Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'f1'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 19 results

  1. Juara dunia Formula One (F1) musim 2005-2006, Fernando Alonso, tampak bertengkar dengan pembalap Williams, Felipe Massa. Keduanya saling menyalahkan setelah melakukan duel sengit di Sirkuit Austin, Amerika Serikat. Keduanya memang bersaing sengit memperebutkan posisi kelima. Namun Massa sempat nekat menyalip Alonso di tikungan. Hal tersebut membuat kedua pembalap ini harus menikung keluar dari lintasan. “Saya hanya menyalip di tikungan, namun Alonso malah mendorong saya hingga keluar lintasan. Saya sudah memasuki lintasan, tapi ia malah menabrak mobil saya. Ia jelas telah menghancurkan peluang saya, dan harus bertanggung jawab atas hal itu,” tutur Massa, melansir dari Planet F1, Senin (24/10/2016). Mendengar pernyataan tersebut, Alonso langsung dengan sigap memberikan komentarnya mengenai insiden tersebut. “Saya pikir insiden tersebut murni kecelakaan. Bukan berarti dengan datang dari belakang bisa membuat anda melakukan hal seenaknya. Saya melakukan hal itu karena memang tidak memiliki ruang yang pas untuk menikung. Mudah-mudahan hal ini adalah sebauh insiden balapan,” kata Alonso.
  2. Pembalap Mercedes, Nico Rosberg, mendapatkan gelar juara GP Belgia untuk kali pertama. Ia finis dengan nyaman dengan catatan waktu satu jam 55,54 detik pada balapan yang digelar di Sirkuit Spa, Minggu 28 Agustus 2016 kemarin. Pebalap Red Bull, Daniel Ricciardo, finis di tempat kedua, sementara rekan setim Rosberg, Lewis Hamilton, di podium tiga. Sempat terjadi beberapa insiden di balapan kali ini, yang membuat para pebalap harus menyusun ulang strategi mereka di tengah-tengah balapan. Insiden terbesar adalah ketika pebalap Renault, Kevin Magnussen, menabrak pagar ban pembatas sehingga safety car keluar dan balapan kemudian dihentikan sementara. Di masa-masa ketika safety car berada di depan, Hamilton dan Fernando Alonso (McLaren) mampu memanfaatkan situasi untuk merangsek ke posisi 10 dan 11 karena para pebalap di depan mereka masuk pit. Sebelumnya, Hamilton dan Alonso memulai balapan di grid paling belakang karena menjalani penalti karena mengganti unit mesin, melebihi batas yang diizinkan. Dari posisi 10, Hamilton tak terbendung untuk terus menyalip para pebalap di depannya dan mendapatkan podium tiga. Pebalap muda Red Bull, Max Verstappen, menjalani balapan yang mengecewakan. Memulai balapan di posisi dua, ia telah tercecer ke posisi lima di putaran pertama karena bersentuhan dengan mobil Sebastian Vettel di tikungan pertama. Kerusakan sayap kemudian membuatnya harus masuk pit dan kehilangan banyak waktu. Hasil balapan kali ini membuat Hamilton masih memimpin klasemen sementara dengan torehan 232 poin. Rosberg menguntit dengan hanya berselisih 10 poin.
  3. Lewis Hamilton sukses tiga kali jadi juara dunia Formula Satu dan telah bergelimang uang saat ini. Namun semasa kecil, Hamilton hidup dalam kondisi memprihatinkan sehingga ia bahkan tak sanggup membeli permen. Hamilton yang lahir di Stevenage, 7 Januari 1985 mengakui bahwa masa kecil yang dilaluinya terbilang sulit. "Saya tumbuh sebagai anak-anak tanpa memiliki apapun. Saya dikelilingi anak-anak yang mampu pergi ke toko dan membeli permen sedangkan saya tak punya uang untuk membelinya." "Saya juga ingat ketika mendapatkan 10 pound dari hasil mencuci mobil, menabung uang itu untuk membeli CD pertama. Saya ingat semua itu," kata Hamilton dalam wawancara dengan AS. Kini, setelah hidupnya berubah drastis, Hamilton mengakui bahwa ia tak melupakan sikap hemat dalam kehidupan sehari-harinya. "Saya kini memiliki lebih banyak uang di rekening saya, namun tetap saja saya berpikir beberapa hal terlalu mahal dan kemudian menilai bahwa lebih baik uang yang ada ditabung," ujar Hamilton. Meski demikian, Hamilton juga tak memungkiri bahwa ia menikmati kekayaan yang dimilikinya saat ini dan menghabiskannya untuk pergi wisata di tengah kesibukannya sebagai pebalap F1. "Saat saya tak ada di lintasan, maka saya bukanlah pebalap. Dalam 12 hari terakhir, saya ada di sebuah tempat di mana tak ada satu pun orang yang tahu saya dan tak ada kamera. Rasanya sangat menyenangkan," kata Hamilton. Belajar dari Ibu Selain berusaha tetap menghargai nilai uang dan berhemat, Hamilton juga menyebut sosok Ibu memberinya contoh hebat dalam berperilaku sehari-hari. "Dulu Ibu saya selalu mengatakan semua baik-baik saja walaupun dia tengah menjalani hari yang buruk. Itulah yang saya coba lakukan saat ini." "Ketika saya menjalani hari yang buruk, saya ingin teman saya tak mengetahuinya. Karena bila mereka mengetahuinya, maka mereka juga bakal turut merasakan hari yang tak menyenangkan seperti saya," tutur Hamilton.
  4. Lewis Hamilton menjadi juara GP Jerman yang digelar akhir pekan lalu. Bos Mercedes, Toto Wolff, menyatakan The Boss julukan Hamilton adalah pembalap yang sulit dikalahkan. Hamilton memang dalam tren positif karena sempat tertinggal 43 angka sebelum unggul 19 angka dari Nico Rosberg di klasemen sementara. Hal itu terjadi karena pembalap berkebangsaan Inggris ini memenangi enam dari tujuh balapan terakhir. Raihan tersebut adalah yang terbaik sepanjang karier balap Hamilton. Wolff pun menyatakan dirinya terkesima dengan performa mantan kekasih Nicole Scherzinger tersebut. “Pembalap ini sangat berbakat dan memiliki kecepatan ketika sedang on fire. Saya pikir dia tidak terkalahkan. Tapi ini adalah olahraga teknis dan dia juga manusia biasa. Anda bisa memiliki hari yang baik dan buruk,” kata Wolff. “Itulah kenapa dia tidak memenangi setiap balapan. Saya sangat menyukai cara dia sekarang. Ping pong yang terjadi antara dua pembalap, dan cara dia kembali ke persaingan,” jelasnya.
  5. Driver Mercedes AMG, Nico Rosberg, resmi dinyatakan bersalah karena insiden dengan sang rekan setim, Lewis Hamilton, di lap pamungkas GP Austria yang digelar di Sirkuit Red Bull Ring, Minggu 3 Juli 2016 malam WIB. Rosberg pun resmi disanksi, meski hal tersebut tak mengusik posisi finisnya. Rosberg mengakhiri balapan di posisi empat. Usai balapan, steward FIA memang langsung melakukan penyelidikan terhadap insiden senggolan duo Mercedes tersebut. Rosberg pun mendapatkan hukuman penalti waktu 10 detik. Namun, karena pembalap asal Jerman itu 14 detik lebih cepat dari driver Red Bull, Daniel Ricciardo (yang finis kelima) saat melewati garis finis, hukuman ini tidak berdampak pada posisi finis Rosberg. “Setelah mempertimbangkan bukti ekstensif dari kedua driver, video, dan data telemetri, terlihat jelas bahwa Mobil 44 (Hamilton) ada di depan Mobil 6 (Rosberg), lebih daripada sejajar. Dan bahwa Mobil 44 mestinya bisa mulus melewati Turn 2 lintasan jika tidak ada senggolan. Mobil 6 tidak memberikan ‘ruang balap’ untuk Mobil 44, sehingga Mobil 6 bertanggung jawab atas insiden,” demikian pernyataan steward di laman resmi F1 ndral. Selain hukuman tersebut, Rosberg juga mendapatkan hukuman tambahan berupa dua poin penalti pada musim ini, selain juga diberi peringatan akibat meneruskan balapan dengan kondisi mobil yang rusak sehingga beberapa komponen mobilnya berceceran di atas lintasan. Meski demikian, Rosberg tak sepenuhnya bersalah. Steward juga menganggap kalau pembalap 31 tahun itu telah berusaha semampunya untuk mengurangi kecepatan dan memperkecil potensi negatif ke driver lain dibelakangnya. Kalau di dangdutan, senggolan bisa bacok bacokan, untung di Formula 1 kagak.
  6. Driver F1 kebanggaan Indonesia, Rio Haryanto, meraih hasil yang cukup memuaskan di GP Austria yang digelar Minggu 3 Juli 2016 malam WIB. Rio finis di urutan 16, dengan masih ada tiga pembalap lain yang finis di belakangnya. GP Austria memang merupakan balapan yang amat positif bagi Manor. Tim balap asal Inggris itu sukses meraup poin perdana mereka di musim ini via tandem Rio, Pascal Wehrlein. Driver Jerman itu sukses finis di posisi 10 dan berhak mendapat satu poin. Sementara itu, Rio yang start dari posisi 19, berhasil finis di peringkat 16. Posisi tersebut nyaris menyamai pencapaian terbaiknya di musim ini, yakni finis di posisi 15 pada GP Monako lalu. Pembalap yang lahir di Surakarta 23 tahun yang lalu itu pun mengaku puas. “Hasil balapan kali ini adalah prestasi tim yang fantastis. Ini wujud nyata kerja keras dari semua orang di Manor,” ujar Rio. “Sungguh menakjubkan. Begitu banyak pekerjaan telah dilalui untuk ini dari setiap anggota tim dan itu tidak hanya bagus, tapi juga sangat penting bagi kami semua untuk mendapatkan hasil ini. Ini berarti kami bergerak maju dan membuat kemajuan yang baik, dan itu penting saat kami menuju paruh kedua musim ini,” lanjutnya. “Saya memulai balapan dengan ban soft untuk 27 lap, kemudian menjalani dua stint dengan ban supersoft. Stint pertama bekerja dengan baik bagi saya sampai safety car mengubah situasi balapan dan akhirnya strategi saya tidak berjalan dengan baik. Meski demikian, saya senang dengan kecepatan saya, terutama menjelang akhir ketika saya mengejar (Marcus) Ericsson,” pungkas peringkat empat GP2 musim 2015 tersebut. Yuk mari dukung sama sama pembalap F1 satu ini ndral, semoga dia menjadi juara ndral. Amiiiiin
  7. Kecelakaan di F1 GP Monaco Pembalap Mercedes, Lewis Hamilton, keluar sebagai juara dalam balapan Formula One (F1) GP Monaco hari Minggu, 29 Mei 2016. Sementara Rio Haryanto kembali finis paling buncit di urutan ke-15. Hamilton kembali ke jalur kemenangan setelah blunder di pit-stop yang dilakukan pembalap Red Bull, Daniel Ricciardo, membuatnya gagal meraih gelar juara untuk kali kedua secara beruntun. Ricciardo sebenarnya sempat unggul jauh sampai 13 detik tetapi waktu pit-stop yang terlalu lama dalam pelakukan pergantian ban terakhir membuat Hamilton bisa merebut pimpinan lomba. Meski Ricciardo sempat dua kali coba kembali menyodok ke depan di jalur lurus, Hamilton berhasil mempertahankan keunggulan sampai garis finis. Ini adalah kemenangan pertama sang juara bertahan di musim 2016. Pembalap Force India, Sergio Perez, berhasil menduduki podium terakhir di peringkat tiga. Pembalap Ferrari, Sebastian Vettel, harus rela finis keempat. Driver McLaren, Fernando Alonso, melengkapi posisi lima besar. Sementara itu, pembalap Indonesia yang tampil di F1, Rio Haryanto, finis di urutan ke-15 atau yang paling buncit. Tercatat tujuh pembalap retired dalam balapan yang penuh insiden tabrakan ini. Hasil Lengkap F1 GP Monaco, Minggu 29 Mei 2016: 1. Lewis Hamilton GBR Mercedes-Mercedes 78 laps 1h 59m 29.133s 2. Daniel Ricciardo AUS Red Bull-Renault +07.252s 3. Sergio Perez MEX Force India-Mercedes +13.825s 4. Sebastian Vettel GER Ferrari-Ferrari +15.846s 5. Fernando Alonso ESP McLaren-Honda +85.076s 6. Nico Hulkenberg GER Force India-Mercedes +92.999s 7. Nico Rosberg GER Mercedes-Mercedes +93.290s 8. Carlos Sainz Jr ESP Toro Rosso-Ferrari +1 lap 9. Jenson Button GBR McLaren-Honda +1 lap 10. Felipe Massa BRZ Williams-Mercedes +1 lap 11. Valtteri Bottas FIN Williams-Mercedes +1 lap 12. Esteban Gutierrez MEX Haas-Ferrari +1 lap 13. Romain Grosjean FRA Haas-Ferrari +2 laps 14. Pascal Wehrlein GER Manor-Mercedes +2 laps* 15. Rio Haryanto INA Manor-Mercedes +2 laps Rtd Marcus Ericsson SWE Sauber-Ferrari 51 laps completed Rtd Felipe Nasr BRA Sauber-Ferrari 48 laps completed Rtd Max Verstappen NED Red Bull-Renault 34 laps completed Rtd Kevin Magnussen DEN Renault-Renault 32 laps completed Rtd Daniil Kvyat RUS Toro Rosso-Ferrari 18 laps completed Rtd Kimi Raikkonen FIN Ferrari-Ferrari 10 laps completed Rtd Jolyon Palmer GBR Renault-Renault 7 laps completed
  8. Kecelakaan yang dialami juara dunia tiga kali Ayrton Senna mengejutkan dunia Formula 1 dan mengubah wajah ajang balapan. Memasuki musim balapan baru, kecelakaan yang dialami oleh Jules Bianchi dan Fernando Alonso seolah menjadi panggilan masa lalu bagi publik pecinta Formula 1, bahwa balapan yang dikatakan semakin membosankan ini tetap menjadi ajang yang bisa merenggut nyawa mereka-mereka yang berani terjun ke dalamnya. Dalam dunia balapan jet darat, kecelakaan dan kematian sendiri menjadi bagian tak terpisahkan dalam lintasan sejarah. Setiap periode-nya, otoritas balapan akan mengutak-atik peraturan, rancangan sirkuit, atau desain mobil sebagai jawaban atas pertanyaan: bagaimana caranya membuat para pembalap terhindarkan dari kematian? Kecelakaan memang tak terhindarkan dalam balapan, namun berbagai hal direkayasa sedemikian rupa sehingga agar tak sampai menelan korban Di era 1960-an hingga 1980-an awal, Formula 1 sendiri dikenal sebagai ajang mematikan. Para pembalap akan berlomba dengan satu kerelaan bahwa mereka bisa saja menjadi korban tewas selanjutnya, tak peduli status atau tingkat kemahiran mengendarai mobil. Jim Clark, seorang juara dunia F1 tiga kali, terbunuh ketika ia mengikuti ajang Formula 2. Sementara itu, Gilles Villeneuve yang dikatakan sebagai titisan pembalap terbaik sepanjang masa, Juan Manuel Fangio, pun tak luput dari maut. "Pada era 1968 hingga 1973, di masa 'keemasan' saya, jika Anda terus menerus membalap, maka kemungkinan Anda tewas adalah dua banding tiga. "Formula 1 seperti rumah sakit umum, atau serial tentang kematian. Kami kehilangan terlalu banyak orang," ujar Sir Jackie Stewart, pembalap Inggris yang sepanjang kariernya terus berkampanye untuk keselamatan di dunia jet darat. Hingga saat ini penyebab pasti kecelakaan Fernando Alonso belum ditemukan. Tak Bisa Antisipasi Salah satu penyebab nyawa yang terus berjatuhan adalah karena tidak adanya visi bahwa perkembangan teknologi mesin dan chasis mobil F1 akan akan butuh direspons oleh teknologi pengamanan. Ketika mesin mobil terus menerus didorong untuk membuat mobil bisa melaju lebih cepat dan cepat lagi, otoritas balapan belum mempersiapkan trek balapan yang aman. Beberapa dekade lalu, pagar pembatas jalanan masih menggunakan lempengan logam, sementara permukaan jalan pun belum mengakomodasi kecepatan terbaru mobil. Demikian pula dengan tikungan tajam di berbagai sirkuit yang tidak dievaluasi kembali, apakah memungkinkan dilalui oleh para pembalap yang kecepatannya telah meningkat dua kali lebih kencang. Api juga menjadi musuh utama para pembalap kala itu yang masih menggunakan tangki bahan bakar berbahan logam yang mudah terbakar -- sementara saat ini menggunakan sel bahan bakar yang terbuat dari serat sintetis yang dicampur dengan bahan karet. Direspons FIA Pada pertengahan 1970-an, Dunia balapan yang semakin mencekam membuat baik para pembalap maupun Federasi Internasional Automobil (FIA) berpikir masak-masak tentang faktor keamanan. Bahkan, pembalap pun sempat mempertimbangkan melakukan boikot, jika keselamatan mereka terus diabaikan. Sebagai komponen utama di dunia balapan, mereka merasa bahwa sudah sepatutnya lah FIA menempatkan nyawa pembalap sebagai yang paling utama. Dari kesadaran itulah lahir peraturan soal penggunaan sabuk pengaman, memperluas ruang kokpit, mengenalkan baju antiapi dan juga memaksakan standar penyelamatan pembalap dari mobil yaitu maksimal lima detik. Ketika Niki Lauda mengalami kecelakaan pada 1976 dan helmnya tercopot, FIA kemudian meningkatkan pengamanan pelindung kepala. Lalu, dua tahun kemudian, FIA kembali meningkatkan standar dengan membuat seluruh pakaian dan sepatu bagi pembalap terbuat dari bahan-bahan antiapi yang materialnya didapatkan langsung dari NASA. Demikian pula dengan standar penanganan kecelakaan yang semakin ditingkatkan. Tak hanya ambulans dan dokter, setiap seri balapan pun diwajibkan untuk memiliki helikopter, sekiranya pembalap perlu dibawa ke rumah sakit dengan cepat. Dengan tingkat kesadaran terhadap keselamatan pembalap yang semakin meningkat, Formula 1 sempat mengalami masa 12 tahun tanpa ada pembalap yang kehilangan nyawa. Sebelum Bianchi, kecelakaan paling fatal terakhir adalah lebih 20 tahun lalu yang merenggut pembalap Brasil, Ayrton Senna. Kematian juara dunia tiga kali itu membuat FIA berpikir keras untuk mengubah balapan. Aspek kecepatan, yang semula menjadi atraksi utama balapan, pun mulai diredam dan dikendalikan. Sementara itu, 27 tikungan yang dianggap berbahaya dipensiunkan serta berbagai aspek keselamatan di sirkuit juga ditingkatkan. Mobil yang dikendarai Jules Bianchi melaju dalam cuaca hujan deras sebelum ia tergelincir dan menabrak derek. (REUTERS/Toru Hanai) Mengubah Waktu Balapan Kecelakaan yang dialami Jules Bianchi di GP Jepang pun langsung direspons oleh pihak otoritas balapan. Secara kasat mata, kecelakaan yang dialami Bianchi terlihat kebetulan. Kecelakaan ini terjadi pada titik yang sama dengan kecelakaan yang dialami Adrian Sutil pada satu putaran sebelumnya, yaitu pada Lengkungan Dunlop. Penyelenggara balapan lalu mengangkat dua bendera kuning untuk memperingatkan pebalap lainnya akan kecelakaan tersebut dan juga mengirimkan mobil/derek penyelamat. Namun, ketika derek sedang mengangkat mobil Sutil, mobil Bianchi tergelincir dan menabrak bagian belakang derek. Terlihat kebetulan, karena jika Bianchi tergelincir dalam situasi biasa, mobilnya akan mengenai ban-ban pagar pengaman dan bukan mengenai traktor. Akan tetapi, permasalahan sebenarnya muncul dari waktu balapan yang dimulai pada tepat waktu pukul 15.00 waktu setempat. Sempat beberapa kali dihentikan karena hujan deras, putaran-putaran akhir balapan terlaksana ketika senja dengan awan hitam menutupi langit. Laporan penyelidikan kecelakaan kemudian memberikan rekomendasi bahwa balapan harus dimulai maksimum empat jam sebelum matahari terbenam, untuk memaksimalkan cahaya matahari. Hal ini membuat balapan di Malaysia, Tiongkok, Jepang, dan Rusia dimajukan masing-masing sejam. Satu kecelakaan lain yang masih menjadi beban FIA adalah insiden yang dialami Fernando Alonso pada pra musim. Hingga saat ini masih belum ada penjelasan apakah insiden tersebut disebabkan oleh angin kencang, adanya kesalahan pada sambungan listrik, atau faktor pembalap. Namun, jika nanti ditemukan penyebabnya, FIA sangat mungkin untuk mengutak-ngatik entah itu rancangan mesin atau peraturan, demi kembali meningkatkan faktor keselamatan pembalap. Karena, bagaimana pun juga, sejarah panjang Formula 1 memang soal melawan kematian.
  9. vyrous

    Isi Kokpit Mobil F1

    Seri balapan formula 1 adalah salah satu olahraga yang penuh risiko. Mereka harus memacu mobil dengan kecepatan tinggi, mendengar instruksi tim konstruktor sampai memperhatikan arena. Oh ya, dan yang tak kalah perlu diperhatikan mereka harus mengemudikan mobil yang kompleks. Pada ruang kemudi atau kokpit, begitu banyak instrumen. Nah, jika Anda ingin mengendarai mobil Formula One, pertama-tama Anda harus memerhatikan ruang kontrol di lingkar kemudi dari sebuah mobil baru McLaren MP4-28 ini. Kokpit mobil F1 adalah tempat yang sederhana, kursi yang dibentuk sedemikian rupa, sabuk pengaman empat titik dan hampir seluruh bagiannya terbuat dari serat karbon. Semua tombol pengendalian dari mobil ultra-canggih dengan mesin bernilai miliaran rupiah ini ditempatkan di lingkar kemudinya, dan pembalap harus mengoperasikannya di kecepatan mendekati hampir 322km/jam, dengan mengenakan sarung tangan besar yang tahan api. 1. Tombol hijau 'N' Mari kita mulai dengan yang mudah. Tombol hijau besar bertuliskan N merupakan petunjuk untuk netral. Kita mungkin pernah melihat ini semua dalam mobil kita, dan tombol itu sangat berguna bagi para pembalap F1 yang ingin kembali ke pit stop. 2. Tombol hijau '+10' Tombol hijau ‘+10' digunakan oleh pembalap ketika ia melihat data dalam mobilnya, tombol tersebut bisa membuka 10 halaman sekaligus. Pasti ada banyak data di mobil itu. 3. Switch berwarna merah Di pinggir kemudi, switch merah yang bisa diputar dan bertuliskan angka di atasnya adalah switch untuk transmisi mobil. Tombol ini memungkinkan pembalap menyesuaikan pengaturan transmisi mobil dengan cepat, menyesuaikan cengkeraman mobil dan menyesuaikan kekuatannya. 4. Lipstick merah Ini bukanlah istilah teknis, namun tombol merah yang terlihat seperti lipstik sebenarnya adalah switch radio. Alat ini digunakan oleh pembalap untuk berbicara dengan rekannya di pit stop. 5. Tombol kuning bertuliskan ‘OT’ Pembahasan kita semakin menarik. Tombol kuning bertuliskan ‘OT’ merupakan tombol yang digunakan untuk meningkatkan kinerja mesin saat akan digunakan untuk menyalip pembalap lainnya. Tombol ini biasanya dioperasikan bersamaan dengan DRS dan KERS, kita akan membahas tombol itu nanti. OT merupakan kepanjangan dari ‘over take’. 6. Tombol putih bertuliskan 'X' Kelihatannya mungkin tombol itu mempunyai fungsi yang canggih, tetapi sebenarnya tombol 'X' putih hanya berfungsi untuk menerima dan mengaktifkan halaman data pengemudi. Mengecewakan. Sekarang kita berada di jantung kemudi F1. 1. Tombol hijau '+1' Tombol ini memungkinkan pembalap membolak-balikan halaman data dashboard satu per satu. 2. Tombol kuning 'P' Tombol ini adalah pit lane speed limiter. Dengan menekan tombol ini, maka kecepatan mobil akan merosot ke kecepatan 80km/jam untuk menghindari sanksi saat melaju di pit. 3. Switch berwarna hijau Switch bertuliskan nomor ini digunakan untuk mengontrol Kinetic Energy Recovery System (KERS). Tombol ini digunakan untuk menyimpan energi kinetik sebagai listrik dan dapat digunakan untuk kinerja ekstra pada mobil. Pembalap dapat menentukan berapa banyak energi yang disimpan mobil dengan tombol ini. 4. Tombol merah Tombol ini digunakan untuk mengontrol Drag Reduction System. Sistem tersebut menggerakkan sayap belakang untuk mengurangi hambatan udara dan meningkatkan kecepatan pada lintasan lurus. Namun jangan lupa untuk mengembalikan sistem tersebut pada tikungan berikutnya atau dinding ban di pinggiran lintasan menanti. Tombol kontrol lebih banyak di sisi kanan atas dari lingkar kemudi F1. 1. Tombol hijau '+1' Tombol ini memungkinkan pembalap membolak-balikan halaman data dashboard satu per satu. 2. Tombol kuning 'P' Tombol ini adalah pit lane speed limiter. Dengan menekan tombol ini, maka kecepatan mobil akan merosot ke kecepatan 80km/jam untuk menghindari sanksi saat melaju di pit. 3. Switch berwarna hijau Switch bertuliskan nomor ini digunakan untuk mengontrol Kinetic Energy Recovery System (KERS). Tombol ini digunakan untuk menyimpan energi kinetik sebagai listrik dan dapat digunakan untuk kinerja ekstra pada mobil. Pembalap dapat menentukan berapa banyak energi yang disimpan mobil dengan tombol ini. 4. Tombol merah Tombol ini digunakan untuk mengontrol Drag Reduction System. Sistem tersebut menggerakkan sayap belakang untuk mengurangi hambatan udara dan meningkatkan kecepatan pada lintasan lurus. Namun jangan lupa untuk mengembalikan sistem tersebut pada tikungan berikutnya atau dinding ban di pinggiran lintasan menanti. Sekarang kita ke sisi sebelah kanan bawah dari lingkar kemudi F1 McLaren. 1. Tombol biru bertuliskan 'confirm' Tombol ini digunakan ketika suara bising mesin menghalangi pendengaran Anda saat berkomunikasi dengan rekan, karena kondisi saat itu sama seperti ketika Anda menangkis terjangan kamikaze 241km/jam dari Michael Schumacher. Menekan tombol itu dapat berarti bahwa pembalap telah menegaskan bahwa ia telah mendapat pesan tanpa harus bicara. Mungkin tombol tersebut bisa juga diberi label 'jangan sekarang'... atau sesuatu yang lain. 2. Tombol ‘drinks’ Mengendarai mobil F1 merupakan pekerjaan yang membuat haus dan tombol ini dapat melegakan dahaga para pembalap. Tombol itu dapat mengeluarkan air dalam hitungan sepermilidetik. 3. Tombol ban Tombol besar yang tampak mengesankan di bagian bawah gambar ini adalah tombol untuk mengatur fungsi ban. Pembalap menyesuaikan tombol ini untuk memberitahu komputer ban apa yang dipasang pada mobil sehingga dapat mengubah penyetelan yang sesuai. Bagian bawah kemudi MP4-28 relatif kecil di kiri bawah dan memiliki fungsi sebagai berikut. 1. Tombol ungu Tombol ungu di bagian kiri bawah kemudi terlihat cukup berbahaya tapi ini merupakan tombol multifungsi dan mengatur lebih dari 50 penyetelan yang berbeda di mobil. Mulai dari layar pada dashboard hingga parameter mesin. 2. Logo Mercedes-Benz Tombol ini mengingatkan pembalap McLaren tentang siapa yang membuat mesin mobil mereka. Bagaimana, sudah cukup tahu, kan. Apakah itu semua cukup dan selesai dibahas? Harus berpikir dua kali, karena masih banyak lagi di belakang. Keluar dari pandangan di belakang kemudi, pembalap masih memiliki paddle shifters untuk mengubah transmisi, tombol itulah yang memberikan dorongan tenaga KERS dan kopling, walaupun hanya digunakan untuk menyalakan mobil.
  10. Suka nonton F1? Pernah terpikir berapa kira-kira besarnya biaya yang dibutuhkan untuk menjalankan sebuah tim Formula One? Balapan F1 adalah sebuah bisnis serius dengan dana dan sponsorship yang amat besar. Bisa jadi, Formula One adalah salah satu event olahraga paling mahal di dunia. Sebuah artikel dari sebuah media Inggris, Raconteur, baru-baru ini mengabarkan tentang biaya F1 ini. Menurut penelitian, sebuah tim kelas menengah di F1 saja dapat menghabiskan dana sekitar $235.4 juta (3 triliun rupiah)! Jumlah tersebut dapat bertambah sampai sekitar $300 hingga $350 juta, tergantung pada timnya. Artikel itu menyatakan beberapa hal lain seperti pengeluaran rata-rata tim F1 dengan rincian sebagai berikut: biaya operasional sebesar $53.64 juta (700,2 miliar rupiah), untuk research and development $61 juta (796 miliar rupiah), membayar gaji keseluruhan $62.58 juta (817 miliar rupiah), dan biaya produksi mobil sekitar $58.11 juta (758 miliar rupiah). Mobil balap F1 sendiri sudah pasti tak murah. Satu buah mobilnya bisa menghabiskan biaya sampai sekitar $8.94 juta (116 miliar rupiah). Mesin 1.6 L V6 Turbocharged Hybrid sendiri saja sudah berharga rata-rata $5.23 juta (68 miliar rupiah). Belum lagi untuk carbon fiber monocoque-nya yang berbiaya $1.49 juta (19,4 miliar rupiah) dan sistem transmisi seharga $1.11 juta (14,4 miliar rupiah).
  11. Dominasi tim-tim besar di balap Formula One (F1) bukan baru saja ditunjukkan oleh Mercedes dan Ferrari pada musim 2015, melainkan sudah terjadi pada sejak lama. Hingga kemudian Sebastian Vettel, yang masih membela Red Bull, menjadi juara empat kali beruntun dari musim 2010 hingga musim 2013, merusak dominasi Ferrari dan Mercedes. Dominasi yang membosankan tersebut dinilai banyak pihak disebabkan oleh adanya jurang antara tim-tim besar dengan tim-tim kecil yang ibaratnya hanya tampil sebagai pelengkap jumlah peserta F1. Jurang tersebut tak lain adalah persoalan finansial setiap tim. Finansial mempunyai peran yang sangat besar, mengingat F1 sangat dikenal sebagai olahraga yang membutuhkan banyak biaya. Kesulitan finansial membuat tim mustahil bisa menjadi yang terbaik di ajang balap kelas premier itu. Berdasarkan data Racounter, setiap musimnya tim peserta F1 secara rata-rata harus mengeluarkan biaya sebesar 158 juta pounds atau sekira Rp3,2 triliun! Jumlah tersebut dikeluarkan untuk membiayai gaji, penelitian dan pengembangan, produksi mobil, serta biaya operasional. Setidaknya sebesar 42 juta pounds (sekira Rp868 miliar) dikeluarkan sebagai gaji yakni untuk gaji staf tim, direktur tim, dan pembalap. Lalu sebesar 41 juta pounds (sekira Rp848 miliar) dikeluarkan untuk biaya penelitian dan pengembangan, seperti wind-tunel testing dan track testing. Produksi mobil memakan biaya sebesar 39 juta pounds (sekira Rp806 miliar), dengan rincian untuk costumer engine, manufacturing, dan key component. Sedangkan yang terakhir, biaya operasional menghabiskan uang sebesar 36 juta pounds (sekira Rp744 miliar) untuk entertainment, IT, factory dan utilitities, logistik, jasa professional, dan bahan bakar. Mercedes dan Ferrari yang terbiasa berada di papan atas mungkin bisa mengeluarkan yang lebih besar, hingga 250 juta pounds (sekira Rp5,1 triliun). Namun mengingat mudahnya mereka mendapat sponsor, mungkin permasalahan finansial tidak terlalu mereka rasakan. Bayangkan saja, para sponsor yang ingin memasang iklan di badan mobil Mercedes dan Ferrari harus membayar paling murah sebesar 16 juta pounds (sekira Rp328 miliar) per musimnya. Akan tetapi, hal berbeda dirasakan tim-tim langganan papan bawah yakni Marussia dan Caterham. Nama yang tidak besar membuat kedua tim itu sulit mendapatkan sponsor. Dengan dana terbatas, tentu sulit bagi Marussia dan Caterham bersaing dengan tim-tim papan atas. Mau dan dapat bertahan di F1 saja sudah merupakan suatu pencapaian yang layak untuk diapresiasi. Hal-hal inilah yang akhirnya membuat Mercedes dan Ferrari seakan hanya bersaing berdua untuk menjadi juara. Tak heran banyak penonton yang merasa jenuh lantaran minimnya sisi kompetisi dan hiburan dari F1. Dengan situasi ini, F1 patut merasa khawatir. Selain terancam semakin kehilangan banyak penonton, ajang balap mobil kelas premier itu juga berisiko ditinggalkan para pesertanya yang mungkin saja akan terbebani jika terus-menerus mengeluarkan biaya yang besar. Apalagi, saat ini keberadaan ajang balap mobil listrik bernama Formula E semakin mencuri perhatian publik.
  12. Ajang Formula 1 di Shanghai, China berlangsung dengan ketat. Insiden tabrakan antar pembalap juga telah tersaji di awal start. Pembalap Manor Racing asal Indonesia, Rio Haryanto masih mampu bersaing dengan para pembalap kawanan lainnya. Bahkan di Lap 7, Rio sempat bertengger sementara diperingkat 8. Rio juga baru mengambil pit stop di lap 18 seperti pembalap lainnya.
  13. Terjawab sudah nantinya mobil yang akan dikemudikan pebalap debutan asal Indonesia, Rio Haryanto dan rekannya Pascal Wehrlein. Mobil balap Formula1 bernama Manor MRT05 akhirnya diluncurkan. Mobil Manor MRT05 ini ditenagai oleh mesin Mercedes-Benz turbo V6 1.600 cc dengan menggunakan transmisi buatan Williams F1. Mobil F1 milik Manor Racing ini memiliki dimensi dengan panjang 5000 mm, tinggi 949 mm, dan berat kosong 702 Kg. Sedangkan kokpitnya semua terbuat dari serat karbon buatan Manor Racing dengan sabuk pengaman 5 titik buatan Sabelt. Seperti dikutip Otosia, dari smesinnya merupakan buatan Mercedes Benz dengan kode PU106C Hybrid yang merupakan mesin V6 berturbo berkapasitas 1.600 cc dengan bahan bakar dan pelumasan mesin dari Petronas. Selain itu, mobil ini dibagian punggung mobil terdapat lambang dari Manor Racing MRT05. Lambang yang serupa terdapat di ujung hidung mobil. Pada ujung mobil tersebut, terdapat lubang yang berfungsi untuk menyalurkan udara. Oleh tim kreatif Manor Racing, lubang tersebut dibentuk garis-garis dan menyerupai lambang dari Manor. Secara umum, mobil ini dibalut dengan warna merah dan biru dengan tampilan nyaris tanpa sponsor. Namun, dengan warna tersebut penampilan mobil jadi sangat familiar. Entah kenapa, tapi di media sosial ramai dengan postingan yang coraknya dimiripkan dengan metromini. Wow! Gimana ndral?
  14. Pirelli akan tetap menjadi penyuplai ban Formula 1 setidaknya hingga 2019. Pirelli akan tetap menjadi penyuplai ban bagi tim-tim di Formula 1, demikian diungkapkan bos F1, Bernie Eccelstone, di sela-sela penyelenggaraan Grand Prix Sochi, Rusia. Pengusaha berusia 84 tahun itu juga telah berjabat tangan dengan petinggi Pirelli Marco Tonchetti Provera dalam siaran langsung acara BBC One, ketika ia mengumumkan perpanjangan kerja sama antar-kedua pihak. Seorang juru bicara Pirelli memberikan konfirmasi kepada Autosport bahwa kesepakatan komersial antara F1 dan Pirelli telah tercapai. Artinya, Pirelli sukses mengalahkan Michelin yang juga mengincar kontrak sebagai penyuplai ban pada periode 2017-19. Meski demikian, kesepakatan resmi tetap harus dikonfirmasi oleh otoritas balapan dunia, FIA. Sebelumnya Michelin pernah menjadi pemasok F1. Tapi mereka undur diri dari dunia jet darat tersebut pada 2006, atau satu tahun setelah GP Amerika Serikat yang kontroversial yang hanya diikuti oleh enam pebalap. Kala itu, semua tim yang disuplai Michelin menolak balapan karena mengkhawatirkan isu keselamatan. Setelah pengunduran diri Michelin, F1 hanya menggunakan satu pemasok saja yaitu Bridgestone. Pirelli sendiri menjadi penyuplai sejak 2011 dan dikatakan sebagai pemasok ban favorit Ecclestone. Isu soal ban akan menjadi topik hangat dalam dua tahun ke depan setelah F1 berusaha untuk membuat perubahan spesifikasi mobil pada musim balapan 2017. F1 menginginkan agar mobil lebih cepat, lebih ringan, dan lebih agresif, sehingga salah satu dampak pada ban adalah ukuran ban belakang yang lebih lebar.
  15. Jenazah pembalap tim Marussia, Jules Bianchi, telah dimakamkan di kompleks pemakaman Saint Reparate Cathedral, Selasa 21 Juli 2015. Dalam pemakaman tersebut, tampak turut hadir beberapa rekan sesama pembalap. Lewis Hamilton, Jenson Button, Sebastian Vettel, Romain Grosjean, Nico Rosberg, Felipe Massa dan Daniel Ricciardo bergabung bersama keluarga untuk melepas kepergian pembalap berusia 25 tahun itu. Selain itu, tampak hadir pula Presiden FIA, Jean Todt, dan Kepala Pengembangan Pembalap Ferrari, Jean-Eric Vergne. Dalam testimoninya, Vergne menyebut Bianchi sebagai pembalap yang memiliki sikap layak dicontoh, baik di dalam maupun di luar trek. Dia juga menilai, pembalap asal Prancis itu amat layak menjadi bagian dari sejarah besar gelaran balap mobil paling elite se-dunia tersebut. "Hari ini menjadi yang sangat spesial. Salah satu pembalap Formula 1 telah meninggalkan kita, tapi dengan sebuah kenangan cantik. Dia telah menjadi orang besar, baik di dalam maupun di luar trek," ungkap Vergne seperti dilansir Eurosport. "Namanya akan tetap tertulis dalam sejarah Formula 1. Telah banyak yang dilakukannya. Dia akan selalu berada di dalam hati kita," imbuh dia.
  16. McLaren Honda sukses menyelesaikan tes perdana pra musim F1 2015 di Sirkuit Jerez Spanyol pada tanggal 1 hingga 4 Februari 2015. Tes ini berlangsung tiga hari setelah McLaren Honda meluncurkan mobil balap MP4-30 untuk musim balap F1 2015 pada tanggal 29 Januari 2015 di Surrey, Inggris. McLaren Honda menurunkan kedua pembalap utamanya yaitu Jenson Button dan Fernando Alonso secara bergantian dalam sesi tes resmi pra musim F1 2015 di Sirkuit Jerez. Adapun Fernando Alonso turun pada hari pertama (1 Februari 2015) dan hari ketiga (3 Februari 2015). Sementara rekan setimnya, Jenson Button turun pada hari kedua (2 Februari 2015) dan hari terakhir atau hari keempat (4 Februari 2015). Hasil tes resmi pra musim pertama di Sirkuit Jerez berjalan baik dan lancar dimana McLaren Honda sudah memperoleh data penting dari hasil tes untuk digunakan pada sesi tes berikutnya. Sesi tes perdana pra musim F1 2015 ini digunakan oleh McLaren Honda untuk menguji keseluruhan paket mobil MP4-30 mulai dari installation lap, sektor elektrik pada mobil, serta kekuatan mesin (Power Unit) Honda V6 bertenaga 1.6 liter dengan kode mesin RA615H untuk pertama kalinya. Adapun mesin (Power Unit) ini dilengkapi dengan Turbocharger, serta teknologi Kinetic and Thermal Energy Recovery Systems (ERS-K) sesuai dengan regulasi balap dari FIA. Setelah sesi tes resmi pra musim F1 2015 di Sirkuit Jerez, Spanyol, agenda tes resmi pra musim F1 2015 akan dilanjutkan pada tanggal 19 Februari hingga 22 Februari di Sirkuit Catalunya (Circuit De Catalunya Barcelona), Barcelona, Spanyol, dan tanggal 26 Februari hingga 1 Maret 2015 juga di Sirkuit Catalunya.
  17. Tim balap Formula 1 (F1) yang baru berlaga di musim 2016, Haas, telah membeli markas tim Marussia yang berada di Banburry, Inggris. Walaupun sudah memiliki markas, tim balap itu masih menumpang bengkel produksi di pabrik saudara tuanya tim Nascar Haas di North Carolina, Amerika Serikat. Walau begitu pemilik tim F1 Haas, Gene Haas, sedang mencari wilayah di Inggris untuk membangun bengkel F1 Haas. Haas, seperti yang diberitakan oleh The Guardian pada minggu lalu, menyatakan mengakuisisi markas Marussia dilakukan pada waktu yang tepat. Selain mengakuisisi markas, diberitakan oleh Racecar Engineering, Haas juga akan mengambil alih rancangan mobil Marussia untuk musim 2015. Tim balap Marusia sendiri telah dinyatakan pailit pada musim lalu. Pada pertengahan Desember kemarin, mereka melakukan pelelangan, mulai dari bangunan hingga peralatan teknik milik tim. Di awal musim balap 2014, tim Marussia diperkuat oleh pebalap asal Inggris, Max Chilton, dan pebalap asal Perancis, Jules Bianchi. Bianchi sempat menyumbang poin satu-satunya untuk Marussia sebelum ia mengalami cedera otak setelah kecelakaan mobil di Grand Prix Jepang, 5 Oktober 2014. Hingga saat ini, Bianchi masih berada di rumah sakit di Perancis dengan kondisi yang stabil namun kritis.
  18. Otoritas balap F1, FIA, pada awal tahun ini menelurkan kebijakan baru yang memperbolehkan tim-tim balap mengembangkan mesin di tengah musim yang berjalan. Tahun baru memberikan berkah tersendiri bagi tim-tim formula satu yang menuntut bisa merubah atau mengembangkan mesin saat musim sedang berjalan. Dikutip dari BBC, Otoritas balap jet darat itu, FIA, akhirnya meloloskan aturan baru yang membolehkan tim mengembangkan mesin mereka di tengah musim. Ferrari, McLaren, dan Renault pada akhir tahun lalu mendesak FIA meloloskan aturan ini karena menilai Mercedes tak akan tersaingi jika tak ada perubahan. Perubahan peraturan itu membuat tim-tim F1 tidak terburu-buru memenuhi tenggat waktu guna mematangkan mesin hingga 28 Februari 2015. Seperti dilansir AutoSport, juru bicara FIA, mendesak tim-tim memantapkan mesin mereka saat balap pertama F1 musim 2015 yang akan berlangsung Maret nanti. "Meskipun tidak secara eksplisit disebut dalam peraturan, setiap pabrikan harus menyelesaikan modifikasi pada mesin dan terikat dengan aturan, dan menggunakan mesin 2015 mereka (pada balap pertama)," demikian juru bicara FIA dalam pernyataannya.
  19. Tim Marussia memberikan dukungan kepada pembalapnya Jules Bianchi. Formula 1 akan melakukan uji coba atas 'mobil pengaman dunia maya' di Grand Prix Amerika Serikat. Dengan sistem ini, maka para pembalap akan mengurangi kecepatan di kawasan tempat terjadi kecelakaan untuk menghindari kecelakaan serupa yang menyebabkan Jules Bianchi hingga saat ini berada dalam kondisi yang kritis. Pembalap asal Prancis itu menabrak traktor yang akan mengangkat mobil pembalap lain saat Grand Prix Jepang di Suzuka awal Oktober. Teknologi itu akan mulai dicoba setelah dua sesi latihan, Jumat 31 Oktober. Jika terjadi kecelakaan maka kecepatan para pembalap diatur 35% lebih lambat dari kecepatan yang biasa pada saat sirkuit dalam keadaan kering. Para pembalap akan melihatnya di panel instrumen dalam mobil dan jika mereka melebihi batas kecepatan ketika mobil pengaman sedang diturunkan ke sirkuit maka mereka akan mendapat sanksi. Setelah pengujian sistem maka FIA akan memutuskan bersama tim-tim F1 sebelum digunakan secara resmi. F1 menginginkan sebuah sistem yang membatasi batas waktu tempuh untuk satu putaran ketika petugas balapan berpendapat kecelakaan harus segera dibersihkan dan perlu mengerahkan pekerja, petugas lapangan, maupun traktor pengangkut ke sirkuit. Sistem ini merupakan perluasan dari yang digunakan saat ini, ketika mobil pengaman masuk ke dalam sirkuit maka pembalap harus memelankan kecepatan sambil menunggu mobil pengaman berada di depan yang berada di peringkat satu. Sejauh ini F1 enggan untuk mengerahkan mobil pengamat setiap ada pembalap yang ke luar dari lintasan, yang digunakan dalam balapan di Amerika Serikat.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy