Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'investor'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 10 results

  1. Melihat maraknya startup yang tumbuh dan berkembang di dunia digital memancing para Startup Enthusiast untuk membangun startup milik mereka. Setiap Founder pasti pernah merasakan jatuh saat membangun startup. Sebut saja Nadiem Makarim, Founder GOJEK yang dulu pernah 3 kali gagal sebelum GOJEK dikenal seperti sekarang ini. Sebagai seorang Founder ia pun mengaku pernah merasakan keliling untuk pitching ke para calon Investor pada masa awal GOJEK didirikan. Namun, apakah semua Founder dapat memiliki kesempatan yang sama di depan para calon Investor? Jika tidak, apa saja yang menyebabkan mereka gagal menarik perhatian para calon Investor? Menurut Raditya Pramana, Partner di Venturra Discovery ada 5 kesalahan umum yang sering dilakukan saat melakukan pitching ke Calon Investor. 01. Fokus di fundamental Di depan calon Investor, kamu harus siap untuk menjelaskan apa yang sudah dicapai, apa yang sedang dilakukan, dan apa target bisnis kalian kedepannya karena performance dari bisnis tersebut yang nantinya akan dilihat oleh para calon Investor. 02. Hindari Over-Promising ke Investor Banyak yang memberikan janji hasil yang muluk untuk Investor. Sedangkan yang dilihat calon Investor bukan itu. Seimbangkan target bisnis yang terjangkau, sehinggal believable untuk calon Investor. 03. Datang dengan mindset: Kalian ingin mencari Partner Datanglah bukan dengan mindset seperti ingin mencari kerja, tapi lebih untuk menjadi Partner. Diskusikan layaknya kamu berdiskusi dengan partner. 04. Ketahui yang Investor inginkan Sebelum para calon Investor menyampaikan apa yang mereka inginkan, kamu harus lebih dulu mengetahui apa yang mereka inginkan. Hal ini dapat diketahui dengan research perusahaan itu terlebih dahulu. 05. Hindari Buzz Words Gunakanlah bahasa yang mudah dimengerti oleh orang awam. Daripada menggunakan kata AI, Machine Learning, dan lainnya, lebih baik gunakan kalimat yang menjelaskan kata-kata tersebut.
  2. Ketika kamu memiliki sebuah ide besar dan ingin mewujudkannya, apa yang pertama kali harus kamu lakukan? Pertama, kamu dapat membuat prototipe dan melakukan validasi awal kepada pengguna. Ketika prototipe tersebut mendapatkan traksi yang positif, maka kamu akan membutuhkan modal lebih dari investor. Di sini sebuah pitch deck dan presentasi yang bagus di depan investor dapat membuat banyak perbedaan. Lalu, apa sih sebenarnya pitch deck itu? Pitch deck adalah sebuah presentasi singkat berbentuk slide yang memberikan audiens informasi umum tentang bisnis yang akan atau sedang kamu jalani. Pitch deck biasanya berbentuk rangkuman dari seluruh aspek bisnis kamu untuk mempermudah penyampaiannya — bahkan Steve Jobs dalam presentasinya hanya menggunakan gambar tanpa ada kalimat apa pun. Salah satu bagian tersulitnya adalah kamu akan mempunyai waktu yang sangat terbatas untuk menyampaikan gambaran ide kamu kepada investor. Di saat yang sama kamu juga tetap harus menjaga agar aspek bisnis yang penting tidak terlewat. Tapi pertanyaannya adalah, apakah kamu tahu apa yang investor cari di presentasi pitch deck kamu? Industri startup telah memiliki standar tersendiri yang menjadi acuan para investor untuk melihat, manakah deck yang baik dan mana yang tidak. Tentu saja kamu dapat membuat pitch deck kamu sendiri dari ide yang bermunculan di kepala kamu, tapi seperti orang bijak katakan “Belajar dari kesalahan dan keberhasilan orang lain”. Kali ini, Tech in Asia Indonesia telah mengumpulkan beberapa contoh pitch deck startup yang bisa kamu gunakan sebagai acuan. Kami menyusun daftar ini dengan mengambil contoh startup yang sudah menjadi salah satu perusahaan terbesar di dunia sampai kepada startup yang baru agar tetap relevan. Kamu bisa melihat contoh pitch deck dalam format slide via SlideShare di bawah ini. BrandBoards Lokasi: Palo Alto, California Industri: Web Development, Advertising, News Karyawan: 1-10 Para pemilik merek besar dari seluruh dunia kini rela untuk membayar lebih banyak untuk ruang iklan virtual, tidak peduli apakah itu televisi atau internet. BrandBoards menyajikan kepada para pemasang iklan sebuah cara terpadu, yang tidak hanya memperlihatkan ketersediaan ruang iklan, namun juga menyuguhkan titik iklan mana yang memang benar-benar terbukti efektif untuk merek secara spesifik. Ide ini muncul dari pemikiran sang founder Tim Schoen, seorang figur yang juga cukup terkenal di dunia olahraga. Sebelum bergabung dengan BrandBoards, ia adalah Executive VP dari Sports and Entertainment. Di perusahaan inilah ia mendapatkan ide untuk membuat BrandBoards. BrandBoards kini telah ada dalam tahap pematangan kontrak dengan dua belas tim olahraga. Saat ini, BrandBoards masih membutuhkan sekitar US$750 ribu (sekitar Rp10 miliar) untuk mewujudkan produk mereka. Sorotan utama: Dengan anggota tim yang memiliki pengalaman di dunia olahraga, BrandBoards menyajikan sebuah metode menarik tentang pemanfaatan iklan yang mungkin tidak semua orang mengetahuinya. Dengan solusi yang mereka punya, BrandBoards berusaha untuk memanfaatkan celah ini dan memaksimalkannya agar tidak ada anggaran iklan yang terbuang percuma. MapMe Lokasi: Herzliya, Tel Aviv Industri: Crowdsourcing, Internet Karyawan: 1-10 Kamu masih menggunakan kertas untuk menggambar peta? Ayolah, ini tahun 2017. Dengan MapMe, kamu dapat menggambar peta di mana saja dan kapan saja, bahkan tanpa kemampuan coding sedikitpun. Peta yang telah kamu buat dapat diakses di smartphone, tablet, dan komputer. Peta yang dibuat dapat diklasifikasikan agar dapat digunakan oleh pengguna lain. Apakah peta tersebut adalah rute hiking, rute balap offroad, atau rute downhill, MapMe memiliki fitur untuk dapat menyertakan kategori tertentu untuk membagi hasil pencitraan kamu kepada pengguna lain. MapMe juga dapat digunakan oleh para pilot dalam menentukan rute terbaik untuk penerbangan mereka. Sorotan utama: Untuk menarik perhatian investor, MapMe menyertakan berbagai peluang model bisnis yang dapat diterapkan di dalam produk mereka. Ragam peta yang ditampilkan dalam pitch deck mereka juga menarik calon pengguna baru untuk menambah koleksi yang ada. Lebih banyak pengguna = peluang monetisasi yang lebih besar. Pinmypet Lokasi: Brazil, Rio de Janeiro Industri: Hardware, Software, Mobile Apps Karyawan: 11-50 Pinmypet adalah sebuah perangkat yang disematkan pada kalung hewan peliharaanmu. Perangkat ini akan mendeteksi lokasi binatang kesayanganmu dan melacak apa saja yang mereka lakukan di mana saja, kapan saja. Aplikasi ini akan memudahkan kamu untuk mengetahui keberadaan hewan peliharaan kamu, terutama ketika mereka hilang. Selain itu, perangkat ini juga dirancang untuk mencatat data kesehatan hewan peliharaan kamu. Jadi seluruh informasi tentang binatang peliharaanmu akan mudah diakses melalui smartphone kamu. Sorotan utama: PinMyPet tidak menggunakan banyak teks dan penjelasan yang tidak perlu. Sebaliknya, mereka menggunakan gambar dan statistik yang perlu diketahui serta relevan dengan produk yang mereka tawarkan. Tealet Lokasi: Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat Industri: Ecommerce dan Marketplace Karyawan: 1-10 Tealet adalah sebuah marketplace tempat para petani teh menjual hasil panen mereka dan menukarnya dengan mata uang bitcoin. Melalui Tealet, para petani teh ini akan terhubung langsung dengan para peritel serta penjual besar. Tealet berperan sebagai platform dagang transparan yang memberikan layanan online marketing yang optimal, pengiriman internasional, serta pembayaran dengan mudah dan aman melalui cryptocurrency. Tealet hadir untuk memberikan solusi yang lebih transparan bagi para petani untuk memilih pembeli dengan harga yang mereka kehendaki. Peritel dan penjual besar juga dapat memutuskan sendiri kualitas teh yang ingin dibeli dari petani. Sorotan utama: Pitch deck yang dimiliki oleh Tealet adalah salah satu yang memiliki desain terbaik di antara pitch deck lainnya. Dengan nuansa daun teh yang menenangkan serta berbagai informasi lengkap tentang permasalahan yang terjadi di industri, Tealet secara langsung telah menyatakan solusi mereka: menghadirkan solusi terbaik demi kesejahteraan para petani teh. Airbnb Lokasi: Amerika Serikat Industri: Marketplaces, Hotels & Accomodation Karyawan: 1001–5000 Airbnb dirintis pada tahun 2008 oleh Joe Gebbia, Brian Chesky, dan Nathan Blecharcyk. Pitch deck yang satu ini menjadi referensi yang paling populer di kalangan entrepreneur dunia ketika Airbnb berhasil memenangkan pendanaan sebesar US$600 ribu (sekitar 7,8 miliar) dari Sequoia Capital dan Y Ventures. Kini, perusahaan ini telah menjadi raksasa di industri travel, dengan nilai valuasi sebesar US$20 milyar (sekitar Rp260 triliun) pada awal 2015 lalu. Sorotan utama: Yang menarik di sini adalah cara Airbnb untuk menjelaskan model bisnis mereka dalam satu kalimat. Terkadang model bisnis bisa sedikit sulit jika harus dijelaskan dalam satu kalimat, tetapi sebisa mungkin buatlah sebuah punchline yang akan terngiang-ngiang di benak investor dan pengguna kamu. Apabila investor dan pengguna dapat mengerti mengerti apa yang kamu lakukan dengan cepat maka kamu sudah satu langkah lebih maju untuk mewujudkan bisnis kamu. Facebook Lokasi: Amerika Serikat Industri: Communities, Social Networking Karyawan: 10000+ Pada tahun 2004, pitch deck inilah yang digunakan oleh pemuda berumur 21 tahun bernama Eduardo Saverin untuk meyakinkan investor agar mereka mau menanamkan uang di thefacebook.com, yang dirintis Eduardo bersama temannya, Mark Zuckerberg. Kini, siapa yang menyangka bahwa Facebook adalah salah satu perusahaan yang paling sukses abad ini. Format pitch deck seperti ini mungkin terbilang tua dan kurang relevan lagi, tetapi beberapa poin dapat menginspirasimu untuk membuat pitch deck yang baik. Sorotan utama: Facebook belum dapat menampilkan revenue traction (pertumbuhan pendapatan yang sehat), karena Mark dan Eduardo memang belum mendapatkan uang dari The Facebook. Tetapi, mereka memiliki angka user engagement, customer base, dan growth metrics yang luar biasa. Statistik inilah yang menjadi “senjata utama” mereka dalam menarik investor. BuzzFeed Lokasi: Amerika Serikat Industri: News, Digital Media Karyawan: 1300+ Delapan tahun lalu, BuzzFeed hanyalah sebuah startup kecil beranggotakan lima karyawan yang bekerja di salah satu kantor di Chinatown, New York. Kini perusahaan ini telah memiliki lebih dari 1300 karyawan dan dikunjungi oleh lebih dari 200 juta pengguna setiap bulannya. BuzzFeed berhasil menjadi salah satu pemain besar di industri media digital. Pitch deck inilah yang membuat BuzzFeed sukses “mencuri” hati para investor. Apabila model bisnis startup yang kamu rintis memiliki kesamaan dengan BuzzFeed, mungkin kamu dapat terinspirasi dari pitch deck mereka. Sorotan utama: BuzzFeed berani untuk menyajikan jumlah pageview dan impresi yang mereka dapatkan untuk menarik perhatian investor. Investor menyukai startup dengan visi yang ambisius, namun tentunya kamu juga harus bisa menjelaskan bagaimana strategi kamu untuk mencapainya. Foursquare Lokasi: Amerika Serikat Industri: Communities, Social Networking Karyawan: 180+ Foursquare adalah sebuah perusahaan teknologi yang memanfaatkan lokasi pengguna untuk membangun sebuah user experience yang unik. Dirintis pada tahun 2009 oleh Naveen Selvadurai dan Dennis Crowley, perusahaan ini berhasil mendapatkan pendanaan sebesar US$160 juta (sekitar Rp2 triliun) dari para investor kelas kakap seperti Andreessen Horowitz, DFJ Growth, Microsoft, dan Silver Lake Partners. Sorotan utama: Foursquare telah memiliki traksi yang cukup baik sebelum mereka bertemu investor, ini mereka buktikan dengan menyertakan screenshot dari sederetan pengguna yang telah aktif berinteraksi di dalam aplikasi. Pembuktian ide dalam skala yang lebih kecil sebagai validasi adalah hal yang baik untuk dilakukan sebelum bertemu dengan investor. Jangan segan juga untuk memasukkan testimoni atau pengalaman pengguna di dalam pitch deck kamu. Podozi Lokasi: Nigeria Industri: E-Commerce Karyawan: Data tidak ditemukan Meluncur pada Januari 2015 silam, Podozi adalah salah satu startup e-commerce kecantikan terbesar di Nigeria. Perusahaan ini berusaha untuk menyajikan produk-produk kecantikan untuk para wanita di seantero Afrika dengan lebih dari 5000 varian produk yang mereka hadirkan. Untuk dapat memuaskan penggunanya, Podozi menggandeng beberapa brand besar untuk bekerja sama dengan mereka, antara lain: Maybelline, Oriflame, Calvin Klein, dan banyak lagi. Kini Podozi telah memiliki nilai valuasi sebesar US$4 juta (sekitar Rp51 miliar). Sorotan utama: Podozi tidak perlu membuat sebuah pitch deck panjang lebar dengan jumlah slide lebih dari 10. Dengan pitch deck ini, Podozi berhasil mendapatkan pendanaan dari Savannah Fund. Nama-nama besar yang digandeng Podozi juga menjadi nilai tambah bagi startup ini untuk menarik perhatian para investor. Salah satu kekuatan Podozi adalah mereka sudah bekerja sama dengan banyak brand besar. Investor akan tertarik ketika mengetahui bahwa para brand besar atau berpengaruh ingin bekerja sama dengan kamu. Buffer Lokasi: Amerika Serikat Industri: Social Networking Karyawan: 50 Dirintis pada Oktober 2010 oleh Joel Gascoigne, Leo Widrich, dan Tom Moor, Buffer membantu penggunanya untuk membagikan konten media sosial secara terjadwal sepanjang hari. Tool ini banyak digunakan oleh para pekerja media sosial untuk mengotomatisasi pekerjaan mereka. Pitch deck ini adalah yang mereka gunakan ketika Buffer berhasil mendapatkan pendanaan sebesar US$500 ribu (sekitar Rp6,5 miliar). Kini, Buffer terbilang cukup sukses dan berhasil memperoleh pendanaan hingga US$3 juta (sekitar Rp38 miliar) dalam tiga round pendanaan dari investor besar seperti Collaborative Fund, Angel Pad, dan banyak lagi. Sorotan utama: Tidak seperti perusahaan lainnya yang menutup rapat pitch deck mereka kepada khalayak ramai, Buffer memublikasikan deck mereka secara online untuk menginspirasi startup lain. Ini sejalan dengan value yang mereka miliki yakni transparansi. Ooomf (kini bernama Crew) Lokasi: Kanada Industri: Marketplace, Outsourcing Karyawan: 30 Dirintis pada Februari 2012 di Montreal, Kanada, Ooomf (yang kini telah bernama Crew) memiliki misi untuk mengubah cara produk digital diciptakan. Ooomf membangun sebuah marketplace online untuk talenta-talenta kreatif, yang akan menjembatani antara kreator dan developer dengan pengguna yang membutuhkan jasa pembuatan aplikasi mobile, situs web, dan brand. Dengan pitch deck mereka ini, mereka berhasil mendapatkan pendanaan sebanyak US$2 juta (sekitar Rp26 miliar). Sorotan utama: Cara penyajiannya yang simpel dan tanpa terlalu banyak menyajikan tulisan pada presentasinya menjadikan contoh dari Ooomf ini menarik bagi para investor. Ketika investor menyadari bahwa keahlian presentasi kamu masih kurang maka mereka akan cenderung melihat pitch deck (karena kamu membosankan). Namun pada saat deck kamu terasa kurang menarik, kamu tetap dapat menarik perhatian mereka dengan kemampuan presentasi kamu. Latihan, latihan, latihan. Castle Lokasi: Amerika Serikat Industri: Properti Karyawan: 5 Berbicara tentang penerapan teknologi, industri properti adalah salah satu industri yang terbilang lambat perkembangannya. Karenanya, Castle berusaha untuk menghadirkan inovasi dalam industri ini dengan merancang sebuah platform manajemen properti. Solusi ini mempermudah proses jual beli properti, menyaring calon penyewa, penarikan uang sewa, dan fitur unggulan lain yang tak kalah menarik. Castle berhasil mendapatkan pendanaan sebesar US$270 ribu (sekitar Rp3,5 miliar) untuk menjalankan aktifitas bisnis mereka. Sorotan utama: Berusaha menarik perhatian investor dengan desain yang bagus, Castle juga berhasil menyajikan informasi apa saja yang dibutuhkan oleh investor untuk menanamkan uang mereka. Prototipe solusi mereka juga mendapatkan traksi yang cukup positif dari penggunanya, menjadikan investasi pada startup ini lebih menjanjikan. Sumber: Tech in asia
  3. Twitter Inc. (TWTR) got called the “worst stock to own” by billionaire investor Chris Sacca, one of the embattled social network’s earliest investors. In a tweet this week, Sacca said he “hates” Twitter’s stock and took issue with the fact that millions of Twitter’s accounts are bots. The investor hasn’t owned shares of Twitter for a couple of years, saying he “lost hope” after Twitter failed to bring back co-founder Evan Williams. “Love the service, hate the stock,” the host of ABC's "Shark Tank" tweeted in response to a question from a fan. Lack of Innovation Cited Sacca, the founder of Lowercase Capital and an Uber investor, has been upset with Twitter during the past few months, telling CNBC last year a sale is in Twitter’s best interest. Sacca said then a partnership or acquisition would help Twitter with product vision and give it the freedom to experiment and take risks, something he said he hasn’t seen since Jack Dorsey returned to the helm in 2015 as CEO. The billionaire investor isn’t the only one who thinks Twitter lacks vision. Earlier this month, Stratechery.com slammed Twitter in a blog post with website operator Ben Thompson arguing the social network has stagnated when it comes to product development, which will have a negative impact on the company’s prospects over the long term. “Twitter has been, and will always be, handicapped by its initial idea, which transformed the way people around the globe connect and communicate,” said Thompson. As for Twitter’s bot problem, earlier this week the University of Southern California and Indiana University issued a research report that shows as many as 15% of Twitter accounts are bots instead of people doing the tweeting and retweeting. Relying on more than a thousand different criteria to identify if an account is a bot on Twitter, researchers found that 9% to 15% percent of the accounts aren’t human. Given that Twitter has 319 million monthly active users, 15% means 48 million accounts are actually bots liking, retweeting and following companies and users of the social media network. Sacca told CNBC the bots is one of the largest issues for Twitter, and while eradicating them would hurt Twitter’s user numbers in the short term, it should help over the long run. So how can Twitter right what some would say is a sinking ship? Sacca said Twitter should reopen the platform to developers so they can come up with new reasons to use Twitter, reported CNBC.
  4. Setelah terus melepas portofolio di lantai bursa, investor asing mulai berbelanja di pasar modal Indonesia, seiring dengan progres program amnesti pajak yang melejit di akhir periode pertama. Dalam dua hari terakhir, investor asing membukukan aksi beli bersih atau net buy sebesar Rp1,32 triliun. Meskipun memang dalam sepekan masih tercatat net sell senilai Rp184,9 miliar. Aksi beli bersih investor asing di lantai bursa tersebut baru terjadi setelah sejak pekan terakhir Agustus 2016 terus melepas portofolio. Namun, sejak awal tahun investor asing masih tercatat net buy Rp34,45 triliun. Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan masuknya investor asing ke PT Bursa Efek Indonesia telah terjadi dalam dua hari terakhir. Namun, indeks harga saham gabungan (IHSG) tertekan lantaran sentimen denda Deutsche Bank di Eropa. “Investor asing masuk lagi. Amnesti pajak jadi keberhasilan yang membuat asing kembali masuk ke IHSG,” katanya saat dihubungi Bisnis, Jumat (30/9). Pada akhir pekan, IHSG ditutup melemah 1,24% sebesar 67,15 poin ke level 5.364,8. IHSG terus bertahan di atas level 5.400 dan akhirnya menyerah di paruh kedua perdagangan harian kemarin. Dalam sepekan, IHSG ditutup melemah 0,45% sebesar 24,1 poin dari level 5.388,91. Selama September, IHSG ditutup terkoreksi 0,40% sebesar 21,27 poin setelah tiga bulan berturut-turut melonjak tajam. Satrio menjelaskan hasil program amnesti pajak terbilang lebih tinggi dari ekspektasi. Perolehan lebih dari 50% dinilai sebuah prestasi yang sangat mengesankan, bahkan bisa dibilang program tax amnesty paling berhasil di dunia. Pekan ini, sentimen terbesar dari dalam negeri adalah realisasi amnesti pajak yang berlawanan dengan tekanan pasar regional. Tekanan jual di lantai bursa mulai muncul setelah adanya berita Deutsche Bank. SAHAM KAKAP Masuknya pelaku pasar asing ke bursa Indonesia diperkirakan berbelanja saham-saham berkapitalisasi pasar besar. Saham-saham big cap diburu oleh investor asing terutama emiten penggerak IHSG. Di pasar reguler, sambungnya, investor asing membukukan net buy terutama sejak program amnesti pajak. Dia memerkirakan seperempat dana repatriasi senilai Rp20 triliun masuk ke lantai bursa melalui portofolio. “Tahap pertama amnesti pajak sudah kelar, tahap kedua masih ada lagi. Sementara kemungkinan investor asing akan berhenti berbelanja dulu,” tuturnya. Sebaliknya, analis PT Recapital Securities Kiswoyo Adi Joe menilai dana repatriasi dari amnesti pajak belum tampak masuk kepasar modal. Pasalnya, sampai saat ini, dana deklarasi amnesti pajaklah yang jauh lebih besar. IHSG pada akhir pekan, kata dia, ditutup melemah lantaran adanya sentimen denda Deutsche Bank. Bank tersebut tercatat sebagai bank terbesar ke-4 di Eropa dan ke-11 di dunia. Padahal, saat sentimen negatif Lehman Brothers, hanya berada di posisi ke-43 dunia. “Denda bagi Deutsche Bank menjadi sumber ketakutan pelaku pasar. Tapi ditahan oleh adanya berita amnesti pajak. Grup Sinarmas dan Salim ikut juga tax amnesty, dana tebusan pemerintah sepertinya tercapai,” kata dia. Dia menyebutkan investor asing ke depan masih wait and see, terutama realisasi amnesti pajak pada tahap pertama. Pelaku pasar asing itu masuk ke saham-saham big cap seperti HMSP, GGRM, BBRI, BMRI, BBCA, ASII, dan TLKM. Analis PT HD Capital Tbk. Yuganur Wijanarko menambahkan koreksi IHSG beberapa waktu terakhir telah rampung dan bersiap kembali menanjak. Koreksi IHSG selama September hingga level terendah 5.130 akan kembali reli ke level 5.470. “Kemarin sempat anteng di atas 5.330, seharusnya tidak akan ada lagi kejutan aksi penurunan heboh dari kaum bearish lagi hingga tahun depan,” ujarnya. Pekan ini, sentimen terbesar dari dalam negeri adalah realisasi amnesti pajak yang berlawanan dengan tekanan pasar regional.
  5. Tragedi bom bunuh diri yang terjadi di Solo, Jawa Tengah, pada 5 Juni 2016, ternyata menjadi sorotan bagi investor asing. Para investor pun sempat mempertanyakan stabilitas ekonomi Indonesia setelah terjadinya bom Solo yang menewaskan satu orang tersebut. "Sempat investor dari luar tanya. Kita sudah beri penjelasan bahwa itu bukan hal yang berdampak langsung maupun tidak langsung pada perekonomian," kata Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Roeslani. Menurut Rosan, tragedi bom Solo tidak berdampak signifikan terhadap dunia usaha di Indonesia. Karena itu, para investor diimbau tidak terlalu terpengaruh terhadap aksi teror yang baru saja terjadi. "Yang di Solo, saya rasa masyarakat kita sudah tahan dari kejadian bom yang terjadi, recovery cepat," ungkap Rosan. "Terjadi di bulan puasa, pas pengusaha juga slow down saat Lebaran ya. Dampaknya sangat minim secara keseluruhan. Saya lihat bom ini enggak ada artinyalah," imbuh dia. Senada dengan Rosan, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan, bom Solo ini tidak berdampak terhadap ekonomi Indonesia. Mirza pun mengimbau masyarakat Tanah Air tak lagi takut dengan ancaman teror. "Aparat keamanan kan dengan sigap mengatasi, jadi dampak kepada kekhawatiran masyarakat juga tidak terlalu banyak sehingga aktivitas ekonomi tidak berdampak banyak," jelas Mirza. "Kita memang juga tidak boleh takut dengan ancaman teror. Aktivitas ekonomi seharusnya tetap berjalan normal," tutupnya.
  6. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyatakan terdapat minat investasi dari investor Malaysia sebesar US$575 juta atau setara dengan Rp7,8 triliun (asumsi kurs APBN Rp13.500 per dolar AS). Kepala BKPM Franky Sibarani mengatakan minat investasi tersebut berasal dari acara 1st Indonesia Malaysia Investment Forum yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, belum lama ini. Ia menjelaskan bahwa minat investasi yang disampaikan oleh pengusaha Malaysia tergolong serius. Ia merinci, nilai minat investasi tersebut diperoleh dari beberapa sektor yakni sektor telekomunikasi, jasa angkutan udara dan perdagangan, infrastruktur, ketenagalistrikan, properti, kawasan industri, pengolahan makanan serta daur sampah ulang sampah elektronik. "Minat investasi di bidang infrastruktur dan kawasan industri merupakan sektor prioritas dan memiliki nilai yang signifikan," ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (1/5). Menurut Franky, sebagai salah satu negara prioritas pemasaran investasi, tim pemasaran BKPM (Marketing Officer) akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait di Malaysia untuk mengawal minat investasi yang disampaikan. "Koordinasi dilakukan dengan KBRI Kuala Lumpur dan kementerian teknis terkait," jelasnya. Lebih lanjut Franky menjelaskan bahwa kegiatan Indonesia-Malaysia Investment Forum merupakan inisiatif bersama KBRI Kuala Lumpur dan BKPM. "Ini sangat positif untuk menjaring minat investasi. Selama ini, meskipun negara terdekat, namun dari sisi pemasaran Malaysia tidak banyak disentuh," ungkapnya. Di sela acara yang diselenggarakan oleh KBRI Malaysia dan BKPM, Franky mengaku mengadakan one on one meeting dengan beberapa investor Malaysia yang bergerak di sektor telekomunikasi US$10 juta dan jasa angkutan udara dan perdagangan US$60 juta. Setelah acara investor forum tersebut KBRI Malaysia dan Kantor Perwakilan BKPM Singapura yang menangani kawasan ASEAN juga menggelar "Investment Clinic" untuk menjaring detail minat investasi. Tercatat 38 investor mengikuti kegiatan tersebut. Franky menjelaskan, dari Investment Clinic ini diperoleh minat investasi dari berbagai sektor diantaranya, infrastruktur sebesar US$287,5 juta, industri proses makanan sebesar US$10 juta, industri daur ulang sampah elektronik sebesar US$10 juta, kawasan industri pariwisata US$100 juta, ketenagalistrikan US$27,5 juta, serta sektor properti sebesar US$70 juta. Direktur IIPC Singapura Ricky Kusmayadi mengatakan bahwa dari hasil Klinik Investasi ini menunjukan bahwa minat investor malaysia ke Indonesia cukup tinggi dan mereka sangat menyambut baik percepatan dan perbaikan perizinan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Untuk diketahui, pada tahun lalu Malaysia tercatat sebagai peringkat kedua teratas sebagai asal negara investasi atau dalam enam tahun terakhir periode 2010-2015 tercatat di peringkat kelima dengan nilai investasi US$7,2 miliar. BKPM mencatat, dalam periode triwulan pertama tahun 2016, realisasi investasi dari Malaysia berada di peringkat 9 asal negara investasi. Realisasi investasi yang masuk dari Malaysia tercatat US$101 juta dengan jumlah proyek 207 dan menyerap tenaga kerja 10.467.
  7. Google selaku unit bisnis tersukses di Alphabet, dilaporkan punya rencana untuk menjaring bakat-bakat hebat di dalam perusahaan mereka dan membiarkan mereka untuk membangun perusahaan rintisan baru. Menurut laporan The Information, Google dilaporkan hendak membuat inkubator startup di dalam perusahaan. Inkubator itu diberi nama "Area 120." Inkubator ini memungkinkan para karyawan Google untuk melakukan wirausaha bersama tim untuk mengembangkan ide-ide mereka dengan dukungan dan pendanaan Google. Ini menjadi potensi untuk membangun anak usaha di mana Google akan jadi investornya. Dua eksekutif Google, Don Harrison and Bradley Horowitz, dilaporkan bakal mengelola inkubator. Sumber The Information mengatakan, tim Area 120 akan bekerja secara penuh dalam inkubator setelah penyusunan rencana bisnis. Setelah beberapa bulan, tim dapat berjalan sebagai perusahaan baru. Inkubator ini bisa jadi penampung bakat para calon pemimpin perusahaan, sekaligus menumbuhkan lingkungan di mana karyawan berbakat memiliki kebebasan untuk berinovasi. Langkah ini sekaligus bisa membuat Google mempertahankan nama-nama besar yang sudah bekerja untuk mereka. Seperti diketahui, Google baru saja kehilangan Regina Dugan, mantan kepala pusat penelitian dan pengembangan Advanced Technologies and Projects.
  8. Penggiat iklim dan mantan Wakil Presiden Amerika, Al Gore mendorong para investor untuk memilih energi terbarukan dari pada aset-aset yang beresiko karbon. Ia berbicara dalam sebuah forum perundingan iklim PBB di Paris. Al Gore menambahkan bukan saja biaya energi terbarukan lebih rendah tapi juga dampaknya sangat kuat dan hampir tidak membutuhkan biaya marjinal. Al Gore juga mendorong para investor untuk melakukan diversifikasi investasi pada ekonomi yang rendah karbon. Dalam forum itu ia juga mengingatkan selain kemauan politik, kemauan untuk melakukan tindakan itu berdasarkan kemauan sendiri juga merupakan sumber daya terbarukan yang sangat berharga.
  9. Life is a pitch. Apalagi entrepreneur yang sering melakukan pitching kepada investor, mencari co founder, supplier, merchant, partnership. Semua membutuhkan skill pitching. Berikut ini adalah beberapa tips pitching yang cukup singkat. 5 Poin advice yang simpe untuk presentasi pitching kepada investor dari Alvin Wang Graylin (mInfo Inc) Seberapa painful problem yang dihadapi ? How painful is the problem ? Kenapa solusimu lebih baik dari yang lain ? Why Your Solution is Better Siapa customernya ? Who is the Customer ? (What is that customer market size) Apa revenue modelnya ? What is the Revenue Model Kenapa kamu adalah yang terbaik untuk menjalankannya ? Why You are the Best at Doing This Jangan lupa untuk enjoy, nikmati presentasimu, senyum, bicara dengan jelas dan lihat mata audience. Advice dari Theresia Gouw, Accel Partner : Jelaskan cerita (singkat) Anda Anda harus bisa membuat VC percaya dengan cerita dan pengalaman Anda. Anda harus bisa mengerti apa saja masalah dalam bidang industri yang Anda tekuni berikut dengan problem solvingnya. Anda harus membawa VC untuk mengerti tentang Anda dan perusahaan Anda secara singkat dan jelas. Gunakanlah angka Jangan buat VC untuk duduk dan mendengarkan 100 data yang berbeda. Secara jujur VC tidak akan mengingat semua hal itu. Gunakanlah sebuah insight yang jelas dan terlihat berbeda. Dengan begitu Anda menunjukkan diri Anda sebagai seseorang yang capable. Sebutlah kompetitor Anda Mentionlah satu atau 2 kompetitor Anda dan garis bawahi apa yang kurang dari mereka dan kenapa produk Anda lebih baik. Tidak menyebutkan kompetitor Anda bisa berarti 2 hal. Yang pertama Anda tidak memberikan respect yang cukup kepada VC atau mungkin Anda tidak dapat membaca market. Jangan gunakan banyak jargon Entrepreneur sering menggunakan istilah / jargon karena mereka sudah terbiasa menggunakannya pada aktivitas mereka sehari-hari. Namun, jangan gunakan jargon pada saat Anda berbicara dengan VC. Jika Anda menggunakannya itu akan membuat Anda terlihat buruk dan Anda seperti tidak mengetahui hal-hal fundamental dari produk atau bisnis Anda. Gunakanlah bahasa yang mudah dimengerti kedua belah pihak sehingga komunikasi antara Anda dan VC bisa berjalan baik. Berikanlah pertanyaan apakah VC ingin bertanya Jika arah diskusi berubah menjadi seperti lecturing, itu tandanya ada yang salah. Pause monolog Anda dan berikanlah kesempatan untuk Anda bertanya pada VC apakah VC ingin menyampaikan pertanyaan misalnyai, apa yang tidak masuk akal bagi Anda? Apa yang ingin Anda ketahui lebih jauh ?
  10. Pendiri Mountain Kejora Sebastian Togelang, CEO Jualo.com Chaim Fetter, Will Ongkowidjaja dan Chandra Tjan dari Alpha JWC Ventures. Situs web marketplace Jualo.com mengumumkan mereka meraih pendanaan dari dua perusahaan pemodal ventura lokal, Mountain Kejora dan Alpha JWC Ventures, dengan nilai investasi yang tidak disebutkan. Pendiri sekaligus CEO Jualo.com, Chaim Fetter asal Belanda, mengklaim punya pengalaman 16 tahun membangun bisnis e-commerce selama tinggal di negara asal. Ia menyebut Jualo.com telah menghasilkan pendapatan di hari pertama beroperasi dengan model bisnis dua arah dari pengiklan maupun pembeli. Dana dari para investor ini bakal ia manfaatkan untuk menambah jumlah sumber daya karyawan serta mempercepat pengembangan produk guna menambah jumlah pelanggan. Fetter mengklaim Jualo.com telah mengalami pertumbuhan pesar sejak diluncurkan pada 2014. Layanan ini telah memiliki ratusan ribu pengguna dengan jumlah transaksi mencapai US$ 100 juta pada bulan lalu. Layanan masih akan fokus pada jual-beli barang bekas, bersaing dengan OLX.co.id. Fetter mengklaim Jualo.com menjadi pelopor fungsi pencarian barang berdasarkan lokasi di Indonesia. "Dengan kerja keras, terobsesi dengan bisnis yang menggunakan pemahaman mendalam tentang konsumen Indonesia, kami akan menjadi platform pilihan bagi orang-orang untuk melakukan perdagangan barang bekas mereka," kata Fetter. Perusahaan pemodal Mountain Kejora, didirikan oleh Sebastian Togelang. Sementara Alpha JWC Ventures didirikan oleh Will Ongkowidjaja dan Chandra Tjan. Selain menjalankan Jualo.com, Fetter juga aktif menjalankan Yayasan Peduli Anak sejak tahun 2005. Lembaga ini beroperasi di Mataram dan menyediakan fasilitas tempat tinggal, kesehatan, pendidikan bagi anak yang kurang mampu. Fetter berkata Yayasan Peduli Anak telah mempekerjakan 60 staf dan menampung 400 anak.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy