Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'eksekusi mati'.



More search options

  • Search By Tags

    Type tags separated by commas.
  • Search By Author

Content Type


Forums

  • NGOBAS ANSWERS
    • General Question
  • YOUTH MEDIA
    • Youth News
    • Anonymous Youth
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • FINANCE
    • No-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • LIFE STYLE
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • REST AREA
    • LAPOR KOMANDAN

Blogs

  • Ngobas Blog
  • Your World

Categories

  • News Topic
  • Event
    • Event Documentation
  • Officer

Find results in...

Find results that contain...


Date Created

  • Start

    End


Last Updated

  • Start

    End


Filter by number of...

Joined

  • Start

    End


Group


Website


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Interest

Found 9 results

  1. Tony Abbott Media di Indonesia kini diramaikan dengan dua berita yaitu konflik Polri versus KPK dan rencana eksekusi mati terpidana kasus narkoba warga negara Australia. Persoalan konflik di tataran nasional kini telah diredakan oleh Presiden Jokowi dengan membatalkan pencalonan Komjen Pol Budi Gunawan sebagai calon Kapolri dan mengajukan Komjen Badrodin Haiti sebagai calon baru. Presiden juga mengeluarkan Keppres memberhentikan sementara Ketua KPK Abraham Samad dan Wakil Ketua Bambang Widjojanto, serta mengeluarkan Perppu menunjuk tiga orang sebagai Plt KPK. Walau kemelut ini belum selesai tetapi paling tidak getaran berupa ancaman terhadap stabilitas keamanan telah mereda. Kesimpulannya masalah nasional lebih mudah diredakan dengan keputusan yang bijak dan dikomunikasikan dengan baik. Kini menurut penulis, ada hal penting lain yang harus diperhatikan oleh presiden serta unsur polisi dan militer Indonesia (TNI). Penulis mengamati dan mempelajari keberatan pemerintah Australia dengan rencana eksekusi mati dua tokoh pedagang narkoba yang dikenal kelompok Bali Nine. Dua terpidana mati WN Australia telah ditolak grasinya oleh Presiden Jokowi. Bahaya yang penulis amati dari sudut pandang intelijen demikian serius dan sebaiknya harus dicermati serta dilakukan penilaian dan penyelidikan intelijen agar Indonesia tidak kecolongan atas kemungkinan tindak ekstrem dari Australia. Penulis mencoba mengurai kasus keberatan Australia dengan beberapa fakta serta analisis berikut dibawah ini. Kelompok ini disebut Bali Nine karena terdiri dari sembilan orang penyelundup narkotika yang ditangkap pada 17 April 2005 di Bali dalam usaha menyelundupkan heroin seberat 8,2 kg dari Indonesia ke Australia. Anggota Bali Nine asal Australia tersebut adalah Scott Anthony Rush, Myuran Sukumaran, Andrew Chan, Renae Lawrence, Tan Duc Tanh Nguyen, Si Yi Chen, dan Mathew James Norman, Michael William Czugaj, dan Martin Eric Stephen. Setelah melalui pengadilan panjang, kini yang menjadi berita besar, dua orang diputuskan akan segera dieksekusi tembak mati. Keduanya adalah Andrew Chan, disebut sebagai God Father dan Myuran Sukumaran. Pada tanggal 10 Desember 2014 Presiden Jokowi menyatakan dalam pidatonya bahwa ia tidak akan menyetujui setiap pemintaan keringanan karena pelanggaran narkoba. Tanggal 30 Desember 2014, permohonan Sukumaran untuk grasi ditolak, sementara permohonan grasi dari Chan ditolak pada tanggal 22 Januari 2015. Kedua terpidana itu kini ditahan di lapas Kerobokan Bali. Menurut informasi keduanya akan dipindahkan ke Nusakambangan. Posisi Politik dan Sikap PM Australia Tony Abbott Pada bulan Januari 2015, PM Australia Tony Abbott serta Menlu Julie Bishop meminta kepada Presiden Jokowi untuk meninjau penolakan grasi kedua WN Australia tersebut. Pemerintah Indonesia bergeming dan menolak permohonan tersebut. Selain Australia, Sekjen PBB , Ban Ki-moon juga mendesak pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Jokowi, untuk menghentikan hukuman mati. Desakan dari Ban Ki-moon itu disampaikan oleh Juru Bicara PBB Stephane Dujarric. Jaksa Agung Prasetyo menegaskan bahwa Indonesia tetap akan melanjutkan eksekusi. "Tidak akan dibatalkan," kata Prasetyo, di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Senin (16/2/2015). Tim eksekutor dikatakannya sudah siap, tinggal menunggu waktu yang tepat untuk pelaksanaan. PM Tony Abbott menyatakan bahwa Australia akan menempuh semua opsi hukum untuk menyelamatkan dua warga negaranya dari eksekusi mati di Indonesia. Demikian janji Perdana Menteri Australia Tony Abbott, Senin (16/2/2015). "Saya tidak ingin memberikan harapan palsu, tetapi saya ingin semua orang paham, kami sedang mengupayakan setiap celah untuk membantu orang-orang itu," kata Abbott. Selanjutnya Abbott mengatakan akan melakukan balasan diplomatik yang setimpal jika Indonesia mengeksekusi warganya. Ia mengatakan bahwa warga negara Australia sudah muak dengan langkah Indonesia tersebut. Warga negara Australia bahkan membuat petisi yang meminta Indonesia mengampuni Chan dan Sukumaran. Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop bahkan mengancam memboikot Indonesia, termasuk melarang warganya berkunjung ke Pulau Bali. Mengapa pemerintah Australia demikian gencar mengupayakan agar kedua warganya lepas dari regu tembak? Nampaknya ini dapat dikatakan lebih dilatar belakangi dengan posisi politik dari PM Abbott yang kurang baik beberapa waktu terakhir. Tony Abbott yang baru 17 bulan menjadi perdana menteri itu terancam di impeach. Pada awal Februari sebagian dari warga Australia, menganggap Abbott gagal dalam meningkatkan perekonomian Australia, disamping kebijakannya dibidang perpajakan yang dinilai tidak sejalan dengan harapan warga Australia. Dia lolos dari vonis,”mosi tidak percaya”, dan tetap bertahan dalam posisinya sebagai PM Australia setelah selamat dari upaya voting di internal Partai Liberal, yang dilakukan hari Senin (9/2/2015) pagi di Canberra. Dalam voting yang dihadiri 101 dari 102 anggota Partai Liberal yang memiliki hak suara, 61 menyatakan menolak mosi dan 39 menyatakan menerimanya. Satu suara diberikan secara informal dan 1 anggota tidak hadir karena sedang cuti. Walau selamat, tetapi karir politiknya dinilai cedera (Tjiptadinata, Kompasiana). Nah menurut penulis, disinilah kesempatan Abbott untuk mengembalikan kepercayaan warga Australia dalam memperjuangkan jiwa warganya yang akan dieksekusi mati di Indonesia, tetangga dekatnya. Oleh karena itu kini terlihat dia berusaha mati-matian akan menyelamatkan Chan dan Sukumaran. Ini sebuah pertaruhan nama serta karir politik Abbott pastinya. Lobi politik Australia jelas sangat kuat, karena kini Sekjen PBB juga sudah ikut meminta agar hukuman mati itu dibatalkan, kita faham bahwa apa kata PBB itu juga kata AS. Selain itu pemerintah sebaiknya waspada, pada pemerintahan SBY, Australia adalah negara penyadap presiden SBY dan beberapa pejabat pemerintah. Hasilnya disetorkan ke AS. Australia tergabung dalam jaringan intelijen lima negara (five eyes) dengan AS, Inggris, Canada dan New Zealand. Artinya, kini semua pembicaraan baik Presiden Jokowi serta beberapa pejabat terkait penulis perkirakan sudah disadap oleh intelijen Australia. Yang penulis khawatirkan, pemerintah (baca : Jokowi) kini lebih sibuk dengan urusan BG, Badrodin, konflik Polri-KPK, ancaman DPR, Kompolnas, tekanan elit PDIP dan pernik politik yang ringan tapi dibuat kusut oleh berbagai pihak. Pemerintah terlalu menganggap ringan ancaman Australia, negara yang pernah memonitor hingga bumbu dapur dan masakan dirumah Ibu Negara Ani Yudhoyono. Dengan menyadap, mereka akan menguasai kekuatan, kemampuan dan kerawanan si target. Penulis agak mencurigai, bahwa Australia bisa saja melakukan langkah ekstrem untuk menyelamatkan kedua warganya tersebut. Australia selama ini merasa sebagai negara besar, kuat, Deputy AS dikawasan Asia. Penulis saat bertugas mendampingi Menhan Matori Abdul Djalil (Alm) sebagai penasihat intelijen pernah diminta membuat analisis apa resiko apabila Menhan akan membuat pernyataan bahwa bom Bali-1 (oktober 2002) sebagai serangan Al-Qaeda dengan Jamaah Islamiyah. Ternyata dibalik itu semua, Australia serta AS yang marah karena banyak warganya yang tewas, bisa melakukan langkah preemtive strike ke Indonesia. Mereka mempunyai konsep mengejar terorisme hingga jauh ke garis belakang sebuah negara, apabila sebuah negara menjadi ancaman keamanan nasionalnya. Ini berarti mereka selalu menyiapkan kemampuan melakukan intervensi baik dalam skala terbatas maupun besar ke sebuah negara. Operasi bisa dilakukan mandiri ataupun berupa gabungan. Dikawasan Asean, Australia masih tergabung dalam pakta pertahanan FPDA (Five Power Defence Arrangements) disamping pakta ANZUS (kini antara Australia dan AS). Dengan demikian maka Indonesia dikelilingi tetangga yang tergabung dalam pakta pertahanan. Australia sudah sejak lama selalu aktif mendukung AS dalam pelbagai operasi militer di pelbagai belahan dunia, seperti serangan ke Afghanistan dan Irak misalnya. Demikian juga kini dalam operasi serangan udara terhadap ISIS di Irak dan Syria Australia mengirimkan pesawat tempur Hornet. Pasukan khususnya sangat berpengalaman terlatih bertempur di negara lain. Nah, dengan sense of intelligence yang dimiliki (cara berfikir intelijen adalah kondisi terburuk agar kita tidak terkena unsur pendadakan), apakah bukan tidak mungkin pemerintah Australia akan melakukan langkah ekstrem menyelamatkan Chan dan Sukumaran?. Dimasa lalu, saat operasi Timor Timur, intelijen militer Australia diketahui juga melakukan infiltrasi dalam mendukung Fretilin. Ini disebabkan karena masih ada wilayah Indonesia yang belum ter-cover radar di wilayah Timur. Tetapi kini dapat dikatakan semua wilayah sudah dapat dimonitor radar Kohanudnas dan sipil. Pertanyaannya, bagaimana kalau pasukan khusus Australia melakukan upaya penculikan dan membawa lari kedua tersangka tersebut? Dari pengalaman pengamanan lapas, nampak sistem keamanannya sangat lemah apabila dilakukan ambush oleh anggota militer terlatih. Peristiwa Cebongan menunjukkan bahwa keamanan lapas sangat mudah ditembus hanya dengan sebuah team terdiri dari beberapa orang terlatih yang hanya dipersenjatai dengan sebuah AK-47. Mision acomplish. Australian S.A.S.R di Phuoc Tuy Vietnam 1967 Apakah mereka mampu menyerang? Kemampuan SAS (Pasukan Khusus Australia) yang diantaranya dikenal sebagai The Special Air Service Regiment adalah pasukan khusus yang sangat terlatih. Belum lagi apabila mereka didukung oleh teknologi intelijen Australia dan juga AS (NSA dan CIA). Mereka bisa melakukan raid baik dengan serangan dukungan laut, atau bisa juga serangan udara mirip "raid on Entebbe" saat pasukan khusus Israel membebaskan sandera warga Israel di lapangan terbang Entebbe Uganda. Misi juga sukses. Dalam operasi lintas negara, yang menonjol adalah saat penyergapan Osama bin Laden pemimpin Al-Qaeda yang bersembunyi di negara Pakistan (Abottabat), dimana penyerang hanya terdiri dari empat helikopter dan didukung beberapa pesawat tempur serta monitoring satelit. Pemerintah Pakistan yang tidak mengira negaranya akan diinfiltrasi, ternyata kebobolan. Pertahanan udara Pakistan, intelijen militernya serta pesawat tempurnya dikenal cukup canggih, tetapi toh mereka kecolongan karena mereka tidak siap dan tidak memperkirakannya. Misi senyap pasukan khusus anti teror US Navy, Navy Seals X-Team (DEVGRU) sukses tanpa korban. Kerugian hanya satu heli rusak. Nah, apakah Australia berani dan akan nekat menculik warganya dari Indonesia? Ini sebuah pekerjaan rumah Polri dan TNI, karena menurut penulis yang dipertaruhkan adalah harkat, martabat dan kedaulatan Indonesia. Sebaiknya kita siap dan memperkuat pengamanan kedua napi tersebut. Yang terpenting kerahasiaan informasi harus dijaga, dimana kini semua dibuka di media. Lihat saja penjara Kerobokan terbuka bagi keluarga dan insan pers, bukan tidak mungkin ada unsur intelijen yang menyusup dan membuat pemetaan. Saran penulis, penjara Kerobokan jangan hanya dijaga oleh sipir penjara dan polisi saja, tempatkan pasukan khusus (Gultor Kopassus, Denjaka Marinir, Den Bravo Paskhasau serta Densus) untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk. Demikian juga radar Kohanudnas, pesawat tempur serta kapal perang perlu disiapkan disekitar daerah dimana kedua napi berada. Termasuk apabila kedua napi itu digeser ke lokasi lainnya. Sebaiknya mulai dilakukan kini hingga eksekusi selesai. Pertimbangan penulis, apabila tidak di antisipasi sejak awal dan pasukan khusus Australia mampu membawa lari Chan dan Sukumaran ke Australia, apakah kita akan perang dengan Australia? Kalau terjadi, apa keputusan pemerintah? Memutuskan persoalan BG saja dibutuhkan waktu yang cukup lama. Ini dimonitor juga oleh Australia pastinya. Keberanian pimpinan nasional menjadi ukuran langkah tindakan berani mereka kedepan. Karena itu pemikiran the worst condition harus dimulai dari Presiden, Menhan, Panglima TNI, BIN, Bais TNI, agar kita tidak dipermalukan. Kunci keputusan terakhir ada pada intelijen, seberapa jauh dapat memonitor apa yang akan dikerjakan oleh pihak Australia. Selain info intelijen kekuatan, kemampuan dan kerawanan, intelijen perlu tahu apa "niat" mereka. Yang penting, jangan kita dipermalukan di negara kita sendiri. Langkah Antisipasi Keributan serta kesibukan Australia menurut penulis adalah sesuatu yang biasa dan wajar, karena itulah yang harus dikerjakan PM Abbott. Kepentingan dirinya dalam kondisi menurunnya karir politiknya digabungkannya kedalam kepentingan nasional Australia. Penulis sempat bertanya kepada salah satu pejabat di BKPM apa kerugian Indonesia apabila Australia melakukan embargo ekonomi misalnya. Dari informasinya, masalah utama adalah kita akan kekurangan suplai daging sapi. Sementara perdagangan lainnya tidak terlalu besar dan mengganggu. Demikian juga, walaupun warga Australia diimbau melakukan boikot ke Bali, nampaknya tidak akan "mempan" karena Bali rumah kedua warganya yang ingin berlibur. Nah, berbicara langkah antisipasi, persoalannya adalah komunikasi atau diplomasi politik belum tertata dengan rapih. Disinilah peran para diplomat kita untuk meyakinkan negara akreditasi dimana mereka ditugaskan. Perlu menjelaskan bahwa Indonesia seperti dikatakan Presiden Jokowi sudah darurat narkoba, karena itu sudah tiada maaf bandar besar akan dihukum mati. Perdagangan, produksi dan konsumsi narkoba sudah demikian besar dan mengakar di Indonesia. Kita tidak akan mau mengorbankan bangsa dan negara hanya untuk menyelamatkan dua bandar narkoba. Ketegasan Indonesia karena kita tidak ingin mafia narkoba serta jaringannya menguasai harkat hidup rakyat banyak. Jadi langkah antisipasi preventif jauh hari sebelum pelaksanaan eksekusi menjadi tanggung jawab para diplomat kita. Dilain sisi, unsur pertahanan dan keamanan sebaiknya menyiagakan kekuatannya untuk menghidari raid pendadakan. Intelijen sebaiknya terus memonitor apa langkah yang akan dilakukan Australia serta sekutunya. Apa resiko yang akan didapat Indonesia dalam kondisi yang berlaku. Tentang sudut pandang analisis, apabila tidak terjadi, paling tidak kita sudah terus bersiaga menghadapi kondisi terburuk. Dan apabila kita siap siaga, Australia akan berfikir ulang apabila di benaknya terfikir akan melakukan langkah penyelamatan ekstrem. Semoga saja tidak. (Tetapi pikiran ini menyatakan"who knows?"). Australia terlatih melakukan intervensi ke negara lain. Kinipun tanpa ijin pemerintah Syria, mereka juga bergabung dengan AS melakukan penggempuran udara di negara tersebut. Penulis mengingatkan bahwa resiko kerugian besar bisa terjadi apabila Abbott nekat mau mencoba semacam operasi Geronimo di sini. Jangan pandang enteng Indonesia, jangan sepelekan Indonesia. Yang penting mari sepakat kita berantas Narkoba. Kalau ada warga Indonesia tertangkap di Australia terkait narkoba, kita ikhlas-ikhlas saja, kita wakafkan mereka, hukum saja yang berat.
  2. Eksekusi mati tahap tiga kepada terpidana matikasus narkoba telah dilaksanakan di lapangan tembak belakang Pospol Nusakambangan pada Jumat, 29 Juli 2016, sekitar pukul 00.45 WIB. Pada eksekusi mati yang dilaksanakan dinihari tadi yang dieksekusi yaitu Freddy Budiman, Seck Osmane, Michael Titus, dan Humprey Ejike. Keempat jenazah itu juga sudahdibawa oleh ambulans keluar Nusakambangan. Empat mobil ambulans yang membawa masing-masing satu jenazah itu keluar secara terpisah mulai pukul 04.30 WIB. Empat ambulans yang keluar dari Nusakambangan juga diberi nomor 6, 7, 9, dan 11. Untuk tetap menjaga keamanan dan ketertiban, keempat ambulans itu juga dikawal ketat oleh mobil patwal kepolisian. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Untuk ambulans yang pertama kali keluar dari dermaga Nusakambangan adalah nomor 11. Ambulans itu telah membawa jenazah bernama Seck Osmane. Sebelum diterbangkan ke negara asalnya, Senegal, jenazah Osmane akan disemayamkan terlebih dahulu ke Rumah Sakit St. Carolus Jakarta. Sedangkan ambulans yang kedua adalah nomor 9. Kali ini ambulans yang membawa jenazah Humprey Ejike alias Doctor menuju Krematorium Banyumas, Jawa Tengah untuk dikremasi. Pada urutan ketiga yang keluar adalah ambulans nomor 7. Kali ini ambulans tersebut mengangkut jenazah Freddy Budiman. Rencananya, jenazah Freddy akan langsung dibawa ke rumah duka di Jalan Krembengan Baru VII, Surabaya, Jawa Timur. Keluarganya juga sudah ikhlas menerima kepergian Fredd. Dulu dirinya memang berasal dari Kota Surabaya dan berprofesi sebagai pencopet. Namun karena tergoda denganbisnis narkoba yang menggiurkan, akhirnya dia mengadu nasih ke Jakarta. Sayangnya hukuman keluar masuk penjara untuk dirinya tidak mempan. Baru sekarang hukuman mati yang membuat dirinya berhenti bisnis barang haram itu. Semasa hidupnya Freddy juga pernah menjalin hubungan asmara dengan beberapa model cantik. Dan yang terakhir adalah ambulans nomor 6 yang mengangkut jenzah Michael Titus. Setelah dieksekusi, jenazah langsung diterbangkan ke Nigeria karena keluarganya sudah menunggu di negara asalnya.
  3. Laporan Amnesty International menyebutkan Indonesia menjadi negara peringkat ke-9 dalam pelaksanaan eksekusi mati. Laporan ini juga menyebutkan pelaksanaan hukuman mati melonjak untuk berbagai kejahatan mulai narkoba, terorisme, hingga eksekusi yang ditengarai untuk membungkan suara kritis.
  4. Perekrut Mary Jane, Maria Kristina Sergio mengungkapkan bahwa dia menerima ancaman dari keluarga Mary Jane. Perekrut Mary Jane, Maria Kristina Sergio, mengaku senang Mary Jane lolos dari moncong senapan regu tembak di Nusakambangan pada menit-menit terakhir, Rabu (29/4) dini hari lalu. Sergio mengungkapkan bahwa kedatangannya ke kantor polisi provinsi Nueva Ecija pada Selasa (28/4) kurang lebih berpengaruh terhadap penundaan eksekusi mati Mary Jane. "Saya senang bahwa Mary Jane mendapat penangguhan hukuman untuk eksekusinya. Kedatangan saya ke kantor polisi mungkin telah membantu (kasusnya)," kata Sergio, dilansir dari media Filipina, Inquirer, Kamis (30/4). Namun, kedatangan Sergio bukan untuk menyerahkan diri. Sergio menekankan bahwa dia tidak bersalah dan hanya ingin membantu Mary Jane mencari pekerjaan di luar negeri. Sergio tetap bersikeras bahwa dia tidak terlibat dalam sindikat perdagangan narkoba. Dia juga mengklaim tidak tahu-menahu soal tas yang diberikan kepada Mary Jane, yang ternyata berisi 2,6 kilogram heroin. Meminta perlindungan Sergio menegaskan bahwa kedatangannya ke kantor polisi adalah untuk meminta perlindungan. Sergio mengklaim bahwa mendekati eksekusi mati, dia mendapat banyak ancaman dari keluarga Mary Jane. Sergio mengungkapkan bahwa dia menerima ancaman via telepon dari seorang pria yang diyakini sebagai suami Mary Jane, Michael Candelaria, sesaat setelah dia diwawancara oleh sebuah stasiun TV Filipina. "Pada minggu pertama bulan April, setelah wawancara di TV, saya menerima beberapa panggilan telepon dari orang yang berbeda dan dari suami Mary Jane," katanya. "Hidupmu tinggal sebentar lagi," kata Sergio mengutip ancaman yang dia terima. "Dia memperingatkan saya bahwa jika Mary Jane dieksekusi, dia akan membunuh saya dan keluarga saya," katanya dalam sebuah pernyataan kepada polisi. Tak hanya dari telepon, Sergio juga mengklaim dia menerima ancaman mati dari sejumlah pesan singkat yang dikirimkan dari nomor ponsel yang berbeda-beda. Sergio menyatakan bahwa orang tua Mary Jane juga ikut menyalahkannya atas hukuman yang dijatuhkan kepada putri mereka. Bukan kriminal "Saya ingin menjelaskan bahwa saya dan pasangan hidup saya, Julius Lacanilao, tidak menyerahkan diri. Kami meminta perlindungan pemerintah dari orang-orang yang mengancam kami," katanya. "Saya bukan seorang kriminal," kata Sergio melanjutkan. Meskipun Sergio telah mendengar bahwa namanya tercantum dalam laporan Biro Investigasi Nasional soal penipuan, perekrutan ilegal dan perdagangan manusia, hingga saat ini Sergio belum menerima salinan dakwaan tentang kasus tersebut. "Saya bukan seorang kriminal. Jika mereka ingin menangkap dan menyelidiki saya, saya bersedia untuk melakukan itu. Tapi tolong, berikan saya seorang pengacara untuk membantu saya," katanya. "Saya lebih suka diselidiki di markas besar Kepolisian Nasional Filipina," ujar Sergio. Setelah mendatangi kantor polisi Filipina pada Selasa (29/4) pukul 10.30 siang, Sergio menghabiskan malam di kantor kepala kontra intelijen Inspektur. Julius Ceazar Manucdoc. Menurut keterangan Komnas Perempuan RI, Mary Jane pergi merantau ke luar negeri dari desa kelahirannya di Caudillo, sebuah desa di pinggiran kota Cabanatuan, Nueva Ecija, Filipina, untuk mencari nafkah. Mary kemudian direkrut oleh tetangganya, Sergio, untuk bekerja di Malaysia sebagai pembantu rumah tangga secara ilegal. Untuk ke Malaysia, Mary Jane menggadaikan motor dan ponselnya. Namun itu masih kurang untuk menutupi biaya keberangkatan sehingga gaji Mary di Malaysia menurut Sergio bakal dipotong selama tiga bulan pertama. Tetapi setibanya di Kuala Lumpur, pekerjaan yang dijanjikan ternyata sudah tak lagi tersedia. Mary lalu diminta Sergio untuk ke Indonesia. Ia dijanjikan bakal segera dipekerjakan sekembalinya dari Indonesia. Ketika hendak ke Indonesia, tepatnya Yogyakarta, Mary Jane dibekali uang US$500 dan diberi tas untuk menyimpan pakaian dan peralatan pribadinya. Ternyata ke dalam tas itu dimasukkan pula heroin 2,6 kilogram. Begitu mendarat di Bandara Adisucipto, Mary ditangkap otoritas Indonesia. Mary Jane dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati pada 20 Oktober 2010.
  5. Guy Pearce, bintang Iron Man 3 ikut menghujat Jokowi. Selebriti dunia tengah mengumandangkan nama Presiden Joko Widodo. Bukan karena Indonesia baru saja menorehkan suatu prestasi, melainkan melaksanakan hukuman mati. Banyak pihak yang menghujat keputusan Jokowi mengabaikan protes dunia, dan melangsungkan eksekusi mati. Salah satunya adalah Guy Pearce, aktor dan musisi asal Australia. Bintang Iron Man 3 itu menyebut nama Jokowi sebagai "President Widodo" saat mencuitkan perasaannya tentang warga Australia yang dieksekusi mati. "Really? You are going to kill our boys, are you President Widodo? That's the world we live in, is it? I am sorry, what century are you in, brother?" tulisnya. Pearce juga ikut bersama selebriti lain seperti pemenang Oscar Geoffrey Rush, Bryan Brown, dan Joel Edgerton membuat video yang ditujukan pada Perdana Menteri Australia, Tony Abbott. Selasa (28/4) mereka berharap Abbott ke Indonesia dan menghentikan eksekusi mati. Soal itu, Pearce juga berkicau di Twitter-nya. "Just to be clear, my issue regarding Andrew and Myuran facing the death penalty is with the Govt enforcing it, not ours trying to stop it," tulis Pearce menjelaskan pendapatnya. [tweet]https://twitter.com/TheGuyPearce/status/592637592010522624[/tweet] Saat delapan terpidana mati, termasuk Andre dan Myuran dieksekusi Rabu (29/4) dini hari, Pearce langsung mengungkapkan kekecewaannya. [tweet]https://twitter.com/TheGuyPearce/status/593155667403214848[/tweet] Kekecewaan yang sama diungkapkan band The Temper Trap. Beberapa jam sebelum eksekusi mati, mereka mengunggah cuitan di Twitter yang juga menyebut nama Jokowi. Mereka mengatakan dengan tegas, darah akan ada di tangan Jokowi jika benar mengeksekusi mati duo Bali Nine. [tweet]https://twitter.com/thetempertrap/status/592917979735658497[/tweet] Sebelumnya, Februari lalu The Temper Trap sudah pernah meminta Jokowi membatalkan keputusan eksekusi matinya. Melalui Twitter mereka menolak keputusan itu. The Temper Trap bahkan mengunggah video ke YouTube yang berisi tentang anak-anak muda melawan putusan mati. [tweet]https://twitter.com/alex_c_lee/status/592927764484739072[/tweet] Bukan hanya musisi dan aktor, seniman asal Australia, Ben Quilty juga menghujat Jokowi. Melalui Facebook Quilty menyatakan, keputusan Jokowi mengeksekusi dua saudaranya, Andrew dan Myuran bisa saja membunuh imajinasi mereka, tapi takkan mematikan kenangan yang ada. Keluarga, sahabat, dan semua orang yang pernah dikenal Andrew dan Myuran akan tetap mengenang mereka. Quilty sendiri berjanji menentang keputusan hukuman mati seumur hidupnya kelak.
  6. Black Sabbath menyurati Jokowi dan memintanya langsung menghentikan eksekusi mati. Kalau selama ini Presiden Joko Widodo menjadi 'kesayangan' metalhead karena kecintaannya pada musik keras itu, sepertinya keputusan mengeksekusi Bali Nine kini berpengaruh. Dua band beraliran metal meminta Jokowi membatalkan pengeksekusian para terpidana narkoba itu. Pertama, band metal asal Inggris, Napalm Death. Diberitakan Sidney Morning Herald, awal Februari lalu vokalis Napalm Death Mark Greenway mengunggah pernyataan ke akun Facebook yang ditujukan langsung pada Jokowi. "Tolong biarkan hidup Andrew Chan dan Myuran Sukumaran," ia menulis. Sebagai pencinta Napalm Death, lanjutnya, ia yakin Jokowi memahami lirik-lirik band itu yang berupa perjuangan melawan kekerasan di dunia. Kekerasan itu, katanya, bisa dilakukan individu maupun negara. "Saya paham bahwa Anda sebagai pemimpin harus mengubah hal menjadi lebih baik. Maka saya yakin pemberian grasi akan menjadi langkah kemajuan besar dalam proses ini," lanjut Mark. Ia melanjutkan menulis dalam akun berpenggemar sampai 700 ribu itu, "Saya tahu heroin bisa sangat merusak, tapi saya percaya isu ini lebih kompleks dan tidak bisa digantikan semudah dengan mencabut nyawa orang lain." Sebelumnya, Jokowi pernah mengaku sebagai penggemar Napalm Death. Ia bahkan pernah berfoto sembari mengacungkan jari metal dan menggunakan kaus bertuliskan nama band itu. Napalm Death tertawa saat mendengar fakta itu. "Jika Anda tahu segalanya tentang Napalm Death, Anda tahu kami sangat kritis tentang mekanisme politik," Mark kembali menuturkan. Jika Jokowi mampu menyelamatkan nyawa terpidana mati, ia akan menganggapnya sebagai pemimpin terhangat. Setelah permohonan band kesukaannya itu, kini Jokowi kembali didekati band metal lainnya, Black Sabbath. Sang gitaris, Tony Iommi menyurati Jokowi dengan permintaan yang sama. Menurut Sidney Morning Herald, surat itu dikirim kepada Jokowi di Jakarta, Rabu (4/3) pagi oleh petugas Australia. Ia diberi kop dengan huruf khas Iommi, dan bertanda tangan. Tony mengawali suratnya dengan pemahaman dan rasa hormat atas perjuangan Jokowi melawan penyalahgunaan obat-obatan di Indonesia. Ia tak memungkiri bahwa itu masalah semua negara. Tony pun mengaku tahu betul efek negatif narkoba. Namun, ia melihat ada perubahan dalam diri dua terpidana mati yang merupakan anggota Bali Nine, yakni Andre Chan dan Myuran Sukumaran. "Saya mohon kepada Anda, sebagai orang yang pemaaf, untuk menghormati perubahan mereka. Mereka kini orang yang berbeda dan membuat perbedaan positif kepada hidup pengikut mereka," tulis Tony. Menurutnya, perubahan itu adalah poin khusus bagi pemerintah Indonesia. "Atas alasan ini, saya meminta Anda menghentikan eksekusi Andrew dan Myuran. Tolong biarkan mereka menjalani hukuman seumur hidup sehingga bisa berkontribusi untuk Indonesia dan membalas kesalahan di masa lalu," lanjutnya. Bukan hanya dua band metal itu, band asal Australia The Temper Trap juga mengecam keputusan Jokowi mengeksekusi mati Andrew dan Myuran. Sejak akhir Februari lalu, Twitter mereka dipenuhi ajakan menolak keputusan itu. "Indonesia, jika Anda bersama kami, berbicaralah. Sekarang waktu Anda. Buat perubahan!" tulisnya, sembari menambahkan tagar #YADP, #keephopealive, #mercycampaign, dan #istandformercy. Band itu juga mengunggah video YouTube tentang anak muda melawan putusan mati. Mereka bahkan nulis, "Tuhan aja Maha Pengampun, kok presiden ngga yah."
  7. Raheem Agbaje Salami, terpidana yang mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Madiun, Jawa Timur sudah menuliskan pesan terakhirnya.Usai ditembak mati, pria yang tercatat sebagai warga warga Cordova, Spanyol itu juga ingin agar jenazahnya dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum Serayu, Madiun secara Katolik. Keinginan terakhirnya yang lain adalah bisa menelpon keluarganya di Nigeria, negara asal Raheem. “Permintaan terakhir itu sudah diketik dan ditujukan kepada jaksa pelaksana eksekusi di Nusakambangan,” ujar Titus Tri Wibowo, pendamping rohani/bapak permandian terpidana mati kasus narkotika ini, Senin, 2 Maret 2015. Tiga lembar surat permohonan terakhir Raheem tertanggal 2 Maret 2015 itu juga ditujukan kepada Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, Kejaksaan Negeri Madiun, Kedutaan Besar Nigeria di Jakarta, kuasa hukumnya Utomo Karim, dan arsip. Dengan munculnya surat tersebut Titus meyakini bahwa Raheem sudah siap menjalani eksekusi mati. Bahkan, ia melanjutkan, apabila diizinkan Raheem ingin menjalani hukuman mati tanpa harus ditutup matanya. “Dia ingin matanya terbuka sambil berdoa tapi mungkin tidak diizinkan. Maka, tidak ditulis dalam surat permohonan terakhirnya,” kata Titus. Raheem, menurut dia, dikenal memiliki kepedulian yang tinggi narapidana lain di LP Madiun. Salah satunya dengan mengajari sejumlah warga binaan berbahasa Inggris. “Dia orangnya baik kepada orang lain. Dia juga selalu datang saat kebaktian di gereja dan menjelang eksekusi mati lebih khusyuk,”kata Titus. Pelaksana Harian Bidang Pelayanan dan Pembinaan Narapidana LP Madiun Romi Novetrion menambahkan, Raheem juga aktif dalam kegiatan olahraga. Hampir setiap hari, pria yang kedapatan membawa lima kilogram di Bandara Internasional, Juanda, Surabaya pada tahun 1999 ini bermain bulu tangkis dengan narapidana lain di dalam LP. “Jumat dan Minggu kemarin dia main bulu tangkis,” ujarnya. Romi menilai, kebiasaan Raheem berolahraga membuat tubuhnya sehat. Selama ini, Raheem jarang berobat ke klinik yang tersedia di LP. “Saya tidak pernah tahu dia memiliki riwayat penyakit tertentu. Secara fisik orangnya sehat,” kata dia. Raheem merupakan narapidana yang dilayar dari LP Porong, Sidoarjo ke LP Madiun pada tahun 2007. Ia dikabarkan merupakan salah satu narapidana yang segera menjalani eksekusi mati setelah grasinya ditolak Presiden Joko Widodo pada tahun 2014.
  8. Chan dan Sukumaran ditangkap di Bali pada 2005 dalam kasus penyelundupan narkoba. Dua warga negara Australia termasuk di antara beberapa narapidana yang dijadwalkan menjalani eksekusi mati tahap berikutnya di Indonesia. Kepastian ini disampaikan Jaksa Agung H.M. Prasetyo dalam keterangan kepada para wartawan di Jakarta, hari Senin 2 Februari 2014. Eksekusi Myuran Sukumaran dan Andrew Chan, masing-masing berusia 33 dan 31 tahun, akan dilakukan setelah Presiden Joko Widodo bulan lalu menolak grasi yang mereka ajukan. Keduanya dinyatakan bersalah dalam kasus penyelundupan narkoba delapan kilogram dari Bali ke Australia pada 2005. Perdana Menteri Australia Tony Abbott sudah meminta pemerintah Indonesia mengampuni Chan dan Sukumaran. Yang juga masuk dalam esekusi mati tahap ini adalah seorang warga Brasil, Prancis, Ghana, Nigeria, Filipina, dan seorang warga Indonesia. Kejaksaan Agung -lembaga yang melakukan hukuman mati- tidak mengeluarkan rincian tentang kapan hukuman mati ini akan dilaksanakan. Bulan lalu kejaksaan melakukan eksekusi mati terhadap enam narapidana, di antaranya berkewarganegaraan Vietnam, Malawi, Brasil, Belanda, dan Nigeria. Tidak lama kemudian pemerintah Brasil dan Belanda menarik duta besar mereka dari Jakarta, sementara Nigeria meminta penjelasan duta besar Indonesia di Abuja.
  9. Chan dan Sukumaran ditangkap di Bali pada 2005 dalam kasus penyelundupan narkoba. Dua warga negara Australia termasuk di antara beberapa narapidana yang dijadwalkan menjalani eksekusi mati tahap berikutnya di Indonesia. Kepastian ini disampaikan Jaksa Agung H.M. Prasetyo dalam keterangan kepada para wartawan di Jakarta, hari Senin 2 Februari 2014. Eksekusi Myuran Sukumaran dan Andrew Chan, masing-masing berusia 33 dan 31 tahun, akan dilakukan setelah Presiden Joko Widodo bulan lalu menolak grasi yang mereka ajukan. Keduanya dinyatakan bersalah dalam kasus penyelundupan narkoba delapan kilogram dari Bali ke Australia pada 2005. Perdana Menteri Australia Tony Abbott sudah meminta pemerintah Indonesia mengampuni Chan dan Sukumaran. Yang juga masuk dalam esekusi mati tahap ini adalah seorang warga Brasil, Prancis, Ghana, Nigeria, Filipina, dan seorang warga Indonesia. Kejaksaan Agung -lembaga yang melakukan hukuman mati- tidak mengeluarkan rincian tentang kapan hukuman mati ini akan dilaksanakan. Bulan lalu kejaksaan melakukan eksekusi mati terhadap enam narapidana, di antaranya berkewarganegaraan Vietnam, Malawi, Brasil, Belanda, dan Nigeria. Tidak lama kemudian pemerintah Brasil dan Belanda menarik duta besar mereka dari Jakarta, sementara Nigeria meminta penjelasan duta besar Indonesia di Abuja.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy