Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'pemanasan global'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 6 results

  1. Berdasarkan laporan dari PBB, dalam 12 tahun mendatang, suhu global Bumi akan memanas dengan peningkatan sekitar 1,5 derajat Celcius. Hal ini diprediksi akan memperburuk deretan risiko yang merusak lingkungan, mulai kekeringan, banjir, panas ekstrem, hingga kemiskinan bagi jutaan orang. Nah, ternyata ada cara yang cukup unik untuk mencegah pemanasan global terjadi. Hal ini berdasar dari satu fakta, di mana produksi makanan menyumbang seperempat emisi gas rumah kaca akibat ulah manusia. Hal ini pun akan meningkat karena produksi pangan yang juga meningkat. Tentu, kita tidak serta merta bisa untuk seketika tidak memakan makanan dari ternak seperti sapi atau ayam. Pasalnya, pergeseran untuk mengonsumsi produk kacang-kacangan juga berpotensi menggunduli hutan jika hal tersebut populer. Di banyak tempat seperti Brasil, hutan hujan sudah terganti posisinya dengan kedelai dan hal ini ternyata memangkas paru-paru Bumi. Solusi datang dari ilmuwan kepada masyarakat, untuk bisa mengonsumsi serangga. Hal ini disebut ilmuwan sebagai solusi dari kekurangan pangan global dan pengurangan emisi global yang bersumber dari peternakan hewan. Pasalnya, jumlah serangga yang banyak dan tidak adanya emisi menjadi cara yang paling masuk akal. Kurang Diterima Hampir semua orang tak akan merasa senang dengan solusi ini. Justru, banyak yang jijik hanya sekedar membayangkan dirinya menyantap belalang. Namun, para ilmuwan kini memiliki 'pemasaran' baru yang bisa membuat umat manusia tertarik mengonsumsi serangga, yakni serangga adalah sumber protein sehat. Jadi, kini banyak yang memasarkan serangga sebagai tren makanan sehat dan berkelanjutan bagi lingkungan. Seorang peneliti bernama Sebastian Berger menyebut bahwa teknologi pertanian telah canggih, sehingga serangga benar-benar bisa dimakan, bukan sekedar lagi makanan ekstrem seperti yang jadi khazanah kuliner di beberapa negara Asia Tenggara seperti Thailand atau di Meksiko. Membuatnya Menjadi Lezat Salah satu perusahaan pangan bernama Essento Food AG, telah berhasil memasarkan serangga sebagai makanan kelas atas yang rasanya lezat. Sang peneliti juga menyebut kalau serangga harus "disushikan", karena masyarakat barat baru menerima ikan mentah untuk dikonsumsi tidak sampai dua dekade ke belakang. Kini, sushi dianggap sebagai makanan lezat dan kelas atas.
  2. Proyek listrik tenaga surya di padang pasir Mojave di perbatasan negara bagian California dengan Nevada, AS yang disponsori oleh Google Google hampir melipatgandakan jumlah energi terbarukan untuk mengoperasikan pusat data besar-besaran yang memungkinkan lebih dari 1 miliar pengguna mencari informasi, menonton klip video, dan berkomunikasi kapan saja. Komitmen jangka panjang Google itu diumumkan Kamis (3/12) mencakup hingga 842 megawatt listrik yang bersumber dari enam proyek pembangkit listrik tenaga angin dan tenaga surya di AS, Chili dan Swedia, yang dijadwalkan akan selesai dalam dua tahun ke depan. Google tidak mengungkapkan berapa banyak biaya yang akan mereka keluarkan untuk membayar tenaga listrik tersebut. Beberapa kesepakatan pengembangan energi terbarukan sudah ditandatangani beberapa minggu lalu, namun Google menunda pengumuman agar bertepatan dengan konferensi perubahan iklim PBB di Paris, yang membahas solusi untuk mengurangi volume emisi karbon. Emisi karbon diyakini secara luas telah menyebabkan terjadinya perubahan iklim. "Ini saat yang tepat untuk membuat pernyataan yang kuat," kata Gary Demasi, direktur bidang energi pusat data Google. Google kini telah menandatangani kontrak yang mencakup 2 gigawatt energi terbarukan, selangkah lebih dekat dengan target Google untuk memiliki 3,6 gigawatt pada tahun 2025. Jumlah energi terbarukan sebesar 2 gigawatt sudah cukup untuk memasok kebutuhan energi 2 juta rumah di Eropa per tahun. Google memperkirakan bahwa proyek energi terbarukan akan mampu menghasilkan rata-rata sekitar 7,4 miliar KWh (kilowatt-jam) listrik. Google Tak Sendirian The Mountain View, California, company has pledged to have all of its 14 data centers worldwide running on renewable energy as part of its quest to minimize the pollution caused by the rising demand for its Internet search engine, YouTube video service, Gmail, digital maps and other services. Google yang berkantor pusat di Mountain View, California, telah bertekad untuk mengoperasikan seluruh 14 pusat datanya di seluruh dunia dengan menggunakan energi terbarukan. Ini adalah bagai bagian dari upaya Google untuk meminimalkan polusi, disebabkan oleh meningkatnya permintaan terhadap mesin pencarian internet, layanan video YouTube, peta digital Gmail dan layanan Google lainnya. Google, yang baru saja membentuk sebuah perusahaan yang bernama "Alphabet Inc.", masih jauh dari target untuk memakai energi terbarukan pada seluruh pusat datanya di dunia. Dalam perkiraan terbaru, energi terbarukan menyumbang sekitar 37 persen dari sumber energi yang dipakai Google untuk mengoperasikan pusat datanya. Selain Google; Apple, Facebook dan perusahaan teknologi lainnya juga telah melakukan investasi besar-besaran dalam energi terbarukan untuk mengurangi polusi yang disebabkan oleh popularitas produk mereka. Semua pusat data, kantor dan toko retail Apple di seluruh AS sudah beroperasi dengan menggunakan energi terbarukan. Namun, Apple masih terus berusaha untuk bisa menerapkan penggunaan energi bersih pada pabrik-pabriknya di luar negeri yang membuat iPhone, iPad, dan perangkat produk Apple lainnya. Selain menandatangani kontrak jangka panjang dengan perusahaan penyedia energi terbarukan, Google juga telah menginvestasikan sekitar $2,5 miliar pada perusahaan dan proyek-proyek yang berusaha memproduksi lebih banyak energi terbarukan seperti tenaga angin, tenaga surya dan panas bumi.
  3. Bank Dunia memperingatkan pemanasan global bisa membuat 100 juta lagi orang miskin di seluruh dunia dalam 15 tahun mendatang tanpa upaya lebih besar dalam mengekang emisi karbon. Dalam laporan yang dirilis Minggu (8/11), Bank Dunia mendesak “pembangunan yang pesat, inklusif dan ramah lingkungan serta pemangkasan emisi” guna melindungi warga paling rentan di dunia. Laporan berjudul "Shockwaves: Managing the Impacts of Climate Change on Poverty," itu diterbitkan menjelang konferensi perubahan iklim tanggal 30 November di Paris, Perancis. PBB minggu lalu memperingatkan bahwa janji-janji banyak negara industri untuk memangkas emisi karbon tidak cukup ambisius guna mencegah krisis. Dunia diharapkan bisa membatasi kenaikan suhu dunia sebesar dua derajat Celsius untuk abad ini. Namun Badan Lingkungan PBB (UNEP) mengatakan level pemangkasan karbon yang dijanjikan banyak negara maju saat ini – jika memang ditepati – hanya akan memenuhi sepertiga dari target jangka panjang yang dibutuhkan hingga tahun 2030. Laporan Bank Dunia itu menyebutkan perubahan iklim akan terus mendorong migrasi massal oleh warga miskin di daerah yang terkena dampaknya sehingga akan membebani tempat-tempat tujuan mereka. Kajian itu juga memperingatkan 150 juta lagi warga miskin akan berisiko terjangkit malaria, diare, dan terhambat pertumbuhan fisiknya. Selain itu, kata laporan tersebut, kenaikan suhu bisa memicu kenaikan harga pangan di banyak bagian Afrika hingga 12 persen pada tahun 2030.
  4. Banyak kota di bagian barat Amerika mengalami kekeringan parah, hingga memicu kebakaran hutan dan kekurangan air. Para ahli cuaca memperkirakan akan terjadi perubahan pola cuaca, yang dampaknya terasa tidak hanya di Amerika tapi juga di beberapa bagian di Afrika, Australia, Asia termasuk Indonesia....
  5. Pemanasan global ternyata tidak hanya disebabkan aktivitas industri dan transportasi manusia, tetapi juga oleh hewan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tupai dan berang-berang ternyata menyumbang pemanasan global, membuat para peneliti harus merevisi temuan mereka sebelumnya. Tupai tanah arktik tidur melingkar dan menghangatkan tanah di Tundra di Kutub Utara, melepaskan karbondioksida ke udara, sementara berang-berang mengeluarkan methan lebih banyak 200 kali lipat ketimbang yang mereka hasilkan 100 tahun lalu, berdasarkan penelitian ahli di Serikat Geofisika Amerika, AGU. Kotoran dan urine binatang pengerat mempercepat pelepasan karbon dari permafrost, lapisan tanah beku, menyebabkan efek rumah kaca di lingkaran Arktik. Karbon terakumulasi di permafrost selama puluhan ribu tahun. Suhu tanahnya sangat dingin, sehingga ketika tanaman atau hewan mati, mereka tidak terurai, tapi karbonnya pelan-pelan menumpuk. Saat ini karbon yang ada di bumi sekitar 1.500 miliar ton. Sebagai bayangan, jumlah itu dua kali lipat dibanding yang terdapat dalam atmosfer. Peneliti menemukan bahwa liang tupai lebih hangat ketimbang tanah di sekitarnya, sementara nitrogen dalam tanah yang dihasilkan oleh hasil pembuangan tubuh tupai juga berdampak pada pemanasan global. Sementara itu berang-berang telah membuat bendungan lebih dari 42 ribu kilometer persegi. Bendungan ini menyebabkan beberapa bagian sungai menjadi dangkal dan kurang oksigen, memicu pembentukan methane. Gas methane tidak bisa terurai sehingga terlepas ke atmosfer. Menurut penelitian terpisah oleh jurnal AMBIO, berang-berang yang jumlahnya mencapai 10 juta ekor di dunia ini menyebabkan pelepasan sekitar 881 ribu ton methan ke atmosfer setiap tahunnya. Para ahli mengatakan, dengan penelitian ini berarti mereka harus merevisi teori soal perubahan iklim anthropogenis atau yang dihasilkan oleh manusia dengan memperhitungkan pengaruh "rodentopogenic". Namun tetap saja, manusia masih merupakan penyumbang terbesar pemanasan global. Badan Perlindungan Lingkungan AS mengatakan methan adalah gas rumah kaca terbanyak yang dihasilkan oleh aktivitas manusia di Amerika Serikat. Sementara secara global manusia menyumbang 60 persen pelepasan methan.
  6. Ternyata hutan bakau, yang jumlahnya telah menurun hingga setengah selama 50 tahun terakhir, merupakan sekat penting terhadap perubahan iklim, seperti yang ditunjukkan oleh penelitian baru untuk pertama kalinya. Pengrusakan hutan pesisir pantai ini mengakibatkan 10 persen emisi karbon dioksida dari deforestasi, yang merupakan sumber terbesar CO2 kedua setelah pembakaran bahan bakar fosil, menurut temuan studi tersebut. Lebih sedikit pohon tak hanya berarti bahwa lebih kurang CO2 yang diserap dari udara, tapi juga pelepasan stok karbon yang telah terakumulasi di sedimen perairan dangkal selama ribuan tahun. Pohon-pohon bakau dengan akar khasnya yang menghiasi garis-garis pantai di lebih dari 100 negara, memberikan banyak manfaat bagi manusia yang hidup di sekitarnya. Perairan payau tempat pohon-pohon tersebut tumbuh dengan subur merupakan kebun bibit bagi banyak spesies ikan dan udang yang esensial bagi industri penangkapan ikan komersial di seluruh dunia. "Layanan ekosistem" lainnya dari hutan bakau dalam sains lingkungan ialah perlindungan dari badai dan topan. Topan Nargis, yang menewaskan 138.000 orang di Myanmar pada tahun 2008, menurut para ahli akan sedikit lebih mematikan apabila setengah hutan bakau negara tersebut tidak ditebang untuk diambil kayunya atau untuk membuat tambak udang. Daniel Donato dari the US Department of Agriculture's Forest Service di Hilo, Hawaii dan tim peneliti internasional meneliti kandungan karbon dalam 25 hutan bakau yang terbentang di sepanjang wilayah Indo-Pasifik. Pohon-pohon tersebut menyimpan CO2 atmosfer seperti hutan-hutan tropis di daratan, menurut temuan mereka. Di bawah permukaan air, bakau bahkan lebih efisien, menimbun lima kali lebih banyak karbon pada wilayah permukaan yang sama. "hutan bakau merupakan salah satu hutan paling kaya karbon di daerah tropis," demikian yang disampaikan oleh Donato dan para koleganya dalam studi tersebut yang dipublikasikan di Nature Geoscience. "Data kami menunjukkan bahwa pembahasan mengenai peran kunci hutan-hutan basah tropis dalam perubahan iklim bisa diperluas secara signifikan untuk mengikutsertakan hutan bakau." Dalam komentar pendukungnya, Steven Bouillon dari Katholieke Universiteit Leuven di Belgia mengatakan persediaan karbon yang ditemukan oleh studi tersebut "menyediakan suatu pendorong kuat untuk mempertimbangkan ekosistem hutan bakau sebagai wilayah prioritas untuk pelestarian alam."
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy