Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'nasa'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 29 results

  1. NASA telah mengirim sampel sperma manusia dan banteng ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (International Space Station/ISS) untuk diteliti. Lembaga antariksa milik pemerintah Amerika Serikat ini ingin mengetahui potensi pembuahan yang mungkin terjadi pada mamalia saat berada di ruang hampa alias gravitasi nol. Misi pengiriman sperma beku yang dijuluki Micro-11 itu diterbangkan ke ISS menggunakan kapsul Dragon dengan dorongan roket Falcon 9 buatan SpaceX. Peluncuran berlangsung di Cape Canaveral Air Force, Florida, Amerika Serikat, dua minggu lalu. Setelah mencairkan sampel, astronot di ISS akan mengaktifkan sperma tersebut menggunakan ramuan kimia unik. Pergerakan sperma akan dimonitor dan difilmkan dengan saksama saat "berenang" dan menyatu dengan sel telur. Usai fase awal selesai, sampel akan dicampur dengan pengawet dan kemudian dikirim kembali ke Bumi, tempat eksperimen diselesaikan. "Berdasarkan percobaan sebelumnya, kurangnya gravitasi mampu mengurangi mobilitas sperma," kata Fathi Karouia, ilmuwan utama proyek Micro-11 NASA, seperti dikutip dari Space Daily, Kamis (12/4/2018). Salah satu eksperimen yang dinyatakan berhasil adalah ketika NASA membuktikan bahwa sperma tikus bisa bertahan hidup selama sembilan bulan di angkasa luar. Sperma itu kemudian dikembalikan ke Bumi dan digunakan untuk reproduksi tikus. "Penelitian ini sejalan dengan penyelidikan lain pada sampel organisme berbeda, yang telah menunjukkan bahwa mikrogravitasi memicu regenerasi sel," imbuh Karouia. Sperma banteng dipilih untuk penelitian ini karena pola gerakannya mirip dengan sperma manusia. Oleh karena itu, sperma banteng digunakan sebagai kontrol kualitas yang nantinya akan dibandingkan dengan sperma manusia. "Kami belum tahu bagaimana misi luar angkasa ini dapat memengaruhi kesehatan reproduktif manusia. Investigasi tersebut akan menjadi langkah awal untuk memahami reproduksi dalam gravitasi rendah," tulis NASA dalam sebuah pernyataan. Ini bukanlah kali pertama sel sperma dikirimkan ke angkasa luar. Sebelumnya pada 1988, Badan Antariksa Eropa (European Space Agency/ESA) pernah mengirimkan sperma banteng. Selain itu, NASA juga pernah mengirimkan sperma bulu babi. Sumber: https://id.crowdvoice.com/posts/nasa-kirim-sperma-manusia-ke-angkasa-luar-untuk-apa-2KtK
  2. Apakah itu pas manusia pertama berhasil mendaki puncak Everest? Pengembangan vaksin pertama kali? Penemuan teori radiasi elektromagnetik oleh James Maxwell? Deklarasi Hak Asasi Manusia pertama kali di AS? Penemuan benua Amerika oleh Columbus? Banyak ahli sejarah dan akademisi yang sepakat kalo pencapaian tertinggi yang pernah diraih oleh umat manusia adalah pendaratan manusia pertama kali di bulan oleh NASA. Nah, pas banget nih. Tanggal 20 Juli kemarin, kita memperingati 45th anniversary dari momen bersejarah itu. Pada masa itu, masih banyak orang yang memimpikan untuk mencapai puncak gunung Everest. Tiba-tiba saja, pada 20 Juli 1969 , seluruh dunia dikejutkan dengan pemberitaan bahwa National Aeronautics and Space Administration (NASA) berhasil mendaratkan manusia ke bulan melalui misi Apollo 11. Manusia itu adalah Neil Armstrong, astronot Amerika Serikat, bersama rekannya, Buzz Aldrin. Sebenarnya ada 1 astronot lagi sih yang ikut ke bulan, yaitu Michael Collins. Tapi doi stay di dalam pesawat karena punya peran tersendiri. Eitss.. Boleh aja sih skeptis tentang satu hal. Cuma skeptisisme itu juga harus didukung dengan research.Sampai saat ini, masih banyak masyarakat yang masih ragu akan keberhasilan NASA mendaratkan manusia di bulan. Dan bukan ga mungkin, lo, keluarga lo, guru-guru lo adalah salah satu dari orang-orang yang meragukan hal tersebut. Ya bisa dimaklumi juga sih. Bulan adalah tanah "asing" ratusan ribu kilometer dari Bumi yang tidak bisa dijangkau, hanya bisa kita lihat, menjadi bahan angan-angan. Nggak kebayang aja mungkin, kok bisa manusia bisa sampe berjalan di bulan?! Nah sekarang nih, gw mau berbagi insight dari hasil riset gw untuk mengulik bener nggak sih Neil Armstrong itu pernah mendarat di bulan. Banyak banget blog , artikel, dan website yang mengklaim bahwa pendaratan manusia di bulan adalah bohong. Tapi apakah klaim tersebut pantas meruntuhkan kalo Neil Armstrong tidak pernah mendarat di bulan? Seperti kata Carl Sagan, extraordinary claims require extraordinary evidence. Yuk, kita kupas satu per satu. 1. Bendera yang Berkibar Pernah lihat nggak, foto seperti di bawah ini? Ini adalah foto ketika Buzz Aldrin menancapkan bendera Amerika di permukaan Bulan. KATANYA: bendera pada foto ini terlihat berkibar-kibar. Ini bikin orang ragu sama pendaratan di Bulan karena nggak mungkin bendera bisa berkibar di Bulan. Kan Bulan nggak punya atmosfer, nggak ada udara, nggak ada angin! Kiri: Buzz Aldrin memberi hormat bendera setelah memancangkannya di bulan (tonjolan kecil di atas helmnya adalah jarinya) Kanan: Potret 6 detik setelah potret di atas. Aldrin telah menurunkan tangannya. Posisi bendara ga berubah. FAKTANYA: bendera itu bukan berkibar. Bendera itu kelihatan agak bergerak atau mengkerut karena dalam perjalanan ke bulan, benderan disimpan dilipat. Jadi pas dibuka, emang udah nggak rapi. Kalo lo lihat video di bawah, si astronot ada beberapa kali nancepin tiang benderanya. Nggak lurus-lurus, akhirnya terakhir baru berdiri tegak. Inersia membuat bendera masih agak bergerak. Terus, perhatikan, deh. Sisi atas bendera itu kaku. Itu karena tiang pancangnya berbentuk Г-shaped . Sengaja dipake tiang pancang bentuk begitu supaya ya benderanya bisa tegak. Kalo nggak pake tiang pancang berbentuk seperti itu, nggak bakal keliatan jelas motif benderanya. Namanya juga kain, buka papan reklame. Sulit lho, merentangkan kain di ruang hampa udara dan bergravitasi rendah, seperti bulan. 2. Kok Bisa Ada Jejak Kaki di Bulan? Berikutnya, ada klaim lain yang bilang kalo jejak kaki astronot di Bulan itu palsu. KATANYA: permukaan bulan itu kering. Tapi jejak kaki yang kecetak di bulan terlalu clear (jelas). Kayaknya cuma bisa bikin jejak kaki begitu di pasir basah deh. FAKTANYA: Bulan bukanlah tempat tanpa gravitasi. Gravitasi bulan = 1/6 gravitasi bumi. Debu Bulan, atau yang disebut regolith, adalah seperti bubuk yang digiling halus. Mirip debu vulkanik. Lo bisa coba sendiri kok. Gampang, pake aja bubuk bedak bayi atau tepung terigu. Kalo lo melangkah di atasnya, lo bisa dengan mudah meninggalkan jejak kaki yang jelas. Plus, bulan nggak punya atmosfer kan. Hampa udara. Jadi nggak ada angin deh yang mampu menyingkirkan jejak yang telah dibuat. 3. Nggak Ada Fotografer KATANYA: Cuma ada 2 astronot yang mendarat di bulan. Tapi, gimana ceritanya kedua astronot bisavisible (keliatan) di foto ini? satu yang difoto dan satu lagi yang tercermin di kaca helm astronot. Lhaterus siapa yang moto? FAKTANYA: kamera sudah ditanam di bagian dada baju para astronot. Di foto ini, lo bisa lihat kalo tangannya si Neil berada dekat dada. Jadi, dia nggak perlu jepret kamera mendekati matanya. Selain itu, ada beberapa foto lain yang diambil oleh modul pendaratan di bulan (Eagle) dan kamera melayang yang dikendalikan jarak jauh dari Bumi. NASA tahun 1965 sudah cukup canggih, Bro! 4. Kok Nggak Ada Bintang? KATANYA: ruang angkasa penuh dengan bintang. Tapi kok pada foto-foto dari bulan nggak kelihatan bintang sama sekali? Ah, ini pasti foto studio nih! FAKTANYA: Lo pernah denger ada yang namanya polusi cahaya, nggak? Kalo di kota besar, kita kan susahnih ngelihat bintang-bintang di langit. Beda ceritanya dengan di desa atau di tengah laut. Kenapa bisa gitu? Intinya, karena gemerlap lampu perkotaan menyulitkan kita untuk melihat cahaya bintang. Inilah mengapa teleskop umumnya diletakkan di puncak gunung buat menghindari polusi cahaya dari bumi. Dalam kasus ini, permukaan bulan yang memantulkan cahaya matahari itu menjadi polusi cahaya sehingga menutupi cahaya dari bintang yang jauh. Kalo lo belajar fotografi, para astronot motret petualangan mereka di bulan dengan settingan kamera eksposur cepat yang membuat cahaya yang masuk kecil. Mereka mengambil gambar pada eksposur 1/150 atau 1/250 detik. Kalo lo ga ngerti, coba tanya deh temen lo yang hobi fotografi. Justru aneh kalo di foto kelihatan bintang. Coba aja deh, lo moto temen lo pas malam hari dengan latar belakang bintang-bintang. Bintangnya nggak bakal kelihatan! Kecuali lo pake kamera dan teknik khusus buat capture bintang di background-nya. 5. Kok Nggak Ada Kawah Bekas Pendaratan Modul? Dari pesawat luar angkasanya, Neil Armstrong dan Buzz Aldrin turun ke bulan menggunakan modul pendaratan, bernama Eagle. KATANYA: mesin modul yang kuat seharusnya membuat bekas kawah yang dalam di permukaan bulan yang lembut. Tapi, seperti keliatan di foto ini, permukaan bulan di bawah modul masih terlihatsmooth. Seakan-akan mesin itu udah ditaruh sebagai properti studio, bukan seperti modul yang mendarat. FAKTANYA: mesin modul sudah diturunkan power dan kecepatannya tepat sebelum mendarat. Modulnya juga ga melayang (hover) cukup lama untuk membuat kawah atau menerbangkan banyak debu. Lapisan bulan itu tipis. Tapi, di bawahnya adalah batuan yang keras. Jadi, walaupun kaki astronot berbekas, kaki modul bulan tidak dapat mencapai kedalaman yang cukup untuk membuat kawah. 6. Banyak Sumber Cahaya, Seperti di Studio TV! KATANYA: beberapa bayangan pada foto ini tidak tampak paralel satu sama lain. Beberapa objek dalam bayangan malah terlihat jelas. Seolah-olah cahaya datang dari berbagai sumber, seperti lighting studio kamera. FAKTANYA: emang banyak sumber cahaya. Ada matahari, ada Bumi yang memantulkan cahaya, ada cahaya dari pantulan modul, baju astronot, dan permukaan bulan. Selain itu, para astronot sengaja mengambil potret mereka di daerah perbukitan supaya mendapatkan penerangan baik. Lo bisa coba sendiri kok. Berdiri di atas bukit di bawah sinar bulan purnama. Kontur permukaan yang naik turun menghasilkan banyak bayangan dengan panjang yang bervariasi. 7. Batuan Bulan Lebih Mirip Batuan Antartika KATANYA: batuan yang dibawa balik dari Bulan identik dengan batu yang dikumpulkan dari ekspedisi ilmiah ke Antartika. FAKTANYA: beberapa batuan Bulan memang ditemukan di Bumi. Tapi rata-rata udah hangus dan teroksidasi ketika melewati atmosfer bumi sebagai asteroid. Selama 45 tahun terakhir sejak hari bersejarah itu, banyak studi dan analisis lebih lanjut dari ahli geologi yang telah mengkonfirmasi dengan pasti bahwa batuan Apollo pastilah batu yang dibawa manusia dari Bulan. Nah, mungkin sampe di sini lo bakal mikir, dengan begitu banyaknya evidence dan rasionalitas di depan mata, kenapa masih banyak sih yang meragukan kalo Neil Armstrong mendarat di Bulan? Untuk menjawab keheranan ini, mau nggak mau, kita harus meriksa sejarah. Usaha pendaratan manusia di bulan oleh NASA dipicu oleh persaingan antariksa pada era Perang Dingin antara Amerika dan Uni Soviet. Pada masa Perang Dingin, ketegangan konflik kepentingan udah nggak dimanifestasikan dalam bentuk perang dan agresi militer. Pada masa Perang Dingin, khususnya kedua negara ini, mereka lebih adu pride. Uni Soviet sudah berhasil menempatkan manusia pertama di luar angkasa, Yuri Gagarin, pada 15 April 1961. Amerika Serikat mana? Itu juga mengapa, pada masa Perang Dingin inilah banyak banget roket atau pesawat luar angkasa yang diluncurkan dari Bumi. Teknologi penjelajahan antariksa gencar banget dimulai pada masa ini. Kalo NASA mengklaim mereka berhasil mendaratkan manusia pertama di Bulan, siapa yang pertama kali akan mengkritik? Ya, tentu saja Uni Soviet. Uni Soviet bisa bilang, “Ah itu kebohongan besar!” Uni Soviet bukan sembarang negara lho. Mereka punya teknologi setara NASA dan kepanjangan politik yang kuat. Sekarang Uni Soviet sudah runtuh. Tapi beberapa orang yang mungkin memiliki kepentingan ideologi sama dengan Uni Soviet dulu dan punya kapasitas untuk mengkritisi mengajukan beberapa kejanggalan. Tujuannya bisa jadi baik, menunjukkan orang awam gimana proses ilmiah itu terjadi. Seperti biasa, media dengan cepat segera menyebarkannya. Tersebarlah berita baru kalau pendaratan manusia di bulan adalah rekayasa NASA. Oiya, efek lain dari runtuhnya Uni Soviet adalah penjelajahan luar angkasa udah ga seheboh dulu karena udah nggak ada pride race lagi. NASA masih aktif melakukan eksplorasi, tapi lebih dominan didorongcuriosity.
  3. Beberapa hari lalu India dihebohkan oleh dugaan batu meteorit yang jatuh dari langit. Sebab, kejadian ini menewaskan satu orang. Badan Antariksa Amerika Serikat atau NASA pun angkat bicara. Objek yang diduga datang dari angkasa itu jatuh di dekat sebuah perguruan tinggi di kota Vellore, negara bagian Tamil Nadu, India, yamenyebabkan satu orang tewas yang merupakan sopir bus, tiga orang luka, dan kerusakan lain di sekitar tempat jatuhnya objek antariksa itu. Dampak dari ledakan objek misterius itu dilaporkan berupa kawah sedalam 1,5 meter dan lebar 61 sentimeter. Kepolisian setempat segera melakukan investigasi dan menemukan batu berwarna hitam di dekat kawah kecil tersebut. "Dengan mempertimbangkan sebelumnya tidak ada prediksi soal hujan meteor. Sudah pasti fenomena ini termasuk langka jika betulan meteorit," ujar ketua dekan kampus, G.C. Anupama. Badan antariksa asal Amerika Serikat, NASA turut menanggapi peristiwa ini. NASA berujar, foto dampak ledakan yang tersebar online tersebut sebetulnya lebih kepada "ledakan yang terjadi di daratan" ketimbang berasal dari objek antariksa. Staf divisi penelitian planet di NASA Lindley Johnson mengatakan dalam sebuah pernyataan email, kematian yang disebabkan oleh batu meteorit sangat jarang dan sejauh ini belum pernah tercatat secara ilmiah dalam sejarah. "Sebelum kejadian asteroid Chelyabinsk di Rusia 3 tahun lalu, kejadian seperti ini tentunya sangat langka," begitu ungkap Lindley, mengutip situs National Post. Diketahui asteroid Chelyabinsk yang menghantam langit Rusia pada 2013 lalu memiliki ukuran diameter 'hanya' 20 meter dan menghasilkan hampir 30 kali lebih kuat dari serangan bom atom Hirosima Nagasaki di Jepang. Sementara objek misterius di India itu beratnya hanya beberapa gram saja dan bentuknya kemudian diyakini sebagai pecahan batuan normal di Bumi. Meteor dan meteorit sendiri merupakan dua istilah yang berbeda. Seperti dijelaskan oleh Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin, meteor adalah batuan antariksa yang menyerupai bola api nan bercahaya, di mana ia akan terbakar jika masuk ke atmosfer Bumi. Nah, sisa-sisa dari pembakaran meteor ini dinamakan meteorit. Oleh karena itu, meteorit memang biasanya masih berbentuk batu-batu kecil. Namun sangat mungkin juga ukurannya masif yang mencapai belasan meter apabila si meteornya juga raksasa. Ia bahkan menambahkan, secara tafsiran setiap harinya 25 ribu ton batuan antariksa masuk ke Bumi, termasuk meteor. Jika ukurannya kecil maka besar kemungkinan saat ia terbakar di atmosfer Bumi, maka tidak akan menyisakan puing atau meteorit.
  4. Dengan mengenal sejarah dan biografi NASA, kita bisa belajar mengenai kehidupan luar angkasa yang selama ini masih menjadi sebuah misteri bagi manusia. NASA atau National Aeronautics and Space Administration, merupakan sebuah lembaga penelitian luar angkasa. Lembaga ini berdiri pada 10 Oktober 1958, dan diprakarsai oleh presiden Eisenhower. NASA merupakan lembaga resmi pemerintah Amerika Serikat. Tugasnya adalah bertanggung jawab untuk setiap program angkasa Amerika Serikat dan melakukan penelitian luar angkasa umum untuk masa yang akan datang. Sejarah NASA Sebelum dibentuk NASA, para astronom Amerika serikat sudah melakukan penelitian mengenai luar angkasa sejak ratusan tahun sebelumnya. Hal ini menjadikan Amerika Serikat sebagai salah satu negara yang menyumbangkan ilmu pengetahuan terbanyak di bidang ilmu pengetahuan. Banyak penemuan penting yang dilakukan para peneliti di Amerika. Salah satunya adalah penemuan di tahun 1929, ketika seorang astronom Amerika, Edwin Hubble melakukan penelitian di observatorium Mount Wilson California. Dalam penelitiannya, Hubble menemukan bahwa bintang –bintang yang ada di angkasa, memancarkan cahaya merah sesuai dengan jaraknya. Hal ini menunjukkan bahwa bintang-bintang tersebut bergerak menjauh dari bumi. Hal ini sesuai dengan hukum fisika, yang membahas mengenai spektrum cahaya. Dimana apabila sumber cahaya bergerak mendekat, maka warnanya akan cenderung ungu. Sebaliknya, jika sumber cahaya menjauh, maka warna akan berubah merah. Hal ini sesuai dengan warna spektrum cahaya pada bintang yang diamati Hubble yang cenderung semakin berwarna merah. Artinya, bintang tersebut bergerak semakin jauh dari titik pengamatan. Tanggal 17 Juli 1969, menjadi catatan sejarah besar saat Neil Amstrong dan Edwin Aldrin mampu mendarat di bulan. Mereka mendarat di bulan dengan menggunakan pesawat Apollo 11. Setelah pendaratan ini, berlanjut dengan kisah pendaratan lain dengan menggunakan Apollo 12 hingga 17. Pada salah satu misi, tepatnya saat pesawat Apollo 13 diluncurkan, terjadi kegagalan yang diwarnai ledakan pada salah satu modul pesawat. Namun, meski gagal mendarat di bulan, para awak pesawat ini berhasil diselamatkan dan kembali ke bumi. Temuan penting yang berhasil dicatat oleh NASA adalah ketika mengetahui rahasia gas galaksi Bima Sakti yang sangat berkilau, bintang berkelip-kelip serta pijar galaksi yang sangat jauh. NASA juga berhasil menciptakan metalangit pertama dengan menggunakan Fermi Gamma-ray Space Telescope, yang sebelumnya disebut dengan GLAST. Teleskop ini menggunakan dua instrumen canggih yang bertujuan mampu memberikan informasi kepada para ilmuwan untuk mengetahui misteri sinar gamma kosmis. Gambar peta bintang merupakan hasil penelitian pertama yang menggunakan teleskop tersebut. Proses observasi ini dilakukan selama 95 jam, dengan memperlihatkan potensi ilmiah dari teleskop tersebut. Hal ini tentu jauh lebih efektif, apalagi jika dibandingkan dengan penggunaan observatorium sinar gamma milik NASA yang lama, yaitu Compton. Dengan menggunakan Compton, hasil penelitian dan pemetaan yang sama akan memerlukan waktu hingga bertahun-tahun. Sementara dengan menggunakan teleskop Fermi, langit bisa dipindai setiap tiga jam. Dengan demikian, setiap perubahan yang terjadi di langit akan bisa diketahui secara cepat. Pada teleskop yang memiliki berat hingga 4,3 ton ini, dilengkapi perangkat untuk memantau sinar gamma, bentuk energi tertinggi yang berasal dari sumber kosmis. Diharapkan melalui pemantauan tersebut bisa didapatkan informasi mengenai beberapa peristiwa besar. contohnya adalah mengenai formasi lubang hitam yang masih menjadi misteri hingga sekarang ini. Teleskop Fermi juga mampu memberikan petunjuk mengenai keanehan neutron bintang yang memiliki magnet atau pulsar. Dengan mempelajari foton atau partikel subatomik dialam lainnya, teleskop ini bisa mengungkap misteri materi gelap. Dimana materi gelap tersebut mencakup 25 perseni massa di alam semesta yang tidak bisa ditangkap oleh indra penglihatan biasa. Dan jumlah materi massa yang tidak terlihat itu, jumlah jauh lebih besar daripada materi yang bisa terlihat yang hanya mencapai 5 persen saja. sisanya, sebanyak 70 persen dikenal dengan energi gelap.
  5. Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengklaim objek tak terjelaskan yang mengorbit di bintang jauh itu sebenarnya adalah segerombolan komet. Penjelasan ini menepis tentang pengamatan pengamatan astronomi misterius yang menunjukkan adanya “megastruktur alien”. Pakar astromoni telah melatih NASA Spitzer Space Telescope di KIC 8462852 atau juga dikenal dengan Tabby Star yang telah membingungkan ilmuwan sejak mereka melihat cahaya redup secara dramatis tidak pernah dilihat sebelumnya. Pengamatan ini mendorong sebagian kalangan mengusulkan struktur besar yang disebut Dyson Sphere telah terjadi di sekitar Matahari untuk memanfaatkan energi. Akan tetapi, NASA kini mengklaim peredupan mungkin hanya disebabkan bintang yang mengorbit Tabby Star. NASA sendiri tidak yakin bila ini benar-benar terjadi dan berencana membuat pengamatan lebih dalam. “Kami mungkin belum tahu apa yang terjadi di sekitar bintang ini,” kata Massimo Marengo dari Iowa State University. “Tetapi, itulah yang membuatnya begitu menarik,” tambahnya. Astronom Jason Wright dari Penn State University mengungkapkan bahwa objek misterius itu sebenarnya adalah megastruktur alien yang dirancang untuk memanfaatkan energi dari bintang. Dia mengatakan, “Alien harus selalu manjadi hipotesis terakhir pertimbangkan Anda.” Tabby Star berjarak sekira 1.480 tahun cahaya dari Bumi yang berarti manusia tidak akan bertemu penghuni dari tempat jauh itu dalam waktu dekat. Awal bulan ini, top astronom di luar Bumi menolak untuk mengesampinkan posibility bahwa megastruktur alien teresebut mengorbit Tabby Star ini. Sementara Seth Shostak, direktur Search for Extraterrestrial Intelligence (SETI) Institute, mengungkapkan bahwa timnya tidak bisa menyangkal teori struktur buatan besar yang menyebabkan pola cahaya misterius terlihat di sekitar bintang yang jauh.
  6. Ingin atau pernah bercita-cita jadi astronot? NASA kabarnya akan merekrut astronot baru, yang nantinya akan dikirim untuk misi luar angkasa. Merilis pengumumannya pada Rabu (4/11/2015), agen luar angkasa AS itu mengatakan akan menerima lamaran untuk kandidat astronot mulai bulan depan. Periode penerimaan lamaran akan dibuka mulai 14 Desember 2015 mendatang, hingga pertengahan Februari 2016. Kandidat terpilih akan diumumkan sekitar pertengahan 2017. Dikutip dari Huffington Post, kandidat terpilih tersebut akan mendapat kesempatan untuk diterbangkan ke stasiun luar angkasa ISS atau, bahkan, ke Mars. Namun, sebelumnya mereka harus menjalani kelas pelatihan yang akan berlangsung selama dua tahun. "Kelompok penerus penjelajah luar angkasa AS ini nantinya akan menginspirasi kelompok penjelajah Mars dan membantu mewujudkan misi penjelajahan di planet merah itu," ucap kepala NASA, Charles Bolden. Menjadi seorang yang akan dikirim ke luar angkasa tentu bukanlah sembarang orang. Calon kandidat paling tidak memiliki gelar doktor di bidang teknik, biologi, fisika, atau matematika, serta tiga tahun pengalaman kerja yang berhubungan. "Astronot-astronot generasi baru nantinya akan meluncur dari Florida, menggunakan pesawat AS, dan melakukan misi penjelajahan di luar angkasa yang akan mendukung misi penjelajahan Mars," sebut NASA dalam pernyataannya. Soal gaji, dikatakan seorang astronot NASA biasanya menghasilkan sekitar Rp 72 juta hingga Rp 180 juta. Lowongannya bisa dilihat di laman lowongan PNS AS, yaitu di http://www.usajobs.gov.
  7. Sebuah video mengejutkan sekaligus menakjubkan dirilis oleh NASA, sebuah studio visualisasi ilmiah yang menggambarkan keadaan bumi jika dilihat dari luar angkasa. Dengan menggunakan data yang real, volume awan yang diberi stimulasi ini menjelaskan keadaan yang terjadi di bumi selama tujuh hari pada tahun 2005. Tentu saja hasil videonya sangat menarik untuk disimak, karena dari hasil video yang mereka buat, kita dapat melihat bahwa sebetulnya bumi tidak hanya terdiri dari benda padat dan mati saja, namun juga terdiri dari banyak makhluk hidup. Tak heran jika dalam video ini tampak bumi bernapas, bergerak, dan hampir menyerupai makhluk hidup yang memiliki entitas hidup. Kamu akan tercengang melihat video ini. Selamat menikmati.
  8. Misi Van Allen Probe dari NASA telah menemukan sabuk radiasi ketiga di seputar bumi yang sebelumnya tak pernah diketahui keberadaanya, mengungkap akan adanya struktur dan proses yang tak terduga dalam wilayah berbahaya ruang angkasa tersebut. Observasi sabuk Van Allen sebelumnya telah cukup lama mendokumentasikan dua wilayah berbeda dari radiasi yang terperangkap di sekitar planet kita. Instrumen pendeteksi partikel yang ditempatkan pada pasangan kembar Van Allen Probe dengan segera menyadarkan para ilmuwan akan keberadaan sabuk radiasi ketiga. Sabuk yang ditemukan pada tahun 1958 dan dinamai berdasarkan nama penemunya, James Van Allen, merupakan wilayah kritis bagi masyarakat modern yang bergantung pada berbagai teknologi berbasis ruang angkasa. Sabuk Van Allen dipengaruhi oleh badai matahari dan cuaca ruang angkasa, efeknya dapat melebar secara dramatis. Andai itu terjadi, tentunya akan menimbulkan bahaya bagi satelit komunikasi dan GPS, terutama bagi manusia yang berada di ruang angkasa. Dua petak raksasa radiasi, dikenal sebagai Sabuk Van Allen, yang berada di seputar bumi ditemukan pada tahun 1958. Di tahun 2012, observasi dari Probe Van Allen menunjukkan bahwa sabuk ketiga terkadang bisa muncul. Radiasi ditampilkan di sini dalam warna kuning, dengan hijau mewakili ruang di antara sabuk. “Kemampuan dan kemajuan baru teknologi yang fantantis pada Probe Van Allen memungkinkan para ilmuwan memantau rincian yang belum pernah terjadi sebelumnya tentang bagaimana sabuk radiasi dipenuhi partikel bermuatan, sekaligus memberi wawasan tentang apa yang menyebabkan sabuk bisa berubah, serta bagaimana berbagai proses mempengaruhi permukaan bagian atas atmosfer bumi,” jelas John Grunsfeld, administrator asosiasi NASA untuk ilmu pengetahuan di Washington. Temuan ini menunjukkan sifat sabuk radiasi yang dinamis dan bervariabel, menambah pemahaman kita tentang bagaimana sabuk-sabuk tersebut merespon aktivitas matahari. Temuan yang dipublikasikan pada 28 Februari dalam jurnal Science ini merupakan hasil dari data yang dikumpulkan misi dual-pesawat ruang angkasa pertama yang terbang melewati sabuk radiasi planet kita setelah peluncurannya pada 30 Agustus 2012. Pengamatan beresolusi tinggi dari instrumen Relativistic Electron Proton Telescope (REPT), bagian dari Energetic Particle, Composition, and Thermal Plasma Suite (ECT) yang terpasang pada kedua Probe Van Allen, mengungkap adanya tiga struktur sabuk yang berbeda dengan hadirnya wilayah, atau ruang, yang kosong di tengah-tengahnya. “Ini adalah pertama kalinya intrumen beresolusi tinggi kami melihat waktu, ruang dan energi secara bersamaan pada sabuk bagian luar,” ungkap Daniel Baker, penulis utama studi yang memimpin pengoperasian instrumen REPT di Laboratory for Atmospheric and Space Physics (LASP), University of Colorado, Boulder, “Observasi sabuk radiasi bagian luar sebelumnya hanya mengungkap satu elemen tunggal yang buram. Saat kami mengaktifkan REPT selang dua hari setelah peluncuran, peristiwa akselerasi elektron yang kuat sudah berlangsung, dan kami secara jelas menyaksikan sabuk dan slot baru di antara peristiwa akselerasi dan sabuk bagian luar.” Para ilmuwan mengamati sabuk ketiga selama empat minggu sebelum gelombang kejut yang kuat dari matahari memusnahkannya. Pengamatan dilakukan oleh para ilmuwan dari berbagai institusi, yakni LASP; NASA Goddard Space Flight Center di Greenbelt, Md; Los Alamos National Laboratory di Los Alamos, NM; dan Institute for the Study of Earth, Oceans, and Space University of New Hampshire di Durham. Pada 31 Agustus 2012, sebuah tonjolan raksasa di matahari meletus, menghantar partikel dan gelombang kejut hingga mencapai dekat Bumi. Peristiwa ini mungkin menjadi salah satu penyebab munculnya sabuk radiasi ketiga di sekitar bumi setelah beberapa hari kemudian, sebuah fenomena yang teramati untuk pertama kalinya oleh Van Allen Probe yang baru diluncurkan. Gambar tonjolan sebelum meletus ini ditangkap oleh Solar Dynamics Observatory (SDO) NASA. Masing-masing Van Allen Probe membawa seperangkat lima instrumen yang sama, memungkinkan para ilmuwan mengumpulkan data tentang rincian sabuk yang belum pernah terjadi sebelumnya. Data ini penting untuk dapat mempelajari efek cuaca ruang angkasa di bumi, termasuk proses-proses fisik fundamental yang teramati di sekitar objek lainnya, seperti planet-planet dalam tata surya kita dan nebula yang berjarak jauh. “Bahkan setelah 55 tahun sejak penemuannya, sabuk radiasi bumi masih mampu mengejutkan kami dan masih menyimpan misteri untuk ditemukan dan diselidiki,” kata Nicky Fox, wakil untuk proyek Van Allen Probe di Applied Physics Laboratory, Laurel Johns Hopkins University, Md, “Kita mengira sudah cukup tahu tentang sabuk radiasi, tapi ternyata tidak. Kemajuan dalam teknologi dan deteksi dari NASA dalam misi ini sudah dengan segera nyaris berdampak pada ilmu pengetahuan dasar.” Van Allen Probe merupakan misi kedua dalam Living With a Star Program NASA untuk mengeksplorasi aspek-aspek dari sistem terhubung matahari-bumi yang secara langsung berdampak bagi kehidupan dan masyarakat
  9. Pesawat militer antariksa X-37B yang dikembangkan Angkatan Udara AS dan Boeing. Angkatan Udara Amerika Serikat menerbangkan pesawat antariksanya, X-37B ke orbit Bumi pada Kamis (20/5) yang menandai misi keempat peluncuran kendaraan robot tanpa awak itu. Pesawat X-37B diluncurkan di atas sebuah roket United Launch Alliance Atlas V dari fasilitas peluncuran pesawat antariksa angkatan udara AS di Florida. Sebagian besar informasi tujuan peluncuran tidak diungkap, sehingga tidak jelas apa sebenarnya misi utama X-37B. Tidak ada informasi soal seberapa tinggi pesawat itu akan terbang, mengorbit, dan lama waktunya di angkasa. Angkatan Udara AS mengatakan misi keempat yang disebut Orbital Test Vehicle-4 (OTV-4) berkonsentrasi pada kemampuan mengorbit pesawat itu sendiri. "Kami sangat antusias dengan misi X-37B keempat kami," ujar Randy Walden, Direktur Kapabilitas Angkatan Udara AS, seperti dikutip dari Space.com. "Dengan keberhasilan dari tiga misi sebelumnya, kami dapat mengalihkan fokus dari pemeriksaan awal kendaraan untuk pengujian muatan eksperimental." Dalam misi ini, X-37B membawa panel surya LightSail yang kembangkan oleh organisasi nirlaba Planetary Society. LightSail bertujuan membuktikan teknologi kuncu panel surya berlayar untuk memenuhi kebutuhan proyek-proyek antariksa di masa depan. Pesawat militer X-37B dibangun oleh divisi Phantom Works di perusahaan Boeing. Setiap pesawat memiliki panjang dan lebar 8,8 meter x 2,9 meter dengan lebar sayap 4,6 meter. Kerahasiaan seputar misi X-37B telah menciptakan spekulasi bahwa pesawat militer ini mampu melumpuhkan satelit milik negara lain. Namun, menurut laporanSpace.com, pejabat Angkatan Udara telah membantah spekulasi itu dan hanya menguji teknologi keantariksaan di masa depan. Para pejabat tidak mengatakan berapa banyak X-37B akan melakukan uji coba. Sebelumnya, uji coba X-37B yang disebut OTV-1 diluncurkan pada April 2010 dan mendarat di Bumi pada Desember tahun yang sama, menghabiskan 225 hari di antariksa. OTV-2 diluncurkan Maret 2011 dan tinggal di orbit selama 469 hari. OTV-3 lepas landas pada Desember 2011 untuk mengorbit selama 675 hari dan akhirnya kembali ke Bumi. Pesawat ini mencatat rekor kendaraan antariksa yang dapat dipakai kembali.
  10. Piring terbang NASA alias Low-Density Supersonic Decelerator. Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) melakukan uji coba kedua untuk pesawat ruang angkasa yang bentuknya seperti piring terbang. Pesawat itu dipersiapkan untuk misi ke Planet Mars Pada pengujian yang digelar pada Rabu (3/6) waktu setempat itu, ‘Piring Terbang’ NASA yang dinamai Low-Density Supersonic Decelerator (LDSD) itu diterbangkan dari sebuah pangkalan militer di Pulau Kauai, Hawaii. Sebuah balon akan membawa pesawat berbobot sekitar 3 ton itu ke lapisan stratosfer di atmosfer atau ke ketinggian 120 ribu kaki. Perjalanan itu diperkirakan akan memakan waktu sekitar dua jam. Setelah itu pesawat berdiameter 4,5 meter itu akan dilepaskan dan motor roketnya dinyalakan. Lantas roket itu akan mendorong si pesawat dengan kecepatan supersonik sejauh 34 mil di luar permukaan Bumi. Nah, ketika pesawat kembali ke Bumi, sebuah tabung, dinamai Supersonic Inflatable Aerodynamic Decelerator akan dipompa di seluruh tubuhnya. Ini akan mengurangi kecepatan pesawat dari Mach 4, empat kali kecepatan suara ke kecepatan yang lebih lambat. Kemudian, roket dinyalakan untuk menstabiltkan posisi pesawat. Salah satu pengujian penting pada uji coba itu adalah penggunaan parasut supersonik raksasa yang didesain untuk memperlambat jatuhnya pesawat di permukaan. Pihak Jet Propulsion Laboratory NASA (JPL) menyatakan, “Rencana NASA dalam menciptakan misi robotik ambisius untuk Mars menunjukan bahwa ekspedisi manusia menyambangi planet merah adalah hal tak mudah." Mengutip laporan situs TIME, pihak JPL NASA juga beranggapan, pesawat antariksa tersebut harus memiliki kemampuan pendaratan yang sempurna di permukaan Mars, apalagi sebagai akomodasi awak manusia yang akan mengunjungi planet merah itu. NASA tentu saja mempunyai alasan mengapa membuat pesawat seperti piring terbang. Menurut mereka, atmosfer Mars yang lebih tipis dari Bumi, akan berpengaruh pada kecepatan bila beban dibawa cukup berat. Dengan muatan yang superberat tentu saja kecepatan akan mempengaruhi pendaratan misi ke Mars, sehingga dalam perjalannya bisa berpotensi menabrak permukaan planet. Uji coba pesawat LDSD pertama kali dilakukan pada Juni 2014 lalu dan NASA sudah melaksanakan uji coba empat rotor kecil pada 31 Maret 2015 kemarin, yang gunanya sebagai menstabilkan pendaratan di Mars.
  11. Pesawat Luar Angkasa Kepler Teleskop Kepler yang diluncurkan oleh Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), terus memotret foto atau gambar di dalam atau luar tata surya. Sekaligus mencari planet yang mirip dengan Bumi. Saat diluncurkan enam tahun yang lalu atau tepatnya 6 Maret 2009, telekop Kepler datang lebih banyak memindai citra gambar galaksi di tata surya, namun belakangan NASA tertarik mencari planet di luar tata surya (exoplanet) yang masuk kategori 'layak huni'. Kategori pendekatan exoplanet ini adalah memiliki atmosfer yang menghasilkan air dan pada akhirnya mampu menjalankan kehidupan organisme. Dalam enam tahun menjalankan tugasnya, teleskop Kepler sejauh ini sudah mampu menemukan setidaknya lebih dari 1.000 exoplanet yang layak huni. Namun demikian, NASA tentu perlu melakukan penjelajahan lebih jauh dan mendalam mengenai hasil temuannya ini serta kemungkinan exoplanet tersebut bisa dihuni oleh manusia di masa depan. Teleskop Kepler sendiri sudah mengorbit dua kali Kepler dan K2. Salah satu kelebihan yang ada di teleskop ini, sensor cahaya kuat mondo yang digunakan untuk menemukan lokasi planet seukuran Bumi yang mungkin masuk kategori di zona layak huni.
  12. Hampir tiga tahun sejak robot mobil penjelajah milik NASA alias NASA Curiosity melakukan investigasinya di Mars. Selama itu pula robot mobil hanya mampu menemukan bongkahan batu-batuan tak berarti, dan NASA akhirnya dilaporkan menemukan bukti kongkret keberadaan air di Planet Merah. Ditemukannya bukti keberadaan air tentunya turut menguatkan bukti adanya kehidupan di luar Bumi, yakni di Mars. Meski tak menemukan wujud air yang nyata seperti sungai atau lautan, NASA dilaporkan menemukan material benda cair yang membeku dalam bentuk permafrost. Satu hal menarik lainnya, lembaga antariksa Amerika Serikat itu juga mendapatkan temuan terbaru tentang tanah di Mars yang basah dengan air garam cair. Pada dasarnya, air garam yang ditemukan di Planet Merah itu merupakan H2O yang sebenarnya tidak mungkin dapat eksis di tanah Mars karena dinginnya suhu di sana. Meski air yang ditemukan di Mars disebut-sebut dapat membuktikan kehidupan mahluk asing di sana, namun ilmuwan masih ragu dengan hal tersebut. Itu dikarenakan melihat kondisi lingkungan Mars yang sangat asin tak memungkinkan makhluk apapun untuk hidup. Ditambah lagi, tingginya tingkat radiasi dan udara yang sangat dingin yang mampu menyebabkan pembekuan pembuluh darah. Meski kemungkinan sangat kecil mahluk hidup dapat bertahan di Mars, tak menutup kemungkinan tentang adanya kehidupan lain di Planet Merah. Ada sebagian tumbuhan di Bumi bernama halophiles yang ternyata dapat hidup dalam kondisi lingkungan yang sama asin dengan Mars. Meski makhluk itu juga tak dapat menahan radiasi dan musim dingin berkepanjangan, tetap ada kemungkinan makhluk hidup untuk tinggal di Planet Merah.
  13. National Aeronautics and Space Administration (NASA) dikabarkan tengah merancang misi mengirimkan pesawat antariksa mendekat ke Matahari. Misi ini diklaim akan menjadi jarak terdekat dengan sang surya yang sebelumnya belum pernah dilakukan oleh wahana antariksa manapun. Badan antariksa Amerika Serikat itu akan menerbangkan pesawat bernama Solar Probe Plus ke atmosfer atas Matahari yang jaraknya sekitar 6,4 juta kilometer dari permukaan Matahari. Selama Solar Probe Plus melewati jarak terdekat dengan Matahari, suhu luar pesawat antariksa ini diperkirakan akan mencapai sekitar 1.371 derajat Celsius. Karenanya, untuk pesawat seukuran mobil ini akan dilindungi oleh perisai setebal 4,5 inci terbuat dari perpaduan karbon. Solar Probe Plus bakal membawa empat instrumen ke korona Matahari untuk memelajari angin surya, plasma, medan magnet, serta partikel berenergi seiring mereka meletus dari permukaan Matahari. Instrumen Solar Probe Plus juga akan bertugas memberikan gambar terkait angin surya. Para peneliti sejak lama memang ingin mengirim wahana antariksa ke atmosfer luar Matahari untuk lebih memahami angin surya dan material yang dibawa ke sistem tata surya. Maka, tujuan ilmiah utama dari misi ini adalah untuk mengikuti arus energi serta mencari tahu mekanisme fisik yang mempercepat angin surya dan partikel berenergi tinggi. Area yang akan dijelajahi Solar Probe Plus diklaim belum pernah disambangi oleh pesawat antariksa manapun. Pesawat ini juga sudah mendapat sertifikat Critical Design Review (CDR) jika menilik dari rancangan pesawatnya yang dianggap sangat canggih. Rencananya Solar Probe Plus akan diluncurkan pada Juli 2018 bersamaan roket United Launch Alliance Delta 4-Heavy dari Cape Canaveral, Florida, AS.
  14. Badan antariksa Amerika Serikat, National Aeronautics and Space Administration (NASA) ingin menaikkan anggaran belanja tahun 2016 sebesar 50 persen untuk membantu dua perusahaan mitranya, Boeing dan Space Exploration Technologies (SpaceX), mengembangkan taksi antariksa sebagai transportasi menuju Stasiun Ruang Angkasa Internasional (ISS). Kantor berita Reuters mengabarkan, hal itu menjadi bagian dari ajuan Presiden Barack Obama untuk mendorong anggaran NASA pada tahun fiskal yang dimulai pada 1 Oktober mendatang, yakni sebesar US$ 18,5 miliar atau setara dengan Rp 233 triliun. Jumlah anggaran tersebut sudah termasuk peningkatan biaya pengembangan taksi antariksa yang akan dikerjakan oleh Boeing dan SpaceX, yaitu US$ 1,24 miliar atau sekitar Rp 15,6 triliun. Kongres sudah memberikan US$ 805 juta untuk program Commercial Crew yang berakhir pada 30 September ini. Namun, menurut staf keuangan NASA, David Radzanowski, pihak Gedung Putih menginginkan tambahan uang agar Boeing dan SpaceX bisa mengerjakan taksi antariksa dan NASA tak lagi 'nebeng' dengan badan antariksa Rusia, Roscosmos sebelum akhir 2017. Jika kongres tak menambahkan dana US$ 1,24 miliar itu, NASA tak akan bisa membiayai pengembangan SpaceX dan Boeing. "Akibatnya, kita tak akan mampu mengesahkan pengembangan layanan itu di akhir 2017," kata Radzanowski. Pada September 2014, NASA menandatangani kontrak senilai US$ 4,2 miliar untuk Boeing dan US$ 2,6 miliar untuk perusahaan perakit wahana antariksa SpaceX. Kerja sama ini bertujuan membangun taksi antariksa supaya bisa terbangkan awak NASA ke stasiun ruang angkasa internasional (ISS) secara mandiri. Pengelola program NASA mengatakan bahwa nantinya NASA harus bisa menghemat lebih dari US$ 12 juta atau setara Rp 150 miliar untuk transportasi komersial luar angkasa para astronaut, ketimbang menebeng layanan Roscosmos yang memakan biaya lebih dari US$ 70 juta per orang, atau sekitar Rp 873 miliar.
  15. Film Gravity baru saja sukses menyabet 7 penghargaan Piala Oscar. Film yang sepanjang pemutarannya dilakukan dengan setting background luar angkasa ini dibintangi oleh Sandra Bullock. Tapi tahukah sobat Ngonoo sekalian, bahwa NASA telah mengeluarkan foto luar angkasa asli milik mereka yang menginspirasi sejumlah adegan film Gravity? Seperti apa sih foto asli luar angkasa yang direlease NASA ini? yuk kita simak! 1. Foto yang di atas, adalah foto yang diambil NASA pada tanggal 19 Juli tahun 2011. Foto siluet planet bumi tersebut diambil dari International Space Station di luar angkasa. Pada tanggal 20 Juli, pesawat luar angkasa Atlantis yang berada di foto tersebut melakukan perjalanan pulang ke bumi untuk mengakhiri program “NASA’s 30-years Shuttle Space”. 2. Sedangkan foto dibawah ini, diambil oleh awak kapal STS-129 (Space Shuttle Atlantis), yang merupakan foto dari matahari terbit di atas bumi dan menerangi sebagian dari Stasiun Luar Angkasa milik Russia. 3. Foto berikut adalah foto dari Astronot Steven L. Smith yang sedang mengambil peralatan di luar angkasa sambil berdiri pada penahan kaki yang terletak di ujung sistem manipulator jarak jauh (Remote Manipulator System / RMS) 4. Foto nomer empat, adalah foto lampu dari negara Spanyol dan Portugal di sekitar semenanjung Iberian. Foto ini diambil dari Stasiun Internasional Luar Angkasa. Foto ini diambil oleh kru dari Ekspedisi 30 pada tanggal 4 Desember 2011. 5. Foto selanjutnya adalah foto dari dalam Cupola di Stasiun Internasional Luar Angkasa, seorang astronot NASA Chris Cassidy menggunakan kamera dengan lensa 400mm untuk menangkap momen dari planet Bumi yang ada di bawahnya. Mirip sekali dengan sebuah adegan dari film Gravity di mana Sandra Bullock melepaskan baju luar angkasanya dan bermondar mandir di dalam Cupola tersebut. 6. ini adalah foto siluet horizon bumi dan matahari yang ditangkap oleh kamera salah satu kru Pesawat Luar Angkasa Atlantis (STS-129) ketika Atlantis sedang diem dan mangkal di Stasiun Internasional Luar Angkasa. 7. Terakhir, ini adalah foto asli NASA tentang penyelamatan kru dari Ekspedisi 29 keluar dari pesawat luar angkasa Soyuz TMA-02M yang dilakukan oleh personel bantuan dari Russia. Foto ini diambil ketika para kru Ekspedisi 29 yang terdiri dari Astronaut NASA Mike Fossum, Cosmonaut Russia Sergei Volkov, dan JAXA (Japanese Aerospace Exploration Agency) Astronaut Satoshi Furukawa mendarat di daerah terpencil sekitar kota Arkalyk, Kazakhstan, tanggal 22 November 2011. Gimana, jadi pada inget film Gravity kan? foto-foto asli NASA yang Ngonoo cantumkan di atas adalah lisensinya asli milik NASA dan memang disebar luaskan untuk digunakan umum. Kalau mau lihat foto-fotonya dengan resolusi yang lebih besar, sobat Ngonoo bisa langsung cek di account flickr yang merelease foto-foto resmi NASA tersebut di http://www.flickr.com/photos/gsfc/sets/72157641720644305/
  16. Jaket Buatan NASA Mampu Turunkan Berat Badan Jika Anda tidak keberatan merasakan dingin dan senang menggigil untuk menghilangkan berat badan, jaket baru yang dirancang oleh para ilmuwan NASA ini bisa menjadi solusinya. Jaket dengan nama The Cold Shoulder ini dipenuhi dengan es dan dapat membantu pemakai membakar kalori hanya dengan memakainya selama beberapa jam setiap hari. Jaket ini diklaim mampu membantu tubuh membakar hingga 500 kalori per hari dengan nyaman. Sedangkan paparan dingin yang dikeluarkan jaket tersebut difungsikan untuk mengaktifkan sistem metabolisme tubuh untuk membakar lemak tubuh setiap harinya selama pemakaian. Jaket tersebut akan membakar hingga 500 kalori per hari tanpa harus melakukan olahraga. Menurut Dr Wayne B. Hayes, yang merupakan Profesor di University of California sekaligus ilmuan di NASA Jet Propulsion Laboratory, The Cold Shoulder dapat membakar hingga satu pon lemak setiap minggunya. “Para ilmuwan telah menghabiskan puluhan tahun mempelajari bagaimana paparan dingin ringan dapat meningkatkan pembakaran kalori dan bukti telah terkumpul," ujar Dr Hayes. Jaket ini sendiri tersedia di Kick Starter dan melampaui target awal sebesar USD13.500 untuk seluruh total penjualannya. Jaket ini dibanderol seharga USD160 dan akan tersedia dalam ukuran XS hingga XXXL.
  17. Wahana New Horizons telah melakukan perjalanan selama sembilan tahun untuk mendekati planet Pluto. Wahana New Horizons milik NASA mulai melakukan pengambilan gambar planet Pluto, planet terakhir di tata surya yang belum pernah dijelajahi. New Horizons telah menempuh perjalanan sejauh 5 milyar km dan memakan waktu sembilan tahun perjalanan semenjak diluncurkan pada awal 2006 dari Tanjung Canaveral di Florida. Tujuh buah peralatan yang dipasang pada pesawat angkasa luar itu akan mengumpulkan informasi dari atmosfir Pluto. New Horizons direncanakan akan memotret dua bulan kecil yang mengelilingi Pluto dan memeriksa cincin yang mengelilingi Pluto. "Kita selama ini tidak dapat melihat dan meneliti Pluto dengan benar, bahkan dengan teleskop tercanggih sekalipun seperti Hubble. Pluto tidak bisa terlihat dengan jelas," kata Dr Fran Bagenal dari Universitas Colorado yang terlibat dalam misi ini. "Untuk pertama kalinya, kita akan melihat permukaannya dan apakah terdapat kawah, gunung berapi, cairan beku atau celah," kata Dr Bagenal. Memetakan permukaan Pluto Peralatan dalam wahana New Horizons itu juga diharapkan dapat memetakan dengan rinci permukaan Pluto dan salah satu satelitnya yang terbesar. Di awal pemberangkatannya, wahana New Horizons -tanpa awak yang bernilai 700 juta dolar AS- akan memotret dua bulan kecil yang mengelilingi Pluto dan memeriksa cincin yang mengelilingi Pluto. Gambaran para seniman terhadap planet Pluto yang terletak jauh dari tata Surya. Sebelumnya, sebagian pakar astronomi mengatakan Pluto sebenarnya bukan sebuah planet dan seharusnya dikelaskan sama dengan bongkahan es yang sudah ada sejak tata surya terbentuk. "Apa yang kami ketahui tentang Pluto sangat sedikit," kata Colleen Hartman dari NASA. "Buku-buku pelajaran akan ditulis kembali setelah misi (New Horizons) ini berakhir." Para ahli juga mengatakan misi ke Pluto ini akan memberi masukan penting tentang Pluto dan satelit-satelit alaminya.
  18. NASA meluncurkan aplikasi mobile Space Station Research Explorer yang menyediakan aplikasi tentang eksperimen terkini dan hasil penelitian dari Stasiun Ruang Angkasa Internasional. Badan antariksa Amerika Serikat, National Aeronautics and Space Administration (NASA), merilis aplikasi mobile khusus untuk Stasiun Ruang Angkasa Internasional (International Space Station/ISS). Aplikasi bernama Space Station Research Explorer itu, menyediakan informasi seputar ISS seperti eksperimen terkini yang sedang berlangsung, kabar tentang fasilitas di sana, dan hasil penelitian melalui media interaktif, video, dan deskripsi secara mendalam. Space Station Research Explorer memiliki bagian informasi eksperimen yang mengandung enam kategori, diantaranya Earth and Space Science dan Technology Development and Demonstration. Kemudian pada bagian fasilitas, aplikasi ini menawarkan pengguna gambar interior ISS dan tur kecil terhadap tiga ruangan, yaitu Columbus, Kibo, dan Destiny. Aplikasi ini juga menyediakan game yang memperkenalkan para pengguna soal perbedaan gravitasi saat melempar bola. Space Station Research Explorer tersedia untuk platform Android di Google Play dan perangkat iPhone dan iPad yang bisa didapatkan di iTunes. ISS sendiri saat ini dikelola oleh 15 negara yang punya misi besar dalam bidang antariksa, termasuk Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa.
  19. Pesawat nirawak Dawn milik badan antariksa Amerika Serikat, National Aeronautics and Space Administration (NASA), dilaporkan sudah mendekati asteroid Ceres. Jarak Dawn saat ini sudah berada di 640 ribu kilometer dari Ceres dengan kecepatan 725 kilometer per jam. Ceres sendiri merupakan objek terbesar di sabuk asteroid yang terletak antara orbit Jupiter dan Mars. Asteroid yang kerap dijuluki 'planet kerdil' itu memiliki diameter 950 kilometer, seringkali diibaratkan dengan luas negara bagian Texas di Amerika Serikat. Dawn baru memperoleh kemampuannya kembali untuk berkomunikasi dengan pusat kontrol sejak ia muncul dari konjungsi matahari, sebelumnya Dawn menjelajah di sisi seberang matahari. Sejak diluncurkan pada 27 September 2007 silam, Dawn diprediksi akan menyambangi Ceres pada 6 Maret 2015 dan akan menjadi pesawat antariksa pertama yang menjelajah asteroid raksasa tersebut. Ceres mengandung banyak materi es dan dipercaya bisa mengungkapkan asal-usul kehidupan Bumi. Seperti Bumi, pada bagian perutnya, poros Ceres memiliki material lebih padat dan kandungan mineral yang lebih ringan pada bagian permukaan. Karena kerak Ceres lebih tipis ketimbang Bumi, para ahli astronomi meyakini kemungkinan ada air es yang terkubur di bawah keraknya. Mereka juga memperkirakan Ceres mengandung 25 persen air yang kemungkinan lebih banyak daripada air tawar yang ada di Bumi, sekitar 40 kali lipatnya Selain Ceres, pesawat Dawn memiliki tujuan untuk mempelajari Vesta, asteroid yang komposisinya penuh dengan bebatuan.
  20. Astronaut Samantha Cristoforetti dari Italia merayakan Natal di Stasiun Luar Angkasa Internasional dengan mendekorasi ruang kerjanya. (Dok. NASA) Walau jauh dari Bumi, para astronaut yang tengah bertugas di ruang angkasa tak mau ketinggalan merayakan Natal. Astronaut Samantha Cristoforetti, adalah salah seorang yang merayakan Natal. Ia merayakan hal itu dengan mendekorasi ruang kerjanya di Stasiun Luar Angkasa Internasional (International Space Station/ISS) dengan aksesori yang berkaitan dengan Natal. Sentuhan serba hijau dan merah pada pohon Natal serta hiasan kaus kaki yang menggantung meramaikan arena kerja astronaut perempuan asal Italia itu. Cristoforetti bersama awak astronot lainnya yang sedang bertugas di ISS sejak November lalu tengah melakukan penelitian dan terhubung dengan para ilmuwan di Bumi untuk mengeksplor bidang lain. Awak di ISS sempat melakukan pengujian perilaku bernama studi Neuromapping untuk menilai perubahaan persepsi para astronaut yang berada di ruang angkasa, termasuk pada sistem kontrol motorik, ingatan, dan atensi selama misi enam bulan di sana. Hasilnya nanti akan membantu dokter memahami struktur dan perubahaan fungsi otak selama di ruang angkasa, bagaimana astronaut beradaptasi untuk kembali ke Bumi, dan mengembangkan penanggulangan yang efektif. Selain Neuromapping, mereka juga mengobservasi masalah penuaan kulit. Eksperimen Skin B nantinya akan memberi model pembelajaran bagi para ilmuwan tentang penuaan organ manusia untuk persiapan misi jangka panjang di masa depan.
  21. Badan antariksa Amerika Serikat, NASA, memiliki pesawat antariksa bernama New Horizons yang diluncurkan pada Januari 2006. Setelah penantian hampir 9 tahun, New Horizons akan mendekati planet Pluto. New Horizons menjelajah ruang angkasa dalam kondisi setengah tertidur selama 6 tahun belakangan. NASA membangunkannya tiap dua kali setahun untuk mengecek instrumen dan latihan manuver yang sekiranya akan dilakukan saat mendekati Pluto. Sabtu lalu (6/12) NASA kembali membangunkan hibernasi New Horizons. Pesawat tanpa awak yang ukurannya sebesar piano itu dikabarkan telah menempuh jarak 3 miliar mil atau setara 4,8 miliar kilometer. Selanjutnya, pesawat berbobot 478 kilogram tersebut masih harus menempuh jarak sekitar 260 juta kilometer untuk bisa mendekati Pluto. New Horizons akan tetap dihidupkan hingga 15 Januari 2015 untuk mulai mengobservasi Pluto dari jarak jauh. Ia akan memanfaatkan kamera beresolusi tinggi untuk menangkap gambar permukaan Pluto. Perangkat lainnya yang terdapat di New Horizons akan berfungsi untuk memelajari susunan elemen kimia pada permukaan dan atmosfer Pluto, memetakan topografi, mengidentifikasi reaksi Pluto dengan angin solar, dan memeriksa lingkarannya. Rencananya, Juli 2015 nanti New Horizons akan mencapai jarak terdekatnya dengan Pluto, sekitar 12 ribu kilometer menuju permukaannya. "Kami sangat menanti gambaran nyata dari Pluto sebagai planet terjauh," ujar pemimpin investigasi misi New Horizons, Alan Stern. "Pengetahuan kami tentang Pluto sama seperti pengetahuan mengenai Mars 50 tahun yang lalu," lanjutnya. Tim peneliti berharap mereka sudah bisa menerima gambar Pluto pada musim panas 2015 mendatang. Menyadari bahwa perjalanan New Horizons memakan waktu yang sangat lama, Stern dengan semangatnya mengatakan, "kami sebentar lagi sampai di ambang pintu Pluto!"
  22. NASA kembali menemukan informasi baru mengenai keberadaan air di planet Mars. Berdasarkan informasi yang dikirimkan oleh robot penjelajah, Curiosity Rover, diperkirakan planet merah ini pernah memiliki sebuah danau besar di atas permukaan tanah. Hal ini disimpulkan berdasarkan temuan dari Pegunungan Sharp di Mars. Pegunungan dengan tinggi hampir 5.000 meter ini berada di sekitar Kawah Gale yang ada di planet Mars. Gunung ini ternyata terbuat dari berbagai jenis dan lapisan sedimen, di mana lapisan ini kemungkinan besar disebabkan oleh adanya kandungan air berupa danau atau sungai. Lihat juga: Mantan Astronot Sarankan Manusia Hidup di Bulan "Curiosity bergerak pada ketinggian pegunungan Sharp, kita memiliki serangkaian percobaan untuk menunjukan pola bagaimana atmosfer dan air berinteraksi," ujar John Grotzinger, ilmuwan yang bekerja untuk Curiosity, dikutip dari Washington Post. "Kita mungkin akan melihat beberapa reaksi kimia tentang perubahan danau di planet ini dari waktu ke waktu. Ini adalah hipotesis yang didukung oleh hal-hal yang kita amati sejauh ini," lanjutnya. Lihat juga: Ditemukan, Bentuk Aneh Seperti Ular di Mars Selain itu, Michael Meyer, seorang ilmuwan untuk NASA Mars Exploration Program mengatakan bahwa Mars pernah memiliki kandungan bahan-bahan kimia dan kondisi lingkungan yang diperlukan untuk mendukung kehidupan mikroba di sana. "Ukuran danau di Kawah Gale dan lamanya waktu kemunculan air di sana menyiratkan bahwa mungkin ada waktu yang cukup bagi kehidupan untuk berkembang," ujar Meyer. Lihat juga: Benarkah Ada Manusia di Planet Mars? Keberadaan air di Mars memang masih menjadi tanda tanya besar bagi para peneliti. Untuk saat ini, NASA belum memiliki cukup data untuk dapat memperkirakan keberadaan kandungan air di planet merah ini. Namun penemuan baru ini memberikan harapan besar untuk menemukan tanda-tanda kehidupan di planet ini.
  23. Konsep Asteroid Redirect Mission (ARM) milik NASA saat angkut sampel batu asteroid Eksplorasi antariksa bukan hanya mengarah pada pendalaman tanda-tanda kehidupan di luar bumi seperti eksplorasi Planet Mars sampai komet. Kini, Badan Antariksa AS (NASA), dilaporkan tengah menggelar proyek memanen sumber daya asteroid. Guna mewujudkan misi penambangan batu antariksa itu, NASA dilaporkan telah menandatangani kontrak dengan dua perusahaan, Deep Space Industries dan Planetary Resources. Disebutkan Fronline Desk, Senin 24 November 2014, potensi penambangan cukup menggiurkan di masa depan. Gambarannya, material asteroid disebutkan berharga kisaran US$5 hingga US$25 ribu per kilogram (Rp60-304 juta/kg). Tentu potensi ini menjadi peluang bagi kedua perusahaan tersebut. Keduanya bersama NASA bakal mencari mineral silikat, mineral karbon, logam dari asteroid yang melintas dekat dengan bumi. Sementara Designn Trends melaporkan, Planet Resources bakal mengerahkan teleskop menengah antariksa, untuk menemukan asteroid yang potensial ditambang dan materialnya bisa di bawa ke bumi. Perusahaan ini akan menciptakan rangkaian satelit dan teleskop Arkyd untuk mewujudkan hal itu. Sedangkan Deep Space Industries disebutkan bakal mengandalkan Fireflies, pesawat antariksa kecil yang berfungsi mengumpulkan informasi yang sama para perangkat Planetary Resources. Deep Space juga akan mengerahkan pesawat antariksa, Dragonfly, yang berfungsi menangkap asteroid. Beberapa senjata penambangan itu, nantinya dirancang akan memanen material asteroid dan membawanya ke bumi. Perangkat panen itu akan fokus pada pengumpulan berbagai metarial mulai dari logam dan ekstrak air sampai mineral ataupun es. Sebelumnya NASA telah meluncurkan beberapa riset untuk mendalami potensi pertambangan asteroid. NASA mengatakan logam platinum dan air merupakan material yang berpotensi paling menguntungkan dalam misi penambangan batu antariksa itu. NASA bahkan telah memiliki beberapa rencana untuk mengekstrak air. Kesempatan untuk menambang dan memanen material asteroid terbuka lebar dalam dua tahun ke depan. Pada September 2016, diperkirakan asteroid Bennu bakal mengorbit dekat dengan bumi. Untuk menyasar Bennu, NASA sudah menyiapkan pesawat antariksa Osiris-Rex.
  24. Google akan memperbaiki gedung Hangar One yang menjadi ciri khas Silicon Valley Google akan menyewa lapangan terbang milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) demi mengembangkan penelitian luar angkasa. Planetary Ventures, sebuah perusahaan cabang dari Google, akan mengambil alih pengelolaan Moffett Federal Airfield yang terletak di kawasan Silicon Valley, California. Lapangan terbang ini sudah sering digunakan sebagai landasan jet pribadi para petinggi Google mengingat lokasinya hanya berjarak sekitar 6,5 kilometer dari markas Google. Google belum memberikan bocoran persis bagaimana lapangan terbang itu akan digunakan. Tapi, menurut siaran pers NASA, lapangan terbang itu akan digunakan untuk "penelitian, pengembangan, perakitan dan pengujian di bidang eksplorasi luar angkasa, penerbangan, robotika dan sejumlah kegiatan teknologi lainnya". NASA menawarkan perjanjian sewa lapangan terbang kepada Google sebesar US$1,16 miliar (sekitar Rp19,5 triliun) dalam jangka waktu 60 tahun. "Ketika NASA memperluas kehadirannya di ruang angkasa, kami membuat sejumlah langkah untuk mengurangi jejak kami di Bumi," kata Ketua NASA, Charles Bolden. Adapun bagi Google, investasi ini merupakan kesempatan untuk memperbaiki sebuah bangunan ikonik. Perbaikan bangunan Hangar One akan menjadi bagian dari kesepakatan itu, yang menjadi ciri khas Silicon Valley. Planetary Ventures berencana untuk berinvestasi lebih dari US$200 juta dalam membangun kembali Hangar One dan dua hangar lainnya di tempat itu. Mereka akan menciptakan fasilitas pendidikan di mana masyarakat dapat menjelajahi peran teknologi.
  25. Badan peneliti antariksa milik Amerika Serikat, NASA, tengah bersiap mengirimkan 12 misi baru ke angkasa. Dan di antara misi-misi tersebut terselip sebuah beberapa program yang terbilang unik. Dari 12 misi inovatif NASA yang terangkum dalam proposal NIAC 2014, terdapat misi unik di mana NASA akan meluncurkan proyek yang disebut Wrangler singkatan dari Weightless Rendezvous and Net Grapple to Limit Excess Rotation.Dalam misi tersebut akan digunakan sebuah satelit pengganti raksasa untuk menangkap sebuah asteroid atau benda angkasa lain yang mengancam bumi. Wrangler akan bekerja dengan mengembangkan sebuah jaring raksasa yang dilengkapi dengan penambat dan alat derek untuk mencengkeram bagian depan dari suatu asteroid. Setelah asteroid tertangkap, Wrangler akan berputar dan mendorong asteroid tersebut agar arah lintasannya berubah menjauhi bumi. Selain itu, terdapat sebuah pesawat luar angkasa yang mampu menempuh perjalanan dari matahari ke planet Neptunus hanya dalam waktu satu tahun saja. Program yang bernama Herts ini mempunyai kabel-kabel sepanjang 30 kilometer yang menjuntai dari pesawat tersebut. Kabel-kabel itu berfungsi sebagai media pengumpul energi lewat teknologi panel surya. Berkat teknologi tersebut, Herts bisa melaju di angkasa dengan kecepatan 700 kilometer per jam. Untuk mendanai riset 12 program tersebut, NASA rencananya akan mendapat kucuran dana USD 100 ribu untuk setiap misinya dalam 18 bulan ke depan, dan jika program tersebut berjalan lancar pemerintah AS kembali menggelontorkan dana hingga USD 500 ribu untuk riset tambahan selam 2 tahun.

About Ngobas

Ngobas is All-in-One website that can be use by everyone for free to find friends and exchange information. The name Ngobas is derived from the abbreviation, which is Ngomong Bebas Originally Sedap, meaning that it is appropriate to speak according to the ethics of socializing.

CEO’s Greeting

I realize that information and communication are the main things in life. Ngobas is the right platform for that. We will always be connected wherever we are and that is the purpose Ngobas was built.

- Samuel Berrit Olam

×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy