Jump to content
  • Kemerdekaan indonesia 74
  • Kemerdekaan indonesia 74
  • Kemerdekaan indonesia 74

Search the Community

Showing results for tags 'psikolog'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

There are no results to display.

There are no results to display.

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 3 results

  1. Saat Anda mendengar kata “psikolog”, apa yang terbayang di kepala Anda? Seseorang yang berprofesi mendengarkan keluhan orang lain dan mencoba menolongnya keluar dari masalah jiwa. Pendapat itu tidak sepenuhnya salah, karena psikolog memang profesi yang berhubungan dengan mental seseorang. Definisi yang sering digunakan untuk psikolog adalah seseorang yang ahli dalam praktik psikologi, yaitu bidang ilmu yang mempelajari tingkah laku dan proses mental. Cabang dari ilmu psikologi ini lumayan banyak, misalnya psikolog klinis, psikolog pendidikan, dan psikolog industri. Tetapi kata “psikolog” lebih sering digunakan untuk menyebut ahli psikologi klinis, yaitu ahli psikologi di bidang kesehatan mental. Apa Sih Perbedaan antara Psikolog dan Psikiater? Banyak orang yang sulit membedakan profesi psikolog dan psikiater. Bahkan kedua jenis profesi ini dianggap sama karena keduanya bekerja untuk meringankan depresi dan stress mental. Tetapi tunggu dulu, psikolog dan psikiater adalah dua profesi yang berbeda, lho. Ilmu psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku manusia dalam hubungannya dengan lingkungan, sementara ilmu psikiatri merupakan cabang ilmu kedokteran yang mempelajari dan menangani gangguan mental, meliputi gangguan afektif, prilaku, kognitif, dan perseptual. Sehingga tidak heran para psikiater merupakan dokter medis yang dapat memberikan resep sebagai bagian dari pengobatan mereka, sementara psikolog lebih cenderung mengunakan sistem konseling untuk membantu pasien mereka. Perbedaan lainnya? Pendidikan dan pelatihannya juga berbeda. Psikolog adalah mereka yang lulusan S1 Psikologi, kemudian melanjutkan pendidikan di magister profesi psikologi yang setara S2 untuk dapat disebut sebagai psikolog. Sementara psikiater adalah lulusan fakultas kedokteran yang melanjutkan pendidikannya di spesialisasi psikiatri (spesialis kedokteran jiwa). Bila Anda sudah membulatkan tekad untuk menjadi psikolog klinis yang berurusan dengan orang-orang bermasalah dalam hal mental, maka persiapkan diri Anda dengan baik. Selain menyelesaikan pendidikan di bidang psikologi, baiknya Anda memiliki empat keterampilan ini: 1. Memiliki Kemampuan Komunikasi Mampu berkomunikasi dengan baik merupakan keterampilan penting menjadi psikolog. Anda harus bisa memberikan masukan pada pasien tanpa terkesan menggurui dan juga tahu jenis komunikasi yang efektif untuk setiap pasien yang Anda hadapi. Misalnya saja salah satu pasien Anda bertipe pemarah dan suka ngomel, tentu saja Anda harus punya strategi menghadapinya. Jangan sampai cara Anda berkomunikasi membuatnya lebih emosi dan akibatnya konseling Anda gagal total. 2. Bisa Menjaga Rahasia Pastinya Anda akan mendengarkan semua keluhan dan rahasia para pasien Anda karena mereka mempercayai Anda. Tak heran menjadi psikolog berarti Anda harus bisa menjaga rahasia para pasien sebaik mungkin. Memiliki skill ini menjadi hal penting karena berhubungan dengan kredibilitas dan kode etik profesi yang harus dijalankan. Jadi kalau Anda sulit memegang rahasia, baiknya Anda mencari profesi lain yang lebih cocok. 3. Harus Memiliki Kesabaran Kalau Anda bertipe sabar dan tidak cepat emosi, mungkin Anda cocok untuk berkarir sebagai psikolog. Pasien yang harus Anda konseling biasanya pasien bermasalah yang butuh kesabaran Anda supaya dia bisa sembuh. Belum lagi Anda akan menemukan aneka masalah yang aneh-aneh dan sering tidak bisa diterima akal sehat Anda. Tetapi di situlah seninya. 4. Suka Mendengar Menjadi psikolog berarti Anda lebih suka mendengar ketimbang berbicara panjang lebar. Anda harus mendengar keluh kesah pasien Anda tanpa memotong dan berkomentar apa pun. Mendengar merupakan salah satu cara konseling yang dipercaya bisa mengurangi beban mental seseorang. Dengan didengarkan, seseorang merasa lebih plong dan merasa bebannya agak berkurang. Menjadi psikolog bukan saja menolong orang yang sedang bermasalah dalam hal mental, tetapi juga jadi cara Anda belajar tentang kehidupan dan orang lain.
  2. Kondisi Jakarta yang diguncang bom ternyata membuat banyak spekulasi dan informasi yang beredar. Dari adanya ancaman bom di beberapa tempat lain, hingga adanya tersangka bermotor yang masih dalam pengejaran beberapa waktu lalu. "Jangan langsung percaya dengan semua berita yang belum dibuktikan kebenarannya," kata psikolog Anna Surti Ariani kepada CNNindonesia.com, Kamis (14/1). Nina, panggilan akrab Anna, mengungkapkan bahwa sebenarnya penyebaran informasi yang belum jelas kebenarannya, ini akan memicu kecemasan banyak orang. Dan yang lebih buruknya, hal ini juga akan memicu ketakutan orang. Bisa jadi beragam informasi yang diberikan secara viral ini, punya maksud positif, yaitu agar berhati-hati. Hanya saja, Nina mengungkapkan yang sebaliknya. "Kalau belum terbukti kebenarannya, hanya broadcast saja, info ini hanyalah info yang tidak berguna,” tegasnya. Lebih lanjut dia mengungkapkan bahwa hal ini juga akan menggiring seseorang mengalami trauma. "Trauma bukan hanya karena dia mengalami, ada di lokasi kejadian saat itu, luka, atau melihat kejadian saja,” ucap Nina. "Tapi sebenarnya melihat, mendengar banyak info dari media sosial atau berita yang belum tentu benar tentang suatu kejadian itu juga akan menimbulkan trauma tersendiri." Hal ini, dinilai Nina, mungkin terjadi karena sekarang ini banyak orang ingin punya nilai kalau mereka punya info yang terdepan dan jadi yang pertama. Selain itu, keingintahuan akan sesuatu yang besar dan ingin berbagi kepada orang lain, juga menjadi alasan kalau masyarakat jadi ingin mengunggah atau memberi banyak info. Hanya saja, mereka sendiri tak bisa memberikan informasi yang terverifikasi kebenarannya. Berita yang tak jelas kebenarannya atau hoax ini pada akhirnya hanya akan membuat kecemasan berlebihan. Kecemasan ini akan membuat orang akhirnya tak bisa berpikir jernih, mengambil sikap yang tenang, dan justru takut. "Rasa takut pasti ada, tapi yang dibutuhkan sekarang bukanlah takut dan cemas. Yang kita harus lakukan adalah waspada," ucapnya. "Kita harus paham, bahwa memang ada kejadian menakutkan ini, tapi kita juga harus bijak untuk menyaring setiap info yang kita terima." Alih-alih menyebarkan berita yang menakutkan, Nina sendiri lebih mengapresiasi penyaluran informasi yang lebih positif. Misalnya, informasi soal lalu lintas dan informasi jalanan yang aman dilalui, informasi jalan yang bisa dilewati, sampai informasi kendaraan umum yang bisa digunakan dengan gratis.
  3. Lingkungan anak bukan hanya keluarga. Ada lingkungan sekolah, lingkungan bermain di sekitar rumah, dan kelak saat dewasa ada lingkungan kerja. Dunia di luar rumah terkadang keras, karena penuh persaingan. Nah, bagaimana agar anak tumbuh sebagai sosok yang 'tahan banting'? "Untuk menciptakan anak yang tangguh adalah dengan memberi kesempatan anak untuk belajar mengambil risiko. Orang tua sering kali tergoda mengambil peran anak karena mereka tidak mau anaknya sakit yang merupakan risiko dari apa yang dihadapinya," ujar psikolog anak dan remaja, Ratuh Zulhaqqi. Terlalu membatasi anak, memberikan target-target orang tua, dan mendidik anak dengan keras ala tiger mom, menurut Ratih bukanlah solusi untuk membentuk pribadi tangguh. Pun dengan orang tua yang terlalu memanjakan anak dengan memenuhi semua yang anak mau, ketangguhan tidak akan terpupuk. "Anak jatuh nggak apa-apa. Jadi dia bisa merasakan sakit. Dia tahu itu risikonya, sehingga nantinya kalau lari-lari dia akan lebih berhati-hati. Jadi sebaiknya kembalikan kesempatan kepada anak untuk mengambil risiko. Jangan hanya di-support saat melakukan hal positif tapi 'dibuang' saat melakukan hal negatif," lanjut perempuan yang juga jadi staf pengajar di Universitas Paramadina. Psikolog anak dan keluarga, Roslina Verauli MPsi menambahkan daya tahan anak bisa dibangkitkan dengan menyentuh perasaan paling dasarnya, yakni perasaan bahwa dia dicintai dan disayangi oleh orang tuanya. Hal ini akan menumbuhkan kepercayaan diri. "Lalu ditumbuhkan perasaan penghayatan diri yang positif. Jadi I am, I want, I can-nya semua positif. Misal menanamkan I am a good girl. Pastikan anak bisa melakukan hal-hal sederhana untuk dirinya sendiri. Misal di usia 6 tahun anak bisa belajar memakai baju sendiri," ujar perempuan yang akrab disapa Vera ini. "Jangan berlebihan, baju dipakaikan, sepatu dipakaikan, padahal anak sudah besar. Itu yang bikin anak lemah. Percayalah, anak bisa melakukan sesuatu di usianya," imbuhnya. Selain itu, jangan pula membandingkan anak dengan orang-orang di sekitarnya dan menekannya untuk selalu menjadi yang normor satu. Yang lebih baik adalah membandingkan anak dengan diri anak itu sendiri. "Cobalah untuk mendorong melakukan yang terbaik dengan membandingkan diri anak hari ini dengan kemarin. Kita build dia. Kalau build dengan cara membandingka dengan orang lain, pasti sedihlah," sambung Vera.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy