Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'messaging'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

There are no results to display.

There are no results to display.

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 2 results

  1. Usai teror Paris, salah satu yang banyak menjadi perbincangan yaitu bagaimana pelaku berkoordinasi dalam menyusun serangan. Sebagaimana diketahui, kelompok ekstrimis ISIS yang mengklaim bertanggungjawab atas serangan teror tersebut diduga menggunakan platform teknologi komunikasi yang terenkripsi. Dikutip dari Reuters, Kamis 19 November 2015, pengamat keamanan menuding ISIS memakai aplikasi messaging yang terenkripsi, Telegram, untuk mengkoordinasi serangan dan merekrut anggota. Alex Kassirer, analis kontra terorisme Flashpoint, perusahaan intelijen swasta berbasis si New York, menuding ISIS memakai saluran broadcast Telegram untuk menggelar rekruitmen, propaganda, inspirasi, sampai motivasi. Bahkan menurut Direktur Bethesda, Rita Katz, layanan monitoring ekstrimis di AS, ISIS disebutkan punya tiga sampai empat saluran di Telegram. Beberapa saluran Telegram dikatakan menarik puluhan ribu pengikut. Selain memakai Telegram, kelompok ekstrimis itu juga menggunakan Twitter untuk menyebarkan propagandanya. Namun Katz mengatakan Telegram lebih aman dibanding Twitter sehingga para ekstremis tak khawatir ketahuan dalam merencanakan aksinya. "Saluran itu menunjukkan perubahan posisi Telegram dalam gerakan jihadis online," kata Katz. Memang sejak teror Paris, pengelola Telegram mengaku telah memblokir 78 saluran yang terkait dengan ISIS. Sejarah Telegram Jejak Telegram pertama kali muncul didirikan oleh dua bersaudara. Pavel Durov dan Nicolay. Awalnya mereka membentuk VKontakte, situs jejaring sosial Rusia yang ingin menyaingi Facebook. Telegram sendiri muncul pertama kali pada 2013. Namun pendiri VKontakte mengalami masalah pada 2014, saat pemerintah Rusia meminta situs jejaring sosial itu untuk memblokir akun pemimpin oposisi Rusia terkait isu Ukrania. Merasa tak setuju dengan tekanan pemerintah, akhirnya kedua bersaudara itu kemudian melepaskan kendali VKontakte. Selanjutnya keduanya pindah ke Berlin, Jerman untuk menjalankan Telegram. Guna mendirikan aplikasi ini, mereka mengaku mendanainya sendiri. Dalam situsnya Telegram menegaskan tidak ada tujuan untuk mendapatkan keuntungan dan jika aplikasi ini kehabisan dana untuk pengembangan layanan, maka Telegram akan meminta donasi dan biaya sukarela. Salah satu daya tarik yang ditawarkan Telegram yaitu memungkinkan pengguna untuk mengirim pesan enkripsi yang kuat. Telegram juga memiliki fitur messaging grup yang memungkinkan penggunanya untuk berbagi banyak video, pesan suara ataupun banyak tautan dalam satu pesan. Komunikasi itu pun dijamin tanpa bisa dideteksi oleh pengguna luar grup, sebab aplikasi ini mengklaim tak berjalan melalui komputasi awan. Hassan Hassan, salah satu pakar negara Islam dari lembaga think tank Chatham House mengatakan ketertarikan militan kelompok ekstrimis terhadap Telegram karena fitur teknik aplikasi messaging tersebut untuk berbagi media. Selain itu, fitur Telegram itu bebas dari pengawasan pemerintah. Saat ini Telegram punya 60 juta pengguna dan untuk sebuah layanan enkripsi angka itu menunjukkan aplikasi tersebut sangat populer. Sebab jumlah pengguna Telegram itu sama dengan total jumlah pengguna tiga layanan enkripsi yaitu Signal, Silent Circle dan Wickr. Durov bersaudara itu mengaku menghadirkan aplikasi messaging aman itu karena terinspirasi mantan kontraktor Badan Keamanan Nasional AS (NSA), Edward Snowden. Pada profil akun VKontakte, Pavel Durov menggambarkan dirinya sebagai seorang libertarian, invidividualistik dan pandangan dunia tanpa campur tangan. Dia juga dikenal dengan kritik pesasnya di media sosial. Pavel Durov dilaporkan sempat menentang permintaan legislator Rusia menyerukan dinas kemanan negara Rusia untuk melarang Telegram. Alasannya, Telegram dianggap sebagai platform yang mengakomodasi propaganda untuk ISIS. Menanggapi ancaman itu, Pavel Durov membalasnya melalui akun VKontakte. Dalam perlawananya, dia yakin pemerintah hanya akan memblokir kata-kata saja. Pendiri Telegram itu juga mengomentari teror Paris yang terjadi akhir pekan laku melalui akun Facebook dan Intagramnya. Dia menuliskan turut berduka cita dengan korban dan teror Paris. Tapi dia kemudian menyalahkan Prancis yang membuat tragedi itu muncul. "Pemerintah Prancis adalah yang bertanggung jawab atas ISIS karena kebijakan dan kecerobohan pemerintah yang menyebabkan tragedi ini," kata dia. Pavel mengatakan pemerintah dianggap terlalu banyak mengambil pajak dari pekerja di Prancis dan menghabiskannya untuk mengobarkan perang tak berguna di Timur Tengah. Pemerintah dituding juga menciptakan surga bagi imigran Afrika Utara. "Saya berharap mereka dan kebijakannya bisa dicabut selamanya dan kota ini akan sekali lagi bersinar dalam penuh kemuliaan, aman, kaya dan indah," kata dia.
  2. Global Business Development Team Manager Line, Jinny Kim Bisnis aplikasi pesan instan Line mengalami pertumbuhan signifikan pada kuartal keempat 2013. Game memberi keuntungan terbesar untuk bisnis Line, diikuti dengan penjualan stiker digital. Dalam laporan keuangan Line kuartal empat 2013, tercatat bahwa pendapatan Line Corporation dari bisnis intinya, yaitu aplikasi Line, mencapai 12,2 miliar yen Jepang (atau sekitar Rp 1,4 triliun) atau naik 20 persen dari kuartal sebelumnya dan tumbuh 450 persen dibandingkan kuartal yang sama tahun 2012. Perusahaan asal Jepang itu melaporkan, total pendapatan sepanjang 2013 dari aplikasi Line mencapai 34,3 miliar yen Jepang. Global Business Development Team Manager Line, Jinny Kim mengatakan, game memberi kontribusi terbesar untuk Line, sebesar 60 persen. Sementara stiker digital, hanya memberi kontribusi 20 persen, dan sisanya disumbang dari bisnis lainnya seperti akun resmi dari sebuah institusi dan stiker sponsor. "Hingga kini game buatan kami yang tersedia di Line masih menjadi sumber pendapatan utama. Jadi selain berkirim pesan, pengguna juga menghabiskan waktunya dengan bermain game di platform Line," ujar Jinny saat ditemui KompasTekno di Jakarta, Rabu (19/2/2014). Penjualan game di Line paling banyak berasal dari platform Apple iOS, lalu diikuti platform Google Android. Pengguna bisa membeli sebuah konten digital untuk game yang dimainkan, dan inilah yang menjadi pemasukan utama bagi Line. Dari sisi jumlah pengguna, Jinny mengatakan bahwa pengguna aplikasi Line secara global telah mencapai 350 juta pada kuartal empat 2013. Sekitar 70 sampai 80 persen pengguna tersebut merupakan pengguna aktif bulanan. Pertumbuhan ini sangat pesat, karena pada bulan Januari 2013, jumlah pengguna Line baru mencapai 100 juta, lalu di bulan November tumbuh mencapai 300 juta pengguna. Indonesia urutan ketiga Di Indonesia sendiri, Line memiliki basis pengguna yang besar. Pada kuartal empat 2013, jumlah pengguna Line di Indonesia mencapai 20 juta. Sayangnya, Jinny enggan memberi tahu berapa jumlah pengguna aktif Line di Indonesia. Jepang masih menjadi negara dengan basis pengguna Line terbesar, yang mencapai 50 juta, lalu diikuti Thailand di peringkat kedua dengan 22 juta. Di peringkat keempat ada Taiwan dengan 17 juta pengguna, lalu Spanyol dan India masing-masing 16 juta, serta Meksiko dan Korea 10 masing-masing 10 juta pengguna. Line merupakan aplikasi untuk menyampaikan pesan dalam bentuk teks, foto, suara, ataupun video. Pada Januari 2014, tercatat ada 9,2 miliar pesan dikirim dan diterima lewat Line. Aplikasinya tersedia di platform iOS, Android, Windows Phone, BlackBerry, Nokia Asha, hingga ponsel fitur, serta komputer pribadi Windows dan Mac. Selain mengirim pesan, Line juga menyediakan layanan panggilan telepon dan panggilan video lewat jaringan internet. Mereka juga menyediakan game dan stiker digital. Aplikasi Line diluncurkan pada tahun 2011 oleh perusahaan Naver Corporation yang berbasis di Korea Selatan. Pada Februari 2013, perusahaan itu berganti nama menjadi Line Corporation dan membangun kantor pusat di Jepang. Aplikasi ini bersaing dengan produk sejenisnya, seperti WhatsApp, KakaoTalk, WeChat, Viber sampai Facebook Messenger. WhatsApp masih jadi pemimpin aplikasi pesan instan, dengan 430 juta pengguna aktif pada Januari 2014. Jumlah pesan yang diproses oleh WhatsApp mencapai 50 miliar pesan per hari, dari sekitar 27 juta per hari yang terekam pada Juni 2013. Angka itu disebut-sebut sudah melebihi jumlah SMS yang beredar di seluruh dunia sehingga WhatsApp dianggap sebagai salah satu penyebab menurunnya pertumbuhan SMS di dunia.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy