Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'planet'.

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • CLINIC NGOBAS
    • Coronavirus
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • Ngocol
    • Ngocol Video
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • ABOUT NgobasTV
    • EVENT
    • WESER
    • LAPOR KOMANDAN

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Categories

  • Files
    • Website
    • Smartphone
  • Games
  • E-Book

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 16 results

  1. Salah seorang ilmuwan yang bertanggungjawab atas demosi Pluto dan tidak lagi dianggap sebagai planet dalam sistem tata surya kita, kemungkinan telah menemukan pengganti planet itu. Dua astronom dari California Institute of Technology, Mike Brown dan Konstantin Batygin telah mengolah sejumlah angka dan mengatakan mereka yakin telah menemukan sebuah planet raksasa yang letaknya terlalu jauh untuk bisa dijangkau oleh gravitasi matahari. Para ilmuwan mengatakan mereka belum melihat planet itu tetapi telah menemukan bahwa ada sesuatu yang mereka sebut “planet nyentrik yang jauh” kini sedang mendorong sekelompok kecil obyek di dalam tata surya. Para ilmuwan tahu – akibat dampak gravitasinya – planet ini sangat besar, sedikitnya 10 kali lebih besar dari bumi atau hampir sebesar Neptunus. Planet ini belum diberi nama tetapi dikatakan bahwa planet itu bisa dilihat lewat teleskop dalam beberapa tahun mendatang.
  2. Misi penjelajah ke planet Mars ala astronot NASA coba dihadirkan dalam bentuk program realitas virtual (virtual reality/VR), yang diberi nama Mars 2030. Program yang menghadirkan pengalaman bak astronot menjelajah daratan planet merah ini merupakan hasil kerja sama NASA dengan Space Systems Laboratory MIT dan beberapa firma media multi-platform seperti Fusion Media. NASA juga akan mengajak publik untuk bisa merasakan pengalaman virtual di planet merah, yang biasanya hanya dihadirkan untuk kepentingan simulasi misi eksplorasi ini. “Selain memiliki fungsi praktis sebagai bentuk latihan, virtual reality menawarkan metode yang menarik untuk membagikan hasil pekerjaan yang telah dilakukan untuk merancang misi manusia yang berkelanjutan serta untuk menginspirasi generasi berikutnya sebagai penjelajah luar angkasa,” kata Jason Crusan, Director Advanced Exploration Systems Division NASA. Di awal tahun 2015, ilmuwan NASA juga telah merilis perangkat lunak bernama Onsight sebagai salah satu fondasi bagi program VR yang ingin dikembangkan ke depan. Onsight merupakan hasil kolaborasi dengan Hololens Microsoft. Pengguna bisa merasakan sensasi menjelajah lingkungan virtual 3D planet berbatu yang menyimpan sejuta misteri ini dari data-data yang diperoleh robot penjelajah Mars, Curiosity. Rencananya, program ini akan dirilis pada kuartal pertama tahun 2016 dan tersedia di iTunes dan Google Play bagi para pengguna iOS dan Android. Selain itu, program ini juga akan diberikan secara gratis bagi para pemilik Google Cardboard, Samsung VR Gear, dan Oculus Rift. “Kami bersyukur untuk kesempatan menghadirkan pengalaman virtual dari FUSION, sedekat mungkin dengan realita yang kita ketahui berdasarkan hasil studi arsitektur permukaan Mars yang telah dilakukan selama bertahun-tahun,” tambahnya. Dikabarkan, NASA akan memperkenalkan Mars 2030 kepada publik di Texas pada bulan Maret 2016 mendatang.
  3. Meski produksi bintang telah melambat, ada cukup helium dan hidrogen tersisa untuk menjamin pembentukan bintang-bintang dan planet "dalam waktu yang sangat panjang." Sembilan puluh dua persen planet-planet yang berpotensi seperti Bumi belum lahir, menurut badan antariksa Amerika Serikat, NASA. Menggunakan data dari Teleskop Antariksa Hubble dan observatorium Kepler, para astronom dapat melihat "jauh ke masa lalu," sekitar 10 miliar tahun yang lampau, ketika bintang-bintang lahir dengan cepat. Untuk meletakkannya dalam perspektif, sistem tata surya kita berusia sekitar 4,6 miliar tahun. Mereka mengatakan bahwa meski produksi bintang telah melambat, ada cukup helium dan hidrogen tersisa untuk menjamin pembentukan bintang-bintang dan planet "dalam waktu yang sangat panjang." "Ada cukup materi yang tersisa (setelah 'big bang') untuk memproduksi bahkan lebih banyak planet di masa yang akan datang, di galaksi Bima Sakti dan di luar itu," ujar salah satu penyelidik NASA, Molly Peeples, dari Institut Ilmu Teleskop Antariksa (STScl) di Baltimore, Maryland, dalam sebuah pernyataan tertulis. Dan waktu berpihak pada lahirnya bintang-bintang dan planet-planet baru. NASA mengatakan bintang terakhir di alam semesta ini kemungkinan akan mati dalam 100 triliun tahun. Para astronom yakin galaksi Bima Sakti yang kita diamin ini memiliki satu miliar planet berukuran Bumi, dengan sejumlah diantaranya kemungkinan berbatu. Berapa banyak yang ada di "Zona Goldilocks" -- jarak sempurna dari bintang mereka untuk memungkinkan pembentukan air cair, tidak diketahui. Untuk membayangkan jumlah planet berpotensi seperti Bumi di alam semesta ini, kalikan saja jumlahnya dengan 100 miliar, atau jumlah galaksi yang diamati. Penelitian ini terbit dalam Monthly Notices of the Royal Astronomical Society edisi 20 Oktober.
  4. Pada 2006, sebuah pertemuan yang diadakan oleh International Astronomical Union di Praha telah memutuskan bahwa Pluto tak lagi menjadi jajaran planet dalam tata surya. Sebuah pesawat luar angkasa milik NASA bernama New Horizon pun diterbangkan ke planet tersebut guna menyelidiki berbagai rahasia milik Pluto. Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih sembilan tahun, New Horizon akhirnya tiba di kawasan dengan jarak terdekat dari Pluto. New Horizons tiba di jarak sekira 10.000 km dari Pluto atau 27.000 km dari bulan utama milik planet tersebut, bernama Charon. New Horizons diterbangkan ke Pluto dengan tujuan untuk meneliti secara detail hubungan geologi dan kimia antara Pluto dengan bulan-bulan di sekelilingnya. Alan Stern, pemimpin penelitian New Horizon mengungkap jika Pluto nyatanya terletak lebih jauh dari jangkauan Tata Surya. "Pluto, Eris dan sahabat mereka adalah bagian dari wilayah yang belum dijelajahi oleh sebagian besar lingkungan planet kita," ujarnya. Sebagai pemimpin tim peneliti, Stern juga mengharapkan hal besar lain akan terungkap dari Pluto selama misi ini berlangsung. "Ada kemungkinan terdapat cincin yang melingkari Pluto, ada pula gunung es berapi seperti yang ditemukan oleh para astronom di bulan milik Neptunus, Triton. Tak ketinggalan, interaksi tak terduga yang mungkin terjadi antara Pluto dan Charon,” tambah Stern. Setelah Pluto, New Horizons juga akan mengeksplorasi zona yang belum dipetakan dalam Tata surya kita. Salah satunya ialah gurun beku yang terdapat di sekira Kuiper Belt Objects, wilayah tersebut merupakan kawasan daerah senja di mana tidak ada pesawat ruang angkasa yang pernah melintas sebelumnya.
  5. Foto-foto terkait Bumi selalu menggambarkan bahwa planet ini memiliki warna biru yang dominan. Namun, tangkapan foto terbaru oleh satelit European Space Agency (ESA) menunjukkan fakta yang berbeda. Tangkapan satelit ESA menampilkan bahwa Bumi memiliki warna pink. Foto planet yang dihuni manusia tersebut diabadikan oleh Spinning Enhanced Visible and Infrared Image (SEVIRI), yang berada di satelit cuaca MSG-4. Foto yang memperlihatkan gambar Bumi dengan warna pink tersebut ditangkap oleh Satelit MSG-4. Satelit ini pernah diluncurkan pada 15 Juli 2015. Tidak hanya menampakan warna pink, foto juga menampilkan warna hijau serta awan badai berwarna putih. ESA mengungkapkan, foto Bumi ini ditangkap pada 4 Agustus dan menunjukkan tanda 'midlatitude cylone', yang menyebabkan hujan di kawasan tertentu. Setelah meluncur dari French Guiana pada 15 Juli, SEVIRI mengirimkan gambar dari planet Bumi setiap 15 menit. Kamera menangkap objek Bumi dalam 12 gelombang cahaya (wavelengths) yang berbeda-beda. "Cuaca terus berubah sehingga ramalan cuaca akurat sangat penting untuk pertanian yang efektif, industri, dan transportasi," kata juru bicara ESA. Ia lebih lanjut mengatakan, prakiraan cuaca dapat menyelamatkan nyawa melalui peringatan ekstrem seperti badai, hujan salju, atau banjir.
  6. Planet Pluto dan bulannya Charon, yang diambil oleh pesawat antariksa nirawak New Horison milik NASA. Pesawat antariksa nirawak New Horizons milik NASA sebentar lagi bakal berada di lintasan terdekatnya dengan Pluto. Penjelajahan ini dianggap sangat fenomenal karena perjalanan New Horizons menuju Pluto sangat panjang, yakni sembilan setengah tahun. Ia juga menjadi pesawat antariksa pertama yang memelajari Pluto. 1. Di mana letak Pluto? Pluto terletak sekitar 5,8 miliar kilometer dari Matahari. Ia bersemayam di Sabuk Kuiper. Sabuk Kuiper atau Kuiper Belt adalah area yang melampaui Neptunus di mana ribuan objek kecil dan dingin mengorbit. Walau begitu, para ahli astronomi meyakini Pluto tidak berada di ujung sistem tata surya karena mereka menganggap masih ada ribuan 'dunia' lain di luar Pluto di dalam Sabuk Kuiper. 2. Siapa penemu Pluto? Awalnya Pluto diberi nama Planet X oleh Percival Lowell. Lowell adalah pendiri Lowell Observatory di Flagstaff, Arizona. Kala itu, ia yakin bahwa memang ada sebuah planet yang lebih jauh dari Neptunus. Sayang, ia meninggal dunia pada 1916 tanpa melanjutkan misi penemuan Planet X. Astronom muda, Clyde Tombaugh dari Kansas, direkrut oleh observatorium Lowell untuk melanjutkan penemuan Planet X dan berhasil menemukannya pada 18 Februari 1930. Asal-usul Nama, Ukuran, dan Bulan di Pluto 3. Siapa yang memberi nama "Pluto"? Seorang gadis cilik berusia 11 tahun, Venetia Burney asal Oxford, Inggris. Ia yang menyarankan nama Planet X berganti jadi Pluto. Venetia sudah meninggal pada 2009 lalu di usia 91 tahun. 4. Berapa ukuran Pluto? Sejak awal, pimpinan investigasi New Horizons, Alan Stern menyatakan Pluto memiliki ukuran yang sama seperti Amerika Serikat. New Horizons baru-baru ini menghasilkan data baru soal ukuran Pluto, yakni diameternya mencapai 1.473 mil atau setara 2.370 kilometer. Tentu ukuran ini lebih besar dari perkiraan sebelumnya. Cuaca, Gravitasi, dan Warna Pluto 6. Bagaimana cuaca di Pluto? Sangat dingin. Suhu di Pluto diyakini NASA berkisar antara -190 sampai -204 derajat Celsius. Sementara beberapa waktu lalu, tim dari Royal Astronomical Society mengatakan, Pluto yang penuh dengan bebatuan dan es suhunya bisa mencapai -230 derajat Celsius. Namun, jika kita masuk atmosfernya, akan terasa lebih hangat. 7. Apakah Pluto punya gaya gravitasi? Tim ilmuwan NASA mengatakan, seseorang yang memiliki berat badan 45 kilogram di Bumi, berat badannya akan menjadi sekitar 3,1 kilogram jika ia berjalan-jalan di Pluto. 8. Apa warna Pluto? New Horizons sudah membuktikan warna Pluto, yaitu merah berpasir. Sebelumnya, banyak yang menduga dan menggambarkan Pluto sebagai planet berwarna kelabu atau biru karena letaknya paling jauh dari Matahari. 5. Apakah Pluto memiliki bulan? Bulan Pluto berjumlah lima. Mereka adalah Charon, Nix, Hydra, Kerberos, dan Styx. Diketahui Charon dikenal sebagai bulan terbesar di antara empat lainnya karena ukurannya tak beda jauh dengan Pluto sendiri. Kontroversi Gelar Planet untuk Pluto 9. Apakah Pluto bisa dilihat dengan mata telanjang? Seperti yang apa dilakukan oleh Tombaugh, tentu Pluto bisa disaksikan oleh mata manusia. Namun, tentunya perlu menggunakan bantuan teleskop yang bagus dan kuat. 10. Apakah Pluto dianggap sebuah planet? Sejak ditemukan oleh Tombaugh, masyarakat dunia sepakat bahwa sistem tata surya diisi oleh sembilan planet. Pada 2006, sebuah kelompok yang memberi nama untuk planet-planet, International Astronomical Union (IAU) memberi beberapa klasifikasi mengenai benda langit yang bisa dikategorikan sebagai planet. IAU memutuskan Pluto adalah bukan sebuah planet. IAU lalu membuat kategori sendiri untuk planet mungil seperti Pluto, karena nyatanya astronom menemukan banyak objek di antariksa yang ukurannya seperti Pluto. Mereka membuat kategori "dwarf planets" atau planet kerdil. Sejauh ini, ada lima planet kerdil yang diakui IAU, yaitu Pluto, Ceres, Eris, Makemake, dan Haumea. Seakan ingin kembali memasukan Pluto di deretan planet utama tata surya, pihak NASA menyatakan akan tetap menunggu hasil observasi dari New Horizons.
  7. Sehari sebelum pesawat New Horizons melakukan penerbangan bersejarah melintasi Pluto, para pakar mengumumkan Senin, pesawat NASA tersebut telah dapat menetapkan ukuran Pluto. Pengukuran oleh pesawat yang akan melintasi Pluto ini mengindikasikan bahwa radius Pluto terbentang sepanjang 1.185 kilometer, dengan marjin error +/- 6 mil (10 km). Ini 32 hingga 48 kilometer lebih besar dibanding perkiraan semula. Kepala tim peneliti Alan Stern mengatakan ini berarti Pluto memiliki kepadatan lebih rendah daripada proyeksi sebelumnya, yang dapat berarti interior Pluto mengandung lebih banyak es. Perjalanan New Horizons sepanjang hampir 5 miliar kilometer selama 9 tahun akan mencapai puncaknya, Selasa, dengan pesawat mencapai jarak 11.000 kilometer dari Pluto. Menurut NASA, kemungkinan gagal hanya 0,0001%, seperti bila ada pesawat menabrak puing luar angkasa.
  8. Istilah Bumi super merujuk pada massa planet yang lebih besar dari massa Bumi kita. Sampai dengan 20 tahun lalu, Tata Surya merupakan satu-satunya contoh sistem keplanetan di sebuah bintang. Tidak ada model lain yang bisa dijadikan pembanding. Jadi jika ada sebuah sistem keplanetan aka planet di bintang lain, maka tentunya akan memiliki model yang tidak jauh berbeda dari Tata Surya. Artinya, planet kebumian aka planet batuan yang kecil akan terbentuk di dekat bintang induk seperti halnya merkurius, Venus dan Bumi sedangkan planet gas raksasa aan terbentuk jauh dari bintang induk seperti halnya Jupiter, Saturnus dan planet es akan berada lebih jauh lagi. tentunya tak mengherankan karena temperatur sebuah sistem keplanetan akan semakin rendah jika semakin jauh dari bintang. Pada kenyataannya, penemuan planet di bintang lain aka extrasolar planet menyajikan khazanah yang baru dan berbeda bagi para astronom. Tata Surya bukan lagi satu-satunya sistem dan keberadaan planet umum terbentuk di bintang lain. Planet tidak hanya menjadi milik bintang serupa Matahari saja dan di bintang tunggal saja, planet juga terbentuk dan bertahan di sistem bintang yang lebih dari satu. Penemuan planet pertama dalam dunia extrasolar mengejutkan karena planet tersebut ditemukan di bintang yang sudah mengakhiri masa hidupnya. Planet pada pulsar. Kebangkitan extrasolar planet terjadi ketika planet pertama ditemukan di bintang serupa Matahari. Menariknya, planet tersebut merupakan planet gas raksasa yang berada sangat dekat dengan bintang induknya. Bahkan lebih dekat dari jarak Merkurius. Karena itu planet serupa Jupiter yang berada dekat bintang induknya kemudian disebut planet Jupiter panas. Ada lagi yang menarik dalam dunia exoplanet. Para astronom juga menemukan planet-planet yang seukuran Bumi maupun yang serupa Bumi. Salah satu “jenis” planet itu adalah Bumi super. Istilah Bumi super merujuk pada massa planet yang lebih besar dari massa Bumi kita, tapi masih jauh lebih kecil daripada massa planet-planet gas seperti Uranus dan Neptunus, dan tidak berkaitan dengan keadaan permukaan planet apalagi dengan kemungkinan apakah planet itu laik huni atau tidak. Planet-planet yang digolongkan sebagai planet Bumi super adalah planet yang massanya lebih besar dari Bumi sampai dengan 10 massa Bumi. Dari perjalanan penemuan exoplanet, Bumi super bukanlah planet yang jarang ditemukan di sistem extrasolar planet. Para astronom menemukan 30 – 50 % bintang serupa Matahari memiliki planet Bumi super panas, yakni planet Bumi super yang mengorbit sangat dekat dengan bintang induknya, Ada juga planet Bumi super es, yakni planet batuan dengan atmosfer tebal yang terbentuk jauh dari bintang dan kemudian bermigrasi ke area yang lebih dekat ke bintang. Uniknya, jenis planet yang satu ini tidak ditemukan di Tata Surya. Mengapa demikian, masih menjadi perdebatan dan penelitian dari para astronom. Planet Bumi super panas Pembentukan planet Bumi super panas masih menjadi misteri bagi para astronom. Ada dua teori yang dikemukakan para astronom. Teori pertama menyebutkan kalau planet Bumi super panas terbentuk sangat cepat di dekat bintang. Materi planet Bumi super berasal dari puing-puing piringan yang berada di sekitar bintang yang baru saja terbentuk. Untuk itu dibutuhkan massa yang sangat besar di dekat bintang untuk bisa membentuk planet Bumi super di dekat bintang. Teori kedua meyakini bahwa planet Bumi super terbentuk jauh dari bintang induknya dan kemudian bermigrasi ke dekat bintang induk. Dalam hal ini planet Bumi super terbentuk di area yang dingin yang disebut garis beku, batas dimana air dan senyawa kimia lainnya yang mengandung hidrogen berkondensasi menjadi es. Bagaimana dengan planet Bumi super di Tata Surya? Yang kita ketahui, tidak ada planet bBumi super di Tata Surya. Tapi apakah pernah ada planet serupa itu di masa lalu? Menelusuri kembali jejak masa lalu Tata Surya pun tidak mudah. Akan tetapi berdasarkan simulasi yang dilakukan para astronom, ada 2 model yang hampir mirip yang diajukan sebagai kemungkinan mengapa planet Bumi super tidak ada di Tata Surya. Kedua model tersebut melibatkan Jupiter yang bermigrasi menuju Matahari. Jupiter si Pembawa Masalah Pemodelan yang dilakukan Sean Raymond, dari Laboratoire d’Astrophysique de Bordeaux, Perancis menunjukan kalau planet gas raksasa seperti Jupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus lebih cepat terbentuk. Model Grand Tack aka Taktik Akbar yang ia gunakan menunjukan kalau di masa lalu Jupiter bermigrasi lebih dekat ke Matahari sampai di area orbit Mars sebelum bergerak mundur ke lokasinya sekarang. Dalam model Taktik Akbar, di masa awal pembentukan Tata Surya, Jupiter yang bermigrasi bertindak seperti sekop gravitasi yang mendorong setengah materi debu dan batuan di depannya dan menghamburkan sisa materi di belakangnya. Perjalanan Jupiter nan unik ini yang menyebabkan hanya ada sedikit materi di orbit Mars untuk membentuk planet merah tersebut. Dan ketika Jupiter bergerak mundur ke bagian luar garis beku, ia kembali menjadi sekop yang melontarkan asteroid es dan puing-puing lainnya ke bagian dalam Tata Surya. Diduga pergerakan Jupiter inilah yang menghantarkan air ke Bumi dan planet lainnya. Kunjungan Jupiter ke bagian dalam Tata Surya menjadi penyebab mengapa Bumi tidak memiliki sepupu seperti bumi super. Dari pemodelan, planet gas raksasa seperti Jupiter inilah yang menghalangi migrasi planet Bumi super untuk bermigrasi ke dekat bintang. Dalam hal Tata Surya, jika bukan karena Jupiter, planet Uranus, Neptunus dan bahkan Saturnus bisa bermigrasi ke dekat Matahari dan berakhir sebagai planet Bumi super. Lagi – Lagi Jupiter Pemodelan lainnya dan yang terbaru dilakukan oleh Konstantin Batygin, astronom dari Caltech dan Gregory Laughlin dari UC Santa Cruz. Hasil perhitungan dan simulasi keduanya memberikan gambaran kemungkinan lain bagi sejarah Tata Surya, khususnya mengapa planet kebumian memiliki massa yang lebih rendah dibanding planet yang mengitari bintang lain serupa Matahari. Hasil simulasi menunjukan Tata Surya pernah memiliki planet Bumi super sebagai planet generasi pertama yang terbentuk di sistem yang mengeliling Matahari ini. Sebelum planet Merkurius, Venus, Bumi dan Mars terbentuk, area bagian dalam Tata Surya pernah dihuni oleh sejumlah planet Bumi super. Planet-planet Bumi super ini tidak bertahan lama, hancur dan runtuh ke Matahari miliaran tahun lalu ketika Jupiter masih rajin mondar mandir ke area dekat matahari dan kemudian menjauh ke area luar. Model yang dibangun oleh Batygin dan Laughlin juga menggabungkan skenario Taktik Akbar yang juga digunakan oleh Sean Raymond. Dalam pemodelan ini, planet Bumi super diyakini sebagai planet generasi pertama yang terbentuk di sekitar Matahari. Dan Jupiter lagi-lagi menjadi penyebab utama menghilangnya Bumi super dan berkurangnya materi pembentuk planet kebumian. Ketika Tata Surya baru terbentuk, selama beberapa juta tahun Jupiter sangatlah masif dan terus menerus bermigrasi menuju Matahari dan kemudian mundur ke area yang dingin. Selama perjalanan migrasinya, pengaruh gravitasi dari Jupiter menarik semua planetesimal yang berpapasan dengannya dan membawa mereka menuju Matahari. Interaksi gravitasi antara Jupiter dan planetesimal tersebut menyebabkan orbit planetesimal menjadi sangat lonjong. Implikasinya, terjadi tabrakan antara planetesimal dengan obyek lain setidaknya sekali dalam 200 tahun. Perjalanan migrasi Jupiter inilah yang menjadi awal dari kehancuran planet Bumi super. Simulasi untuk mengetahui nasib planet Bumi super di masa Jupiter bermigrasi menunjukan planet Bumi super tidak akan bertahan. Ketika Jupiter bermigrasi, planetesimal-planetesimal yang orbitnya sudah berubah tersebut akan menggiring Bumi super yang ada dalam sistem menuju Matahari dan hancur dalam periode 20000 tahun. Proses kehancuran itu hanya akan menyisakan 10 % materi yang kemudian membentuk Merkurius, Venus, Bumi dan Mars.
  9. Pesawat Luar Angkasa Kepler Teleskop Kepler yang diluncurkan oleh Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), terus memotret foto atau gambar di dalam atau luar tata surya. Sekaligus mencari planet yang mirip dengan Bumi. Saat diluncurkan enam tahun yang lalu atau tepatnya 6 Maret 2009, telekop Kepler datang lebih banyak memindai citra gambar galaksi di tata surya, namun belakangan NASA tertarik mencari planet di luar tata surya (exoplanet) yang masuk kategori 'layak huni'. Kategori pendekatan exoplanet ini adalah memiliki atmosfer yang menghasilkan air dan pada akhirnya mampu menjalankan kehidupan organisme. Dalam enam tahun menjalankan tugasnya, teleskop Kepler sejauh ini sudah mampu menemukan setidaknya lebih dari 1.000 exoplanet yang layak huni. Namun demikian, NASA tentu perlu melakukan penjelajahan lebih jauh dan mendalam mengenai hasil temuannya ini serta kemungkinan exoplanet tersebut bisa dihuni oleh manusia di masa depan. Teleskop Kepler sendiri sudah mengorbit dua kali Kepler dan K2. Salah satu kelebihan yang ada di teleskop ini, sensor cahaya kuat mondo yang digunakan untuk menemukan lokasi planet seukuran Bumi yang mungkin masuk kategori di zona layak huni.
  10. Keberagaman ragam hayati di Bumi mulai mengalami penurunan tajam. Hal ini membuat manusia butuh planet baru untuk bisa mengatasi masalah ini. “Secara keseluruhan, ragam hayati di Bumi turun 28% sejak 1970. Parahnya, di negara dengan pendatan rendah hal ini makin parah yang penurunan mencapai 60%. Kekurangan sistem ala mini paling parah terjadi di negara ini,” kata dirjen WWF International Jim Leape. Laporan organisasi lingkungan ini memberi pandangan pada ragam hayati di Bumi serta jejak ekologi manusia serta tekanan yang muncul pada tanah dan air. Kita sudah menggunakan lebih dari 50% sumber daya di Bumi. Saat ini, kita seperti hidup dalam 1,5 planet, katanya. “Jika hal ini terus berlanjut, pada 2050 kita akan butuh tiga planet baru untuk mendukung pola konsumsi manusia yang tak berkelanjutan,” ungkapnya. Rata-rata, negara dengan pernghasilan tinggi memiliki jejak ekologi lima kali lebih banyak dibanding negara dengan penghasilan rendah seperti dikutip UPI.
  11. Matahari dalam sekeping foto. Area gelap di bagian bawah dan atas gambar Matahari ini adalah apa yang disebut sebagai lubang-lubang Corona. Ini adalah arena yang gasnya kurang padat dan material surya mengalir menjauh dari Matahari. Para ahli astronomi menemukan sistem planet yang berbeda dari sistem tata surya yang kita tinggali saat ini. Bernama 30 Ari, sistem planet ini memiliki empat bintang induk yang bersinar. Dalam tata surya bima sakti, seluruh planet termasuk Bumi hanya memiliki satu bintang, yakni Matahari. Sedangkan planet yang berada di 30 Ari itu memiliki setidaknya empat ‘Matahari'. Tak bisa dibayangkan seperti apa panasnya. Seperti yang diberitakan pada situs earthsky.org, planet gas itu sangat besar dengan massa 10 kali lipat Jupiter. Ia mengorbit bintang utamanya setiap 335 hari sekali. 30 Ari berlokasi 136 tahun cahaya dari Bumi dan berada di konstelasi Aries. Jadi, Matahari utama planet ini memiliki pasangan bintang yang dekat. Pasangan utama ini berada di orbit jauh bersama dengan dua Matahari lainnya, yaitu berjarak sekitar 1.670 unit astronomi. Catatan kecil, sebuah unit astronomi adalah sama seperti jarak antara Bumi ke Matahari. Uniknya, keempat Matahari planet raksasa ini akan terlihat seperti Matahari kecil, dua di antaranya bisa terlihat pada siang hari. Sementara satunya jika dipantau dengan teleskop besar akan terlihat seperti ada dua bintang yang saling mengorbit satu sama lain. Dengan kondisi yang sedemikian unik, para ahli astronomi berpendapat planet ini nampaknya tidak mungkin bisa menopang kehidupan. Penelitian ini menggunakan dua instrumen. Pertama, sistem optik adaptif Robo-AO yang dikembangkan oleh Inter-University Center for Astronomy and Astrophysics di India dan California Institute of Technology di Pasadena. Kedua, sistem optik PALM-3000 yang dikembangkan oleh Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA di Pasadena, California, dan Caltech. Kedua instrumen tersebut dipasangkan ke teleskop di Palomar Observatory, San Diego. Dalam beberapa tahun terakhir, ternyata sudah ditemukan lusinan planet yang memiliki dua atau tiga Matahari. Jadi planet seperti ini sepertinya memang bukan sesuatu yang baru. Penemuan terbaru ini menunjukan bahwa planet yang berada di dalam sistem empat Matahari tidak begitu langka seperti yang diperkirakan sebelumnya. Lewis Roberts dari JPL NASA sebagai pemimpin penelitian ini mengatakan, "bentuk sistem bintang atau matahari tak terhitung jumlahnya. Bisa jadi hanya matahari tunggal, matahari berpasangan, matahari rangkap tiga, bahkan hingga rangkap empat. Sangat mengagumkan cara alam menyatukan hal ini secara bersamaan."
  12. Planet Mars dan Venus diprediksi akan terlihat secara berdekatan satu sama lain di langit senja pada tanggal 21 dan 22 Februari 2015. Situs Space Reporter mewartakan, Venus akan memancarkan cahayanya ratusan kali lipat lebih terang dari Mars, sehingga menjadikan Venus sebagai objek paling bersinar di langit malam akhir Februari ini. Tanggal 22 (Februari) terjadi konjungsi Venus dan Mars. Kedua planet ini akan terlihat terpisah sekitar setengah derajat. Sementara situs The Guardian menyatakan bahwa Venus dan Mars akan tampil memukau di langit kawasan Barat pada 20 Februari petang, sekitar pukul 20.00 waktu setempat. Sedangkan jadwal kedua planet berdekatan untuk wilayah Barat akan jatuh pada 21 Februari. Bagaimana dengan Indonesia? Bisa terlihat di sore hari. Saya rasa semua area bisa melihatnya jika memakai teropong.
  13. Ketika Clyde Tombaugh menemukan Pluto pada tahun 1930, kala itu tak sedikit ahli astronomi bespekulasi adanya benda antariksa lainnya yang lebih jauh di susunan tata surya. Sejauh ini, belum ada planet lain yang ditemukan. Baru-baru ini dua ilmuwan dari Universitas Complutense Madrid (UCM) di Spanyol dan Universitas Cambridge di Inggris mengumumkan bahwa setidaknya ada dua planet tersembunyi yang lebih jauh dari Pluto dalam sistem tata surya. Dari laporan situs EarthSky, perkiraan kedua ilmuwan tersebut berdasarkan perilaku orbit dari objek tak dikenal yang letaknya di pinggir sistem tata surya. Sesuai di dalam teori sistem tata surya, objek di luar Pluto harus memiliki semi-major axis -- poros dengan diameter terpanjang yang menunjukan titik terjauh si planet dari matahari dengan jarak sekitar 150 kali lipat dari jarak Bumi dan matahari. Dengan kata lain, planet-planet asing ini memang terletak di dalam sistem tata surya dan mengorbit matahari dari jarak yang terlampau jauh melebih Neptunus. Mereka diberi istilah TNO, trans-Neptunian object. Media Institusi Smithsonian turut mewartakan, kedua ilmuwan ini langsung mempertimbangkan efek dari "mekanisme Kozai", yaitu efek dari suatu objek yang mengorbit di bawah pengaruh gaya gravitasi walaupun letaknya lebih jauh dari sumber gravitasi tersebut. "Objek dengan parameter orbit yang tak terduga ini membuat kami yakin bahwa adanya dorongan yang mengubah distribusi elemen orbit TNO. Penjelasan paling mungkin adalah adanya kehadiran planet lain yang lebih jauh dari Neptunus dan Pluto," ujar ilmuwan dari UCM Carlos de la Fuente Marcos dalam pernyataan pers. Marcos juga mengatakan bahwa perhitungan mereka menunjukan setidaknya ada dua planet atau lebih yang terletak di pinggir sistem tata surya. Namun, tim penelitian mengatakan ini masih sebuah hipotesis. Untuk membuktikannya, mereka harus melewati dua rintangan. Pertama, penelitian ini menentang formasi sistem tata surya yang menetapkan ketiadaan planet lain yang bergerak di sirkulasi orbit luar Neptunus. Kedua, tim peneliti menyadari bahwa analisis mereka berdasarkan sampel kecil dari TNO. Mereka melihat hanya pada orbit 13 objek. Namun mereka menegaskan, beberapa bulan ke depan penelitian ini akan dipublikasikan agar bisa diketahui hasilnya seperti apa.
  14. Seorang pria asal Inggris, Peter Jalowiczor telah berhasil menemukan 4 planet asing di luar angkasa. Peter Jalowiczor sangat mencintai dunia astronomi, tetapi ia tidak mempunyai teleskop untuk melakukan penelitiannya. Lalu ia memanfaatkan 2 buah komputer rumah miliknya untuk menemukan 4 planet asing. Jalowiczor mengatakan bahwa ia menggunakan dua buah komputer rumahnya dan menghabiskan waktu selama tiga tahun, untuk menganalisa data yang dirilis oleh Lick-Canegie Planet Search Team dari University of California, Santa Cruz, California. Dia menggunakan pectroscopy Doppler untuk melacak planet-planet yang lokasinya terlalu jauh jika dilacak dengan menggunakan teleskop. "Saya melihat pada perubahan perilaku pada bintang-bintang, yang hanya bisa disebabkan oleh planet atau planet yang mengitari mereka" "Jika planet mengorbit pada sebuah bintang, maka itu akan menyebabkan sedikit goyangan pada pergerakan bintang tersebut. Dan goyangan tersebut terlihat pada cahaya bintang tersebut" ujar Jalowiczor. "Begitu saya bisa mengidentifikasinya, saya akan mengirimkan informasi detilnya ke Lick-Canegie Planet Search Team di Santa Cruz," jelas Jalowiczor. Berkat kecintaan dan ketekunannya, iapun diberi penghargaan karena telah menemukan 4 buah planet yang tadinya belum diketahui. Empat planet yang berhasil ditemukan olehnya tersebut diberi nama HD31253b, HD218566b, HD177830c, dan HD99492c.
  15. Misteri Planet Mati di Ujung Tata Surya Terkuak Sebuah planet kerdil ditemukan tujuh tahun lalu di dekat ujung Tata Surya. Baru-baru ini, peneliti mengungkapkan hasil studi mereka bahwa planet tersebut mati, membeku, tanpa atmosfer. Planet sebesar 2/3 planet Pluto itu diberi nama dewa Polinesia, Makemake. Hasil studi itu juga menyebutkan bahwa planet mati ini merupakan salah satu dari lima dunia yang mengorbit di tata surya kita dan terindentifikasi sebagai planet kerdil. Tapi, lokasi Makemake tidak sejauh Eris, planet kerdil terbesar. Dia berada di Sabuk Kuiper--daerah yang penuh dengan obyek-obyek beku--sekitar 4 miliar mil dari Matahari. Dia melengkapkan orbit setiap 310 tahun sekali atau lebih. Para peneliti dalam Tim ESO juga menyimpulkan bahwa Makemake memiliki bentuk yang bulat seperti bola tapi tidak sempurna, seperti Bumi. Peneliti pun kemudian mengombinasikan data dari teleskop di Chile dan Amerika Selatan seiring planet ini melintasi angkasa raya. Jose Ortiz, dari Institut Astrofisika Andalusia mengatakan," Saat Makemake lewat di depan sebuah bintang dan memblok (cahaya), bintang menghilang, tapi kemudian muncul tiba-tiba. Cahayanya tidak muncul secara bertahap." Menurutnya, hal ini membuktikan bahwa planet ini tidak punya atmosfer. Meski begitu, dia memperkirakan Makemake punya peluang untuk membentuk atmosfer di kemudian hari. Dia menambahkan bahwa penemuan Makemake ini merupakan langkah besar manusia dalam mempelajari kelompok planet kerdil dan membeku. "Betapa kita perlu belajar banyak mengenai planet misterius itu." Makemake awalnya dikenal dengan nama 2005 FY9 dan ditemukan Maret 2005. Nama resmi Makemake baru disematkan pada Juli 2008. Planet-planet kerdil secara resmi diakui oleh International Astronomical Union (IAU) pada tahun 2006 setelah perdebatan tentang definisi sebuah planet.
  16. Belum lama ini ditemukan sebuah planet yang sangat besar, 11 kali lebih besar dari Jupiter. Planet ini mengorbit sebuah bintang dengan jarak yang sangat jauh. Eksoplanet baru ini dinamai HD 106906 b, dan membuat semua planet besar yang sebelumnya pernah ditemukan peneliti jadi seperti kerikil. Bahkan, Jupiter yang jadi planet paling besar di tata surya kita pun kalah dengan planet ini. HD 106906 b memutari orbitnya dengan jarak sekitar 650 kali lebih panjang dari jarak orbit antara bumi dan matahari. Dengan adanya orbit dan ukurannya yang besar ini pun membuat para peneliti jadi bertanya-tanya dari mana sebenarnya planet ini terbentuk. "Sistem seperti ini sangat menakjubkan karena tak ada contoh lain yang mampu menjelaskan apa yang kita lihat," kata pimpinan penelitian, Vanessa Bailey, University of Arizona. Di teori populer, memang planet yang dekat dengan matahari akan lebih kecil ukurannya. Sementara planet yang jaraknya jauh dari matahari akan mampu membesarkan dirinya karena gas dan debu antariksa berkumpul di dalamnya. Namun, bisa saja planet ini terbentuk dari cara yang sama di mana sistem tata surya biner terbentuk.
×
×
  • Create New...