Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'kuliah'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Calendars

  • Calendar

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Categories

  • Files
  • Games
  • E-Book

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 17 results

  1. Ontario akan mengalokasikan dana pendidikan gratis untuk mahasiswa berpenghasilan rendah. Federasi Mahasiswa Kanada menyambut baik langkah itu di era di mana mahasiswa lulus dengan utang sebanyak kredit rumah. Justin Trudeau selama masa kampanye di Ottawa, Ontario Provinsi di Kanada yang paling padat penduduknya, Ontario, menawarkan kuliah gratis bagi mahasiswa berpenghasilan rendah. Janji dalam anggaran tahun 2016-2017 pemerintah Ontario itu adalah memberi hibah untuk membayar biaya kuliah di perguruan tinggi maupun universitas bagi mahasiswa dari keluarga berpenghasilan setahun 50 ribu dolar atau kurang. Federasi Mahasiswa Kanada menyambut baik langkah itu di era di mana mahasiswa lulus dengan utang sebanyak kredit rumah. Selama ini biaya kuliah di universitas dan perguruan tinggi di Kanada jauh lebih murah daripada di Amerika. Pemerintah Ontario yang Liberal hari Kamis juga mengatakan semakin mungkin menutup defisit 4,2 milyar dolar Amerika dalam anggaran mendatang. (www.voaindonesia.com)
  2. Sally Kim mencatat di sela-sela pelajaran fisika di Columbia Independent School di Columbia, Missouri. Orang tua Kim, yang tinggal di Korea Selatan, mengirim Kim tinggal bersama saudaranya di Columbia untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Siswa internasional yang belajar di AS mencapai rekor tertinggi, tapi jumlah siswa AS yang belajar di luar negeri masih jauh di bawah angka tersebut. Data baru organisasi nirlaba Institute of International Education menunjukkan bahwa siswa internasional di AS meningkat 10 persen tahun lalu, peningkatan tertinggi dalam jangka waktu satu tahun selama lebih dari 35 tahun terakhir. Angka ini berkat semakin banyaknya siswa dari negara India yang belajar di AS dan juga dari negara China. Jumlah siswa India meningkat hingga 30 persen, kenaikan tertinggi sejak 60 tahun terakhir. Tapi jumlah siswa Amerika yang belajar di luar negeri hanya tumbuh 5 persen, dan kurang dari 2 persen siswa S1 yang belajar di luar negeri. Demi meningkatkan angka tersebut, Deplu AS akan membuka kantor baru untuk mengajak lebih banyak siswa sekolah di luar negeri. Seperti yang dilansir dari voaindonesia.com
  3. Di SMA, kita sudah merencanakan ingin kuliah di mana dan jurusan apa. Namun jika kenyataan berkata lain, apa yang harus kita lakukan? Pindah atau tetap bertahan? Beberapa ini adalah hal-hal harus dipertimbangkan dalam memutuskan pilihan: 1. Memang nyasar atau hanya shock? Kamu mungkin kaget akan lingkungan kampus dan ritme belajar cepat yang berbeda dengan SMA. Jika itu alasanmu merasa salah jurusan, maka kamu harus pikir-pikir lagi. Di manapun kuliahnya, kamu harus beradaptasi dan pasti akan ada tantangan baru. Tetapi kalau jurusan ini memang tidak sesuai dengan kemauanmu, coba tanyakan pada dirimu sendiri: Apa alasan saya memilih jurusan ini? Apa cita-cita saya? Bisakah saya meraih cita-cita tersebut melalui jurusan ini? Jika jurusan ini adalah pilihan orangtuamu, coba bicarakan lagi dengan mereka. Jelaskan kesulitanmu, tunjukkan bahwa kamu bisa mempertanggungjawabkan pilihanmu dan jelaskan rencanamu ke depan. 2. Pertimbangkan waktu dan biaya Pindah jurusan akan lebih mudah jika kamu masih berada di semester awal. Bayangkan kalau kamu sudah di semester 6, lalu tiba-tiba memutuskan untuk pindah, apakah nggak sayang waktu dan umur? Kemudian, pindah jurusan juga berarti membayar kuliah dari awal lagi. Kalau kamu tidak benar-benat yakin, lebih baik jangan nekat pindah. 3. Ilmu nggak hanya didapat di kuliah Misalnya kamu kuliah di jurusan hukum, tetapi sebenarnya ingin kuliah di jurusan seni lukis. Kamu bisa ikut komunitas seni untuk mengembangkan hobimu sehingga ketika lulus menjadi sarjana hukum nanti, kamu juga punya keahlian melukis. Dan yang tidak boleh dilupakan adalah kamu harus tetap konsultasi dengan orangtua. Jika mereka tidak merestui kamu pindah, jangan bersedih. Jurusan kuliah tidak menentukan kesuksesan seseorang. Tekuni apa yang kamu pelajari di jurusanmu dan kamu akan mendapat ilmu-ilmu baru.
  4. Hapus dari pikiran Anda bahwa kuliah di Jepang itu sulit. Membiasakan diri dengan budaya baru memang tidak bisa dihindari, tapi semua tantangan akan terbayar oleh pengalaman yang didapat. “Sebenarnya kehidupan di Tokyo tidak jauh berbeda dengan di Jakarta. Yang paling beda itu transportasi, cuaca, dan harga. Untuk mengatasi perbedaan itu ya jalani saja,” ujar Caleb Merson Hasibuan, siswa Tokyo International University. Menurut Caleb, perbedaan tersebut justru melatihnya hidup lebih mandiri. Misalnya, ia harus menyesuaikan jadwal dengan jadwal bus yang tepat waktu dan belajar cermat mengeluarkan uang karena ongkos harian di sana mahal. “Kami mengandalkan gaji kerja part time untuk biaya hidup tambahan. Mendapatkan pekerjaannya juga gampang. Kita bisa jadi kasir swalayan, koki, pelayan, dan lainnya. Bisa bahasa Jepangbasic saja sudah cukup,” tutur Caleb. Ya, pemerintah Jepang memang memberikan waktu kerja 28 jam seminggu untuk mahasiswa internasional. Rata-rata gaji per bulan biasanya digunakan untuk membayar sewa apartemen dan biaya hidup sehari-hari. Joshua Emor, mahasiswa S-1 program English Track, Tokyo International University, bertutur, kesulitan menyesuaikan diri dengan kebiasaan penduduk lokal pasti ada. Namun, tantangan itu dapat diatasi dengan beradaptasi. “Saya pikir hampir semua siswa bisa beradaptasi dengan baik. Yang terpenting itu kerajinan. Rajin dalam segala aspek sangat diperlukan di Jepang,” kata Joshua. Berbagi tips, Joshua menyarankan para calon mahasiswa internasional setidaknya mempelajari bahasa dan informasi dasar tentang negara tujuan sebelum berangkat. Termasuk, soal budaya, peraturan spesifik, dan kebutuhan dasar lain. Rata-rata kesulitan yang dialami pelajar internasional di Jepang adalah perbedaan bahasa. Meski begitu, hal tersebut tak perlu jadi alasan untuk patah semangat berangkat kuliah ke Jepang. Terlebih lagi, Pemerintah Jepang setiap tahun membuka sekolah bahasa yang bisa ditempuh selama 6 bulan sampai 2 tahun. Kelas berbahasa Inggris Alternatif lainnya, pelajar dapat memilih program kuliah dengan pengantar bahasa Inggris. Misalnya, belajar melalui program English Track (E-Track) di Tokyo International University (TIU). Program ini cenderung menghemat waktu belajar karena tidak mensyaratkan kemampuan bahasa. Meski begitu, pelajaran bahasa dan budaya Jepang tetap diajarkan sebagai mata kuliah wajib. E-Track program di TIU membuka jurusan Hubungan Internasional dan Ekonomi Bisnis. Setelah mendaftar, calon pelajar berpeluang mendapatkan beasiswa berupa potongan biaya kuliah sebesar 30 persen sampai 100 persen. Untuk tahun ini, pendaftaran dapat dilakukan pada 6-20 November 2015. Bagi yang berminat, cukup menyerahkan esai dalam bahasa Inggris, ijazah, nilai rapor, dan sertifikat kemampuan bahasa Inggris, seperti IELTS (skor minimal 5,5), TOEFL IBT (skor minimal 61) atau TOEIC (skor minimal 700). Calon mahasiswa dapat melakukan pendaftaran online di situs https://tiu.applyjapan.com. Formulir aplikasi dengan mudah dapat diunduh melalui http://www.tiu.ac.jp/english/etrack/asset/docs/Application_Guideline_2016.pdf. Konsultasi langsung juga dapat dilakukan mahasiswa dengan menghubungi PIC TIU di Jakarta (Fuji Staff) dalam bahasa Indonesia melalui telepon 021-252-3716 atau e-mail: tiu@fujistaff.co.id. Anda juga bisa berkomunikasi dengan Tokyo Office menggunakan bahasa Inggris atau Jepang lewat nomor +81-3-3362-9644 dan e-mail:etrack@tiu.ac.jp. TIU akan hadir pula dalam Education Fair Jasso yang akan diadakan pada 14 November 2015 di The Square Ballroom, Surabaya; dan pada 15 November 2015 di Jakarta Convention Center, Jakarta.
  5. Zaman kuliah memang berbeda dengan zaman SMA dimana kamu bisa memiliki kesempatan sangat besar untuk lulus bareng dengan teman-teman seangkatanmu. Kalau kamu cukup pintar dan nggak bego keterlaluan, kamu pasti bisa banget ngelewatin ujian kenaikan kelas dan ujian sekolah hingga waktu lulus tiba. Para guru pun dengan senang hati membimbingmu dengan aneka pelajaran dan les tambahan supaya kamu bisa mencapai kelulusan dengan sempurna. Sedangkan saat kuliah kamu dituntut untuk mandiri dengan tekad dan semangatmu sendiri untuk lulus tepat waktu. Kapan kamu lulus pun kamu sendiri yang menentukan, karena gak semua mahasiswa seangkatan bakal lulus bareng di waktu yang sama. Berbeda dengan jaman SMA yang membantu muridnya untuk lulus tepat waktu, dosen-dosen di kuliah justru sebaliknya, Terkadang mereka malah membebani mahasiswa dengan tugas-tugas serta proses skripsi yang lama. Dosen sering sulit ditemui saat akan bimbingan dan segala tetek bengeknya sehingga waktu kuliah pun tak kunjung selesai. Dan kecepatan lulus kuliah juga dipengaruhi oleh jurusan apa yang kamu ambil karena tiap jurusan tentu berbeda-beda level kesulitan untuk lulusnya. Ada jurusan yang cepat dan gampang lulus, tapi ada juga jurusan tertentu yang memiliki level kesulitan sangat tinggi sehingga para mahasiswanya pun harus rela bergelar mahasiswa abadi selama jangka waktu tertentu. Nah ini dia 4 jurusan yang dinilai paling sulit untuk lulus dan bagi kamu yang memilih jurusan ini tentu harus bersiap-siap lulus dalam waktu yang tak bisa ditentukan. 1. Sastra Kamu yang memutuskan untuk memilih jurusan ini kayaknya harus siap-siap lulus lama deh, karena meskipun jurusan ini tampak disepelekan namun nggak semua orang cocok dan berkompeten masuk ke jurusan ini. Hanya orang-orang tertentu yang benar-benar mencintai sastra yang bisa dan siap masuk jurusan ini. Saling cintanya sama sastra, mereka bahkan gak ingin cepat-cepat meninggalkan bangku kuliah lantaran udah pewe banget kuliah di sastra. Itulah mengapa banyak lulusan sastra yang masih saling terhubung satu dengan yang lainnya meskipun udah lulus sekalipun. 2. Kedokteran Kalau jurusan ini sih nggak usah ditanya! Hampir semua orang mengamini bahwa kedokteran merupakan jurusan kuliah yang paling sulit ditempuh. Selain karena materinya susah, ada prakteknya juga yang para dosennya pun nggak bisa sembarangan meluluskan mahasiswanya kalau dia nggak bener-bener udah mahir. Kodokteran bakalan berhubungan langsung sama nyawa seseorang, jadi nggak bisa main-main, lulusannya pun harus teruji. 3. Jurnalistik Kuliah jurusan jurnalistik atau televisi jangan dikira gampang lho! Meskipun tampak sepele, namun kamu harus bener-bener punya passion dan kreatif kalau mau terjun di bidang ini, Kalau skill dan passion nggak ada, kamu bakalan kalah saing banget sama mahasiswa jurnalistik lain diluar sana. Terlebih jika kampus kamu termasuk kampus yang mengandalkan teori, jelas kamu harus magang di tempat lain supaya banyak pengalaman. Dan kegiatan magang ini lumayan menyita waktu, tenaga, dan juga biaya tentunya. kamu harus berada di banyak tempat dengan segudang aktivitas mencari informasi yang faktual dan aktual. So, pengalaman yang banyak akan memperkaya intelektualitasmu dalam dunia jurnalistik. Ini tentunya akan memperlama masa kuliahmu secara akademis. 4. Teknik Informatika Jurusan yang identik dengan pemrograman komputer ini tentunya jangan dianggap sepele. Emangnya kamu pikir kuliah di jurusan ini sangat gampang? Biasanya tugas akhir dari jurusan Teknik Informatika adalah membuat sebuah program yang tidak hanya untuk di ujikan dalam sidang kelulusan, tapi juga implementasi pada kehidupan nyata. Apakah program yang dibuat benar-benar bermanfaat untuk masyarakat. Nah, kebayang nggak proses pembuatan program yang ngejelimet dan juga yang berurusan dengan komputer terus-terusan? Belum lagi kalau komputer error dan berbagai faktor “X” lainnya yang menghantui. Jadi kamu butuh waktu yang lama untuk mempersiapkan semuanya di meja sidang atau kamu bakal digoreng sama dosen penguji! Itu dia 4 jurusan kuliah yang dinilai paling lama lulus. Tapi semua itu balik lagi ke diri sendiri, karena dimana ada kemauan pasti ada jalan. Selama kamu yakin bakal bisa lulus kuliah dan sukses, pilh 4 jurusan itu nggak ada masalah!
  6. Hei, mahasiswa baru! Pasti senang, dong, nggak usah pakai seragam lagi? Di masa ini, kamu akan terbebas dari jadwal teratur pergi pagi pulang sore seperti yang kamu lakukan selama 3 tahun terakhir. Ini adalah masa dimana kamu bebas mengatur waktu untuk kuliah, main dengan teman, dan belajar. Tapi biasanya mentang-mentang sudah bisa lebih bebas, mahasiswa jadi suka nyantai, nih. Bukan soal irama belajarnya saja yang jadi kendur, tingkat kesopanan juga jadi tidak diperhatikan. Apalagi sekarang tidak lagi diajar guru, yang sudah pasti akan menskors kamu kalau bersikap tidak sepantasnya di lingkungan sekolah. Tapi… kata siapa kamu nggak akan diultimatum dosen langsung dapat E? Meski secara langsung mereka tidak terlibat dalam masalah mendrop out mahasiswa, tapi kalau kamu ada dibad side-nya mereka, siapa tahu? Apalagi kalau ternyata kamu kayak mahasiwa-mahasiswa berikut: Kapan Bapak Bisa Temui Saya? Udah nilainya K, minta dosennya buat bertamu pula. Mahasiswa macam ini minta dilempar kuda lumping! Bapak di Mana? Dengan Siapa? Berbuat Apa? Ini maksudnya lagi nyekil Bapaknya atau gimana, nih? Kami Nunggu di Kelas (Padahal di Kosan) Judulnya sih mahasiswa, tapi siapa coba yang nggak senang kalau dosennya tidak ngajar? Saking malasnya, mahasiswa selalu menggunakan akal bulus untuk memastikan kelas dibuka atau tidak. Apa kamu termasuk yang seperti ini? Email Saja Pak, Irit Kertas Mahasiswa zaman sekarang, terutama yang masih baru, nih, sukanya yang instan. Makan enaknya mie instan, mandi juga instan karena sudah telat kuliah, teknologi juga pilih yang instan. Padahal siapa tahu dosen kamu berkacamata minus 20. Jadi jangan pertanyakan kalau diminta pakai kertas, ya. Yang Penting Kan Buat Tugas, Paaaak Zaman Mama dan Papa kita kuliah, presensi tidak dipertanyakan, yang penting mengumpulkan tugas dan selalu ikut ujian. Memangnya kamu mau hidup di zaman purba? Sekarang kuliah jauh lebih mudah karena berbagai fasilitas dan tingkat kesulitannya jauh dibandingkan ketika orangtua kita kuliah. Masa masih mau ngotot minta dipermudah lagi? Jadi, wahai mahasiswa, apa kamu masih mau melakukan hal-hal seperti itu? Bagikan ke temanmu supaya mereka tidak di-DO!
  7. Waktu itu saya pernah di tanya oleh adik tingkat saya yang baru saja masuk di Universitas saya. Dia bertanya, "Kak, prospek kerja jurusan kita apa ya?". Saya dengan gampang menjawab "saya tidak tahu". Jujur saja, saya kuliah bukan karena ingin mencari kerja, atau sengaja mengambil jurusan saya saat ini sebagai batu loncatan saya dalam mencari kerja. Saya kuliah karena saya ingin kuliah. Hanya ingin mencari pengalaman. Banyak orang beranggapan bahwa kuliah itu semacam alat untuk mempermudah mereka dalam mencari pekerjaan, agar mereka bisa mengalahkan mereka yang tidak kuliah. Hal semacam itu memang tidak dapat disalahkan. Karena memang banyak perusahaan saat ini menggunakan standar pendidikan, yang bahkan minimal S1. Tentu saja orang berbondong-bondong untuk kuliah karena mengejar pekerjaan, karena takut tidak bisa bersaing dengan mereka yang telah berpendidikan lebih tinggi. Pada akhirnya pendidikan hanya sebagai alat untuk mempermudah mereka saja, tanpa memahami makna dan manfaat sebenarnya dari pendidikan tersebut. Padahal pada zaman dahulu, saat pendidikan sangat susah untuk diperoleh, pendidikan merupakan sarana untuk mendapatkan ilmu. Orang-orang berusaha untuk mendapatkan pendidikan agar tidak tertinggal, dari mereka yang telah mendahului mereka dalam mendapatkan pendidikan. Contohnya saja, para nenek moyang kita, pada saat zaman penjajahan Belanda, berjuang dengan susah payah untuk bisa bersekolah di sekolah-sekolah para kolonial Belanda. Mereka tidak dituntut untuk mendapatkan pendidikan agar dapat bekerja. Tapi sebagian besar dari mereka mencari pendidikan untuk sekedar memuaskan rasa ingin tahu. Memang pada saat itu belum ada standar minimum pendidikan untuk melamar pekerjaan. Namun tetap saja, mereka kan belajar atas kemauan mereka sendiri, tanpa ada tuntutan apapun. Saya secara pribadi pun menempuh pendidikan saya sampai saat ini hanya karena "rasa ingin tahu" saya yang begitu besar. Saya hanya belajar karena saya ingin tahu. Apapun itu. Saya bahkan tidak pernah memikirkan kemana saya nanti akan bekerja (mohon jangan ditiru). Saya hanya memikirkan sejauh mana pendidikan tersebut dapat memuaskan rasa ingin tahu saya. Kalau ditanya mengapa saya mengambil jurusan saya saat ini (yaitu Sosiologi), jawabnya "Saya Tidak Tahu". Saya hanya sekedar ingin mencari pengalaman, mendapatkan pendidikan, mendapatkan teman, membentuk kepribadian, hidup mandiri, dan lain-lain, yang meurut saya itu lebih penting dari pada merisaukan kemana, atau seperti apa, pekerjaan yang akan kita dapat dari kuliah tersebut. Saya yakin, meskipun saya tidak melakukan penelitian secara langsung, 80% mahasiswa saat ini, atau bahkan di Kampus saya, lebih merisaukan ke mana pendidikan mereka itu dapat membantu mereka dalam mendapatkan pekerjaan, daripada merisaukan mampukah saya memiliki pengetahuan lebih banyak lagi. Orang yang berada di pihak yang menempuh pendidikan untuk mendapatkan pekerjaan akan membela diri seperti ini, "Kita kan butuh pendidikan minimal S1 untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, agar bisa mendapat penghasilan tetap, dan tentunya akan hidup bahagia dengan kecukupan tersebut, tentu saja pendidikan itu untuk mendapat pekerjaan, jangan munafik-lah". Saya mengakui bahwa pindidikan memang alat untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Namun bukan berarti itulah inti dari manfaat pendidikan. Masih sangat banyak manfaat yang bisa kita ambil dari pendidikan tersebut, jurusan apapun yang anda ambil. Pendidikan itu lebih dari sekedar alat untuk mendapatkan uang, namun lebih dari itu, pendidikan bisa membuka pikiran kita dari ketidak tahuan kita mengenai apapun yang terjadi di dunia ini, agar kita tidak menjadi orang yang buta di tengah keluasan dan ketidak terbatasan pengetahuan di dunia ini. Kalau masalah pekerjaan, itu tergantung dari anda bisa atau tidaknya menggunakan dan memanfaatkan pengetahuan yang telah diperoleh untuk mendapatkan pekerjaan yang kita inginkan.
  8. Kisah seorang ibu bernama Dawn Faizey ini menunjukkan kepada dunia bahwa di mana ada kemauan dan tekad yang keras, maka halangan seberat apapun bisa diatasi. Dengan kondisi yang nyaris lumpuh seluruh tubuh ia tetap mampu menyelesaikan pendidikannya sampai tingkat sarjana. Dawn Faizey yang terkena serangan stroke pada tahun 2003 yang mengakibat sebagian besar tubuhnya lumpuh ini mampu menyelesaikan ujian yang diberikan kepadanya. Memang tiap ujian ia membutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu tiga minggu. Namun ingat, ia melakukannya dengan kondisi lumpuh dan menjawab pertanyaan yang ditanyakan dalam ujian tersebut dengan mengedip. Dawn Faizey memang hanya bisa berkomunikasi dengan menggunakan matanya dan juga dengan menggerakkan sedikit kepalanya saja, namun ia menunjukkan kepada dunia bahwa ia mampu menyelesaikan kuliahnya di jurusan Ilmu Sejarah Purbakala dalam waktu sekitar 6 tahun. Tidak cukup hanya gelar sarjana, karena rencananya Dawn Faizey akan melanjutkan pendidikannya sampai mendapat gelar master. Sungguh semangat yang patut ditiru oleh kita semua.
  9. Walau dengan keterbatasan fisik, Usep, anak seorang petani ini adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik jurusan kesejahteraan sosial Universitas Padjajaran (Unpad). Usep memang mantap ingin merubah nasib keluarganya yang miskin dan tidak ingin hidup hanya dengan menjadi buruh tani saja. Usep yang memang terlahir tanpa dua tangan yang sempurna dan hanya memiliki satu kaki ini mampu mengenyam pendidikan di pergutuan tinggi di kampus yang memang ia cita-citakan sejak masih kecil. Dengan segala keterbatasan fisiknya, sampai semester VI, ia mampu meraih IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) yang sangat baik, 3,5. Saat lulus SMA, Usep sempat merasa bingung untuk melanjutkan pendidikannya atau tidak karena keluarganya mengaku tidak mampu membiayai kuliah dan mereka menyarankan agar ia membantu orangtuanya saja di Cianjur yang bekerja sebagai buruh tani. Karena sudah bertekad untuk terus melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, dengan modal 200 ribu yang diberi orangtuanya sebagai hadiah lulus SMA, ia memberanikan diri membeli formulir SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Ia yakin akan lulus ujian tertulis ini walaupun memiliki keterbatasan fisik. Ternyata tekad dan usaha Usep tidak sia-sia, ia diterima di FISIP Unpad. Namun kabar tersebut masih membuat orangtuanya bimbang karena mereka masih dibebankan uang kuliah. Kemudian Usep berusaha memohon bantuan ke Unpad untuk membebaskan uang kuliah dan pihak Unpad mengabulkannya namun hanya selama satu semester. Mendapat kesempatan emas tersebut, Usep kemudian membuktikan dirinya layak kuliah di Unpad dan pada akhirnya pihak Unpad mendaftarkan dirinya di program beasiswa Bidikmisi. Usep sedikit berpesan kepada mereka yang memiliki keterbatasan fisik agar tidak menjadikan kekurangan fisik menjadi sebuah alasan untuk menyerah. Apapun kondisi tubuh kita kita harus tetap berusaha melakukan yang terbaik.
  10. Kegiatan kuliah tambahan di gereja Aceh ini menimbulkan kontroversi. Seorang dosen di Banda Aceh menuai kontroversi di media sosial setelah mengajak para mahasiswi melakukan kuliah lapangan di gereja. Dosen IAIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh, Rosnida Sari, mengajak para mahasiswanya melakukan Studi Gender dalam Islam ke satu gereja Katolik. Banyak kecaman dan kritikan yang muncul melalui Facebook dan akun Rosnida sendiri saat ini telah dicabut. Rosnida sendiri belum berhasil dihubungi BBC Indonesia namun sejumlah laporan di Aceh menyebutkan ia menolak untuk berkomentar. Sejumlah komentar yang masuk antara lain menyebutkan agar pihak terkait "memperketat kuliah belajar di lapangan." Uzair, seorang wartawan senior di Banda Aceh, mengatakan "orang tidak melihat konteks secara keseluruhan bahwa ini terkait dengan kegiatan akademik." "Ini perkuliahan biasa. Di kampus, studi tentang perbandingan agama biasa dilakukan. Dosen ini dihujat karena membawa mahasiswa mendengar nara sumber seorang pendeta di gereja. Padahal di tempat lain orang ada juga yang salat di gereja," tambahnya. Kelompok 44 LSM yang menyebut diri Masyarakat Sipil Indonesia mendesak Presiden Joko Widodo untuk memberikan perlindungan "kepada salah satu warganya (Dr.Rosnida Sari) yang saat ini dalam ancaman baik dirinya maupun keluarganya."
  11. Dengan lebih dari 300 institusi pendidikan tinggi yang tersebar di seluruh negeri, Jerman memiliki kepadatan universitas yang tidak ada tandingannya di seluruh dunia. Wajar ya kalau banyak yang ingin kuliah di Jerman karena banyak institusi pilihannya. Tapi sebelum kamu nentuin mau nerusin belajar di Jerman atau tidak, baca dulu ya informasi ini ya. Dalam Perjanjian Bologna 1999, salah satu isinya adalah semua negara EU akan mengkonversi sistem pendidikan tingginya menjadi 3 jenjang, yaitu Bachelor-Master-Doktor. Disepakati pula bahwa Bachelor (dengan waktu tempuh 3-4 tahun) adalah gelar kesarjanaan pertama yang diberikan oleh Universitas, dimana pemilik gelar tersebut diyakini telah siap memasuki dunia kerja. Program pendidikan Master adalah pendidikan lanjutan setelah bachelor dan diberikan selama 2 tahun. Nah, untuk kita yang mau belajar di Jerman perlu memperhatikan bahasa sebagai persyaratan. Bahasa Jerman mutlak diperlukan karena komunikasi sehari-hari bisa dikatakan 100% menggunakan Bahasa Jerman. Bahasa Inggris memang bisa digunakan, tetapi bagaimanapun Bahasa Jerman tidak bisa ditinggalkan, paling tidak untuk berkomunikasi sehari-hari. Tanpa penguasaan Bahasa Jerman yang memadai, kehidupan sehari-hari akan terasa sulit dan dikhawatirkan bisa mempengaruhi prestasi belajar nantinya. Selain itu ada proses anerkennung. Anerkennung adalah proses persamaan Ijazah Indonesia dengan Jerman. Tidak ada patokan pasti untuk itu, karena setiap universitas memiliki otonomi dan kewenangan sendiri-sendiri. Hasilnya akan sangat tergantung dari prestasi nilai, universitas asal tempat calon mahasiswa memperoleh gelar kesarjanaan tersebut dan universitas mana yang akan dituju untuk melanjutkan belajar. Akan tetapi biasanya sarjana S1 Indonesia akan disetarakan dengan Vordiplom Jerman, dan kepadanya langsung bisa mengikuti pendidikan Diplom mulai semester 5 atau 6. Beberapa universitas Jerman bahkan memberikan kesempatan kepada sang calon untuk mengikuti 2-3 mata ujian dan kalau lulus langsung disetarakan dengan Diplom Jerman. Nah, bagi calon mahasiswa yang telah memiliki gelar S1 dari Indonesia, mereka mempunyai pilihan untuk memilih Diplom atau Master. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Berbeda dengan di Indonesia dan sistem 3 jenjang (Sarjana-Magister-Doktor), sampai saat ini Jerman masih ada yang menganut pendidikan tinggi dengan dua jenjang, yaitu Diplom (Dipl.) dan Doktor (Dr). Dalam jenjang Diplom ini, pada tahun-tahun pertama mahasiswa diwajibkan mengikuti serangkaian mata kuliah dasar (dikenal dengan nama Grundstudium). Setelah menyelesaikan semua mata kuliah di Grundstudium mahasiswa diberi sertifikat Vordiplom, akan tetapi sertifikat ini bukanlah gelar kesarjanaan. Setelah mendapatkan Vordiplom, barulah mahasiswa diijinkan mengambil mata kuliah keahlian pada level yang lebih tinggi (dikenal dengan Hauptstudium). Setelah menyelesaikan semua mata kuliah Hauptstudium, mahasiswa bisa menulis tugas akhir (dikenal dengan nama Diplomarbeit) sebagai syarat untuk mendapatkan titel Diplom. Jadi, Diplom adalah gelar resmi pertama yang diperoleh setelah seseorang menyelesaikan studinya di UNI atau FH. Diplom UNI dan FH pun memiliki beberapa perbedaan. Diplom FH bisa diselesaikan dalam waktu kurang lebih 4,5 tahun sedangkan Diplom UNI baru bisa diselesaikan dalam waktu kurang lebih 5 tahun. Diplom FH memiliki muatan terapan yang lebih besar (60% perkuliahan) dibandingkan dengan Diplom UNI (40% perkuliahan). Diplom FH tidak dirancang sepenuhnya untuk melanjutkan studi ke jenjang Doktor. Apabila pemegang Diplom FH ingin melanjutkan ke program Doktor, maka yang bersangkutan harus mengikuti proses persamaan terlebih dahulu. Dalam tahap ini, mahasiswa diwajibkan mengikuti serangkaian mata kuliah pada level Hauptstudium. Bisa juga ia mengikuti program Master lagi sebelum melanjutkan ke program Doktor. Sebaliknya, pemilik gelar Diplom UNI bisa langsung melanjutkan studi ke jenjang Doktor. Selain itu program Diplom 100% masih menggunakan Bahasa Jerman sehingga tingkat kesulitan bahasa bisa dikatakan sangat tinggi.
  12. Siapa yang gak kenal dengan band U2? Band yang beranggotakan Bono, The Edge, Adam Clayton dan Larry Mullen berasal dari Irlandia. Buat pada fans U2 pasti berminat donk belajar di negara asal band favoritnya ini, siapa tau bisa ketemu langsung dengan mereka. Dan di EHEF tahun ini ada beberapa kampus dari Irlandia lho. Yuk kita kenalan sedikit dengan mereka. Anggap saja pembukaan sebelum ketemu langsung dengan perwakilannya di EHEF nanti. University Griffith College Sejak berdiri pada tahun 1974, dengan kampus di Dublin, Cork dan Limerick, Griffith College menjadi institusi pendidikan tinggi terbesar yang independen di Irlandia dengan populasi siswa sekitar 7.000 dengan 1.400 siswa asing dari lebih dari 77 negara. Universitas ini menyediakan jurusan Akuntansi, Bisnis, Komputasi Sains, Jurnalisme, Media, Produksi TV, Produksi Film, Desain, Fashion, Musik dan Drama. Selain itu, kampus Griffith adalah promotor aktif dari Proses Bologna. Proses Bologna merupakan proses reformasi Eropa bertujuan untuk menciptakan Kawasan Pendidikan Tinggi Eropa yang pada nantinya meningkatkan transparansi antara sistem pendidikan tinggi, serta menerapkan alat untuk memfasilitasi pengakuan derajat dan kualifikasi akademik, mobilitas, dan pertukaran antara lembaga di seluruh Eropa. Kampus Griffith juga menawarkan berbagai peluang menarik untuk membayar biaya studi mahasiswa luar negeri untuk program semester atau selama setahun di kampus bersejarah di Dublin. Biasanya, Studi siswa Abroad mengambil 4-5 modul selama satu semester ketika mereka belajar di perguruan tinggi Griffith. University College Dublin (UCD) Di kampus ini terdapat fakultas humaniora, ilmu sosial, ilmu pengetahuan dan pertanian. Beberapa fakultas dilengkapi dengan program kelas dunia profesional di bidang kedokteran, kedokteran hewan, teknik, hukum dan bisnis (termasuk Sekolah UCD Smurfit – sekolah bisnis terkemuka Irlandia). Sejak didirikan pada tahun 1854 oleh John Henry Newman, lebih dari 160 tahun tradisi, UCD sekarang menjadi universitas riset terkemuka di Eropa. UCD dan lulusannya telah memainkan peran yang tak tertandingi dalam pengembangan Irlandia yang modern. Hal ini dengan banyaknya tokoh terkemuka Irlandia dalam bidang politik, seni, olahraga dan tokoh-tokoh profesional lainnya yang menjadi alumi. Contoh saja James Joyce, lulusan paling terkenal dari UCD. Kampus ini besar dengan lebih dari 30.000 siswa. Untuk siswa internasional tersedia penawaran pilihan akomodasi yang luas dan aman dengan keamanan 24 jam. Sebanyak 25% dari semua mahasiswa pascasarjana Irlandia belajar di UCD. Athlone Institute of Technology (AIT) Terletak di jantung Irlandia, Athlone Institute of Technology (AIT) menawarkan siswa pendidikan dengan fokus pada terjun langsung pada realita sehingga siswa memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dicari oleh perusahaan. Sejumlah besar program AIT ini memiliki magang atau penempatan praktek, yang memberikan siswa kesempatan yang ideal untuk mempraktekkan materi yang mereka pelajari di ruang kuliah, sekaligus membangun hubungan dengan perusahaan. Orientasi profesional ini tertanam di semua fakultas, melalui penempatan, pekerjaan proyek dan fokus penelitian terapan. AIT menawarkan lebih dari 100 program penuh waktu dari dua tahun program sub-derajat sampai PhD, di empat fakultasnya; humaniora, teknik dan ilmu pengetahuan. Lulusan AIT menikmati prospek karir yang sangat baik setelah mereka lulus. Menurut survei pasca sarjana terbaru saja, hanya 13% dari lulusan yang mencari pekerjaan enam bulan setelah menyelesaikan studi mereka. Terdapat lebih dari mahasiswa dengan 50 kebangsaan yang berbeda memanggil AIT rumah. Hal ini karena keajaiban kecil mengingat sambutan pribadi yang mereka terima dan perhatian yang diberikan pada semua siswa sehingga mereka menerima pendidikan yang terbaik.
  13. Kuliah memiliki banyak tujuan. Ada yang ingin mencari ilmu setinggi mungkin, agar punya gelar, atau untuk menaikkan posisi tawar saat mencari kerja. Namun tahukah kamu bahwa nggak semua jurusan yang ada di bangku kuliah membuat ‘nilai’ pencari kerja meningkat? Jadi nggak semua jurusan mampu ‘membayar’ kembali saat lulus, kayak daftar yang dibuat oleh PayScale. Situs ini memaparkan jurusan yang lulusannya digaji dengan nilai paling tinggi di Amerika Serikat. Uniknya, jurusan kedokteran nggak masuk dalam daftar 13 besar. Begitu juga dengan ilmu sosial, nggak ada yang masuk dalam daftar ini. Jadi, jurusan apa aja yang paling menghasilkan gaji tinggi? Berikut pemaparannya. 1. Jurusan Teknik Perminyakan Lulusan jurusan ini yang memiliki pengalaman kerja dua tahun (atau disebut PayScale sebagai pemula), rata-rata dibayar USD97.900 atau setara dengan Rp828,9 juta per tahun. Sementara yang sudah pengalaman selama 15 tahun (mid-career), dibayar USD155 ribu atau setara dengan Rp1,3 miliar per tahun. 2. Jurusan Teknik Kimia Tingkat pemula jurusan ini rata-rata dibayar USD64.500 atau setara dengan Rp546 juta per tahun. Sementara mid-carrer rata-rata dibayar USD109 ribu atau setara dengan Rp922,9 juta per tahun. 3. Teknik Listrik Lulusan teknik listrik yang pemula rata-rata dibayar USD61.300 atau setara dengan Rp519 juta per tahun. Sementara yang mid-career dibayar USD103 ribu atau setara dengan Rp872,1 juta per tahun. 4. Material Science Lulusan jurusan ini dibayar rata-rata USD60.400 atau setara dengan Rp511,4 juta per tahun (untuk pemula) dan USD103 ribu (Rp872 juta) per tahun untuk tingkat mid-career. 5. Teknik Penerbangan Lulusan jurusan ini dibayar rata-rata USD60.700 atau setara dengan Rp513,9 juta per tahun (untuk pemula) dan USD102 ribu atau setara dengan Rp863,6 juta per tahun (untuk mid-career). 6. Teknik Komputer Untuk lulusan pemula, rata-rata dibayar USD61.800 atau setara dengan Rp523,3 juta per tahun. Sementara yang mid-career dibayar USD101 ribu atau setara dengan Rp855,2 juta per tahun. 7. Ilmu Fisika Lulusan jurusan ini yang pemula rata-rata dibayar USD49.800 (Rp421,6 juta) per tahun sementara untuk yang mid-career dibayar USD101 ribu (Rp855,2 juta) per tahun. 8. Matematika Terapan Lulusan jurusan ini rata-rata dibayar USD52.600 (Rp445,4 juta) per tahun untuk pemula. Sementara untuk mid-career rata-rata dibayar USD98.600 (Rp834,8 juta) per tahun. 9. Ilmu Komputer Untuk pemula lulusan jurusan ini, rata-rata dibayar USD56.600 (Rp479,3 juta) per tahun. Sementara yang mid-career rata-rata dibayar USD97.900 (Rp829 juta) per tahun. 10. Teknik Nuklir Lulusan pemula rata-rata dibayar USD65.100 (Rp551,2 juta) per tahun. Sementara untuk yang mid-career rata-rata dibayar USD97.800 (Rp828,1 juta) per tahun. 11. Teknik Biomedical Lulusan jurusan ini yang pemula rata-rata dibayar USD53.800 (Rp455,5 juta) per tahun. Sementara mid-career rata-rata dibayar USD97.800 (Rp828 juta). 12. Ekonomi Untuk pemula, rata-rata dibayar USD47.300 (Rp400 juta lebih) sementara yang mid-career dibayar USD94.700 (Rp801 juta lebih) per tahun. 13. Teknik Mesin Lulusan pemula jurusan ini rata-rata dibayar USD58.400 (Rp494 juta lebih) per tahun sementara yang mid-career dibayar USD94.500 (Rp800 juta lebih) per tahun.
  14. Untuk waktu sekarang jurusan kuliah IPA memang sangat difavoritkan di sekolah-sekolah negeri maupun swasta, karena banyak pilihan jurusan ketika mereka lulus dan melanjutkan ke perguruan tinggi, jurusan kuliah ipa juga katanya bisa mempunyai prospek cerah, untuk menambah wawasan anda, coba baca ini 7 jurusan kuliah yang menjanjikan dimasa depan. Memilih jurusan kuliah IPA yang tepat haruslah dilakukan untuk anda yang akan menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di sebuah universitas atau perguruan tinggi. Jika salah memillih dan itu tidak sesuai dengan minat dan bakat anda mungkin bisa jadi bencana tersendiri, entah itu waktu kuliah yang akan memakan waktu lama ataupun yang extreme nya bisa DO (drop Out) tidak lulus kuliah. Dan dari admin kali ini, ingin membagikan tips serta saran sebagai pijakan bagi anda yang akan menjadi mahasiswa ataupun wali orang tua agar dapat memilih jurusan kuliah IPA yang tepat bagi anaknya. Perlu diketahui Universitas adalah murni tentang diri Anda. Memilih lah Program studi atau Jurusan Kuliah yang tepat Anda minati dan tanpa ada paksaan keluarga. 68 PASSING GRADE JURUSAN KULIAH IPA Saat masa SMA, kamu telah melakukannya dengan sangat baik untuk mata pelajaran fisika dan cenderung menikmati akan suatu ilmu listrik, memilih teknik elektro di universitas adalah hal yang baik. Jika Anda benar-benar menikmati biologi atau kimia, maka dapat mengambil jurusan untuk obat, ilmu kedokteran, farmasi, optometri, fisioterapi atau ilmu kedokteran hewan. Ada banyak kemungkinan dan pilihan, masing-masing dengan tujuan yang berbeda dalam pikiran calon mahasiswa tersebut. Dan berikut ini adalah kumpulan lengkap untuk jurusan kuliah IPA yang menjamin Masa Depan serta universitas ternama yang ada didalamnya. Silahkan disimak untuk daftar Universitas, Jurusan dan passing gradenya. Teknik Informatika – ITB (65,9%) Teknik Elektro – ITB (62,5%) Teknik Kimia – ITB (61,8%) Pendidikan Dokter – UI (59,8%) Teknik Informatika – ITS (59,5%) Pendidikan Dokter – UGM (59,3%) Teknik Industri – ITB (58,8%) Teknik Elektro – UI (58,6%) Pendidikan Dokter – UNAIR (58,6%) Farmasi – UI (58,4%) Pendidikan Dokter – UNPAD (58%) Teknik Elektro – ITS (57,7%) Pendidikan Dokter – UNDIP (57,5%) Teknik Kimia/TGP – UI (57,4%) Farmasi – ITB (57,4%) Teknik Elektro – UGM (57,4%) Teknik kimia – ITS (56,6%) Ilmu Komputer – UGM (56,5%) Pendidikan Dokter – UNSRI (56,5%) Teknik Perminyakan – ITB (55,2%) Teknik Fisika – ITB (55,1%) Pendidikan Dokter – UNBRAW (55,1%) Teknik Lingkungan – ITB (54,8%) Teknik Kimia – UGM (54,8%) Matematika – ITB (54,6%) Teknik Pertambangan – ITB (54,2%) Teknik Elektro – UNDIP (54,1%) Teknik Industri – UI (54%) Teknik Industri – ITS (53,8%) Farmasi – UNAIR (53,8%) Teknik Mesin – ITB (53,4%) Teknik Penerbangan – ITB (52,9%) Teknik Industri – UNDIP (52,9%) Teknik Elektro – UNBRAW (52,9%) Ilmu Komputer – UI (52,8%) Teknik Lingkungan – ITS (52,4%) Pendidikan Dokter – USU (52,1%) Teknik Mesin – UI (52%) Farmasi – UNPAD (51,5%) Teknik Mesin – ITS (51,5%) Arsitektur – UGM (51,4%) Teknik Mesin – UGM (51,4%) Pendidikan Dokter Gigi – UI (51,2%) Pendidikan Dokter – UAND (50,6%) Arsitektur – ITB (50,3%) Teknik Planologi – ITB (50,1%) Pendidikan Dokter Gigi – UGM (50%) Pendidikan Dokter – UNHAS (50%) Teknik Material – ITB (49,2%) Arsitektur – UNDIP (49,2%) Kimia – ITB (49,1%) Pendidikan Dokter Gigi – UNAIR (49%) Teknik Sipil – ITB (48,7) Teknik Elektro – UNUD (48,5%) Biologi – ITB (47,8%) Teknik Geologi – ITB (47,8%) Pendidikan Dokter Gigi – UNPAD (47,8%) Teknik Mesin – UNDIP (47,8%) Psikologi – UNPAD (47,7%) Teknik Metalurgi dan Material – UI (47,4%) Sistem Informasi – ITS (47,4%) Arsitektur – UI (47,2%) Statistika – UNPAD (47,2%) Biologi – UGM (47,2%) Arsitektur – UNBRAW (47,1%) Ini hanya sekedar gambaran dan bahan rujukan saja , karena pasti akan ada hal dan pertimbangan lain, seperti Di ITB itu penjurusan dilakukan pada tahun kedua (tahun pertama masih di Fakultas) jadi tidak akan ada di buku SNMPTN pilihan jurusan Teknik informatika atau Teknik elektro tapi STEI (Sekolah Tinggi Elektronika dan Informatika). Meskipun lulusan jurusan IPA bisa memilih jurusan IPS juga, sebagai anak murni lulusan IPS tidak perlu berkecil hati. Justru sebenarnya lulusan IPS yang benar-benar memiliki nilai lebih di ilmu sosial akan lebih bisa mengikuti kuliah yang diberikan saat di perguruan tinggi karena telah memiliki bekal dasar ilmu sosial saat duduk di bangku SMA.
  15. Kuliah di luar negeri tidak selamanya membawakan masa depan yang cerah seperti yang dimimpikan, pada dasarnya pribadi seseorang lah yang menentukan apakah ia akan sukses atau gagal. Tempat kuliah merupakan salah satu faktor kecil yang membawa pada kesuksesan tersebut. Berikut adalah beberapa tips jika anda ingin kuliah di dalam negeri. Pilih jurusan sesuai minat Pilih kampus yang sudah terakreditasi baik Pilih jurusan di kampus tersebut minimal akreditasinya ‘B’ Pastikan ini adalah pilihan terbaik dalam hidup anda Cintai kampus dan almameter yang anda gunakan Jika anda telah berpikir matang maka kuliah di mana pun akan terasa sama, hanya saja harus di tekuni dengan baik. Walaupun kuliah di universitas terbaik di dunia jika tidak ada niat untuk maju maka akan sangat sulit menjadi sukses. Masa depan anda, andalah yang menentukannya, Selamat berjuang!
  16. Setelah melaksanakan ujian nasional tingkat SMA seluruh siswa tentu memikirkan untuk menempuh jenjang pendidikan di bangku kuliah. Tak ayal berbagai informasi mengenai jurusan, kampus, dan lokasi menjadi santapan setiap hari selain masukkan dari berbagai pihak. Tidak hanya membandingkan pendidikan di dalam negeri, universitas luar negeri pun memiliki minat yang cukup besar bagi calon mahasiswa. Karena lulusan luar negeri menjadi primadona saat ini, namun di luar itu semua kelebihan kuliah di dalam negeri sebenarnya cukup banyak yang harus kita perhatikan, jadi tidak perlu bersusah payah di luar negeri. Namun hal yang terpenting adalah memilih jurusan kuliah yang tepat. Kelebihan kuliah di dalam negeri patut untuk di pertimbangkan sebelum memutuskan untuk pergi keluar negeri menempuh pendidikan, berikut adalah daftarnya. 1. Biaya Sudah tentu dari sisi biaya akan sangat hemat di bandingkan kuliah di luar negeri, terlebih jika budget anda pas-pasan. Terlebih jika biaya untuk pendidikan anda terbatas. Kuliah di luar ngeri membutuhkan budget yang cukup tinggi, seperti tempat tinggal, dan konversi mata uang Rupiah yang cukup kecil, di bandingkan dengan negara lain. 2. Kualitas Jika membandingkan pendidikan negara maju seperti Amerika, Jepang, Singapore, dan bahkan Malaysia, Indonesia memang dapat dikatakan tertinggal. Namun Indonesia juga memiliki beberapa kampus/universitas andalan yang memiliki kualitas sangat baik seperti UI, UGM, ITB, IPB, dan beberapa kampus lainnya. Jika bicara kualitas, tentu anda dapat mempertimbangkan kampus tersebut karena jurusan di perguruan tinggi tersebut juga sangat lengkap dan beberapa di antaranya jurusan kuliah favorit di Indonesia. 3. Bahasa Dari segi bahasa tentu memiliki perbedaan dengan Indonesia, mungkin bahasa internasional “Inggris” adalah salah satu pilihan dalam menentukan tempat kuliah. Walaupun bahasa Inggris tentu kita memiliki keterbatasan dalam pemahaman bahasa global ini secara terperinci. Mungkin bagi yang TOEFL yang sudah di atas 600 ini tidak menjadi masalah, namun bagi anda yang bahasa inggrisnya pas-pasan ini akan sangat mengganggu kinerja serta pemahaman saat kuliah nanti. 4. Keluarga Keluarga merupakan harta yang paling berharga, kebersamaan dengan keluarga merupakan hal yang terindah. Kuliah di dalam negeri tentu akan lebih dekat dari keluarga, jika anda tidak siap berpisah jauh dengan keluarga, sebaiknya pertimbangkan hal ini sebelum mengganggu konsentrasi. 5. Bekerja Sambil Kuliah Bekerja sambil kuliah merupakan salah satu cara untuk mempercepat kemajuan diri sendiri, kelebihan kuliah di dalam negeri akan lebih memungkinkan untuk melakukan hal ini. Dengan bekerja sambil kuliah, seseorang akan ditempa untuk lebih kuat menghadapi persaingan setelah lulus nanti dan memahami cara menjadi orang sukses setelah lulus nantinya. 6. Lingkungan Lingkungan merupakan faktor utama yang menentukan pola hidup dan kebiasaan seseorang. Kuliah di luar negeri membutuhkan sosialisasi dan adaptasi terhadap lingkungan sekitar agar dapat menyesuaikan diri. 7. Cuaca Faktor yang satu ini mungkin hanya terjadi jika kuliah di kawasan barat seperti Amerika, Rusia, dan beberapa negara asia seperti Jepang dan China. Cuaca setiap negara tentu berbeda, jika perbedaannya sangat ekstrim tentu anda di tuntut untuk mempersiapkan fisik yang prima agar tidak mudah terserang penyakit.
  17. Memang apa sih kerennya jadi mahasiswa? Kamu pikir kamu keren kalau jadi mahasiswa? Dengan jas almamater yang heroik kamu jadi bisa kembali ke sekolah kamu dan berkata, “saya sekarang mahasiswa UNAIR loh” atau “ini nih lihat jaket kuning UI gw”. Okey, itu memang salah satu bagian menyenangkan yang bisa dibanggakan, tapi kalo udah bangga, kamu mau apa? Apa yang kamu dapatkan dari kebanggaan tersebut? ‘seneng aja’ ‘kepuasaan batin’ ‘yah keren aja sih’ Ada lagi kah ? Kamu udah yakin dengan pilihan jurusan dan kampus kamu? Sudah sesuai dengan panggilan jiwa belum? Atau kamui masih bohong sama diri kamu? ‘iya saya sudah yakin kok sama pilihan saya’ ‘ah masa sih?, yakin? Itu kok muka masih belum pede tampaknya’ ‘ya dibuat yakin dong, kan sudah keterima’ ‘bener nih gak nyesel?’ ‘emang ada pilihan lain kah?’ Kamu sudah jadi mahasiswa nih sekarang, lalu kamu mau jadikan titel kamu nanti untuk apa? Mau dijadikan apa titel yang kamu raih? Sobat, kata rektor saya dulu, biaya standar untuk seorang sarjana teknik adalah Rp.28.000.000 setiap semesternya. Jumlah yang yang gak kecil loh, coba saya tanya berapa biaya kuliah? Dulu saya di Itb 1.850.000 per semesternya. Kabarnya sekarang sudah mencapai hingga 5 juta rupiah per semesternya. Okelah kita pakai standar sekarang saja, dan dengan asumsi biaya sarjananya tetap. Dengan asumsi ini saja saya bisa mengatakan kalau dalam satu semester, minimal kita sudah memiliki hutang 23 juta per semesternya. Hutang? Pasti banyak yang bertanya, itu hutang ke siapa? Hutangnya ke Rakyat Indonesia kawan. Mereka yang bayar pajak itu telah mensubsidi kuliah kamu, khususnya buat kamu yang kuliah di kampus negeri. Pendidikan yang berkualitas itu hakekatnya memang mahal, pertanyaannya siapa yang akan menanggung biaya pendidikan tersebut? Dalam kasus Indonesia, rakyatlah yang juga dibebankan untuk membiayai kuliah kita. Saat pertama kali masuk ITB beberapa tahun yang lalu, seorang alumni yang sangat senior berbicara dalam sebuah sesi seminar. “untuk masuk ITB, perbandingan tingkat kompetisinya adalah 1 banding 20. Artinya ketika kamu bahagia karena telah masuk ITB, ada 19 anak muda Indonesia lain yang menangis kecewa karena gagal diterima di ITB. Kamu kuliah di subsidi oleh rakyat, maka untuk membalas budi pengorbanan uang yang telah rakyat berikan, kamu minimal harus bisa kasih makan ke 76 orang lainnya. Darimana angka 76 tersebut? Kita asumsikan 19 orang tersebut menikah dan memiliki dua anak saja, maka itu berarti 19 dikali 4 yaitu 76 orang” Kata-kata tersebut selalu terngiang di benak saya hingga saat ini, saya selalu berpikir dan mencari jalan bagaimana bisa membuka kesempatan menambah penghasilan bagi 76 orang. Tentu bukan hanya dengan membuka lapangan kerja dengan menjadi entrepreneur, banyak cara untuk bisa berbagi seperti dengan aktivitas sosial. Bagaimanapun caranya, itulah yang perlu kita sama-sama pikirkan. Bahwa kamu jadi mahasiswa itu tidak mudah dan tidak bisa asal-asalan. Kamu perlu tanya ke diri kamu, “saya mau berkontribusi apa selama jadi mahasiswa dan setelah lulus untuk negeri ini? Karena kuliah kamu bukan hanya menyangkut diri kamu, tetapi juga ratusan juta rakyat Indonesia di masa kini dan masa depan. Mahasiswa seringkali disebut sebagai unsur perbaikan negara, ya benar adanya kalimat tersebut. Karena ditangan mahasiswa yang nantinya akan masuk ke dunia nyata lah negeri ini bergantung harapan. Kamu kuliah, kamu termasuk dalam 18% rakyat Indonesia usia 18-23 tahun yang beruntung bisa menikmati bangku di perguruan tinggi. Jumlahnya tidak sampai 4.5 juta saja mahasiswa itu. Maka renungkanlah nasih 78% rakyat Indonesia lainnya yang Karena kamu itu mahasiswa, ada kata MAHA di depan siswa. Maha itu identik dengan tidak terbatas dan tidak pernah habis. Perlu di ingat, bahwa penggunaan kata MAHA itu identik dengan sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan (e.g Maha Pengasih,dan Maha Penyayang). Menariknya bahasa Inggris nya dari Mahasiswa adalah student, atau terkadang ditambahkan College Student. Bahasa arabnya mahasiswa adalah thulabiy, sama dengan siswa. Mereka tidak menggunakan terminologi Great Student atau AkbaruThulabiy sebagai kata ganti mahasiswa. Hanya di Indonesia yang menggunakan pola kata seperti ini. Kenapa? Karena ada sebuah harapan khusus bagi mahasiswa Indonesia untuk bisa memiliki karakter seorang MahaSiswa, seorang yang tidak pernah terbatas hasratnya untuk bisa menuntut ilmu. Dalam sebuah lirik lagu perjuangan kampus yang berjudul “Kampusku”, sang pengubah lagu menuliskan seperti ini; Berjuta Rakyat Menanti Tanganmu Mereka Lapar dan Bau Keringat Kusampaikan Salam Salam Perjuangan Kami Semua Cinta Indonesia Tapi kamu juga jangan terlalu Geer dulu dengan segala sanjungan untuk mahasiswa, itu gak sekeren itu kok, kadang malah cuma klise belaka. Saya malah berpikir terlalu banyak pujian untuk seorang yang menyandang label mahasiswa. Padahal jadi mahasiswa gak sekeren itu kok, apa sih mahasiswa? Belajar males, kajian kebangsaan cuek, demo di jalan gak mau, kegiatan pengembangan masyarakat juga gak peduli, bahkan fokus pada kompetensinya saja juga enggan. Apa sih mahasiswa itu? Cuma mampu mejeng dengan tampang keren, sok bawa mobil ke kampus padahal uang orang tua. Bergaya sana sini, ganti pacar tiap bulan, gak nyimak dosen di kelas, ke kampus dandannya udah seperti mau ke resepsi pernikahan. Ngapain sih tuh mahasiswa? Selama empat tahun di kampus akhirnya gak aplikasi ilmunya, berpikir gimana ngasih makan dirinya saja, lupa kalau dia di bayarin rakyat saat kuliah, jadi manusia hedon yang lupa kalau masih banyak rakyat yang lapar dan bau keringat. Ah mahasiswa, apa pentingnya? Cuma bisa kritik keadaan negeri tanpa mau berpikir apa yang bisa ia lakukan untuk negerinya. Hanya ribut diantara mahasiswa, bakar ban dan akhirnya rakyat lagi yang kembali menderita. HEI KAMU YANG MENGAKU MAHASISWA ! Coba sekarang saya tanya buat kamu yang mau lulus kuliah, buat apa sih kamu kuliah? Abis kuliah mau kemana? ‘ikutin aja kemana angin membawa’ ‘yah kita lihat nantilah gimana abis wisuda’ ‘mau kerja dulu deh, sambil mikir mau ngapain setelahnya’ Umm. Okey, tidak ada yang salah dengan kalimat-kalimat tersebut. Tetapi kalimat-kalimat ini menandakan masih banyak diantara mahasiswa dan alumni muda yang bahkan tidak tau mau ngapain setelah lulus. Helloooo!!! Dimana #panggilanjiwa kamu kawan? Masih belum berjumpakah dengan #panggilanjiwa kamu itu? Atau bahkan kamu tidak berusaha mencarinya? Sobat,apakah dunia kampus belum cukup untuk kamu dalam mem-#bangunmimpi? Butuh berapa lama lagi untuk kamu agar bisa menemukan dan merencanakan mimpi besar kamu sobat? Atau jangan jangan kamu lebih nyaman dalam ketidakpastian mimpi kamu? Mereka yang tidak punya mimpi akan terjebak pada kegalauan hidup, dan bila kegalauan hidup menemani mereka maka ketidakpastian akan menjadi sahabat, dan akhirnya berujung pada ketidakjelasan manfaat hidup itu sendiri. APA KONTRIBUSI KAMU UNTUK NEGERI? Percuma saja kamu kuliah kalau ternyata pilihan jurusannya bukan yang kamu minati, bohong dengan #panggilanjiwa hanya untuk mengejar titel di kampus negeri saja. Hidup itu bukan sekedar titel kamu di dapat dimana, tetapi kamu mau berbuat apa dengan titel tersebut untuk kebaikan dan kebermanfaatan. Kamu pikir jadi alumni dari kampus beken itu terjamin masa depannya kawan? Saya justru banyak kenal teman, senior, dan junior saya di kampus yang luntang-luntung gak jelas karena penuh kegalauan dalam menatap masa depan. Mereka tidak membangun karakter diri selama jadi mahasiswa. Akibatnya? Hidup segan, Mati enggan. Lantas, apa yang bisa dibanggakan ketika setelah lulus hanya menjadi sekrup kapitalis yang menghambakan diri pada uang dan rela ketika sumber daya negeri ini dikeruk untuk kepentingan asing semata. Apa kalian lupa kalau kalian kuliah disubsidi oleh negara? Uang rakyat itu kawan? Hasil pajak mereka yang berharap negeri ini lebih baik. Buat saya, percuma belajar mati-matian masuk perguruan tinggi kalau ujung-ujungnya hanya memetingkan isi perut belaka dan tidak mampu berkontribusi untuk bangsa. Sayang banget kawan, bila 4-5 atau bahkan 6 tahun kuliah pada akhirnya hanya menjadi perusak negeri, yang serakah atas kebutuhan dunia. Atau lebih sadis lagi mereka para koruptor yang menghabiskan hidup untuk merusak moral sosial bangsa. Seharusnya mereka mereka inilah yang di klaim oleh Malaysia bukan budaya Indonesia. Rakyat negeri ini membiayai kamu kuliah bukan hanya untuk mendapatkan IPK Cum Laude atau terancam Cum Laude. Yakin nih yang IPK nya 4.00 itu benar-benar cerdas? Jangan-jangan mereka cuma seorang robot yang jago menyelesaikan soal ujian, tetapi gamang dalam menghadapi soal kehidupan. Kamu kuliah di kampus teknik, jadilah teknokrat yang visioner. Kuliah di fakultas hukum, jadilah advokat yang adil. Belajar di jurusan ekonomi, maka jadilah ekonom yang bijak. Atau bila kamu kuliah di kampus pertanian, bangunlah negeri ini dengan ilmu pertanian yang kamu miliki, jangan mangkir dari kompetensi dan malah berpikir untuk menjadi bankir. Kuliah itu mahal kawan, setau saya di UI sudah Rp.25.000.000, di ITB bahkan ada yang mencapai Rp.50.000.000. Biaya per semester juga sudah semakin besar, lalu apa yang kamu cari setelah lulus? Hanya bekerja sebagai pegawai kah pilihan hidup kamu? Masih banyak anak muda Indonesia yang tidak kuliah. Atau alumni kampus yang katanya beken dan akhirnya memilih untuk bersaing dalam job fair dengan alumni kampus yang katanya ga beken? Gak malu ya sobat? Yuk kita berpikir #beda , jangan berpikir “mau kerja di perusahaan apa”, melainkan “mau buka lapangan kerja dimana ya” Saya sering bilang ke mahasiswa ITB, buat apa kamu bangga masuk ITB kalau hanya bisa jadi mahasiswa KUPU KUPU alias kuliah pulang kuliah pulang. Mending kamu sekalian aja pulang ke rumah orang tua kamu. Karena kita kuliah bukan hanya untuk mengejar nilai, kita kuliah untuk menikmati proses pembelajaran diri dalam setiap kesempatan. Malu lah pakai jaket kuning UI yang katanya keren itu kalau gak peka sama isu sosial masyarakat, hanya mengenal kuliah-kafe-mall saja. Helloo kawan, itu jaket kuning lambang perjuangan, apa kontribusi kamu untuk negara. Kalau kamu sudah berkontribusi untuk negeri, barulah boleh sedikit bangga dengan jaket kuning kamu sobat! Atau mahasiswa UGM yang terkenal dengan jaket warna karun goni, itu warna kerakyatan, maka segen saya lihat mahasiswa UGM kalau melihat dan memikirkan realita rakyat aja gak mau. Jaket mu itu bukti pengorbanan sobat! Malu lah gw jadi mahasiswa kalau sepanjang masa kuliahnya gak pernah demo di jalan Ah capeklah kuliah itu kalau hanya mengejar Nilai tetapi anti sosial, menjadi manusia robot yang bangga jadi sekrup kapitalis. Buat kamu yang baru lulus SNMPTN atau segala bentuk ujian masuk perguruan tinggi lainnya. Berani janji kontribusi apa selama jadi mahasiswa? Atau udah cukup bangga dengan label mahasiswa? Masuk jurusan kedokteran kampus beken, tetapi gak mau praktek di daerah terpencil, hanya mau jadi dokter di kota. Hmm percuma deh, di kota di daerah daerah aja masih kekurangan dokter, di kota dokter menumpuk. Hmm mendingan mundur deh. Ayolah kawan! Kita MAHAsiswa, ada kata Maha di depan siswa, masa masih sama sama aja konsep berpikirnya dengan mereka yang tidak sekolah. Malu la kita sama tukang bakso yang bisa punya 3 pegawai, mereka yang tidak kuliah aja bisa ngasih makan orang lain, lah mahasiswa? Bangun Idealisme itu kawan, sejak mahasiswa, kesempatan terakhir untuk membangun idealisme itu ada di kampus. Setelah lulus, kalian akan menikmati dunia nyata yang sangat kejam dan pragmatis. Hidup itu bukan hanya tentang duit, duit, dan DUIT. Mahasiswa itu #beda! Yuk kita bangun konsep berpikir yang dewasa. Jangan bangga ke kampus pakai mobil orang tua untuk mejeng sana sini dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar, manja dalam belajar serta lemah karakter. Percuma nanti di hari wisuda, para alumni itu hanya menambah daftar pengangguran negeri ini, buat apa kamu kuliah sobat? Sobat, mari kita maknai dengan #bijak kenapa kita harus kuliah. Ini bukan hanya sekedar mengikuti kebiasaan banyak orang. Tetapi ini tentang upaya membuat diri kita lebih mampu berkontribusi untuk pembangunan bangsa. Sobat, kamu mau berkontribusi apa selama kuliah?
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy