Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'gendut'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 4 results

  1. Obesitas pada anakmerupakan salah satu kekhawatiran yang dirasakan oleh banyak orang tua saat ini. Menutur laporan dari US Centers for Disease Control and Prevention, seorang anakyang terserang obesitas cenderung rawan terkena resiko diabetes, penyakit jantung serta kanker. Hal tersebut biasa menjangkiti anak-anak pada rekapan usia antara 6 hingga 11 tahun. Pada usia ini, biasanya anak-anak cenderung sedang dalam tahap hiperaktif dan sulit untuk di kontrol aktifitasnya, terutama berkaitan dengan pola makan, aktifits keseharian dan ritunitas olah raga. Namun, sebenarnya obesitas dapat dicegah sejak dini, dan itu tentu saja menuntut peranan serta dukungan ekstra dari orang tua. Berikut ini adalah beberapa tips jitu yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk menghindari terjadinya Obesitas Pada Anak Perhatikanlah pola makan anak Obesitas banyak menjangkiti sebagian besar anak yang cenderung tidak terkontrol dengan baik pola makannya. Terutama jenis makanan yang banyak mengandung bahan pengawet, minuman yang bersoda, makanan cepat saji dan makanan sereal. Jenis makanan tersebut biasanya menjadi menu favorit anak-anak. Maka dari itu, orang tua harus rutin mengawasi anak mengenai jenis makanan atau jajanan ringan yang di konsumsi. Kalau bisa, latihlah anak untuk menyukai buah-buahan dan sayur mayur sejak dini, hal ini akan sangat membantu dalam menyeimbangkan berat badan serta baik untuk menunjang kesehatan dan pertumbuhan. Latihlah anak untuk membiasakan sejak dini gaya hidup yang seimbang Mayoritas anak-anak, mereka sangat menyukai jenis kegiatan seperti bermain game, nonton video dan nonton tv. Padahal, kebiasaan tersebut merupakan faktor yang signifikan dalam meningkatkan kelebihan berat badan. Jadi, sebisa mungkin bagi orang tua untuk mengarahkan pada anak supaya tidak terlalu banyak menghabiskan waktu menekuni rutinitas tersebut. Latihlah anak untuk mencintai olah raga Kebiasaan oleh raga yang teratur sejak dini bukan hanya baik untuk kesehatan anak, namun juga sangat penting dalam mengontrol keseimbangan hormon yang dapat menyeimbangkan antara pertumbuhan dan berat badan, sehingga terhindar dari obesitas. Kenali jenis menu died yang sehat untuk anak Orang tua harus mengetahui bahwa menu died sehat untuk anak-anak berbeda dengan menu died untuk orang tua. Jika perlu, bertanyalah pada ahli kesehatan mengenai menu yang cocok dan tepat untuk anak sesuai dengan tingkat usia. Biasakan mengajak anak untuk berkumpul bersama keluarga Ajarkanlah pada anak untuk terbiasa berkumpul dengan keluarga, terutama saat makan malam. Dalam kondisi ini, biasanya seorang anak cenderung lebih tenang dan terbuka pada orang tuanya. Jadi, di sini orang tua memiliki kesempatan yang luas untuk memberikan arahan pada anak dengan cara yang santai dan menyenangkan.
  2. Maskapai Air India berencana memecat 130 pramugarinya. Hal ini dikarenakan pramugari telah kelebihan berat badan. Badan yang ramping mungkin menjadi salah satu ciri yang dapat dilihat dari pramugari yang ada di setiap maskapai. Hal ini membuat Air India memecat 130 pramugari mereka. Salah satu peraturan dalam maskapai Air India adalah awak kabin perempuan harus memiliki Body Mass Index (BMI) atau ukuran proporsionalitas tubuh antara 18 dan 22. Jika angka BMI mereka jatuh di antara 23 dan 27, mereka dikategorikan kelebihan berat badan. Sedangkan jika berada di atas angka 27, maka dianggap obesitas. Berbeda dengan pramugari, awak kabin pria diberi skala yang lebih tinggi, yakni antara 18 dan 25. Angka tersebut akan dikategorikan sebagai normal, dan dianggap tidak normal apabila berada di antara angka 25 hingga 30. Selebihnya, maka akan dianggap obesitas. Tidak hanya tahun ini saja maskapai asal India ini berencana menerapkan keputusan yang mengejutkan. Tahun lalu, Air India memperingatkan 600 dari 3.500 karyawannya untuk memiliki tubuh langsing dalam waktu enam bulan. Jika mereka tidak bisa mencapai berat badan yang diinginkan, maka mereka akan dipindahtugaskan sebagai staf darat dan posisi lainnya dari perusahaan. “Sekira 130 dari mereka gagal mendapat penilaian ulang. Sekarang kami mengumumkan mereka secara permanen tidak layak pada pekerjaan mereka sebagai pramugari,” ujar juru bicara Air India kepada Telegraph dikutip dari Yahootravel, Kamis (17/9/2015). Ia melanjutkan bahwa pramugari dengan tubuh yang ramping dapat merespons lebih cepat dan lebih efisien saat bereaksi terhadap keadaan darurat yang mungkin terjadi. Rencana ini tentunya tidak main-main jika mengingat kembali pada tahun 2009 di mana Air India memutasi sembilan pramugarinya sebagai staf darat karena kelebihan berat badan. Sebelumnya, Air India pernah digugat oleh pramugarinya yang dipecat karena kelebihan berat badan, namun Mahkamah Agung India menolak permintaannya untuk melarang peraturan batas berat badan.
  3. Banyak orang tidak menyadari tentang apa yang telah mereka makan setiap hari. Memang terkadang hati terasa gundah ketika harus menolak makanan enak yang sudah tersedia di depan mata, tapi apalah daya, kita sebagai manusia penuh dosa akhirnya juga ngembat makanan itu dengan lahapnya dan akhirnya kenyangpun tak dapat dihindari. Begitulah seterusnya hingga perut anda penuh terisi makanan, padahal makanan yang sebelumnya belum tercerna dengan baik, sehingga ngumpul di perut dan terciptalah perut yang cembung. hehehe, pisss Dibalik itu semua ternyata ada cara ampuh yang bisa dijadikan bahan pertimbangan untuk mengurangi tingkat makan yang biasanya berlebihan. Tenang saja, hal ini biasanya nggak kerasa, tapi harus tetap dibiasakan agar semuanya baik-baik saja. 1. Ngemil Dulu Sebelum Pergi Makan Ketika anda berencana pergi makan malam di luar bersama teman, usahakan Setengah jam sebelumnya, konsumsi 200 kalori lebih dulu, Anda bisa makan camilan yang setidaknya mengandung 15 gram protein. Dengan perut yang dipenuhi protein mengenyangkan, hormon rasa lapar pun akan menurun. Sehingga, saat di tempat makan, Anda akan mengonsumsi lebih sedikit kalori. Dua makanan ringan yang bisa jadi pilihan adalah susu yang mengandung protein atau apel, selain mengandung serat juga mengandung lemak. 2. Berhentilah Sebelum Kenyang Saat makan, bayangkan pengukur tangki bensin mobil mendeteksi isi perut Anda. E atau empty berarti Anda lapar dan F atau Full berarti Anda kenyang. Tujuannya untuk menjaga setengah atau tiga seperempat isi perut. “Jadi, makanlah sebelum perut terlalu kosong dan berhentilah makan ketika Anda merasa puas atau cukup, sebelum perut membesar karena terlalu kenyang,” ujar Matt Lawson, M.A., pelatih penurunan berat badan dari iBehaviorCoach. 3. Kunyah Makanan Hingga Halus Anda tentu pernah mendengar saran ini sebelumnya, kunyahlah setiap makanan yang masuk ke dalam mulut sebanyak 33 kali. Nyatanya, memang ada fakta ilmiah di balik itu. Dalam sebuah penelitian, pria yang mengunyah lebih banyak dalam setiap suapan, makan 12 persen lebih sedikit dibanding mereka yang mengunyah 12 kali. Para peneliti percaya, mengunyah makanan lebih lama sebelum menelannya, mempercepat pelepasan hormon usus yang berkaitan dengan rasa kenyang. 4. Makanlah Layaknya Kritikus Restoran Luangkanlah waktu untuk mencatat tekstur makanan, rasa dan aroma dari makanan yang Anda konsumsi. Pikirkan tentang dari mana asal dan sumbernya. Makan dengan penuh kesadaran akan memperlambat Anda memasukkan makanan ke dalam mulut. 5. Rencanakan Dengan Tepat Untuk Belanja Bahan Makanan Sebuah studi di JAMA Internal Medicine melaporkan, bahwa belanja saat lapar umumnya akan membuat Anda memenuhi keranjang belanja dengan berbagai makanan tinggi kalori. Waktu terbaik untuk belanja adalah setelah sarapan di akhir pekan, ujar Anita Mirchandani, R.D., seorang pakar diet dari New York. Jika waktunya tidak tepat, lakukan sebelum pergi menikmati akhir pekan Anda. Selain itu, studi juga menunjukkan bahwa belanja bahan makanan dengan daftar akan mengurangi kemungkinan Anda membeli makanan tinggi kalori yang menggoda mata Anda. 6. Belilah Alat Makan Yang Baru dan Unik Rata-rata piring di Amerika ukurannya telah diperbesar 23 persen dari abad lalu. Tak heran jika di masa ini, ukuran pinggang banyak orang melebar seperti balon. Tapi, Anda bisa mengakalinya dengan memilih piring berwarna atau bermotif. Piring model ini akan membuat porsi kecil terlihat besar, karena piring akan terlihat berisi, menurut hasil penelitian yang telah diterbitkan di International Journal if Obesity. 7. Hati-hati Jika Terjebak dengan Porsi Makan Besar Restoran sering kali menyajikan menu dengan porsi berlebihan. Misalnya saja hamburger yang seharusnya hanya berukuran 2,5 ons di restoran umumnya disajikan dengan ukuran 5,3 ons. Untuk menghindari makanan berlebih, hindari menghabiskannya seorang diri. Bagi dengan teman dan hapus pikiran bahwa Anda tak kenyang dengan setengah porsi.
  4. Jejaring sosial Facebook menghapus salah satu konten dalam pilihan gambar ekspresi di pesan instan atau populer disebut emoji. Konten yang dihapus itu adalah emoji “feeling fat” atau “merasa gendut” setelah diprotes oleh ribuan orang di dunia melalui petisi online di Change.org. Keputusan tersebut diambil oleh Facebook pada Selasa 10 Maret 2015 menyusul kampanye di delapan negara yang dimotori oleh aktivis pemerhati bentuk badan Endangered Bodies, yang sebagian besar anggotanya mengalami masalah kelainan kebiasaan makan (eating disorder) dan bentuk badan. Emoji tersebut diyakini dapat merusak kepercayaan diri seseorang akan bentuk badannya. “Gendut itu bukan sebuah perasaan, melainkan bentuk alami badan, tak peduli berapa pun berat badan seseorang, semua bentuk tubuh harus dihormati,” demikian isi petisi tersebut. Facebook mengaku telah menerima banyak kritik terkait emoji tersebut. “Kami telah mendengar dari komunitas kami bahwa mencantumkan “feeling fat” sebagai opsi untuk update status dapat menimbulkan adanya perasaan negatif terhadap bentuk badan, khususnya bagi mereka yang mengalami masalah kelainan kebiasaan makan. Oleh karena itu kami akan menghapus “feeling fat” dari list opsi update status kami," tulis Facebook dalam sebuah pengumuman. Petisi dengan judul ‘Fat is Not a Feeling” dimulai oleh Catherine Weingarten, seorang mahasiswa di Bennington College Ohio, Amerika Serikat, dan telah didukung oleh lebih dari 16 ribu orang serta menjadi perhatian media massa dalam dua pekan terakhir. Menurut Catherine, kemenangan petisi ini merupakan bentuk dukungan bagi perempuan di seluruh dunia yang berjuang mengatasi masalah berat badan dan ukuran tubuh. "Sebagai orang yang berjuang mengatasi masalah bentuk badan, saya senang bahwa saya bisa mengurangi salah satu bentuk olok-olokan mengenai bentuk badan di internet," kata Catherine.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy