Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'kecerdasan buatan'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

There are no results to display.

There are no results to display.

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 11 results

  1. Artificial intelligence (kecerdasan buatan) bukan hanya dalam film dan buku fiksi ilmiah, melainkan telah merasuki berbagai sisi kehidupan kita. Mulai dari mobil swa kemudi hingga sistem cerdas untuk membantu layanan kesehatan, kecerdasan buatan makin berperan dalam dunia usaha.
  2. Google diperkirakan akan membuat chatbot atau sebuah program komputer untuk melakukan simulasi percakapan dengan pengguna, khususnya melalui internet dengan memanfaatkan kecerdasan buatan. Pengguna aplikasi yang belum diberi nama ini nantinya bisa terlibat dalam percakapan dengan chatbot yang mampu menjawab berbagai pertanyaan, dibandingkan harus menggunakan Google sebagai mesin pencari. Dalam layanan terbarunya, unit Alphabet Inc. akan dikerahkan dalam pembuatan perangkat lunak program yang dapat memeriksa jawaban yang akan diberikan kepada pengguna. Google mengaku telah menghabiskan waktu setidaknya satu tahun untuk mengembangkan layanan canggih ini. Sebagai bentuk langkah agresifnya, tidak tanggung-tanggung Google juga diketahui mempersiapkan setidaknya 200 laboratorium untuk membuat chatbot ini, sebagaimana dilaporkan dalam The Wall Street Journal. Juru bicara Google masih menolak untuk memberikan keterangan lebih lanjut. Namun, dalam mewujudkan mimpinya, Google dikabarkan akan membuka diri bagi pihak ketiga sebagai pengembang untuk menggarap perancangan teknologi untuk layanan yang belum jelas namanya tersebut. Menurut Porio Research Ltd., aplikasi pengirim pesan memang menjadi salah satu platform populer khususnya pada ponsel yang menghubungkan setidaknya 2 miliar orang di seluruh dunia. Beberapa aplikasi seperti Messenger dan WhatsApp dari Facebook serta WeChat di China telah menjadi 'kabel' yang menguhubungkan komunikasi pengguna, baik lintas negara, lintas ruang, dan lintas waktu. Di dunia aplikasi pengirim pesan, Facebook sebelumnya telah meluncurkan 'M', sebuah asisten digital yang merupakan bagian dari aplikasi Messenger. 'M' merupakan kombinasi dari seorang 'pengawas manusia' dan perangkat lunak, di mana dapat membantu pengguna untuk membeli barang, memesan restoran, perjalanan, dan membuat janji melalui teks. Google jelas masih jauh dari pengalaman sebagai perusahaan teknologi yang bercita-cita mengintegrasikan kecerdasan buatan dengan aplikasi pengirim pesan. Apalagi, Google diketahui tidak terlalu mendulang kesuksesan melalui aplikasi Google Hangouts dan Messenger yang telah ada sebelumnya. Langkah ini pun terkesan sebagai suatu bentuk 'unjuk gigi' Google di tengah persaingan perusahaan messenger dunia. “Semua pengguna menginginkan cara mudah untuk menemukan apa yang mereka cari dan Google tidak berada 'di depan' konsumen dan inilah yang menjadi permasalahan mereka. Aplikasi pengirim pesan adalah bagian dari internet di mana bukan menjadi kekuatan Google. Mereka harus memenangkan dan menjadi pemain dominan pada aplikasi messaging,” kritik Scott Stanford, co-founder perusahaan modal ventura Sherpa Capital.
  3. Istilah kecerdasan buatan atau artificial intelligence sudah setua umur komputer. Adalah John McCarthy–seorang ilmuwan komputer dari Stanford University–yang pertama kali melontarkan istilah artificial intelligent pada tahun 1956 di sebuah konferensi. Sejak itu, artificial intelligence (AI) terus dikembangkan. Sempat mengalami masa pasang surut, akhir-akhir ini AI telah mencapai banyak kemajuan. AI merupakan salah satu bidang dari ilmu komputer (computer science). AI berkaitan dengan sistem komputer yang pintar seperti robot dan software yang dapat belajar seiring makin banyaknya tugas yang ditanganinya. Kecerdasan menjadi ciri khasnya walaupun hanya dalam tingkatan tertentu. Dengan makin disempurnakan tingkat kecerdasannya, tidak mengherankan bila ada kekhawatiran bahwa komputer dan robot kelak akan mengalahkan manusia. Seperti di film sci-fi, robot dapat memusnahkan ras manusia. Elon Musk (pendiri Tesla Motors) dan juga Stephen Hawking (fisikawan populer) baru-baru ini mengemukakan kekhawatiran yang sama bila perkembangan AI tak terkontrol. Kini AI dengan tingkat kecerdasan yang boleh dikata “rendah” sudah hadir di smartphone seperti Apple Siri. AI yang lebih cerdas telah dikembangkan vendor-vendor besar lainnya. Google melalui penelitiannya telah berhasil mengembangkan sistem AI sehingga komputer dapat memahami gambar. Ia dan vendor lainnya juga berhasil membuat self-driving car. IBM menciptakankomputer cerdas Watson. Honda menciptakan robot-robot yang makin cerdas. Itulah sedikit gambaran perkembangan AI akhir-akhir ini. AI Masuki Enterprise Sebenarnya dalam tingkatan tertentu AI sudah digunakan di enterprise, misalnya untuk menyaring spam di e-mail, menangani penjadwalan yang rumit, atau mendeteksi fraud di instalasi big data. Departemen teknologi informasi (TI) membutuhkan AI untuk mengatasi berbagai permasalahan rumit seperti cyber attack, analisis big data, dan lain-lain. Teknologi ini bukan merupakan barang baru di enterprise dan telah banyak dipakai. Walau tidak menggunakan istilah AI, feature seperti e-mail filtering atau speech recognition merupakan bagian dari AI dengan “tingkat kepintaran” tertentu. Di mana tugas para manajer dan eksekutif makin kompleks, di situ pula AI makin banyak terlibat. Menurut para pengamat, penerapan AI di enterprise tidak dapat dihindari karena beberapa tren datang bersamaan seperti daya komputasi yang makin tinggi, keinginan peningkatan produktivitas, dan ledakanbig data yang perlu ditangani. Xerox PARC (Palo Alto Research Center) menggunakan AI untuk mendeteksi penipuan dan penyalah-gunaan data kesehatan. Xerox Program Integrity Validator bekerja sama dengan pemerintah AS mengatasi fraud di bidang seperti Medicare (program asuransi pemerintah AS untuk manula). Ford Motor juga menggunakan AI untuk pekerjaan besar yang sangat memakan waktu bila dikerjakan bahkan oleh sekelompok karyawan. Pekerjaan yang ditangani oleh sistem AI di perusahaan ini adalah penjadwalan karyawan baru untuk mengikuti program pelatihan selama tiga tahun. AI menggantikan pekerjaan satu tim yang mengorganisir partisipan yang terus bertambah, mengatur permintaan dan penugasan pekerjaan. Tool AI telah mengotomatiskan pekerjaan ini. Contoh penerapan AI lainnya adalah seperti yang dilakukan oleh The Grid, sebuah startup yang didirikan oleh mantan pejabat Google, Brian Axe. Axe, yang sebelumnya bekerja sebagai Google AdSense Director of Products, menggunakan software AI untuk mempercepat desain web. Desain tersebut dipercepat dengan cara mengoleksi gambar dan teks, menganalisis content untuk menciptakan website dalam waktu tiga menit, mengotomatiskan pewarnaan, melakukan cropping gambar dan membangun situs dari smartphone atau komputer tablet. Kontribusi Vendor Besar Pengembangan AI tidak hanya dilakukan oleh para akademisi, tetapi juga oleh vendor besar seperti IBM, Microsoft, Google, Facebook, dan Apple. IBM mengembangkan komputer yang dapat berpikir seperti manusia yang dinamainya Watson. Komputer Watson telah memenangkan kuis terkenal di televisi AS melawan manusia. Komputer ini telah dipakai untuk melakukan riset terutama di bidang kesehatan. Kemajuan besar di bidang AI dicapai oleh Google setelah para penelitinya berhasil membuat tool yang dapat mengintepretasikan gambar atau foto. Dengan tool berbasis AI itu, komputer kini dapat memahami gambar. Kemampuan computer vision seperti ini bila dikombinasikan dengan natural language processing–sebuah capaian AI sebelumnya–maka sebuah komputer dapat melihat dan memahami gambar dan kemudian memberikan keterangan gambar dengan teks. Peneliti di Stanford University telah berhasil membuat sistem AI yang dapat memahami gambar dan mendeskripsikan komponen gambar di dalamnya. Secara terpisah, para peneliti di Stanford University juga berhasil mengembangkan tool AI yang berkemampuan sama dengan Google, yaitu image recognition. Baik Stanford maupun Google menggunakanneural network yaitu sistem yang cara kerjanya mirip dengan cara kerja otak manusia. Sebelum adanya pencapaian Google dan Stanford tersebut, komputer memahami gambar dari caption yang disertakan. Tetapi dengan computer vision tersebut, komputer memang benar-benar memahami gambar, “tahu” benda apa saja yang ada di dalam gambar dan memberi keterangan singkat mengenai gambar secara keseluruhan. Salah satu dampak dari computer vision dan natural languange processing adalah peningkatan kemampan search engine. Pengguna dapat dengan mudah mencari gambar dengan hasil yang akurat. Tentu saja tidak hanya search engine yang memanfaatkannya. Berbagai aplikasi dapat diciptakan dengan memanfaatkan computer vision dan natural language processing. Di bidang sekuriti misalnya, hasil tangkapan CCTV dapat dianalisis dengan cepat, siapa saja yang memasuki gedung dan ruangan tertentu. Computer vision benar-benar mengenali wajah seseorang, bukan seperti face recognition sebelumnya yang mengenali wajah dari proporsi ukuran komponen wajah. Di industri kesehatan, kemampuan tersebut dapat dikombinasikan dengan peralatan magnetic resonance imaging (MRI), sehingga interpretasi hasil scan atau ronsen dapat dilakukan dengan cepat. Komputer akan dengan cepat tahu apakah seorang pasien yang dironsen mengidap penyakit tertentu atau sehat segar bugar. Computer vision tidak hanya memahami gambar, tetapi juga dapat dikembangkan untuk memahami video. Maka data foto dan video yang sebelumnya pada big data digolongkan sebagai unstructured data, kini menjadi data yang terstruktur, karena dapat dipahami isinya. Analisis big data akan mengalami kemajuan pesat. Dampak aplikasinya untuk enterprise pun tentu akan sangat signifikan. Selain Google, Facebook juga mengembangkan AI yang menurut pendirinya, Mark Zuckerberg, baru-baru ini berfokus pada facial dan voice recognition. Dalam sesi tanya jawab di Facebook pada akhir Juni lalu, Zuckerberg mengatakan, ”Kami sedang mengembangkan AI karena kami pikir layanan yang lebih cerdas akan lebih bermanfaat untuk Anda gunakan.” AI, menurut Mark, dapat membantu memberi tahu pengguna bila ada seseorang yang berfoto bersamanya, atau mempermudah seseorang mencari foto dan posting di Facebook yang berkaitan dengan minatnya. Sistem AI yang dikembangkan peneliti Google sama dengan yang diteliti di Stanford. Sistem AI Google memberikan deskripsi gambar di atas: “Two pizzas sitting on top of a stove oven.” Facebook memiliki berbagai proyek pengembangan AI untuk meningkatkan layanan social media-nya. Situs ini membangun lab AI di beberapa tempat seperti New York, Silicon Valley, dan Paris. Beberapa waktu lalu Facebook juga mengakuisisi startup AI, Wit.ai, yang mengembangkan voice recognition. Masih Meresahkan? Barangkali Musk dan Hawking tak berlebihan bila khawatir AI suatu saat kelak akan mengalahkan manusia. Dalam beberapa hal, AI bisa lebih unggul daripada manusia, seperti mampu menganalisis database dalam jumlah besar dalam waktu cepat, dan mampu membuat keputusan yang akurat. AI juga dapat belajar dari pengalaman. Makin banyak mengerjakan tugas, akan makin meningkatlah kecerdasannya. Selain itu, sistem AI atau komputer tak pernah mengenal lelah seperti manusia. Nah, maka kekhawatiran di atas tidaklah mengada-ada. Namun bila kita berfokus pada pengembangan AI untuk mencapai efisiensi, peningkatan produktivitas, dan penurunan biaya di enterprise, AI sudah selayaknya terus dikembangkan. Tetapi konsekuensinya, beberapa jenis pekerjaan manusia akan diambil oleh sistem AI. Sisi ini mungkin yang akan mengkhawatirkan kita, para pekerja!
  4. Stephen Hawking mengatakan kecerdasan buatan bisa ancam keberadaan ras manusia. Kepala penelitian Microsoft, Eric Horvitz, mengatakan dirinya tidak sependapat dengan pandangan bahwa sistem kecerdasan akan mengancam ras manusia. "Sudah muncul kekhawatiran terkait dampak jangka panjang dari kecerdasan buatan, bahwa kita nanti tidak akan bisa menguasai sepenuhnya kecerdasan buatan tersebut," kata Horvitz. "Saya berpandangan bahwa kekhawatiran itu tidak akan terjadi," katanya. Horvitz mengatakan akan ada banyak manfaat dari kecerdasan buatan bila diterapkan di bidang sains, pendidikan, hingga ekonomi. Pendapat Horvitz sangat berbeda dengan Stephen Hawking, salah satu ilmuwan terbaik dunia, yang Desember lalu mengatakan mesin-mesin yang bisa berpikir bisa berujung pada punahnya ras manusia. "Pengembangan kecerdasan buatan (yang bisa berpikir) secara penuh bisa mengakhiri keberadaan manusia," kata Hawking kepada BBC. Profesor Hawking mengatakan bentuk kecerdasan buatan yang dikembangkan sejauh ini terbukti sangat bermanfaat, namun ia khawatir dengan konsekuensi teknologi ini yang pada akhirnya dapat melampaui kemampuan otak manusia, yang evolusinya lambat.
  5. Elon Musk Pendiri perusahaan Tesla Motor dan SpaceX, Elon Musk, kembali membuat pernyataan yang sensasional. Pekan lalu dalam sebuah konferensi di MIT Aeronautics dan Astronaut Departement, Musk mengatakan bahwa kecerdasan buatan merupakan hal yang sangat berbahaya, dan bisa dipakai untuk memanggil setan. "Anda tahu semua cerita tentang laki laki dengan pentagram dan air suci untuk mengendalikan setan, tapi tidak berhasil," ujar Musk dikutip dari CNet. "Dengan kecerdasan buatan, kita memanggil setan.” Keyakinan Musk bahwa manusia dapat memanggil setan melalui kecerdasan buatan ini beberapa kali menjadi tema yang sering dia bicarakan di hadapan publik. Pada Agustus lalu, Musk menganggap Artificial Intelegence atau kecerdasan lebih bahaya dibanding nuklir. "Jika saya harus menebak apa ancaman terbesar yang nyata, mungkin adalah hal itu (kecerdasan buatan)," ujar Musk. Ini bukan pertama kalinya Musk mengatakan kecerdasan buatan adalah hal yang sangat berbahaya. Pada bulan Juni lalu, dia memprediksi bahwa kecerdasan buatan akan menghadirkan 'Terminator' dalam kehidupan nyata dan bisa memusnahkan koloni manusia di masa depan. Elon Musk dikenal sebagai sosok yang sering memberikan pernyataan sensasional. Pendiri PayPal dan penggagas penerbangan luar angkasa komersial melalui SpaceX ini sering disamakan dengan karakter Tony Stark dalam film Iron Man. Salah satu pernyataan yang menghebohkan adalah ketika dia mengatakan ingin membangun sebuah kota di planet Mars.
  6. Lembaga penelitian teknologi asal Amerika, Gartner mengungkapkan bahwa kecerdasan buatan akan menjadi sebuah tren baru pada tahun 2015. Menurut hasil penelitian Gartner, kecerdasan buatan yang menggabungkan rangkaian alogaritma canggih dapat memungkinkan sebuah sistem untuk memahami lingkungan diri mereka masing-masing. Sehingga sistem tersebut dapat belajar dan bertindak secara otonom. Pada tahun 2015, tren ini akan menjadi semakin global. Para industri teknologi akan saling berlomba untuk mengembangkan teknologi yang berujung pada konsep kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Contohnya perusahaan Microsoft yang beberapa waktu lalu menggunakan sebuah mesin untuk melakukan analisis percakapan pada sistem piranti lunak terbaru. Piranti ini dapat menerjemahkan pembicaraan dari bahasa Inggris ke bahasa Spanyol secara konstan. Selain itu, Google juga baru saja memproduksi versi purwarupa sebuah mobil yang dapat berjalan tanpa pengemudi. Dan teknologi ini, akan menjadi hal yang sangat populer dan berkembang. Meskipun AI dibuat untuk mempermudah kehidupan manusia dan diprediksi menjadi sebuah tren pada tahun 2015, banyak jenius yang mengecam dan khawatir akan kehadiran kecerdasan buatan ini. Stephen Hawking, ahli fisika ternama asal Inggris bahkan mencemaskan teknologi ini akan dapat mengancam keberadaan manusia di Bumi. Bulan Mei lalu, Hawking sempat berkomentar bahwa para peneliti kurang mengeksplor mengenai cara perlindungan manusia dari risiko keberadaan kecerdasan buatan. "AI akan berkembang dengan sendirinya dalam kisaran yang saya yakin akan terus meningkat. Sementara kita, manusia, terbatas oleh evolusi biologis, nantinya tidak akan mampu bersaing dan tersingkir," kata Hawking. Bukan hanya Hawking, pendiri perusahaan teknologi Tesla dan SpaceX, Elon Musk mengatakan hal senada. Ia menjadi salah satu orang yang menentang teknologi AI. Pada pertengahan November 2014 lalu, ia mengatakan bahwa kemajuan teknologi kecerdasan buatan berkembang semakin cepat dan manusia dapat terancam ekistensinya. Bahkan dalam akun twitter resminya Elon Musk juga sempat berkicau bahwa kecerdasan buatan yang diprediksi akan menjadi tren pada tahun 2015 dapat lebih berbahaya dari pada senjata nuklir. Meskipun begitu, Gartner memprediksi akan ada kendaraan yang bersifat otonom, robot canggih hingga asisten virtual yang akan berkembang dengan cepat pada tahun 2015. Ini akan mengantarkan manusia kepada era baru yang lebih modern.
  7. Stephen Hawking, salah satu ilmuwan terbaik di dunia, mengatakan berbagai upaya untuk menciptakan mesin yang bisa berpikir cerdas, bisa berakibat pada punahnya ras manusia. "Pengembangan kecerdasan buatan secara penuh bisa mengakhiri keberadaan manusia," kata Hawking. Profesor Hawking mengatakan bentuk kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang dikembangkan sejauh ini terbukti sangat bermanfaat. Namun ia khawatir dengan konsekuensi teknologi ini yang pada akhirnya dapat melampaui kemampuan otak manusia, yang evolusinya lambat. "Umat manusia—yang terbatasi oleh evolusi biologis yang lambat—tidak akan mampu bersaing dan akan tertinggal," katanya. Mungkinkah terjadi? Sejumlah ilmuwan lain meyakini kecerdasan buatan dengan kemampuan berpikir melebihi otak manusia masih belum akan terwujud dalam beberapa dekade mendatang. "Menurut saya, kita akan tetap sebagai penguasa teknologi dalam jangka waktu yang lama," tegas Rollo Carpenter, ilmuwan pencipta perangkat lunak yang bisa memprediksi alur percakapan manusia. Carpenter dan para ilmuwan lain juga mengatakan bahwa mesin dengan kemampuan berpikir yang dahsyat adalah perkembangan yang positif.
  8. Artificial Intelligence (AI), atau kecerdasan buatan diciptakan untuk membantu manusia. Tapi di balik itu, peranti lunak ini juga bisa menimbulkan bahaya besar. Berbagai teori mengenai kecerdasan buatan diungkapkan para ilmuwan. Mereka percaya, bahwa jika tidak dikelola dengan benar, kepandaian yang dimiliki komputer justru akan memusnahkan manusia. Terdengar menyeramkan memang. Tapi hal itulah yang diyakini oleh lima orang jenius berikut ini: Stephen Hawking Ahli fisikawan ternama asal Inggris ini memang bergantung pada teknologi agar terus berkarya dan bertahan hidup. Walau begitu, ia ternyata mencemaskan AI dapat mengancam keberadaan manusia. Bulan Mei lalu, Hawking sempat komentari film sci-fi "Transcendence" yang bertemakan mesin AI untuk kehidupan manusia di masa depan. Ia mengkritik para peneliti kurang mengeksplor mengenai cara perlindungan manusia dari risiko AI. "Jika ada sekumpulan alien cerdas mengirimkan pesan berbunyi 'kita akan tiba di Bumi beberapa dekade lagi', apakah manusia akan membalas 'baik, hubungi kami jika sudah sampai -- lampu akan kami biarkan menyala'? Tentu saja tidak. Inilah yang terjadi seputar AI," ujar Hawking kepada media Inggris The Independent. Ia kembali menyinggung soal perkembangan AI tak lama setelah mendapatkan teknologi baru untuk pembaruan komputer canggihnya. "AI akan berkembang dengan sendirinya dalam kisaran yang saya yakin akan terus meningkat. Sementara kita, manusia, terbatas oleh evolusi biologis, nantinya tidak akan mampu bersaing dan akhirnya akan tersingkir," tutur Hawking kepada BBC. Elon Musk Sebagai pendiri perusahaan teknologi Tesla dan perakit wahana antariksa SpaceX, Elon Musk tentunya memiliki antusias tinggi terhadap perkembangan teknologi. Siapa sangka, ia menjadi salah satu orang yang menentang AI. Ia sempat berkomentar pada pertengahan November lalu bahwa kemajuan teknologi khususnya AI kini berkembang semakin cepat dan manusia bisa saja terancam eksistensinya. Kemudian bulan Oktober silam ia juga memberikan pernyataan sensasional tentang AI. Saking bahayanya, ia meyakini AI bisa dipakai untuk memanggil setan. "Cerita tentang laki-laki menggunakan pentagram dan air suci guna mengendalikan setan tak kunjung berhasil, maka AI bisa digunakan untuk memanggil setan," ujarnya. Musk juga sempat berbagi kicauannya di akun jejaring sosial Twitternya bahwa AI lebih bahaya dari senjata nuklir. Dari laporan TIME, lelaki yang kerap dijuluki sebagai "Iron Man" itu menyerukan penetapan regulasi nasional maupun internasional terkait perkembangan AI. James Barrat Barrat adalah seorang penulis yang mempublikasikan bukunya berjudul "Our Final Invention: Artificial Intelligence and the End of the Human Era". Barrat melakukan wawancara dengan banyak peneliti AI dan segelintir ilmuwan demi kelancaran proses pembuatan bukunya kala itu. Ia berpendapat bahwa untuk menjadi cerdas dapat diarahkan itu melalui pengumpulan berbagai sumber dan meraih tujuan hidup, sementara kehadiran AI di muka Bumi tentunya turut menghadirkan kompetisi dengan manusia itu sendiri. "Tanpa instruksi yang selaras dan teliti, sistem AI yang bersifat serba otomatis akan semakin berkembang di mana manusia dengan konyolnya seakan memenuhi 'tujuan' AI," tulis Barrat dalam bukunya. Vernor Vinge Profesor matematika merangkap ilmuwan komputer berusia 70 tahun yang dulunya mengajar di San Diego State University ini, pernah mendapat penghargaan Hugo Award untuk karya novelnya. Vinge sempat menulis artikel berjudul "The Coming Technological Singularity" tahun 1993 silam untuk simposium Vision-21 yang disponsori oleh NASA Lewis Research Center. Di bagian abstrak, ia menulis, “Dalam kurun waktu 30 tahun, manusia akan punya teknologi yang diciptakan untuk kecerdasan super. Tak lama kemudian, era manusia akan berakhir." Seakan sudah meramalkan apa yang akan terjadi di masa depan, Vinge memang melihat singularitas sebagai entitas yang tak dapat terelekan walaupun nantinya ada aturan mengenai perkembangan AI. Menurutnya, singularitas bisa membuat punahnya bangsa manusia. Nick Bostrom Ilmuwan berkebangsaan Swedia ini adalah seorang direktur Future of Humanity Institute di University of Oxford. Bostrom baru merilis bukunya berjudul "Superintelligence" pada Juli lalu. Dalam bukunya, ia berpendapat bahwa ketika suatu mesin mampu menembus intelektual manusia, mesin cerdas itu kemudian bisa mobilisasi dan memutuskan untuk memusnahkan manusia dengan cepat. Dengan kata lain, Bostrom meyakini di masa depan akan penuh dengan teknologi apik nan kompleks, sayangnya manusia tidak akan sempat merasakan itu. "Sebuah keadaan penuh keajaiban ekonomi dan kehebatan teknologi, di mana tak ada seorang pun dapat merasakan manfaat itu," tulis Bostrom. "Seperti Disneyland tanpa anak-anak." AI nantinya bisa saja gunakan sejumlah strategi berupa penyebaran patogen kasat mata ataupun merekrut manusia untuk berpihak kepadanya. Cakupan AI tak lama lagi diprediksi akan semakin berkembang, salah satunya melalui teknologi komputer yang akan dicocokan dengan otak manusia.
  9. Robot K5 yang dipakai Microsoft untuk menjaga salah satu fasilitas mereka di California, Amerika Serikat merupakan robot dengan kecerdasan buatan yang bisa mengambil keputusan Perangkat lunak kecerdasan buatan atau Artificial Intellegence (AI) kini menuai kontroversi karena dianggap membahayakan kehidupan umat manusia. Namun siapa sangka bahwa kecerdasan buatan yang pertama kali dibuat adalah sebuah permainan catur virtual yang sederhana. Permainan ini pertama kali dikembangkan oleh seorang insinyur dari University of Manchester, Alan Turing pada tahun 1946 dan kemudian disempurnakan oleh Dietrich G. Prinz pada 1951. Dalam pembuatan permainan ini, Turing merancang sebuah program agar perangkat lunak dapat berpikir dengan menggunakan alogaritma dan aturan yang praktis. Dikutip dari The Register, Turing merancang program tersebut agar dapat mengambil keputusan dalam permainan dan dapat berpikir dua kali sebelum mengambil keputusan. "Dia menulis alogaritma tanpa menggunakan komputer dan itu adalah sebuah prestasi yang luar biasa," ujar Gary Kasparov, seorang grandmaster catur yang mencoba permainan ini. Perangkat lunak ini kemudian dicoba untuk dipasangkan dalam sebuah komputer, namun pekerjaan itu tidak terselesaikan. Pada tahun 1951, Prinz, sahabat dekat Turing di University of Manchester kemudian menyempurnakan perangkat lunak ini dan memasangnya dalam sebuah komputer bernama Ferranti Mark 1. Hingga saat ini perangkat lunak dengan kecerdasan buatan semakin berkembang. Penggunaannya juga kini diaplikasikan pada berbagai bidang industri. Sayangnya perangkat lunak ini menuai kontroversi karena dianggap akan membahayakan kehidupan umat manusia.
  10. Pendiri perusahaan Tesla Motors dan SpaceX, Elon Musk, adalah orang yang dengan tegas menentang pengembangan teknologi kecerdasan buatan karena dinilai membahayakan manusia. Sejumlah orang yang dinilai jenius mengaku khawatir dengan pengembangan peranti lunak kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Mereka khawatir peranti lunak ini membuat sebuah komputer sadar akan dirinya, mengumpulkan wawasan yang mereka pelajari, dan berkembang di luar kendali manusia. Salah seorang jenius, Elon Musk, secara jelas menentang pengembangan kecerdasan buatan. Menurutnya, kemajuan teknologi dalam membuat kecerdasan buatan kini semakin cepat dan manusia bisa saja terancam dengan kehadiran kecerdasan buatan ini di masa depan. "Ini bukan masalah yang tidak saya mengerti. Saya sudah terbiasa dengan teknologi dan sering membahas isu ini dalam beberapa bulan," kata Musk seperti dikutip dari Mashable, pada November lalu. Itu bukan pertama kalinya Musk menentang kecerdasan buatan. Sebelumnya, Musk berkomentar bahwa teknologi ini akan menjadi lebih berbahaya dari senjata nuklir bahkan ia memprediksi bahwa kecerdasan buatan akan menjadi "Terminator" yang dapat memusnahkan kehidupan manusia. "Perusahaan yang mengembangkan kecerdasan buatan telah mengambil langkah-langkah untuk memastikan keamanan. Mereka mengenali bahaya ini, tetapi percaya bahwa mereka dapat membentuk dan mengontrol super intelijensi digital dan mencegah hal yang buruk dalam proses melahirkan diri kecerdasan buatan di internet. Itu masih harus diperhatikan," ujarnya. Musk sering disebut sebagai Tony Stark atau Iron Man dari dunia nyata karena ide-de briliannya. Ia adalah salah seorang pendiri PayPal. Kini, ia mendirikan perusahaan mobil listrik Tesla Motors dan perusahaan penerbangan ruang angkasa komersial SpaceX. Kekhawatiran Stephen Hawking Musk bukan satu-satunya jenius yang khawatir dengan kecerdasan buatan. Fisikawan ternama Stephen Hawking juga mengungkap kekhawatirannya atas kecerdasan buatan. Hawking mengaku takut atas konsekuensi sebuah penciptaan yang bisa menandingi atau melampaui manusia. "Ia akan lepas landas dengan sendirinya, dan melakukan desain ulang pada titik yang semakin meningkat," katanya seperti dikutip dari BBC News, Selasa (2/12). Hawking menilai bahwa peranti lunak kecerdasan buatan berpotensi mengembangkan dirinya sendiri dengan cepat. Sementara manusia dibatasi oleh evolusi biologis dan keberadaannya terancam oleh kecerdasan buatan. "Manusia yang dibatasi oleh evolusi biologis yang lambat, tidak bisa bersaing, dan akan tergantikan," ungkapnya. Kecerdasan buatan bisa dikendalikan? Rollo Carpenter, pencipta peranti lunak kecerdasan buatan Cleverbot, mengatakan bahwa teknologi macam ini dapat memecahkan banyak masalah. Ia percaya para pembuat kecerdasan buatan bakal sopan dan bertanggung jawab atas teknolog yang dibuatnya. Cleverbot sendiri merupakan aplikasi yang dapat berbicara dengan manusia. Peranti lunak ini belajar dari percakapan masa lalunya dengan manusia, dan telah memeroleh nilai tinggi dalam tes. Carpenter berkata saat ini manusia masih berada jauh dalam mengembangkan komputasi atau algoritma untuk membuat kecerdasan buatan yang hebat. Namun, ia percaya manusia bakal mencapai hal itu dalam beberapa dekade mendatang. "Kita tidak bisa cukup tahu apa yang akan terjadi jika komputer melebihi kecerdasan kita sendiri. Jadi, kita tidak bisa tahu apakah kita akan lebih dibantu, atau diabaikan, atau hancur oleh pikiran mereka itu," kata Carpenter kepada BBC News. Ia percaya bahwa kecerdasan buatan bakal menjadi kekuatan positif. Sejauh ini, peranti lunak kecerdasan buatan yang populer dipakai manusia adalah aplikasi asisten pribadi di ponsel pintar seperti Siri buatan Apple, Google Now buatan Google, dan Cortana buatan Microsoft. Gambaran bahaya di film fiksi ilmiah Sejumlah gambaran tentang masa depan kecerdasan buatan telah digambarkan dalam film fiksi ilmiah. Film Her yang diproduksi pada 2013 dan dibuat oleh sutradara Spike Jonze memerlihatkan seorang kesepian yang memiliki hubungan dekat dengan sistem operasi kecerdasan buatan. Sistem operasi ini diberi nama Samantha. Dalam membuat film Her, Jonze mengaku terinspirasi dari artikel yang ia baca tentang Cleverbot pada tahun 2000-an. Selain Her, ada pula fim Transcendence karya sutradara Wally Pfister yang dirilis pada April 2014. Film ini mengisahkan kecerdasan buatan yang memiliki kesadaran diri dan mampu mengembangkan diri atas apa yang mereka pelajari di luar kendali manusia. Ketika telah mencapai tahap tersebut, manusia menyadari bahwa peranti lunak macam ini membahayakan eksistensi mereka. Manusia pun berjuang untuk memusnahkannya. Dalam dunia nyata, DeepMind merupakan salah satu perusahaan yang mengembangkan secara serius teknologi kecerdasan buatan. Raksasa teknologi Google telah mengakuisisi perusahaan asal London tersebut sebesar US$ 400 juta pada Januari 2014, menurut laporan Re/code. Di situs web DeepMind, perusahaan mengatakan misinya untuk menggabungkan "teknik terbaik dari pembelajaran dan sistem mesin neurosains untuk membangun algoritma pembelajaran untuk keperluan umum yang kuat." Baru-baru ini, Google mengaku sedang mengembangkan peranti lunak dengan tingkat kecerdasan buatan yang tinggi. Ia dapat mendeskripsikan sebuah gambar dengan akurat. Bahkan nantinya peranti lunak ini ditargetkan bisa "melihat" gambar dan memberi tanggapan dengan cara yang kurang lebih sama dengan pola pikir manusia. Meskipun saat ini masih dalam tahap pengujian, rencananya dalam jangka panjang Google akan membuat peranti lunak ini untuk membantu tunanetra dalam mendeskripsikan visual dengan akurat.
  11. Fisikawan ternama Stephen Hawking mengaku khawatir dengan peranti lunak kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang membuat sebuah komputer dapat berpikir. Jika mereka berkembang di luar kendali manusia, maka itu bisa berarti akhir dari umat manusia. Hawking mengaku takut atas konsekuensi sebuah penciptaan yang bisa menandingi atau melampaui manusia. "Ia akan lepas landas dengan sendirinya, dan melakukan desain ulang pada titik yang semakin meningkat," katanya. Saat ini, menurut Hawking, peranti lunak kecerdasan buatan memang telah banyak membantu manusia. Salah satunya adalah aplikasi papan ketik (keyboard) virtual SwiftKey yang diintegrasikan dalam sistem komputer Hawking yang dibuat oleh Intel. Teknologi SwiftKey berperan memberi prediksi kata selanjutnya yang akan digunakan Hawking ketika ia mulai merangkai kata dengan bantuan sensor yang mendeteksi gerakan otot pipinya. Dari mana SwiftKey belajar membuat prediksi kata untuk Hawking? Ternyata, peranti lunak yang dikembangkan oleh perusahaan Inggris itu belajar dari karya ilmiah Hawking (yang telah dipublikasi dan belum dipublikasi) guna memahami gaya bahasa Hawking. Sejumlah prediksi tentang peranti lunak kecerdasan buatan telah digambarkan dalam beberapa fiksi ilmiah, termasuk film Transcendence karya sutradara Wally Pfister yang dirilis pada April 2014. Film ini mengisahkan kecerdasan buatan yang memiliki kesadaran diri dan mampu mengembangkan diri atas apa yang mereka pelajari di luar kendali manusia. Ketika telah mencapai tahap tersebut, manusia menyadari bahwa peranti lunak macam ini membahayakan eksistensi mereka. Manusia pun berjuang untuk memusnahkannya. Hawking sendiri menilai bahwa peranti lunak kecerdasan buatan berpotensi mengembangkan dirinya sendiri dengan cepat. Sementara manusia dibatasi oleh evolusi biologis. "Manusia yang dibatasi oleh evolusi biologis yang lambat, tidak bisa bersaing, dan akan tergantikan," ungkapnya. Kecerdasan buatan dari Google DeepMind merupakan salah satu perusahaan yang mengembangkan secara serius teknologi kecerdasan buatan. Raksasa teknologi Google telah mengakuisisi perusahaan asal London tersebut sebesar US$ 400 juta pada Januari 2014, menurut laporan Re/code. Di situs web DeepMind, perusahaan mengatakan misinya untuk menggabungkan "teknik terbaik dari pembelajaran dan sistem mesin neurosains untuk membangun algoritma pembelajaran untuk keperluan umum yang kuat." Baru-baru ini, Google mengaku sedang mengembangkan peranti lunak dengan tingkat kecerdasan buatan yang tinggi. Ia dapat mendeskripsikan sebuah gambar dengan akurat. Bahkan nantinya peranti lunak ini ditargetkan bisa "melihat" gambar dan memberi tanggapan dengan cara yang kurang lebih sama dengan pola pikir manusia. Meskipun saat ini masih dalam tahap pengujian, rencananya dalam jangka panjang Google akan membuat peranti lunak ini untuk membantu tunanetra dalam mendeskripsikan visual dengan akurat.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy