Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'macan'.

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • CLINIC NGOBAS
    • Coronavirus
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • Ngocol
    • Ngocol Video
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • ABOUT NgobasTV
    • EVENT
    • WESER
    • LAPOR KOMANDAN

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Categories

  • Files
    • Website
    • Smartphone
  • Games
  • E-Book

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 3 results

  1. Seiring semakin banyaknya warga AS yang divaksinasi melawan Covid, satwa penghuni kebun binatang juga mulai diberi vaksin, mengingat virus korona bisa juga tulari primata hingga keluarga kucing. Tapi ini tak patut menimbulkan rasa iri dari warga yang belum mendapat giliran vaksinasi. Mengapa?
  2. LadyJek, aplikasi pemesanan ojek namun dikemudikan untuk wanita dan hanya menerima penumpang wanita Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai pelarangan ojek atau taksi daring Kementerian Perhubungan terlambat dikeluarkan. Oleh karena itu, keputusan ini diperkirakan tidak akan efektif berjalan. Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi mengatakan larangan ini muncul di saat ojek atau taksi daring sudah tumbuh subur. "Bak cendawan di musim hujan, bukan hanya ojek pangkalan tetapi justru yang menjadi fenomena adalah ojek yang berbasis aplikasi. Oleh karena itu Kemenhub tidak bisa serta merta melarang," kata Tulus melalui pernyataan yang diterima CNN Indonesia, Jumat (18/12). Tulus melihat tumbuh suburnya sepeda motor dan ojek dilatarbelakangi dari kegagalan pemerintah dalam menyediakan angkutan umum yang layak dan terjangkau. Tulus mengatakan jika pemerintah belum mampu menyediakan akses memadai angkutan umum, termasuk menjamin keamanan dan keselamatan bagi penggunanya, larangan ini lebih baik tidak dikeluarkan. Keberadaan ojek, katanya, mampu mengatasi persoalan transportasi bagi warga di tengah kemacetan lalu lintas yang semakin meningkat. "Oleh karena itu, YLKI mendesak Kemenhub dan pemerintah daerah untuk memperbaiki pelayanan angkutan umum. Jangan sampai hanya bisa melarang tapi tak bisa kasih solusi," kata Tulus. Sementara itu, Direktur untuk Indonesia dari Institute for Transportation and Development Policy, Yoga Adiwinarto, mengatakan keputusan pelarangan tersebut bukti pemerintah menutup mata dengan munculnya fenomena baru, penggunaan ojek atau taksi berbasis daring. "Policy tentang angkutan umum minimal beroda tiga yang berbadan hukum itu sudah lama sebenarnya. Sekarang mau menerapkan, kesannya, kok dipaksakan," kata Yoga. Yoga menduga ada kepentingan pihak lain yang didesakkan di balik keputusan pemerintah melarang ojek dan taksi daring. "Saya melihatnya ada konteks kepentingan di sini. Adanya ojek dan taksi daring mematikan bisnis usaha lainnya, makanya mereka mati-matian mendorong pemerintah untuk melarang," ujar Yoga. Sebelumnya, pemerintah, melalui Kementerian Perhubungan melarang seluruh ojek maupun taksi berbasis daring karena dinilai tidak memenuhi ketentuan sebagai angkutan umum. Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Djoko Sasono dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis mengatakan pelarangan beroperasi tersebut tertuang dalam Surat Pemberitahuan Nomor UM.3012/1/21/Phb/2015 yang ditandatangani oleh Menteri Perhubungan Ignasius Jonan, tertanggal 9 November 2015. "Sehubungan dengan maraknya kendaraan bermotor bukan angkutan umum dengan menggunakan aplikasi internet untuk mengangkut orang dan/atau barang, perlu diambil langkah bahwa pengoperasiannya dilarang," katanya. Djoko mengatakan surat tersebut juga ditujukan untuk Korps Lalu Lintas Polri, para kapolda dan gubernur di seluruh Indonesia. Pelarangan tersebut, katanya, sesuai dengan ketentuan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan serta Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2014 tentang Angkutan Jalan.
  3. Salah besar jika Anda berpikir naluri keibuan itu hanya milik makhluk bernama manusia. Karena sesungguhnya Tuhan Maha Adil, naluri keibuan adalah fitrah, bahkan hewan buas pun memilikinya. Tak peduli apakah sang induk dan sang anak berasal dari jenis yang sangat jauh berbeda, tak peduli jika salah satunya adalah predator bagi yang lainnya, naluri keibuan itu akan tetap muncul untuk menyayangi satu sama lainnya. Video dokumenter Natgeo 2006 (Eye Of The Leopard) Seperti yang tersirat dalam video dokumenter National Geographic 2006 berjudul “Eye Of The Leopard” ini, yang menangkap momen luar biasa ketika naluri keibuan seekor macan tutul melebihi sifat predatornya. Adalah Legadema, sosok leopard alias macan tutul yang hidup di padang savana Afrika. Di umurnya yang beranjak 3 tahun, Legadema adalah sosok predator utama di habitatnya. Instingnya sebagai pembunuh pun tak terbantahkan. Sekali terkam, mangsa pun tak lagi sanggup hidup. Namun pada suatu ketika, saat matanya menatap seekor bayi baboon yang induknya baru saja meregang nyawa karena cengkramannya, hukum rimba pun tertulis ulang! Dalam video tersebut, nampak Legadema telah memburu sang baboon dari kejauhan. Ia pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menerkam saat baboon itu lengah. Sayangnya, Legadema tak mengetahui bahwa baboon itu sedang menyusui bayinya. Setelah mencabik-cabik sang baboon, Legadema pun membawa mangsanya ke atas pohon. Ia pun terperanjat, saat menyadari ada seekor bayi baboon yang masih tersangkut di payudara sang induk baboon, sang bayi baboon yang sedang menyusui itu pun jatuh ke bawah. Legadema menghampirinya, namun ajaibnya, predator buas itu bukannya memangsa si bayi baboon, Legadema malah menatapnya lekat, lalu ia pun merebahkan diri sejenak di samping si bayi, seakan tak tahu apa yang harus dia lakukan. Terpancar raut penyesalan di wajah buasnya. Yang terjadi kemudian, tentu akan membuat Anda menitikkan air mata. Bagaimana seekor predator buas memilih untuk merengkuh tangan kecil dan merawat serta melindungi sang bayi baboon tersebut. Seandainya Legadema bisa bicara, mungkin ia akan berkata “Inilah wujud penyesalan terdalam atas apa yang baru saja aku lakukan terhadap induknya” Legadema pun membawa sang bayi baboon ke sebuah batang pohon yang lebih terlindung dari predator lain yang dapat memangsa si bayi baboon. Bahkan saat seekor hyna datang untuk memangsa, Legadema sigap melindungi sang baboon kecil. Bahkan saat malam tiba, ketika sang bayi berkali-kali jatuh dari batang pohon, Legadema pun segera turun dan menjemputnya sebelum hyna berhasil memangsanya, Legadema pun kembali merengkuh sang bayi baboon dalam dekapannya. Seperti seorang ibu meninabobokan anaknya. Sayangnya, takdir berkata lain. Saat pagi tiba, sang kameramen pun menyadari bahwa sang bayi baboon tak bernafas lagi. Menurutnya, sulit bagi seorang bayi baboon hidup tanpa sentuhan induknya kala itu. Dan saat menyadari bayi baboon itu mati, Legadema pun beranjak pergi dengan tatapan sendu. Para kru film pun meninggalkan Legadema di habitatnya. Beberapa bulan terlewati, sebuah kabar baik pun sampai ke telinga para kru film. Dereck Joubert, sang pembuat film tersebut mengatakan bahwa Legadema tengah mengandung bayinya. "Kami baru saja mendengar bahwa ia akan segera memiliki bayi sendiri untuk dirawatya , ya seperti saat dia merawat si babon kecil dengan penuh kasih," ujar Joubert. Kisah nyata di alam liar ini tentu membuat suatu pelajaran berarti bagi kita manusia, dimana pemberitaan miris tentang bayi-bayi yang dibuang ibunya seperti tak ada habisnya, tentang bayi-bayi yang dibunuh orang tuanya secara kejam karena himpitan ekonomi. Maka, berkacalah pada Legadema, seekor predator buas sepertinya pun masih memiliki rasa penyesalan yang mendalam. Ia bahkan sanggup membunuh insting pembunuh di otaknya untuk memertanggungjawabkan kesalahannya tersebut. Lalu bagaimana dengan kita, makhluk bernama manusia?
×
×
  • Create New...