Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'permen'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Calendars

Blogs

There are no results to display.

There are no results to display.

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Categories

  • Files
  • Games
  • E-Book

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 2 results

  1. Lewis Hamilton sukses tiga kali jadi juara dunia Formula Satu dan telah bergelimang uang saat ini. Namun semasa kecil, Hamilton hidup dalam kondisi memprihatinkan sehingga ia bahkan tak sanggup membeli permen. Hamilton yang lahir di Stevenage, 7 Januari 1985 mengakui bahwa masa kecil yang dilaluinya terbilang sulit. "Saya tumbuh sebagai anak-anak tanpa memiliki apapun. Saya dikelilingi anak-anak yang mampu pergi ke toko dan membeli permen sedangkan saya tak punya uang untuk membelinya." "Saya juga ingat ketika mendapatkan 10 pound dari hasil mencuci mobil, menabung uang itu untuk membeli CD pertama. Saya ingat semua itu," kata Hamilton dalam wawancara dengan AS. Kini, setelah hidupnya berubah drastis, Hamilton mengakui bahwa ia tak melupakan sikap hemat dalam kehidupan sehari-harinya. "Saya kini memiliki lebih banyak uang di rekening saya, namun tetap saja saya berpikir beberapa hal terlalu mahal dan kemudian menilai bahwa lebih baik uang yang ada ditabung," ujar Hamilton. Meski demikian, Hamilton juga tak memungkiri bahwa ia menikmati kekayaan yang dimilikinya saat ini dan menghabiskannya untuk pergi wisata di tengah kesibukannya sebagai pebalap F1. "Saat saya tak ada di lintasan, maka saya bukanlah pebalap. Dalam 12 hari terakhir, saya ada di sebuah tempat di mana tak ada satu pun orang yang tahu saya dan tak ada kamera. Rasanya sangat menyenangkan," kata Hamilton. Belajar dari Ibu Selain berusaha tetap menghargai nilai uang dan berhemat, Hamilton juga menyebut sosok Ibu memberinya contoh hebat dalam berperilaku sehari-hari. "Dulu Ibu saya selalu mengatakan semua baik-baik saja walaupun dia tengah menjalani hari yang buruk. Itulah yang saya coba lakukan saat ini." "Ketika saya menjalani hari yang buruk, saya ingin teman saya tak mengetahuinya. Karena bila mereka mengetahuinya, maka mereka juga bakal turut merasakan hari yang tak menyenangkan seperti saya," tutur Hamilton.
  2. Udah beribu-ribu tahun penduduk pantai Laut Tengah di Eropa suka mengunyah-ngunyah getah pohon mastic. Konon untuk menyegarkan napas dan membersihkan gigi. Ternyata orang Indian kuno di Jazirah Yucatan di benua Amerika pun mempunyai kebiasaan yang sama. Cuma, getah yang mereka kunyah berasal dari pohon sawo. Orang-orang Eropa yang pindah ke Amerika beberapa ratus tahun yang lalu ikut-ikutan mengunyah getah yang harum dan dingin-dingin pedas itu. Kebiasaan mengunyah-ngunyah juga dilakukan orang Eskimo dekat Kutub Utara. Apa yang mereka kunyah? Lemak ikan! Getah kenyal yang dikunyah mereka nggak seenak permen karet kita. Begitu pula lemak ikan. Bagaimana ceritanya sampai manusia bisa membuat permen karet seperti sekarang? Pertengahan abad ke-19, diktator Meksiko, Jenderal Antonio Lopez de Santa Anna, terpaksa melarikan diri ke Staten Islanddi New York. Ia berbekal banyak sekali chicle, yaitu getah pohon sawo, untuk dikunyah-kunyah di kala stres. Konon mengunyah-ngunyah bisa menghilangkan ketegangan. Beberapa bulan kemudian, ia bisa kembali ke Meksiko. Chicle-nya ditinggalkan di laci mejanya. Kenalannya, Thomas Adams, kebetulan seorang penemu. Adams mengotak-atik getah pohon yang kenyal ini. Siapa tahu bahan ini bisa dipakai menggantikan karet yang disadap dari pohon karet? Ternyata, nggak bisa. Ya, udah! Tapi, siapa tahu bisa dipakai menempelkan gigi palsu, pikirnya. Ternyata, itu pun nggak bisa. Akhirnya benda itu direbus dan digilas dengan gilingan kue sampai tipis. Hasilnya permen karet yang lebih baik daripada yang biasa dikunyah oleh Diktator Santa Anna. Permen karet itu diberi gula dan wewangian. Ketika dijual di sebuah toko permen diNew Jersey, ternyata laris. Jadi,Adamsmeminta hak paten untuk mesin pembuat permen karetnya. Melihat suksesAdams, banyak orang ikut-ikutan membuat permen karet. Rasa dan warnanya bermacam-macam. Pengusaha permen karet yang paling terkenal adalah William Wringley, Jr. Padahal, tadinya ia anak yang malas bersekolah dan selalu membuat ulah. Sampai-sampai pada umur 12 tahun (1873), Wringley dikeluarkan dari sekolah. Namun, ia bukan anak yang malas bekerja. Ia membujuk ayahnya agar diperbolehkan menawarkan sabun buatan pabrik keluarga mereka. Ternyata, ia salesman yang rajin dan ulet. Ia menawarkan juga barang-barang lain, di antaranya baking powder, yaitu bahan untuk membuat kue. Orang yang mau membeli sekaleng baking powder diberinya hadiah dua permen karet. Permen karet ternyata banyak peminatnya sehingga Wringley khusus berjualan permen karet. Walaupun dilanda pelbagai kesulitan, di antaranya krisis ekonomi dunia ia nggak mau menyerah. Usahanya maju sampai sekarang. Ada dua orang lain yang berperan besar dalam sejarah permen karet. Henry Fleer tahun 1910 berhasil memberi "baju" pada permen karet. Lapisan luar itu putih, manis dan renyah. Ia menamai permen karet berbaju itu "Chiclets". Saudaranya, Frank, setelah lama bersusah payah berhasil membuat permen karet yang bisa ditiup sampai melembung besar seperti baton. Permen karetnya itu dinamai bubble gum (karet gelembung). Akhir abad ke-19, penggemar permen karet kebanyakan perempuan. Namun tahun 1914, laki-laki maupun perempuan, anak-anak maupun dewasa, menyukai permen karet. Karena mengunyah permen karet dianggap berkhasiat menenangkan, tentara Amerika Serikat pada Perang Dunia II dibekali permen karet. Setiap tentara rata-rata menghabiskan 3.000 potong permen karet setahun. Sebenamya, nggak mereka makan sendiri, tetapi dibagikan juga kepada anak-anak dan orang biasa yang mereka temui. Amerika Serikat bahkan menjatuhkan permen karet dari pesawat terbang di Filipina ketika negara itu diduduki Jepang. Pada kemasan permen karet itu tertulis janji Jenderal Douglas MacArthur, "I shall return" (saya akan kembali). MacArthur memang berjanji akan datang kembali untuk mengusir Jepang. Penduduk Kepulauan Pasifik sampai sekarang masih tergila-gila pada permen karet dan bubble gum yang diperkenalkan lebih dari ½ abad lalu. Sejak Perang Dunia II, permen karet nggak lagi dibuat dari getah pohon sawo, tetapi dari bahan sintetis. Di Amerika Serikat sendiri mulanya mengunyah permen karet di muka umum dianggap kebiasaan yang menjijikkan, "seperti ternak sedang memamah biak". Kemudian zaman berubah. Bukan curaa tentara dibekali permen karet, tetapi bintang-bintang olahraga seperti Michael Jordan pun akrab sekali dengan permen kenyal yang dikunyah-kunyah itu. Sekarang, permen karet boleh dikunyah di mana-mana, kecuali saat beribadat, di dalam kelas, dan pada kesempatan resmi. Di dunia ini ada negara yang nggak suka penduduknya mengonsumsi permen karet. Kalau kamu ketahuan membuang sisa permen karet di tempat umum, dendanya nggak tanggung-tanggung, yaitu senilai beberapa juta rupiah. Kata mereka, sulit membersihkan jalan, bangku dan sebagainya dari sisa permen karet yang menempel, padahal mereka ingin negara mereka bersih. Kamu pasti tahu negara itu. Ya, betul! Tetangga kita, Singapura! Kalau kamu ke sana, jangan berbekal permen karet, lo!
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy