Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'rahim'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

There are no results to display.

There are no results to display.

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 2 results

  1. Joanna Giannouli (27) lahir dengan kondisi yang berbeda dari kebanyakan anak perempuan lainnya. Joanna lahir tanpa memiliki rahim, leher rahim dan vagina bagian atas. Ini adalah sindrom Rokitansky yang hanya terjadi pada satu dari 5.000 perempuan dan benar-benar memengaruhi hidup Joanna. Mulanya, ibu Joanna merasa khawatir karena Joanna yang sudah menginjak usia 14 tahun tidak juga mengalami menstruasi. Ibunya pun kemudian membawa Joanna untuk diperiksa oleh dokter. Akan tetapi, tidak banyak yang diketahui saat itu karena dokter laki-laki yang memeriksa Joanna tidak mau memeriksa bagian pribadi Joanna. Seiring berjalannya waktu, Joanna yang sudah berusia 16 tahun kembali dibawa ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan. Dari situ, pihak rumah sakit menyadari bahwa Joanna tidak memiliki saluran atau terowongan vagina dan menderita sindrom Rokitansky. Oleh karena itu, para dokter menyarankan Joanna untuk menjalani operasi pembuatan saluran agar alat kelamin Joanna bisa berfungsi. Proses ini tidak serta-merta berhasil karena Joanna perlu menjalani beberapa prosedur agar kondisi Joanna kembali normal. Prosedur yang dijalani Joanna ini tergolong sebagai sebuah prosedur operasi revolusioner di tempat tinggalnya, Athena. "Setelah itu, secara fisik saya baik-baik saja, tetapi tidak secara emosional," terang Joanna. Kondisinya yang berbeda dengan kebanyakan perempuan membuat Joanna merasa ada beban yang tak bisa hilang darinya. Kondisi fisik Joanna yang berbeda juga menggiringnya pada kegagalan menjalin hubungan dengan pria yang tepat. Di usianya yang ke-21, Joanna bahkan harus rela ditinggalkan oleh tunangannya karena ia tak bisa memiliki anak. Kondisi yang dialami Joanna tidak hanya menyisakan kepedihan pada dirinya. Ibu Joanna, dalam 10 tahun terakhir ini, juga sering menyalahkan dirinya sendiri atas kondisi yang dialami Joanna. Ibu Joanna merasa ia telah melakukan kesalahan selama masa kehamilan sehingga Joanna harus menanggung penderitaan. "Saya jelaskan kepadanya bahwa ia tidak melakukan kesalahan sama sekali. Kondisi ini disebabkan oleh gen," tambah Joanna. Meski cukup berat dan mendapatkan stigma miring dari lingkungannya karena tidak memiliki kondisi tubuh yang sempurna, Joanna tidak menyerah. Joanna berhasil bangkit dari depresi dan berbagai kondisi buruk yang sempat ia rasakan sejak didiagnosa dengan kelainan dalam tubuhnya. Kini Joanna tak lagi berpikir bahwa dirinya tidak berharga dan tidak patut dicintai. Sebaliknya, Joanna tumbuh menjadi sosok perempuan dengan pemikiran dewasa yang matang. Ia yakin kondisinya yang berbeda tidak membuatnya kehilangan nilai sebagai seorang manusia. Atas kondisinya ini, Joanna pun tidak ingin agar orang-orang di sekelilingnya memandangnya dengan rasa kasihan. Pasalnya, kini Joanna merasa baik-baik saja dan tidak dalam kondisi yang membahayakan kesehatan dan nyawanya. "Orang-orang melihat dengan ekspresi kasihan. Itu membuat saya merasa lebih sedih dengan diri saya sendiri," jelas Joanna. Kondisi Joanna pun tidak membuatnya berhenti bermimpi untuk menjadi seorang ibu. Bagi Joanna, menjadi seorang ibu tidak harus selalu terjadi secara biologis. Ibu, lanjut Joanna, merupakan sosok yang merawat seorang anak sejak kecil hingga tumbuh besar. Ketegaran Joanna pun menuntunya menemukan sosok pria yang mau menerima dirinya apa adanya. Tak ingin terulang lagi, Joanna mengungkapkan kondisi tubuhnya pada pasangannya di awal mereka memulai hubungan. Kini Joanna dan pasangannya telah menjalin hubungan yang stabil dan penuh cinta selama lima tahun terakhir. "Sejak awal dia tahu saya memiliki kondisi seperti ini dan dia memilih untuk bersama saya," ungkap Joanna bahagia.
  2. Setiap wanita pasti suatu saat ingin menjadi seorang ibu. Memiliki seorang anak dari rahimnya adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Seorang wanita bernama Hayley Haynes (28), dari Bedford, Inggris, pada usia 19 tahun didiagnosa oleh dokter bahwa dirinya memiliki kromosom XY. Hal ini berarti, bahwa Hayley secara genetik adalah seorang laki-laki. Dokter mengatakan bahwa, Hayley tidak akan pernah bisa hamil. Pada saat Hayley lahir, dirinya tidak memiliki rahim, indung telur atau tuba falopi. Setelah mendengar diagnosa dokter, Hayley merasa sangat sedih dan putus asa. Dia berpikir jika nanti pasti tidak ada pria yang mau menikahinya. Setelah Hayley dewasa, keadaan tubuhnya ini membuat dia terpukul. Hayley merasa tidak sempurna sebagai seorang wanita. Kasus yang menimpa Hayley ini, dalam dunia kedokteran disebut sindrom insensitivitas androgen. Sindrom langka ini terjadi pada satu dari 20.000 kelahiran di dunia. Hayley merasa separuh dari dirinya telah hilang. Seakan menjadi separuh wanita saja. Hayley berpikir, bagaimana bisa dia menceritakan tentang kondisinya kepada seorang pria. Pasti tidak ada laki-laki yang mau memperistrinya. Saat itu Hayley merasa hancur,hampa dan tak percaya diri. Hayley, sejak umur 16 tahun, memiliki seorang sahabat laki-laki bernama Sam. Sam selalu menghibur Hayley, agar dirinya mampu menghadapi setiap cobaan yang menimpanya. Akhirnya, saat Hayley berusia 22 tahun, hubungan persahabatan Hayley dan Sam pun makin dekat. Saat mereka pergi ke London, Sam meminta Hayley untuk menjadi kekasihnya. Sam mengatakan, bahwa dirinya mencintai Hayley apa adanya. Hayley merasa diterima dan sangat bahagia. Pada tahun 2007, sebuah keajaiban mulai datang pada Hayley. Seorang dokter spesialis kandungan di Rumah Sakit Royal Derby, mengatakan kepada Hayley, jika dari hasil scan pada perutnya, dokter melihat ada rahim yang sangat kecil. Ukurannya hanya beberapa milimeter. Dokter mengatakan kepada Hayley, bahwa dengan pengobatan, rahimnya bisa tumbuh. Hayley tidak bisa hamil secara alami, tetapi dirinya bisa memiliki seorang anak dengan program bayi tabung. Hayley diberikan pengobatan secara hormonal oleh dokter. Dirinya diberi tablet dengan komposisi hormon progesteron dan estrogen, agar rahimnya bisa tumbuh. Selang beberapa tahun kemudian, pada tahun 2011, pasangan Hayley dan Sam pun akhirnya menikah. Ketika bersama-sama mengunjungi dokter kandungan, Hayley diberitahu oleh dokter jika rahimnya sudah siap untuk proses bayi tabung. Tetapi, mereka mendapat kabar buruk, jika lembaga bantuan NHS, yang biasanya memberikan dana bagi para pasangan yang sulit memiliki anak, menolak untuk mendanai program bayi tabung mereka. Hayley dan Sam tidak putus asa. Mereka akhirnya mengeluarkan biaya sebesar 10.500 poundsterling atau sekitar Rp 200 juta, dari setengah tabungan mereka. Uang ini, untuk program bayi tabung pada sebuah klinik di Siprus, dan berharap impian mereka bisa terkabul. Proses bayi tabung, yang dilakukan pada April 2014 ini, menggunakan sel telur dari donor anonim dan sperma Sam. Dari 13 sel telur yang diambil, hanya dua yang layak. Kemudian embrio yang telah diseleksi, ditanam pada rahim Hayley. Dokter mengatakan kepada Hayley, program ini kemungkinan berhasilnya 60%. Hayley harus menunggu selama dua minggu untuk mengetahui hasil tes apakah program bayi tabung itu berhasil atau tidak. Akhirnya hasil tesnya positif. Hayley sangat gembira. Tetapi, Sam mengingatkan jika mereka masih harus melalui banyak proses. Enam minggu kemudian, dari hasil scan kehamilannya, dokter mengatakan jika Hayley mengandung bayi kembar non identik. Hayley benar-benar tidak percaya, dengan keajaiban yang dialaminya. 12 minggu pertama kehamilannya adalah kondisi yang rentan dan rawan keguguran. Pada Desember 2014, dokter memutuskan akan menginduksi Hayley, 2 minggu lebih cepat. Pada malam Natal, 25 Desember 2014, Hayley melahirkan bayi kembarnya secara alami. Meskipun prematur, tetapi mereka sehat. Kedua putrinya, Avery, lahir dengan berat 1.5 kg, sedangkan Darcey, lahir dengan berat 1.3 kg. Dr Geetha Venkat, dari Harley Street Klinik Fertilitas, London, mengatakan jika kasus yang dialami Hayley tersebut, sangat menakjubkan. Ia menjelaskan jika Hayley kekurangan hormon estrogen. Tetapi, beruntung Hayley lahir dengan memiliki sedikit rahim. Dari kisah Hayley, kita sadar bahwa keajaiban itu ada. Berkat usaha yang pantang menyerah, dan senantiasa berdoa, keinginan kita pasti akan terwujud.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy