Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'pemulung'.

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • CLINIC NGOBAS
    • Coronavirus
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • Ngocol
    • Ngocol Video
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • ABOUT NgobasTV
    • EVENT
    • WESER
    • LAPOR KOMANDAN

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Categories

  • Files
    • Website
    • Smartphone
  • Games
  • E-Book

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 2 results

  1. Fu Fandi adalah seorang gelandangan di kota Shenzhen. Perilakunya yang halus dan kemampuannya dalam bahasa inggris sangat kontras dengan kehidupan keras yang dihadapinya .. Dalam kompetisi ini ia harus menampilkan suatu pentas yang akan dinilai juri, agar juri bersedia bertahan Aku termotivasi banget dengan ini
  2. Sekolah anak pemulung di Bantar Gebang, Bekasi. Kusut masai berserakan di rumah panggung reot itu. Gadis bernama Indah bersama bapaknya Wahab tinggal berdua di sana. Selepas bersekolah, Indah ikut mengais sampah di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. Meskipun anak pemulung, gadis berjilbab itu tetap bersemangat melanjutkan pendidikan koki untuk menggapai impian sebagai juru masak handal. Namanya memang tak sesingkat perjalanan hidupnya yang penuh liku. Semenjak ditinggal ibunya pergi pada umur dua tahun, lingkungan telah menempa hidupnya. Dia misalnya, pernah bekerja di warung-warung makan sejak kecil di sekitaran kawasan TPST. Gadis 14 tahun itu terbiasa memasak buat bapaknya. Semenjak umur sembilan tahun sudah bisa memasak segala macam jenis sayur maupun lauk-pauk. "Dari umur 7 tahun, sudah kerja di warung dari pelayan, ikut masak, sampai sekarang akhirnya suka masak dan bisa masak apa aja, hobi, sama cita-cita aku nanti jadi koki," ujar Indah kepada merdeka.com di kediamannya, Desa Ciketing Udik, Bantar Gebang, Bekasi pekan lalu. Seseorang media sempat datang ke 'gubuknya' dan mencicipi masakan Indah. Di usia 14 tahun, Indah bisa memasak seenak itu menjadi isyarat bakatnya yang luar biasa. Di dapur yang berjarak beberapa depa dengan kasur tempat tidur itulah setiap hari dia memasakkan bapaknya. Di ruang itu ada perabot lain, salah satunya televisi yang gambarnya sudah buram. Dari usia, sebenarnya Indah sudah telat dua tahun untuk bersekolah. Namun semangatnya itu tidak pernah redup. Meskipun, pekerjaan merawat bapaknya yang sudah sakit-sakitan juga dilakoni dara ayu itu. "Dulu sempat sekolah di SD Negeri, tapi pas bapak kecelakaan saat memulung, saya bantu bapak ikut mulung juga. Sempat enggak sekolah dua tahun, kelas tiga masuk SD Dinamika Indonesia, ngelanjutin," ujarnya polos. Sejak subuh, Indah sudah harus bangun. Sebelum berangkat sekolah kewajiban pertamanya yaitu memasak untuk dirinya sendiri dan bapaknya. Setelah selesai, dia berangkat ke sekolah yang berjarak hampir 800 meter dari 'gubuknya'. Jika tak ada tambahan kegiatan di sekolah, dia lalu pulang dari siang sampai sore hari ikut memulung sampah. "Nah, habis pulang sampai sore biasanya mulung, sambil bawa gerinjang (tas sampah), sama teman-teman juga banyak kok," ujarnya. Menurut dia, selain memulung sampah, dia biasa berinteraksi bersama bocah sebayanya. Setiap bulan, dari hasil memulung, Indah bisa mengantongi uang hingga Rp 250 ribu. Apalagi, bos pengepul sampah sudah menganggap seperti anak sendiri. Setiap kebutuhan hidupnya bisa ditanggung, misalnya meminta beras lebih dahulu. "Indah bisa ambil beras dulu, nanti dipotong pas dapat duitnya," ujarnya. Dia mengakui kalau selama ini masalah absensi menjadi yang utama. Dalam seminggu Indah bisa izin tak masuk sekolah sebab kelelahan memulung sampah. Namun sekolahnya lebih leluasa buat murid-muridnya. Terpenting mau bersekolah sudah lebih dari cukup. "Minggu kemarin, pas tujuh belas Agustus indah enggak masuk dua hari," katanya. Di tempat sama, Wahab mengaku sering melarang putrinya untuk pergi memulung. Namun, apa daya keinginan Indah untuk mencari uang untuk membantu keluarga lebih kuat. "Sudah sering saya larang tapi anaknya ngotot," ujarnya meninggi. Dia mengakui kalau anaknya selama ini memasak sehari-hari. "Dia sejak kecil sering ikut berjualan warung makanan, makannya jadi jago masak," ujarnya. Walau terlahir sebagai anak pemulung, Indah masih mengejar cita-citanya. Dia sudah memikirkan masa depannya untuk menjadi lebih baik. Menjadi koki handal merupakan angan-angannya nanti. Dan mengenyam bangku sekolah merupakan langkah awal menuju cita-citanya itu.
×
×
  • Create New...