Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'lion air'.



More search options

  • Pencarian Berdasarkan Tag

    Jenis tag dipisahkan dengan koma.
  • Pencarian Berdasarkan Penulis

Jenis Konten


Forum

  • NGOBAS ANSWERS
    • Pertanyaan Umum
  • MEDIA MUDA
    • Berita Muda
    • Muda Anonim
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • PELACUR
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • KOMUNITAS
    • BELA DIRI
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • NgobasTV
    • ABOUT NgobasTV
    • EVENT
    • WESER
  • Ngobas Magz
    • Ruang Meeting
    • Redaksi
    • Tentang Ngobas Magz
    • Berita Ngobas Magz
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • KEUANGAN
    • Bukan-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • GAYA HIDUP
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • TEMPAT ISTIRAHAT
    • LAPOR KOMANDAN

Blog

There are no results to display.

There are no results to display.

Categories

  • Topik Berita
  • Acara
    • Dokumentasi Event
  • Officer

Product Groups

There are no results to display.


Cari hasilnya di...

Cari hasilnya yang...


Tanggal Dibuat

  • Mulai

    End


Pembaruan Terakhir

  • Mulai

    End


Saring dari jumlah...

Joined

  • Mulai

    End


Group


Situs


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Minat

Ditemukan 6 results

  1. Kotak hitam (black box) belum ditemukan, penyelidikan soal penyebab pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 610 juga masih jauh dari kesimpulan. Namun, data satelit yang dimuat situs pemantau lalu lintas udara, FlightRadar24 dijadikan petunjuk awal terkait insiden kapal terbang yang jatuh 13 menit setelah lepas landas itu. Berdasarkan data yang diungkap FlightRadar24, sejumlah keanehan terpantau dalam pergerakan pesawat yang membawa 189 orang tersebut. Salah satunya, ketika sebuah pesawat umumnya akan naik dalam beberapa menit pertama penerbangan, Lion Air JT 610 justru mengalami penurunan 726 kaki (setara 221 meter) selama 21 detik. Ahli penerbangan Phillip Butterworth-Hayes mengatakan bahwa data tersebut tidak biasa. Apalagi, saat lepas landas seperti itu, pilot biasanya dibantu oleh kendali otomatis pesawat. "Ini tidak sesuai dengan profil penerbangan otomatis," kata Butterworth-Hayes saat mempelajari data. "Kecuali, jika sistem pesawat itu memberikan koreksi untuk sejumlah alasan." Butterworth-Hayes mengatakan bahwa mengingat pesawat yang digunakan Lion Air JT 610 baru berusia dua bulan, alasan di balik kecelakaan tersebut "sangat tidak mungkin" berasal dari kesalahan mekanis. "Pesawat terbang tidak jatuh begitu saja dari langit," katanya. "Saya tidak bisa membayangkan masalah mekanis apa pun selain kehilangan tenaga mesin yang tiba-tiba dan tidak dapat dijelaskan, atau kegagalan listrik menyeluruh. Ini jauh lebih mungkin disebabkan faktor eksternal," lanjutnya menjelaskan. Dia mengatakan bahwa masalah lingkungan bisa jadi adalah penyebabnya, misalnya ledakan mikro (microburst), atau pesawat yang menabrak sesuatu seperti kawanan burung. "Ledakan mikro sangat sulit untuk dideteksi, bisa berubah menjadi angin kencang, seperti pusaran, dan Anda tidak bisa melihatnya. Tiba-tiba pesawat tidak berfungsi sebagaimana mestinya, pilot kemudian mulai melakukan segala macam upaya pemulihan dan kemudian sudah terlambat, pesawat jatuh," jelas Butterworth-Hayes. Ditambahkan olehnya bahwa pilot Boeing 737 MAX 8 meminta izin pada air traffic controller (ATC) melakukan return to base atau kembali ke bandara asal, sekitar 22 kilometer setelah lepas landas. Namun, saat itu belum terlihat pertanda kondisi darurat.
  2. Direktur Utama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan, Agus Susanto mengungkap besaran gaji dari pilot Lion Air JT-610 yang jatuh di perairan Karawang sebesar Rp3,7 juta per bulan. Sementara Co-Pilot sebesar Rp 20 juta. "Kemudian gaji pramugari sebesar Rp3,6 juta hingga Rp3,9 juta," kata Agus, Rabu (31/10). Agus memastikan, angka itu merupakan besaran gaji yang dilaporkan Lion Air kepada instansinya. Pilot yang menerbangkan pesawat Lion Air JT-610 berasal dari India bernama Bhavye Suneja. Pihak Lion Air mengklaim Bhavye berpengalaman dengan jam terbang 6.000 jam. BPJS Ketenagakerjaan, kata dia, akan membayar besaran uang manfaat sesuai dengan slip gaji yang dilaporkan perusahaan. Artinya, sesuai dengan ketentuan, uang kematian diberikan senilai 48 x Rp3 juta, yakni sebesar Rp177 juta. Agus tak menutup kemungkinan ada praktik perusahaan memainkan angka upah karyawan dalam pelaporan ke BPJS Ketenagakerjaan. Praktik ini kerap dilakukan, kata Agus, untuk menekan beban keuangan perusahaan. Agus pun tak menampik, jika laporan gaji sebagaimana aslinya, tentu besaran uang manfaat akan lebih dari angka tersebut. "Karena perusahaan menanggung beban biaya premi dari setiap pegawai. Besarannya 5,7 persen dari upah yang diterima setiap bulan," ujarnya menegaskan. Agus mengatakan pihaknya sudah meminta Lion Air melakukan perbaikan data terkait upah yang diterima oleh setiap karyawannya. Secara bertahap, hal ini dilakukan pihak Lion Air. Namun, belum semua data diperbaiki. Sebelumnya, Pesawat dengan nomor penerbangan JT-610 milik Lion Air jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, pada Senin (29/10). Pesawat tersebut terbang dari Bandara Soekarno Hatta, Banten pukul 06.10 WIB untuk menuju Pangkal Pinang. Namun pada pukul 06.33 WIB, pesawat dilaporkan hilang kontak. Pesawat sempat meminta kembali ke landasan sebelum akhirnya hilang dari radar. Pesawat diketahui membawa total 189 orang yang terdiri atas 178 penumpang dewasa, satu anak, dan dua bayi, serta delapan awak kabin.
  3. Lion air adalah maskapai penerbangan yang berasal dari Indonesia, namun kenapa lion air dengan membawa produk kebanggan Indonesia, tapi nggak punya kualitas yang baik seperti maskapai penerbangan lainnya? Banyak yang setara dengan Lion Air, gak percaya? Tonton video videonya ndral:
  4. Masalah keterlambatan penerbangan dari maskapai Lion Air memang tengah menuai kericuhan dari berbagai pihak. Walau begitu, proses pemesanan tiket Lion Air secara online masih berjalan dengan normal dan tersedia. Proses pemesanan tiket Lion Air secara online melalui situs resmi lionair.co.id tidak mengalami masalah. Malah, masih banyak penerbangan yang tersedia seperti biasa. Seperti rute penerbangan hari ini dari Jakarta ke Surabaya, masih tersedia lima macam penerbangan sekali jalan yaitu penerbangan Lion Air dengan nomor JT696, JT592, dan JT590 serta Batik Air dengan nomor ID6586 dan ID6580. Pilihan harga tiket rute Jakarta-Surabaya tersebut juga masih tersedia secara lengkap dari mulai kelas ekonomi, bisnis, hingga harga promo, yang secara keseluruhan berkisar dari Rp 502 ribu hingga Rp 1,3 juta. Proses pemesanan secara online pun tidak ada masalah hingga tahap konfirmasi pembayaran. Tak hanya tujuan dari Jakarta ke Surabaya, beberapa penerbangan dari sejumlah kota pun masih tersedia. Dengan harga jual yang masih terbilang normal untuk pemesanan dadakan. Hingga Kamis 19 Februari 2015 kemarin, sedikitnya ada 54 jadwal penerbangan pesawat milik dua maskapai di bawah bendera Lion Group yang memunculkan tanda tanya. Beredar rumor, delay terjadi akibat aksi mogok kerja para pilot dan kru pesawat. Kericuhan akibat jadwal delay berjam-jam ini membuat penumpang Lion Air ke berbagai tujuan marah besar. Mereka sampai memblokir akses masuk Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Sumber berita: CNNIndonesia
  5. Tertundanya 54 penerbangan pesawat milik dua maskapai di bawah bendera Lion Group memunculkan tanda tanya. Beredar rumor, delay terjadi akibat aksi mogok kerja para pilot dan crew pesawat maskapai berlogo kepala singa itu. "Saya dapat kabar karena pilot dan crew mogok kerja dan demo gara-gara tidak dibayar atau apalah. Jadi bukan karena pesawat menabrak burung. Itu ditutupi oleh staf Lion Air di lokasi," ujar Nawek Aliun, penumpang pesawat Lion Air. Nawek, 33 tahun, sempat mengkonfirmasi kebenaran dari rumor tersebut kepada salah seorang staf Lion Air di terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. "Dia tidak mengiyakan dan tidak membantah, hanya senyum-senyum saja," tuturnya. Berdasarkan informasi yang disampaikan petugas, kata Nawek, tertundanya penerbangan karena tidak ada pesawat Lion Air di Bandara Seokarno-Hatta. Namun, kenyataanya berlawanan karena Nawek melihat banyak pesawat berlogo kepala singa berjejer rapi di area parkir pesawat. "Pada meja crew Lion Air di Soetta ada tulisan tertempel: Jangan tanyakan ke kami. Tanyakan pada rumput yang bergoyang," ucap Nawek membacakan. Nawek Aliun berkisah harus menunggu lebih dari tujuh jam untuk masuk ke pesawat Lion Air JT 363 rute Jakarta-Bengkulu. Pesawat JT 363 yang seharusnya berangkat pada pukul 08.00 WIB, baru terbang pada pukul 15.15 WIB. Informasi berbeda disampaikan oleh Direktur Utama Angkasa Pura II Budi Karya Sumadi. Dia menginformasikan keterlambatan terbang puluhan pesawat Lion Air dikarenakan ada pesawat yang menabrak burung. "Penyebabnya karena pesawat menabrak burung," katanya. Untuk lebih jelas, Budi menganjurkan calon penumpang pesawat mengonfirmasi ulang ke pihak maskapai, termasuk kepastian jadwal penerbangan.
  6. Bos Lion Air, Rusdi Kirana, Memulai Karirnya Dengan Sangat Sederhana, Jauh Dari Bayangan Anda! Lion Air mulai beroperasi di tahun 2000 dengan modal awal 10 juta dolar Amerika, dan ajaibnya … cuma dengan satu pesawat. Empat tahun kemudian, Lion Air melesat ke posisi kedua setelah Garuda Indonesia dalam hal jumlah penumpang terbanyak. Jika bertahun-tahun yang lalu, pesawat cuma buat orang kaya saja, maka Lion Air mengubahnya. Maskapai dengan moto We Make People Fly itu berhasil mengusung konsep penerbangan bertarif rendah / low cost carrier. Kini, siapapun bisa naik pesawat. Nah, di balik maskapai revolusioner itulah ada nama Rusdi Kirana. Belakangan ini namanya mencuat berkat kiprahnya di dunia politik. Namun sebelum itu, ia memilih untuk menjauhi pemberitaan. Penampilannya sederhana, jauh dari kesan milyuner. Ia bahkan mengaku lebih suka naik pesawat kelas ekonomi. “Terkadang itu membuat para pemasok saya tidak nyaman,” candanya. Pernah di Perancis ia disambut bak presiden. Memang, kala itu ia akan mengajukan pemesanan 234 pesawat Airbus dengan nilai total 24 miliar dolar Amerika. Tidak tanggung-tanggung, perjanjian pembelian ini disaksikan oleh kedua kepala negara adidaya, Barrack Obama dan Francois Hollande. Maka, ia disambut dengan karpet merah dan sebagainya. Alih-alih terpukau Rusdi justru mengaku ingin cepat pulang. “Saya senang berada di sini, namun saya lebih tertarik dengan perumahan yang akan saya bangun untuk para pegawai saya beserta keluarganya,” ujarnya kepada kantor berita Reuters. Lion berencana membangun perumahan bagi ratusan pegawainya di dekat daerah operasional. Hal ini adalah salah satu dari strategi mereka untuk menguasai 60% market share penerbangan di Indonesia. Cinta Ditolak Karena Tidak Punya Sepatu Puma Kesederhanaan Rusdi itu berasal dari latar belakangnya. Ia terlahir dari keluarga biasa-biasa saja. Ia bahkan masih bisa ingat rasanya pergi ke sekolah dengan perut keroncongan. Sekali waktu, cintanya juga pernah ditolak cuma gara-gara ia tidak punya sepatu Puma. Pernah Hanya Digaji 100 Ribu Rupiah Per Bulan Di kala remaja, ia mulai terjun ke dunia bisnis dengan menjual mesin tik ‘Brother’ buatan Amerika. Dari sini, ia dapat gaji $10 per bulan. Sewaktu membangun Lion Air, ia bahkan sama sekali tidak memiliki pengalaman di dunia penerbangan. Selama 13 tahun, ia dan kakaknya mengelola sebuah perusahaan ticketing bernama Lion Group. Baru pada tahun 2000, mereka beralih ke maskapai penerbangan. Melihat Peluang Lion Air Mereka melihat ada peluang yang besar disana. Kala itu, pasar untuk penerbangan bertarif rendah sangat tinggi, namun kompetisinya kosong. Orang-orang ingin terbang dengan murah, namun tidak ada yang melayaninya. Akibatnya, yang biasa naik pesawat hanyalah kaum berduit saja. Masyarakat kelas menengah ke bawah akan mengandalkan bus dan kereta jika harus bepergian ke kota lain. Kehadiran Lion Air pun mengubah semuanya. Mereka bahkan berhasil memaksa Garuda Indonesia untuk melayani pasar ini dengan mendirikan Citilink pada tahun 2001. Keberhasilan Lion Air mengantarkan Rusdi Kirana sebagai salah satu dari 50 orang terkaya di Indonesia. Pada bulan November 2013, Forbes memperkirakan kekayaannya senilai 1 miliar dolar Amerika. Dan hal ini tentu bertambah besar seiring dengan ekspansi mereka ke negara-negara tetangga. Pada bulan Maret, Malindo Airways, perusahaan gabungan mereka dengan industri penerbangan Malaysia, mulai beroperasi. Mereka juga mulai masuk di Thailand dengan Thai Lion. “Sekarang saya masih cari dia (gadis yang pernah menolaknya),” canda Rusdi. “Mau saya kirimi sepatu Puma satu truk.”
×

Important Information

Kami menggunakan cookie. Mereka tidak menakutkan, tetapi beberapa orang berpikir mereka. Terms of Use & Kebijakan Privasi