Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'psikopat'.

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • CLINIC NGOBAS
    • Coronavirus
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • Ngocol
    • Ngocol Video
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • ABOUT NgobasTV
    • EVENT
    • WESER
    • LAPOR KOMANDAN

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Categories

  • Files
    • Website
    • Smartphone
  • Games
  • E-Book

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 4 results

  1. Mendengar kata 'psikopat', yang ada di benak banyak orang adalah penjahat berdarah dingin seperti Joker dalam film Batman atau Anton Chigurh dalam film No Country for Old Men. Selama ini gambaran masyarakat tentang psikopat bisa jadi berbeda-beda, namun ada satu hal yang sama, bahwa mereka sangat menakutkan. Psikopat tak memiliki empati atau simpati pada korbannya. Mereka tak bisa merasakan rasa bersalah dan bisa menyakiti siapapun dengan brutal. Inilah yang membuat psikopat menjadi menakutkan. Meski begitu, psikopat juga bisa terlihat sangat tenang, ramah, dan tidak mencurigakan. 1. Psikopat tak bisa mengenali rasa takut 2. Psikopat kecanduan dopamin 3. Psikopat bisa mengubah rasa empati mereka 4. Dunia bisnis sebenarnya dipenuhi psikopat 5. Psikopat suka ngetroll di internet 6. Psikopat yang baik 7. Psikopat memiliki indera penciuman yang buruk 8. Psikopat memiliki pola berbicara yang khusus Itulah beberapa fakta mengejutkan mengenai psikopat. Ketika Anda memiliki kenalan dengan ciri-ciri di atas, lebih baik berhati-hatilah. Meski ada juga kasus psikopat yang tak melakukan kejahatan seperti sudah dijelaskan sebelumnya. Namun sebaiknya selalu waspada dan berhati-hati.
  2. Motivasi sejumlah orang untuk tetap berteman dengan mantan pacar adalah ingin menjaga hubungan baik agar tidak tercipta kondisi aneh saat tiba-tiba bertemu di masa depan. Namun, hati-hati, keinginan untuk tetap menjaga komunikasi dengan mantan, bisa menjadi pertanda Anda memiliki pribadi psikopat yang tidak Anda sadari sebelumnya. Sebuah studi psikologi di Oakland University telah menemukan sebuah “garis” abu-abu antara mantan yang tetap berteman setelah putus. Niat tetap berteman dengan mantan menunjukkan, niat manipulatif, terkait dengan ingin mendapatkan informasi, uang, dan seks. Rangkaian motivasi tersebut menjadi karakter yang kompleks karena adanya permainan emosi naik turun. Kesimpulan tersebut berasal dari dua studi yang dipimpin oleh Justin Mogilski dan Dr Lisa Welling. Keduanya merekrut 861 partisipan untuk menguji teori mengenai adanya potensi psikopat pada orang-orang yang berteman dengan mantan. Mereka memberikan pertanyaan pada semua partisipan mengenai alasan hubungan yang kandas dan alasan mereka untuk tetap berteman. Selain itu, mereka juga di minta untuk mengisi kuesioner untuk mengungkapkan jenis kepribadian secara klinis, yang memang dirancang untuk menganalisa perilaku menyimpang pada manusia. Perilaku menyimpang mencakup, sifat narsistik, sifat mendominasi, dan psikopat. Nah, studi sebelumnya merangkum hasil bahwa mereka yang memiliki skor tinggi pada uji coba ini, cenderung memilih teman karena manfaat dan niat untuk menguntungkan diri sendiri. Oleh karena itu, berdasarkan uji coba tersebut, peneliti ingin mempelajari motivasi manusia yang tetap menjanga hubungan baik dengan mantan kekasih sebagai teman. Dalam jurnal Personality and Individual Differences, Mogilski dan Welling menuliskan, alasan tertinggi pria berteman dengan mantan pacar adalah akses hubungan seksual. Lalu, pria juga paling berpotensi tinggi mengubah pertemanan menjadi pemenuhan seksual. Kedua peneliti menyebut, alasan seksual merupakan motivasi praktis yang berujung pada potensi psikopat. Pasalnya, partisipan yang memilih seks sebagai alasan ditemukan mendapatkan skor tinggi pada penilaian perilaku penyimpang. "Gagalnya sebuah hubungan asmara memang mengakhiri romansa. Namun, studi ini memperlihatkan bahwa perubahan status mantan menjadi teman justru berpotensi pada semakin rusaknya hubungan dibandingkan putus cinta," jelas Mogilski. Setuju gak ndral? Sama riset ini?
  3. Sejak fitur kamera depan pada ponsel ditemukan, lalu fungsi dan kualitasnya makin berkembang, banyak orang yang gemar berfoto diri atau lebih sering disebut selfie. Selfie berikut ini tentunya semakin meraja lela di dunia eropa dan barat sana semenjak preisden Barrack Obama juga ikutan selfie. Tak kalah juga indonesia yang sudah menjadi barang biasa selfie di berbagai tempat. Biasanya, perempuan lebih gemar selfie ketimbang lelaki. Namun, tak dimungkiri, ada pula lelaki yang keranjingan dengan hal ini. Laki-laki juga ada jiga lho yang terlalu terobsesi dengan gaya mereka dihadapan kamera. Hal ini tentu membuat pria ini cenderung berkepribadian aneh jika terus menerus seperti ini. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ohio State University dan telah dipublikasikan di Journal of Personality and Individual Diffrences, pria yang gemar memotret diri adalah pria yang cenderung narsis dan berpotensi memiliki pribadi psikopat. Seperti yang dikutip dari kompas.com, Lewat survei online yang dilakukan terhadap 800 pria, penelitian ini melihat kebiasaan pria saat menggunakan media sosial. Pertanyaan ini dirancang untuk mengukur tingkat obsesi terhadap diri sendiri, potensi psikopati (semua hal buruk, contohnya kurang empati), dan obyektifikasi diri (melihat diri sendiri, dari sudut pandang ketampanan). Hasilnya, ada hubungan antara atribut kepribadian pria dan jumlah selfie yang diunggah. Peneliti mengatakan, pria yang mem-posting lebih banyak foto selfie memiliki tingkat narsis yang sangat tinggi dan bisa berujung pada perilaku psikopat. Kecenderungan tersebut terbilang parah pada lelaki yang gemar mengedit hasil foto agar terlihat lebih baik dari penampilan asli.
  4. Hobi mengambil foto diri sendiri alias foto selfie belakangan kerap dilakukan oleh sebagian pengguna smartphone di seluruh dunia. Sebuah hasil penelitian mengungkap bahwa hobi foto selfie ternyata akan memberikan dampak buruk, seperti psikopat. Dalam laporannya, para peneliti menyebutkan bahwa penggila foto selfie cenderung berkarakter ansi-sosial, kurang empati dan banyak hal lainnya. Bahkan, kecenderungan melakukan posting foto selfie terbukti banyak dilakukan pria yang aktif mengakses media sosial. Tingkat anti-sosial dan kurang empati yang ada di para pecandu selfie itu disebutkan masuk dalam kategori psikopat. Meski begitu, psikopat yang dimaksudkan para peneliti bukanlah psikopat yang mengarah pada pembunuhan atau tindakan sadis seperti yang biasa ditampilkan dalam tayangan film. Penelitian soal dampak kecanduan foto selfie terhadap psikologi itu dilakukan oleh peneliti dari Ohio State University. Penelitian melibatkan 800 pria berusia antara 18-40 tahun yang mengisi survei pada output media sosial dan kuesioner psikologis untuk membangun ciri-ciri kepribadian. "Tidak mengherankan bahwa pria yang mem-posting banyak foto selfie dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengedit hasil fotonya agar terlihat lebih narsis," kata Jesse Fox, Asisten Profesor Komunikasi. Lebih lanjut, Fox mengungkap kecenderungan pria yang lebih suka mem-posting foto selfie dirinya bisa dianggap lebih psikopat daripada yang mengedit fotonya sebelum di-posting. "Psikopati ditandai dengan impulsif. Mereka akan mengambil foto dan segera menempatkannya secara online. Mereka ingin melihat dirinya sendiri tanpa menghabiskan waktu untuk mengubah fotonya," ungkap Fox lagi. Hasil penelitian itu juga menyebutkan bahwa sifat ini akan menyebabkan permasalahan lebih lanjut. Para peneliti menyarankan untuk mengobati kecanduan selfie sebelum berdampak lebih buruk. "Kita tahu bahwa objektifikasi diri dapat menyebabkan hal-hal buruk, seperti depresi dan gangguan nafsu makan pada wanita," demikian isi kesimpulan dalam laporan penelitian tersebut.
×
×
  • Create New...