Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'ilmu pengetahuan'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 6 results

  1. Jawaban untuk pertanyaan itu sebenarnya membutuhkan uraian panjang lebar, namun berikut ini saya usahakan seringkas mungkin. Dalam menerbitkan atau mencetak uang, terdapat dua macam sistem, yang disebut “pseudo gold” dan “uang fiat”. Dalam sistem pseudo gold, uang yang dicetak dan beredar didukung dengan cadangan emas atau perak yang dimiliki badan yang menerbitkannya. Sedangkan dalam sistem uang fiat, uang yang beredar tidak didukung aset yang riil, bahkan tidak didukung apa-apa. Artinya, dalam sistem fiat, pemerintah atau badan yang menerbitkan uang bisa mencetak uang sebanyak apa pun sesuai keinginan. Dalam ekonomi, kita tahu, harga barang akan tergantung pada perbandingan jumlah uang dan jumlah persediaan barang. Jika barang lebih banyak dari jumlah uang yang beredar, maka harga akan cenderung turun. Sebaliknya, jika jumlah barang lebih sedikit dibanding jumlah uang yang beredar, maka harga-harga akan cenderung naik. Karena itulah, pencetakan uang secara tak langsung juga ditentukan oleh hal tersebut, agar tidak terjadi inflasi. Apabila suatu negara—dengan alasan miskin—mencetak uang sebanyak-banyaknya, yang terjadi bukan negara itu menjadi kaya, tetapi justru akan semakin miskin. Karena, ketika jumlah uang yang beredar semakin banyak, harga-harga barang akan melambung tinggi, dan inflasi terjadi. Akibatnya, meski uang dicetak terus-menerus, uang itu tidak bisa disebut kekayaan, karena nilainya terus merosot turun. Indonesia juga pernah melakukan pencetakan uang dalam jumlah banyak, pada masa kepresidenan Soekarno. Karena pemerintah belum bisa maksimal memungut pajak dari rakyat waktu itu, Soekarno pun mengambil kebijakan untuk mencetak uang secara berlebih. Hasilnya tentu inflasi. Semakin banyak uang dicetak, harga barang semakin tinggi, dan terjadi hiperinflasi. Finish-nya, kita tahu, adalah demonstrasi yang terkenal dengan sebutan Tritura (tiga tuntutan rakyat), yang salah satunya permintaan agar harga-harga diturunkan. Kasus yang terbaru terjadi di Zimbabwe. Pada 2008, pemerintah Zimbabwe mengeluarkan kebijakan untuk mencetak uang dalam jumlah sangat banyak, yang ditujukan untuk memperbanyak pegawai negeri yang diharapkan akan mendukung pemerintah. Hasilnya adalah inflasi yang gila-gilaan. Negara itu bahkan memegang rekor dalam hal inflasi tertinggi di dunia, yaitu 2.200.000% (2,2 juta persen) pada 2008. Sebegitu cepatnya tingkat inflasi terjadi, hingga kenaikan harga di Zimbabwe tidak terjadi dalam hitungan minggu atau bulan, tetapi menit bahkan detik. Dalam setiap beberapa detik, para pegawai di toko-toko Zimbabwe terus sibuk mengganti label-label harga pada barang-barang yang mereka jual, karena terus terjadi pergantian harga akibat inflasi yang menggila. Pada 20 Juli 2008, bank Zimbabwe bahkan menerbitkan pecahan uang senilai 100 milyar dollar, yang merupakan rekor pecahan uang dengan nominal terbesar di dunia. Uang dengan nominal besar itu, ironisnya, tidak memiliki nilai yang sama besarnya, karena digerus oleh inflasi akibat harga-harga yang melambung luar biasa tinggi. Untuk membeli sembako, misalnya, orang di Zimbabwe harus membawa uang sampai seember. Jadi, negara miskin (ataupun negara yang tidak miskin) tidak mencetak uang dalam jumlah berlebihan, karena adanya pertimbangan seperti yang digambarkan di atas.
  2. Bangsa Indonesia adalah bangsa pejuang. Sebagai pejuang, bangsa Indonesia telah menunjukkan kegigihannya dalam melawan segala bentuk penjajahan. Semangat perjuangan yang diwariskan oleh para pejuang bangsa Indonesia ini salah satunya didorong oleh adanya semangat nasionalisme. Tapi sebenarnya apa sih nasionalisme itu? Nasionalisme adalah loyalitas atau pengabdian yang tinggi terhadap bangsa dan negaranya yang ditujukan melalui sikap mental dan tingkah laku individu atau masyarakat. Untuk mewujudkan kehidupan sebuah bangsa, nasionalisme menjadi persyaratan yang mutlak. Nasionalisme membentuk kesadaran para pemeluknya bahwa loyalitas tidak lagi diberikan pada golongan atau kelompok kecil, seperti agama, ras, suku, dan budaya (primordial), namun ditujukan kepada komunitas yang dianggap lebih tinggi, yaitu bangsa dan negara. Kesimpulannya, nasionalisme sebagai ide (ideologi) menjadi conditio sine quanon (keadaan yang harus ada) bagi keberadaan negara dan bangsa. Nasionalsime menjadi dasar pembentukan negara kebangsaan. Hubungan nasionalisme dan negara kembangsaan memiliki kaitan yang erat. Lahirnya negara bangsa (nation state) merupakan akibat langsung dari gerakan nasionalisme. Negara kebangsaaan adalah negara yang pembentukannya didasarkan pada semangat nasionalisme. Artinya, adanya tekad masyarakat untuk membangun masa depan bersama di bawah satu negara yang sama walaupun warga masyarakat tersebtu berbeda-beda dalam agama, ras, etnik atau golongannya. A. Pengertian Nasionalisme Adolf Henken (1988) menjelaskan pengertian nasionalisme sebagai pandangan yang berpusat pada bangsanya. Kata nasionalisme mempunyai dua arti. 1. Dalam arti sempit Nasionalisme dalam arti sempit digambarkan sebagai sikap yang keterlaluan, sempit, dan sombong. Sikap ini tidak menghargai orang dan bangsa lain sebagaimana mestinya. Apa yang menguntungkan bagi bangsa sendiri begitu saja dianggap benar, meskipun mungkin menginjak-injak hak dan kepentingan bangsa lain. Nasionalisme semacam ini justru mencerai beraikan bangsa satu dengan bangsa lainnya. 2. Dalam arti luas Nasionalisme dapat juga menunjuk sikap nasional yang positif, yakni sikap memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan serta harga diri bangsa sekaligus menghormati bangsa lain. Nasionalisme ini berguna untuk membina rasa bersatu antarpenduduk negara yang heterogen karena perbedaan suku, agama, dan asal usul. Ini juga berfungsi untuk membina rasa identitas, kebersamaan dalam negara, serta bermanfaat untuk mengisi kemerdekaan yang sudah diperoleh. Nasionalisme dalam arti yang kedua itulah yang perlu diwujudkan sekarang, sesuai dengan keadaan. Pada masa penjajah, misalnya, perwujudan nasionlaisme berupa perjuangan mendirikan negara sekaligus menentang penjajahan asing. Sementara, ketika negara telah berdiri, dengan bangsa yang sudah mulai merasa satu, nasionalisme tidak lagi diwujudkan dalam bentuk perjuangan merebut kemerdekaan secara fisik tetapi lebih diwujudlkan dalam bentuk mengisi kemerdekaan nasional melalui pembangunan menuju kehidupan yang lebih baik. B. Faktor-faktor Nasionalisme Munculnya nasionalisme pada masyarakat Indonesia dipengaruhi oleh faktor dari dalam (intern) dan faktor dari luar (ekstern). 1. Faktor Intern Faktor intern yang memengaruhi munculnya nasionalisme Indonesia adalah sebagai berikut. Timbulnya kembali golongan pertengahan, kaum terpelajar. Adanya penderitaan dan kesengsaraan yang dialami oleh seluruh rakyat dalam berbagai bidang kehidupan Pengaruh golongan peranakan Adanya keinginan untuk melepaskan diri dari imperialisme 2. Faktor Ekstern Faktor ekstern yang mempengaruhi munculnya nasionalisme Indonesia adalah sebagai berikut. Paham-faham modern dari Eropa (liberalisme, humanisme, nasionalisme, dan komunisme) Gerakan pan-islamisme. Pergerakan bangsa terjajah di Asia. Kemenangan Rusia atas Jepang.
  3. BincangEdukasi

    Teori Hujan

    Hujan adalah peristiwa turunnya butir-butir air dari langit ke permukaan bumi. Hujan merupakan siklus air. Proses pembentukan Hujan mula - mula sinar matahari menyinari bumi, energi sinar matahari ini mengakibatkan terjadinya evaporasi atau penguapan di lautan, samudra, sungai, danau dan sumber lain lainnya. Uap - uap air yang naik ini pada ketinggian tertentu akan mengalami kondensasi. Peristiwa kondensasi ini diakibatkan oleh suhu sekitar uap air lebih rendah dari pada titik embun uap air. Uap - uap air ini kemudian akan membentuk awan. Kemudian, angin (yang terjadi karena perbedaan tekanan udara) akan membawa butir - butir air ini. Butir - butir air ini menggabungkan diri dan semakin membesar akibat turbelensi udara, butir - butir air ini akan tertarik oleh gaya gravitasi bumi sehingga akan jatuh ke permukaan bumi. Saat jatuh ke permukaan bumi, butir - butir air akan melalui lapisan udara yang lebih hangat di bawahnya sehingga butir - butir air yang membesar tadi sebagian menguap ke atas dan sebagian lainnya jatuh ke permukaan bumi sebagai butir - butir air yang lebih kecil. Inilah yang dinamakan hujan.
  4. Betapa indahnya pelangi yang muncul di langit. Pelangi terkadang muncul setelah hujan atau muncul oleh karena adanya kabut. Kita dapat melihat keindahan 7 warna pelangi di langit setelah hujan atau selama hujan, ketika matahari juga hadir. Meskipun cukup jarang, kita bisa melihat fenomena alami yang luar biasa ini. Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh Isaac Newton, ia menemukan bahwa sinar matahari yang melewati sebuah prisma dapat tercerai menjadi warna-warna yang merupakan komponen sinar matahari tersebut. Proses ini disebut sebagai dispersi. Sinar matahari dapat terdispersi menjadi merah, oranye, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Warna-warna ini dapat dengan mudah dibedakan satu sama lain, dengan pengecualian untuk warna nila. Mirip dengan eksperimen prisma yang dilakukan oleh Isaac Newton, fenomena pelangi terjadi akibat dari cahaya matahari yang terdispersi sehingga menghasilkan tujuh warna. Saat hujan, udara akan dipenuhi oleh titisan hujan. Titisan-titisan hujan ini berperan sebagai prisma. Ketika cahaya matahari melewati tetesan air hujan pada sudut tertentu, cahaya akan terpecah menjadi spektrum yang terdiri dari berbagai warna pelangi. Dengan demikian maka kita dapat melihat pelangi di langit. Agar dapat lebih mudah dimengerti, proses terjadinya pembentukan pelangi akan saya jelaskan ulang dengan poin-poin berikut ini: Pemantulan dan pembiasan cahaya adalah alasan utama terbentuknya spektrum warna, yang merupakan hasil terpecahnya warna putih menjadi warna-warna dasar pembentuknya. Agar pelangi dapat terbentuk, dibutuhkan cahaya serta permukaan pantul. Dalam hal ini, cahayanya adalah sinar matahari, sedangkan permukaan pantul adalah tetes-tetes air hujan. Ketika cahaya matahari mencapai permukaan tetesan air pada sudut yang tepat, cahaya matahari akan terdispersi menjadi spektrum warna. Spektrum ini mencapai titik paling dalam pada tetesan air dan akan terpantul ke titik paling bawah tetesan air. Spektrum ini akan dibiaskan dari titik paling bawah tetesan air, terdispersi, dan kemudian lolos dari tetesan air. Spektrum warna yang terdispersi adalah apa yang kita lihat sebagai pelangi.
  5. ata photography berasal dari kata photo yang berarti cahaya dan graph yang berarti gambar. Jadi photography bisa diartikan menggambar/melukis dengan cahaya. Jenis-jenis kamera a) Kamera film, sekarang juga disebut dengan kamera analog oleh beberapa orang. Format film Sebelum kita melangkah ke jenis-jenis kamera film ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu berbagai macam format/ukuran film. 1. APS, Advanced Photography System. Format kecil dengan ukuran film 16x24mm, dikemas dalam cartridge. Meski format ini tergolong baru, namun tidak populer. Toko yang menjual film jenis ini susah dicari di Indonesia 2. Format 135. Dikenal juga dengan film 35mm. Mempunyai ukuran 24x36mm, dikemas dalam bentuk cartridge berisi 20 atau 36 frame. Format ini adalah format yang paling populer, banyak kita temui di sekitar kita 3. Medium format 4. Large format Jenis Film 1. Film B/W, film negatif hitam putih 2. Film negatif warna. Paling populer, sering kita pakai 3. Film positif, biasa juga disebut slide. Lebih mahal dan rawan overexposure. Meski demikian warna-warna yang dihasilkan lebih bagus karena dapat menangkap rentang kontras yang lebih luas Jenis-jenis kamera Film 1. Pocket/compact. Kamera saku. Populer bagi orang awam, sederhana dan mudah dioperasikan. Menggunakan film format 35mm 2. Rangefinder. Kamera pencari jarak. Kecil, sekilas mirip dengan kamera saku. Bedanya, kamera ini mempunyai mekanisme fokusing (karenanya disebut rangefinder). Umumnya menggunakan film format 35mm 3. SLR, Single Lens Reflex. Kamera refleks lensa tunggal. Populer di kalangan profesional, amatir dan hobiis. Umumnya mempunyai lensa yang dapat diganti. Menggunakan film format 35mm. Disebut juga kamera sistem 4. TLR, Twin Lens Reflex. Kamera refleks lensa ganda. Biasanya menggunakan format medium 5. Viewfinder. Biasanya menggunakan format medium Kamera manual dan kamera otomatis. Kamera-kamera SLR terbaru umumnya sudah dilengkapi sistem autofokus dan autoexposure namun masih dapat dioperasikan secara manual. b ) Kamera digital Menggunakan sensor digital sebagai pengganti film 1. Consumer. Kamera saku, murah, mudah pemakaiannya. Lensa tak dapat diganti. Sebagian besar hanya punya mode full-otomatis. Just point and shoot. Beberapa, seperti Canon seri A, memiliki mode manual. 2. Prosumer. Kamera SLR-like, harga menengah. Lensa tak dapat diganti. Shooting Mode manual dan auto 3. DSLR. Digital SLR Lensa Kamera mata dari kamera, secara umum menentukan kualitas foto yang dihasilkan lensa memiliki 2 properties penting yaitu panjang fokal dan aperture maksimum. Field of View (FOV) tiap lensa memiliki FOV yang lebarnya tergantung dari panjang fokalnya dan luas film/sensor yang digunakan. Field of View Crop sering disebut secara salah kaprah dengan focal length multiplier. Hampir semua kamera digital memiliki ukuran sensor yang lebih kecil daripada film 35mm, maka pada field of view kamera digital lebih kecil dari pada kamera 35mm. Misal lensa 50 mm pada Nikon D70 memiliki FOV yang sama dengan lensa 75mm pada kamera film 35mm (FOV crop factor 1.5x) Jenis-jenis Lensa a. berdasarkan prime-vario 1. Fixed focal/Prime, memiliki panjang fokal tetap, misal Fujinon 35mm F/3.5 memiliki panjang fokal 35 mm. Lensa prime kurang fleksibel, namun kualitasnya lebih tinggi daripada lensa zoom pada harga yang sama 2. Zoom/Vario, memiliki panjang fokal yang dapat diubah, misal Canon EF-S 18-55mm F/3.5-5.6 memiliki panjang fokal yang dapat diubah dari 18 mm sampai 55 mm. Fleksibel karena panjang fokalnya yang dapat diatur b. berdasarkan panjang focal 1. Wide, lensa dengan FOV lebar, panjang fokal 35 mm atau kurang. Biasanya digunakan untuk memotret pemandangan dan gedung 2. Normal, panjang fokal sekitar 50 mm. Lensa serbaguna, cepat dan harganya murah 3. Tele, lensa dengan FOV sempit, panjang fokal 70mm atau lebih. Untuk memotret dari jarak jauh c. berdasarkan aperture maksimumnya 1. Cepat, memiliki aperture maksimum yang lebar 2. Lambat, memiliki aperture maksimum sempit d. lensa-lensa khusus 1. Lensa Makro, digunakan untuk memotret dari jarak dekat 2. Lensa Tilt and Shift, bisa dibengkokan Ketentuan lensa lebar/tele (berdasarkan panjang focal) di atas berlaku untuk kamera film 35mm. Lensa Nikkor 50 mm menjadi lensa normal pada kamera film 35mm, tapi menjadi lensa tele jika digunakan pada kamera digital Nikon D70. Pada Nikon D70 FOV Nikkor 50 mm setara dengan FOV lensa 75 mm pada kamera film 35mm Peralatan bantu lain - Tripod , diperlukan untuk pemotretan dengan kecepatan lambat. Pada kecepatan lambat, menghindari goyangan kamera jika dipegang dengan tangan (handheld). Secara umum kecepatan minimal handhel adalah 1/focal. Membawa tripod saat hunting bisa merepotkan. Untuk keperluan hunting biasanya tripod yang dibawa adalah tripod yang ringan dan kecil. - Monopod , mirip tripod, kaki satu. Lebih mudah dibawa. Hanya dapat menghilangkan goyangan vertikal saja. - Flash/blitz/lampu kilat , untuk menerangai obyek dalam kondisi gelap - Filter , untuk menyaring cahaya yang masuk. Ada banyak jenisnya : UV, menyaring cahaya UV agar tidak terjadi hazy pada foto2 landscape, sering digunakan untuk melindungi lensa dari debu. PL/CPL (Polarizer/Circular Polarizar) untuk mengurangi bayangan pada permukaan non logam. Bisa juga untuk menambah kontras langit Exposure jumlah cahaya yang masuk ke kamera, tergantung dari aperture dan kecepatan. - Aperture/diafragma . Makin besar aperture makin banyak cahaya yang masuk. Aperture dinyatakan dengan angka angka antara lain sebagai berikut: f/1,4 f/2 f/3,5 f/5.6 f/8. semakin besar angkanya (f number), aperture makin kecil aperturenya - Shutter speed/kecepatan rana . Makin cepat, makin sedikit cahaya yang masuk - ISO , menyatakan sensitivitas sensor/film. Makin tinggi ISOnya maka jumlah cahaya yang dibutuhkan makin sedikit. Film ISO 100 memerlukan jumlah cahaya 2 kali film ISO 200 Contoh: kombinasi diafragma f/5.6 kec. 1/500 pada ISO 100 setara dengan diafragma f/8 kec 1/500 atau f/5.6 kec. 1/1000 pada ISO 200. Exposure meter , pengukur cahaya. Hampir tiap kamera modern memiliki pengukur cahaya internal. Selain itu juga tersedia pengukur cahaya eksternal Exposure metering ( sering disingkat dengan metering ) adalah metode pengukuran cahaya 1. Average metering , mengukur cahaya rata-rata seluruh frame 2. Center-weighted average metering , mengukur cahaya rata-rata dengan titik berat bagian tengah 3. Matrix/Evaluative metering , Mengukur cahaya di berbagai bagian dari frame, untuk kemudian dikalkulasi dengan metode-metode otomatis tertentu 4. Spot metering , mengukur cahaya hanya pada bagian kecil di tengah frame saja Exposure compensation, 18% grey . Exposure meter selalu mengukur cahaya dan menhasilkan pengukuran sehingga terang foto yang dihasilkan berkisar pada 18% grey. Jadi kalau kita membidik sebidang kain putih dan menggunakan seting exposure sebagaimana yang ditunjukan oleh meter, maka kain putih tersebut akan menjadi abu-abu dalam foto. Untuk mengatasi hal tersebut kita harus melakukan exposure compensation. Exposure kita tambah sehingga kain menjadi putih. Under exposured = foto terlalu gelap karena kurang exposure Over exposured = foto terlalu terang karena kelebihan exposure Istilah stop Naik 1 stop, artinya exposure dinaikkan menjadi 2 kali. Naik 2 stop, artinya exposure dinaikkan menjadi 4 kali. Turun 1 stop exposure diturunkan menjadi 1/2 kali. Turun 2 stop exposure diturunkan menjadi 1/4 kali. Kenaikan 1 stop pada aperture sebagai berikut: f/22; f/16; f/11; f/8; f/5,6; f/4; f/2,8; f/2. Beda f number tiap stop adalah 0,7 kali (1/ akar2). Kenaikan 1 stop pada kec. Rana sebagai berikut: 1/2000; 1/1000; 1/500; 1/250; 1/125; 1/60; 1/30; 1/15; 1/8; 1/4; 1/2; 1. Beda speed tiap stop adalah 2 kali DOF , Depth of Field, kedalaman medan. DOF adalah daerah tajam di sekitar fokus. Kedalaman medan dipengaruhi oleh besar aperture, panjang fokal, dan jarak ke obyek. 1. Aperture, semakin besar aperture (f number makin kecil) maka DOF akan makin dangkal/sempit 2. Panjang fokal (riil), semakin panjang fokal, DOF makin dangkal/sempit 3. Jarak ke obyek, semakin dekat jarak ke obyek maka DOF makin dangkal/sempit Pemilihan DOF - Jika DOF sempit, FG dan BG akan blur. DOF sempit digunakan jika kita ingin mengisolasi/menonjolkan obyek dari lingkungan sekitarnya misalnya pada foto-foto portrait atau foto bunga. - Jika DOF lebar, FG dan BG tampak lebih tajam. DOF lebar digunakan jika kita menginginkan hampir seluruh bagian pada foto nampak tajam, seperti pada foto landscape atau foto jurnalistik. Shooting mode Mode auto , mode point and shoot, tinggal bidik dan jepret 1. Full auto, kamera yang menentukan semua parameter 2. Portrait, kamera menggunakan aperture terbesar untuk menyempitkan DOF 3. Landscape, kamera menggunakan aperture terkecil 4. Nightscene, menggunakan kecepatan lambat dan flash untuk menangkap obyek dan BG sekaligus 5. Fast shuter speed 6. Slow shutter speed Creative zone 1. P, program AE. Mirip dengan mode auto dengan kontrol lebih. Dengan mode ini kita bisa mengontrol exposure compensation, ISO, metering mode, Auto/manual fokus, white balance, flash on/off, dan continues shooting. 2. Tv, shutter speed priority AE. Kita menetukan speed, kamera akan menghitung aperture yang tepat 3. Av, aperture priority AE. Kita menentukan aperture, kamera mengatur speed 4. M, manual exposure. Kita yang menentukan aperture dan speed secara manual Komposisi dan Angle Komposisi adalah penempatan obyek dalam frame foto Angle adalah sudut pemotretan, dari bawah, atas, atau sejajar Komposisi dan angle lebih menyangkut ke seni dari fotografi. Faktor selera fotografer sangat besar pengaruhnya.
  6. Hantu merupakan mahkluk gaib yang enggak bisa dilihat secara kasat mata. Bicara soal hantu tentu akan banyak sudut pandang yang menarik. Kerena hantu merupakan makhluk yang secara pemikiran antara ada dan tiada. Yang menarik adalah kalau kita mengkajinya secara sains fisika? Apakah bisa fisika menjelaskan keberadaan hantu? ini dia jawabannya. Menurut ilmu fisika, makluk gaib atau bisa dikatakan hantu memiliki ukuran massa yang sangat kecil , malah bisa dikatakan enggak ada. Makhluk gaib itu merupakan makhluk yang berasal dari dimensi lain. Ingat itu! Dengan begitu, tentu sifat-sifatnya berbeda dengan sifat makhluk yang ada pada dimensi kita. Sangat sulit manusia mengerti makhluk dari dimensi lain. Kesulitan ini sama seperti kesulitan makhluk dua dimensi mengerti makhluk tiga dimensi. Kita bayangkan suatu dunia dua dimensi. Dalam dunia ini orang enggak tahu tinggi, yang ada hanya bidang datar tempat makhluk-makhluk pipih ini bergerak wara-wiri. Kalau ada suatu bola jatuh ke dunia ini, bola akan terlihat seperti sebuah titik yang makin lama makin besar setelah itu hilang. Untuk makhluk dua dimensi, fenomena ini sangat aneh. Mana mungkin suatu benda muncul lalu lenyap tak berbekas. Di sini logika fisika dan matematika kita enggak bisa diterapkan. Hal yang sama terjadi waktu kita mencoba mengamati makhluk dari dimensi lain. Kita enggak bisa menggunakan logika fisika dan matematika yang ada sekarang, tetapi harus memakai logika dari dimensi lain itu. Maka, mengambil gambar makhluk dimensi lain tentu sangat sulit, harus ada kemauan dan kemampuan dari makhluk tersebut untuk menjelma menjadi makhluk dalam dimensi kita agar logika-logika fisika kita dapat diterapkan (termasuk logika fisika optik untuk pengambilan gambar). Selain itu hantu berasal dari ujung api atau disebut ether (fatamorgana) yang bergerak secepat cahaya. jadi hantu ngak kan bisa kita lihat. Kapan hantu menampakkan diri? Ketika hantu mengerem kecepatannya sehingga framenya bisa ditangkap mata manusia, jadi bisa dikatakan bahwa hantu yang bisa menampakkan diri berarti hantu yang cukup kuat menahan laju geraknya, itu lah makanya hanya hanya nampak sebentar saja. Kalau dia menahan lajunya sampai hitungan menit, maka seberapa besar energi yang dibutuhkan untuk ngerem lajunya. Gimana dengan fenomena santet bisa dijelaskan dengan fisika? Berbagai penyelidikan pun telah banyak dilakukan ilmuwan terhadap fenomena santet dan sejenisnya. Tentu metode penelitian para ilmuwan agak berbeda dengan agamawan. Kalau para agamawan memakai rujukan dalil-dalil kitab suci (ayat kitabiyah), maka para ilmuwan menggunakan ayat kauniyah (alam semesta) untuk menyelidiki santet ini. Penyelidikan yang menggunakan ayat kauniyah tentunya harus memiliki metode yang sifatnya ilmiah, mulai dari mencari kasus kasus santet, tipe tipe santet, gejala, akibat dan sebagainya. Lalu kemudian dilakukan berbagai eksperimen untuk penyembuhannya. Salah satu kesimpulan / pendapat yang mengemuka adalah santet itu sebenarnya adalah energi. Kenapa dalam kasus santet bisa masuk paku, kalajengking, penggorengan, dan lainnya, bisa dijelaskan melalui proses materialisasi energi. Mahluk halus itu ternyata energi yang bermuatan (-). Bumi pun ternyata memiliki muatan (-). Dalam hukum Coulomb dikatakan bahwa muatan yang senama akan saling tolak menolak dan muatan yang enggak senama justru akan tarik menarik. Nah karena mahluk halus dan bumi itu sama-sama bermuatan (-) makanya para hantu itu enggaklah menyentuh bumi. Orang tua jaman dulu mengatakan kalau bicara sama orang yang enggak dikenal pada malam hari maka lihatlah apakah kakinya menapak ke bumi atau enggak. Kalau enggak, maka ia berarti golongan mahluk halus. Begitu juga dengan santet yang ternyata bermuatan (-), maka secara fisika bisa ditanggulangi atau ditangkal dengan hukum Coulomb ini.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy