Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'kurikulum'.

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • CLINIC NGOBAS
    • Coronavirus
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • Ngocol
    • Ngocol Video
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • ABOUT NgobasTV
    • EVENT
    • WESER
    • LAPOR KOMANDAN

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Categories

  • Files
    • Website
    • Smartphone
  • Games
  • E-Book

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 2 results

  1. Negara maju tentunya tidak terlepas dari dunia pendidikan. Semakin tinggi kualitas pendidikan suatu negara, maka semakin tinggi pula kualitas sumber daya manusia yang dapat memajukan dan mengharumkan negaranya. Sebenarnya, tidak ada perbedaan antara sumber daya manusia antara negara maju dan negara berkembang, yang berbeda hanyalah cara mendidik sumber daya manusia itu sendiri. Pendidikan Indonesia sekarang memulai Kurikulum baru yaitu Kurikulum 2013 menggantikan KTSP. Kurikulum 2013 sudah diimplementasikan pada tahun pelajaran 2013/2014 pada sekolah-sekolah tertentu (terbatas). Kurikulum 2013 diluncurkan secara resmi pada tanggal 15 Juli 2013. Sesuatu yang baru tentu mempunyai perbedaan dengan yang lama. Begitu pula kurikulum 2013 mempunyai perbedaan dengan KTSP. Berikut ini adalah perbedaan kurikulum 2013 dan KTSP : 1. Kurukulum 2013 SKL (Standar Kompetensi Lulusan) ditentukan terlebih dahulu, melalui Permendikbud No 54 Tahun 2013. Setelah itu baru ditentukan Standar Isi, yang bebentuk Kerangka Dasar Kurikulum, yang dituangkan dalam Permendikbud No 67, 68, 69, dan 70 Tahun 2013 KTSP Standar Isi ditentukan terlebih dahulu melaui Permendiknas No 22 Tahun 2006. Setelah itu ditentukan SKL (Standar Kompetensi Lulusan) melalui Permendiknas No 23 Tahun 2006 2. Kurikulum 2013 Aspek kompetensi lulusan ada keseimbangan soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan KTSP lebih menekankan pada aspek pengetahuan 3. Kurikulum 2013 di jenjang SD Tematik Terpadu untuk kelas I-VI KTSP di jenjang SD Tematik Terpadu untuk kelas I-III 4. Kurikulum 2013 Jumlah jam pelajaran per minggu lebih banyak dan jumlah mata pelajaran lebih sedikit dibanding KTSP KTSP Jumlah jam pelajaran lebih sedikit dan jumlah mata pelajaran lebih banyak dibanding Kurikulum 2013 5. Kurikulum 2013 Proses pembelajaran setiap tema di jenjang SD dan semua mata pelajaran di jenjang SMP/SMA/SMK dilakukan dengan pendekatan ilmiah (saintific approach), yaitu standar proses dalam pembelajaran terdiri dari Mengamati, Menanya, Mengolah, Menyajikan, Menyimpulkan, dan Mencipta. KTSP Standar proses dalam pembelajaran terdiri dari Eksplorasi, Elaborasi, dan Konfirmasi 6. Kurikulum 2013 TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) bukan sebagai mata pelajaran, melainkan sebagai media pembelajaran KTSP TIK sebagai mata pelajaran 7. Kurikulum 2013 Standar penilaian menggunakan penilaian otentik, yaitu mengukur semua kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil. KTSP Penilaiannya lebih dominan pada aspek pengetahuan 8. Kurikulum 2013 Pramuka menjadi ekstrakuler wajib KTSP Pramuka bukan ekstrakurikuler wajib 9. Kurikulum 2013 Pemintan (Penjurusan) mulai kelas X untuk jenjang SMA/MA KTSP Penjurusan mulai kelas XI 10. Kurikulum 2013 BK lebih menekankan mengembangkan potensi siswa KTSP BK lebih pada menyelesaikan masalah siswa Itulah beberpa perbedaan Kurikulum 2013 dan KTSP. Walaupun kelihatannya terdapat perbedaan yang sangat jauh antara Kurikulum 2013 dan KTSP, namun sebenarnya terdapat kesamaan ESENSI Kurikulum 2013 dan KTSP. Misal pendekatan ilmiah (Saintific Approach) yang pada hakekatnya adalah pembelajaran berpusat pada siswa. Siswa mencari pengetahuan bukan menerima pengetahuan. Pendekatan ini mempunyai esensi yang sama dengan Pendekatan Keterampilan Proses (PKP). Masalah pendekatan sebenarnya bukan masalah kurikulum, tetapi masalah implementasi yang tidak jalan di kelas. Bisa jadi pendekatan ilmiah yang diperkenalkan di Kurikulum 2013 akan bernasib sama dengan pendekatan-pendekatan kurikulum terdahulu bila guru tidak paham dan tidak bisa menerapkannya dalam pembelajaran di kelas. Dahulu program KTSP banyak guru yang salah mengartikan apa itu KTSP. Apakah dalam KTSP seorang guru hanya memberi tugas dan nilai saja? Ataukah dalam KTSP, seorang siswa dituntut untuk bertanya apa yang tidak dimengerti dan guru tersebut akan menjelaskannya untuk siswa yang bertanya saja? Banyak siswa yang dibiarkan tidak bisa karena ia malu bertanya pada gurunya. Banyak guru yang menganggap siswa yang tidak bertanya sudah bisa. Tak sedikit pula guru yang membiarkan siswanya berperilaku seenaknya saat guru berada di kelas. Jangan salahkan siswa sepenuhnya apabila saat ulangan terjadi kecurangan karena siswa tak tahu apa yang harus mereka isi saat lembaran soal dibagikan. Bukankah guru itu sendiri yang membiarkan siswa tersebut tidak bisa dan para siswa menganggap guru itu selalu perhatian pada penanya dan menerangkan untuk penanya? Tak heran apabila banyak anggota DPR yang tertidur saat pemimpinnya sedang berbicara karena dari dulu mereka diajarkan bahwa orang yang berbicara itu bukan untuk dirinya, tetapi untuk orang yang mengajukan pertanyaan pada pemimpin tersebut. Semoga program Kurikulum 2013 yang sekarang sudah berjalan dengan baik dan tidak menjadikan siswa kesulitan dalam mendalami ilmu meskipun program Kurikulum 2013 sekarang banyak kekurangan dan siswa banyak mengeluh.
  2. Tarik-menarik dan perdebatan tentang Kurikulum 2013 telah membuka 2013 dengan amat menguras energi. Menjelang 2014 pun, dialektika tentang implementasi kurikulum baru itu masih panas. Padahal, kurikulum ibarat hanya sebuah kendaraan yang amat bergantung kepada siapa sopirnya. Perumpamaan antara kendaraan dan sopir itu muncul ketika Dewan Pendidikan Jatim mengadakan refleksi akhir tahun pendidikan pada medio Desember lalu di Batu. Dewan pendidikan dari kabupaten/kota menghadiri acara tersebut bersama kepala sekolah, pengamat, maupun media. Meski format forum lebih banyak ke regional, fokus pembahasan masalah-masalah justru lebih mengarah ke kebijakan nasional. Busur dan anak panah paling tajam membidik implementasi kurikulum baru, yakni Kurikulum 2013. Kebijakan pendidikan pada 2013, termasuk di dalamnya kurikulum baru tersebut, dinilai menghasilkan hal-hal yang paradoksial dengan tujuan utama. Misalnya, tujuan pendidikan yang semestinya mengarah pada humanisasi justru menghasilkan fabrikasi, komodifikasi dan kapitalisasi pendidikan. Ingin meningkatkan mutu, yang terjadi malah menurunkan mutu. Karena itulah, pakar pendidikan Prof. Joko Saryono menyebut tahun 2013 sebagai tahun penuh paradoks. Guru besar UNiversitas Negeri Malang itu berpendapat, salah satu penyebab paradoks tersebut adalah kecenderungan kebijakan pendidikan yang sibuk meniru dan mengadopsi pendidikan asing. Kebijakan pendidikan seperti mengikuti bayang-bayang yang tidak pernah tergapai. Berlari-lari terus, tetapi tidak mampu mengajar apa yang harus dikejar. Negara-negara lain terus bergerak maju dengan konsep pendidikan yang terus berubah. Pengambil kebijakan pendidikan Indonesia malah masih seperti remaja yang hobi otomotif. Yaitu, suka bongkar pasang onderdil. Pergantian kurikulum bertubi-tubi yang mirip bongkar pasang onderdil itu membingungkan sopirny. Yakni, guru. Mereka disodoro barang matang [sic: mungkin maksudnya belum matang] tanpa tahu cara memasaknya. Yang muncul kemudian adalah kepatuhan semu pada kurikulum yang instruktif. Guru, kepala sekolah, sampai kepala dinas pun memilih menurut meski ragu. Ganti-ganti kurikulum itu juga menunjukkan bahwa Indonesia seperti tidak punya pijakan pendidikan yang jelas. Djoko mencontohkan negara-negara Tiongkok yang kini menduduki peringkat atas dalam peringkat Programme for International Student Assessment [PISA]. Sebut saja, Hong Kong, Cina Taipei dan Singapura. Di sisi lain, negara-negara yang ekarang unggul dalam PISA, seperti Singapura, justru mengajarkan nilai-nilai pendidikan Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia. Karena itulah, kiblat pendidikan semestinya berkiblat pada diri sendiri, kekayaan tata nilai bangsa sendiri. Karena tidak mau menengok kekayaan sendiri itulah, yang terjadi malah kebingungan, harus meniru siapa. Djoko memastikan tidak ada negara yang mutu pendidikannya baik membuat kebijakan yang tiruan, penuh sulapan dan akrobatik. Ketua Dewan Pendidikan Jatim Prof. Zainudin Maliki mengajak pemangku pendidikan kembali pada substansi tujuan pendidikan menurut UU Sisdiknas. Yaitu, menjadikan manusia Indonesia takwa, cerdas, kreatif, mandiri, demokratis, berakhlak mulia, serta memiliki keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Semua pendidik selayaknya menjadikan tujuan itu sebagai starting point. Guru memulai prosesnya dengan nawaitu tersebut. Dengan tujuan itu, seharusnya pendidikan mengarahkan pada memanusiakan manusia, bukan justru dehumanisasi. Salah satu indikator memanusiakan manusia itu adalah tercapainya semua kecerdasan [multiple intelligences]. Tidak boleh lagi didikotomikan yang didahulukan adalah kecerdasan kognitif, afektif atau psikomotor. Dia mencontohkan kebijakan Ujian Nasional [uN] yang cenderung hanya membidik kecerdasan kognitif. Yang didahulukan adalah lulus UN dengan nilai baik, tetapi dengan cara licik dan tidak jujur. Karena itulah, sebenarnya harus disiapkan kurikulum yang menghasilkan anak pintar sekaligus jujur dan tulus. Zainudin berpendapat, sebenarnya Kurikulum 2013 memiliki ruang untuk itu. Sayangnya, Kurikulum 2013 terburu-buru diterapkan. Kurikulum 2013 ibarat nasi yang belum matang, tetapi sudah dimakan seolah-olah sedang kelaparan. Akibatnya, yang terjadi justru perut kembung. Di masa mendatang, Zainudin berharap pemegang kebijakan pendidikan mau terbuka menerima pikiran-pikiran alternatif yang tulus. Harus terbuka dengan temuan-temuan pikiran baru.
×
×
  • Create New...