Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'orangtua'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Product Groups

There are no results to display.


Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 3 results

  1. Menjaga agar anak tetap sehat dan selamat adalah bagian dari naluri orangtua, dan setiap orang memiliki caranya tersendiri untuk melakukannya. Beberapa orangtua bahkan terlalu melindungi anak mereka, bukan hanya dari permasalahan besar, tetapi juga dari hal kecil dan tanggung jawab yang seharusnya mereka bisa atasi sendiri. Hal ini dikenal dengan pola asuh helicopter parenting dan istilah ini relatif menjadi lebih populer dalam satu dekade terakhir. Apa itu helicopter parenting? Helicopter parenting adalah istilah yang merujuk pada cara pola asuh anak oleh orangtua yang terlalu berfokus terhadap kehidupan anak. Akibatnya, orang tuaterlalu ikut campur terhadap berbagai persoalan yang dihadapi oleh anak mereka. Berbeda dengan pola asuh yang menuruti berbagai keinginan anak, pola asuh helicopter parenting lebih cenderung menentukan bagaimana anak seharusnya bertindak, dan lebih bersifat terlalu melindungi anak dari kesulitan atau kegagalan. Pada dasarnya, hal ini dilandasi oleh niat yang baik, namun orangtua yang melakukan helicopter parentingcenderung menyelesaikan berbagai urusan yang dihadapi anak, meskipun si anak sebenarnya dapat menyelesaikannya sendiri. Pakar psikologi Michael Ungar mengatakan (sebagaimana yang dilansir oleh Psychology Today), “Hal ini (helicopter parenting) tentu saja tidak sesuai dengan tujuan utama pola asuh anak untuk menjadikannya mampu menyelesaikan berbagai tugas orang dewasa.“ Ia juga berpendapat bahwa melatih anak untuk mengambil keputusannya sendiri jauh lebih penting dibandingkan membiarkan mereka bergantung pada orangtua untuk menyelesaikan masalah yang ia hadapi. Helicopter parenting dapat berupa berbagai perilaku orangtua yang terlalu memonitor kehidupan sekolah, sosial, bahkan pekerjaan anak, misalnya: Menentukan jurusan pendidikan yang diambil oleh anak meskipun anak tidak menyukainya. Memonitor jadwal makan dan olahraga. Orangtua meminta anak untuk selalu memberikan kabar di mana ia berada dan dengan siapa. Saat nilai anak buruk, orangtua menghubungi guru atau dosen untuk protes. Ikut campur jika ada permasalahan dengan teman atau pekerjaan. Kenapa orangtua terlalu ikut campur dalam kehidupan anak? Terdapat banyak alasan orangtua terlalu melakukan campur tangan dalam kehidupan anak. Namun pada dasarnya hal ini disebabkan oleh kecemasan yang berlebihan orangtua terhadap bagaimana anak menjalani hidup mereka. Akibatnya, helicopter parent melakukan berbagai hal untuk membantu mengatasi permasalahan hidup, bahkan mengambil alih hal yang seharusnya dilakukan oleh anak. Meskipun terkesan hal ini hanya dilakukan oleh orangtua dengan anak yang telah beranjak dewasa, tetapi perilaku helicopter parenting juga dapat terjadi pada setiap tahap perkembangan anak. Orangtua yang selalu cemas dan sudah terbiasa membantu anaknya dalam berbagai hal sejak ia masih anak-anak kemungkinan akan terus melakukannya hingga dewasa. Tanpa disadari, saat sudah remaja atau dewasa, anak cenderung menjadi mudah cemas dan selalu mengandalkan orangtua saat menghadapi kesulitan. Kenapa terlalu ikut campur dalam kehidupan anak adalah pola asuh yang kurang baik? Berikut beberapa alasan terlalu melindungi anak dapat berdampak kurang baik: Tidak membiarkan anak tumbuh Anak yang diasuh oleh orangtua yang terlalu mengawasi dan ikut campur cenderung mengalami kesulitan untuk memecahkan masalah, karena ia memiliki kepercayaan diri yang rendah dan lebih takut akan kegagalan. Semakin jauh orangtua ikut campur dalam tanggung jawab anak, maka semakin sedikit kepercayaan mereka akan kemampuan anaknya. Seiring dengan pertumbuhanny,a hal ini tidak hanya membuat anak mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan masalah, namun juga dapat berdampak pada kehidupan sosial, pendidikan, bahkan karir setelah ia dewasa. Anak tidak memiliki coping skill Coping skill adalah keterampilan seseorang agar dapat menghadapi permasalahan dan rasa kekecewaan atau kegagalan dengan baik. Selalu membantu anak sehingga mereka tidak pernah salah atau mengalami kegagalan adalah hal yang dapat menghambat perkembangan coping skill. Akibatnya, anak tidak terbiasa mengatasi masalah atau menghadapi kegagalan, dan mereka tidak pernah belajar bagaimana menyelesaikan persoalan tersebut. Menurunnya kepercayaan diri anak Sikap orangtua yang terlalu ikut campur saat anak sudah memasuki usia remaja akan menyebabkan anak menjadi kurang percaya diri untuk bergaul dengan anak seusianya. Hal ini juga akan menyebabkan ia lebih sulit bergaul dan menutup diri bahkan saat ia dewasa. Perlu dipahami oleh orangtua, bahwa kepercayaan diri adalah sesuatu yang hanya dapat diperoleh saat anak bergantung kepada kemampuannya sendiri, baik dalam mengambil keputusan maupun menerima konsekuensi. Orangtua membantu anak hanya karena kecemasan berlebih Sebagian besar perilaku helicopter parenting didasari oleh kecemasan berlebih, dibandingkan niat untuk menolong anak. Beberapa kecemasan orangtua bahkan disebabkan karena takut merasa bersalah saat anak mengalami kegagalan, atau takut apa yang orang lain pikirkan tentang anak mereka, bukan karena rasa cemas akibat kemampuan anak atau permasalahan yang sedang dihadapi anak. Saat Anda sebagai orang tua mengalami kecemasan, sebaiknya bicarakan bagaimana anak menghadapi permasalahan tersebut. Memberikan arahan dan motivasi tanpa ikut campur secara langsung akan lebih baik bagi anak dalam menyelesaikan masalah. Yang dapat dilakukan orang tua agar tidak terlalu ikut campur Terlalu khawatir dan ikut campur dalam kehidupan anak bukanlah cara yang bijak untuk menjalin kedekatan dengan Anak. Berikut beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk menghindari pola asuh helicopter parenting: Biarkan anak berusaha sesuai dengan kemampuan Seiring dengan pertumbuhannya, anak mengalami perkembangan yang bertahap dalam melakukan berbagai hal. Oleh karena itu, membiarkan anak belajar untuk menangani hal dan tanggung jawabnya sendiri adalah hal terbaik untuk membuatnya lebih mandiri dan mengembangkan kemampuannya dalam menjalani kehidupan. Selain itu, ada baiknya orangtua membiarkan anak membuat keputusan dan menerima konsekuensinya sendiri, selama hal tersebut tidak membahayakan bagi kesehatan dan keselamatan anak. Saat anak dalam kesulitan, jangan membuatnya cemas Hindari terlalu cemas dan membuat sesuatu terkesan lebih buruk dari yang sebenarnya. Hal ini hanya akan membuat anak bingung dan menjadi mudah cemas karena respon negatif yang diberikan orangtua terhadap suatu permasalahan. Hadapi kesulitan bersama dengan anak, dengan menghadirkan respon yang lebih positif dan tanpa membuat anak lebih cemas. Jangan membuat anak menjadi pusat dari kehidupan Anda Hal ini adalah penyebab utama sebagian orangtua cemas akan pilihan apa yang diambil oleh anaknya. Cara terbaik untuk mengatasi hal ini adalah dengan menyadari bahwa anak memiliki kehidupan, dan berhak menentukan pilihannya sendiri. Serta ingat, tinggi atau rendahnya pencapaian anak bukanlah indikator yang sesuai dengan kualitas pola asuh anak yang Anda lakukan. Hargai pendapat anak Memaksakan pendapat terhadap anak dapat menyebabkan anak tidak memiliki pendirian akan pendapatnya sendiri. Oleh karena itu, pahamilah sebagai sesuatu yang positif jika anak Anda memiliki pendapat yang berbeda dengan Anda. Jika hal tersebut tidak kurang sesuai dengan kebaikan anak, cobalah ajak ia berbicara dan pahami mengapa anak Anda berpikir demikian.
  2. Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi, sebagai orang tua mungkin kita menjadi sering lupa dalam menjaga privasi di sosial media. Di sisi lain, sosial media memang memudahkan kita dalam menerima dan memberi informasi kepada teman terdekat hingga yang tak kenal sekalipun. Facebook contohnya, kebanyakan orangtua lebih memilih mengunggah foto anaknya dibanding foto orangtuanya sendiri. Masih ingat kasus seorang remaja yang dituduh telah menghina Kota Bandung dengan kata-kata kotornya di Twitter? Ya, kasus yang telah dilaporkan ke polisi oleh Wali Kotanya langsung ini sempat heboh di dunia maya, hingga terungkaplah bahwa foto orang pada akun bermasalah tersebut bukan foto asli pelaku. Dari kasus ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa kita tidak boleh sembarang mengupload sebuah foto di sosial media, jika yang sopan saja sudah disalahgunakan bagaimana dengan foto yang kurang sopan? Sebaiknya orangtua kini lebih bijak dalam mengupload foto anak di sosial media, mengupload foto tanpa diseleksi lebih dulu bisa berdampak negatif di antara bahayanya adalah menjadi sasaran pelaku pedofil dan penculikan anak. Lalu, apa yang harus diperhatikan sebelum mengupload foto ke sosial media? Perhatikan Pengaturan Privasi Di Facebook misalnya, Anda dapat mengatur siapa saja yang bisa melihat foto atau status yang diposting, hanya untuk diri sendiri, keluarga, teman atau publik. Untuk photo anak lebih baik hanya kalangan teman atau anggota keluarga saja yang bisa melihat. Tidak Memasang Foto Anak Tanpa Busana Siapa yang tidak gemas jika melihat anak balita yang tengah mandi atau tanpa busana? Tentu semua orang menyukai foto bayi yang terlihat lucu saat mandi. Tapi ternyata, mengupload foto balita tanpa busana atau hanya memakai pakaian dalam sangat tidak disarankan. Karena ini akan membahayakan anak sendiri, anak bisa menjadi target dari pelaku pedofil atau predator. Meski masih balita bukan berarti bisa bebas mengabadikan semua momen dan mengunggah fotonya di sosial media. Sebaiknya dipikir ulang jika ingin mengunggahnya, pilihlah foto yang memang sopan dan tidak memancing tindak kriminal. Hindari Memasang Status Lokasi Tidak jarang para orangtua suka menandai keberadaan lokasi saat bersama anak. Bukan tidak boleh berbagi informasi tentang kegiatan dan lokasi dimana kita menghabiskan waktu bersama anak, tapi cobalah untuk mengurangi kebiasaan memberitahu secara detail lokasi dimana kita berada. Hal ini bisa memancing tindakan penculikan terhadap anak, jadi alangkah baiknya jika Anda tidak menulis nama lengkap anak atau lokasi secara detail jika ingin mengupdate status di sosial media. Hindari berfoto dengan latar tempat Misalnya berfoto di depan sekolah, rumah dan lokasi-lokasi yang sekiranya dapat memudahkan para pedofil atau penculik mencari anak Anda. Hindari melakukan hal ini! Banyak kasus penculikan yang bermula dari lokasi sekolah anak dengan tujuan untuk memeras hingga kasus penjualan anak. Berikan Komentar Positif Saling memberikan komentar di sosial media memang akan menjadi ajang sosialisasi yang menyenangkan, namun pastikan Anda selalu memberikan komentar positif di sosial media. Jangan memberikan komentar negatif atau mengejek ya. Hindari menggunakan ikon atau tokoh kartun dengan karakter negatif sebagai julukan kepada anak. Sebaiknya sosial media dijadikan ajang positif untuk memberikan informasi yang bermanfaat. Perlu diingat bahwa setiap foto yang Anda upload di sosial media meskipun telah Anda hapus tidak menjamin foto tersebut akan menghilang di database mesin pencari, mungkin foto yang Anda unggah sudah ada yang mendownload atau menyebarkannya via sosial media lain. Jadi berhati-hatilah, jangan terlalu sering mengupload foto. Lebih baik dokumentasikan melalui album foto di rumah Anda.
  3. Anak kecil memang suka berbohong, suka tidak suka, itulah kenyataan yang harus “ditelan” oleh para orangtua. Nah, apabila Anda adalah tipe orangtua yang tidak bisa menerima fakta bahwa anak kecil cenderung suka berbohong pada orangtua. Sebaiknya, jangan melanjutkan membaca uraian berikut ini. Menurut studi yang dihelat oleh McGill University in Montreal, mengatakan bahwa anak mulai berbohong pada usia mereka mencapai dua tahun dan terus berlanjut demikian. Kebohongan yang diutarakan anak memiliki ragam tujuan. Entah untuk menutupi kesalahan mereka, takut dimarahi orangtua, atau untuk membela teman-teman sebayanya. Tugas Anda sebagai orangtua adalah membimbing, memberikan teladan dan contoh pada buah hati agar tidak membiarkan sifat buruk tersebut menjadi kebiasaan di masa mendatang. Sejumlah ilmuwan yang terlibat pada studi tersebut di atas, mendokumentasikan 372 anak berusia empat dan delapan tahun sebagai materi penelitian. Mereka ditempatkan dalam sebuah ruangan dengan mainan di belakang kursi tempat mereka duduk. Sebelum beberapa ilmuwan keluar ruangan, mereka meminta anak-anak untuk tidak mengintip mainan yang berada di belakang kursi. Hasilnya, dua dari tiga anak ditemukan mengintip dan melihat mainan di belakang kursi. Kemudian, dua dari tiga anak yang mengintip berbohong kalau mereka tidak melakukannya. Ternyata, hal menarik dari hasil studi ini adalah apa yang memicu anak untuk tidak disiplin dan kemudian berbohong. Ternyata, masalahnya ada pada apa yang diucapkan oleh para ilmuwan sesaat sebelum meninggalkan ruangan. Sejumlah anak diberi tahu apabila mereka mengintip, mereka diancam mendapatkan hukuman. Beberapa anak lainnya diberi tahu bahwa jika mereka tidak mengintip, mereka membuat orangtua bahagia. Lalu, sejumlah anak dinasehati baik-baik bahwa mereka lebih baik jujur karena itu adalah perilaku yang baik. Kemudian, sisanya, tidak diberitahu atau diancam sama sekali. Ternyata grup anak-anak yang lebih banyak berbohong adalah mereka yang sebelumnya diancam akan mendapatkan hukuman. Kemudian, anak-anak dengan usia yang lebih muda, mengaku berbohong supaya orangtua merasa bahagia. Hal lain terjadi pada anak-anak berusia lebih tua yang mengatakan mereka berbohong karena itu sesuatu yang harus dilakukan agar tidak dihukum. Kesimpulan dari studi ini mengatakan bahwa ancaman dan cara didik terlalu disiplin tidak membuat anak tumbuh menjadi seseorang yang jujur dan berani bertanggung jawab. “Kenyataannya, hukuman dan ancaman menurunkan keberanian anak untuk berkata jujur. Hasil studi ini bertujuan untuk memberikan pandangan pada orangtua dan pekerja profesional di dunia pendidikan, supaya mereka tidak mudah memberikan ancaman dan hukuman pada anak,” ujar ketua penelitian, Victoria Talwar. Talwar menyarankan para orangtua dan guru untuk jangan buru-buru memarahi dan menghukum anak saat mereka ketahuan berbohong. Sebab, cara yang demikian justru membuat mereka semakin takut dalam berperilaku jujur dan bicara terus terang.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy