Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'path'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 9 results

  1. Para pengguna aplikasi Path nampaknya harus lebih sabar karena setelah 12 jam tidak bisa diakses, layanan itu mungkin tidak bisa diakses lagi dalam 10 jam mendatang. Pada pukul 10.00 WIB, melalui akun Twitter @Path dan @PathService, perusahaan mengumumkan bahwa mereka membutuhkan waktu perbaikan yang lebih panjang. "Dengan menyesal kami memberitahukan perbaikan ini butuh waktu lebih lama dari yang kami harapkan. Ini membuat Path akan kembali dalam waktu 10 jam dari sekarang," tulis Path. Jika perkiraan ini benar, maka layanan Path kembali bisa diakses pada pukul 20.00 WIB. Path menyatakan permintaan maaf kepada pengguna atas gangguan ini. "Kami melakukan usaha terbaik untuk membawanya aktif kembali sesegera mungkin. Kami sangat meminta maaf atas gangguan ini." Layanan jejaring sosial personal ini sebelumnya menyatakan sedang mengalami masalah yang membuat sejumlah pengguna tidak bisa masuk ke layanan. Sementara itu, pengguna Path lain bernama Andini Safitri di Jakarta, mengaku tidak bisa menyegarkan linimasa Path sehingga hanya menampilkan posting lawas. Aplikasi Path kini tidak lagi dimiliki dan dikelola oleh Path Inc, karena telah dijual kepada perusahaan Internet DaumKakao dari Korea Selatan.
  2. Perusahaan pengembang peranti lunak Path Inc mengumumkan bahwa dua produk mereka, jejaring sosial Path dan aplikasi pesan instan Path Talk, resmi dijual kepada perusahaan media Daum Kakao Corp asal Korea Selatan yang dikenal sebagai pemilik aplikasi pesan instan Kakao Talk pada Jumat (29/5) Melalui keterangan pers, kedua perusahaan menjelaskan bahwa akuisisi yang dilakukan ini adalah akuisisi aset, yaitu Path dan Path Talk. Juru bicara Path mengatakan bahwa perusahaan Path Inc itu sendiri tidak ikut dijual. Mereka akan tetap beroperasi secara terpisah dari Daum Kakao. Path Inc sendiri kini mengembangkan produk lain, yaitu Kong dan Path Places. "Kini tiba pada sebuah titik di mana kami membutuhkan lebih banyak sumber daya untuk membantu mempercepat pertumbuhan dan memperbesar skala Path. Kami percaya Daum Kakao mampu menyediakan itu semua," ujar salah satu pendiri sekaligus CEO Path, Dave Morin. Kedua perusahaan tidak menyebutkan nilai akuisisi. Yang jelas, sejak bulan April lalu kabar seputar Daum Kakao mau mengakuisisi Path sudah berhembus. Pihak Path percaya bahwa Daum Kakao mengerti seluk beluk pasar Asia. Alex Kim, Head of Daum Kakao Indonesia mengatakan, dengan basis pengguna Path yang kuat di Indonesia maka layanan ini berpotensi menjadi kandidat kuat untuk berkembang. “Kami percaya bahwa ada potensi besar untuk Daum Kakao dan Path di pasar global. Kami berharap untuk dapat membawa sinergi yang kuat dengan layanan Daum Kakao lainnya dan memberikan nilai tambah yang lebih besar untuk para pengguna kami,” kata Alex. Didirikan pada 2010, Path kini memiliki 10 juta pengguna aktif setiap bulannya. Diketahui ada 3 juta pengguna Path di Indonesia. Sejalan dengan akuisisi, Daum Kakao akan mencari peluang kemitraan dan investasi di seluruh dunia, membangun pendekatan yang terbaik yang disesuaikan dengan target pasar.
  3. Perusahaan keamanan internet AVG merilis daftar aplikasi Android yang terbukti memberikan dampak buruk untuk ponsel, Facebook salah satunya. AVG baru saja melakukan riset berbagai aplikasi untuk mengetahui seberapa besar dampak aplikasi tersebut terdapat daya tahan baterai ponsel, tingkat konsumsi data, jumlah penyimpanan yang dibutuhkan, dan sejauh mana aplikasi itu mempengaruhi performa ponsel. Secara umum AVG menyimpulkan bahwa Facebook adalah aplikasi yang paling berpengaruh terhadap performa ponsel. Bikin ponsel yang tadinya lancar menjadi lebih lambat, baik saat membuka aplikasi atau menjalankan proses booting. Media sosial itu juga menduduki peringkat ketiga untuk aplikasi yang paling banyak menyedot baterai, banyak memakan data internet, dan nomer tiga untuk paling rakus memakan media penyimpanan. Selain Facebook, AVG juga mencatat bahwa Instagram menjadi aplikasi yang mungkin juga membuat ponsel Android pengguna menjadi lebih lambat. Path juga masuk dalam 'daftar hitam' tersebut dengan bertengger di posisi keempat. Seluruh aplikasi itu disinyalir akan sangat berdampak sekali pada ponsel Android versi lawas yang memiliki spesifikasi terbatas, karena sebagian ponsel terkini biasanya sudah memori yang cukup besar untuk mengelola aplikasi tersebut. Selain itu, dalam risetnya AVG juga mencatat bahwa sebenarnya Google sudah memperbaiki Android agar memiliki performa yang lebih baik. Tapi sayang, update tersebut biasanya hanya terasa pada pengguna ponsel Android kelas atas. Daftar aplikasi yang berpengaruh pada ponsel Android
  4. Indonesia kedatangan lagi satu jejaring sosial dari Amerika Serikat yang membuka kantor perwakilannya di pasar lokal. Nama Path datang melengkapi daftar seperti Facebook dan Twitter. Dibandingkan dengan Facebook, Path sebenarnya berbeda karena filosofinya yang lebih sebagai 'private social network'. Di awal kehadirannya, Path membatasi jumlah anggota hanya 150 orang saja. Walaupun kemudian, jumlah ini bertambah menjadi 500 orang pada Mei 2014. Kata CEO Path Dave Morin angka tersebut memang karena permintaan anggota dari Indonesia. Indonesia memang menjadi pasar penting bagi Path. Terang saja, karena jumlah anggotanya di sini sudah mencapai 4 juta dan 80 persen di antaranya adalah pengguna aktif. Dengan jumlah ini, Indonesia menjadi nomor satu dengan jumlah terbesar. Di awal tahun 2014, Path pernah menimbulkan polemik. Karena sempat mendapat investasi dari Bakrie Global Group asal Indonesia dalam pendanaan Seri C pada Januari 2014. Selain Bakrie Global Group, sejumlah investor juga terlibat dalam pendanaan tersebut, antara lain Greylock, Kleiner Perkins, Index Ventures, Insight Venture Partners, Redpoint Venture Partners, dan First Round Capital. Mereka memberi total pendanaan senilai US$ 25 juta atau sekitar Rp 304 miliar. Sadar akan prospeknya yang tinggi di masa depan, Path pun mulai mencari uang. Di awal langkahnya, mereka menjual sticker dan filter untuk menambah pundi-pundi pendapatan. Berikutnya ada model bisnis akun premium. Pengguna akun ini dipotong bayaran melalui sistem potong pulsa lewat beberapa operator seluler di tanah air. Walaupun belum diketahui apakah metode itu terbukti ampuh, Path kembali percaya diri dengan membeberkan sejumlah strateginya untuk mengekspansi Indonesia. Awalnya dimulai dari mencari Country Manager. Path menuliskan bahwa mereka sedang mencari Country Manager untuk Indonesia. Sosok yang dicari yang mengerti akan seluk-beluk para pengguna internet di Tanah Air. Country Manager akan bertanggung jawab mengembangkan bisnis Path di Indonesia dengan cara meningkatkan jumlah atau intensitas kunjungan pengguna, monetisasi, dan berkerjasama dengan agensi lokal. Pencarian yang berlangsung selama kurang lebih 3 bulan tersebut membuahkan hasil dengan dipilihnya William Tunggaldjaja sebagai bos pertama Path di Indonesia dan Asia Tenggara. Bukan perkara gampang untuk anak muda ini membawa Path sukses dari sisi bisnis dan berkembang dalam jumlah pengguna. "Pasti (tak cuma bisnis saja). Karena kami juga ingin membesarkan Path di sini," yakin William. William mengaku bahwa saat ini dirinya masih melakukan komunikasi dengan kantor pusat Path di San Francisco, Amerika Serikat. "Saya lagi berkomunikasi dengan kantor pusat (di San Francisco), menyamakan visi dan misi untuk mengembangkan bisnis di sini. Semuanya masih disiapkan," katanya. Tentunya sangat menarik menanti akan seperti apa strategi yang akan dibawa oleh William untuk membesarkan bisnis Path di Indonesia.
  5. Pertama dibuat, Path tak banyak dilirik. Bahkan saking sepinya, media sosial itu sempat ingin ditutup oleh para pembuatnya. Dave Morin, salah satu pendiri Path, mengaku harus berjuang mati-matian agar Path bisa diterima oleh masyarakat dunia. "Awal mula Path rilis, pengguna kami hanya 10 ribu saja selama satu tahun. Bukan angka yang besar untuk kurun waktu 365 hari," kenang Dave Morin. Jumlah pengguna yang sedikit, serta pertumbuhan yang lambat membuat masa depan Path terlihat suram. Sempat terpikir oleh Morin dan timnya untuk tidak lagi melanjutkan pengembangan Path. Namun, alih-alih putus asa, mereka memutuskan untuk melakukan semacam riset agar mengetahui apa yang sedang diinginkan masyarakat. Kala itu, Path pada masa percobaan rilis, hanya bisa menampung 50 teman dan layanannya hanya sebatas publikasi foto saja. "Setelah riset, ternyata kami baru tau bahwa masyarakat hobi publikasi banyak foto dan gambar unik serta berbagi musik," jelas Morin. Seketika tim Path merombak desain yang mencakup layanan berbagi musik dan status, check-in lokasi, hingga fitur "sleep and awake". "Setelah perombakan, benar saja, dalam waktu dua minggu, pengguna Path langsung melesat sebanyak 300 persen," lanjut Morin. Terlepas dari rintangan tersebut, langkah yang diambil tim Morin untuk mengembangkan Path melalui pasar mobile dianggap sudah tepat. Ia dan timnya memang telah melakukan data pasar bahwa mulai tahun 2013, pasar internet mobile akan semakin melonjak. "Saya rasa ponsel pintar adalah produk paling sukses, jadi aplikasi media sosial khususnya Path akan terus menargetkan perangkat mobile," ungkap Morin.
  6. Pendiri sekaligus CEO Path, Dave Morin, mengatakan bahwa pengembangan layanan Path banyak terinspirasi dari pengguna asal Indonesia. Yang paling terlihat adalah penambahan cakupan jumlah teman. Sejak pertama kali diluncurkan, Path hanya memungkinkan satu akun terkoneksi dengan 150 teman. Kala itu, Morin menganggap bahwa 150 orang adalah jumlah ideal untuk sebuah jejaring pertemanan. Kemudian sekitar Mei 2014, Path memutuskan untuk menambah jumlah pertemanan menjadi 500. "Hal itu memang menjadi permintaan utama dari masyarakat Indonesia," ucap Morin sembari tertawa. Dalam sebuah diskusi terbuka di Jakarta, Morin juga mengungkapkan bahwa orang Indonesia punya semangat untuk mau menciptakan perubahan. Di masa depan, Path berencana melibatkan pemrogram dari Indonesia untuk membuat stiker digital. "Menurut saya, orang Indonesia tidak takut untuk memulai usaha baru. Tidak seperti di AS yang sepertinya butuh banyak waktu untuk tidak meragukan diri sendiri," kata Morin, yang datang ke Jakarta untuk ketiga kalinya. Hal itu diucap Morin karena Indonesia merupakan pasar penting untuk mereka. Di Indonesia, Path memiliki sekitar 4 juta pengguna. Sebanyak 80 persen di antaranya disebut Morin adalah pengguna aktif. Tak heran jika mereka punya rencana membuka kantor di Indonesia pada awal 2015 dan saat ini sedang berupaya mencari seorang yang duduk di posisi country manager. Path juga sempat mendapat investasi dari Bakrie Global Group asal Indonesia dalam pendanaan Seri C pada Januari 2014. Selain Bakrie Global Group, sejumlah investor juga terlibat dalam pendanaan tersebut, antara lain Greylock, Kleiner Perkins, Index Ventures, Insight Venture Partners, Redpoint Venture Partners, dan First Round Capital. Mereka memberi total pendanaan senilai US$ 25 juta atau sekitar Rp 304 miliar. Perusahaan yang didirikan di San Francisco, California, AS, tersebut berusaha mendapatkan uang dari layanan dengan menjual akun premium, menjual stiker, dan filter foto.
  7. Pendiri sekaligus CEO Path, Dave Morin, sedang berjuang membuat jejaring sosialnya lebih dikenal oleh dunia. Dalam kerja kerasnya, Morin mengaku terinspirasi dari Steve Jobs sang pendiri Apple. “Dia adalah inspirasi saya, khususnya dalam hal penciptaan inovasi,” ujar Morin dalam sebuah diskusi terbuka di Jakarta. Morin mengatakan Path akan tetap fokus memberi layanan terbaik kepada pengguna dengan mengutamakan kualitas produk. Hal ini pula yang disebut Morin telah dilakukan Apple untuk memberi kepuasan kepada pengguna. "Saya besar menggunakan komputer Apple. Pekerjaan pertama saya adalah bagian pemasaran di Apple saat Jobs masih hidup," kenang Morin. Morin memang sempat bekerja dalam divisi pemasaran di Apple. Ia juga sempat bekerja di Facebook. Baginya, etos kerja Jobs yang konsisten dan tidak berusaha menguasai pasar namun optimis akan pemenuhan kebutuhan dan pengalaman pengguna, adalah hal yang patut dicontoh. “Sekitar 10 tahun lalu Apple hanya menguasai pangsa pasar yang kecil. Sekarang, sudah menjadi perusahaan teknologi tersukses berkat produk inovasinya yang berhasil mendapatkan loyalitas masyarakat," ujar Morin. Walau berbeda jenis produk dengan Apple yang membuat perangkat, Morin mengatakan cara Apple menjaga loyalitas pengguna sangat ia perhatikan. Walau kini Path hanya populer di Indonesia, Nigeria, dan kawasan Timur Tengah seperti Arab Saudi, ia yakin Path dapat memberi layanan terbaik untuk menjaga loyalitas pengguna. Di Indonesia, Path memiliki sekitar 4 juta pengguna. Sebanyak 80 persen di antaranya disebut Morin adalah pengguna aktif. Path didirikan pada 2010 lalu di San Francisco, Amerika Serikat. Jejaring sosial ini berusaha mendapatkan uang dari layanan dengan menjual akun premium, menjual stiker, dan filter foto.
  8. Satu lagi jejaring sosial populer dunia yang bakal mendirikan kantor perwakilan di Indonesia. Setelah Facebook dan Twitter, kini jejaring sosial lainnya, yakni Path mengikuti langkah serupa. Bahkan mereka pun kini tengah mencari talenta yang cocok untuk bisa dijadikan sebagai Country Manager Path Indonesia. Hal ini diungkapkan oleh Marketing Manager Path Ana Larue. Dia mengatakan kalau pembukaan kantor Path di Indonesia itu akan dilakukan pada awal tahun 2015. Sejauh ini, Larue mengatakan kalau pihaknya belum menemukan kandidat yang cocok, namun dia yakin kalau posisi tersebut akan terisi dalam beberapa bulan mendatang. Bagi para penyedia layanan jejaring sosial, Indonesia memang menjadi negara yang sangat penting. Bukan hanya karena dikenal sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar dunia. Masyarakat Indonesia dikenal sangat getol dalam menghabiskan waktunya di jejaring sosial. Malah tak puas dengan satu jejaring sosial, namun beberapa akun di berbagai jenis sosial media sekaligus.
  9. Apa itu Path? Path adalah situs jejaring sosial baru yang dapat digunakan untuk saling bertukar foto atau komentar dengan teman atau kerabat dekat saja. Menurut En. Wikipedia.org, startup ini diluncurkan pada bulan November 2010 lalu. Uniknya, situs jejaring sosial ini hanya memperbolehkan penggunanya memiliki teman atau kerabat sebanyak 150 orang saja. Dave Morin, Co-founder sekaligus CEO Path, mengatakan, "Path dibuat untuk menjaga keamanan serta privasi penggunanya. Mereka akan terbebas dari campur tangan atau komentar orang lain yang tidak begitu akrab dengannya". Morin juga mengatakan bahwa tidak hanya berbagi foto atau komentar saja yang dapat dilakukan pengguna Path, penggunanya dapat juga saling berkirim-kiriman musik atau video secara aman. Menurut Gizmodo.com, Path adalah situs sekaligus aplikasi yang awalnya khusus untuk pengguna iPhone, namun sekarang telah dikembangkan untuk dapat dipakai oleh pengguna Android. Cara kerjanya mirip dengan cara kerja Twitter dan Instagram. Penggunanya dapat secara cepat dan aman mengirimkan foto yang diambil dengan menggunakan kamera iPhone atau smartphonenya, serta tidak terganggu dengan tag dari pihak lain seperti yang sering dialami pengguna Facebook. Path diciptakan oleh gabungan entrepreneur yang telah berhasil sebelumnya, seperti Dave Morin (mantan karyawan Facebook), Shawn Fanning (pencipta Napster), dan Dustin Mierau (pengembang Mac Napster). Setelah mereka menciptakan Path untuk iOS dan Android, kini mereka mengambil ancang-ancang untuk memasuki dunia BlackBerry. Saat ini, Path sudah berhasil mengumpulkan dana untuk pengembangan situs sekaligus aplikasinya sebanyak USD 2.5 juta. Dana tersebut didapat dari banyak pihak, seperti Ron Conway, Index Ventures, First Round Capital, Ashton Kutcher, Kevin Rose, Marc Benioff, Chris Kelly,dan banyak lagi lainnya. Tampilan Path.com sangat sederhana, dan terkesan bukan seperti sebuah situs melainkan mirip dengan wallpaper untuk layar komputer karena tidak terdapat banyak tulisan ataupun tombol di dalamnya. Di ujung atas kanan hanya terdapat satu tombol kecil untuk login. Di bagian kiri bawah, terdapat tiga panel lain, yaitu dua panel untuk mengakses atau melihat video seputar Path, dan satu panel untuk mengunduh aplikasi ini. Apabila Anda seorang pebisnis, mungkin Path adalah aplikasi sekaligus situs yang sangat cocok bagi Anda, karena komunikasi Anda dengan rekan bisnis akan lebih terpusat tanpa ada gangguan dari pihak lain.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy