Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'industri'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 8 results

  1. Dari California, perusahaan luar angkasa Space X, baru-baru ini meluncurkan satu lagi roket yang membawa satelit ke antariksa. Hal ini menggenjot semakin banyak minat investor dan perusahaan akan bisnis di luar angkasa.
  2. Setelah puluhan tahun tumbuh pesat karena dipacu industri garmen, Kamboja mulai bergeser ke industri manufaktur ringan yang lebih canggih. Mayoritas industri ini dibangun perusahaan asal Jepang di zona ekonomi khusus Kamboja yang didirikan untuk menjadi mata rantai pasokan manufaktur regional.
  3. Berawal dari menjaga kesehatan putra putrinya, seorang ibu rumah tangga memberanikan diri membuka usaha kecil. Mereka membuat produk perawatan kulit sensitif. Bagaimana upaya mereka memperkenalkan produk keluarga ini.
  4. Tak bisa dipungkiri bila sejak beberapa tahun belakangan ini pertumbuhan industri kreatif di Indonesia semakin menunjukan perkembangan yang semakin mantap. Berbagai macam peluang usaha kreatif pun kini mulai bermunculan di berbagai penjuru nusantara seiring dengan meningkatknya kreativitas masyarakat di negara kita. Melihat kondisi tersebut, banyak orang mulai tertarik menekuni bisnis kreatif untuk mendapatkan untung besar setiap bulannya. Mulai dari menekuni bisnis periklanan yang semakin menjanjikan, bisnis kerajinan yang semakin beragam, menekuni bisnis desain yang kian menguntungkan, hingga terjun ke bidang perfilman, dan segudang kegiatan kreatif lainnya seperti bisnis percetakan, pengembangan teknologi informasi, bisnis riset dan pengembangan, bisnis fesyen, dan lain sebagainya. Maraknya peluang dan banyaknya pekerja kreatif yang bermunculan di berbagai daerah, tentunya membuat persaingan pasar di industri tersebut semakin hari semakin meningkat pesat. Oleh karena itu, untuk membantu para pelaku usaha agar bisa terus bertahan di sektor industri kreatif. Pada kesempatan kali ini sengaja kami uraikan beberapa tips cerdas menekuni industri kreatif yang bisa Anda terapkan dalam menjalankan rantai usaha. Bidik target dan segmen pasar yang benar-benar potensial. Dalam menjalankan sebuah usaha, penting bagi kita untuk menentukan target serta segmen pasar yang akan kita bidik. Sebab, hal ini akan sangat mempengaruhi kita dalam menentukan desain produk, strategi pemasaran, kisaran harga, cara pelayanan kepada konsumen, serta rencana pengembangan produk agar lebih kreatif dan inovatif, dan akhirnya konsumen tertarik dengan produk yang Anda tawarkan. Kenali kelebihan dan kekurangan produk Anda. Sebuah usaha tentunya tidak bisa terlepas dari adanya resiko persaingan. Karena itu, cermati kelebihan dan kekurangan produk Anda dibandingkan dengan produk lainnya yang sejenis. Misalnya saja membandingkan desain dan kualitas produk Anda dengan milik kompetitor, membandingkan harga produk Anda dengan produk serupa di pasaran, serta membandingkan keunikan strategi pemasaran yang digunakan para pekerja kreatif lainnya. Dengan begitu, Anda bisa mempelajari kekurangan dan kelebihan para kompetitor, dan mulai menonjolkan kelebihan produk Anda untuk menanamkan ciri khas dan identitas tertentu yang membedakan produk Anda dengan yang lain. Jangan terpengaruh perang harga dan mengesampingkan kualitas produk. Meskipun sekarang ini banyak pelaku usaha yang berlomba-lomba menawarkan harga murah ataupun diskon besar-besaran untuk menjaring calon pelanggan. Sebaiknya Anda jangan terpengaruh dan mengambil strategi yang sama untuk menarik calon konsumen. Sebab, hal tersebut hanya akan melunturkan ciri khas maupun identitas usaha yang Anda bangun, karena biasanya untuk menekan biaya produksi yang lebih murah, para pelaku usaha menurunkan kualitas produk yang mereka tawarkan. Untuk menyiasati kondisi seperti ini, sebaiknya tingkatkan kreativitas Anda dan ciptakan produk unik yang pastinya terjaga kualitasnya. Terus belajar dan ciptakan ide-ide segar. Sebagai pelaku industri kreatif, tentunya Anda harus memiliki wawasan yang luas untuk menciptakan ide-ide segar dan mengembangkan kreasi produk yang Anda tawarkan. Karena itu, teruslah belajar untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan yang Anda miliki. Contohnya saja seperti dengan membaca buku, mengamati trend pasar melalui majalah, tabloid, dan surat kabar lainnya, mencari ide-ide segar melalui internet ataupun bertemu dengan orang-orang baru untuk berbagi ilmu dan bertukar ide dengan mereka. Setelah membahas empat tips bisnis kreatif yang bisa dijalankan para pelaku usaha, kini saatnya Anda mempraktekannya langsung untuk mendatangkan untung besar setiap bulannya. Kembangkan kreativitas dalam diri Anda dan ciptakan produk-produk baru yang pastinya unik dan menarik. Maju terus UKM Indonesia dan salam sukses.
  5. Industri kecil dan menengah telah tumbuh dan berkembang dengan cepat dari waktu ke waktu. Perkembangan industri kecil yang pesat berdampak pada kompetisi yang semakin meningkat. Kompetisi yang semakin ketat cenderung menyebabkan tingkat keuntungan (rate of return) yang diperoleh industri kecil dan menengah mengarah pada keseimbangan. Bahkan pada kondisi tertentu, industri kecil yang tidak mampu berkompetisi akan kalah dari persaingan usaha, atau mengalami kebangkrutan. Krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 lalu, yang diawali dengan krisis nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan krisis moneter telah mengakibatkan perekonomian Indonesia mengalami suatu resesi ekonomi yang besar. Krisis ini sangat berpengaruh negatif terhadap hampir semua lapisan/golongan masyarakat dan hampir semua kegiatan-kegiatan ekonomi di dalam negeri, tidak terkecuali kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam skala kecil dan menengah (Tambunan; 2002). Dalam melihat peranan industri kecil ke depan dan prasyarat yang diperlukan untuk mencapai posisi tersebut, maka paling tidak ada dua pertanyaan besar yang harus dijawab: Pertama, apakah IKM mampu menjadi mesin pertumbuhan sebagaimana diharapkan oleh gerakan IKM di dunia yang sudah terbukti berhasil di negara-negara maju; Kedua, apakah IKM mampu menjadi instrumen utama bagi pemulihan ekonomi Indonesia, terutama memecahkan persoalan pengangguran. Kadang–kadang harapan yang dibebankan kepada IKM juga terlampau berat karena kinerjanya semasa krisis yang mengesankan. Disamping pangsa yang relatif membesar diikuti oleh tumbuhnya usaha baru juga memberikan harapan baru. Sebagaimana diketahui selama tahun 2000 telah terjadi tambahan usaha baru yang cukup besar dimana diharapkan mereka ini berasal dari sektor modern/besar dan terkena PHK kemudian menerjuni usaha mandiri. Dengan demikian mereka ini disertai kualitas SDM yang lebih baik dan bahkan mempunyai permodalan sendiri, karena sebagian dari mereka ini berasal dari sektor keuangan/perbankan. Di Indonesia harapan serupa juga sering kita dengar karena pengalaman ketika krisis multidimensi tahun 1997-1998 usaha kecil telah terbukti mampu mempertahankan kelangsungan usahanya, bahkan memainkan fungsi penyelamatan dibeberapa sub-sektor kegiatan. Fungsi penyelamatan ini segera terlihat pada sektor-sektor penyediaan kebutuhan pokok rakyat melalui produksi dan normalisasi distribusi. Bukti tersebut paling tidak telah menumbuhkan optimisme baru bagi sebagian besar orang yang menguasai sebagian kecil sumber daya akan kemampuannya untuk menjadi motor pertumbuhan bagi pemulihan ekonomi. Sejak pertengahan dasawarsa 80-an ekonomi Indonesia ditopang oleh perusahaan-perusahaan berskala besar yang berkecimpung dalam berbagai sektor. Menurut laporan Badan PBB untuk perdagangan dan pembangunan (UNTAD, United Nation Commision for Trade and Development) peran sektor industri kecil di Indonesia dan Filipina masih sangat kurang dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara. Menurut laporan tersebut, perekonomian kedua negara tersebut didominasi oleh perusahaan-perusahaan besar, sementara perusahaan kecil hanya terkosentrasi pada pertanian, sektor informal atau sektor-sektor lain yang pertumbuhannya rendah. Di tengah krisis industri skala besar dihadapkan pada kenyataan menghadapi kesulitan untuk beroperasi, sementara perusahaan-perusahaan kecil tetap berjalan seperti biasa. Bahkan beberapa sektor industri kecil justru mendapat keuntungan besar akibat depresiasi rupiah terhadap dollar. Hal ini terutama terjadi pada jenis-jenis komoditi pertanian yang berorientasi ekspor. Menurut Mubyarto, “Pertumbuhan ekonomi yang dicapai Indonesia yang mencapai sekitar 4% pada tahun 2000 merupakan hasil aktivitas usaha berskala kecil. Karena, dalam periode tersebut industri skala besar sedang dalam kondisi stagnasi” (Depkop UKM;2007) Ada beberapa sebab yang membuat sektor industri kecil bisa bertahan dimasa krisis. Salah satunya, sektor ini tidak tergantung pada bahan baku impor dalam proses produksinya, sehingga biaya produksinya tidak terpengaruh oleh melonjaknya nilai rupiah terhadap Dollar. Bahkan kalau produknya diekspor, keuntungan yang diperoleh dapat bertambah. Alasan lain bagi industri yang bermodalkan pinjaman. Sektor industri kecil tidak mendapat pinjaman dari mata uang asing. Sumber dana industri kecil umumnya berasal dari dalam negeri. Berbeda dengan sektor industri besar yang sebagian masih tergantung pada bahan baku impor. Sehingga, depresiasi rupiah mempunyai pengaruh yang sangat besar pada pembengkakan biaya produksinya. Demikian juga, sumber dana sektor usaha besar sebagian diperoleh dari pinjaman luar negeri, sehingga penurunan nilai rupiah terhadap dollar mempengaruhi peningkatan biaya bunga yang ditanggung perusahaan. Melihat kenyataan tersebut di atas betapa posisi industri kecil sangat penting untuk memperkokoh perekonomian nasional, namun industri kecil tersebut masih memperoleh posisi marginal, karena perhatian pemerintah lebih banyak pada industri besar. Kenyataan ini membuat industri besar telah berkembang pesat sedang industri kecil perkembangannya lebih lambat. Kesenjangan ini tanpa disadari telah memunculkan gejala kecemburuan sosial dan ada kecenderungan mengarah pada konflik sosial. Untuk mengurangi kesenjangan itu pemerintah dan para pengusaha besar telah berupaya membantu industri kecil melalui program kemitraan. Mengingat populasi terbesar dari unit usaha yang mengembang pada penyediaan lapangan kerja adalah industri kecil, maka fokus pembahasan selanjutnya akan ditujukan pada industri kecil. Tinjauan terhadap keberadaan industri kecil diberbagai sektor ekonomi dalam pembentukan PDB menjadi dasar pemahaman kita terhadap kekuatan dan kelemahannya, selanjutnya potensinya sebagai motor pertumbuhan perlu ditelaah lebih dalam agar kita mampu menemu kenali persyaratan yang diperlukan untuk pengembangannya. Propenas 2000–2004 menggariskan bahwa salah satu tujuan pembangunan sektor industri adalah pengembangan industri kecil, menengah, dan koperasi yang mampu memperluas basis ekonomi dan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam mempercepat perubahan struktural, yaitu dengan meningkatnya perekonomian daerah dan ketahanan ekonomi nasional. Perubahan struktur dalam pembangunan sektor industri yang dimaksud mencerminkan tuntutan peningkatan pada dimensi jenis maupun skala industri, yaitu bahwa selain sektor ini tumbuh, tetapi juga memiliki struktur yang kuat. Kekuatan struktur tercermin dari sumbangan sektor yang makin berarti dari setiap sub-sub sektor industri yang merupakan elemen-elemen industri. Sub-sub sektor yang dimaksud seperti misalnya sub-sub (cabang industri) pangan, sandang, kimia, engineering dan sebagainya. Kekuatan struktur dimaksud juga mencerminkan bahwa semakin meningkatnya peran sektor IKM terhadap sektor industri secara keseluruhan. Pada tahun 2006, PDB nasional atas harga konstan tahun 2000 sebesar Rp. 1.846,65 triliun, kontribusi IKM sebesar Rp. 1.032,57 triliun atau 55,92% (IK Rp. 725,96 triliun atau 39,31% dan IM Rp. 306,61 triliun atau 16,60%), sedangkan kontribusi IB sebesar Rp. 814,08 triliun atau 44,08%. Kontribusi IKM tersebut meningkat sebesar Rp. 52,86 triliun atau 5,40% dibandingkan tahun sebelumnya. (Depkop UKM, 2007) Di sisi lain, pada tahun 2005 nilai PDB nasional atas harga konstan tahun 2000 sebesar Rp. 1.750,66 triliun, peran IKM tercatat sebesar Rp. 979,71 triliun atau 55,96% dari total PDB nasional, kontribusi IK tercatat sebesar Rp. 688,91 triliun atau 39,35% dan IM sebesar Rp. 290,80 triliun atau 16,61%, IB berkontribusi sebesar Rp. 770,94 triliun atau 44,04%. (Depkop UKM, 2007) Dalam hal penyerapan tenaga kerja, peran IKM pada tahun 2005 tercatat sebesar 83.233.793 orang atau 96,28% dari total penyerapan tenaga kerja yang ada, kontribusi IK tercatat sebanyak 78.994.872 orang atau 91,38% dan IM sebanyak 4.238.921 orang atau 4,90%. (Depkop UKM, 2007) Pada tahun 2006, IKM mampu menyerap tenaga kerja sebesar 85.416.493 orang atau 96,18% dari total penyerapan tenaga kerja yang ada, jumlah ini meningkat sebesar 2,62% atau 2.182.700 orang dibandingkan tahun 2005. Kontribusi IK tercatat sebanyak 80.933.384 orang atau 91,14% dan IM sebanyak 4.483.109 orang atau 5,05%. (Depkop UKM, 2007). Dalam periode tahun 2000–2003, industri mikro dan kecil merupakan kelompok yang paling rendah penyerapan investasinya dengan rerata pangsa sebesar 18,58%, yang diikuti oleh industri menengah 23,05% dan industri besar 58,37%. Jumlah investasi industri mikro dan kecil dalam kisaran Rp.1,467 juta per unit/tahun, sedang industri menengah dan besar masing-masing sebesar Rp 1,29 miliar dan Rp 91,42 miliar per unit/tahun. Rendahnya investasi industri mikro dan kecil merupakan indikasi terbatasnya kelompok usaha ini dalam mengakses sumberdaya produktif terutama pembiayaan pengembangan usahanya. Keterbatasan akses pembiayaan ini mengakibatkan industri mikro dan kecil berkonsentrasi pada sektor yang padat karya dengan produktivitas yang relatif rendah. (BPS, 2004) Iklim investasi belum mampu mendorong investasi pada sektor industri mikro dan kecil, meskipun industri mikro dan kecil merupakan kelompok industri yang paling efisien penggunaan investasinya dan umumnya dengan lag waktu investasi yang relatif pendek. Fenomena ini mengindikasikan industri mikro dan kecil akan mampu menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi jika investasi diarahkan pada skala industri mikro dan kecil. Meningkatnya investasi pada skala industri mikro, kecil dan menengah diharapkan mampu meningkatkan daya saing IMKM, karena adanya penggunaan teknologi yang lebih baik. Kendati studi terhadap IKM telah banyak dilakukan, namun tetap saja relevan untuk diteliti. Alasan logisnya adalah bahwa IKM di berbagai daerah mempunyai karakteristik yang tidak sama, meskipun secara umum profil mereka tidak berbeda. Khusus untuk penelitian ini, maka identifikasi dan analisis terhadap variabel atau faktor yang mempengaruhi pertumbuhan usaha IKM sangat penting. Hasil riset ini dapat digunakan dasar pijakan untuk menyusun strategi dan kebijakan untuk mendorong pertumbuhan IKM. Industri kecil dan menengah mempunyai arti penting dalam perekonomian nasional. Selain menjadi sektor kunci dalam penciptaan kesempatan kerja, yang skalanya jauh lebih besar bila dibandingkan industri besar. Selain itu yang lebih penting dan terkait dengan strategi pokok pembangunan industri nasional adalah keterkaitannya dengan sektor pertanian sehingga dapat dikatakan industri kecil dan menengah merupakan pencipta dinamika perekonomian desa karena sifat sebarannya yang jauh menjangkau sampai ke pelosok-pelosok desa. Kontribusi industri kecil lainnya adalah kemampuannya dalam penerimaan terhadap ekspor, kemampuannya memanfaatkan sumber daya domestik-lokal dan ajang latihan kewirausahaan yang murah dan efektif. Adanya perbedaan kepentingan dalam hubungan industrial antara pengusaha dan pekerja, maka pemerintah ikut campur tangan untuk mengatur dan mengakomodir kepentingan kedua belah pihak, terutama untuk melindungi pekerja dari eksploitasi pengusaha. Pekerja yang bekerja di sektor industri, terutama yang berstatus sebagai buruh pada umumnya merasakan bahwa tingkat upah yang diterima relatif rendah, sehingga sangat sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari bagi pekerja dan keluarganya. Pekerja yang merasakan bahwa upah yang diterima cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari adalah hanya pekerja yang masih berstatus lajang. Walaupun UMP senantiasa mengalami perbaikan dan penyesuaian dari tahun ke tahun yang disertai dengan upah sundulan yang didasarkan pada masa kerja, namun masih selalu berada lebih rendah dari tingkat kebutuhan hidup minimum. Kita tunggu perhatian pemerintah untuk menjawab harapan itu!
  6. Menyambut tahun 2015, Autodesk mengutarakan sejumlah tren yang mereka prediksikan akan membuat para ilmuwan, desainer, dan arsitek terus berkarya untuk membuat sesuatu yang baru di masa depan. Tren pertama adalah kerja sama antara manusia dan robot. Saat ini, robot diprogram dengan menggunakan data yang besar, kemampuan analitik dan mesin pembelajaran. Robotik akan berkembang menjadi robot kolaboratif, dengan manusia berperan secara proaktif dan bekerja bersama robot. Sebagai contoh, Bloomberg melaporkan, Toyota menjadi lebih efisien dengan mengganti beberapa robot dengan perajin. Manusia mengambil peran mesin di pabrik-pabrik di Jepang sehingga para pekerja dapat mengembangkan keterampilan baru dan mencari cara untuk meningkatkan produksi dan proses pembangunan mobil. Autodesk optimistis mengenai masa depan ketika manusia dan robot berkolaborasi dan belajar satu sama lain. Tren kedua yaitu desain generatif. Bagaimana jika seandainya sebuah sistem desain yang dibantu komputer (CAD) secara otomatis dapat menghasilkan ribuan pilihan desain yang memenuhi kriteria desain? Dengan Project Dreamcatcher dari Autodesk, generasi terbaru desain komputasi segalanya menjadi mungkin. Dreamcatcher adalah sistem desain generatif yang memungkinkan desainer memasukkan tujuan desainnya, termasuk kebutuhan fungsional, jenis material, manufakturabilitas, kriteria kinerja dan estimasi biaya. Setelah itu, kehebatan cloud mengambil alih. Dan, hal ini sama sekali tidak menggantikan peran desainer. Cloud melakukan pekerjaan kasar, pengolahan, dan mengevaluasi desain pada kecepatan yang hampir tidak mungkin dapat dilakukan oleh manusia. Dreamcatcher memberikan kebebasan bagi desainer untuk berinovasi dan menghindari tugas desain yang berulang-ulang dan penghitungan agar mereka dapat tetap fokus pada desain kreatif. Hy-Fi at The Living, instalasi menara setinggi 40 kaki dengan 10.000 batu bata yang seluruhnya terbuat dari material kompos batang jagung dan jamur. Tren ketiga adalah bangunan hidup dan material yang dipesan terlebih dahulu. Sebagai contoh, David Benjamin, pendiri studio desain dan penelitian The Living, bekerjasama dengan ahli biologi tanaman di University of Cambridge untuk menumbuhkan komposit material baru dari bakteri. The Living juga memanfaatkan kerang hidup untuk mendeteksi kualitas air di East River dan melaporkan kondisi lingkungan kepada masyarakat. Pada tahun 2014, The Living mempersembahkan Hy-Fi, instalasi sukses milik Benjamin untuk kompetisi Program Arsitek Muda di Museum of Modern Art (MoMA), untuk membangun proyek di halaman PS1 di Queens, New York. Instalasi sementara ini melibatkan menara setinggi 40 kaki dengan 10.000 batu bata yang seluruhnya terbuat dari material kompos batang jagung dan jamur. Tren keempat adalah Biotech, cara menggunakan sistem dan organisme hidup untuk mengembangkan produk. Sintetis biologi menggunakan alat desain digital dapat membantu bioteknologi lebih mudah diakses oleh lebih banyak inovator. Ada beberapa implikasi untuk merekayasa obat baru, material dan makanan dengan lebih cepat. Beberapa komunitas yang tengah berkembang terdiri dari dari generasi muda, wiraswasta desainer biologis yang membuat terobosan luar biasa, termasuk: RevBio yang menciptakan bunga yang berubah warna “Petunia Circadia”, Muufri yang menciptakan susu non-hewani yang berasal dari protein sapi, dan Hyasynth yang mengeksplorasi penggunaan cannabinoids untuk mengobati sclerosis, epilepsi, Alzheimer dan penyakit lainnya. Tren terakhir, teknologi desain memungkinkan terobosan skala nano ke meter. Autodesk bekerjasama dengan para ilmuwan, akademisi, dan para pelanggan dalam berbagai proyek desain, dari biologi molekuler hingga ke teknik jaringan untuk manufaktur self-assembling berskala manusia. Sebagai contoh, Autodesk bekerjasama dengan mitra untuk mendukung upaya mereka dalam program mesin skala nano untuk melawan kanker.
  7. Setiap industri, pasti menghasilkan limbah. Lantas, bagaimana Biznet sebagai penyedia layanan internet meredam polusi aktifitasnya? Dengan desain gedung data center yang mampu menahan gempa bumi berkekuatan hingga 8 skala richter, seluruh server yang ditempatkan di Biznet Technovillage, Cimanggis, Depok, Jawa Barat, dijamin keamanannya dari kerusakan akibat amukan alam. "Kami tidak pakai baterai untuk tanggulangi mati listrik. Tapi, kami menggunakan genset berbahan bakar solar agar ramah lingkungan," jelas Dwiyan Nugroho, Sales Supervisor Data Center Biznet. Memang, genset berbahan bakar solar tentu menghasilkan emisi gas buang. Namun, hal ini disiasati dengan penanaman pohon di sebagian besar areal Biznet Technovillage seluas 300 hektar sesuai dengan arahan Green Building International Certificated (GBIC). Sekedar catatan, hingga saat ini Biznet telah menyediakan layanan jaringan internet di kawasan Sumatera, Jawa, dan Bali. Sementara itu, klien besarnya banyak yang berlatar belakang perusahaan finansial serta perusahaan minyak dan gas.
  8. Pelayanan sosial di dunia industri muncul pada Abad Pertengahan. Industri-industri rumah pada masa itu diasosiasikan dalam bentuk gilda (guild) (Johnson, 1994; Kartono, 1994). Gilde-gilde ini merupakan perusahaan-perusahaan sektor kecil dan informal yang terdiri dari kumpulan tukang-tukang, seniman-seniman yang ahli dalam bidangnya serta mengembangkan peralatannya sendiri. Gilda memberikan tunjangan kecacatan, kemiskinan, jaminan pensiun dan kematian dan bantuan sosial bagi keluarga pekerja. Gilda juga sudah memberikan pentingnya istirahat di hari Minggu dan liburan-liburan secara berkala. Sedikit demi sedikit, undang-undang menggantikan kegiatan-kegiatan gilda. Pengaturan jam kerja, upah, pemberian pendidikan dan pelatihan menjadi bagian tak terpisahkan dari perusahaan. Pada tahun 1800 di Skotlandia, seorang industriawan yang bernama Robert Owen menyediakan lapangan atletik, pendidikan anak-anak, supervisi moral, warung desa, perumahan, tunjangan sakit, asuransi kerja dan pengaturan pekerja anak pada perusahaannya. Tidak lama kemudian, para pemilik perusahaan di Inggris mengikutinya. Beberapa perusahaan besar Inggris menciptakan “kota-kota baru” bagi para pekerjanya. Pada masa itu, beberapa perusahaan menyewa apa yang disebut “sekretaris kesejahteraan,” “pekerja kesejahteraan industri,” atau “sekretaris sosial.” Perusahaan manufaktur di Jerman dan pabrik-pabrik tekstil di AS juga membeikan berbagai macam jaminan kesejahteraan sosial kepada para pekerjanya. Di Jerman para pekerja sosial industri ini dikenal dengan nama arbeiter sozial, sedangkan di Perancis dinamakan consul de famille atau conseillers du travail. Mereka mulai terlibat di berbagai perusahaan Inggris, Jerman dan AS sekitar tahun 1890, sedangkan di Perancis tahun 1920. Di AS, pekerja sosial industri pada mulanya dipekerjakan pada pabrik-pabrik tekstil di bagian selatan, di perusahaan International Harvester dan National Cash Register. Mereka melakukan dan atau mengorganisir beragam pelayanan sosial yang meliputi pendirian kamar-kamar istirahat dan kebersihan, perbaikan sanitasi, penyediaan tenaga medis, serta penyediaan makanan, perumahan dan sekolah. Mereka juga mengatur program-program jaminan sosial dan keamanan, pengadaan perpustakaan, kursus menjahit dan memasak, dan pertolongan pertama pada kecelakaan (PPPK). Bahkan tercatat seorang pekerja sosial yang merancang kolam renang bagi pegawai dan mengusulkan perubahan jadwal Kereta Api agar sesuai dengan para pekerja penglaju (commuter) dari luar kota. Kegiatan-kegiatan tersebut kemudian semakin terintegrasi dengan tugas-tugas para spesialis seperti perawat, petugas kepegawaian dan administrasi. Sebagian besar dari pekerja sosial industri adalah laki-laki yang menggantikan para sekretaris kesejahteraan yang umumnya dijabat oleh wanita. Seperti halnya gilda-gilda itu, fungsi-fungsi kesejahteraan yang lebih luas kemudian dipandang perlu untuk diatur dan bahkan diadopsi oleh pemerintah. Sistem kesehatan publik, pendidikan, asuransi tenaga kerja, dan jaminan sosial adalah bebera contoh program kesejahteraan sosial yang diatur oleh pemerintah. Di negara-negara berkembang, sejarah pekerjaan sosial industri ini juga hampir mirip. Di India dan Peru, misalnya, dunia industri menyediakan para pekerja sosial yang terlatih (profesional) dalam memberikan pelayanan sosial di perusahaan. Hingga tahun 1970an, di AS para pekerja sosial industri masih relatif sedikit, kecuali selama Perang Dunia II yang diperlukan untuk memberikan pelayanan bagi para pekerja wanita pada industri-industri senjata, kelautan, dan kantor militer. Setelah Perang Dunia II berakhir, perusahaan-perusahaan publik dan swasta membentuk program konseling dengan mana setiap anggota serikat kerja mendapatkan pelatihan, informasi dan pelayanan rujukan. Organisasi-organisasi serikat kerja kemudian mengoperasikan sekitar 20 unit kerja yang mirip dengan lembaga-lembaga sosial dewasa ini. Dalam konteks pendidikan pekerjaan sosial, sekolah-sekolah pekerjaan sosial menyelenggarakan pelayanan-pelayanan sosial inovatif bagi dunia industri. Pada tahun 1964, Hyman Weiner dari School of Social Work (setingkat fakultas), Columbia University mendirikan sebuah pelayanan rehabilitasi yang dioperasikan secara kerjasama antara universitas dan lembaga pelayanan sosial bagi para pekerja garmen. Karya Weiner merupakan cikal-bakal berdirinya Pusat Kesejahteraan Sosial Industri di Columbia University. Pelopor lainnya adalah Dr. Dale Masi dari the Boston College School of Social Work. Dia mempelopori pendirian beberapa proyek pekerjaan sosial industri yang kemudian menjabat sebagai direktur pertama Pelayanan Konseling Pekerja pada Departemen Kesehatan dan Pelayanan Kemanusiaan di Washington D.C. Sekitar 30 sekolah-sekolah pekerjaan sosial setingkat S2 dan S3 dan beberapa program undergraduate setingkat S1 menyelenggarakan program pekerjaan sosial industri, baik dalam kurikulum maupun praktikum-praktikum lapangannya. Dewan Pendidikan Pekerjaan Sosial (CSWE) dan Asosiasi Nasional Pekerja Sosial (NASW) di AS memasuki bidang industri pada tahun 1975 dengan menetapkan sebuah panitia kerjasama untuk mempelajari dan merekomendasikan bidang baru pekerjaan sosial dalam perusahaan. Hal ini kemudian mendorong diselenggarakannya sebuah konferensi nasional pertama pada tahun 1978 yang khusus difokuskan bagi para praktisi pekerjaan sosial yang bekerja di perusahaan. Semenjak itu, para praktisi dan pendidik pekerjaan sosial saling bahu-membahu untuk terus menyempurnakan kerangka pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai pekerjaan sosial di bidang industri. Pelaksanaan praktikum mahasiswa dalam Program-Program Bantuan Pekerja (EAPs) dalam berbagai setting bisnis dan industri juga semakin meningkat. Masalah Yang Ditangani :Berawal dari Abad ke-14 di Inggris, masyarakat industri sangat ditentukan oleh sistem pabrik. Pada jaman merkantilisme ini, pada awalnya laki-laki dan wanita bekerja di ladang atau pada perusahaan-perusahaan keluarga (informal) (Johnson, 1984; Kartono, 1994). Seiring dengan perkembangan industrialisasi, pabrik-pabrik mulai menarik para pekerja untuk meninggalkan rumah-rumah dan desa-desa mereka. Hal ini memisahkan orang dewasa yang sebagian besar waktunya bekerja di pabrik dengan anak-anak yang ditinggalkan di rumah bersama keluarga besar atau tanpa pengawasan sama sekali. Pemisahan ini menjadi awal bagi dinamika keluarga dan masyarakat termasuk bagi munclunya permasalahan sosial yang diakibatkannya. Retaknya relasi sosial antara pekerja dan keluarganya, kurangnya kesempatan anak-anak dalam meniru model peranan orang tua, dan munculnya alinasi atau keterasingan pekerja dalam kehidupan masyarakatnya adalah beberapa contoh masalah sosial yang timbul akibat industrialisasi. Mekanisasi dan otomatisasi melahirkan rutinitas pekerjaan dan membuat tenaga manusia tampak semakin tidak penting. Para pekerja kerah biru maupun kerah putih merasa tidak bermakna dan terancam karena kapan saja dapat digantikan oleh saingannya, yakni mesin. Perubahan teknologi, pergantian tenaga kerja (shift), dan pemutusan hubungan kerja yang semakin menjadi fenomena sehari-hari, sering menimbulkan kecemasan bagi para pekerja. Proses otomatisasi di AS menggantikan sekitar 2 juta pekerjaan setiap tahunnya. Para pekerja yang yang merasa tidak berguna dan tidak berdaya dalam pekerjaannya seringkali membawanya ke rumah dan masyarakat. Johnson (1984:261) mengklasifikasikan akibat-akibat industrialisasi yang bersifat negatif terhadap kesejahteraan manusia kedalam 5A, yaitu: Alienation: perasaan keterasingan dari diri, keluarga dan kelompok sosial yang dapat menimbulkan apatis, marah, dan kecemasan. Alcoholism atau Addiction: ketergantungan terhadap alkohol, obat-obat terlarang atau rokok yang dapat menurunkan produktifitas, merusak kesehatan pisik dan psikis, dan kehidupan sosial seseorang. Absenteeism: kemangkiran kerja atau perilaku membolos kerja dikarenakan rendahnya motivasi pekerja, perasaan-perasaan malas, tidak berguna, tidak merasa memiliki perusahaan, atau sakit pisik dan psikis lainnya. Accidents: kecelakaan kerja yang diakibatkan oleh menurunnya konsentrasi pekerja atau oleh lemahnya sistem keselamatan dan kesehatan lingkungan kerja. Abuse: bentuk-bentuk perlakuan salah terhadap anak-anak atau pasangan dalam keluarga (istri/suami), seperti memukul dan menghardik secara berlebihan yang ditimbulkan oleh frustrasi, kebosanan dan kelelahan di tempat pekerjaannya. Beberapa permasalahan sosial lainnya yang terkait dengan industrialisasi adalah: diskriminasi di tempat kerja atau tindakan-tindakan tidak adil terhadap wanita, kaum minoritas, imigran, remaja, pensiunan, dan para penyandang cacat. Beberapa industri dan perusahaan juga kerap menimbulkan dampak negatif terhadap masyarakat di sekitarnya, seperti polusi (udara, air, suara) dan kerusakan-keusakan pisik dan psikis bagi para pekerjanya. Para pekerja sosial industri dapat membantu dunia industri untuk mengidentifikasi dan mengatasi berbagai biaya sosial (social costs) yang ditimbulkan oleh perusahaan. Tugas Pekerja Sosial Industri :Menurut Johnson (1984:263-264) ada tiga bidang tugas pekerja sosial yang bekerja di perusahaan: Kebijakan, perencanaan dan administrasi. Bidang ini umumnya tidak melibatkan pelayanan sosial secara langsung. Sebagai contoh, perumusan kebijakan untuk peningkatan karir, pengadministrasian program-program tindakan afirmatif. pengkoordinasian program-program jaminan sosial dan bantuan sosial bagi para pekerja, atau perencanaan kegiatan-kegiatan sosial dalam departemen-departemen perusahaan. Praktik langsung dengan individu, keluarga dan populasi khusus. Tugas pekerja sosial dalam bidang ini meliputi intervensi krisis (crisis intervention), asesmen (penggalian) masalah-masalah personal dan pelayanan rujukan, pemberian konseling bagi pecandu alkohol dan obat-obatan terlarang, pelayanan dan perawatan sosial bagi anak-anak pekerja dalam perusahaan atau organisasi serikat kerja, dan pemberian konseling bagi para pensiunan atau pekerja yang menjelang pensiun. Praktik yang mengkombinasikan pelayanan sosial langsung dan perumusan kebijakan sosial bagi perusahaan. Para pekerja sosial telah memberikan kontribusi penting dalam memanusiawikan dunia kerja. Mereka umumnya terlibat dalam pemberian konseling di dalam maupun di luar perusahaan, pengorganisasian program-program personal, konsultasi dengan manajemen dan serikat-serikat kerja mengenai konsekuensi kebijakan-kebijakan perusahaan terhadap pekerja, serta bekerja dengan bagian kesehatan dan kepegawaian untuk meningkatkan kondisi lingkungan kerja dan kualitas tenaga kerja (Johnson, 1994; Suharto, 1997). Dunia industri kini sedang menggali manfaat-manfaat positif dari adanya pelayanan sosial tersebut, baik tehadap aspek finansial maupun relasi sosial dengan para pekerja dan masyarakat. Di AS, sekitar setengah dari perusahaan-perusahaan terbesar kini memiliki apa yang dinamakan Employee Assistance Programs (EAPs), program-program bantuan kesejahteraan sosial bagi para pekerja dan keluarganya. Dalam upaya menurunkan tingkat kemangkiran kerja saja, peusahaan-perusahaan sanggup mengeluarkan biaya-biaya tambahan untuk program-program sosial dan penanggulangan alkoholisme. Pelayanan sosial seperti ini seringkali disebut sebagai “kontrak kemanusiaan” (human contract) atau “wajah manusiawi industri” (the human face of industry) (Johnson, 1984)
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy