Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'kuku'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 2 results

  1. Kebiasaan menggigit kuku banyak dialami remaja. Kebiasaan itu dapat menghancurkan tangan, tidak higienis dan bisa menyakitkan jika Anda melakukannya terlalu berlebihan. Lalu mengapa orang melakukannya? Tom Stafford yang juga suka menggigit kuku, menginvestigasinya. Apa yang menjadi persamaan dari Mantan Perdana Menteri Gordon Brown, Jackie Onassis, Britney Spears dan saya? Kami semua sekarang (atau dulu) menggigit kuku. Itu bukan kebiasaan yang saya banggakan. Itu sangat menjijikan bagi orang lain yang melihatnya, merusak penampilan tangan saya, mungkin tidak higenis dan kadang-kadang menyakitkan jika terlalu jauh melakukannya. Saya telah seringkali berupaya menghentikannya, tetapi tak pernah bisa. Akhirnya saya bertanya-tanya apa yang membuat seseorang menjadi seorang penggigit kuku yang sulit berubah seperti saya. Apakah kami memiliki niat yang kurang? Lebih karena gangguan neurotik? Kelaparan? Mungkin, dalam sebuah laporan hasil riset psikologis bisa jadi ada sebuah jawaban terhadap pertanyaan saya, dan bahkan mungkin petunjuk bagaimana menyembuhkan diri saya dari kebiasaan yang menjijikkan. Ketika saya pertama mendalami kepustakaan, saya mengetahui nama medis untuk kebiasaan menggigit kuku : 'onychophagia'. Psikiater menggolongkannya sebagai sebuah masalah yang berkaitan dengan gangguan kontrol gerakan, seperti obsessive compulsive disorder atau gangguan kecemasan. Tetapi ini untuk kasus yang ekstrem, dimana bantuan psikiatri dapat bermanfaat, kebiasaan itu dilakukan bersamaan dengan kebiasaan lain yang berlebihan seperti mengorek kulit ataupun menarik rambut. Saya tidak berada pada tahapan tersebut, tetapi termasuk kedalam mayoritas penggigit kuku yang meneruskan kebiasaan tanpa menimbulkan efek samping yang serius. Lebih dari 45% remaja menggigit kuku mereka, contohnya, para remaja mungkin adalah seseorang yang sulit diurus tetapi Anda tidak membantah bahwa hampir separuh dari mereka membutuhkan intervensi medis. Saya ingin memahami sisi 'subklinik' dari fenomena tersebut - bahwa menggigit kuku bukan merupakan sebuah problem besar, tetapi tetap merupakan sebuah masalah bagi saya yang ingin menghentikannya. Kesalahan ibu Psikoterapis tentunya memiliki sejumlah teori mengenai menggigit kuku. Sigmund Freud menyalahkan pada perkembangan psiko-seksual yang tertahan pada tahapan oral (tentu saja). Kekhasan dari teori Freudian yaitu mengenai perasaan yang mendalam dalam fase oral berkaitan dengan banyak penyebab, seperti kurang makanan atau kelebihan makanan, terlalu lama menyusui, atau adanya hubungan yang problematik dengan ibu Anda. Kondisi itu pula yang menghasilkan gejala-gejala seperti menggigit kuku, tentu saja, tetapi juga suatu kepribadian yang sarkastik, merokok, alkohol,dan menyukai seks oral. Terapis lainnya telah menganjurkan menggigit kuku kemungkinan karena berada dalam situasi permusuhan -ini sebenarnya merupakan bentuk mutilasi terhadap diri sendiri- atau gangguan kecemasan. Sejumlah pendapat menyebutkan para penggigit kuku seperti alkoholik walaupun buktinya minim Seperti kebanyakan teori psikodinamik, penjelasan seperti itu dapat menjadi kenyataan, tetapi tidak ada alasan khusus untuk mempercayai bahwa mereka itu benar. Yang terpenting bagi saya, mereka tidak memiliki saran yang kuat untuk bagaimana menyembuhkan diri saya dari kebiasaan ini. Saya semacam kehilangan kesempatan seiring dengan berakhirnya masa menyusui, dan saya menggigit kuku saya bahkan ketika saya merasa sangat santai, jadi tidak terlihat mudah untuk diatasi. Tidak ada bukti bahwa pengobatan yang dilakukan berdasarkan teori ini berhasil mengatasi masalah. Sayangnya, setelah mempelajari sejumlah pemikiran ini, saya masih belum menemukan yang saya cari. Sebuah pencarian dalam literatur ilmiah mengungkapkan hanya sedikit penelitian mengenai penanganan dari kebiasaan menggigit kuku. Sebuah laporan menyebutkan semua penanganan yang membuat orang lebih waspada terhadap kebiasaan itu tampaknya membantu, tetapi di luar itu hanya sedikit bukti untuk mengungkapkan kebiasaan tersebut. Menciptakan kebiasaan Mengingat kurangnya penanganan secara ilmiah lebih dulu, saya merasa bebas untuk memikirkan cara untuk diri saya sendiri. Jadi ini adalah teori saya tentang mengapa orang menggigit kuku mereka, dan bagaimana menanganinya. Sebutlah itu sebagai teori "anti-teori". Saya mengusulkan bahwa tidak ada penyebab yang khusus dari kebiasaan menggigit kuku - bukan juga menyusui, kecemasan yang kronis atau kurangnya kasih sayang ibu. Manfaat dari upaya ini adalah kami tidak perlu mencari sebuah ikatan khusus antara saya, Gordon Brown, Jackie dan Britney. Saya lebih menduga, menggigit kuku hanya merupakan akibat dari sejumlah faktor yang -karena variasi acak- memadukan di antara beberapa orang yang dapat menciptakan sebuah kebiasaan buruk. Pertama, ada fakta bahwa memasukan jari Anda ke dalam mulut merupakan sesuatu yang mudah dilakukan. Ini merupakan salah satu fungsi dasar untuk pemberian makanan dan pembentukan kebiasaan, dan karena itu dikendalikan oleh sejumlah bagian sirkuit dasar otak, yang berarti dapat berkembang dengan cepat menjadi sebuah reaksi yang otomatis. Selain itu, ada sebuah elemen 'merapikan' dalam menggigit kuku -membuatnya tetap pendek- yang berarti setidaknya dapat memberikan kesenangan dalam jangka pendek, bahkan jika hal ini membuat Anda merobek jari Anda sampai hancur. Dengan dirasakannya dampak positif, dikombinasikan dengan kebiasaan yang mudah dilakukan, yang artinya sangai mudah bagi kebiasaan itu untuk berkembang; selain menyentuh alat kelamin, sangat sulit untuk memikirkan sebuah cara yang paling cepat yang memberi diri Anda sebuah kesempatan untuk mendapatkan sedikit kesenangan, dan menggigit kuku Anda telah memiliki keuntungan untuk menjadi OK di sekolah. Sekalinya terjadi, kebiasaan itu bisa menjadi rutin dilakukan - banyak situasi dalam kehidupan sehari-hari dimana individu memiliki kesempatan untuk menggunakan kedua tangannya dan mulut. Apakah menggigit kuku memiliki sebuah penjelasan yang sederhana? Mamahami kebiasaan menggigit kuku memiliki pesan yang suram untuk sebuah kesembuhan, sejak kami mengetahui bagaimana sulitnya sebuah kebiasaan buruk untuk diubah. Sebagian besar orang, setidaknya satu kali sehari, akan kehilangan konsentrasi untuk tidak menggigit kuku mereka. Menggigit kuku, dalam padangan saya, bukan sebuah ungkapan karakteristik pribadi seseorang, ataupun sebuah 'bentuk' dari adaptasi yang salah dari sejumlah tingkah laku di masa lalu. Ini merupakan sebuah produk dari bentuk tubuh kita, bagaimana kebiasaan tangan ke mulut dibentuk otak kita dan kebiasaan psikologis. Dan, ya, saya menggigit kuku-kuku saya ketika menulis kolom ini. Bahkan kadang-kadang sebuah teori yang bagus tidak dapat membantu proses penyembuhan.
  2. Robot yang satu ini bakal disukai para wanita yang suka manicure atau perawatan kuku. Nailbot, demikian namanya, bisa memanjakan dan mempercantik kuku penggunanya. Nailbot diciptakan oleh startup yang bergerak di bidang robotik bernama Preemadonna. Meski menyebut produknya sebagai robot, wujud Nailbot sebenarnya lebih mirip seperti mesin printer. Penciptanya, Pree Walia, mengatakan bahwa Nailbot memang adalah printer portabel untuk mencetak nail art alias seni gambar di kuku. Robot yang memerlukan waktu tiga tahun dalam pengembangannya ini memungkinkan siapa saja punya kuku cantik berhias nail art dengan cara digital. Tak perlu ke salon dan tempat manicure. Bagaimana cara kerjanya? Nailbot terhubung dengan sebuah aplikasi di smartphone. Melalui aplikasi tersebut, kita bisa memilih gambar apa saja yang ingin menjadi nail art. Pilihan nail art akan dikirimkan ke Nailbot, dan robot tersebut bisa langsung menciptakan gambar sesuai yang diinginkan hanya dalam 30 detik. Selanjutnya, pengguna tinggal meletakkan kuku yang sudah dicat warna dasar di tempat cetak kuku, dan nail art yang sudah dipilih pun tercetak di kuku. Hasilnya, kuku pun tampak menarik dengan nail art yang tidak biasa. Karena menggunakan mesin printer, pengguna bahkan bisa menjadikan emoji, logo jejaring sosial seperti Facebook dan Instagram menghiasi kuku mereka. Walia mengklaim tinta untuk nail art yang dihasilkan Nailbot sudah teruji aman untuk kecantikan. Perangkat robotik ini saat ini sudah mulai memasuki tahapan produksi. Preemadona sebagai startup pengembangnya, sedang giat melakukan kampanye pendanaan melalui Indiegogo agar Nailbot bisa diproduksi secara massal. Target mereka adalah mengumpulkan USD 150 ribu, dan saat ini sudah terkumpul sekitar USD 23 ribu.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy