Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'magang'.

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • CLINIC NGOBAS
    • Coronavirus
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • Ngocol
    • Ngocol Video
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • ABOUT NgobasTV
    • EVENT
    • WESER
    • LAPOR KOMANDAN

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Categories

  • Files
    • Website
    • Smartphone
  • Games
  • E-Book

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 7 results

  1. Setiap tahun Silicon Valley menerima ribuan anak magang di berbagai perusahaan teknologi. Menurut Bloomberg, anak magang di Silicon Valley rata-rata digaji $6,800 per bulan. Anak magang seperti apa yang dicari oleh Silicon Valley?
  2. Sebuah organisasi yang didirikan mahasiswa Indonesia berupaya menjembatani Silicon Valley dengan mahasiswa Indonesia, lewat program mentoring "Indo2SV" agar bisa mendapat kesempatan magang di Silicon Valley.
  3. Berapa jumlah bola golf yang bisa ditampung ke dalam satu bus sekolah? Berapa tarif yang harus dikenakan untuk jasa membersihkan semua jendela yang ada di Kota Seattle? Bagaimana cara Anda menjelaskan apa itu database dalam 3 kalimat, kepada anak yang berumur 8 tahun? Jika Anda ingin magang ataupun menjadi karyawan Google, Anda harus siap menjawab pertanyaan-pertanyaan dan tantangan “ajaib” semacam itu. Google memang terkenal dengan proses wawancaranya yang unik, bahkan bisa bikin orang-orang jenius sekalipun menjadi bingung. Tak heran jika raksasa digital yang dibangun oleh Sergey Brin dan Larry Page itu dikenal sebagai gudang orang pintar dan kreatif. Situs Business Insider belum lama ini mengangkat pengalaman seorang karyawan magang di Google. Dia adalah Rohan Shah, pemuda 20 tahun, mahasiswa University of Illinois. Ceritanya mungkin bisa menjawab rasa penasaran kita tentang proses rekrutmen dan kegiatan para karyawan magang di Google. Yang Dicari, yang Berprestasi Awal bulan Januari lalu, Shah menerima email dari Google—sebuah undangan wawancara untuk posisi karyawan magang selama musim panas. Beberapa minggu sebelumnya, setelah mengikuti bursa kerja di kampusnya, Shah memang memasukkan lamaran untuk magang di Google secara online. Memasukkan lamaran secara online adalah prosedur wajib bagi orang-orang yang tertarik bekerja ataupun magang di Google. Bentuk formulir yang disediakan Google sama seperti formulir pada umumnya. Selain diminta mengisi nilai rata-ratanya, pelamar juga diminta mengisi pengalaman dan kegiatan eskul yang pernah dia ikuti. Shah mengisi formulir itu apa adanya. Dia menguasai 3 bahasa, pernah menerima beberapa penghargaan, dan aktif dalam dewan mahasiswa di kampusnya. Dia juga aktif sebagai asisten dosen, pernah magang di beberapa tempat lain, dan di kala senggang suka membuat aplikasiAndroid. Singkat kata, Shah adalah anak muda berprestasi. Mendapat email itu, Shah sangat senang. Dia tak mau melewatkan kesempatan itu. Apa lagi, kompetisi untuk masuk Google sangat ketat. Menurut juru bicara Google, Google hanya menerima 1.500 anak magang dari 40 ribu yang melamar setiap tahunnya. Proses Wawancara Wawancara pertama yang diikuti oleh Shah adalah melalui telepon. Kebanyakan pertanyaannya bersifat teknis, yang tentu saja menguras otak. Shah sempat menjalani 2 kali wawancara melalui telepon. Shah beruntung. Seminggu setelah wawancara kedua, dia menerima email lagi dari Google. Kali ini, dia diminta mengikuti tahap wawancara berikutnya. Wawancara kali ini dilakukan secara langsung, dengan beberapa tim dari Google. Tim rekrutmen Google membantu Shah memilih divisi yang cocok sebagai tempat magangnya. “Aku melakukan wawancara dengan sekitar 5 tim yang berbeda,” kata Shah. Berbeda dengan wawancara melalui telepon, wawancara langsung ini bukan seputar hal-hal teknis. Singkat cerita, dalam waktu 3 bulan setelah mengirim lamaran online, Shah resmi magang di Google. Dia bergabung dengan divisi Android, sesuai dengan hobinya. Fasilitas dan Tunjangan Karyawan-karyawan magang yang tinggal di luar kota, atau di luar negeri sekalipun, tak perlu pusing memikirkan tempat tinggalnya selama magang. Google menyediakan asrama bagi para mereka. Shah, misalnya, tinggal sekamar dengan 3 anak magang lainnya—dua orang dari Argentina dan seorang dari Ukraina. Lokasi asrama mereka tak jauh dari Googleplex. Google juga menyediakan shuttle bus untuk antar-jemput mereka. Setiap karyawan magang harus menjalani masa orientasi selama 1,5 minggu. Selama masa orientasi itu, mereka diajarkan tentang cara kerja data center Google, misi perusahaan, serta bagaimana cara kerja Google. Di sana, mereka pun bertemu dengan para Googler. Satu lagi yang menyenangkan. Para karyawan magang di Google dibayar dengan gaji yang tinggi. Nilainya bahkan lebih besar daripada gaji kebanyakan karyawan tetap di perusahaan lain. Menurut komunitas karir Glassdoor, rata-rata penghasilan karyawan magang di Google adalah 5.678 dollar AS per bulan, atau 68.136 dollar AS per tahun. Shah sendiri mengaku digaji sebesar 6.100 dollar AS per bulan. Mengingat Google sudah menjamin tempat tinggal, transportasi, makanan dan minuman, dan gym bagi karyawan magangnya, tampaknya sebagian besar dari penghasilannya bisa disimpan. Lalu, apa saja yang dilakukan oleh para karyawan magang Google? Banyak, menurut Shah. Mereka dilibatkan dalam tugas-tugas yang berhubungan langsung dengan produk Google. Setiap anak magang diberikan proyek khusus. Lalu, bagaimana kesan-kesannya terhadap para Googler? Tak seperti yang dibayangkan banyak orang, para Googler tampak sangat normal. “Satu hal yang sangat mengejutkanku ketika bekerja di Google adalah, setiap karyawan di sana sangat aktif dan kreatif,” kata Shah yang magang di Google selama satu semester.
  4. Salah satu harapan dunia usaha untuk menghilangkan kekhawatiran pada persaingan memperebutkan lapangan kerja di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) nanti adalah keseriusan perguruan tinggi menerapkan program internship atau magang. Sebagai "penyuplai" tenaga kerja, perguruan tinggi harus memperkenalkan dan menerapkan perkenalan program magang secara sistematis, baik bagi calon tenaga kerja (mahasiswa) atau pemberi kerja. Sudah saatnya universitas mengembangkan silabus magang yang baik agar link and match antara industri dan perguruan tinggi berjalan dengan baik. "Kenapa penting, karena magang itu diperlukan agar lulusan perguruan tinggi bisa dengan mudah beradaptasi dengan dunia luar. Dunia kerja atau dunia usaha kalau mereka mau terjun ke bisnis atau wirausaha," ujar Henoch Munandar, Director of Risk Management and Human Resources PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia, pembicara pertama pada diskusi "Binus Industry Partnership Program" di Hongkong, Rabu (12/11/2015). Pendapat tersebut diperkuat oleh Director PT Phincon, Arifa. Salah satu peserta diskusi itu mengaku bahwa selama ini ada gap antara perguruan tinggi dengan para calon tenaga kerja itu cukup jauh. Arifa berharap, anak-anak Indonesia jangan hanya dipersiapkan untuk dididik di luar negeri dan bekerja di luar negeri. Sudah semestinya anak-anak itu dididik untuk kemudian berkarya di Indonesia. "Untuk itu, mereka harus dihargai dengan setimpal di negerinya sendiri. Jangan sampai kita menggaji orang bule atau orang India itu lebih tinggi dari anak-anak Indonesia sendiri," kata Arifa. Tak heran, lanjut Arifa, fenomena "merendahkan" anak-anak Indonesia itu pada akhirnya terlihat berakar sejak perusahaan memperlakukan para mahasiswa magang. Mereka kerap hanya dijadikan sebagai tenaga administrasi. "Ini kesempatan industri mendidik anak-anak magang itu dengan benar-benar memberinya kesempatan luas mengenal dunia kerja. Ajak mereka meeting dengan klien, bagaimana cara perusahaan berjualan produknya," kata Arifa. "Intinya, ajarkan apa yang kita kerjakan sebagai tanggung jawab kita di perusahaan. Bagaimana kita presentasi, beradu argumen dengan klien, anak-anak magang itu harus tahu dan jangan biarkan mereka duduk di belakang meja," tambahnya. Untuk itulah, lanjut Arifa, dia sepakat bahwa program magang tidak bisa diterapkan sebagai program "asal ada". Jangan sampai, program magang tak membuat anak-anak didik tidak jadi apa-apa. "Tugas kitalah membantu mereka, menyiapkan mereka untuk siap menyambut dunia luar," katanya. Lari ke Singapura Henoch mengatakan, magang merupakan pelatihan terbaik menghadapi MEA. Menurut dia, ada empat lingkup penerapan magang terbaik yang bisa dijalankan perusahaan bersama-sama pihak industri. Pertama adalah asessment. Baik dilakukan secara mingguan atau bulanan, peserta magang harus diberikan penugasan yang optimal. Lingkup ini kemudian diakhiri dengan feedback sebagai evaluasi kinerja. Kedua adalah diverse work element. Di sini mahasiswa peserta magang harus mengikuti pelaksanaan proyek-proyek perusahaan dan bisnis keseharian si pemberi tugas atau karyawan di perusahaan tempatnya magang. Adapun keempat adalah network with senior management. Di sini peserta magang bisa belajar berikteraksi dengan kalangan internal perusahaan, baik itu saat makan siang atau rapat. "Sedangkan yang keempat itu intern supervisor. Di sini anak magang harus diajak untuk mengetahui jalannya organisasi perusahaan seperti apa. Di lingkup inilah proses coaching danmentoring dari si pemberi kerja bisa diterapkan," kata Henoch. Henoch menuturkan, selama ini perguruan tinggi di Singapura sudah menerapkan program magang secara integral dengan kurikulum. Magang juga sudah menjadi silabus universitas. "Proses seleksinya sangat ketat dan anak-anak magang itu dibayar dengan uang saku yang layak," lanjutnya. Artinya, lanjut Henoch, perguruan tinggi Singapura tidak main-main menerapkan program magang. Magang bukan sekadar program yang "asal ada" dan dijalankan. Padahal, dengan penerapan yang baik, program magang dapat menjadi ajang praseleksi bagi si pemberi kerja untuk mengidentifikasi dan mendapatkan SDM fresh graduate yang sesuai kebutuhannya. "Jadi, jangan heran kalau anak-anak kita lebih memilih di sana dibanding di sini," ujarnya.
  5. Pintar tidak menjadi jaminan apalagi sentimen almamater. Begitulah yang dialami Aran Khanna, seorang mahasiswa senior di Universitas Harvard —kampus tempat Facebook dilahirkan—, yang kehilangan kesempatannya magang di Facebook, gara-gara sebuah aplikasi yang dibikinnya. Khanna telah menciptakan aplikasi ekstensi Chrome bernama Marauders Map. Tapi pihak Facebook merasa bahwa ekstensi ciptaan Khanna tersebut melanggar kebijakan privasi Facebook. Ekstensi yang terinspirasi cerita Harry Potter ini memberikan informasi mengenai lokasi pengguna Facebook Messenger beserta dengan isi pesan yang dikirim. Informasi mengenai lokasi pengguna Facebook Messenger tersebut berbentuk peta geografis, sehingga nampak jelas di mana pengguna tersebut berada. Persis peta ajaib di Harry Potter. Khanna menciptakan ekstensi ini dua minggu setelah menerima kabar bahwa ia diterima untuk magang di Facebook. Tak lama setelah ekstensi tersebut dibuat, lebih dari 85.000 orang telah mengunduhnya. Beberapa hari kemudian, Facebook meminta Khanna untuk menonaktifkan ekstensi tersebut. Permintaan ini dituruti. Tapi Facebook tetap menganggapnya sebagai pelanggaran serius. Tawaran magang pun dibatalkan. Khanna menciptakan ekstensi tersebut untuk menunjukkan konsekuensi dan bahaya dari membagikan informasi data pribadi, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. "Saya tidak membuat ekstensi ini untuk berbuat jahat," ucap Khanna. Pihak Facebook sendiri merasa bahwa ekstensi tersebut menggunakan data-data yang dimiliki Facebook dan menggunakannya untuk merusak kebijakan privasi yang dimiliki Facebook. "Kita tidak memecat karyawan apabila mereka menunjukkan adanya kelemahan dari privasi yang ditawarkan Facebook. Namun lain halnya apabila ia menyalahgunakan informasi para pengguna Facebook dan membahayakan mereka," ujar Matt Steinfeld selaku juru bicara Facebook.
  6. Gaji besar di perusahaan Apple tidak hanya dirasakan oleh para karyawannya, tapi juga bagi mereka yang masih berstatus magang. Anak magang di Apple setiap tahun bisa meraih pendapatan US$ 80 ribu, atau setara dengan Rp 1,068 milar. Dan jika dipukul rata per bulan maka kira-kira memiliki gaji Rp 89 juta. Hal ini dibenarkan oleh salah satu pemimpin program magang di Apple yang tidak disebutkan namanya oleh Mashable. Di Apple, pegawai magang bisa mendapatkan Rp 33,3 juta per bulan untuk bekerja paruh waktu. Dan bila bekerja penuh mereka bisa mendapat sampai dua kali lipat. Itu juga masih berbeda-beda tergantung fungsi kerja karyawan tersebut. Tapi untuk bisa magang di perusahaan Apple tidaklah mudah. Mereka adalah orang-orang yang sengaja dipilih karena memiliki kemampuan tertentu, seperti kasus bocah 15 tahun bernama Ben Pasternak yang pernah diperebutkan Apple, Google dan Facebook karena aplikasi buatannya. Pasternak memang berhasil menciptakan apliaksi unik, sampai-sampai diperebutkan tiga perusahaan raksasa itu. Selain Apple, konon Facebook dan LinkedIn juga menjadi perusahaan teknologi yang berani bayar tinggi untuk para pegawai magang. Rata-rata pegawai magang di Facebook dan LinkedIn bisa mengantongi pendapatan Rp 82,7 juta per bulan. Dengan pendapatan sebesar itu tak heran jika kemudian banyak yang berminat untuk menjadi pegawai tetap di perusahaan Apple, Facebook atau bahkan LinkedIn.
  7. Ketika kamu ingin melakukan praktek kerja magang, sangat mudah bagimu untuk tertarik pada perusahaan-perusahaan besar. Siapa yang tidak ingin bergabung dengan PwC, KPMG, JP Morgan atau Google sebagai pilihannya? Namun, justru di sinilah letak kegagalan mahasiswa dalam menyadari suatu hal, yakni semakin besar sebuah perusahaan, semakin kecil juga lowongan kerja yang hebat untukmu. Setelah magang pada perusahaan yang memiliki karyawan hampir 300 orang, dan perusahaan yang hanya memiliki 15 – 20 karyawan, kita akan bisa membedakan antara perusahaan yang cukup besar dengan sebuah startup. Ada banyak yang bisa diperoleh dengan bekerja pada sebuah perusahaan yang lebih kecil, khususnya ketika kamu baru pertama kali memasuki dunia kerja. Dengan bekerja untuk sebuah perusahaan teknologi yang belum memiliki nama terkenal dan tipe perusahaan yang mungkin tidak dicari oleh teman-teman konsultan dan keuanganmu, sesungguhnya akan memberikanmu pengalaman nyata yang sulit untuk didapat di perusahaan lain. Berikut adalah beberapa alasan mengapa bekerja di sebuah startup bisa menjadi salah satu pertimbangan magangmu. 1. Kamu akan Memiliki Tanggung Jawab yang Nyata Khususnya pada startup yang masih berada pada tahap awal, waktu menjadi hal yang sangat berharga dan setiap orang dalam tim memiliki peran yang besar untuk membangun startup – termasuk para pekerja magang. Itu berarti kamu akan memegang suatu proyek yang bisa berdampak langsung bagi pengguna/klien, terdengar keren bukan? Menampilkan produksi pertamamu dan mempublikasikannya, serta mengecek kinerja sebuah situs, mungkin akan terdengar menakutkan di awal. Tapi bekerja beriringan dengan ketakutan-ketakutan itu dan belajar untuk mengambil tanggung jawab dalam hal tersebut, akan membuatmu mendapat banyak keuntungan. Selain kamu dapat menunjukkan bahwa kamu memegang proyek yang penting, hal tersebut juga menumbuhkan kepercayaan diri untuk tahu jika sesungguhnya kamu berkemampuan dalam menangani dan memimpin proyek di masa depan nanti. Contohnya saja, pada minggu awal magang di Liv.it&Labster, kamu akan diminta memegang seluruh akun media sosial, kampanye iklan online dan kontrol penuh terhadap semua hal-hal dasar atas akuisisi pelanggan dan strategi online. Lalu, foundernya akan menilai kamu secara cepat, penilaiannya hanya ada pada dua hal: kamu akan gagal atau berhasil dalam waktu cepat. Mereka akan memberikanmu tanggung jawab penuh , mengecek laporan mingguan dan akan memberikan komentar atau saran yang berharga untukmu, bukan hanya memberikan tugas-tugas secara acak yang terkadang tidak penting. Kamu justru belajar untuk mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang luas. 2. Kamu akan Belajar Banyak Mengenai Cara Kerja Perusahaan Jika menjadi karyawan di perusahaan besar, sebagian besar waktu yang akan kamu habiskan hanyalah untuk bekerja dalam departemen dengan sebuah tim. Perkembangan dirimu sering kali terbatas karena kamu hanya mendapat porsi kecil untuk terlibat langsung. Dengan jumlah karyawan ratusan, kamu hanya akan mendapat pengalaman bisnis yang rendah. Tapi, dalam startup yang masih baru, itu tidak akan terjadi. Kamu akan dilibatkan setiap harinya dalam operasional perusahaan. Menjadi bagian tim kecil berarti kamu akan mengenal orang-orang dari berbagai bagian di perusahaan. Dan, sebagian besar startup akan memastikan tiap orang selalu berada dalam satu lingkaran. Seperti halnya Labster, mereka membuat pertemuan setiap hari Senin dengan timnya, jadi setiap orang bisa tahu apa saja yang terjadi dalam kurun waktu seminggu dan apa saja yang sudah dicapai dalam seminggu itu, gunanya untuk memastikan tiap orang mengetahui hal terbaru terhadap proses kemajuan suatu perusahaan. 3. Kamu akan Mengenal Hal-hal Keren Pada prosesnya, startup akan terus menggunakan perangkat-perangkat situs terbaru dan metodologi-metodologinya. Sudah menjadi suatu kewajiban untuk menjadi ‘lean’ dan mencoba marketing tools baru yang ada di dunia startup. Contohnya lagi, sebelum Kamu bergabung dengan Ozhut misalnya, kamu mungkin benar-benar tidak tahu apapun tentang Facebook Ads, Google Adwords, content marketing, SEO, email marketing, retargeting atapun database querying. Kamu mungkin tidak pernah menulis atau membuat iklan di Facebook/Google untuk kampanye online dan memonitor trafik sebuah situs, ataupun mengecek perilaku pengguna lewat Google Analytics sebelumnya. Tapi lewat startup, kamu akan mengenal itu semua. Dan, juga yang tidak terlupa adalah, kamu bisa mendapatkan pengetahuan yang tak ternilai, yang tidak akan Kamu dapatkan di perguruan tinggi. Percayalah, pengalaman ini adalah hal yang berharga dalam dunia kerja digital sekarang ini. 4. Kamu Akan Dikelilingi Orang-orang yang Berbakat dan Memotivasi Startup yang baik mampu menjadi magnet bagi orang-orang terbaik. Dan pada dasarnya, mereka adalah orang-orang yang menikmati dan mencintai apa yang mereka lakukan. Siapa yang tidak ingin mempekerjakan orang-orang terbaik dari yang terhebat untuk bekerja dalam pembangunan startupnya? Satu hal terbesar mengenai startup kecil adalah jika kamu bekerja dengan karyawan kurang dari dua puluh, kamu akan memiliki kesempatan mengenal banyak orang. Dan, mereka adalah orang-orang yang bisa menjadi teman sekaligus rekan bisnismu selama bertahun-tahun lamanya. Ketika kamu bekerja pada salah satu co-working space bernama Livit Space, kamu bisa bertemu dengan para pengusaha dari seluruh dunia lulusan UCL, mereka adalah orang-orang yang menciptakan konsep layar sentuh bagi Apple – keren sekali! Kamu juga akan belajar satu hal bahwa startup adalah tempat orang-orang saling berbagi pengetahuan dan pengalaman mereka satu sama lain. Dan, kamu bisa belajar semua ini dan mendapatkan inspirasi dari pengusaha-pengusaha itu dalam waktu singkat. 5. Kamu akan Merasakan Suasana Santai dan Atmosfer yang Fleksibel Dalam dunia startup, kamu akan sering mendengar orang-orang mengatakan dua hal ini; gagal cepat dan belajar cepat. Startup tidak memiliki banyak sumber daya untuk memeriksa semua pekerjaanmu, maka itu, jika kamu mendapat sebuah tugas, kamu diharapkan bisa mengerjakannya dengan tuntas. Tentu saja kamu bisa meminta bantuan atau saran sepanjang pekerjaan, namun perbedaan utamanya adalah hasil pekerjaanmu akan menentukan bagaimana orang-orang menilai kinerjamu. Lalu, kamu akan melakukan kesalahan (setiap orang melakukannya), tapi karenanya, kamu akan belajar hal baru lebih cepat dan seluruh tim akan mengenal apa yang telah kamu kerjakan. Dan, hal menarik yang tak terlupa adalah suasana santai dan fleksibelnya. Kamu akan memiliki meja tenis, bilyar dan permainan-permainan yang tersedia pada ruangan khusus untuk mengurangi stress atau tekanan setelah lama bekerja.
×
×
  • Create New...