Jump to content
  • Kemerdekaan indonesia 74
  • Kemerdekaan indonesia 74
  • Kemerdekaan indonesia 74

Search the Community

Showing results for tags 'puasa'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

There are no results to display.

There are no results to display.

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 20 results

  1. abas

    Lola Zieta

    From the album: Lola Zieta

  2. KURMA tak hanya nikmat disantap langsung saat berbuka puasa. Buah yang punya rasa manis ini juga cocok dikreasikan dengan markisa untuk jadi jus kurma fantasi yang manis dan segar. Disarikan dari buku Kurma: Khasiat dan Keajaiban, karya Rostita & Tim Qanita. Bahan-bahan 5 buah kurma 5 sdm markisa 1 iris jeruk nipis Air secukupnya Es batu secukupnya 10 gr whipping cream Cara membuat Pilih buah kurma yang bagus, buang bijinya; Semua bahan dicampur jadi satu, blender sampai halus dan kental; Tuang jus kurma ke gelas, hiasi dengan whipping cream dan buah kurma, dan siap dinikmati saat buka puasa.
  3. Bila nyaris semua minuman segar terisi dengan es batu yang terbuat dari air biasa, bagaimana jika es batu di minuman Anda terbuat dari semangka? Rasanya tentu tidak biasa dan sedap dipandang. Bagaimana cara membuatnya? Dilansir dari purewow.com, Anda hanya membutuhkan semangka tanpa biji, peralatan memanggang, dan freezer. Cara membuat: Potong semangka tanpa biji itu menjadi bentuk dadu dan letakkan di atas alas pemanggang. Taburi dengan gula atau mint bubuk. Letakkan di dalam freezer dan diamkan selama tiga jam. Bila sudah beku, masukkan semangka itu ke dalam plastik. Ketika Anda sudah siap dengan minuman saat berbuka, silakan masukkan semangka beku ke dalamnya.
  4. Ini ada info dikit tentang pakai minyak wangi saat puasa Gimana menurut kamu ndral?
  5. Ketika berpuasa di bulan Ramadan seseorang diwajibkan tidak makan dan minum dari terbitnya matahari sampai terbenam. Istimewanya, tahukah Anda hal tersebut berdampak baik terhadap kesehatan? Ada sejumlah manfaat kesehatan dari berpuasa selama bulan Ramadan. Di antaranya mengurangi kebiasaan buruk Anda selama ini, seperti merokok dan mengonsumsi junk food. Berikut penjelasannya yang dilansir dari Yahoo. Cegah kebiasaan tidak sehat Ramadan adalah waktu yang tepat untuk mengurangi kebiasaan buruk, seperti merokok dan makanan manis berlebihan. Dengan tidak memanjakan diri dengan kebiasaan buruk tersebut, maka setelah bulan Ramadan Anda akan terbiasa hidup sehat. Penurunan nafsu makan Salah satu masalah utama ketika bulan puasa adalah berat badan cepat turun, namun kembali lagi setelah Ramadan. Penurunan jumlah makanan yang dikonsumsi saat berpuasa menyebabkan lemak perut menyusut secara bertahap. Jika Anda ingin membiasakan makan sehat, maka Ramadan adalah waktu yang tepat untuk memulai. Jika nafsu makan Anda lebih rendah dari sebelumnya, maka kemungkinan kecil untuk makan berlebihan setelah Ramadan. Menyerap lebih banyak nutrisi Dengan tidak makan sepanjang hari selama bulan Ramadan, maka metabolisme menjadi lebih efisien. Artinya, jumlah nutrisi yang diserap dari makanan menjadi lebih banyak. Hal ini karena peningkatan hormon yang disebut adiponectin memungkinkan otot-otot menyerap lebih banyak nutrisi. Ini akan memberikan manfaat kesehatan secara keseluruhan.
  6. Puasa di bulan Ramadhan merupakan periode unik bagi kita. Saat puasa, tubuh kita menahan lapar dan dahaga. Bila kita tidak mengatur pola makan kita dengan baik, puasa bisa memicu tubuh kekurangan nutrisi. Saat sahur, sebagian besar orang berasumsi untuk mengkonsumsi makanan sebanyak-banyaknya agar tidak cepat lapar tanpa mengetahui jenis makanan apa yang bisa membantu mereka untuk kenyang lebih lama. Sedangkan ketika berbuka, sebagian orang cenderung tidak mengontrol makanan sehingga memengaruhi kualitas nutrisi makanan yang masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan masalah pencernaan. Buah kiwi telah terbukti memiliki nutrisi tinggi yang dibutuhkan oleh tubuh, terutama vitamin C dan serat serta nutrisi lainnya. Memasukkan buah dalam menu puasa, merupakan cara mudah untuk mendapatkan kesehatan menyeluruh selama menjalankan ibadah puasa. Dokter spesialis gizi klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSCM Indonesia Dr. dr. Fiastuti Witjaksono megatakan, saat puasa penting memperhatikan pola makan berdasarkan jumlah, jenis dan jadwal makan. Dari sisi jumlah, penuhi kalori sesuai kebutuhan. "Dari jenis, perhatikan komposisi karbohidrat, protein dan lemak serta vitamin mineral secara seimbang. Perhatikan juga jadwal makan. Saat puasa, umumnya orang tidak terlalu memperhatikan soal jumlah dan jenis. Padahal asupan nutrisi sangat penting ketika kita menjalankan puasa selama hampir 14 jam," ujar Fiastuti dalam keterangan resmi yang diterima Sindonews. Ia mengungkapkan komposisi makanan lengkap yang diperlukan saat sahur dan berbuka puasa terdiri dari karbohidrat, protein, lemak, sayur dan buah, serta air. Konsumsi buah pada saat sahur akan membantu menjaga kadar glukosa darah lebih stabil, sehingga membantu rasa kenyang yang lebih lama. "Ini karena berbagai buah mengandung banyak serat, serta memiliki indeks glikemik yang rendah, dan mengandung enzim yang membantu pencernaan. Salah satu buah yang mengandung serat tinggi dan memiliki indeks glisemik rendah adalah buah kiwi. Nutrisi dalam kiwi terbukti memberikan manfaat kesehatan, terutama masalah pencernaan seperti konstipasi dan masalah pencernaan lain yang sering dialami oleh mereka yang berpuasa," katanya. Mengkonsumsi dua buah kiwi hijau perhari terbukti memperbaiki gejala konstipasi, kesulitan mencerna makanan, sakit perut dan sakit asam lambung yang menjadi bagian dari masalah pencernaan. Hasil penelitiannya menunjukkan adanya enzim alami actinidin di buah kiwi hijau. Actinidin terbukti memperbaiki pencernaan dan meningkatkan pemecahan protein sehingga lebih mudah diserap dan mempercepat penyerapan nutrisi. Konsumsi dua buah kiwi per hari meningkatkan vitamin C dalam tubuh secara optimum serta mengurangi mood yang buruk, kelelahan, depresi dan meningkatkan mood. Vitamin C memiliki peran yang sangat penting untuk perkembangan dan fungsi tubuh seperti mengurangi kelelahan, meningkatkan imunitas tubuh, pembentukan kolagen untuk menunjang fungsi kulit. Kandungan vitamin C pada buah kiwi yang tinggi terbukti sangat efektif menaikkan kadar vitamin C dalam darah dan bagian tubuh lainnya.
  7. Perut mual dan menjadikan kita muntah adalah suatu hal yang sangat mungkin terjadi. Mual dan muntah ini sendiri bisa disebabkan oleh berbagai macam hal. Bisa saja hal tersebut adalah karena mencium bau sesuatu yang sangat menyengat dan membuat mual serta muntah, karena sedang melakukan perjalanan dan akhirnya mabuk perjalanan atau bisa juga karena kondisi kesehatan fisik yang sedang drop. Kalau muntah di hari biasa hal ini hukumnya boleh-boleh saja. Tapi, bagaimana jika muntah saat kita sedang menjalankan ibadah puasa? Dikutip dari laman emirates247.com, muntah selama berpuasa akan menjadikannya memiliki dua hukum. Hukum pertama yakni boleh-boleh saja dan membuat puasa tetap sah. Sementara hukum kedua tidak boleh dan muntah akan membatalkan ibadah puasa. Dr Ali Ahmed Mashael dari Grand Mufti di Islamic Affairs & Charitable Department di Dubai mengatakan bahwa, Apa yang dikatakan Dr Ahmed Mashael tentang muntah tidak membatalkan puasa juga dijelaskan dalam sebuah hadist, "Tiga perkara yang tidak membatalkan puasa adalah muntah, hijamah (bekam) dan ihtilam (mimpi basah). (HR Tirmizy dan Al-Baihaqi)." Tapi tetap ingat, beberapa ulama mengatakan bahwa muntah yang tidak membatalkan puasa adalah muntah yang tidak disengaja. Untuk muntah yang disengaja, hal ini tetap membatalkan puasa. So, buat kamu yang puasanya tidak batal hingga beduk maghrib tiba, pastikan untuk tidak muntah secara disengaja. Pastikan pula bahwa kamu tidak melakukan berbagai aktivitas yang memungkinkan kamu muntah nantinya. Semoga, informasi ini bermanfaat. Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan dan tetap semangat ya?
  8. Gak hanya sahur, makanan saat buka puasa pun juga penting. Apalagi setelah hampir seharian berpuasa. Ada sejumlah anjuran konsumsi makanan agar gak mengganggu kesehatan. Misalnya saja juara MasterChef Indonesia (MCI) Season 3, William Gozali yang menyarankan hidangan yang tepat pada buka puasa pertama. Kata dia, makanan yang mesti dihindari adalah makanan yang punya rasa terlalu asam. "Buka puasa pertama enggak boleh terlalu asam," ungkapnya kepada Okezone di Jakarta. Pada hari-hari pertama puasa, lanjut dia, kondisi lambung perlu penyesuaian. Karena itu, makanan yang dikonsumsi saat berbuka disarankan gak boleh sembarangan. Daripada konsumsi makanan yang terlalu asam. Lebih baik berbuka dengan makanan atau minuman manis. Hal itu agaknya mutlak diperlukan. Pasalnya, makanan atau minuman manis itu mampu menggantikan energi yang hilang usai seharian berpuasa. "Makanan manis itu cocok. Seharian puasa dan kita butuh kadar gula," pungkas William Gozali.
  9. Saat berpuasa, tubuh mengalami perubahan metabolisme. Kinerja dan kondisinya tidak sama seperti hari-hari biasa. Karena itu, tidak semua makanan cocok dikonsumsi sebagai menu berbuka. Untuk itu, Anda perlu mengetahui makanan apa saja yang baik dikonsumsi saat berbuka, serta hal itu dapat berdampak pada kesehatan. Berikut ulasan singkatnya, tiga makanan yang baik dikonsumsi saat berbuka puasa, seperti dilansir Gulfnews, Senin (6/6/2016). Buah-buahan segar Buah-buahan segar merupakan makanan yang tepat dikonsumsi saat berbuka puasa. Pasalnya, buah segar cukup mengembalikan cairan tubuh yang hilang, serta mengisi energi secara perlahan dengan kadar gula yang terkandung di dalamnya. Buah-buahan juga kaya akan serat alami yang baik untuk pencernaan. Kurma Kurma begitu populer saat bulan Ramadan. Kurma mengandung vitamin A, B6, kalium, natrium, zat besi, dan magnesium alami. Gula alami yang ada pada kurma mampu mengembalikan energi yang hilang selepas berpuasa. Karena itu, buah kering berwarna cokelat kehitaman ini amat baik dikonsumsi saat berbuka puasa. Daging ayam dan ikan Daging ayam atau ikan harus menjadi bagian dari makanan saat berbuka puasa. Protein yang terkandung di dalamnya membuat perut kenyang lebih cepat dan tahan lama.
  10. Marhaban yaa Ramadhan, pucuk selasih bertunas menjulang dahannya patah tolong betulkan, puasa Ramadhan kembali menjelang. Semoga kita selalu diberkahi di bulan yang penuh mahrifah iniTiada kemenangan tanpa zikrullah, tiada amal tanpa keikhlasan, tiada ampunan tanpa maaf dari sesama. Kami segenap jajaran staff Ngobas mengucapkan "Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1437 H"
  11. Penyanyi Ashanty yang tengah hamil anak kedua. Di kehamilan kedua ini, Ashanty mengaku tetap akan jalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. “Aku akan coba. Nanti kalo kuat, ya aku puasa,” ujar Ashanty Ashanty juga mengungkapkan, bila dirinya tidak sanggup berpuasa, istri dari Anang Hermansyah ini mengaku tidak akan memaksakan untuk menjalankan ibadah puasa. Yang terpenting baginya adalah kesehatan si jabang bayi. “Kalau enggak kuat, ya enggak dipaksain ya. Kan orang hamil enggak wajib berpuasa juga. Tergantung keadaan sih. Kalau mampu ya puasa, kalau enggak kuat ya enggak dipaksain. Kasian baby-nya nanti,” kata wanita kelahiran 4 November 1984 ini. Sementara itu menjelang Hari Raya Idul Fitri nanti, Ashanty dan Anang beserta anak-anaknya berencana untuk mudik ke kampung halaman Anang, tepatnya di Jember, Jawa Timur.
  12. Paduan asam segar dari es jeruk dan juga manisnya markisa sangat tepat dinikmati saat berbuka. Tidak hanya melepas dahaga, minuman ini juga penuh vitamin C dan baik untuk tubuh. Simak resep dan cara membuatnya: Bahan-bahan 500 ml jus jeruk300 ml jus nanas2 jeruk manis, kupas, ambil bulirnya200 gr nanas, potong kipas4 buah markisa, ambil isinya10 sdm sirup markisa10 lembar daun mint1 sdm serutan kulit jeruk lemonEs batu secukupnyaCara membuat Siapkan wadah, dan masukkan bahan satu persatu kecuali es batu;Aduk rata, tambahkan es batu di atasnya dan sajikan selagi dingin.
  13. Walau jauh dari sanak saudara di tanah air, dan harus berpuasa selama 16 jam karena Ramadan jatuh pada musim panas, warga Indonesia di Amerika Serikat menemukan kesejukan dan kehangatan silaturahmi pada acara berbuka puasa di Wisma Indonesia, Washington, DC. Simak laporan selengkapnya dari Tim VOA.
  14. Di Indonesia, umumnya durasi puasa berlangsung selama 13 jam atau 13 jam 30 menit. Itu adalah waktu mulai matahari terbit hingga matahari terbenam. Karena letak Indonesia di katulistiwa, maka masa berpuasa tak terlalu lama, juga tidak terlalu sebentar. Nah, jika Anda ingin berpuasa dengan waktu yang lebih singkat, maka negara yang pas bagi Anda adalah Chile dan Argentina. Di dua negara tersebut tahun ini matahari hanya berjarak 10 jam saja antara waktu terbit dan tenggelamnya. Ini berarti waktu berpuasa warga muslim di negara tersebut hanya 10 jam saja. Sebentar ya? Perbedaan durasi puasa tersebut terjadi karena perputaran Bumi terhadap matahari berbentuk lintasan yang miring, bukan lurus. Hal itu menyebabkan dalam bulan-bulan tertentu, negara yang terletak di Bumi bagian utara akan mendapatkan waktu siang lebih lama dibanding waktu malamnya. Demikian juga sebaliknya, beberapa negara di belahan Bumi lainnya mendapat waktu malam lebih lama. Ini yang membuat terjadi perbedaan durasi puasa di beberapa negara belahan Bumi lain. Di Inggris tahun ini umat muslim negara tersebut harus berpuasa selama 19 jam. Sedangkan di Jazirah Arab, negara-negara di dalamnya berpuasa selama 14 hingga 15 jam sehari dengan suhu sangat panas yaitu berkisar 45 – 50 derajat celsius. Wah! Masih jauh beruntung muslim yang berada di Indonesia ternyata. Durasi puasa Indonesia masih tergolong sebentar dengan suhu udara yang tidak terlalu panas, juga tidak dingin sekali.
  15. Firman Allah yang bermaksud: Wahai orang-orang yang beriman! Kamu diwajibkan berpuasa sebagaimana diwajibkan ke atas orang-orang yang dahulu daripada kamu, supaya kamu bertakwa (al-Baqarah, 2:183). Terdapat dua perkara yang disentuh di dalam ayat tersebut, pertamanya, puasa adalah ibadat lama. Ia diwajibkan ke atas umat-umat lampau. Justeru, jika merujuk kepada sejarah, kita akan dapati hampir setiap bangsa di dunia ini mengamalkan puasa di dalam kehidupan mereka, walaupun mungkin ianya berbeza dari segi tujuan dan niat masing-masing. Dalam mentafsirkan maksud: orang-orang sebelum kamu, kita dapati ulamak telah berbeza pendapat, antaranya: Ada yang mengatakan bahawa ia bermaksud: orang-orang Nasrani sahaja. Ada pendapat mengatakan, mereka adalah Ahl al-Kitab (iaitu orang Nasrani dan Yahudi). Ada pendapat lain mengatakan bahawa ia bermaksud seluruh umat terdahulu yang menjadikan puasa sebagai amalan dalam kehidupan mereka sama ada kerana tuntutan keagamaan, kemasyarakatan atau kerana menolak sesuatu bencana dan sebagainya. Berdasarkan pembacaan saya, didapati bahawa bangsa-bangsa lama seperti India, China, Jepun, Parsi, Mesir Purba, Greek, Rom, Yahudi, Nasrani dan Arab Jahiliyyah, masing-masing telah mengamalkan puasa pada hari atau bulan tertentu dalam setahun. Secara ringkasnya dapat kita lihat kepada beberapa fakta berikut: India: Dalam sejarah bangsa ini memang terdapat amalan puasa yang mempunyai pelbagai matlamat, antaranya sebagai persembahan kepada bulan yang mereka puja. Penganut kepercayaan ini, selain mempersembahkan makanan, minuman dan susu, mereka juga berpuasa selama setengah bulan dan berbuka ketika bulan mengambang pada waktu malam. Mereka akan berhenti amalan ini apabila muncul anak bulan baru (Dr. `Ali Al-Khatib, 62). Puasa juga di kalangan bangsa India bertujuan melepaskan diri dari kesiksaan akidah tanasukh dan bercamtum dengan tuhan mereka yang disebut sebagai Brahma dan akhirnya mencapai kebahagiaan sejati. Seseorang tidak akan sampai kepada Brahma kecuali apabila dia sudah sampai kepada hakikat dan melepaskan diri dari segala macam ikatan kebendaan. Dengan itu kehidupan secara zahid amat terkenal di kalangan bangsa India. Dalam konteks ini mereka akan berpuasa selama 14 hari tanpa memakan sebarang makanan, kecuali dengan diselang-seli minuman air sahaja selama masa tersebut (Dr. A. Al-Khatib, h. 65). Dalam pegangan kumpulan Sinata, ahli agama mereka dikehendaki berpuasa setiap hari bermula sejak jatuh matahari sehingga ke waktu naik fajar merah, tanpa makan dan minum sepanjang-panjang masa itu (Dr. A. Al-Khatib, 66) Selain dari ahli agama kumpulan Sanita, ahli agama secara umumnya dikehendaki berpuasa pada awal musim gugur dan sejuk, dan permulaan musim bunga dan panas, dan pada waktu berlaku gerhana matahari. Puasa yang mereka amalkan ini kebiasaannya akan berpanjangan jika tujuannya untuk melepaskan diri dari kekuasaan tanasukh atau menghapus akidah ini dari menguasai roh mereka. Berdasarkan kepada akidah tanasukh ini, roh seseorang itu tidak akan mati selama-lamanya, tetapi ia akan berpindah dari satu jasad ke jasad yang lain atau akan berpindah ke jasad binatang, biasanya ia akan berpindah dari yang baik kepada yang lebih buruk. Sepanjang-panjang perpindahan ini mereka akan tersiksa, dengan itu mereka sanggup melepaskan diri mereka dari ikatan keduniaan dan berpuasa sehingga mereka bercamtum dengan tuhan mereka Brahma ataupun menamatkan hidup mereka supaya mereka terlepas dari kekuasaan tanasukh. Kepercayaan ini menyebabkan ramai rakyat India purba yang berpuasa atau mengkuburkan diri di bawah tanah semasa mereka berpuasa (op. cit, 67). Kepercayaan Budha yang lahir di India tidak terlepas dari amalan ini. Kita lihat Budha sendiri mengamalkan cara hidup berpuasa selama 6 tahun. Dalam pegangan salah satu mazhab Budha, seorang ahli agamanya dikehendaki berpuasa sepanjang masa selama hidupnya, tanpa mengambil apa-apa makanan kecuali sebiji beras sahaja pada waktu duha setiap hari. Dalam peraturan keagamaannya, para pengikut Budha dihendaki berpuasa 4 hari dalam masa sebulan, iaitu pada hari pertama awal bulan, hari kesembilan, kelima belas dan hari kedua puluh dua (op.cit. 72-74) Tujuan amalan ini ialah untuk sampai kepada hakikat atau mencapai kebahagiaan sejati atau navarna. China dan Jepun: Agama Budha kemudiannya berkembang di China dan Jepun. Di negara China ia menjadi agama rasmi negara pada masa pemerintahan Maharaja Fu Ti (58 - 71M.). Di negara Jepun, agama Budha mula bertapak pada pertengahan kurun ke enam Masihi. Dan akhirnya ia juga menjadi agama negara bagi negara itu. Di sini agama ini telah berpecah kepada beberapa aliran yang drastik. Apa yang pentingnya bagi kita ialah dengan berkembangnya agama Budha di kedua-dua negara itu, maka amalan puasa turut diamalkan oleh rakyat kedua-duanya (op.cit, h. 79-81). Parsi: Dari bukti bahasa, budaya dan acara keagamaan, dapat dipastikan bahawa orang-orang Parsi sebenarnya adalah berketurunan campuran India-Eropah. Dikatakan sejak abad keempat belas SM., Parsi merupakan sebuah negara yang menganut agama Hindu lama. Dengan itu terdapat di kalangan mereka nama-nama pinjaman seperti Andra, Matra, Faruna dan Vida yang kesemuanya merupakan nama-nama tuhan dalam kepercayaan orang-ornag India. Dan dengan itu sekaligus terdapat di kalangan mereka acara-acara keagamaan orang-orang India purba, seperti pengorbanan, puasa dan lain-lain (op.cit, h. 82). Kemudian pada abad kelima SM, Parsi mula menerima pengaruh Yahudi. Ekoran kepada pengaruh ini terdapat sebahagian penduduk negara ini yang mengamalkan beberapa acara keagamaan orang-orang Yahudi seperti sembahyang dan puasa. Hasil percampuran pelbagai kepercayaan di kalangan penduduk Parsi, kita dapati mereka mempunyai program puasa seperti berikut: Berpuasa selama 7 hari pada tiap bulan.Berpuasa selama 2 hari berturut-turut tanpa berbuka apabila bulan purnama.Berpuasa selama 2 hari berturut-turut tanpa berbuka apabila terbit anak bulan.Berpuasa selama 2 hari apabila bulan perpindah kepada garisan jaddi.Berpuasa pula selama 30 hari dan berbuka pada ketika matahari jatuh apabila ia berpindah pada garisan dalwu.Berpuasa pada hari Ahad dan Isnin kerana memberi penghormatan kepada matahari dan bulan (op.cit, h. 82-85).Mesir Purba: Puasa di kalangan orang-orang Mesir purba dilakukan sebagai memberi khidmat kepada rumah ibadat dan protokolnya. Seseorang pembantu rumah ibadat sebelum memulakan khidmatnya dikehendaki berpuasa selama 2 hari tanpa memakan apa-apa makanan kecuali air sahaja. Kadang-kadang puasa itu berlanjutan sehingga 42 hari. Orang-orang awam akan berpuasa pada beberapa waktu yang terdekat kerana berlaku mala petaka seperti banjir besar, mereka akan berpuasa selama 4 hari dan mereka juga berpuasa pada hari-hari berlaku peristiwa sedih yang lain, seperti hari kematian lembu suci mereka dan lain-lain. Kesemuanya diatur oleh ahli-ahli agama mereka (op.cit, h. 104-105). Greek dan Rom: Penduduk kedua-dua negara ini tidak banyak berbeza dari segi cara berpuasa dan matlamatnya. Di Greek, rakyatnya berpuasa dalam pelbagai bentuk ketika berlaku mala petaka dan bala bencana agar segala macam kesiksaan itu akan tamat segera. Ada juga mereka berpuasa kerana mensyukuri tuhan mereka kerana terlepas dari bala atau kerana berlaku perubahan kepada undang-undang negara. Rakyat negara ini juga akan berpuasa selama 10 hari sebelum melakukan peperangan kerana bertujuan memohon kemenangan. Di Rom, rakyat negara ini sangat percaya dengan kekuatan puasa sehingga mereka mempercayai bahawa seorang yang berpuasa mampu membunuh ular tedung dengan ludahnya sahaja. Seorang tukang tilik perempuan biasanya berpuasa selama 3 hari disamping beberapa amalan pelengkap yang lain sebelum melakukan apa-apa tilikan. Rakyat terpaksa memberi upah kepadanya jika mereka memohon apa-apa khidmat tilikannya (op.cit, h. 111-113). Yahudi: Bangsa Yahudi adalah pengikut syari`at Musa. Sebelum menerima kitab Taurat, Musa AS. berpuasa selama 40 hari di Saina'. Tetapi orang-orang Yahudi menganggapnya sebagai puasa khusus Nabi Musa. Ulamak Tafsir mengatakan bahawa Musa berpuasa 40 hari ini tanpa diselangi sama sekali dengan berbuka. Bagi orang-orang Yahudi, mereka berpuasa sehari sahaja, sebagai puasa wajib, iaitu pada hari ghufran (pengampunan). Mereka mendakwa hanya itu sahaja puasa wajib yang dikenakan ke atas mereka. Puasa-puasa lain adalah puasa sunat yang dilakukan beberapa kali yang tidak tersusun. Puasa sehari ini mereka lakukan pada satu perempat jam sebelum jatuh matahari hari ke 9, bulan Tashri, iaitu awal tahun Ibri (tahun Yahudi) dan berterusan sehingga selepas satu perempat jam jatuhnya matahari pada hari ke sepuluh. Iaitu kira-kira selama 25 jam berturut. Sepanjang-panjang masa berpuasa itu mereka dilarang memakan, meminum dan melakukan hubungan perkelaminan. Puasa ini menjadi amalan mereka sehingga ke hari ini. Hari kesembilan ini mereka namakan juga sebagai hari kabur, iaitu hari `asyura' mereka. Tentang puasa-puasa sunat mereka, kita dapati ada beberapa kali mereka berpuasa di sepanjang tahun kerana beberapa perayaan atau peristiwa yang telah berlaku, seperti perayaan kerana mengenangkan mereka terlepas dari gerakan penghapusan atnik di negara Parsi yang dilakukan oleh seorang menteri di negara itu bernama Haman. Untuk perayaan ini, mereka berpuasa selama 3 hari. Perayaan ini dinamakan sebagai Hari Raya Forim. Begitu juga mereka berpuasa kerana peristiwa sebuah rumah ibadat mereka di negara Mesir yang dibakar oleh ahli agama negara itu di bawah pengaruh Parsi. Terdapat 19 hari-hari perayaan mereka sepanjang tahun yang digandingkan dengan amalan berpuasa. Sebahagiannya, mereka berpuasa selama sehari dan ada juga mereka berpuasa selama 7 hari. Perayaan yang paling penting bagi mereka ialah perayaan hari mereka dilepaskan dari buruan tentera Fir`aun dibawah pimpinan Nabi Musa menyeberangi laut Merah yang mereka namakan sebagai hari Fash (op.cit. h. 118-122). Nasrani: Orang-orang Nasrani sama seperti orang-orang Yahudi merupakan penganut agama Ahl Al-Kitab, mereka juga turut berpuasa sebagai salah satu amalan agama mereka. Orang-orang Nasrani terbahagi kepada tiga mazhab atau aliran, iaitu Katholik, Othordok dan Protestin. Ketiga-tiga mazhab ini mempunyai cara amalan puasa yang sebahagiannya berbeza di antara satu dengan yang lainnya. Bagi pengikut mazhab Katholik, mereka mula berpuasa pada pertengahan malam sehingga ke waktu pertengahan siang esoknya. Pada masa berpuasa, mereka dilarang mengambil makanan dan minuman sahaja. Seseorang lelaki diwajibkan berpuasa sejak berumur 15 tahun sehingga ke umurnya 60 tahun dan seorang perempuan pula diwajibkan memulakan puasanya pada umur yang sama dengan lelaki, tetapi ia berakhir pada umur 55 tahun. Menurut mazhab ini, pengikutnya dikehendaki berpuasa hanya pada Hari Puasa Besar sahaja. Gereja mazhab ini membatalkan kesemua puasa-puasa yang lainnya. Hal ini dikatakan kerana tiada nas di dalam Injil. Mereka juga dilarang memakan daging, susu dan telur pada hari Rabu dan Jumaat pada setiap minggu, begitu juga pada hari-hari Puasa Besar. Larangan ini melibatkan kesemua penganut mazhab ini sejak berumur 7 tahun sehingga ke akhir hayatnya (op. cit., h. 151-152). Pengikut mazhab Othordok pula, mereka mempunyai program puasa yang tersendiri. Pada mereka, puasa ialah menahan diri dari memakan makanan dalam masa yang tertentu. Masa ini hanya ditentukan oleh padri mazhab mereka yang mempunyai hak berbuat demikian. Dalam mazhab ini, Puasa Besar dianggap sebagai puasa yang paling penting, masanya selama 50 hari dan berakhir pada kebiasaannya pada hari Raya Kiamat. Mereka juga berpuasa selama 40 hari yang dinamakan Puasa Kelahiran, bermula dari 25hb. Nov. sehingga 6 Januari, iaitu sebelum berlangsung Raya Kelahiran. Pihak gereja mazhab ini juga turut berpuasa pada hari Rabu dan Jumaat dan sehari puasa yang lain dinamakan dengan Puasa Rasul-rasul. Selain dari itu, pengikut mazhab ini juga berpuasa selama 15 hari untuk Mariam yang bermula pada awal Masri (bulan kiraan orang-orang Nasrani). Mereka juga berpuasa tiga hari seperti puasa Nabi Yunus AS., puasa Paramont di antara sehari sehingga ke tiga hari (op.cit., h. 156-158). Dalam mazhab Protestin pula, puasa menjadi amalan galakan sahaja kerana tiada nas Injil yang mewajibkannya. Dengan erti tiap pengikutnya akan berpuasa mengikut selera masing-masing sahaja. Mazhab ini juga tidak menentukan masa untuk berpuasa dan ia juga tidak menentukan umur seseorang untuk berpuasa, malah segala-galanya diserahkan kepada pilihan atau kemahuan pengikutnya, bila mereka ingin berpuasa dan bila pula mereka ingin berbuka. Sebahagian yang lain pula menggantikan amalan puasa dengan sesuatu pekerjaan seperti memberhentikan memakan makanan yang mereka suka disamping menyimpan harganya untuk diberikan kepada fakir miskin. Sebagai kesimpulannya: Kesemua mazhab orang-orang Nasrani menganggap hubungan sex tidak ada kaitan dengan amalan puasa dan tidak membatalkannya.Tidak ada persepakatan pendapat di antara mereka tentang menentukan puasa fardu/wajib.Tidak ada persefahaman di antara mereka tentang masa permulaan puasa dan juga masa akhirnya. Tiap orang boleh menamatkan puasanya pada bila-bila masa yang dikehendakinya.Puasa hari Sabtu diakui oleh Katholik, tetapi tidak disetujui oleh Othordok kecuali Sabtu yang jatuh sebelum hari Raya Kiamat (op. cit. h. 161-163).Dengan itu jelas kepada kita bahawa puasa orang-orang Yahudi adalah lebih tersusun dari puasa-puasa yang diamalkan oleh orang-orang Nasrani. Semenanjung Tanah Arab: Sebelum kedatangan Islam, negara itu sudahpun mengenali agama Hanif yang dibawa oleh Nabi Ibrahim AS., agama Ahl Al-Kitab (Yahudi dan Nasrani), Brahma, Sabi'ah, agama berhala, Majusi, penyembahahan cakrawala dan jembalang. Dengan itu amalan puasa merupakan sesuatu yang tidak asing di kalangan mereka. Sekurang-kurangnya mereka akan terpengaruh dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang hidup bersama-sama mereka di Semenanjung mereka. Disebutkan bahawa orang-orang Arab Quraish, khasnya Quraish Makkah, berpuasa pada hari `Asyura' sebagai penebus dosa mereka pada masa Jahiliah. Ada pendapat lain yang mengatakan bahawa puasa `Ashura' itu adalah mengambil sempena hari dipasang kelambu pada Ka`bah. Mereka berpuasa pada 10hb. Muharram. Puasa ini sama seperti puasa orang-orang Yahudi yang juga dinamakan sebagai puasa hari `Asyura' atau puasa hari Pengampunan (op. cit., h. 172). Selain dari itu, orang-orang Arab yang berada di bawah pengaruh orang-orang Nasrani, ada di antara mereka yang mengamalkan amalan puasa fardu selama 30 hari yang kemudiannya bertukar menjadi 50 hari pada waktu yang tertentu setiap tahun (op. cit., h. 178). Zaman Islam: Dalam Islam, puasa terbahagi kepada tiga: Puasa Ramadan.Puasa Khas, seperti puasa nazar dan kaffarah.Puasa Sunat.Dari segi pusingannya pula, puasa terbahagi kepada dua peringkat, peringkat sebelum Ramadan dan kemudian hanya puasa Ramadan. Puasa Sebelum Ramadan: Puasa sebelum Ramadan, terbahagi kepada dua jenis, pertama: puasa `Ashura' dan kedua: puasa tiga hari pada setiap bulan. Menurut pendapat yang terkuat, puasa `Ashura' sebelum difardukan puasa Ramadan merupakan puasa wajib ke atas orang-orang Islam. Terdapat beberapa buah Hadis yang menunjukkan hukum berkenaan, antaranya Hadis riwayat `Aishah RA. yang menyebut bahawa baginda telah mengarahkan supaya ditunaikan puasa `Ashura', tetapi selepas difardukan puasa Ramadan, seseorang itu bebas sama ada ingin berpuasa puasa `Ashura' ataupun tidak. Demikian halnya dengan puasa tiga hari setiap bulan, ia juga merupakan puasa wajib sebelum difardukan puasa bulan Ramadan (op.cit., h. 181-186). Beberapa Aspek Penting Dalam Puasa `Ashura': Ia menunjukkan kaitan di antara Nabi Muhammad SAW. dengan umat-umat sebelumnya dalam ketaatan kepada Allah.Mengagungkan hari-hari bersejarah kerana pada hari itu Allah telah berkenan memenangkan yang benar ke atas yang batil (dengan menyelamatkan Nabi Musa AS. bersama-sama pengikutnya menyeberangi Laut Merah).Merupakan kesempatan untuk memberitahu kepada orang-orang Yahudi tentang adanya hubungan agama di antara syari`at Nabi Musa AS. dengan syari`at yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW., di samping adanya hubungan di antara umat Muhammad dengan umat-umat yang sebelumnya, terutamanya setelah adanya beberapa peristiwa yang menunjukkan mereka menolak ajaran Nabi SAW.Dan yang utamanya ialah melatih kaum muslimin mengenai kewajipan berpuasa pada masa-masa tertentu yang dilakukan secara bersama. Sebab, puasa yang dijalankan oleh Nabi Muhammad SAW. pada hakikatnya adalah satu penerusan kepada puasa yang telah lama berjalan di kalangan orang-orang Makkah, tetapi tidak dalam bentuknya yang serentak dan bersama. Puasa yang dilakukan baginda ini sebagai langkah awal untuk menerima puasa Ramadan yang akan difardukan. Kerana itulah ketika puasa Ramadan difardukan maka puasa `Ashura' tidak diwajibkan lagi (Atiyyah Muhammad Salim, h. 13-14).Puasa Ramadan: Puasa Ramadan difarjukan pada 2hb. Sya`ban, tehun ke 2H. menerusi 4 ayat dari surah Al-Baqarah, iaitu ayat-ayat 183-187. Ayat-ayat ini tidak diturunkan serentak, malah ia diturunkan satu demi satu yang dipisahkan dengan jarak masa yang tertentu. Keempat-empat ayat tersebut telah memberi penjelasan terperinci tentang masa, cara dan apa-apa tegahan semasa berpuasa. Ia tidak membiarkan baginda menjelaskannya, tidak seperti ibadat-ibadat lain yang memerlukan Hadis Amali dari baginda yang menjelaskan cara perlaksanaannya dengan betul. Sebagai contohnya, ayat pertama menunjukkan hukum melakukan puasa yang difardukan ke atas orang-orang Islam, ia juga ke atas umat-umat lampau. Pada peringkat ini, puasa orang-orang Islam tidak berbeza dengan cara berpuasa orang-orang Yahudi, iaitu selama 23 jam, bermula selepas seseorang itu sembahyang isha` atau selepas dia tidur sesudah waktu maghrib. Ia berterusan sehingga ka waktu jatuh matahari pada hari berikutnya. Cara berpuasa pula di dalam bentuk pilihan, iaitu sesiapa yang tidak mahu berpuasa, maka dia boleh menggantikan hari dia berbuka itu dengan memberi makanan kepada seorang miskin bagi setip hari. Kedudukan ini berlanjutan sehingga turun ayat yang merobahnya, iaitu firmanNya yang bermaksud: ...sesiapa yang melihat anak bulan, maka hendaklah dia berpuasa. Dengan itu puasa Ramadan sudah bertukar corak, dari bentuk di mana orang-orang Islam diberikan pilihan sama ada berpuasa atau memberi makanan kepada orang miskin, kepada hukum berpuasa sahaja (tanpa pilihan) sepanjang-panjang bulan itu. Walaupun begitu masa berpuasa tetap seperti asalnya, iaitu bermula dari selepas sembahyang `Isha' atau selepas tidur sesudah waktu maghrib sehingga ke waktu jatuhnya matahari pada hari berikutnya. Kedudukan ini berlanjutan sehinggalah turunnya ayat yang berikutnya: ...diharuskan bagi kamu melakukan persetubuhan dengan isteri-isteri kamu pada malam bulan Ramadan dan firmanNya: ... makanlah dan minumlah sehingga jelas kepada kamu benang putih dari benang hitam menerusi cahayat matahari. Kedua-duanya menjelaskan kepada orang-orang Islam bahawa mereka diharuskan makan, minum dan bertamattu` dengan isteri-isteri mereka pada malam Ramadan. Mereka hanya dikehendaki menahan diri dari perkara-perkara tersebut dan lainnya yang membatalkan puasa bermula dari sejak naik fajar sehinggalah ke waktu jatuhnya matahari hari yang sama. Dari pembentangan ini kita dapat melihat: Puasa Ramadan berlangsung pada peringkat awalnya dalam kadar masa hampir sehari, iaitu selama hampir 23 jam.Pada permulaannya orang-orang Islam diberi pilihan, sama ada mereka berpuasa atau berbuka, dan mereka dibenarkan menggantikannya dengan memberi makan kepada seorang miskin bagi setiap hari puasa yang mereka tinggalkan atau berbuka.Kemudian, mereka diwajibkan berpuasa sahaja tanpa pilihan dengan kelamaan masa yang sama, seperti puasa Ahl Al-Kitab, iaitu dari waktu sesudah sembahyang `Isha' atau sesudah tidur selepas waktu maghrib sehingga ke waktu jatuhnya matahari pada hari berikutnya.Kemudian, mereka dibenarkan berbuka (makan, minum dan bertamattu` dengan isteri) selepas waktu jatuhnya matahari sehinggalah ke waktu naik fajar siangnya.Dari pendedahan ini kita dapati bahawa masa untuk berbuka puasa pada peringkat awalnya adalah sama dengan apa yang telah diamalkan oleh Ahl Al-Kitab ketika mereka berpuasa, iaitu bermula dengan jatuhnya matahari dan berakhir dengan: sama ada selepas orang yang berpuasa itu sembahyang `Isha' atau dengan berlangsungnya tidur sesudah jatuhnya matahari pada hari berkenaan sekalipun sebelum melakukan sembahyang `Isha'. Dengan itu, seseorang yang ingin melanjutkan masa berbukanya, dia akan melewatkan sembahynag Isha' dan tidak tidur selepas jatuhnya matahari. Kedudukan tersebut memberi gambaran jelas kepada kita bahawa puasa Ramadan juga telah difardukan ke atas pengikut Ahl Al-Kitab sebelum Islam. Inilah pendapat sebahagian ulamak seperti Qatadah, al-Tabari dan al-Sudi. Dengan itu maksud firmanNya: .... seperti ia difardukan ke atas mereka sebelum kamu (Ahl Al-Kitab) pada beberapa hari tertentu ialah bulan Ramdan. Begitulah, antara perkembangan yang berlaku dalam sejarah kefarduan puasa bulan Ramadan sehingga seperti yang kita lakukan pada hari ini. Dan begitu jugalah kedudukan amalan puasa di kalangan umat-umat lampau.
  16. Bulan Suci Ramadhan tinggal menunggu hitungan hari, selama satu bulan umat muslim diseluruh dunia akan melaksanakan kewajiban berpuasa. Umat muslim menjalankan ibadah puasa, tidak makan tidak minum dan menahan hawa nafsu dari fajar hingga petang. Untuk di wilayah indonesia waktu berpuasa satu hari kira-kira 12 sampai 13 jam. Sebagai penduduk yang tinggal di wilayah indonesia, harus bersyukur karena waktu berpuasa tidak terlalu lama, ada beberapa negara di dunia ini yang waktu puasanya jauh lebih lama, bahkan hampir satu hari. Inilah negara-negara dengan waktu puasa paling lama di dunia : 1. Negara-negara Skandinavia (waktu puasa terlama di dunia, 21 jam) 2. Rusia ( waktu berpuasa 19 jam ) 3. Inggris ( waktu puasa 17 jam 45 menit ) 4. Amerika Serikat ( waktu puasa 16 jam ) 5. Jepang ( waktu puasa 15 jam 37 menit )
  17. Dibawah ini adalah gambar-gambar yang sangat menyeramkan jika kita lihat di siang bolong saat melakukan ibadah puasa. Langsung aja disimak… Gimana? serem gak ndral?
  18. Pasti bete dan sebal kalau sedang beribadah puasa, namun maag sering kambuh. Belum lagi rasa sakit yang mengiris lambung. Rasa ingin membatalkan puasa pasti sering muncul (godaan setan tuh). Sebenarnya puasa adalah cara ampuh untuk mengobati maag. Namun terkadang orang-orang tidak mengerti apa saja hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan penderita maag saat berbuka puasa. Yang ingin tahu, silakan baca lebih lanjut. 1. Saat berbuka puasa, hindari makanan dan minuman yang merangsang asam lambung, seperti teh, kopi, jeruk, mangga, makanan yang diberi cuka, dan lain-lain. Berbukalah dengan air putih terlebih dahulu kemudian dengan makanan yang manis. 2. Jangan terlalu banyak makan saat berbuka. Usahakan makan sedikit dengan makanan yang gampang dicerna. Setelah berselang 15 menit, boleh dilanjutkan dengan makan malam. 3. Jangan kebanyakan minum antasida. Tidak semua orang butuh antasida ketika sakit maag. Hal ini perlu anda konsultasikan dengan dokter anda. 4. Jika memang anda sudah diresepkan obat maag dari dokter, silakan meminum obat sebelum sahur dan sebelum berbuka. Kebanyakan obat maag memang diminum sebelum makan. 5. Usahakan tiddak stress. Stress akan meningkatkan asam lambung. Perbanyaklah ibadah kepada Allah, hal ini akan menambah pahala anda di bulan yang berkah ini. Sekian tips dari saya. Tips ini merupakan pengalaman pribadi dan konsultasi dengan dokter. Selamat mencoba dan InsyAllah puasa anda lancar. :kedip
  19. Bolehkah ibu hamil berpuasa di bulan ramadhan adalah salah satu pertanyaan yang sering muncul di kalangan masyarakat. Meskipun Ibu hamil telah diizinkan untuk tidak ikut berpuasa di bulan Ramadhan dan menggantinya di lain waktu atau membayarnya dengan fidyah, tapi masih ada saja wanita hamil yang ngotot ingin berpuasa. Beberapa alasan yang sering dikemukakan adalah mereka sanggup untuk melaksanakannya atau karena mereka merasa tidak nyaman jika harus menggantinya di lain waktu. Pada dasarnya, seorang wanita hamil diizinkan untuk melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Yang pastinya, kondisi kesehatannya memungkinkannya untuk berpuasa. Oleh karena itu sebelum berpuasa, dia harus memeriksakan dirinya dan kandungannya ke dokter kandungan. Jika dokter mengatakan bahwa dia dan janin yang dikandungannya sehat serta bisa melaksakan ibadah puasa, maka dia Ibu hamil berpuasa boleh saja. Selain itu, yang harus diperhatikan oleh Ibu hamil adalah dia harus tetap memenuhi kebutuhan nutrisinya dan janin yang dikandungnya syarat ibu hamil tetap mampu memenuhi kebutuhan nutrisi baik bagi dirinya maupun janin yang dikandungnya. Pemenuhan nutrisi selama berpuasa sebenarnya sama saja dengan saat tidak berpuasa, yang berbeda adalah waktu makannya yaitu saat sahur dan buka puasa. Seorang wanita hamil harus memenuhi sekitar sekitar 2.500 kalori setiap harinya, dengan komposisi karbohidrat sebanyak 308 gram atau 50 persen dari kebutuhan, protein sebanyak 103 gram atau 30 persen dari kebutuhan, dan lemak sebanyak 75 gram atau 10 hingga 20 persen dari kebutuhan. Untuk memenuhi semua itu, Ibu hamil harus mengkonsumsi empat sehat lima sempurna saat sahur dan buka puasa, yaitu nasi, lauk pauk, sayur, buah dan susu. Selain itu Ibu hamil juga harus memenuhi beberapa zat penting untuk kehamilan seperti asam folat, kalsium dan zat besi. Asam folat bisa didapatkan dari kacang-kacangan, kalsium dari ikan dan susu, dan zat besi dari sayuran. Meski demikian, ada beberapa keadaan dimana seorang wanita hamil disarankan untuk tidak ikut berpuasa, yaitu jika dia memiliki penyakit diabetes, hipertensi, gangguan pencernaan serta mengalami dehidrasi atau pendarahan.
  20. Sebelum bulan puasa ternyata Pemerintah membuat kebijakan yang kereeen, yaitu menaikan harga BBM, alhasil harga-harga barang merangkak naik. Memasuki bulan Puasa, harga barang tersebut naik semakin tinggi, tinggi, dan tinggi. Lalu Bagaimana cara bijak membelanjakan gaji bulanan terutama di saat bulan ramadan seperti ini? Bulan puasa identik dengan pengeluaran yang membengkak. Ada beberapa hal yang menyebabkan hal tersebut. A. Naiknya harga-harga sembako Bahkan tahun ini kenaikan harga BBM hanya beberapa minggu sebelum bulan puasa tiba, sehingga mendorong kenaikan biaya transportasi dan sembako. Ini adalah faktor yang tidak bisa dihindari. B. Konsumtif Esensi dari puasa adalah menahan nafsu, namun sering hanya diartikan menahan makan dan minum dari sahur hingga berbuka, bukan menahan nafsu konsumtif. Berbelanja dalam keadaan lapar pun memicu pembelian barang-barang yang harusnya tidak diperlukan. C. Pergeseran jam makan Logikanya, pergeseran jam makan dari sarapan menjadi sahur, makan siang jadi takjil berbuka, makan malam tetap, akan membuat lebih hemat karena biaya makan siang menjadi hanya biaya takjil. Tapi banyak orang yang merasa pengeluaran mereka lebih banyak, karena saat berbuka dan makan malam cenderung ingin makan apapun yang diinginkan. D. Undangan buka puasa bersama Banyaknya undangan buka puasa bersama di restoran atau di café bersama keluarga, kerabat dan teman pastinya juga membuat pengeluaran membengkak. Dari Poin B, C, dan D di atas sebenarnya masih dapat disiasati sehingga tidak ada minus pengeluaran di bulan puasa. Adapun Cara bijak membelanjakan gaji bulanan untuk menghadapi bulan puasa seperti ini adalah: 1. Mengetahui jumlah pengeluaran bulanan pada bulan-bulan sebelumnya Untuk rumah tangga dengan kebiasaan memasak, kenaikan harga-harga bahan makanan dapat dihitung sehingga diketahui seberapa besar perbedaan harganya. Jika terbiasa membeli makan atau dengan catering, tentu kenaikan harga lebih mudah diketahui. Setelah itu bisa dianggarkan untuk sebulan ke depan. TIPS: Bagilah pengeluaran sehari-hari –yang telah dianggarkan tadi-- (terutama makan dan transport) untuk seminggu dan pastikan hanya ada sejumlah uang untuk seminggu di dompet Anda, termasuk budget hiburan saat akhir minggu. Minggu selanjutnya barulah ambil uang lagi di ATM sejumlah yang sama dengan minggu lalu. Dengan demikian pengeluaran akan terkontrol. 2. Alokasikan Anggaran Untuk pengeluaran seperti belanja bulanan, belilah hanya yang benar-benar diperlukan, sesuai alokasi anggaran. Buat daftar belanja sebelum ke pasar/supermarket dan taati daftar tersebut. Jika berbelanja di supermarket usahakan untuk berbelanja setelah berbuka agar nafsu belanja tidak tinggi. 3. Bedakan antara keinginan dan kebutuhan Buka puasa bersama mungkin adalah kebutuhan untuk bersosialisasi, tapi perlukah di restoran/café di luar budget Anda? Anda dapat mengusulkan restoran yang lebih murah, atau jika tidak terlalu dekat dengan lingkungan pertemanan tersebut Anda selalu bisa memilih untuk tidak ikut. 4. Sisihkan juga di awal biaya-biaya lain yang harus dibayarkan Seperti saat ini yang kebetulan bulan puasa jatuh pada masa liburan sekolah dan masuk sekolah, sehingga akan ada biaya liburan anak dan biaya masuk sekolah.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy