Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'pembunuhan'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 10 results

  1. Bujang berinisial FN alias Nunur tega membunuh tetangganya yang tengah hamil Iis Aisyah (32), hanya gara-gara kesal kerapkali ditanya “kapan kawin?” Pemuda berusia 28 tahun itu membunuh Iis yang sedang hamil 8 bulan pada Jumat (19/1/2018), di Kampung Pasir Jonge, Desa Sukawangi, Kecamatan Singajaya, Garut. IA sendiri ditangkap polisi di Kalideres, Jakarta Barat, Jumat (28/1) pekan lalu. Kapolres Garut Ajun Komisaris Besar Budi Satria Wiguna mengatakan, pembunuhan itu berawal ketika Nunur sedang termangu di depan rumahnya, Jumat dua pekan lalu. Saat itu, Iis yang melintas di depan rumah Nunur menghampiri bujang tersebut dan memberikan nasihat agar segera menikah. "Korban mengatakan kepada pelaku ‘segera kawin, yang lain kan sudah menikah semua, kok kamu tidak kawin-kawin’. Ternyata, nasihat itu menyinggung perasaan pelaku,” kata Wiguna, Senin (29/1). Merasa harga dirinya diinjak-injak, Nunur pada Jumat siang yang nahas itu bertandang ke rumah korban. Karena tak merasakan niat jahat, Iis mempersilakan Nunur memasuki ruang tamunya. Setelahnya, korban masuk ke dalam kamar peraduan. Nunur ternyata membuntuti korban. Ketika Iis lengah, Nunur mendorongnya hingga terjerembab ke atas kasur. Setelahnya, nunur tanpa ampun mencekik Iis. Korban sempat melawan, yakni menggigit jari pelaku. Tapi, tenaga Nunur lebih kuat dan terus mencekik Iis hingga tewas. Takut Iis masih hidup, Nunur lantas menginjak leher korban untuk memastikan tetangganya itu tewas. “Sesudah membunuh korban, pelaku mengambil uang milik korban senilai Rp800 ribu dan satu ponsel,” terangnya. Nunur sempat melarikan diri ke ibu kota sesudah melakukan aksi keji tersebut. Namun, polisi mampu melacak keberadaannya dan melakukan penangkapan di Kalideres, Jakarta. Karena melawan saat ditangkap, polisi menghadiahi Nunur satu peluru di bagian kaki. “Kami sudah menyita sejumlah barang bukti seperti sepeda motor, bantal, sandal jepit, baju daster, dan kain. Tersangka kami jerat memakai Pasal 340, Pasal 338, dan Pasal 365 ayat 1, 2, dan 3 KUHP dengan ancaman penjara seumur hidup,” tandas Wiguna. Gimana ndral? Makanya jangan kepo deh. wkwkwk
  2. Korban selamat dalam kasus pembunuhan Pulomas Zanette Kalila (tengah) bersama Ibunya Almyanda Safira (kedua kiri) menghadiri pemakaman keluarga Zanette Kalila Azaria (13), anak tunawicara yang lolos dari maut saat perampokan sadis di Pulomas, Jakarta Timur ternyata ikut ditumpuk bersama 11 korban lainnya di kamar mandi. Selama hampir 19 jam, para korban disekap, sehingga sebagian di antara mereka tewas karena ruangan itu tidak ada udara yang memadai. Kengerian saat penyekapan di sebuah toilet diutarakan oleh bocah cantik yang dikenal Anet. Saat itu, Kapolda Metro Jaya, Irjen Mochamad Iriawan yang langsung datang ke lokasi kejadian langsung berbicara dengan Anet. "Saya ke TKP kemudian saya lihat, luar biasa, kemudian saya ke rumah sakit ada lima korban yang saya jenguk," kata Iriawan di Mapolda Metro Jaya, Semanggi, Jakarta Selatan, Rabu (29/12/2016). Iriawan sempat mengobrol-ngobrol dengan Anet yang nota bene tunawicara. Dengan meragakan, Anet mengisahkan kasus perampokan yang terjadi ke keluarganya kepada Kapolda Metro Jaya. "Saya tanya ke anaknya pak Dodi yg ketiga, yang maaf tuna rungu, tapi dia bisa menjelaskan padahal mereka disekap di satu ruangan, tidak ada udara, gak makan gak minum," ucapnya. Ternyata selama penyekapan, Anet hanya minum air dari closet. Sehingga hingga detik ini dia bisa selamat dari maut. "Ternyata dia minum dari air closet," katanya.
  3. Seorang lelaki, Shehada Issa, dituntut atas kematian anaknya Amir Issa yang berusia 29 tahun. Ia dituntut karena menembak mati putranya yang diketahui berorientasi seksual sebagai gay. Seorang laki-laki di Los Angeles dituntut karena menembak putranya yang berusia 29 tahun dan memiliki orientasi seksual sebagai gay. Kantor berita Associated Press mengutip keterangan jaksa yang mengatakan laki-laki itu sudah berulangkali mengancam akan membunuh putranya tersebut karena orientasi seksnya. Amir Issa yang berusia 29 tahun ditemukan tewas tertembak di luar rumahnya hari Selasa (29/3) lalu. Meskipun kantor jaksa distrik Los Angeles hari Jum’at (1/4) menuntut ayah Amir – Shehada Issa – yang berusia 69 tahun dengan pasal pembunuhan bermotif kebencian, tim jaksa masih berupaya menentukan siapa yang melakukan pembunuhan kedua, yang terjadi di dalam rumah dan diketahui polisi pada hari yang sama. Juru bicara polisi, Mike Lopez mengatakan ibu Amir "Rabihah Issa" yang berusia 68 tahun, ditikam berulang kali. Shehada Issa mengatakan kepada polisi bahwa ia menembak putranya Amir untuk membela diri setelah menemukan mayat istrinya di dalam rumah. Namun jaksa mengajukan motif berbeda terhadap pembunuhan Amir. ‘’Pembunuhan itu terjadi karena orientasi seksual korban dan karena persepsi tersangka tentang status dan keterkaitan korban dengan seseorang atau sekelompok orang dengan status tersebut’’, demikian pernyataan jaksa secara tertulis.
  4. Ayah Mirna, Darmawan Salihin Ayah Wayan Mirna, Edi Darmawan Salihin meminta Jessica berani jujur dalam memberikan keterangan soal peristiwa di Cafe Olivier, Grand Indonesia, Jakarta Pusat, 6 Januari lalu. Keterangan berbelit-belit dinilai Edi justru akan menyudutkan diri sendiri. Sikap Jessica yang sampai kini belum mengaku pun diakuinya membuat keluarga kesal. "Harusnya dia (buat) pengakuan, terus dia baik-baik kenapa sih (berbuat begitu)? Kita bisa diskusikanlah daripada dihukum mati. Ya saya juga kasihanlah. Toh Mirna nggak bisa balik lagi," kata Edi Darmawan di rumahnya, Sunter, Jakarta Utara, Senin (1/2/2016). Ia juga menuturkan, seharusnyaJessica bertindak sportif dan mau mengakui jika memang benar dirinya yang melakukan pembunuhan terhadap putrinya. Dari situ tentu pihak keluarga mau memberi maaf terhadap Jessica. Dengan sikap itu, bisa membantu atau meringankan hukumannya. "Saya juga enggak sembarangan itu kesal sama Jessica. Soalnya dia yang beliin kopi dan terus mati anak saya. Polisi kan udah punya bukti sangat kuat, kalau enggak dia (Jessica) kan enggak mungkin ditetapkan tersangka," beber dia. Polisi sebelumnya menangkap Jessica di Hotel Neo, Jakarta Utara pada Sabtu 30 Januari 2016 pukul 07.45 WIB. Penangkapan dilakukan setelah polisi menetapkan Jessica sebagai tersangka. Setelah ditangkap, Jessica dibawa ke Mapolda Metro Jaya. Di sana dia diperiksa secara maraton hingga penyidik memutuskan untuk menahannya selama 20 ke depan. Penyidik mengaku sudah mengantongi bukti-bukti kuat atas keterlibatan Jessica dalam kasus dugaan pembunuhan Mirna. Atas kasus ini, Jessica terancam dijerat Pasal 340 KUHP yang ancaman hukumannya mencapai seumur hidup atau mati.
  5. Nama Jessica Wongso tengah ramai diberitakan oleh awak media dan ramai pula dibicarakan masyarakat. Namanya beredar luas sejak kasus kematian Wayan Mirna Salihin mencuat. Mirna tewas akibat minum es kopi Vietman di kafe Olivier yang berlokasi di Grand Indonesia, Jakarta Pusat. Pada saat Mirna kejang-kejang dan mulutnya berbusa karena racun sianida, Hani dan Jessica Wongso adalah dua orang teman Mirna yang pada saat itu di lokasi kejadian. Mereka pun menjadi saksi utama atas kasus meninggalnya Mirna tersebut. Setelah diperiksa oleh Polda Metro Jaya, polisi kemudian menetapkan Jessica Wongso menjadi tersangka tewasnya wanita berusia 27 tahun itu pada Sabtu (30/1). Tentu banyak dari kita yang penasaran, siapakah sebenarnya Jessica Wongso? 1. Jessica Wongso adalah anak dari pasangan Imelda Wongso dan Winardi Wongso. Jessica Kumala Wongso merupakan anak dari pasangan Imelda Wongso dan Winardi Wongso. Orang tuanya merupakan seorang pengusaha asal Jakarta. Mereka berbisnis plastik untuk suku cadang sepeda. 2. Jessica Wongso pernah bersekolah di SMA Jubilee School. Pada tahun 2005, keluarganya pindah ke Australia. Namun, Jessica Wongso masih bertahan di Indonesia. Dia harus menyelesaikan pendidikan di SMA Jubilee School. 3. Dia kuliah di Billy Blue College of Design, Sydney, Australia. Dia mengambil jurusan desain grafis. Selanjutnya, dia kuliah di Billy Blue College Sidney dan mengambil jurusan design grafis. Jurusan tersebut sangat sesuai dengan kesukaannya. Hal ini juga membuat Jessica keranjingan di depan komputer hingga membuatnya sempat terkena sakit leher. 4. Kediaman keluarga Jessica terletak di bilangan Sunter Agung, Jakarta Utara. Saat masih tinggal di Indonesia, Jessica tinggal di rumah keluarganya tersebut. 5. Jessica dan Mirna adalah teman kuliah. Jessica dengan Mirna adalah teman kuliah. Keduanya berkuliah di kampus yang sama, akan tetapi jurusannya berbeda. 6. Jessica juga sempat magang dan bekerja sebagai freelance di Australia. Sebelum akhirnya Jessica pulang ke Indonesia dalam rangka mencari pekerjaan di Indonesia, dia sempat magang dan bekerja sebagai freelance di Australia. 7. Jessica adalah anak bungsu di keluarganya. Di mata keluarganya, Jessica adalah sosok anak yang baik. Dia merupakan anak bungsu. Jessica juga terkenal sebagai anak yang manja dengan kedua orang tuanya. 8. Jessica adalah pihak yang memesankan minuman dan datang lebih dulu ke kafe Olivier, tempat Mirna minum kopi berisi sianida. Jessica menjadi pihak yang paling disudutkan dalam kasus ini. Hal ini dikarenakan dia adalah pihak yang memesan minuman untuk Mirna dan tiba lebih dulu di kafe tersebut. 9. Jessica diduga memerintahkan pembantunya untuk membuang celananya yang sobek. Jessica Kemala Wongso, merupakan saksi kunci kematian Wayan Mirna Salihin. Dia juga dicurigai setelah memerintahkan pembantunya membuang celana yang digunakan saat Mirna meninggal. Polisi menduga ada jejak bukti pada celana tersebut.
  6. Jessica Kumala Wongso menjadi salah satu saksi kasus kematian Mirna. Kepolisian menegaskan penyelidikan kasus Wayan Mirna Salihin (27) tidak akan terkendala hanya karena tidak ditemukannya celana yang dikenakan Jessica Kumala Wongso. Celana tersebut belakangan ini dicari kepolisian sebagai salah satu barang bukti penyelidikan. "Tidak apa-apa tidak ketemu. Tidak masalah," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Krishna Murti di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (22/1). Krishna menjelaskan penyelidikan kasus kematian Mirna tidak hanya bergantung pada barang bukti celana tersebut. Ia mengaku, banyak barang bukti lain yang bisa membantu penyelidikan kasus tersebut. "Ya tidak mesti dikait-kaitkan dengan harus ada BB (barang bukti). Celana itu BB," ujar Krishna. Lebih lanjut, Krishna menuturkan bahwa celana tersebut hanyalah merupakan salah satu petunjuk penyelidikan. Celana tersebut juga dianggap tidak begitu bisa membantu penyelidikan. "Alat bukti yang paling kuat itu adalah keterangan ahli," ujar Krishna. Sebelumnya, polisi telah melakukan penggeledahan di rumah milik Jessica untuk mencari celana tersebut. Namun, polisi tidak bisa menemukan celana tersebut lantaran telah dibuang oleh Jessica setelah menghadiri pertemuan dengan korban di Cafe Olivier. "Ada keterangan saksi kunci bahwa dia diperintah Jessica untuk membuang celana tersebut," ujar Krishna. Saksi kunci yang dimaksud Krishna adalah SR, pekerja rumah tangga Jessica. SR diamankan oleh polisi atas permintaan orang tua SR. "Orang tua yang bersangkutan datang ke kami. Kami tempatkan di rumah khusus yang diketahui orang tuanya," ujar Krishna. Polisi juga saat ini masih mandalami alasan Jessica membuang celana tersebut. "Faktanya dia (Jessica) buang. Kenapa dia buang celana itu?," ujar Krishna. Wayan Mirna Salihin tewas setelah menyesap es kopi Vietnam di Cafe Olivier, Grand Indonesia, pada Rabu (6/1) lalu. Polisi menemukan adanya racun sianida dalam kopi yang diminum oleh Mirna dan telah menetapkan kasus tersebut pembunuhan. Hingga kini, polisi masih terus memeriksa saksi-saksi termasuk keterangan dari Hanni dan Jessica (dua teman Mirna yang bertemu terakhir kali dengannya), ayah dan suami Mirna, serta pembantu Jessica, SR.
  7. Tim Penyidik Perempuan dan Perlidungan Anak (PPA) Polres Metro Jakarta Selatan tengah melakukan pendalaman peristiwa terbunuhnya NA (8), siswa kelas 2 SD Negeri 07 Pagi Kebayoran Lama, usai bertengkar dengan R (8) saat lomba menggambar di sekolah, kemarin. Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Pol Wahyu Hadiningrat mengatakan tim penyidik PPA telah melakukan rapat koordinasi dengan perwakilan anak, pihak Kementerian Sosial, Kementerian Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA), ahli psikologi, TP2A, ahli pidana dan pihak sekolah. Menurut Wahyu, alasan R memukul NA diawali saling ejek. Siapa yang memulai ejekan tersebut masih dalam proses pemeriksaan. Ketika terjadinya kejadian tersebut, menurutnya, diawasi guru karena kejadiannya terjadi di sekolah. "Berapa kali NA dipukul, saat ini semuanya masih pemeriksaan. R sudah diperiksa dan didampingi oleh orangtua. Dia akan dikembalikan ke orangtua karena sedang menderita sakit cacar," jelas Wahyu kepada wartawan di Mapolres Metro Jakarta Selatan, Sabtu (19/9/2015). Menurut Wahyu, jenazah NA sedang dilakukan autopsi (pemeriksaan dalam) dan hasilnya akan keluar minggu depan. Namun untuk hasil visum dari korban seperti memar di kepala bagian belakang sudah diketahui. Saat ini penyidik PPA, menurut Wahyu, akan memeriksa kondisi psikis dari R melalui pemeriksaan psikologis forensik untuk pendalaman kasus ini. Untuk kasus ini pihak kepolisian akan merujuk kepada dua undang-undang (UU) yakni UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan UU Nomor 11 tahun 2011 tentang Sistem Peradilan Anak. "Semua yang kita lakukan prosedural berdasarkan UU. Sebelumnya kita lakukan pemeriksaan seperti biasa baru masuk ke sistem peradilan anak," pungkasnya.
  8. Misteri hilangnya Hayriantira (38), asisten Presdir XL yang dilaporkan hilang sejak November 2014 lalu terkuak setelah Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya mengungkap kasus pemalsuan tandatangan surat kuasa pengambilan BPKB mobil Honda Mobilio korban. Bahkan hingga ditahan atas kasus pemalsuan, Andy terus bungkam atas kematian Rian. Andy baru terbuka setelah ibu korban, Rukmilah (54) melakukan pendekatan emosional kepada Andy. "Saya terus-terusan ditanya soal Rian sama ibunya, akhirnya saya mengaku kalau saya membunuh Rian," kata Andy kepada detikcom, Kamis (6/8/2015). Padahal, sebelumnya Rukmilah pernah menemui Andy beberapa kali di kantor dan di rumah Andy. Namun, Andy saat itu mengaku tidak tahu di mana Rian. Setelah ditahan pun, Andy terus membungkam mulutnya. Ketakutan, menjadi alasan mengapa ia tidak mengakui perbuatannya. "Saya takut dipenjara kalau ketahuan membunuh," ungkap Rian sambil tertunduk lesu.
  9. Motif pembunuhan yang dilakukan Agustinus Tai Hamdamai ialah pemerkosaan. Agus tega memperkosa bocah Angeline (8) dan membunuh di dalam kamarnya. Hingga saat ini, polisi masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut di Mapolresta Denpasar, Jalan Gunung Sanghyang, Denpasar, Bali. Hal ini diungkapkan, Kuasa Hukum Agustinus, Haposan Sihombing. Sihombing mengaku bahwa kliennya membunuh di kamar saat Angeline datang ke kamar Agus. "Saat‎ itu Agus niat memperkosa, pembunuhan dilakukan karena korban berteriak mama… mama," ujar Sihombing saat ditemui di halaman Mapolresta Denpasar. Menurut dia, ada ucapan yang menyebabkan Agustinus naik pitam. Hal itu dikarenakan ucapan korban yang menyampaikan kepada Agus bahwa kerjanya tidak becus dalam mengerjakan pekerjaannya sebagai pembantu. "‎Korban bilang bahwa Agus itu tidak becus bekerja. Agus emosi dan niat memperkosa korban. Korban berteriak, Agus memukul dan mencekik kemudian dibenturkan kepala korban ke lantai," jelasnya. Lantas, kapan Agus melakukan pemerkosaan? Menurut Sihombing, korban digagahi oleh tersangka saat sudah terlihat lemas. Menurut Agus, dirinya memperkosa dalam keadaan hidup. Karena korban masih ada gerakan. "Saat itu di rumah, ada Margareith, Agus dan korban saja. Katanya Margareith tidak mendegar. Kamar Agus dan Margareith dekat hanya terpisah gang kecil," urainya.
  10. Kapolsek Medan Baru, Kompol Ronni Sidabutar, mengatakan bahwa petugas masih melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) jatuhnya seorang wanita dari lantai 6 Hotel Grand Kanaya, Medan, Rabu 6 Mei 2015. Alhasil, belum diketahui identitas wanita yang melompat dari lantai enam. "Sementara seorang wanita diduga bunuh diri umur 25 tahun. Ini kita selidik dulu penyebab dan latar belakang. Kita sudah amankan tiga orang laki-laki, nanti kita kasih tahu seluruh identitas pelaku," ujarnya di Hotel Grand Kanaya. Dia menambahkan petugas telah mengamankan beberapa paket narkoba jenis sabu-sabu dari dalam kamar pelaku dan mengamankan tiga pria dari dalam kamar. Namun demikian, petugas masih melakukan penyelidikan. Menurut informasi yang berkembang setelah beberapa jam pascakejadian, wanita cantik ini ketakutan karena ada penggerebekan dari pihak kepolisian. Diduga wanita berusia 25 tahun ini bersembunyi dibalik jendela dan langsung jatuh. Sebelumnya, berdasarkan informasi yang santer di lingkungan Hotel Grand Kanaya, korban diduga bernama Adelia Friska yang berprofesi sebagai model asal Jakarta. Diduga sebelum wanita itu melompat dari kamar 603, pihak Reserse Narkoba melakukan penggeberekan. Seorang pegawai hotel mengatakan, korban bersama tiga teman pria menginap di kamar hotel sejak beberapa hari lalu. "Kita kaget tiba-tiba korban melompat dari lantai enam. Saya hanya mendengar teriak "aaahhhhhh" tak berapa lama suara keras," ujarnya. Dia menjelaskan, sebelum meninggal, korban sempat berkali-kali kejang-kejang. Namun, sebelum petugas kepolisian datang ke lokasi, korban sudah menghembuskan nafas terakhir. "Kepalanya hancur, darah mengalir banyak di lokasi. Di kamar itu, seperti ada banyak orang, karena informasi dari kawan-kawan dengan ada penggerebekan di kamar hotel," katanya.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy