Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'fotografer'.

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • CLINIC NGOBAS
    • Coronavirus
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • Ngocol
    • Ngocol Video
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • ABOUT NgobasTV
    • EVENT
    • WESER
    • LAPOR KOMANDAN

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Categories

  • Files
    • Website
    • Smartphone
  • Games
  • E-Book

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 5 results

  1. Fotografer John Milleker terinspirasi untuk menghidupkan tradisi fotografi yang sempat tren pada pertengahan abad ke-19, yaitu potret bersama arwah yang dipopulerkan oleh fotografer william mumler. Benarkah arwah bisa tertangkap dalam foto?
  2. Fotografer fesyen identik dengan kehidupan yang glamor, selalu dikeliling model cantik dan desainer kenamaan. Hidup mereka, seringkali bergelimang harta. Tapi tidak demikian keadaannya dengan Mark Reay. Selama 6 tahun berprofesi sebagai salah satu fotografer mode di New York, Reay mengaku masih hidup menggelandang. Dia tidak punya rumah untuk pulang. Padahal, menilik penampilannya, Reay terbilang menarik. Di usia paruh baya, Reay masih punya tubuh yang tegap dan wajah yang sedap dipandang. Dia juga berpendidikan dan punya pekerjaan bergengsi. Lalu apa yang menjadikan Reay seorang tunawisma? Saat Reay lulus dari Universitas Charleston, dia memang memutuskan untuk memanggul ranselnya dan melakukan perjalanan keliling Eropa. Untuk menyambung hidup, Reay bekerja sebagai model serabutan di Brussels, Belgia selama 4 tahun. Dia juga mengandalkan profesi modeling saat dia berkeliling Benua Biru. Pada pertengahan 90an, Reay pulang ke New York untuk mengurus ayahnya yang sakit-sakitan. Demi mengisi dapur, Reay kembali menerima pekerjaan sebagai model. Umumnya, Reay dibayar sebesar US$200 per proyek pemotretan. Namun, saat ayahnya tutup usia di tahun 2000, Reay harus berhadapan dengan kerasnya kehidupan. Usia yang tak lagi muda membuat Reay semakin sulit mendapatkan pekerjaan. Di situlah Reay mencoba dunia fotografi. “Saya akrab dengan dunia fesyen, jadi saya sering pergi ke acara fashion show, lalu mengambil beberapa foto belakang panggung,” katanya kepada Guardian. “Banyak yang mengenal saya sebagai model dan saya juga mengambil beberapa foto bagus. Saya pikir pekerjaan ini akan mendatangkan banyak uang.” Sayangnya, dunia tak seindah bayangan Reay. Dia lebih sering bekerja pro bono, tanpa dibayar, sehingga dia harus membongkar tabungannya. Dia juga harus mencari pekerjaan sampingan. Reay pernah bekerja sebagai pelayan restoran untuk membayar sewa dan tagihan. Beberapa kali, dia berhasil menjual foto ke situs berita. Tapi, itu tidak cukup. Akhirnya, Reay harus kehilangan rumah dan menjalani hidup sebagai gelandangan. Mark Reay menjadikan toilet umum sebagai kamar mandi pribadi. Bermulai di Perancis “Ironisnya, pertama kali saya menjadi gelandangan adalah di Perancis,” kata Reay. Dia bertutur selama melakukan proyek pemotretan di St. Tropez, Perancis, dia tidur di bukit, beratapkan bintang. “Tidak terlalu buruk sebenarnya dan saya bisa menghemat,” kata dia. Soal kamar mandi, Reay mengakalinya dengan menumpang di toilet umum di taman-taman ataupun stasiun kereta. “Tidak ada yang menyangka saya sebenarnya gelandangan,” tambahnya. Ketika kembali ke New York, Reay mengatakan dia benar-benar bangkrut namun tidak ingin merepotkan teman ataupun keluarganya. Dia pernah menginap di hotel murah, namun banyak kutu kasur yang membuatnya gatal semalaman. Saat itulah dia ingat, seorang teman punya ruangan di atap apartemen yang tidak lagi digunakan. Dia pun menyelinap ke sana, dan menjadikan atap itu tempat tinggalnya selama 6 tahun terakhir. “Saya punya beberapa stel busana dan selimut. Selain itu, atap itu cukup nyaman, serta tersembunyi. Tidak ada yang tahu saya tinggal disitu,” tutur Reay. Ketika keadaan mulai membaik dan Reay bisa mengumpulkan sedikit tabungan, dia bukannya menyewa apartemen, melainkan memperbarui keanggotaannya di gymnasium setempat. “Disitu saya bisa mandi dan sekalian berolahraga. Disana juga ada mesin cuci, sehingga saya bisa cuci baju,” cerita Reay. Sehari-hari, Reay akan bangun bagi, masuk ke gym untuk berolahraga, mandi kemudian pergi memotret ke pekan mode atau mengerjakan proyek sampingan. Usai bekerja, dia akan kembali menyelinap ke atap gedung dan beristirahat. Bukan Hal Mudah Reay membuat hidup menggelandang terdengar mudah, padahal tidak sama sekali. Dia mengaku harus sangat berhati-hati menyelinap masuk ke gedung apartemen, tanpa menimbulkan suara. Dia juga harus memanjat sisi gedung tanpa pengaman yang bisa saja membuatnya jatuh dan terbunuh. Tidur di atap juga berarti harus berhadapan langsung dengan cuaca. Dia seringkali kedinginan, terutama saat musim dingin berlangsung. “Salju sudah biasa, yang saya takutkan adalah badai besar,” akunya. Soal pekerjaan, Reay mengatakan banyak yang memberi dia pekerjaan, tapi hidup di New York tidaklah murah. Selain itu, tidak semua pekerjaan bernilai besar. Tapi, kesabaran Reay berbuah manis. Musim panas lalu, akhirnya dia bisa melepaskan ‘rumah’nya selama 6 tahun dan tinggal di sebuah apartemen layak huni. Kendati begitu, Reay tidak lantas jumawa. Dia menyimpan masa-masa sulitnya sebagai pengingat. “Hidup saya memang susah, tapi saya bahagia dan punya banyak pengalaman. Pengalaman saya mengajarkan bahwa uang bukanlah segalanya,” tutur Reay. Kini, kisah Reay dituturkan dalam sebuah dokumenter berjudul 'Homme Less', yang disutradarai oleh teman baiknya, Thomas Wirthensohn.
  3. Usianya masih muda, namun photographer perempuan asal Jakarta ini telah mampu menjejakan kaki di Hollywood. Pheren Soepadhi merintis karir sebagai photographer kelompok musik rock, dengan rajin hadir di berbagai pertunjukan musik dan memperlihatkan hasil karyanya. Simak Liputan Tim VOA berikut ini. VOA Indonesia: http://www.voaindonesia.com Ngobas: http://ngobas.com
  4. Entah apa yang ada dibenak seorang fotografer asal Pakistan ini ndral. Alhasil 2 jempol patut diberikan kepadanya atas buah pengorbanannya mendapatkan moment langka yang tak semua forografer mengalaminya. Namun begitu, untuk melakukan hal nekat itu ia harus bertaruh nyawa. Seperti dilansir oleh ABCnews, sang fotografer yang bernama Atif Saeed ini memotret seekor singa di sebuah taman safari. Ketika itu ia melihat seekor singa jantan dengan kilauan rambutnya yang keemasan berpadu dengan warna gelap. Nekat, ia keluar dari mobilnya dan mengendap menuju sang singa. Namun sayang, kehadirannya justru diketahui sang singa yang langsung berlari ke arahnya karena marah. Bukannya kabur, sang fotografer langsung mengabadikan raut kemarahan wajah singa dengan lensanya. Usai mengabadikan moment membahayakan tersebut, ia pun langsung menyelamatkan diri dengan kembali ke dalam mobilnya. Usahanya tersebut tak sia-sia ndral. Hasil fotonya mendapatkan apresiasi dari beberapa jurnalis dan masuk dalam sebuah kategori pemotretan paling memukau. Padahal, ia mengakui saat menyelamatkan diri ia takut setengah mati, tak hanya itu sob, ia pun saat itu hampir menjatuhkan kameranya dan hampir kehilangan gambar yang menjadi kebanggaannya ini. Ia pun berjanji enggan mengulanginya lagi. Ngeri banget ndral...
  5. Saya senang mempunyai mainan baru: sebuah teleskop dari Celestron Telescopes!" tulis Stephen Hawking. Sang fisikawan jenius menyatakan kegembiraannya karena berhasil 'beralih' profesi menjadi fotografer. Menggunakan teleskop Celestron barunya dengan layar 11 inci, ia berhasil menangkap sejumlah penampakan benda antariksa. Teleskop Celestron mampu menghasilkan rincian bagus dari galaksi yang lokasinya jutaan tahun cahaya dari Bumi. "Dua karyawan Celestron menghabiskan dua hari mengajari saya bagaimana menangkap gambar dari teleskop dan melihatnya di komputer saya," tulis Hawking pada laman Facebook resminya pada Senin (16/2) lalu. Hawking berhasil menjepret penampakan bulan dan nebula Orion dan pada laman Facebook-nya, ia mengatakan tak sabar ingin mengamati Pluto dan Galaksi Andromeda beberapa bulan mendatang. Stephen Hawking dengan teleskop Celestron
×
×
  • Create New...