Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'irak'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 4 results

  1. Seorang anak menderita setelah pasukan pemerintah Suriah menembakkan gas klorin. Seorang pejabat AS mengatakan kepada BBC, adanya peningkatan keyakinan di kalangan Pemerintah AS bahwa militan yang menyebut dirinya sebagai Negara Islam atau ISIS membuat dan menggunakan senjata kimia di Irak dan Suriah. AS telah mengindentifikasi setidaknya empat peristiwa yang melibatkan kedua pihak yang berkonflik di wilayah perbatasan Irak-Suriah di mana ISIS menggunakan senjata kimia mustard, seperti disampaikan oleh pejabat tersebut. Pejabat itu juga menyebutkan senjata kimia yang digunakan adalah bentuk bubuk. Tim BBC di perbatasan Turki-Suriah telah melihat bukti yang mendukung klaim tersebut. AS yakin kelompok itu memiliki sel yang dikhususkan untuk membuat senjata-senjata tersebut. "Mereka menggunakan mustard," seseorang mengatakan tentang ISIS. "Kami mengetahui mereka menggunakannya." Senjata kimia mustard kemungkinan digunakan dalam bentuk bubuk dan dikemas dalam bahan peledak tradisional seperti mortir, seperti disampaikan oleh pejabat AS. "Kami telah melihatnya digunakan pada setidaknya empat peristiwa yang berbeda di kedua lokasi perbatasan Irak dan Suriah. Ketika senjata ini meledak, siapa yang terpapar abu senjata kimia mustard itu akan melepuh. Pejabat mengatakan komunitas intelejen yakin ada tiga kemungkinan penjelasan bagaimana ISIS memperoleh senjata kimia yang mematikan. Dalam pengamatan komunitas intelejen, seperti disampaikan oleh pejabat AS, bahwa mereka membuatnya. "Kami menilai mereka memiliki sel yang bertugas meneliti senjata kimia aktif yang mereka kerjakan dan mencobanya dan menjadi lebih baik dalam membuatnya," kata pejabat tersebut. Teori alternatif lain yaitu militan ISIS menemukan senjata kimia di tempat persembunyian di Irak atau Suriah. Tampaknya militan menemukan senjata kimia di Irak, ungkap pejabat, karena militer AS kemungkinan dapat menemukannya selama kampanye militer dilakukan di negara tersebut selama satu dekade. Pejabat mengatakan bahwa militan tampaknya telah menyita senjata kimia dari rezim di Suriah sebelum rezim dipaksa untuk memberikan persediaannya dengan ancaman serangan udara AS pada 2013. sumber: BBC Indonesia
  2. Anggota paramiliter Irak mengibarkan bendera setelah menguasai kembali desa Albu Ajil, dekat Tikrit. Pasukan pemerintah Irak telah menguasai kembali sebagian besar wilayah Tikrit barat laut lewat perang melawan milisi ISIS, kata sejumlah pejabat keamanan. Tentara dan milisi Syiah dilaporkan mengibarkan bendera Irak pada sebuah rumah sakit di daerah Qadisiya, yang duapertiganya sudah dalam kekuasaan Irak. Tetapi sampai sejauh ini mereka tidak banyak mencatat pergerakan maju di Tikrit selatan dan barat. Operasi untuk menguasai kembali kota asal Saddam Hussein ini adalah aksi terbesar pemerintah Irak. Iran membantu koordinasi 30.000 tentara dan milisi yang terlibat. Mereka tidak didukung serangan udara pimpinan Amerika Serikat. ISIS merebut Tikrit pada bulan Juni lalu setelah militer Irak dikalahkan serangan kelompok itu di Irak utara dan barat. Pada hari Rabu 11 Maret 2015 seorang pejabat keamanan di Komando Operasi Samarra di Provinsi Salahaddin mengatakan kepada BBC bahwa pasukan pemerintah memasuki Tikrit timur laut setelah konflik selama 11 hari di kota dan desa di sepanjang sungai Tigris.
  3. Pasukan keamanan Irak dan para petempur milisi Syiah bergerak dari Samarra ke bagian pinggiran kota Tikrit, di utara Baghdad. Iraq telah meluncurkan operasi militer untuk merebut kembali kota asal Saddam Hussein Tikrit dari tangan kelompok militan yang menamakan diri Negara Islam (ISIS), lapor TV Irak. Media lokal mengatakan pasukan-pasukan menyerang kota itu dengan didukung oleh serangan udara dari pesawat tempur Irak. Tikrit terletak 150km di utara ibu kota Baghdad dan direbut oleh ISIS pada bulan Juni 2014. Perdana Menteri Haider al-Abadi sebelumnya bertemu dengan para pemimpin militer di Provinsi Salahuddin, sebelum serangan dilakukan. Ia menawarkan pengampunan bagi semua petempur dari suku-suku Sunni yang meninggalkan ISIS, dengan menggambarkannya sebagai "kesempatan terakhir". TV Al-Iraqiya mengatakan ISIS telah berhasil diusir dari sejumlah wilayah di luar Tikrit namun hal ini belum dikonfirmasi. ISIS menguasai sejumlah area di Salahuddin, yang merupakan provinsi yang penduduknya kebanyakan dari kaum Sunni. Tikrit, kampung halaman mantan Presiden Saddam Hussein, merupakan kemenangan besar kedua untuk ISIS setelah kelompok itu berhasil merebut kota Mosul pada bulan Juni tahun lalu.
  4. Apa yang terjadi jika pengadilan yang tidak fair memiliki kuasa mencabut nyawa? Ironi besar karena hukuman mati justru sebagian besar dipertahankan oleh negeri yang tidak memiliki sistem peradilan yang baik. Indonesia dan Arab Saudi, dua dari negara-negara yang mewakili wajah dunia yang masih mempertahankan hukuman mati. Sebuah praktek yang mulai ditinggalkan karena dianggap merenggut hak paling asasi yakni hak hidup manusia. Januari 2011, pengadilan Taiwan mengaku bersalah menjatuhkan hukuman mati. Chiang Kuo-ching, prajurit angkatan udara dituduh memperkosa dan membunuh seorang anak. Di tahanan, dia disetrum dan dipukuli: dipaksa mengaku bersalah. Hampir lima belas tahun setelah dieksekusi di hadapan regu tembak, terungkap bahwa Kuo-ching tidak bersalah. Penyiksaan di tahanan dan pengadilan yang tidak fair, adalah gejala yang banyak kita temukan di sejumlah negara, yang ironisnya, justru masih mempertahankan hukuman mati. Akhir 70an, pengadilan Indonesia menjatuhkan vonis bersalah atas Sengkon dan Karta. Sama seperti kisah di Taiwan, Sengkon dan Karta yang tak tahan disiksa polisi, akhirnya mengaku sebagai pelaku pembunuhan. Mereka memang tidak dihukum mati seperti Kuo-ching, tapi mereka sama-sama adalah korban peradilan sesat. Lantas bagaimana bisa, sebuah sistem peradilan yang korup dan tidak adil, diberi kewenangan mencabut nyawa manusia? Para pendukung hukuman mati menganggap kejahatan berat memang pantas dihukum mati, dengan alasan keadilan dan juga menciptakan efek jera. Tapi argumen itu lemah. Rasa keadilan bisa terpenuhi dengan menjatuhkan hukuman kumulatif penjara hingga ratusan tahun. Di lain pihak, bukti menunjukkan bahwa hukuman mati tidak menimbulkan efek jera. Di Eropa yang tidak menerapkan hukuman mati, terbukti tingkat kejahatannya rendah. Sebaliknya negara yang masih menerapkan hukuman mati, tingkat kejahatannya sangat tinggi, termasuk Indonesia. Negara dengan Hukuman Mati Terbanyak Cina Negeri tirai bambu, Cina, termasuk yang paling getol menjalankan eksekusi mati. Tahun 2013 saja tercatat sebanyak 2400 tahanan menemui ajal di tangan algojo. Kendati mayoritas penduduk mendukung hukuman mati, suara-suara yang menentang mulai bermunculan. Kekhawatiran terbesar adalah lembaga yudikatif yang tidak jarang menghukum individu yang tak bersalah. Iran Lebih dari 370 tahanan tewas lewat eksekusi mati tahun 2013 silam. Iran memiliki tiga metode eksekusi, yakni tembak mati, hukuman gantung atau rajam. Sama seperti di Cina, hukum di Iran mewajibkan pelaksanaan hukuman mati di depan publik. Negeri para Mullah ini berulangkali memicu kontroversi lantaran menghukum mati jurnalis, aktivis HAM atau individu dengan dakwaan yang tipis. Irak Hukuman mati di Irak terutama marak digunakan sebagai instrumen kekuasaan pada masa diktatur Sadam Husein. Tahun 2013 Irak mengeksekusi 177 tahanan yang sebagian besar tersangka teroris. Sementara 1.724 lainnya masih mendekam di penjara dan menunggu regu penembak beraksi. Tahun lalu PBB mendesak Irak menangguhkan hukuman mati lantaran dinilai berpotensi memicu konflik horizontal. Arab Saudi Lebih dari 80 tahanan tewas di tangan algojo di Arab Saudi 2013 lalu, termasuk di antaranya tiga remaja yang berusia di bawah 18 tahun. Metode hukuman mati yang paling sering digunakan di jantung teluk ini adalah pemenggalan kepala. Kasus yang berujung vonis mati berkisar antara pembunuhan, penyeludupan hingga praktik dukun. Amerika Serikat Sedikitnya 80 vonis hukuman mati dijatuhkan tahun 2013 di Amerika Serikat. Saat yang bersamaan 39 tahanan dieksekusi dengan menggunakan suntikan racun. Metode pilihan AS mendulang banyak kontroversi karena dinilai tidak efisien melumat nyawa terhukum. Terakhir seorang tahanan sekarat selama 39 menit setelah mendapat suntikan racun. Indonesia Kehadiran pemerintahan baru di bawah Joko Widodo tidak mengubah banyak dalam praktik hukuman mati di Indonesia. Sebaliknya orang nomer satu di Istana Negara itu berjanji akan segera melaksanakan sejumlah eksekusi yang tertunda. 2013 lalu Indonesia menghukum mati lima tahanan, kebanyakan tersangkut kasus penyeludupan obat-obatan terlarang.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy