Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'new york'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 17 results

  1. Di New York, kota terbesar di AS, kemeriahan musim liburan akhir tahun terlihat nyata dengan ramainya warga lokal dan turis yang datang. Ada yang datang untuk berbelanja dan menikmati diskon besar akhir tahun, atau yang sekedar menikmati keindahan dan kemeriahan yang seakan-akan tak pernah berhenti.
  2. Designer Anniesa Hasibuan beberapa waktu yang lalu sempat berkunjung ke New York. Simak bincang-bincang Anniessa dengan tim VOA mengenai busana rancangannya dan berbagai kegiatan lainnya di Amerika.
  3. Sejumlah designer Indonesia membuka Indonesian Fashion Gallery di New York City. Ian Umar dan Tim VOA mengantarkan liputannya untuk Anda.
  4. New York dikenal sebagai kota kaki lima AS dengan lebih dari 20 ribu kaki lima dan gerobak makanan yang 90 persen dioperasikan oleh warga imigran. Namun sejalan bertambahnya warga imigran yang berjualan kaki lima, merebak pula pasar gelap yang memperjualbelikan perijinan. Simak liputan berikut ini.
  5. Salah seorang hakim dari pengadilan New York, menolak perintah Departemen Kehakiman AS yang mengirimkan surat agar Apple membantu FBI untuk membuka enkripsi iPhone milik Syed Ridwan Farook, pelaku penembakan di San Bernardino. FBI meminta Apple dengan landasan the All Writs Act, undang-undang yang telah dibuat sejak 200 tahun lalu. Namun, dengan tegas Hakim James Orenstien menolak perintah dari pemerintah tersebut. "Setelah meninjau fakta-fakta dalam catatan dan argumen dari berbagai para pihak, saya menyimpulkan bahwa tidak ada faktor-faktor tersebut membenarkan untuk memaksakan Apple dalam kewajiban untuk membantu penyelidikan pemerintah terhadap kehendaknya," tulis Hakim Orenstein. "Karena itu saya menolak perintah." Dia juga berpendapat,"pertanyaan yang harus dijawab dalam hal ini dan orang lain di seluruh negeri ini adalah bukan soal pemerintah mampu memaksa Apple untuk membantu membuka perangkat tertentu. Namun soal surat perinta All Writs Act yang akan memutuskan masalah bagi banyak orang lainnya di kemudian hari." All Wirts Act adalah undang-undang yang kemudian disahkan menjadi hukum pada tahun 1789, yang memungkinkan pengadilan federal untuk mengeluarkan perintah yang memaksa pihak ketiga untuk bekerja sama dan membantu untuk perintah pengadilan lainnya. Kasus ini bermula pada 2 Desember 2015 kemarin, Farook dan sang istri Tashfeen Malik yang merupakan warga AS keturunan Pakistan menembak mati 16 orang di fasilitas disabilitas di San Bernardino, California. Usai menembak, kedua orang itu melarikan diri dengan mobil namun akhirnya terbunuh dalam baku tembak dengan polisi. Hakim Sheri Pym dari pengadilan California meminta kepada Apple untuk membantu FBI agar membongkar kode enkripsi dari iPhone milik Farook tersebut. Karena, bila dipaksa dibongkar, maka data-data yang ada di ponsel tersebut akan rusak dengan sendirinya. Kemudian Apple mengajukan banding karena yang dipermasalahkan bukan membongkar iPhone semata, tapi Departemen Kehakiman dan FBI mencoba mencari kunci untuk membongkar privasi secara keseluruhan.
  6. Sejak awal bulan ini kota New York memasang ratusan portal wifi di berbagai sudut kota dan terus akan bertambah. Portal ini memberikan wifi super cepat bagi jutaan warga dan wisatawan metropolitan ini.
  7. Rut NAstiti mengajak Anda untuk menyaksikan kemeriahan hiasan Natal di Brooklyn, New York dalam VOA Trending Topic Natal ini
  8. Menjelang akhir tahun, AS diramaikan dengan kedatangan sejumlah insan perfilman Indonesia yang melakukan pengambilan gambar. Salah satunya “Terjebak Nostalgia”, film layar lebar perdana penyanyi Raisa Andriana, yang juga dibintangi Chicco Jerikho dan Maruli Tampubolon. Ikuti liputan tim VOA berikut....
  9. Wapres Jusuf Kala berada di New York untuk menghadiri Sidang Mejelis Umum PBB yang ke-70 dan sejumlah acara lainnya. Agenda utama dalam sidang umum kali ini untuk melanjutkan Millenium Development Goals (MDG) tahun 2015 menuju MDG tahun 2030.
  10. Label busana Muslim "Shafira" asal Indonesia ditampilkan dalam New York Couture Fashion Week. Koleksi itu menggunakan kain songket Silungkang asal Sumatera. Gimana kain songket ini tampil di Fashion Week? Kita lihat liputan VOA Indonesia berikut ini
  11. Diana Putri raih penghargaan Perancang Terbaik dalam New York Couture Fashion Week. Bagaimana prestasi dia di negara paman sam tersebut? Mari saksikan VOA Trending berikut ini ndral
  12. Josie Tam yakin perusahaannya, Techpacker, punya masa depan yang cerah. Ketika orang-orang yang berpengaruh dalam industri busana global sedang berkumpul dan bercengkrama, Josie Tam menjalankan misinya untuk menarik pelanggan. Ini adalah pekan busana Hong Kong, di mana hampir 20.000 pembeli dan penjual dari 65 negara sedang berada di sini untuk bertukar pendapat mengenai apa yang sedang menjadi tren, apa yang sedang laris dan apa yang tidak. Bagi Josie Tam, 32 tahun, ini adalah kesempatan sempurna untuk menawarkan aplikasi perangkat lunak yang ia kembangkan bersama perusahaan start-up-nya atau perusahaan rintisan inovatif. Situs web dan aplikasinya ia beri nama Techpacker dan tujuannya untuk menyederhanakan perancang busana untuk berkomunikasi dengan pabrik yang berada di lokasi yang jauh untuk bekerja sama memproduksi baju hasil rancangan. “Apakah Anda perancang busana?” Josie Tam bertanya kepada seorang perempuan muda yang melintas di depan gerainya. “Anda bekerja sama dengan pabrik di mana? Lokal atau di luar negeri?” Techpacker bertujuan mempermudah komunikasi antara perancang busana dengan pabrik. Josie Tam -yang nama Mandarin-nya Tan Huiyi ini- sangat ingin menarik sebanyak mungkin orang untuk memakai aplikasinya. Demikian yakinnya ia dengan Techpacker (yang juga nama perusahaannya), tahun lalu ia berhenti dari pekerjaannya di bidang informasi teknologi untuk memulai perusahaan rintisan dengan seseorang yang tak ia kenal. Mitra bisnisnya bernama Saral Kochar, 31 tahun, juga asal Hong Kong. Mereka bertemu pada acara kumpul-kumpul para pengusaha di bidang teknologi. Dalam acara itu, Kochar bercerita kepada Josie Tam tentang gagasannya mengenai Techpaker. Berkat pengalamannya bekerja sebagai manajer sumber daya di industri pakaian, Kochar memahami kebutuhan yang belum terpenuhi di bidang itu. Sedangan pekerjaan Josie Tam sebelumnya lebih banyak berurusan dengan teknologi informasi terkait industri busana, dengan segera ia bisa mengetahui produknya akan berhasil. Josie Tam dan Saral Kochar memulai usaha ini bersama. Josie Tam berkata, “Saya berpikir, “hei, itu ide bagus!” Sesudah pembicaraan lebih jauh, dan menyadari bahwa kemampuan mereka saling melengkapi, mereka berdua memutuskan untuk memasuki bisnis ini bersama. Kochar memiliki pengalaman berurusan dengan industri busana, sementara Josie Tam membawa keterampilan untuk mewujudkannya. Josie Tam mengakui, awalnya ia “khawatir” tapi sesudah mengecek jejak karier Kochar ia yakin untuk memutuskan berhenti kerja pada pertengahan tahun lalu. Techpaker sekarang punya 500 orang pelanggan, dan sekalipun aplikasi itu sekarang gratis, versi berbayarnya akan diluncurkan tahun ini. Didukung oleh hibah sebesar HK$333.000 (sekitar Rp580 juta) dari pemerintah Hong Kong, perusahaan ini akan segera menarik investor. Meskipun sekarang hanya punya tujuh orang staf, Josie Tam punya rencana pertumbuhan global untuk bisinsnya, di mana ia mulai membuka kantor di New York selain kantor pusat di Hong Kong. 'Memperhatikan saya' Josie Tam kecil bersama keluarganya. Josie Tam membawa dirinya dengan sangat efektif sehingga tak terasa bahwa tingginya hanya 120cm. “Saya lahir dengan sejenis 'dwarfism', atau tubuh pendek. “Sampai sekarang, ibu saya khawatir terhadap saya, apakah saya akan baik-baik saja," kata Tam. Lahir di kota Guangzhou di Cina selatan, ketika Josie Tam masih bayi, keluarganya pindah ke Hong Kong yang ketika itu masih merupakan koloni Inggris. Tumbuh di kawasan kumuh yang sekarang menjadi tempat para imigran, Josie berkata hanya dapat mengingat sekali di sekolah ketika ia dirisak akibat tubuhnya yang pendek. Namun, ia malahan berjaya di sekolah, dan didukung oleh ibunya yang ambisius, seorang “Ibu Macan”, ia selalu sukses di setiap pelajarannya. Ia akhirnya berhasil meraih gelar di bidang ilmu komputer, dan master di manajemen teknologi informasi. “Orang tua saya tidak berpendidikan tinggi,” kata Josie. “Mereka besar di Cina. Kala itu, mereka sangat miskin. Mereka hanya sekolah sampai tingkat SD.” “Maka sesudah datang ke Hong Kong, ibu saya sangat menekankan pada pendidikan, karena hanya itulah jalan menuju kehidupan yang lebih baik.” Ia menambahkan, “Di Hong Kong, sedikit sekali saya mengalami diskriminasi. Saya sangat beruntung bahwa guru-guru dan banyak orang lain selalu memperhatikan saya.” 'Selalu mencoba' Techpacker berpusat di Hong Kong dan mulai membuka kantor di New York. Aplikasi Techpacker dibuat untuk mempermudah para perancang busana untuk mengirimkan rincian cetak biru rancangan mereka, memuat segala spesifikasi dan ukuran yang rinci kepada pabrik. Aplikasi itu bertujuan untuk menghilangkan miskomunikasi yang biasanya terjadi pada perangkat lunak lain yang kini digunakan, serta mempersingkat waktu produksi yang dibutuhkan perusahaan pakaian untuk memproduksi sebuah rancangan. Josi mengatakan, “Ini sebuah kesempatan untuk mengerjakannya dengan cara berbeda, mungkin ini akan mengubah industri busana.” “Aplikasi ini menyediakan platform bagi perancang dan pabrik untuk bekerja sama.” Komunikasi perancang dengan pabrik diharapkan bisa berjalan lebih baik. “Ini memungkinkan para perancang untuk berkomunikasi dengan jelas kepada pihak pabrik, mengenai apa yang mereka inginkan. Maka pihak pabrik bisa memenuhi permintaan para perancang.” Tujuan utama Josie Tam adalah mengembangkan Techpaker ke industri manufaktur lain, yang ia sangat yakini peluangnya. “Jika ada sesuatu yang saya peduli, atau saya targetkan, saya akan mencoba segala macam cara untuk mencapainya,” katanya. “Karena saya sungguh percaya bahwa tak ada yang tak mungkin. Semua cuma masalah waktu dan keinginan belajar.” “Dulu saya pernah membaca sebuah artikel di majalah Fortune. Di situ dikatakan bahwa orang jenius itu sesungguhnya menggunakan 80% waktunya untuk berlatih, atau terus menerus melakukan hal yang sama.” “Itulah yang sangat saya percayai – selagi kita terus mencoba, kita akan sukses suatu hari nanti.”
  13. Timbunan sampah selalu menjadi masalah kota metropolitan manapun di dunia, termasuk di kota New York, AS. Setiap bulannya, kota ini mendaur ulang 20 ton sampah plastik, logam dan gelas. Reporter VOA Patsy Widakuswara mengajak anda mengunjungi fasilitas persampahan canggih di wilayah Brooklyn. VOA Indoensia: http://www.voaindonesia.com Ngobas: http://ngobas.com
  14. Guest

    Halal Bihalal New York - VOA

    Halal Bihalal di KJRI New York dihadiri diaspora Indonesia termasuk beberapa nama terkenal. VOA Indonesia: http://www.voaindonesia.com Ngobas: http://ngobas.com
  15. Tahun ini, Pemkot New York menetapkan Idul Fitri sebagai hari libur resmi. Di daerah Jamaica, Queens, shalat Idul Fitri dilakukan di sebuah lapangan, mirip suasana di Indonesia. Tahun ini sekitar 10.000 warga ikut shalat. VOA Indonesia: http://www.voaindonesia.com Ngobas: http://ngobas.com
  16. Taman bermain seks dari Museum of Sex di New York, AS membuat terkejut banyak wisatawan dengan menawarkan tempat bermain untuk orang dewasa. Tempat bermain bernama Funland ini bertemakan seksual, berbentuk rumah balon yang terlihat seperti payudara. Museum Seks di New York merupakan museum seks yang pailng terkenal di dunia. Museum ini berada di 233 Fifth Avenue, New York, AS dan sudah berdiri dari tahun 2002 silam. Museum Seks di New York kini punya ruang pameran baru yang berisi arena bermain. Tapi tentu saja, arena bermain di sana bukan arena bermain biasa melainkan bertema seks! Dillihat melalui situs resmi Museum of Sex, arena bermain yang diberi nama Funland sudah mencuri perhatian wisatawan. Ada lima wahana permainan yang disebut-sebut bisa memancing panca indra untuk berfantasi seks. Tapi, ada dua yang paling jadi pusat perhatian wisatawan yakni Jump of Joy dan Grope Mountain. Jump of Joy berupa bouncy alias rumah balon yang kalian bisa lompat-lompat di dalamnya. Namun, Jump of Joy ini adalah berbentuk payudara. Demi soal kemanan, jumlah pengunjung wisatawan yang mau bermain di Jum of Joy dibatasi hanya 6 orang saja. Lalu, para pengunjung wisatawan bisa bergantian setelahnya. Biasanya wisatawan yang masuk ke sini foto-foto dengan aneka gaya bebas ... Satu lagi adalah Grope Mountain. Wahana permainan ini seperti panjat tebing mini yang batu-batu pijakannya berbentuk alat kelamin. Baik alat kelamin pria, wanita dan ada juga yang berbentuk payudara. Tiket masuk ke dalam Museum of Sex cukup merogoh kocek kantong sebesar USD 17,5 (sekitar Rp 202 ribu). Arena bermain Funland buka sesuai jadwal jam buka museum, yakni Minggu sampai Kamis pada pukul 10.00-20.00 waktu setempat, dan Jumat sampai Sabtu pada pukul 10.00-21.00 waktu setempat. Pihak museum akan menjamin, wisatawan akan menjadikan pengalaman yang sangat mengesankan saat bermain di arena bermain Funland. Tapi ingat, turis yang boleh masuk ke museumnya dan bermain di sana harus 17 tahun ke atas yah
  17. Buffalo, sebuah kota di New York, menawarkan rumah-rumah kosong bagi yang berminat. Harganya hanya US$ 1 atau sekitar Rp 12 ribuan saja. Itu bagian dari program Urban Homesteading yang sudah digelar di kota itu selama empat dekade terakhir. Walaupun harganya hanya Rp 12 ribuan, tentu ada syarat dan ketentuannya. Dalam program itu, pembeli harus memperbaiki segala kerusakan yang ada di rumah itu selama 18 bulan dan tinggal di sana paling tidak selama tiga tahun. Sebagai imbal balik, pembeli cukup membayar pajak properti, asuransi, dan biaya tahunan lainnya senilai beberapa ratus dolar. Sedikitnya akan ada 10 pembeli yang cukup 'beruntung' membayar US$ 1 untuk sebuah rumah. Tapi rumah US$ 1 itu memang bukan rumah yang siap huni dan pembeli harus siap merogoh kocek lagi. Soalnya, rumah US$ 1 itu biasanya sudah lama ditinggalkan pemilik sebelumnya, bocor di sana-sini, rusak, dan terbengkalai. Biasanya satu kerusakan kecil merembet ke kerusakan lain. Sudah banyak pembeli rumah milik negara ini yang akhirnya menyerah. Tahun lalu ada 60 rumah yang akhirnya dihancurkan dan ada 90 rumah lagi yang termasuk dalam daftar tunggu untuk diratakan dengan tanah. Jadi, hanya sedikit rumah yang ditawarkan dalam program rumah US$ 1 itu. “Rumah itu benar-benar tak punya harga,” kata David Torke, seorang blogger dan fotografer yang membantu sejumlah pembeli untuk mendapatkan persetujuan pemerintah setempat. Tapi banyak juga cerita pembeli rumah US$ 1 yang sabar, meski harus merogoh kocek dalam-dalam. Mike Puma salah satunya. Mike Puma, pegawai di perusahaan perbaikan bangunan tua, saat ini sedang merenovasi sebuah bangunan bersejarah yang dia beli seharga US$ 1 pada tahun lalu. Banyak pipa rusak, tungku pemanas ruangan juga hancur, dan perlu dibangun dinding interior yang baru. Berapa duit yang harus dikeluarkan Puma untuk perbaikan itu? Ternyata Puma sudah menghabiskan US$ 40.000 atau sekitar Rp 500 juta. Puma memperhitungkan, sampai selesai setidaknya akan menghabiskan total US$ 55.000 atau sekitar Rp 687 juta lebih. Untuk plastik sampah saja Puma menghabiskan ratusan dolar. Lalu biaya pembuangan puing juga menghabiskan biaya sampai US$ 2.000 atau sekitar Rp 25 juta. Ongkos untuk perbaikan sistem pemanas dan penyejuk ruangan menghabiskan lebih dari US$ 15.000 atau Rp 187 juta. Perbaikan komponen struktur yang rusak akibat air mencapai US$ 6.000 atau sekitar Rp 75 juta. Untuk pembiayaan itu, Puma merogoh tabungan sebesar US$ 30 ribu atau sekitar Rp 375 juta dan pinjaman bank sebesar US$ 10.000 atau sekitar Rp 125 juta. Lantas apa untungnya? Puma memperkirakan dalam lima tahun ke depan uangnya akan kembali. Sebab, rumah itu bernilai puluhan ribu dolar karena termasuk bangunan bersejarah dan Puma bisa menyewakan lantai dua. Kisah lain diceritakan oleh Deyron Tabb, yang membeli rumah US$ 1 tak jauh dari rumah Puma pada empat tahun lalu. Dia kaget dengan cepatnya duit tabungan habis. Total dia menghabiskan US$ 78.000 atau sekitar Rp 975 juta. Tapi Tabb memetik hikmah saja dari pengeluaran itu. Pengalamannya merenovasi rumah sendiri memberikannya karier baru dan sebuah rumah yang cantik, sesuai dengan keinginannya.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy