Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'gemuk'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 9 results

  1. Setiap orang memiliki selera dan tipe berbeda terhadap pasangan, Ada yang menyukai pria bertubuh kekar dan ada pula yang menyukai wanita bertubuh kurus. Sebuah survei yang diproduksi oleh situs gaya hidup, Fitrated, merilis kesimpulan yang diperoleh dari 2.017 partisipan mengenai bentuk dan bagian tubuh pasangan paling favorit. Ternyata, wanita yang memiliki tubuh berisi menjadi pilihan terpopuler di antara sebagian besar partisipan pria. Sebab, 41,7 persen responden pria mengaku bahwa mereka tergila-gila pada wanita dengan tubuh berisi sebagai pasangan. Lalu, 24,1 persen responden pria mengatakan suka dengan wanita yang bertubuh sedang-sedang saja. Sementara itu, hanya 22,4 persen responden pria yang menyukai wanita bertubuh kurus dan 3,8 persen memilih wanita berotot. Selanjutnya, survei juga melansir informasi mengenai ekspektasi wanita terhadap penampilan dan bentuk tubuh pria. Hasilnya, 41,7 persen responden wanita memilih pria dengan bentuk tubuh standar, yaitu tidak gemuk dan tidak kurus. Kemudian, sebanyak 35,8 persen responden wanita mengaku bahwa mereka lebih suka dengan pria berotot.
  2. Arya Permana, bocah asal Karawang, Jawa Barat tampaknya tidak saja menjadi buah bibir di kalangan media massa Tanah Air. Aktivitas bocah 10 tahun tersebut juga ikut disoroti dan diwartakan oleh sejumlah media asing. Di antara media asing yang mengabarkan aktivitas Arya adalah Express, Daily Mail, Brief Report, Japan Herald, Global Headlines dan sejumlah media asing lainnya. Pada umumnya, tema yang diangkat oleh sejumlah media asing tersebut adalah proses kembalinya Arya Permana ke sekolah setelah menjalani diet dan pelatihan ketat. Diet intensif harus dijalani Arya untuk menyelamatkan hidupnya. Selama ini, Arya yang memiliki penyakit obesitas telah menghabiskan sebagian besar waktunya hanya dengan berbaring karena ia hanya dapat berjalan, duduk atau bermain tidak lebih beberapa menit. Tubuh Arya yang terus membesar dari hari ke hari membuat orangtuanya menjadi tidak berdaya dan sangat cemas dengan kondisinya. Untuk menghadapi hal ini, kedua orangtuanya memutuskan agar Arya menjalani latihan intensif untuk menghentikan pertumbuhan badannya yang terus membesar. Berdasarkan saran dari para ahli gizi, Arya akhirnya diberikan diet sehat dan pelatihan yang ketat. Setelah beberapa lama menjalani diet, Arya akhirnya mulai berangsur kurus. Hingga saat ini, berat badan Arya sudah berkurang sebanyak lima kilogram. Dengan berkurangnya berat badan Arya, ia saat ini tidak hanya bisa duduk, tapi juga sudah mampu berjalan ke sekolah dan bermain dengan teman-temannya. “Saya merasa sangat bahagia dapat kembali ke sekolah. Semua orang suka dengan kehadiran saya di sini. Para guru juga memperlakukan saya dengan baik sekali,” ujar Arya.
  3. Anda gemuk tapi merasa sehat? Mungkin Anda benar-benar sehat karena tidak memiliki kebiasaan buruk seperti tidak merokok, minum alkohol, dan tidak melakukan olahraga. Pernyataan ini mungkin berbanding terbalik dengan kampanye kesadaran obesitas yang banyak diterapkan negara-negara di seluruh dunia. Namun sebuah penelitian di Spanyol menemukan lebih dari separuh pekerja obesitas di sana ternyata memiliki metabolik yang sehat. Kegemukan cenderung meningkatkan risiko penyakit kronis dan stigma sosial. Namun seseorang yang gemuk belum tentu memiliki penyakit. Para peneliti, dari Rumah Sakit del Mar, Cualtis, dan Eli Lilly, Spanyol, mengumpulkan data 451.432 pekerja Spanyol. Mereka ingin mengetahui bagaimana perbedaan orang yang sehat dan tidak sehat. Saat diuji, sebagian dari mereka tidak memiliki peradangan dalam tubuh mereka, yang dapat menyebabkan serangan jantung dan stroke. Mereka juga tidak menunjukkan perubahan insulin. Hampir semua proses metabolik mereka normal, sehingga hormon juga bekerja dengan baik. Para pekerja yang terdiri dari berbagai bidang ini juga menjalani pemeriksaan fisik yang meliputi berat badan, tinggi badan, lingkar pinggang dan tekanan darah. Mereka juga dikelompokkan berdasarkan apakah mereka saat ini merokok, kadar alkohol yang mereka konsumsi, dan berapa banyak latihan yang mereka lakukan. Dari informasi ini, peneliti menghitung apakah mereka sehat dengan menggunakan lima kriteria sindrom metabolik seperti lingkar pinggang, kadar lemak yang dikenal sebagai trigliserida dan kolesterol yang ditemukan dalam darah mereka, serta tingkat gula darah ketika mereka sedang berpuasa. Para pekerja dianggap memiliki "metabolik sehat" ketika memenuhi dua atau kurang dari lima kriteria. Dari 87,1 persen pekerja yang kegemukan ditemukan sehat. Anehnya, 55,1 persen dari mereka yang dianggap obesitas juga ternyata sehat. Sedangkan 97,8 persen dari individu dengan berat badan normal juga sehat. "Penerapan program promosi kesehatan pada para pekerja bisa menghentikan transisi ke metabolik yang tidak sehat, mempertaruhkan tekanan darah tinggi, diabetes dan penyakit kardiovaskular. Oleh karena itu mungkin langkah pencegahan perlu dilakukan," kata penulis utama studi tersebut, Albert Goday. Kendati demikian, studi yang dipublikasikan dalam jurnal BMC Public Health ini tetap mencatat risiko penyakit jantung, diabetes, dan stroke apabila obesitas tak dikendalikan.
  4. Susu formula tidak bisa dimungkiri jadi solusi instan bagi orangtua. Terlebih jika ibu kesulitan memproduksi air susu ibu dalam jumlah cukup. Tapi, sekarang ini, orangtua semakin terbuai dengan kepraktisan susu formula. Imbasnya, balita jadi overdosis protein dan terancam obesitas. Tidak hanya itu, pemberian susu formula secara berlebihan juga bisa membuat bayi dan balita mengalami tekanan darah tinggi, penyakit jantung dan diabetes tipe 2, saat mereka dewasa. Kesimpulan tersebut didapatkan dari hasil penelitian tiga universitas di Inggris, yakni University College London, Oxford dan Bristol. Mereka menemukan bahwa dua pertiga bayi modern mengonsumsi terlalu banyak kalori dari susu formula. “Sebanyak 99,9 persen anak-anak di bawah usia 2 tahun punya asupan protein berlebihan setiap hari,” sebut ketua penelitia Hayley Syrad dari Health Behaviour Research Centre, University College London, dilansir dari Daily Mail. Syrad menegaskan asupan nutrisi di masa kanak-kanak sangat esensial untuk kesehatan mereka di masa mendatang. Anak-anak yang obesitas, cenderung sulit menurunkan beray badannya dan akan tetap bertubuh besar hingga dewasa. Imbasnya, mereka lebih rentan terkena penyakit metabolik. Studi tersebut juga mengungkap bahwa 20 persen anak-anak kelebihan berat badan saat memasuki usia sekolah. Ditambah 30 persen anak-anak yang tumbuh menggelembung di usia sekolah. Peneliti khawatir angka tersebut akan terus bertambah di masa depan. Mereka menyebut bahwa faktor utama penyebab obesitas pada anak adalah pemberian susu formula dan juga berbagai produk turunan susu, untuk makanan sehari-hari, termasuk diantaranya keju, yoghurt, serta mentega. Padahal, peneliti menyebut jumlah maksimum susu yang bisa dikonsumsi anak-anak per hari seharusnya tidak lebih dari 600ml. “Asupan nutrisi selama dua tahun pertama sangatlah penting untuk menentukan kesehatan anak di masa depan,” tutur Syrad. Studi yang dipublikasikan di British Journal of Nutrition itu membandingkan data dari 2,336 anak. Dari data tersebut, hampir seluruh anak kelebihan konsumsi kalori. Bahkan 63 persen anak mengonsumsi kalori hingga tiga kali lipat lebih tinggi daripada rekomendasi kesehatan. Sementara, konsumsi serat mereka justru di bawah normal.
  5. Pada musim liburan, pola makan kita seringkali jadi tidak terkontrol. Apalagi ketika berkunjung ke tempat baru, rasanya sayang jika harus melewati wisata kuliner khas daerah tersebut. Nah, lalu apa yang terjadi pada tubuhmu ketika kamu makan terlalu banyak? Ketika kamu baru saja makan terlalu banyak, kadang-kadang kamu merasa seperti akan meledak. Meski ada kemungkinan perutmu akan pecah setelah makan berlebihan, refleks muntah mungkin akan lebih dulu terjadi sebelum kamu mencapai titik itu. Perut manusia rata-rata dapat menampung satu dan satu setengah liter makanan sebelum mendapat dorongan untuk membuangnya kembali, tetapi dapat meregang sampai empat kali lebih banyak sebelum pecah terjadi. Ketika kamu makan makanan yang tinggi lemak, gula dan karbohidrat, sistem saraf parasimpatismu memberi tahu tubuhmu untuk memperlambat aktivitas dan fokus tertuju pada mencerna makanan, menyebabkan kamu merasa lesu. Ketika makanan dicerna, sel-sel di pankreas memproduksi hormon insulin yang pada gilirannya menyebabkan peningkatan melatonin dan serotonin, hormon yang membuat kamu merasa ngantuk dan bahagia. Kamu juga mungkin berjuang untuk menjaga matamu tetap terbuka berkat lonjakan kadar glukosa dari makanan yang kamu makan. Hal ini dapat mengganggu neuron dalam otakmu yang biasanya menghasilkan protein orexin yang menjaga kamu tetap terjaga dan waspada. Sel-sel lemakmu memproduksi hormon leptin, yang mengikat reseptor di otak untuk memberi tahu bahwa kamu tidak lagi lapar. Teratur makan lebih dari kebutuhan tubuhmu atau terbiasa makan terlalu banyak akan menyebabkan tubuhmu menghasilkan lebih banyak hormon ini. Karena tingkat leptin berhubungan dengan jumlah lemak tubuh seseorang. Dalam kasus tersebut, orang mungkin membangun perlawanan atau pertahanan terhadap leptin, yang mengganggu kemampuan otak untuk mengenali ketika kamu sudah sangat kenyang, menyebabkan kamu makan berlebihan dan menambah berat badan. Jadi, semakin kamu terbiasa makan banyak, semakin tubuhmu akan terbiasa pula dengan porsi makanmu. Hal inilah yang membuat tingkat kenyangmu pun ikut menyesuaikan. Jangan makan berlebihan ya, karena bisa membuatmu kelebihan berat badan juga.
  6. Para ilmuwan telah membuktikan bahwa bertengkar dengan pasangan bisa membuat Anda gemuk. Mereka menemukan bahwa pertengkaran besar antara pasangan menikah seringkali didahului dengan peningkatan ghrelin, atau hormon yang menyebabkan rasa lapar. Itu berarti, bertengkar dengan pasangan tidak hanya buruk bagi kesehatan emosional seseorang, tetapi juga kesehatan fisiknya. Dilansir dari laman NY Daily, laporan ini berasal dari sebuah artikel berjudul Novel Links Between Troubled Marriages and Appetite Regulation yang diterbitkan dalam jurnal Clinical Psychological Science. Penulis utama penelitian, Lissa Jaremka dari Universitas Delaware melakukan penelitian terhadap 43 pasangan yang telah menikah setidaknya tiga tahun. Jaremka juga melacak asupan makan mereka, tingkat ghrelin, dan gaya ketika bertengkar. Mereka menemukan, terlepas dari jenis kelamin, pertengkaran biasanya berhubungan dengan lonjakan ghrelin, meskipun ini hanya terjadi pada mereka yang memiliki berat badan sehat dan atau yang sedikit kelebihan berat badan (bukan obesitas). Peserta obesitas menunjukkan sedikit perbedaan. “Jadi tidak penting apakah orang-orang gemuk memiliki pernikahan yang bahagia atau tidak bahagia. Mereka memiliki pola makan yang buruk terlepas dari apa yang terjadi dalam pernikahan mereka,” kata Jaremka. Untuk peserta yang lainnya dalam kelompok tersebut, penelitian menunjukkan, perubahan hormonal mungkin memicu pasangan dalam pernikahan tidak bahagia mengonsumsi pola makan yang buruk, yang pada gilirannya berdampak pada kesehatan yang buruk. Meskipun temuan ini tampak jelas, Jaremka meyakini bahwa penting baginya untuk menunjukkan ilmu pengetahuan di balik hasil tersebut. “Sampai sekarang belum terlalu banyak bukti empiris yang menunjukkan apakah keyakinan tersebut benar atau salah,” katanya. “Jadi saya pikir adalah penting untuk menjalankan penelitian seperti ini, ketika kita berusaha mencari kebenaran tentang ide stres dalam pernikahan mungkin memengaruhi jenis makanan yang Anda pilih.” Sebab, pernikahan yang sehat tidak hanya baik untuk jiwa Anda, tetapi juga pada akhirnya dapat meningkatkan kesehatan jantung dan tekanan darah yang baik.
  7. Pekerja shift cenderung lebih gemuk dan lebih sakit ketimbang populasi umum di Inggris. Sebuah survei kesehatan di Inggris menemukan bahwa para karyawan yang bekerja shift lebih gemuk dan sakit ketimbang populasi umum. Laporan yang disusun Pusat Informasi Penanganan Kesehatan dan Sosial menunjukkan 33% pria dan 22% perempuan usia kerja berkarya secara shift. Dari jumlah tersebut, sebanyak 30% pekerja shift mengalami obesitas. Adapun tingkat obesitas karyawan yang bekerja dalam kurun waktu 07.00 hingga 19.00 lebih rendah, yaitu 24% pria dan 23% perempuan. Lebih lanjut, sebanyak 40% pria dan 45% perempuan pekerja shift mengalami berbagai keluhan sakit, seperti nyeri punggung, diabetes, serta sakit paru-paru. Keluhan yang sama dirasakan 36% pria dan 39% perempuan dari khalayak umum. “Secara keseluruhan, orang-orang yang bekerja shift tidak sesehat rekan mereka yang bekerja dalam waktu kerja normal,” kata Rachel Craig, direktur riset Survei Kesehatan Inggris. Hasuil survei ini menguatkan penelitian yang menyebutkan kerja shift membuat otak tumpul. Imbas ke tubuh Dr Simon Archer, ilmuwan yang meneliti jam internal tubuh, mengatakan imbas kerja shift buruk bagi badan. “Tubuh tidak didesain untuk makan pada malam hari. Tubuh tidak mencerna lemak dengan baik dan pekerja shift cenderung menyantap makanan berkalori tinggi. Obesitas adalah dampak langsung dan juga menuju ke arah diabetes tipe 2. Kaitannya dengan kanker pun kian kuat,” kata Archer. Di Inggris, pekerja shift biasanya berusia 16-24 tahun. Ditinjau dari jenis kelamin, nyaris setengah dari kelompok usia 16-24 tahun yang bekerja shift ialah pria. Kemudian sepertiganya adalah perempuan.
  8. Inilah beberapa penyebab badan menjadi melar setelah menikah. Bisa jadi Anda termasuk didalamnya. Ada yang bilang, gemuk setelah menikah adalah simbol kemakmuran dan kenyamanan. Bisa jadi lho. Ya, menikah bukanlah perkara simpel, yang diputuskan begitu secara sepihak. Kini, di era modern ini, hampir setiap orang memiliki kebebasan untuk memilih pasangan hidup yang membuatnya nyaman dan bahagia. Tak heran, jika usia menikah muda pun kian berkurang, diiringi dengan tuntutan karir dan kemapanan sebelum menikah. Ya, kedua hal tersebut dianggap penting sebagai salah satu dari sekian faktor yang mempengaruhi keharmonisan rumah tangga. Nah, lalu kenapa ya,rata-rata pasangan setelah menikah menjadi lebih berisi? Kondisi Emosional Yang Mempengaruhi Hormon Pola Hidup Setelah Menikah Kurangnya Olah Raga
  9. Setiap pasangan kekasih tentunya memimpikan agar kisah cinta mereka akan berlanjut hingga ke jenjang pernikahan. Pernikahan sendiri telah menjadi keinginan dan garis hidup setiap manusia, namun umumnya setiap pasangan setelah menikah biasanya mereka akan mengalami beberapa masalah khususnya pada bentuk tubuh. Hal tersebut tentunya sudah menjadi pengetahuan umum di seluruh kalangan masyarakat, bahkan pada kasus kebanyakan pria dan wanita akan mengalami penambahan berat badan pasca menikah. Kondisi tersebut merupakan sebuah fakta yang sebenarnya tidak dapat mereka sadari dan sudah menjadi kondisi yang normal dalam kehidupan rumah tangga. Banyak kalangan yang beranggapan jika setiap pasangan yang telah menikah umumnya akan mengalami masalah pada penampilan mereka secara fisik yaitu penambahan berat badan. Hal tersebut memang merupakan kondisi yang sudah banyak terjadi, tapi dalam kasus kebanyakan masalah berat badan lebih condong dialami oleh wanita ketimbang pria. Kondisi tersebut tentunya menjadi sebuah masalah wanita itu sendiri karena tidak menutup kemungkinan jika masalah berat badan akan mempengaruhi gairah suami terhadap istrinya. Bahkan bisa saja hal tersebut dapat memicu terjadinya perselingkuhan. Untuk mengatasi masalah tersebut, berikut ini beberapa tips yang bisa menjadi perhatian Anda untuk mengatasi kegemukan setelah menikah. Cara Mengatasi Kegemukan Setelah Menikah Untuk menanggulangi masalah kegemukan setelah menikah yang banyak dialami oleh wanita khususnya pasca persalinan, hal utama yang harus menjadi perhatian Anda adalah penyebab Anda mengalami kegemukan. Umumnya penyebab kegemukan diakibatkan oleh semakin sedikitnya waktu untuk mengurus diri sendiri karena sebagian besar waktu mereka tersita untuk mengurus suami tercinta dan juga buah hatinya. Namun tidak sedikit wanita mengaku bahwa setelah menikah mereka sudah tidak terlalu memperdulikan penampilan mereka, tapi dari beberapa penelitian para pakar menemukan bahwa penyebab utama wanita mengalami kegemukan setelah bersuami dikarenakan oleh perasaan bahagia mereka yang terus terbawa setelah melalui fase indah bulan madu. Sangat dianjurkan agar setiap wanita tetap menjaga penampilannya khususnya menjaga berat badan dengan rajin berolahraga dan menjaga asupan makanan atau melakukan posisi bercinta yang ampuh untuk membakar lemak, cara tersebut sangat baik agar terhindar dari resiko berbagai penyakit dan agar suami Anda tetap betah berada di rumah.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy