Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'etika'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 3 results

  1. Ketika dokter diminta melakukan tes keperawanan, mereka mesti menolak karena secara medis tidak perlu dan dapat menimbulkan bahaya psikologis, demikian pendapat sejumlah pakar etika Amerika Serikat. Pemeriksaan seputar panggul ini dilakukan di banyak negara di dunia sebelum seorang perempuan menikah. Namun dokter tak setuju adanya pemeriksaan tersebut, seperti dilansir Reuters. Pasalnya ada tiga hal dalam etika profesi yang dilanggar, yakni melindungi kesejahteraan pasien, menghormati kedaulatan tumbuh perempuan, dan mendukung keadilan, demikian ditulis kelompok ahli etika dalam jurnal The Lancet. “Tes keperawanan tidak melindungi dan mendukung kesehatan pasien perempuan. Karenanya tes keperawanan sangat tak kompatibel dengan tiga prinsip etika profesional obstetri dan ginekologi,” kata Laurence McCullough, peneliti kebijakan etika dan kesehatan di Baylor College of Medicine di Houston, AS, sekaligus co-author esai tersebut. Tes keperawanan bisa menyakitkan dan membuat perempuan merasa dipermalukan atau direndahkan, ujar McCullough menambahkan lewat email. "Tak ada manfaat kebersihan klinis dan risiko pencegahan dari bahaya biopsikososial,” ujar McCullough. Dalam tes tersebut, yang kerap disebut tes “dua jari”, dokter melakukan pemeriksaan dalam vagina untuk merasakan adanya selaput dara, membran tipis yang dipercaya beberapa budaya akan tetap utuh hingga perempuan melakukan hubungan seksual. Padahal ada perempuan yang terlahir tanpa selaput dara, dan membran tersebut juga dapat robek atau meregang akibat aktivitas, seperti olah raga atau menggunakan tampon. Sejumlah organisasi HAM mengutuk tes keperawanan, menyebutnya tak berperikemanusiaan dan tak beretika. Menurut WHO, “tak ada tempat bagi tes keperawanan (atau 'dua jari'). Tak ada validitas ilmiahnya.” Walau begitu, praktik ini tetap diberlakukan di banyak negara, antara lain India, Turki, Afganistan, Mesir, Libya, Yordania, Indonesia, dan Afrika Selatan. Tes keperawanan di tempat-tempat tersebut dilakukan karena budaya atau agama bahwa perempuan harus perawan hingga pernikahan. Tes keperawanan juga dilakukan di kondisi lain untuk memastikan perempuan tersebut, misalnya, masih perawan ketika masuk militer; serta ketika perempuan dituduh atas kejahatan moral atau lari dari rumah. Di Afrika Selatan, tes keperawanan awalnya menimbulkan pro-kontra. Namun kemudian jadi umum dilakukan bersamaan meningkatnya epidemik AIDS, ujar Louise Vincent, peneliti dalam tes keperawanan dan isu kesehatan reproduksi perempuan di Rhodes University di Afrika Selatan yang tak dilibatkan dalam penelitian. Dalam konteks AIDS, di negara yang banyak perempuan mudanya melaporkan pengalaman seksual pertama mereka bukan suka sama suka, momok tes keperwanan dapat berfungsi sebagai pencegah hubungan seksual yang tak diinginkan di masa depan, ujar Vincent. Walau dalam kondisi seperti ini, tes keperawanan tak etis dilakukan dokter, ujar McCullough. “ Tak ada situasi di mana pasien perempuan dapat dianggap lebih baik melakukan tes keperawanan,” kata McCullough.
  2. Aktivis mengatakan penggunaan 'robot pembunuh' tak bermoral Penggunaan apa yang disebut dengan 'robot pembunuh' akan dibahas dalam pertemuan Dewan HAM PBB di Jenewa. Sebuah laporan yang dipresentasikan dalam pertemuan itu akan meminta moratorium penggunaan robot pembunuh dan pertanyaan-pertanyaan etis terkait akan diperdebatkan. Robot tersebut adalah mesin yang diprogram untuk merobohkan orang atau sasaran apa pun yang, tidak seperti pesawat non-awak, beroperasi secara mandiri di medan perang. Negara-negara yang sudah mengembangkan teknologi ini adalah Inggris, AS dan Israel. Tanggung jawab moral Para pendukung "robot mandiri mematikan" ini mengatakan manfaat penggunaan robot sangat besar dan bisa menyelamatkan banyak nyawa serta mengurangi tingkat kematian prajurit di medan perang. Akan tetapi kelompok-kelompok pegiat hak asasi manusia menyatakan ada pertanyaan moral serius yang muncul dari robot pembunuh, seperti dilaporkan wartawan BBC Imogen Foulkes dari Jenewa. Diantaranya: Siapa yang membuat keputusan akhir untuk membunuh? Bisakah robot membedakan antara sasaran militer dan sipil? Jika ada korban sipil yang menjadi korban, siapa yang harus bertanggung jawab? Robot tidak bisa didakwa melakukan kejahatan perang. "Pendekatan tradisional selama ini adalah ada prajurit dan ada senjata," kata pakar PBB Christof Heyns. "Tapi apa yang kita lihat sekarang adalah senjata telah menjadi prajurit, senjata mengambil keputusan sendiri."
  3. Perhatikan kutipan teks singkat berikut ini. Buat Blogger yg suka gonta ganti template mungkin udah gak asing lagi dengan kalimat di atas ini. Sebab paragraf ini merupakan sebuah dummy text yang biasa digunakan sebagai blindcopy sementara untuk mengisi kekosongan saat sebuah template masih akan didownload. Nyatanya memang paragraf tersebut udah sedemikian dikenal oleh semua orang yang berkecimpung di dunia blogging, periklanan dan desain grafis, bahkan telah digunakan sejak tahun 1500. Tapi adakah yang tahu, apa sih paragraf "Lorem ipsum" itu? Awalnya saya (mungkin juga anda semua) berpikir itu hanya kalimat biasa saja dan gak ada artinya, dibuat secara sembarangan yang tujuannya untuk mengisi ruang kosong yang nantinya akan diisi teks. Lalu saya yang penasaran mencari-cari informasi di Google dan ternyata anggapan saya adalah Salah! Tidak seperti anggapan banyak orang, Lorem Ipsum bukanlah kalimat yang gak ada artinya. Sejarah Lorem ipsum berakar dari sebuah naskah sastra latin klasik dari era 45 sebelum masehi, hingga bisa dipastikan usianya telah mencapai lebih dari 2000 tahun. Richard McClintock, seorang professor Bahasa Latin dari Hampden-Sidney College di Virginia, mencoba mencari makna salah satu kata latin yang dianggap paling gak jelas, yakni consectetur, yang diambil dari salah satu bagian Lorem Ipsum. Setelah ia mencari maknanya di literatur klasik, ia mendapatkan sebuah sumber yang gak bisa diragukan. Lorem Ipsum berasal dari bagian 1.10.32 dan 1.10.33 dari naskah “de Finibus Bonorum et Malorum” (Sisi Ekstrim dari Kebaikan dan Kejahatan) karya Cicero, yang ditulis pada tahun 45 sebelum masehi. Buku ini adalah risalah dari teori etika yang sangat terkenal pada masa Renaissance. Baris pertama dari Lorem Ipsum, “Lorem ipsum dolor sit amet..”, berasal dari sebuah baris di bagian 1.10.32. Bagian standar dari teks Lorem Ipsum yang digunakan sejak tahun 1500an kini di reproduksi kembali di bawah ini untuk mereka yang tertarik. Bagian 1.10.32 dan 1.10.33 dari “de Finibus Bonorum et Malorum” karya Cicero juga di reproduksi persis seperti bentuk aslinya, diikuti oleh versi bahasa Inggris yang berasal dari terjemahan tahun 1914 oleh H. Rackham. Naskah Lorem Ipsum standar yang digunakan sejak tahun 1500an. Bagian 1.10.32 dari “de Finibus Bonorum et Malorum”, ditulis oleh Cicero pada tahun 45 sebelum masehi. Terjemahan tahun 1914 oleh H. Rackham. Yang dapat diartikan ke dalam Bahasa Indonesia.. Paragraf asli Lorem Ipsum berbicara tentang sebuah etika. Etika ini ada ketika Cicero sangat dekat dengan dunia hukum dan dunia seni. Tidaklah heran pada masa kekuasaan Romawi, Cicero menuntut gurbenur Sicily yaitu Verres. Kisah ini sangat terkenal mengingat keberanian Cicero menggugat kegurbenuran atas tuduhan penyerangan, pembunuhan, dan korupsi. Herannya, dari kebanyakan tuntutan Cicero kepada Verres adalah kejahatan penjarahan karya-karya seni. Cicero memang sangat peduli dengan karya seni. Naahh… Sudah tahu kan sekarang ndral?
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy