Jump to content
  • Kemerdekaan indonesia 74
  • Kemerdekaan indonesia 74
  • Kemerdekaan indonesia 74

Search the Community

Showing results for tags 'luar angkasa'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

There are no results to display.

There are no results to display.

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 24 results

  1. Dari California, perusahaan luar angkasa Space X, baru-baru ini meluncurkan satu lagi roket yang membawa satelit ke antariksa. Hal ini menggenjot semakin banyak minat investor dan perusahaan akan bisnis di luar angkasa.
  2. Kehadiran bayi selalu menjadi hal yang dinanti-nanti oleh setiap orangtua. Meski ibu yang mengandung, ayah tak kalah antusias menyambut calon buah hatinya. Berbagai persiapan dilakukan ayah, termasuk menyiapkan kamar untuk bayi mungilnya. Seorang calon ayah dengan akun Imgur @jsnake666 berkreasi membuat kamar calon anaknya yang akan lahir laki-laki dengan tema luar angkasa. Di mana dalam proses pembuatan ia hanya membutuhkan waktu 40 jam dengan dibantu oleh dua orang. Tema kamar luar angkasa untuk ruang anak adalah ide dari ia beserta istri. Teknik pembuatan kamar bertema luar angkasa ini sebetulnya bisa sangat mudah apabila si ayah membeli wallpaper yang sudah jadi dengan tema luar angkasa. Namun, ia tidak ingin membuat dengan cara instan. Sang calon ayah justru membuat wallpaperdengan teknik yang rumit, dengan hitung-hitungan titik koodinat sehingga tampak seperti luar angkasa yang nyata. Gugusan bintang-bintang yang dibuat dengan melubangi kertas untuk dinding benar-benar seperti bernyawa. Galaksi bintang-bintang memberi efek glow in the dark di dinding. Ia menggunakan pena cat untuk penegasan garis. Hasil karyanya tampak begitu nyata. Dinding indah seperti masuk ke dunia luar angkasa.
  3. Sebuah video diklaim menunjukkan cuplikan UFO yang diambil dari pesawat ulak-alik Badan Antariksa Amerika Serikat NASA. Klip yang diambil dari misi STS80 menunjukkan, sebuah objek melayang terbang di luar angkasa, kemudian berubah arah dan menghilang. Terkait video itu, penggemar UFO Secureteam10 menjelaskan, puing-puing di luar angkasa tak bisa secara fisik mengubah jalurnya. Inilah sebabnya mengapa team percaya bahwa “puing-puing” itu merupakan pesawat alien. Tyler, salah satu peneliti team, mengatakan, “Ini jelas membuat putaran, sehingga Anda harus bertanya-tanya, apakah kami benar-benar gila untuk berpikir ada pengemudi objek di luar angkasa? Saya pikir tidak.” Selain itu, video juga menunjukkan klip lain dari misi STS-80. Salah satu dari mereka menunjukkan beberapa objek berjalan cepat saat mereka melayang di angkasa. Salah satu pesawat berjalan melambat, berhenti dan kemudian terbang ke belakang, menghilang dari pandangan. Kemudian menunjukkan objek ketiga dari ‘boomerang UFO’, objek memiliki bentuk seperti boomerang yang terbang ke depan dan belakang. Semua tim percaya, semua objek menunjukkan sinyal bahwa alien itu nyata, dan berada di luar angkasa.
  4. Berhubungan seks di luar angkasa selama ini telah menjadi pembahasan yang tabu bahkan di NASA. Namun ilmuwan dan astrofisikawan Neil DeGrasse Tyson membeberkan cara berhubungan intim di antariksa. Tyson menjawab pertanyaan fans mengenai apa-apa saja yang patut diperhatikan ketika berhubungan di ruang hampa. "Semuanya berbeda ketika kau berhubungan seks di lingkungan yang hampa. Kau perlu banyak tali. Ada beberapa orang yang mungkin sangat handal dengan benda-benda ini," ujarnya sambil tersenyum. "Kau akan mulai melihat hukum manifesto pergerakan Newton. Ketika kau mengambang di antariksa dan kau mulai mendekati seseorang dan mereka langsung terpental," sambungnya. Lebih lanjut, Tyson menjelaskan bahwa pergerakan sangat dijaga di luar angkasa. Tidak boleh ada gesekan sehingga ketika dua orang ingin dekat dengan satu sama lain, mereka harus mengenakan tali ketika berhubungan. Selama ini, NASA menyebut studi untuk topik ini dengan kode "hubungan kepercayaan" dan "standar profesional". Namun semua hal tentu akhirnya harus diteliti termasuk reproduksi. Journal of Cosmology pada 2011 menyebutkan bahwa hamil di luar angkasa membawa risiko yang tak sedikit. Dalam jurnal itu dinyatakan bahwa partikel energi tinggi yang ada di sekitar kapal hampir pasti akan mensterilkan setiap janin perempuan yang dikandung di ruang angkasa.
  5. Ingin atau pernah bercita-cita jadi astronot? NASA kabarnya akan merekrut astronot baru, yang nantinya akan dikirim untuk misi luar angkasa. Merilis pengumumannya pada Rabu (4/11/2015), agen luar angkasa AS itu mengatakan akan menerima lamaran untuk kandidat astronot mulai bulan depan. Periode penerimaan lamaran akan dibuka mulai 14 Desember 2015 mendatang, hingga pertengahan Februari 2016. Kandidat terpilih akan diumumkan sekitar pertengahan 2017. Dikutip dari Huffington Post, kandidat terpilih tersebut akan mendapat kesempatan untuk diterbangkan ke stasiun luar angkasa ISS atau, bahkan, ke Mars. Namun, sebelumnya mereka harus menjalani kelas pelatihan yang akan berlangsung selama dua tahun. "Kelompok penerus penjelajah luar angkasa AS ini nantinya akan menginspirasi kelompok penjelajah Mars dan membantu mewujudkan misi penjelajahan di planet merah itu," ucap kepala NASA, Charles Bolden. Menjadi seorang yang akan dikirim ke luar angkasa tentu bukanlah sembarang orang. Calon kandidat paling tidak memiliki gelar doktor di bidang teknik, biologi, fisika, atau matematika, serta tiga tahun pengalaman kerja yang berhubungan. "Astronot-astronot generasi baru nantinya akan meluncur dari Florida, menggunakan pesawat AS, dan melakukan misi penjelajahan di luar angkasa yang akan mendukung misi penjelajahan Mars," sebut NASA dalam pernyataannya. Soal gaji, dikatakan seorang astronot NASA biasanya menghasilkan sekitar Rp 72 juta hingga Rp 180 juta. Lowongannya bisa dilihat di laman lowongan PNS AS, yaitu di http://www.usajobs.gov.
  6. Hampir semua dari kita pasti akan berpikir bahwa sesuatu yang padat seperti sebuah bulan akan ada selamanya. Tapi Phobos, bulan Mars memiliki tanggal kedaluwarsa. Para ilmuwan baru-baru ini menyajikan sebuah teori bahwa Phobos perlahan-lahan hancur berantakan karena gravitasi Mars, dan bisa tidak ada lagi dalam 30-50 juta tahun yang akan datang. Penelitian ini dipresentasikan pada Meeting of the Division of Planetary Sciences di American Astronomical Society. Para peneliti menganggap bahwa adanya alur linear panjang di permukaan bulan adalah indikasi bahwa bulan secara perlahan akan luruh. Teori sebelumnya menyatakan bahwa garis tersebut disebabkan oleh meteorit besar yang menghantam permukaan bulan. Sekarang, para ilmuwan meyakini bahwa Phobos tidak padat, melainkan tumpukan puing dilapisi dengan lapisan tebal debu yang membuatnya tampak padat. Dalam beberapa juta tahun ke depan, bulan bisa saja hancur lebur tak bersisa. Phobos hanya mengorbit sekitar 3.700 mil di atas permukaan Mars. Itu lebih dekat daripada bulan lainnya di tata surya, dan menyebabkan Phobos tertarik 6 kaki lebih dekat ke permukaan Mars setiap abadnya. Sebagai perbandingan, bulan Bumi, yang padat, adalah 238.900 mil jauhnya. Tentu saja, satu-satunya cara untuk benar-benar memastikan apa yang terjadi dengan Phobos yaitu dengan melihat lebih dekat. Rusia berusaha untuk mengirim sebuah pesawat luar angkasa untuk Phobos pada tahun 2011, tetapi pesawat ruang angkasa Phobos-Grunt tak pernah meninggalkan orbit Bumi. Jepang berencana untuk meluncurkan pesawat luar angkasa ke Phobos sekitar 2022. Jika semua berjalan dengan baik, kita mungkin mendapatkan pemandangan Phobos lebih baik sebelum ia memenuhi kematian utamanya.
  7. Seandainya kita bisa mendengarnya, suara lubang hitam akan terdengar mirip dengan suara gemerisik dari saluran tv yang setelannya buruk. Menggunakan teleskop Hubble, astronom menemukan ada dua lubang hitam raksasa di galaksi Markarian 231. yang berjarak 600 juta tahun cahaya dari Bumi. (Space Telescope Science Institute, Baltimore, Maryland) Antariksa menyimpan sejuta misteri yang menggelitik rasa ingin tahu manusia. Salah satu obyek masih terus diselidiki hingga saat ini adalah Lubang Hitam. Lubang hitam adalah bagian dari ruang waktu yang merupakan gravitasi paling kuat. Medan gravitasi objek seperti ini sangat ekstrim sehingga untuk bisa lepas dari tarikan gravitasinya kita membutuhkan kecepatan cahaya atau bahkan lebih besar dari kecepatan cahaya untuk bisa keluar dari sana. Karena tidak ada objek yang dapat bergerak melebihi kecepatan cahaya, maka praktis tidak ada partikel apapun yang bisa lolos dari lubang hitam kalau sudah memasuki jarak tertentu dari lubang hitam. Ketika lubang hitam menyedot apapun benda disekitarnya, saat itu mungkin akan terdengar cukup berisik. Lalu, seperti apakah suara lubang hitam? Sebenarnya, karena gelombang suara tidak dapat merambat di ruang hampa seperti di luar angkasa, kita tidak dapat mendengar suara yang dihasilkan lubang hitam. Tapi, seandainya kita bisa mendengarnya, suara itu akan terdengar mirip dengan suara gemerisik dari saluran tv yang setelannya buruk. Setidaknya itulah hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances.Kesimpulan itu didapat setelah para peneliti menyoroti perilaku pertambahan ukuran cakram, yang terdiri dari kumpulan materi seperti gas dan debu kosmik di sekeliling lubang hitam. Pertambahan cakram sering digunakan sebagai alat untuk mempelajari lubang hitam, sebab tak seperti lubang hitam itu sendiri, mereka memancarkan cahaya. “Meski lubang hitam tak bisa diamati secara langsung, berkat keberadaan cakram ini kita dapat menyimpulkan seperti apa suara lubang hitam,” ujar Dr. Simone Scaringi, penulis utama. Scaringi merupakan ilmuwan di Max-Planck-Institute for Extraterrestrial Physics di Jerman. “Penting untuk disadari, bagaimana pun juga, karena di luar angkasa merupakan ruang hampa udara, tak ada suara sungguhan. Yang kami lakukan adalah mengamati variasi kecerahan dari waktu ke waktu dalam pertambahan lubang hitam. Kemudian, kami mengkonversi variasi cahaya itu ke dalam variasi suara,” jelasnya. Dengan kata lain, Scaringi dan rekan-rekannya mengobservasi pola pergeseran cahaya dari pertambahan cakram. Mereka menggunakan teleskop luar angkasa Kepler milik NASA, teleskop berbasis darat dan satelit XNM-Newton milik European Space Agency (ESA), kemudian mengubahnya menjadi gelombang suara. Misalnya, jika intensitas cahaya dari pertambahan cakram berfluktuasi 10 kali per detik, itu diubah menjadi gelombang suara 10 siklus per detik, atau 10 Hertz, seperti dilansir dariSpace.com Scaringi lantas menerjemahkan suara tersebut ke dalam rentang frekuensi yang dapat didengar manusia. Variasi yang terlihat di sistem cakram berfrekuensi sangat rendah atau sangat tinggi, tergantung dari ukuran sistem dan akan berada di luar jangkauan pendengaran manusia. “Karena itulah kami harus mengubahnya ke dalam rentang frekuensi yang dapat kita dengar,” ujar Scaringi. Para ilmuwan sangat terkejut ketika menemukan variasi kecerahan semacam itu tak hanya di cakram sekeliling lubang hitam, akan tetapi juga di sekeliling benda-benda langit lainnya, termasuk bintang katai putih dan bintang-bintang muda. "Ini adalah hasil yang benar-benar menarik," kata Dr. Christian Knigge, profesor fisika dan astronomi di University of Southampton di Inggris. Ia menambahkan,"Ini menunjukkan bahwa proses obyek astronomi tumbuh dasarnya sama, terlepas dari jenis, massa atau ukuran objek."
  8. Pada 2006, sebuah pertemuan yang diadakan oleh International Astronomical Union di Praha telah memutuskan bahwa Pluto tak lagi menjadi jajaran planet dalam tata surya. Sebuah pesawat luar angkasa milik NASA bernama New Horizon pun diterbangkan ke planet tersebut guna menyelidiki berbagai rahasia milik Pluto. Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih sembilan tahun, New Horizon akhirnya tiba di kawasan dengan jarak terdekat dari Pluto. New Horizons tiba di jarak sekira 10.000 km dari Pluto atau 27.000 km dari bulan utama milik planet tersebut, bernama Charon. New Horizons diterbangkan ke Pluto dengan tujuan untuk meneliti secara detail hubungan geologi dan kimia antara Pluto dengan bulan-bulan di sekelilingnya. Alan Stern, pemimpin penelitian New Horizon mengungkap jika Pluto nyatanya terletak lebih jauh dari jangkauan Tata Surya. "Pluto, Eris dan sahabat mereka adalah bagian dari wilayah yang belum dijelajahi oleh sebagian besar lingkungan planet kita," ujarnya. Sebagai pemimpin tim peneliti, Stern juga mengharapkan hal besar lain akan terungkap dari Pluto selama misi ini berlangsung. "Ada kemungkinan terdapat cincin yang melingkari Pluto, ada pula gunung es berapi seperti yang ditemukan oleh para astronom di bulan milik Neptunus, Triton. Tak ketinggalan, interaksi tak terduga yang mungkin terjadi antara Pluto dan Charon,” tambah Stern. Setelah Pluto, New Horizons juga akan mengeksplorasi zona yang belum dipetakan dalam Tata surya kita. Salah satunya ialah gurun beku yang terdapat di sekira Kuiper Belt Objects, wilayah tersebut merupakan kawasan daerah senja di mana tidak ada pesawat ruang angkasa yang pernah melintas sebelumnya.
  9. Sebuah gedung pencakar langit sedang dirancang perusahaan asal Kanada untuk tujuan wisata dan sains. Rancangan perusahaan Thoth Technology ini telah mendapat paten di Amerika Serikat. Jika menara tembus atmosfer ini benar-benar akan diwujudkan, para astronot tidak perlu mengandalkan pesawat ulang alik untuk menembus orbit. Ia akan memiliki lift yang mengangkut astronot ke ketinggian 20 km di atas tanah. "Pesawat antariksa dapat turun ke puncak bangunan untuk mengisi bahan bakar," kata sang perancang, Brendan Quine. Menurut perhitungan Quine, menara ini dapat menghemat 30 persen biaya perjalanan ke orbit bumi. Menara dibangun dengan bahan bertekanan rendah melalui teknologi pneumatik sehingga manusia di dalamnya tak akan mengalami dampak buruk gravitasi bumi ketika menuju ketinggian. "Jika pesawat bisa mendarat 20 kilometer di atas permukaan laut, maka perjalanan ulang alik nantinya semudah penerbangan komersial," kata Direktur Utama Thoth, Caroline Roberts. Jika benar menara ini dibangun maka ia akan menjadi revolusi perjalanan baru ke luar angkasa.
  10. Sebuah studi baru mengungkap bahwa lingkungan luar angkasa dapat menyebabkan penuaan dini pada epidermis (kulit luar). Tiga tikus yang hidup di Stasiun Luar Angkasa Internasional selama 91 hari - periode terpanjang yang pernah dihabiskan tikus di ruang angkasa - mengalami penipisan 15 persen di dermis, lapisan bawah permukaan kulit. Penulis studi mengatakan ini adalah studi pertama dari efek lingkungan minim gravitasi pada kulit hewan. Satu studi sebelumnya pada astronot manusia juga menunjukkan penipisan kulit, serta perubahan elastisitas dan penyembuhan yang berkurang, setelah enam bulan di orbit. Studi kulit astronot lain yang disebut Skin-B saat ini sedang berlangsung di laboratorium yang mengorbit. Temuannya dapat memiliki implikasi bagi kesehatan astronot di luar angkasa yang berjangka lama. Selama ini diketahui bahwa astronot di luar angkasa melaporkan mengalami kulit kering yang lebih rentan terhadap luka kecil. Itu adalah laporan teratas dari efek kesehatan yang disebabkan oleh hidup di gravitasi mikro, termasuk kehilangan tulang dan otot, perubahan penglihatan dan arteri yang kaku. Sementara banyak dari penyakit ini dapat diperbaiki sekian waktu setelah astronot kembali ke Bumi, namun ini meningkatkan kekhawatiran tentang efek kesehatan dari misi ruang angkasa jangka panjang. Eksperimen ruang angkasa yang melibatkan hewan memberikan peneliti kesempatan untuk mempelajari efek kesehatan dari gravitasi mikro dengan cara yang sering tidak dapat dilakukan dengan astronot manusia (studi pada manusia biasanya noninvasif). Program Mice Drawer System (MDS) Tissue Sharing ini mendukung 20 tim penelitian dengan organ dan jaringan dari tiga tikus yang hidup di atas stasiun yang mengorbit selama 91 hari. Sekelompok peneliti yang dipimpin oleh Betty Nusgens, seorang profesor kehormatan biologi di University of Liège di Belgia, mengambil sampel dari kulit tikus, dan menemukan penurunan 15 persen dalam ketebalan dermis. Nusgens mengatakan tingkat ini menipis lebih cepat dari apa yang biasanya terlihat pada manusia di Bumi. Nusgens mengatakan kulit yang sehat pada tikus muda (dan orang) mengalami beberapa kerusakan kolagen tua, yang kemudian diganti dengan kolagen baru. Kulit tetap sehat dan normal selama sintesis kolagen baru sama atau lebih tinggi dari perusakan kolagen tua. Di orbit, kulit tikus menunjukkan peningkatan baik dalam produksi dan kerusakan kolagen dalam dermis, dibandingkan dengan tikus di Bumi, namun dengan peningkatan yang lebih besar dalam degradasi kolagen. "Saldo akhir [kolagen] negatif, yang berarti bahwa degradasi mungkin lebih aktif daripada sintesis," kata Nusgens pada Space.com, Jumat 29 Mei 2015. "Jadi ini adalah kehilangan progresif kolagen di kulit, seperti pada orang yang menua."
  11. Istilah Bumi super merujuk pada massa planet yang lebih besar dari massa Bumi kita. Sampai dengan 20 tahun lalu, Tata Surya merupakan satu-satunya contoh sistem keplanetan di sebuah bintang. Tidak ada model lain yang bisa dijadikan pembanding. Jadi jika ada sebuah sistem keplanetan aka planet di bintang lain, maka tentunya akan memiliki model yang tidak jauh berbeda dari Tata Surya. Artinya, planet kebumian aka planet batuan yang kecil akan terbentuk di dekat bintang induk seperti halnya merkurius, Venus dan Bumi sedangkan planet gas raksasa aan terbentuk jauh dari bintang induk seperti halnya Jupiter, Saturnus dan planet es akan berada lebih jauh lagi. tentunya tak mengherankan karena temperatur sebuah sistem keplanetan akan semakin rendah jika semakin jauh dari bintang. Pada kenyataannya, penemuan planet di bintang lain aka extrasolar planet menyajikan khazanah yang baru dan berbeda bagi para astronom. Tata Surya bukan lagi satu-satunya sistem dan keberadaan planet umum terbentuk di bintang lain. Planet tidak hanya menjadi milik bintang serupa Matahari saja dan di bintang tunggal saja, planet juga terbentuk dan bertahan di sistem bintang yang lebih dari satu. Penemuan planet pertama dalam dunia extrasolar mengejutkan karena planet tersebut ditemukan di bintang yang sudah mengakhiri masa hidupnya. Planet pada pulsar. Kebangkitan extrasolar planet terjadi ketika planet pertama ditemukan di bintang serupa Matahari. Menariknya, planet tersebut merupakan planet gas raksasa yang berada sangat dekat dengan bintang induknya. Bahkan lebih dekat dari jarak Merkurius. Karena itu planet serupa Jupiter yang berada dekat bintang induknya kemudian disebut planet Jupiter panas. Ada lagi yang menarik dalam dunia exoplanet. Para astronom juga menemukan planet-planet yang seukuran Bumi maupun yang serupa Bumi. Salah satu “jenis” planet itu adalah Bumi super. Istilah Bumi super merujuk pada massa planet yang lebih besar dari massa Bumi kita, tapi masih jauh lebih kecil daripada massa planet-planet gas seperti Uranus dan Neptunus, dan tidak berkaitan dengan keadaan permukaan planet apalagi dengan kemungkinan apakah planet itu laik huni atau tidak. Planet-planet yang digolongkan sebagai planet Bumi super adalah planet yang massanya lebih besar dari Bumi sampai dengan 10 massa Bumi. Dari perjalanan penemuan exoplanet, Bumi super bukanlah planet yang jarang ditemukan di sistem extrasolar planet. Para astronom menemukan 30 – 50 % bintang serupa Matahari memiliki planet Bumi super panas, yakni planet Bumi super yang mengorbit sangat dekat dengan bintang induknya, Ada juga planet Bumi super es, yakni planet batuan dengan atmosfer tebal yang terbentuk jauh dari bintang dan kemudian bermigrasi ke area yang lebih dekat ke bintang. Uniknya, jenis planet yang satu ini tidak ditemukan di Tata Surya. Mengapa demikian, masih menjadi perdebatan dan penelitian dari para astronom. Planet Bumi super panas Pembentukan planet Bumi super panas masih menjadi misteri bagi para astronom. Ada dua teori yang dikemukakan para astronom. Teori pertama menyebutkan kalau planet Bumi super panas terbentuk sangat cepat di dekat bintang. Materi planet Bumi super berasal dari puing-puing piringan yang berada di sekitar bintang yang baru saja terbentuk. Untuk itu dibutuhkan massa yang sangat besar di dekat bintang untuk bisa membentuk planet Bumi super di dekat bintang. Teori kedua meyakini bahwa planet Bumi super terbentuk jauh dari bintang induknya dan kemudian bermigrasi ke dekat bintang induk. Dalam hal ini planet Bumi super terbentuk di area yang dingin yang disebut garis beku, batas dimana air dan senyawa kimia lainnya yang mengandung hidrogen berkondensasi menjadi es. Bagaimana dengan planet Bumi super di Tata Surya? Yang kita ketahui, tidak ada planet bBumi super di Tata Surya. Tapi apakah pernah ada planet serupa itu di masa lalu? Menelusuri kembali jejak masa lalu Tata Surya pun tidak mudah. Akan tetapi berdasarkan simulasi yang dilakukan para astronom, ada 2 model yang hampir mirip yang diajukan sebagai kemungkinan mengapa planet Bumi super tidak ada di Tata Surya. Kedua model tersebut melibatkan Jupiter yang bermigrasi menuju Matahari. Jupiter si Pembawa Masalah Pemodelan yang dilakukan Sean Raymond, dari Laboratoire d’Astrophysique de Bordeaux, Perancis menunjukan kalau planet gas raksasa seperti Jupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus lebih cepat terbentuk. Model Grand Tack aka Taktik Akbar yang ia gunakan menunjukan kalau di masa lalu Jupiter bermigrasi lebih dekat ke Matahari sampai di area orbit Mars sebelum bergerak mundur ke lokasinya sekarang. Dalam model Taktik Akbar, di masa awal pembentukan Tata Surya, Jupiter yang bermigrasi bertindak seperti sekop gravitasi yang mendorong setengah materi debu dan batuan di depannya dan menghamburkan sisa materi di belakangnya. Perjalanan Jupiter nan unik ini yang menyebabkan hanya ada sedikit materi di orbit Mars untuk membentuk planet merah tersebut. Dan ketika Jupiter bergerak mundur ke bagian luar garis beku, ia kembali menjadi sekop yang melontarkan asteroid es dan puing-puing lainnya ke bagian dalam Tata Surya. Diduga pergerakan Jupiter inilah yang menghantarkan air ke Bumi dan planet lainnya. Kunjungan Jupiter ke bagian dalam Tata Surya menjadi penyebab mengapa Bumi tidak memiliki sepupu seperti bumi super. Dari pemodelan, planet gas raksasa seperti Jupiter inilah yang menghalangi migrasi planet Bumi super untuk bermigrasi ke dekat bintang. Dalam hal Tata Surya, jika bukan karena Jupiter, planet Uranus, Neptunus dan bahkan Saturnus bisa bermigrasi ke dekat Matahari dan berakhir sebagai planet Bumi super. Lagi – Lagi Jupiter Pemodelan lainnya dan yang terbaru dilakukan oleh Konstantin Batygin, astronom dari Caltech dan Gregory Laughlin dari UC Santa Cruz. Hasil perhitungan dan simulasi keduanya memberikan gambaran kemungkinan lain bagi sejarah Tata Surya, khususnya mengapa planet kebumian memiliki massa yang lebih rendah dibanding planet yang mengitari bintang lain serupa Matahari. Hasil simulasi menunjukan Tata Surya pernah memiliki planet Bumi super sebagai planet generasi pertama yang terbentuk di sistem yang mengeliling Matahari ini. Sebelum planet Merkurius, Venus, Bumi dan Mars terbentuk, area bagian dalam Tata Surya pernah dihuni oleh sejumlah planet Bumi super. Planet-planet Bumi super ini tidak bertahan lama, hancur dan runtuh ke Matahari miliaran tahun lalu ketika Jupiter masih rajin mondar mandir ke area dekat matahari dan kemudian menjauh ke area luar. Model yang dibangun oleh Batygin dan Laughlin juga menggabungkan skenario Taktik Akbar yang juga digunakan oleh Sean Raymond. Dalam pemodelan ini, planet Bumi super diyakini sebagai planet generasi pertama yang terbentuk di sekitar Matahari. Dan Jupiter lagi-lagi menjadi penyebab utama menghilangnya Bumi super dan berkurangnya materi pembentuk planet kebumian. Ketika Tata Surya baru terbentuk, selama beberapa juta tahun Jupiter sangatlah masif dan terus menerus bermigrasi menuju Matahari dan kemudian mundur ke area yang dingin. Selama perjalanan migrasinya, pengaruh gravitasi dari Jupiter menarik semua planetesimal yang berpapasan dengannya dan membawa mereka menuju Matahari. Interaksi gravitasi antara Jupiter dan planetesimal tersebut menyebabkan orbit planetesimal menjadi sangat lonjong. Implikasinya, terjadi tabrakan antara planetesimal dengan obyek lain setidaknya sekali dalam 200 tahun. Perjalanan migrasi Jupiter inilah yang menjadi awal dari kehancuran planet Bumi super. Simulasi untuk mengetahui nasib planet Bumi super di masa Jupiter bermigrasi menunjukan planet Bumi super tidak akan bertahan. Ketika Jupiter bermigrasi, planetesimal-planetesimal yang orbitnya sudah berubah tersebut akan menggiring Bumi super yang ada dalam sistem menuju Matahari dan hancur dalam periode 20000 tahun. Proses kehancuran itu hanya akan menyisakan 10 % materi yang kemudian membentuk Merkurius, Venus, Bumi dan Mars.
  12. Satu tahun adalah waktu yang lama untuk berada di ruang angkasa, terutama persoalan kondisi fisik. Hal ini mengacu pada misi One-Year Mission yang akan dijalani oleh astronaut Amerika Serikat, Scott Kelly dan cosmonaut Rusia, Mikhail Kornienko yang sudah meluncur ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (International Space Station/ISS) dari Baikonur, Kazakhstan pada Sabtu (28/3) pukul 01.42 waktu setempat. Untuk pertama kalinya antariksawan dikirim ke luar angkasa untuk waktu yang terbilang lama, yakni satu tahun. Namun, misi ini akan memberikan hasil mengenai kondisi manusia yang berada di ruang hampa dalam kurun waktu yang lama, sekaligus sebagai bekal untuk persiapan misi ke Mars. Situs Space.com merangkum lima hal besar terkait kondisi fisik serta mental dari astronaut yang kira-kira akan terjadi selama berada di ruang nol gravitasi. Kondisi Mata Para peneliti NASA sejak lama mengetahui bahwa bentuk mata astronaut bisa berubah ketika berada di luar angkasa selama enam bulan, namun mereka belum bisa memastikan apa yang akan terjadi jika mereka menghabiskan waktu selama satu tahun. Cairan dalam tubuh bergeser saat berada di ruang mikrogravitasi dalam waktu yang lebih lama dan diyakini memengaruhi daya penglihatan karena ada tekanan intrakranial. Catatan singkat, tekanan intrakranial terjadi di dalam otak dan dapat merusak sistem saraf pusat dengan menekan struktur otak, serta membatasi aliran darah yang masuk ke dalam otak itu sendiri. Sistem kekebalan tubuh berubah? NASA akan memantau sistem imun Kelly untuk melihat apakah misi satu tahun di luar angkasa mengganggu kondisi tubuhnya. Sementara para peneliti khawatir terjadi risiko tinggi terhadap aterosklerosis atau pengerasan pembuluh darah. "Penerbangan luar angkasa mengakibatkan pengaruh negatif bagi kesehatan. Penyebabnya itu berasal dari mikrogravitasi, radiasi, ataupun isolasi dan keadaan stres," ujar ahli imunologi dari NASA, Brian Crucian. Menurut Crucian, sistem kekebalan tubuh berpotensi dipengaruhi oleh hal-hal tersebut, terutama ruang mikrogravitasi yang secara langsung bisa menghambat fungsi sel imun. Manfaatkan saudara kembar Selain kondisi kekebalan tubuh, para peneliti juga akan memantau bakteri tubuh Scott. Uniknya, mereka akan membandingkan kondisi Scott di luar angkasa dengan saudara kembarnya, Mark Kelly, yang berada di Bumi. "Kembar identik memberikan keuntungan unik," ujar salah satu peneliti, Martha Vitaterna. "Kami bisa langsung membandingkan Scott yang ada di antariksa dan saudara kembarnya di Bumi karena mereka pasangan genetik." Latihan kebugaran NASA telah merancang program latihan spesifik yang diarahkan untuk menjaga para awak tetap sehat bugar selama di luar angkasa. Ruang mikrogravitasi bisa mengakibatkan atrofi atau penyusutan jaringan otot dan saraf, serta tulang keropos. NASA akan merencanakan jadwal latihan baru selama misi satu tahun itu. "Dua penelitian akan mengevaluasi latihan dan pemantauan teknologi demi melindungi tulang dan otot, serta mengukur perubahan di sekitar pangkal paha. Area pangkal paha adalah yang paling rawan dari tulang-tulang keropos," kata Human Research Program NASA, John Charles. Mereka juga akan manfaatkan sejumlah teknologi seperti pemindai MRI dan ultrasound untuk melihat perkembangan otot. Kesehatan mental Kabarnya, Scott akan aktif menulis jurnal selama ia menjalankan misi di ISS dan akan berbagi cerita dengan sejumlah staf NASA di Bumi. Tujuannya, agar mereka mendapat pengetahuan baru tentang kondisi mentalnya. Peneliti juga akan tetap memantau kinerja astronaut saat mereka dalam keadaan lelah agar tahu perbedaannya secara mental.
  13. Astronaut Samantha Cristoforetti dari Italia merayakan Natal di Stasiun Luar Angkasa Internasional dengan mendekorasi ruang kerjanya. (NASA) Pekerjaan dan rutinitas sehari-hari memang berpotensi menyebabkan stres dan banyak pikiran. Itu adalah hal wajar. Namun, apa jadinya bagi mereka yang bekerja di luar Bumi? Dalam sebuah wawancara yang dilakukan Popular Science dengan veteran astronaut NASA, Michael Barratt, ia mengungkapkan para awak astronaut pun juga bisa dilanda perasaan stres layaknya para pekerja di Bumi. Barratt yang juga seorang spesialis medis antariksa, mengaku sumber stres yang biasa dialami para astronaut adalah ketika pengusir karbon dioksida (CO2) berhenti beroperasi dan lengan robotik yang dipasang di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) mendadak 'beku' atau berhenti saat sedang beroperasi. Namun, menurut Barratt beban kerja adalah sumber stres terbesar. "Banyak sekali yang harus dikerjakan dan kami menggunakan monitor lini masa. Saat bangun tidur, sudah ada garis merah di layar yang memberi tahu tugas kita hari itu apa saja," ungkap Barratt. Walau begitu, banyak astronaut yang segera melupakan sumber stres dan tidak memfokuskan pikiran pada beratnya tanggung jawab yang harus mereka lakukan, seperti meluncurkan 50 ribu ton bahan pembakar ke angkasa. "Biasanya kami menghadapi stres dengan cara bersama-sama menikmati makan malam, menyetel musik, bersenda gurau, mengeluh soal manajemen, hingga bercanda soal Bumi," terangnya lagi. Ia mengakui bahwa pada akhirnya para astronaut akan harus tetap menjalani apa yang sudah ditugaskan dan tertawa bersama-sama untuk menghilangkan stres. Sudah dipersiapkan di Bumi Sebelum meluncur ke luar angkasa, para astronaut nyatanya dilatih terlebih dahulu untuk menghadapi keadaan stres. "Ya, sebelum terbang, Anda harus menghabiskan seminggu di dalam air, semacam misi simulasi. Lalu menghabiskan satu hingga dua minggu untuk perjalanan backpacking di daerah yang udaranya sangat dingin. Lalu bisa juga diuji di gua Sardinia yang sangat gelap," kisah Barratt. Menurut pengakuan Barratt, uji 'nyali' seperti justru sangat menyenangkan dan menjadi persiapan yang penting, baik dari segi fisik ataupun mental. "Nanti kalian akan tahu bagaimana bekerja sama di dalam tim untuk melalui banyak bersama-sama di sana (luar angkasa)," tutupnya.
  14. Ilmuwan Jepang sukses mentransfer energi secara nirkabel lewat gelombang mikro. Terobosan tersebut memungkinkan manusia memanen listrik lewat panel surya langsung dari luar angkasa. Dalam sebuah eksperimen, ilmuwan Badan Antariksa Jepang, JAXA, berhasil mengirimkan 1,8 kilowatt energi lewat udara dengan tingkat keakuratan sejauh 55 meter. Kendati daya jangkaunya masih rendah, terobosan tersebut suatu saat nanti bisa melahirkan teknologi yang memungkinkan manusia memanen energi dalam jumlah besar di luar angkasa untuk digunakan di Bumi, kata JAXA. "Ini adalah kali pertama seseorang berhasil mengirimkan energi listrik berdaya tinggi, nyaris dua kilowatt, melalui gelombang mikro ke arah target yang kecil, dengan menggunakan piranti kontrol yang spesial." JAXA selama bertahun-tahun mengembangkan teknologi panel surya nirkabel. Panel surya di luar angkasa memiliki banyak keunggulan ketimbang saudaranya di bumi, antara lain ketersediaan sinar matahari yang nyaris tak berbatas dan tidak dipengaruhi oleh faktor cuaca. Selama ini memanen listrik dari luar angkasa via panel surya baru berupa kisah dari film fiksi ilmiah. Stasiun Luar Angkasa dan lusinan satelit memang memanfaatkan energi matahari. Tapi masalah terbesar adalah mentransfernya kembali ke Bumi. Idenya, kata juru bicara JAXA, adalah satelit berpanel surya yang mampu mentransfer energi lewat gelombang mikro dan mengorbit Bumi di ketinggian 36.000 kilometer. "Tapi butuh beberapa dekade sebelum kita bisa menyaksikan hasil praktis dari teknologi ini, mungkin pada dekade 2040-an, ujarnya. "Ada beberapa tantangan yang harus dilewati, seperti bagaimana mengirimkan struktur raksasa ke luar angkasa, bagaimana membangunnya dan bagaimana merawatnya."
  15. Enam astronaut yang sedang menjalankan misi Expedition 42 sejak November 2014 lalu memisahkan diri. Tiga di antaranya harus kembali ke Bumi. Samantha Cristoforetti, astronaut dari badan antariksa Eropa, ESA, sempat mempublikasikan detik-detik sebelum Barry "Butch" Wilmore dari NASA, Alexander Samokutyaev dan Elena Serova dari Roscosmos, Rusia menyelesaikan tugas mereka di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). "Momen terakhir kami sebagai kru #Exp42. Sangat menyenangkan bertugas di #ISS dengan orang-orang hebat ini," kicau Cristoforetti pada akun Twitternya, @AstroSamantha, Rabu (11/3) kemarin, lengkap dengan foto dengan lima awak lainnya. Ketiganya mendarat di kota Dzhezkazgan, Kazakhstan pada 11 Maret 2015 kemarin pukul 22:07 waktu bagian timur (EDT). Juru bicara NASA, Rob Navias mengatakan bahwa tempat pendaratan dilapisi oleh kabut tebal dan suhunya mencapai minus enam derajat Celsius. "Saya senang bisa kembali (ke Bumi)," ujar Wilmore sebagai komando Expedition 42, setelah berhasil keluar dari kapsul antariksa Soyuz. Selama berada di ISS 167 hari, Wlimore, Samokutyaev, dan Serova meneliti efek mikrogravitasi pada sel, observasi Bumi, serta ilmu pengetahuan seputar fisik, molekular, dan biologis. Expedition 42 memang fokus pada pengelolaan kesehatan manusia untuk perjalanan antariksa berdurasi panjang. Kini tinggal tiga astronaut yang masih mendiami ISS hingga misi ini usai pada akhir tahun 2015. Mereka adalah Cristoforetti dari ESA, Terry Virts dari NASA, dan Anton Shkaplerov dari Roscosmos. Misi selanjutnya, Expedition 43 sedang berada di tahap operasi di mana Virts menjadi komandonya. [tweet]https://twitter.com/AstroSamantha/status/575749797828780032[/tweet]
  16. NASA meluncurkan aplikasi mobile Space Station Research Explorer yang menyediakan aplikasi tentang eksperimen terkini dan hasil penelitian dari Stasiun Ruang Angkasa Internasional. Badan antariksa Amerika Serikat, National Aeronautics and Space Administration (NASA), merilis aplikasi mobile khusus untuk Stasiun Ruang Angkasa Internasional (International Space Station/ISS). Aplikasi bernama Space Station Research Explorer itu, menyediakan informasi seputar ISS seperti eksperimen terkini yang sedang berlangsung, kabar tentang fasilitas di sana, dan hasil penelitian melalui media interaktif, video, dan deskripsi secara mendalam. Space Station Research Explorer memiliki bagian informasi eksperimen yang mengandung enam kategori, diantaranya Earth and Space Science dan Technology Development and Demonstration. Kemudian pada bagian fasilitas, aplikasi ini menawarkan pengguna gambar interior ISS dan tur kecil terhadap tiga ruangan, yaitu Columbus, Kibo, dan Destiny. Aplikasi ini juga menyediakan game yang memperkenalkan para pengguna soal perbedaan gravitasi saat melempar bola. Space Station Research Explorer tersedia untuk platform Android di Google Play dan perangkat iPhone dan iPad yang bisa didapatkan di iTunes. ISS sendiri saat ini dikelola oleh 15 negara yang punya misi besar dalam bidang antariksa, termasuk Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa.
  17. Bagi warga Amerika Serikat (AS) dan negara barat lain, Desember menjadi bulan penuh perayaan karena ada Hari Raya Natal dan Tahun Baru. Gemerlap cahaya lampu menghiasi kota-kota di sana untuk memberi suasana meriah, dan cahaya lampu ini tertangkap dari ruang angkasa. Satelit Suomi National Polar yang dioperasikan oleh badan antariksa Amerika Serikat, National Aeronautics and Space Administration (NASA) dan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menangkap cahaya lampu malam yang menakjubkan dari beberapa kawasan di AS. Sinar lampu pada musim perayaan seperti sekarang meningkat 50 persen lebih banyak dan terang dibanding pada bulan-bulan lain sepanjang tahun. Hal ini juga terjadi di beberapa kota lain di seluruh dunia. Cahaya-cahaya ini ditangkap oleh komponen satelit bernama Visual Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) berhasil menangkap cahaya infra-merah yang nampak terang di seluruh negara bagian AS. Komponen itu dikembangkan oleh tim peneliti di Goddard Space Flight Center NASA dan Universitas Yale. Algoritma yang disusun oleh mereka dirancang agar bisa melihat sinar lampu tersebut berubah dari malam ke malam. Sejatinya satelit Suomi dirancang bukan untuk memantau cahaya lampu natal, melainkan untuk memelajari penutup awan, vegetasi, es, lapisan ozon, dan polusi udara pada Bumi. Satelit yang diluncurkan pada tahun 2011 ini juga berperan untuk memantau temperatur daratan, laut, dan atmosfer Bumi. Para peneliti ternyata juga sempat menangkap sinar lampu yang terang di kawasan Mesir saat bulan Ramadhan dan perayaan Idul Fitri.
  18. Sejumlah astronot mengaku banyak hal di film Gravity yang tidak sesuai kenyataan. Semenjak dirilis, film Gravity langsung menuai banyak pujian dari kritikus Hollywood yang menilai film itu terasa nyata. Namun, para astronot NASA rupanya tak memiliki pendapat yang sama. Beberapa astronot mengkritik beberapa adegan di film Gravity yang menurut mereka mustahil terjadi di dunia nyata. Bahkan ada beberapa adegan yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi di luar angkasa. Berikut lima fakta tersebut: 1. Serangan Puing-puing Satelit Tidak Mungkin Menabrak Stasiun Luar Angkasa Di Gravity, dikisahkan Dr. Ryan Stone (Sandra Bullock) dan Matt Kowalsky (George Clooney) tengah menjalani misinya saat ditabrak puing-puing satelit Rusia yang meledak. Namun faktanya, menurut astronot NASA Michael A. Interbartolo III, hal itu tak mungkin terjadi. Astronot yang memiliki pengalaman menjalani misi luar angkasa selama 11 tahun ini menjelaskan secara ilmiah bahwa pesawat luar angkasa tak mungkin ditabrak puing-puing lalu meluncur ke arah yang sama. "Saat aku melihatnya, pesawat itu ada pada level sayap (Z), sayap kanan ke dalam vektor kecepatan orbital (arah perjalanan X). Nose di Y," katanya. "Lagipula kenapa jet kontrol reaksi Forward and Aft tidak menembak untuk meredam jalannya puing-puing? Padahal kalau kulihat pesawat mereka masih utuh saat hal itu terjadi." 2. Bertemu Lagi Setelah Terpisah Tak Semudah di Film Dalam film tersebut Matt diceritakan berhasil menemukan Ryan hingga kemudian mereka mencari cara untuk menyelamatkan diri bersama. Namun, faktanya, hal itu tak mungkin terjadi di luar angkasa. Jika sudah terpisah, sangat kecil kemungkinannya dua astronot bertemu kembali, apalagi dalam waktu yang singkat. "Sandra bisa bertemu kembali dengan Geroge setelah melayang-layang di luar angkasa tanpa kendaraan apapun. Itu tak mungkin terjadi," ungkapnya. "Kecuali kalau orbit mereka secara ajaib bertemu di waktu yang sama dan mereka kebetulan di dekat stasiun luar angkasa." 3. Peralatan Matt Kowalsky Sudah Kuno Matt Kowalsky diceritakan bisa terbang ke mana pun dengan jet yang membantunya bergerak dengan leluasa. Ahli NASA, Tony Rice, mengungkapkan jet bernama MMU itu memang ada, tapi sudah tak digunakan sejak 1984. "Kau bisa melihat MMU saat ini digantung di Air and Space Museum dan Kennedy Space Center Visitor Complex," ujar Tony. "MMU hanya bisa membuat astronot sedikit bergerak di sekitar pesawat, bukan menjelajahi luar angkasa seperti yang dikisahkan dalam film itu. Selain itu, jelas sekali hal itu tak mungkin dilakukan sekarang (karena sudah kuno)." 4. Kemampuan Karakter Sandra Bullock Dinilai Tak Masuk Akal Menurut para ahli, tak mungkin seseorang yang belum terlatih bisa menerbangkan Soyuz milik Rusia, apalagi Shenzhou milik China. Selain itu, di film, Dr. Ryan Stone diceritakan selalu gagal saat latihan. "Secara mengejutkan ia bisa menjalankan dua pesawat luar angkasa dengan baik padahal dia hanya menerima latihan ringan Soyuz dan tak pernah berlatih dengan Shenzhou," tulis Jeffrey Kluger dari majalah Time. 5. Hubble, ISS, dan Stasiun Luar Angkasa Cina Tak Berdekatan. Di film, Dr. Ryan Stone hanya butuh pergi dari satu stasiun ke stasiun lainnya untuk bisa selamat dan kembali ke Bumi. Kenyataannya, stasiun-stasiun tersebut sebenarnya terletak sangat berjauhan. "Hubble dan stasiun luar angkasa ISS berada di orbit yang berbeda," ujar Dennis Overbye. "Melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain membutuhkan banyak energi yang bahkan pesawat luar angkasa dengan bahan bakar utuh tak akan bisa mencapainya. Sementara itu, sutradara Alfonso Cuaron menjawab kritikan-kritikan para ahli tersebut dengan santai. Menurutnya, Gravity bukanlah film dokumenter dan murni fiksi. "Ini memang bukan film dokumenter. Ini hanya sepotong film fiksi," Cuaron menegaskan.
  19. 10. Spons mandi untuk menjaga kebersihan diri Sementara stasiun seperti Skylab dan Mir telah dilengkapi dengan pancuran, banyak astronot mengganti spons mandi dengan menggunakan waslap atau handuk basah. Hal ini akan mengurangi jumlah air yang dikonsumsi. Setiap astronot juga akan memiliki perangkat kebersihan diri meliputi sikat gigi, pasta gigi, sampo, pisau cukur, dan perlengkapan mandi dasar lainnya. 9. Radiasi kosmik membuat anda melihat silauan saat Berkedip Menatap keluar dari kapsul ruang angkasa, astronot Apollo menyaksikan pemandangan yang manusia belum pernah lihat sebelumnya. Mereka melihat pemandangan Bumi yang biru terang. Mereka melihat Bulan begitu dekatnya. Di sisi lain mereka juga melihat kilatan cahaya aneh di dalam bola mata mereka akibat radiasi kosmik. 8. Hal yang paling sulit : Adaptasi ketika kembali dari ruang angkasa Ketika kembali ke Bumi, astronot harus beradaptasi kembali seperti pengalaman mereka pertama kali ke ruang angkasa. Ada fase adaptasi yang cukup lama untuk dibiasakan. Beberapa kosmonot Rusia telah melaporkan bahwa beberapa bulan setelah penerbangan, meraka masih sesekali melepaskan cangkir atau benda lain di udara dan bingung ketika jatuh ke lantai. Mungkin mereka masih berpikir berada di dalam kondisi tanpa gravitasi. 7. Hampir setiap atronot mengalami space sickness Dengan tidak adanya gravitasi, sistem keseimbangan dan reseptor tekanan menjadi kacau. Efeknya menyebabkan disorientasi pada tubuh. Banyak astronot tiba-tiba merasa diri mereka seperti terbalik, atau bahkan mengalami kesulitan dalam pengindraan lokasi lengan dan kaki mereka sendiri. Disorienrasi ini adalaj penyabab utama dari apa yang disebut space adaptation syndrome. 6. Hanya tiga orang yang meninggal di pesawat antariksa Para awak dari Soyuz 11, Georgi Dobrovolski, Viktor Patsayev, dan Vladislav Volkov, tewas setelah melakukan unblocking (proses memisahkan diri) dari stasiun luar angkasa Salyut 1 setelah tinggal selama tiga minggu. 5. Astronot terlama yang tinggal di pesawat selama 438 hari Rekor untuk misi terlama tinggal di pesawat antariksa dipegang oleh kosmonot Rusia, Valeri Polyakov, yang menyelesaikan 438 hari (atau 14 bulan) perjalanan dinas di dalam stasiun ruang angkasa Mir pada tahun 1955. 4. Beberapa makanan dan bumbu membutuhkan penambahan air untuk dimakan Dalam pesawat, garam dan merica tersedia, tetapi dalam bentuk cair. Hal ini karena astronot tidak menaburkan garam dan merica pada makanan mereka di luar angkasa. Garam dan merica bubuk hanya akan mengambang. Sangan berbahaya karena bisa menyumbat ventilasi udara, mencemari peralatan, atau terjebak dalam mulut, mata, atau hidung astronot. 3. Berhenti mendengkur Sebuah studi pada tahun 2001 menunjukkan bahwa astronot yang mendengkur di Bumi tertidur diam di ruang angkasa. NASA bahkan telah merekam aktivitas awak kapal yang sering mendengkur. Efek gravitasi nol dapat mengurangi kebiasaan mendengkur. 2. Anda akan tumbuh lebih tinggi Tanpa gaya gravitasi, tulang belakang anda akan berkembang dan tumbuh lebih tinggi, biasanya antara 5 cm dan 8 cm. Sayangnya, tinggi ekstra dapat membawa komplikasi, seperti sakit punggung dan saraf. 1. SATU HARI MENGALAMI 17 KALI MATAHARI TERBIT Matahari terbit dan terbenam setiap 90 menit di orbit sehingga sangat sulit untuk tidur nyenyak karena tidak adanya hari normal/siklus malam. Untuk mengatasi ini, administrator ISS (International Space Station) mengatur jadwal astronot untuk menjaga agar kegiatan mereka sesuai dengan kehidupan di Bumi. Jam onboard ISS diset ke Greenwich Mean Time (GMT). Untuk menjaga astronot tetap pada jadwalnya, mission control melakukan panggilan saat bangun tidur.
  20. Ditemukan molekul organik awal penciptaan kehidupan bumi. Setelah mendarat di komet 67P/CG, robot Philae bergerilya mengirimkan data ke badan antariksa Eropa (ESA). Robot kecil itu diklaim telah menemukan molekul organik di komet tersebut. Molekul organik itu dianggap sebagai hal yang esensial untuk kehidupan. Ini ditemukan di dekat permukaan komet tempat Philae mendarat. Dilansir The Guardian, Rabu 19 November 2014, pesawat itu harus mengirimkan bukti-bukti adanya senyawa terdiri dari karbon dan senyawa kimia hidrogen, sesaat sebelum Philae 'tertidur'. Meskipun begitu, ilmuwan masih belum bisa memastikan kebenaran jenis molekul yang ditemukan di komet 67P/Churyumov-Gerasimenko. Jika sudah bisa dipastikan, maka data tersebut akan menunjukkan kandungan kimia yang menjadi awal terbentuknya kehidupan bumi. Banyak ilmuwan yang percaya jika kehidupan awal bumi berasal dari molekul yang tersimpan di asteroid dan komet. Pasalnya, mereka juga percaya dengan teori BigBang sebagai awal terbentuknya bumi, dimana saat itu bumi bertubrukan dengan asteroid. "Molekul tersebut berhasil dideteksi berkat 'penciuman' Cosac. Itu adalah perangkat buatan DLR German Aerospace Centre. Cosac memiliki peralatan penciuman atmosfir dan mendeteksi molekul organik pertama sesaat setelah mendarat. Namun begitu, analisa untuk mengidentifikasi molekul masih terus dilakukan," demikian keterangan DLR German Aerospace Centre. Meski bisa mendapatkan data terkait molekul, upaya Cosac untuk menganalisa tanah hasil galian Philae di permukaan komet tidak berhasil. Philae sendiri telah 'tertidur' setelah bekerja selama 60 jam di komet. "Saat ini kami belum mendapatkan informasi sama sekali terkait jumlah dan berat contoh tanah tersebut," ujar Fred Goesmann, Kepala Investigasi Cosac dari Max Planck Institute untuk Penelitian Solar System. Namun begitu, mereka masih berupaya untuk menginterpretasikan hasil tersebut. Diharapkan hasilnya bisa memberi pencerahan terhadap elemen kimia yang berperan dalam kehidupan. Molekul organik, yang merupakan senyawa kimia terdiri dari karbon dan hidrogen, merupakan pembentuk dasar dari organisme yang hidup di bumi. Kandungan itu bisa berubah menjadi banyak bentuk, dari molekul kecil seperti gas metan sampai amino acid yang bisa menjadi protein.
  21. Lunar Mission One Misi eksplorasi Bulan yang dilakukan Lunar Mission One menarik minat masyarakat luas. Pasalnya, dalam misi tersebut, konsorsium asal Inggris itu melibatkan warga sipil dalam eksplorasi ke satelit alami Bumi tersebut. Dengan membayar US$100, orang-orang dapat terlibat langsung dengan memberikan DNA (foto, video, atau sehelai rambut) mereka yang disimpan di kapsul kecil. Kemudian akan dibawa oleh sebuah robot ruang angkasa dengan rancangan khusus untuk dikuburkan di permukaan Bulan. Dilansir kantor berita Reuters, Kamis 20 November 2014, tawaran dari Lunar Mission One tersebut tak disia-siakan oleh mereka yang berminat. Terbukti melalui situs Kickstarter, hingga penutupan Rabu kemarin, pendanaan yang digalang melalui situs tersebut mencapai 74 ribu pound dari target awal sekitar 600 ribu pound atau US$940 ribu dalam jangka satu bulan. Artinya, saat ini Lunar Mission One sudah mengantongi sekitar 750 orang yang telah menyatakan keterlibatan mereka dalam misi eksplorasi ke Bulan tersebut. Dengan ekspektasi yang tinggi tersebut, Lunar Mission One berharap dapat menutup total estimasi proyek yang telah mengucurkan dana sebesar 500 juta pound. Konsorsium tersebut mengatakan sebagian besar akan menggunakan strategi yang sama untuk meningkatkan pendapatan. "Pemerintah saat ini semakin sulit mendanai eksplorasi ruang angkasa. Mereka memandang kemajuan pengetahuan manusia dan pemahamannya itu bertentangan dan dana eksplorasi itu harus kembali atau balik modal," ungkap insiyur Inggris sekaligus kepala misi tersebut, David Iron. Robot ruang angkasa tersebut akan mengangkasa dengan bantuan roket komersil, Roket Falcon 9. Setelah mencapai dan mendarat di permukaan Bulan, robot tersebut akan melakukan pengeboran sedalam 100 meter, dimana setiap 15 sentimeter akan diambil untuk dianalisa. Sampel Bulan tersebut bertujuan untuk mencari informasi mengenai kemungkinan satelit alam ini jadi tempat layak huni oleh manusia di masa mendatang. Program tersebut dirancang oleh seorang insiyur sekaligus ilmuwan dari University College London yakni Brian Cox.
  22. Mesin kopi buatan Itali untuk konsumsi di luar angkasa Para astronaut di stasiun luar angkasa (ISS) bisa sedikit bersantai. Pasalnya, air minum yang mereka kini bisa lebih berwarna dan cepat saji berkat bantuan mesin pembuat kopi atau yang biasa disebut Espresso. NASA menyebutnya sebagai ISSpresso. Mesin ini memungkinkan para awak ISS untuk menyeruput kopi. Ini merupakan mesin gravitasi nol yang ikut dibawa bersama awak baru ISS beberapa hari lalu. Mesin dengan berat 20 kilogram ini dirancang oleh perusahaan pembuat kopi ternama di Itali, Lavazza. Produksinya dibuat oleh tim ahli Argotec. Perusahaan terakhir itu memang ahlinya membuat makanan untuk konsumsi luar angkasa. Itali memang memberikan kontribusi besar dalam penerbangan kali ini. Selain memberikan mesin kopi espresso, seorang astronot wanita Itali juga ikut terbang, Samantha Cristoforetti. "Dia tidak hanya menjadi astronaut wanita Itali pertama yang pergi ke luar angkasa tapi juga yang pertama membawa tren Itali ke orbit, sebuah mesin espresso asli dari negara kami," ujar kedua perusahaan itu dalam keterangannya, dikutip dari Telegraph, Selasa 25 November 2014. Perancang mesin kopi itu mengatakan jika mereka menggunakan desain kapsul luar angkasa dan bisa beroperasi di kondisi gravitasi mikro. "ISSpresso adalah pencapaian teknologi yang sesuai dengan persyaratan teknis dan keamanan yang superketat, yang diberlakukan oleh badan antariksa Itali," ujar Direktur Argotec, David Avino. Tantangan terberat dalam menciptakan mesin itu adalah bagaimana membuat cairan itu bisa mengalir dengan wajar di kondisi tanpa gravitasi. Komponen baja yang mendukung mesin itu juga harus bisa berdiri kuat melawan kondisi luar angkasa yang tanpa gravitasi. Tiga astronaut telah dikirimkan untuk bisa menggantikan kru yang lama. Terry Vits (Amerika), bersama dengan Anton Shkaplerov (Rusia) dan Samantha Cristoforetti. Ketiganya akan berada di ISS sampai Mei 2015. Tiga astronaut yang lama, Barry Wilmore (Amerika), Alexander Samokutyaev dan Elena Serova (keduanya dari Rusia) akan kembali ke bumi pada Maret nanti.
  23. Video Lengkap Tampilan Bumi dan Galaksi oleh Astrofisikawan. Setelah melihat video ini anda akan terkejut betapa kecilnya Bumi yang kita huni saat ini, bahkan ukuran anda sendiri. Bagi seorang yang religius tentunya akan berfikir betapa kecilnya manusia dibandingkan dengan Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta. Video ini diambil oleh para Kumpulan Astrofisikawan Dunia yang bergabung di The American Museum Of Natural History (AMNH) dan telah dipamerkan pada seminar “Pantauan Alam Semesta” yang bertajuk “From The Milky Ocean To An Evolving Universe” berlokasi di Musium Kesenian Rubin di Manhattan pada bulan Mei Tahun 2010. The Digital Universe, yang dikembangkan oleh American Museum of Natural History Hayden Planetarium, menggabungkan data dari puluhan organisasi di seluruh dunia untuk menciptakan atlas 3-D yang paling lengkap dan akurat dari alam semesta dari lingkungan surya lokal sampai kepada pengamatan terhadap ujung alam semesta. Video ini telah di unggah dan di perbaharui di Youtube sejak tahun 2009 dan telah disaksikan oleh 13 juta penonton hingga saat ini.
  24. Kota kecil Swedia di Arktik, Kiruna, memiliki sebuah bandara internasional dengan penerbangan reguler ke London dan Tokyo. Kini bandara tersebut berencana membuat program yang lebih besar, yaitu menawarkan penerbangan ruang angkasa komersial. Sebuah perusahaan yang didirikan pada 2007, berharap dapat melayani penerbangan pertama dalam satu dekade tersebut dari bandara Kiruna. Penerbangan angkasa tersebut nggak akan terganggu oleh lalu lintas udara yang sibuk, juga nggak akan mengganggu karena wilayah tersebut bukan wilayah yang padat penduduk. Ruang terbuka lebar di perbatasan Swedia juga membuat wilayah tersebut nggak memiliki batasan birokrasi yang harus diselesaikan dengan negara lain. Kiruna juga memiliki pengalaman selama 60 tahun dalam penelitian ruang angkasa sehingga mereka pantas mendirikan bandara ruang angkasa di sana. IRF didirikan pada 1957, sementara pusat penelitian ruang angkasa Swedia dan peluncuran roket Esrange, yang terletak di kota tersebut, didirikan pada 1966. Spaceport Swedia nggak membuat pesawat ruang angkasanya sendiri, melainkan akan berkolaborasi dengan perusahaan lain, kata Nilsdotter yang menolak untuk mengungkapkan berapa banyak pesawat yang akan dioperasikan maupun identitas perusahaan mitranya tersebut. Di Amerika Serikat, beberapa perusahaan telah mengembangkan pesawat yang mampu membawa turis ke antariksa, seperti Richard Branson dengan perusahaannya, Virgin Galactic. Penerbangan komersial luar angkasa pertama diperkirakan akan dilakukan di Amerika Serikat pada 2014 dan beberapa tahun setelah itu akan berlokasi di Swedia. Kepala penelitian luar angkasa dan situs peluncuran Esrange, Lennart Poromaa, lebih memilih untuk lebih realistis menanggapi proyek tersebut. Penerbangan ruang angkasa dapat lepas landas sebanyak empat kali sehari. Sementara Esrange baru bisa meluncurkan empat roket dalam setahun. Di Amerika Serikat, lebih dari 1.000 tiket penerbangan ruang angkasa telah dipesan, meski dijual dengan harga $200.000 (setara Rp1,93 miliar) per orang. Bagi para petualang yang nggak sabar untuk mengunjungi ruang angkasa, Spaceport Swedia sudah menawarkan penerbangan dari bandara Kiruna untuk melihat aurora, sebuah fenomena spektakuler dengan cahaya yang berwarna-warni di langit malam. Biaya yang dibutuhkan untuk perjalanan tersebut adalah $1.059 (setara Rp10 juta).
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy