Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'imajinasi'.

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • CLINIC NGOBAS
    • Coronavirus
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • Ngocol
    • Ngocol Video
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • ABOUT NgobasTV
    • EVENT
    • WESER
    • LAPOR KOMANDAN

Calendars

  • Calendar

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Categories

  • Files
    • Website
    • Smartphone
    • Computer
  • Games
  • E-Book

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 2 results

  1. Dunia bermain adalah dunianya anak-anak dan bermain juga menjadi salah satu hak si kecil. Dalam pelaksanaannya, peran orangtua sangat penting dalam menentukan permainan bagi anak yang tentunya memiliki beragam manfaat. Semangat ini pula sejalan dalam memperingati Hari Anak Nasional yang jatuh setiap 23 Juli. Ini merujuk pada Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984 yang menyebut bahwa anak merupakan generasi penerus bangsa dan karena itu, anak perlu dibekali dengan hal-hal positif, termasuk keimanan, kepribadian, kecerdasan dan keterampilan. Brand camilan es krim, Paddle Pop turut mendukung pemenuhan hak anak untuk bermain melalui "Main Yuk". Setidaknya ada beberapa permainan seru bagi anak-anak yang dapat dilakukan di rumah. Orangtua dapat mengajak anak untuk lempar bola untuk melatih ketangkasan, mewarnai untuk mengasah kreativitas dan imajinasi anak, serta menulis surat harapan untuk orangtua. Hal tersebut bertujuan untuk memberi tanda apresiasi dan terima kasih anak bagi orangtua yang telah memenuhi hak anak untuk bermain. Selain itu, orangtua juga dapat mengajak anak untuk menggunakan kostum petualangan. Permainan ini dapat dilengkapi dengan kostum yang akan digunakan anak, mulai dari topi, baju, hingga ransel yang membuat anak merasa seperti petualang. Bertualang Selanjutnya berpetualang di sekitar rumah dengan mengajak anak mengamati warna-warna yang ada pada es krim Paddle Pop Rainbow. Anak akan menemukan warna pink, kuning, dan biru. Kemudian, ajak anak untuk mencari benda berwarna serupa di dalam rumah. Siapa yang paling cepat menemukan tiga benda berwarna pink, kuning, dan biru akan jadi pemenangnya. Tak ketinggalan, berpetualang di taman, ketika anak telah berhasil menemukan benda-benda di rumah, ajak mereka ke lokasi yang berbeda dan lebih luas. Kunjungi taman terdekat dan ajak anak untuk kembali mencari benda berwarna pink, kuning dan biru yang ada di taman. Sementara, Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 1990 tentang Pengesahan Convention on the Rights of the Child (Konvensi Hak-Hak Anak) merangkum 10 hak anak. Ke-10 hak tersebut meliputi Hak untuk Bermain, Hak untuk mendapatkan Pendidikan, Hak untuk mendapatkan Perlindungan, Hak untuk mendapatkan Nama (Identitas), Hak untuk mendapatkan Status Kebangsaan, Hak untuk mendapatkan Makanan, Hak untuk mendapatkan Akses Kesehatan, Hak untuk mendapatkan Rekreasi, Hak untuk mendapatkan Kesamaan, dan Hak untuk memiliki Peran Dalam Pembangunan. Main Yuk Menurut Mayra Mendez, PhD, LMFT, seorang program coordinator di Providence Saint John's Child and Family Development Center di Santa Monica, California, "Bermain itu penting karena memberikan fondasi utama untuk belajar," katanya. "Selain mendukung tumbuh kembang yang sehat dan kemampuan berpikir kritis, bermain juga memampukan anak menggunakan indera mereka dan bereksplorasi dengan rasa ingin tahu yang besar," tambahnya. Memoria Dwi Prasita, Head of Marketing Ice Cream PT Unilever Indonesia Tbk menjelaskan Paddle Pop selalu mendorong anak dan orangtua untuk luangkan waktu bermain bersama serta memenuhi kebutuhan nutrisi dengan camilan yang baik. "Melalui brand purpose #MainYuk, Paddle Pop percaya bahwa banyak hal baik dimulai dari bermain. Dengan bermain, anak-anak dapat melatih kreativitas sambil mengembangkan imajinasi, ketangkasan, kekuatan fisik, kognitif, dan kondisi well-being emosional mereka," lanjutnya. Pihaknya memahami orangtua memiliki berbagai kesibukan, seperti bekerja dan mengurus rumah, yang bisa menjadi tantangan bagi orangtua untuk meluangkan waktu bersama anak. Melalui brand purpose #MainYuk, Paddle Pop menginspirasi para orangtua untuk mengajak anak-anak bermain dengan cara-cara baru, salah satunya adalah dengan memanfaatkan waktu ngemil menjadi waktu bermain bersama. Pentingnya Bermain Bermain punya segudang manfaat bagi tumbuh kembang anak. Maka itu, anak-anak usia dini harus bermain dengan mainan sesuai usia agar mereka lebih pintar, lebih aktif, dan lebih terstimulasi. Psikolog Klinis Anak dan Remaja Cecilia Sinaga menyampaikan, bermain ada tujuannya, tak sekadar membuat anak senang. Sangat disayangkan bila anak bermain, namun tak ada pengalaman dan hanya eksplorasi semata. "Bermain merupakan aktivitas yang sukarela, kita enggak bisa paksa. Aturan perlu, tapi tergantung usia anak. Kalau anak usia dini yang pasti mereka kalau ada kesalahan dan kurang sesuai, masih tidak apa-apa yang penting harus sukarela dulu dan anak happy melakukannya," kata Cecilia. Cecilia melanjutkan, ketika anak sukarela melakukannya, bermain akan jadi menyenangkan. Bermain juga tidak hanya untuk anak, tapi harus berdua karena saat anak main sendiri yang terstimulasi hanya satu arah saja. "Bermain dapat dilakukan sendiri dan dalam grup. Kalau bermain sendiri bagi saya, untuk anak yang masih terlalu kecil, jangan terlalu sering karena nanti stimulasinya enggak banyak. Lebih baik mengandung interaksi dua arah, artinya ada partner-nya," terangnya. Disebutkan Cecilia, tumbuh kembang anak terdiri atas empat aspek, yakni kognitif, emosional, sosial, dan fisik. Aspek kognitif berkaitan dengan kemampuan belajar, daya ingat, kemampuan anak berpikir, mengenal warna, dan informasi yang masuk ke otaknya. Untuk emosional, ini adalah aspek cara anak mengekspresikan emosi. Dari sisi sosial, anak belajar caranya berteman dan aspek fisik, anak-anak harus banyak bergerak.
  2. Sebuah studi dari Karolinska Institutet di Swedia mengungkapkan bahwa apa yang kita bayangkan dalam pikirkan ternyata dapat mempengaruhi cara kita mengalami dunia. Persepsi kita yang sesungguhnya mengalami perubahan di saat kita mengimajinasikan sedang ‘mendengar’ atau ‘melihat’ sesuatu dalam benak kita. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology ini menyoroti pertanyaan klasik dalam dunia psikologi dan neurologi tentang bagaimana otak kita mengkombinasikan informasi dari berbagai indera yang berbeda-beda. “Kita sering berpikir tentang hal-hal yang kita bayangkan dan hal-hal tersebut kita anggap jelas sebagai hal yang terpisahkan,” kata Christopher Berger, mahasiswa doktoral di Departemen Ilmu Saraf dan sebagai penulis utama dalam studi, “Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa imajinasi kita pada suara atau bentuk tertentu mampu merubah cara kita memandang dunia di sekitar kita dengan cara yang benar-benar sama dengan mendengar suara itu atau melihat bentuk tersebut. Secara khusus, kami menemukan bahwa imajinasi kita tentang ‘pendengaran’ dapat mengubah apa yang kita lihat, dan imajinasi kita tentang ‘melihat’ dapat mengubah apa yang sebenarnya kita dengar.” Seorang peserta dalam percobaan mempersepsikan kedua objek yang saling bertabrakan meski sebenarnya kedua objek itu saling berpas-pasan. (Kredit: Karolinska Institutet) Penelitian ini terdiri dari serangkaian percobaan yang menggunakan ilusi di mana informasi sensorik dari satu indera mengalami perubahan atau mendistorsi persepsi seseorang dari indera yang lain. Sembilan puluh enam sukarelawan berpartisipasi secara total. Dalam percobaan pertama, para peserta mengalami ilusi bahwa dua objek yang berpas-pasan saling bertabrakan, bukannya saling melewati satu-sama lain, setelah mereka membayangkan suara kedua objek yang saling bertumbukan. Dalam percobaan kedua, persepsi spasial peserta pada suara menjadi bias terhadap lokasi di saat mereka membayangkan sedang ‘melihat’ sekelebat lingkaran putih. Pada percobaan ketiga, persepsi para peserta pada apa yang diucapkan seseorang berubah setelah mereka membayangkan satu suara tertentu. Menurut para ilmuwan, hasil penelitian ini mungkin berguna dalam memahami mekanisme yang umumnya terjadi pada gangguan kejiwaan tertentu seperti skizofrenia, di mana otak gagal dalam membedakan antara pikiran dan realitas. Penggunaan di bidang lain pun bisa menjadi bahan penelitian mengenai komputer antarmuka otak, di mana imajinasi seseorang yang lumpuh bisa digunakan untuk mengontrol perangkat virtual dan buatan. “Ini merupakan set pertama dari percobaan untuk secara definitif menetapkan bahwa sinyal-sinyal sensorik yang dihasilkan oleh imajinasi seseorang cukup kuat untuk mengubah persepsi dunia nyata seseorang dari modalitas sensorik yang berbeda,” jelas Profesor Henrik Ehrsson, kepala peneliti di balik studi ini.
×
×
  • Create New...