tergerak oleh kasus kematian pelawak Amerika Serikat, Robin Williams, Agustus silam. Williams ditemukan tewas tak bernyawa dengan leher tergantung. Ia dikabarkan menderita depresi selama bertahun-tahun. Kepribadian di balik kejeniusan para pelawak ini "memiliki dampak besar pada kesehatan mereka," ujar Stewart. Selama penelitian, ilmuwan mempelajari riwayat kesehatan miliki 53 pelawak penutur bahasa Inggris, antara lain anggota Monty Python, grup lawak asal Inggris, serta Robin Williams. Dari 23 pelawak yang dinilai paling lucu, 78 persen di antaranya meninggal dunia secara prematur. Kelompok ini memiliki tingkat harapan hidup selama 63 tahun, atau sembilan tahun lebih muda ketimbang rata-rata manusia yang dianggap memiliki selera humor ala kadarnya.
×
×
  • Create New...