Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'ojek online'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

There are no results to display.

There are no results to display.

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 4 results

  1. Layanan ojek online menjadi fenomena tersendiri dalam beberapa tahun terakhir. Pada awal kemunculannya, di 2011, Go-Jek sempat menjadi inisiator layanan ini. Walaupun sempat kesulitan untuk diterima konsumen, lambat laun layanan ini diterima masyarakat di 2015. Go-Jek menjadi pemain pertama yang dengan mudah diterima masyarakat. Sejak meledak di 2015, masyarakat berbondong-bondong ingin mendaftar menjadi driver. bahkan, pihak Go-Jek sempat kewalahan membendung animo masyarakat yang ingin menjadi driver mereka. keberhasilan Go-Jek mengubah peta industri transportasi membuat pemain lain tergoda. Grab (Malaysia), yang semula hanya bermain sebagai penyedia taksi, mulai meluncurkan Grab Bike yang menjadi pesaing Go-Jek hingga saat ini. Tak hanya pemain asing, beberapa pemain lokal juga ikut mencoba untuk terjun di model bisnis baru ini. Sebut saja, Blu-Jek yang juga hadir di September 2015. Pada saat itu, Founder Blu-Jek, Garrett kartono, mengatakan, Blu-Jek hadir tidak untuk mengekor layanan lainnya yang telah lebih dulu ada, melainkan membantu dan saling melengkapi layanan sejenis agar semakin banyak pilihan bagi konsumen untuk mendapatkan layanan terbaik. Selain itu, ladyJek muncul pada Oktober 2015 dengan menawarkan layanan berbeda. Mereka menggunakan driver khusus perempuan yang ditujukan untuk konsumen kaum hawa. Pada April 2016, raksasa ride-sharing asal Amerika Serikat, Uber, meluncurkan layanan ojek online di Jakarta. Tentu saja, dengan dukungan induk perusahaan, uber tidak kesulitan menawarkan tarif promo yang menggiurkan. Seiring dengan berjalannya waktu, kini hanya, Uber, Go-Jek, dan Grab, yang praktis terdengar suaranya. Beberapa sudah menutup layanannya, sementara lainnya mencoba terus bertahan dengan armada seadanya.
  2. Belum cukup sehari dilaksanakan, kebijakan Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan yang melarang operasi transportasi online seperti Go-Jek, Grabike, Grab Taxi termasuk Uber Taxi dan sebagainya akhirnya dibatalkan. Pembatalan tersebut terjadi, setelah kebijakan Jonan menuai reaksi masyarakat termasuk Ketua HIPMI, Bahlil Lahadia dan Presiden Joko Widodo (Jokowi), sehingga Menteri Perhubungan (Menhub) Jonan kembali mengizinkan layanan ojek online ataupun layanan kendaraan online sejenis lainnya beroperasi kembali. Menurut Presiden Jokowi, ojek online hadir dan berkembang karena dibutuhkan masyarakat. “Itu yang namanya ojek, yang namanya Go-Jek, ya ini kan hadir karena dibutuhkan oleh masyarakat. Itu yang harus digarisbawahi,” kata Jokowi di Istana Bogor, Jawa Barat, Jumat (18 Des 2015). Karena itu, kata Jokowi, keberadaan ojek berbasis aplikasi jangan dibenturkan oleh peraturan apa pun yang dibuat kementerian terkait. Akhirnya Menteri Perhubungan (Menhub) Ignasius Jonan, mencabut kebijakan larangan operasi transportasi berbasis online. Sambil menunggu alternatif lainnya, ia mempersilakan transportasi berbasis aplikasi ini untuk tetap beroperasi. Jonan dalam rilisnya menjelaskan, sesuai dengan Undang Undang Nomor 22 Tahun 2009, kendaraan roda dua sebenarnya tidak dimaksudkan untuk sebagai angkutan publik. Namun realitas di masyarakat menunjukkan adanya kesenjangan yang lebar antara kebutuhan transportasi publik dan kemampuan menyediakan angkutan publik yang layak dan memadai. Kesenjangan antara kebutuhan transportasi dengan kemampuan menyediakan angkutan publik tersebut kemudian diisi oleh ojek dan beberapa waktu terakhir juga dilayani oleh transportasi berbasis aplikasi seperti Gojek dan lainnya. “Atas dasar itu, ojek dan transportasi umum berbasis aplikasi dipersilakan tetap beroperasi sebagai solusi sampai transportasi publik dapat terpenuhi dengan layak,” ujarnya. Jonan menambahkan, Ojek dan transportasi umum berbasis aplikasi dipersilakan tetap beroperasi sebagai solusi sampai transportasi publik dapat terpenuhi dengan layak. Sementara terkait dengan aspek keselamatan di jalan raya yang menjadi perhatian utama pemerintah, Jonan menganjurkan para pelaku startup transportasi online untuk berkonsultasi dengan Korlantas Polri. Sekedar informasi, sejak tahun 2011 hingga kini marak beroperasi layanan transportasi berbasis aplikasi online seperti Uber Taksi, Go-Jek, Grab Taksi, Go-Box, Grab Car, Lady-Jek, Blu-Jek
  3. Presiden Jokowi tidak menyetujui pemberlakukan aturan pelarangan ojek online atau angkutan online lainnya yang dibuat Kementerian Perhubungan. Sebab, moda transportasi dengan menggunakan aplikasi onlinemerupakan sebuah inovasi yang dibuat anak muda kreatif. "Jangan juga sampai kita mengekang sebuah inovasi. Kayak Go-Jek, itu kan aplikasi anak-anak muda yang ingin memperbarui. Inovasi sebuah ide, jadi jangan juga sampai mengekang inovasi," ujar Jokowi usai memberi penghargaan kepada para pendonor darah PMI di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Jumat 18 Des 2015. Selain itu, kata Jokowi, yang paling penting adalah upaya penataan transportasi massal yang aman, cepat, dan murah. Hal tersebut, menurut dia, perlu didahului sebelum membuat aturan yang sifatnya melarang moda transportasi, seperti ojek online yang saat ini sudah menjadi kebutuhan masyarakat. "Harusnya ada penataan yang bisa itu dari Dinas Perhubungan, Kemenhub. Pembinaan dan menata, sehingga keselamatan dari penumpang juga bisa dijaga. Makanya saya nanti siang-siang akan bisa panggil Menteri Perhubungan," ucap Jokowi. ‎ Kemenhub melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat (Ditjen Hubdat) sempat melarang ojek online ataupun layanan kendaraanonline sejenis lainnya beroperasi. Larangan operasi tersebut karena tak sesuai dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) dan peraturan perundang-undangan turunannya. Menurut pihak Ditjen Hubdat, dasar hukum penyelenggaraan angkutan orang dan angkutan barang diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang LLAJ dan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2014 tentang Angkutan Jalan. Menteri Perhubungan Ignasius Jonan kembali mengizinkan layanan ojek online ataupun layanan kendaraan online sejenis lainnya beroperasi kembali. Jonan menerangkan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009, kendaraan roda dua sebenarnya tidak dimaksudkan sebagai angkutan publik. Namun, realitas di masyarakat menunjukkan adanya kesenjangan yang lebar antara kebutuhan transportasi publik dan kemampuan menyediakan angkutan publik yang layak dan memadai.
  4. Popularitas Gojek yang di atas awan tak terlepas dari iming-iming penghasilan yang mengikutinya. Tak hanya tukang ojek biasa, ibu rumah tangga, mahasiswa bahkan pegawai swasta ikut nyemplung jadi driver Gojek. Lantas bagaimana mereka bisa mendapat penghasilan sedemikian fantastis? Mansyur (40) warga Senen menjelaskan soal pembagian hasilnya kepada Metrotvnews.com saat ditemui di Jalan Bangka Raya, Jakarta Selatan. "Jadi pembagiannya 20/80. Kalau ada orderan misalnya harganya 100 ribu, 20 buat kantor, 80 buat kita. Jadi kita tetap dapet lebih banyak," kata Mansyur, Senin (29/6/2015). Kemudian, untuk meningkatkan giat driver mengambil pelanggan, perusahaan Gojek memberikan perlakuan khusus bagi drivernya. Salah satu caranya dengan memberikan reward bagi mereka yang sering membawa pelanggan. "Dikasih bonus juga, kalau dalam satu hari bawa pelanggan 10 kali jauh dekat dapat tambahan Rp100 ribu. Jadi buat memacu kita juga," bebernya. Mansyur menyebut, pernah ada driver yang bisa mencapai Rp1 juta dalam sehari. Driver itu mendapat bonus yang besar dari perusahaan. "Pernah ada di rangking, kita tahu rangking setiap hari ada yang dapat Rp1 juta sehari dan dapat bonus. Bahkan katanya jadi modal buka usaha," ucapnya. Sementara itu, bagi pelanggan yang memakai sistem kredit, pencairan dapat dilakukan menggunakan atm yang bekerjasama dengan Gojek. Tak heran dengan sistem seperti ini rata-rata driver Ho-jek mendapatkan penghasilan sebesar Rp200 ribu- Rp500 ribu perhari. Kendati demikian, kini perusahaan Gojek sudah mulai memperketat sistem pengawasan bagi drivernya. Mansyur bilang, banyak Gojek yang kini sudah dipecat karena tak sesuai aturan. "Ada yang mainin argo, enggak pakai jaket, keluar track. Jadi dilapor sama customer. Sekali dua kali enggak apa-apa. Ketiga kali baru dipecat kemarin," tutupnya.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy