Jump to content

Search the Community

Showing results for tags 'dokter'.



More search options

  • Pencarian Berdasarkan Tag

    Jenis tag dipisahkan dengan koma.
  • Pencarian Berdasarkan Penulis

Jenis Konten


Forum

  • NGOBAS ANSWERS
    • Pertanyaan Umum
  • MEDIA MUDA
    • Berita Muda
    • Muda Anonim
  • CAFE NGOBAS
    • LOKER KORAN
    • MOTIVI
    • PELACUR
    • SAY HELLO TO NGOBAS
  • CLINIC NGOBAS
    • MEDIC & ALTERNATIF
    • OLGA
  • KOMUNITAS
    • BELA DIRI
  • DEDEMIT (Dedengkot Dedengkot Melek IT)
    • COMPUTER SECURITY
    • GRAPHIC DESIGN
    • HARDWARE
    • MALWARE
    • NETWORKING
    • OPERATING SYSTEM
    • PROGRAMMING
    • SEMBERIT
    • SOFTWARE
    • WEBSITE
  • HOBBY
    • ANIME
    • ELECTRONIC AND GADGET
    • FOOKING
    • GAMING
    • MOVIE
    • MUSIC
    • OTONG
    • PHOTOGRAPHY
    • SAINS
  • NgobasTV
    • ABOUT NgobasTV
    • EVENT
    • WESER
  • Ngobas Magz
    • Ruang Meeting
    • Redaksi
    • Tentang Ngobas Magz
    • Berita Ngobas Magz
  • Ngobas Bikers Club (NBC)
    • ABOUT Ngobas Bikers Club
    • NEWS
  • NGOBAR
    • BUSINESS
    • KEUANGAN
    • Bukan-GOSSIP
    • INAGURASI
    • JOKE & JILL (Joke and Jahill)
    • GAYA HIDUP
    • MISTIK
    • POLITIC
    • RELIGI
  • POS KAMPLING
    • TEMPAT ISTIRAHAT
    • LAPOR KOMANDAN

Blog

There are no results to display.

There are no results to display.

Categories

  • Topik Berita
  • Acara
    • Dokumentasi Event
  • Officer

Product Groups

There are no results to display.


Cari hasilnya di...

Cari hasilnya yang...


Tanggal Dibuat

  • Mulai

    End


Pembaruan Terakhir

  • Mulai

    End


Saring dari jumlah...

Joined

  • Mulai

    End


Group


Situs


Twitter


Facebook


VKontakte


Instagram


Youtube


Skype


Yahoo


AIM


MSN


ICQ


Jabber


BBM


Line


Minat

Ditemukan 9 results

  1. Brenda_Christie

    Alasan Punya Pasangan Dokter Itu Enggak Enak

    Setiap orang tentu memiliki kriteria masing-masing saat hendak menjalin hubungan dengan orang lain. Salah satu hal yang dipertimbangkan adalah pekerjaan calon pasangan. Beberapa orang mungkin ada yang mengharapkan memiliki pasangan seorang dokter. Sebab hingga saat ini dokter masih dianggap sebagai profesi dengan gaji tinggi. Bagi Anda yang memiliki keinginan serupa, tahukah bahwa menjadi pasangan dokter tidak mudah? Tidak percaya? Kehidupan medis tidak terlalu fleksibel Sama seperti pekerjaan lain, dokter juga memiliki jadwal praktek. Hanya saja terkadang dokter harus menyelesaikan pekerjaannya menangani pasien hingga kondisi sudah stabil. Dengan begitu dokter tidak bisa pergi begitu saja di tengah-tengah kondisi darurat. Bahkan dokter harus siap dipanggil kapan saja saat ada pasien yang membutuhkan. Meskipun pada saat itu dirinya sedang ada acara keluarga atau sedang bersama dengan pasangan. Selain itu, tempat tinggal dokter terkadang harus mengikuti tempatnya ditugaskan praktek. Kondisi ini sering terjadi pada saat dokter hendak mengambil spesialisasi dan sekolah lebih lanjut. Pasangan pun harus siap dengan kondisi ini. Memiliki waktu kehidupan yang berbeda dari orang lain Salah satu bagian tersulit menjadi pasangan dokter adalah sulitnya bertemu dengan orang lain sesuai jadwal semestinya. Sebagai contoh, ibu rumah tangga biasa mungkin menyempatkan waktu bertemu dengan teman di hari kerja dan menghabiskan waktu dengan keluarga di akhir pekan. Tapi dokter kadang memiliki waktu luang di hari kerja dan bekerja di akhir pekan. Saat itu tentu sebagai pasangan yang baik harus ada di rumah untuk menemani suami. Sedangkan bertemu di akhir pekan dengan teman sedikit sulit karena mereka ingin menghabiskan waktu bersama keluarga. Sulit untuk merencanakan sesuatu Merencanakan segala sesuatu adalah tindakan yang baik. Tapi rencana bisa jadi tinggal rencana saat harus berhadapan dengan jadwal praktik dokter. Seperti yang dikatakan sebelumnya, jam pulang kerja dokter tidak jelas. Begitu juga dengan waktu liburnya. Belum lagi bila mereka dibutuhkan mendadak di hari libur. Merasa tidak mengenal pasangan Kesibukan dan rutinitas yang berbeda dari dokter terkadang membuat seseorang tidak mengenal pasangannya. Terutama saat menemani mereka dalam pertemuan-pertemuan yang melibatkan banyak dokter. Sementara dokter mungkin akan bercakap-cakap tentang dunia medis kepada rekannya dengan penuh semangat, pasangan hanya bisa mendengarkan tanpa bisa mengerti. Itu bisa terasa sangat menjengkelkan karena seolah-olah Anda tidak mengenal pasangan dan tidak mengetahui apapun soal dunianya. Timbul perasaan bersalah dan sedih Ini mungkin merupakan bagian tersulit menjadi pasangan dari seorang dokter. Tak sedikit orang yang merasa bersalah karena ada banyak hal baik tentang menikah dengan dokter tapi banyak pula hal buruk yang dapat terjadi. Kondisi ini terkadang bisa sangat sulit untuk diceritakan pada orang lain karena mereka tidak mengerti kondisinya.
  2. Dokter itu melayani dan bekerja untuk kepentingan masyrakat. Keyakinan hati dokter muda, Benediktus Andries ini, buat dirinya ingin bebaskan Papua dari malaria. Meski bertempat tinggal di Ibu Kota Jakarta dan berasal dari Kota Bogor, seorang dokter tapan bernama Benediktus Andries lebih memilih bekerja di Papua. Alasannya sangat mulia, ingin membebaskan Papua dari malaria. Dokter muda yang akrab disapa Andries itu kini bekerja sebagai peneliti di Pusat Penelitian Malaria Timika, di Kabupaten Mimika Papua. Sebelumnya, ia bekerja sebagai dokter umum di Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika. Pria yang sempat mengikuti program internship di Pulau Sumbawa, NTB ini tertarik untuk mengabdikan dirinya di Tanah Papua karena tingginya angka malaria dan kurangnya pelayanan medis. Ia mengaku ingin membebaskan Papua dari Malaria. “Saya ingin melalui penelitian ini, goalnya “Timika bebas dari Malaria. Papua bebas dari Malaria, dan harapannya adalah se-Indonesia bebas malaria. Tapi segala sesuatu harus dimulai dari hal paling terkecil dulu kan?” Meski medan di Timika tak mudah, dengan fasilitas yang tak secanggih di perkotaan, baginya ini merupakan tantangan tersendiri. Ia juga sangat yakin bahwa merupakan tugas dokter untuk melayani dan bekerja untuk kepentingan masyarakat. “Buat saya, saya menjunjung tinggi profesi. Dokter itu melayani dan bekerja untuk kepentingan masyarakat. Nggak semua orang bisa menjadi dokter. Saat sudah menjadi dokter, harapannya kita bisa mengaplikasikan apa yang kita miliki untuk masyarakat,” Sudah siapkah kamu mengabdikan diri untuk kepentingan masyarakat? Yuk, ikuti jejak Andries ndral!
  3. Abdul Mun'im Idries baru saja menginjak lantai rumahnya di Cengkareng, Jakarta Barat. Tiba-tiba telepon genggam dokter forensik itu berdering. "Dok, bantu kami, dok. Ada korban penembakan." Mun'im mengenali suara itu: Kasat Serse Polres Metro Jakarta Barat, Kapten Idham Azis. Malam itu, Selasa 12 Mei 1998. "Di mana, Pak?" "Korban ada di RS Sumber Waras. Dokter meluncur saja ke pos polisi di Terminal Grogol." Tanpa mengganti baju, Mun'im segera menuju pos polisi tersebut. Sesampai di sana, ia diminta menunggu. Sampai pukul 23.00 WIB, tak ada kabar. Mun'im lalu berujar, "Pak, daripada menunggu tidak jelas, lebih baik saya berangkat ke Sumber Waras. Toh tidak jauh dan jalanan sepi, tinggal lurus saja." Usul Mun'im diterima. Polisi tak berseragam memboncenginya dengan sepeda motor. Dua petugas lain menemani, dengan sepeda motor berbeda. Jakarta sunyi mencekam. Para polisi itu memilih jalan tikus, bukan menyusuri jalan utama. "Pak dokter, kita tidak tahu siapa kawan siapa lawan. Ini semua demi keselamatan dokter," kata si petugas ketika ditanyakan soal pilihan rutenya seperti diceritakan Mun'im dalam buku "Indonesia X-Files: Mengungkap Fakta dari Kematian Bung Karno sampai Kematian Munir." Setiba di RS Sumber Waras, Mun'im baru tahu ada empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas ditembak. Mereka adalah Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Mereka menjemput ajal di kampus usai berdemonstrasi. Demonstrasi didorong ekonomi Indonesia yang kolaps sepanjang 1997-1998. Banyak perusahaan gulung tikar, gelombang PHK massa menerjang. Rezim Orde Baru jadi target kemarahan. Para mahasiswa di seluruh Indonesia turun ke jalan, termasuk para mahasiswa Universitas Trisakti. Mereka bergerak dari kampus Trisakti di Jalan Kiai Tapa, Jakarta Barat, menuju Gedung DPR/MPR pada pukul 12.30. Namun mereka dihadang polisi dan militer di depan kantor Wali Kota Jakarta Barat. Mahasiswa coba bernegosiasi. Tetap dilarang ke Senayan. Mereka pun menggelar aksi di Jalan S Parman tersebut. Pada pukul 17.15 WIB, para mahasiswa mundur ke arah kampus. Ketika sebagian besar mahasiswa telah masuk ke halaman kampus, terdengar bunyi tembakan beberapa kali. Arahnya dari jembatan layang Grogol. Tak jelas siapa pelakunya. Saat tembakan reda, diketahui empat mahasiswa tewas. Sebelum autopsi, Mun'im harus membujuk keluarga korban yang melarang. "Bu, memang benar yang sudah wafat tidak mungkin bisa dihidupkan kembali. Akan tetapi almarhum masih mempunyai hak, hak untuk memperoleh keadilan..." kata Mun'im saat itu -- pakar forensik legendaris ini meninggal dunia pada 27 September 2013. Sekitar 15 menit negosiasi berlangsung. Akhirnya autopsi bisa dilakukan. "Masing-masing mendapat luka tembak pada daerah yang mematikan, bukan untuk melumpuhkan. Ini jelas dari lokasi luka tembak...Ada di dahi dan tembus ke daerah belakang kepala, ada di daerah leher, di daerah punggung, dan ada yang di daerah dada," tulis Mun'im. Semua tewas karena peluru tajam. Sesuai kesepakatan, Mun'im mengontak petugas Polres Jakarta Barat, memberi tahu bahwa autopsi kelar. Jarum jam menunjukkan pukul 04.00. Bukan diantar kembali ke rumah, Mun'im malah diajak ke Mapolda Metro. Kapolda Metro, Mayjen Pol Hamami Nata, telah menunggu. Mun'im menjelaskan hasil autopsi seraya menunjukkan proyektil peluru yang membunuh empat pemuda itu. Hamami termangu, matanya menerawang. "Saya sudah perintahkan kepada semua anak buah saya agar mereka tidak menggunakan peluru tajam. Mereka yang menghadapi pengunjuk rasa hanya dibekali peluru karet atau peluru hampa yang terbatas jumlahnya. Dari mana datangnya peluru ini?" ujar Hamami. Berulang kali Hamami menegaskan hal itu. Mun'im langsung menduga bahwa Polda Metro dikerjain. Entah oleh siapa.
  4. No party for Avicii! Yap. DJ asal Swedia itu baru saja melakukan operasi atas penyakit yang dideritanya. Menurut kabar, Aviciimengalami infeksi usus buntu. Karena itu, ia pun harus berhenti membuat keriaan party, setidaknya untuk satu bulan mendatang. Im sorry for having to postpone the shows this month. I sincerely rly wish I didnt have to but unfortunately theres no going around it. Avicii Keadaan Avicii dirumah sakit "Maafkan saya karena harus menunda (jadwal) show untuk bulan ini. Saya sungguh tidak ingin melakukannya tetapi tidak ada cara lain," kataAvicii di Twitter. Bagi siapapun, kesehatan adalah yang utama. Setelah jatuh sakit, Aviciipun baru merasakan hal tersebut. "Kesehatan adalah yang utama apalagi setelah (operasi-RED) pengangkatan usus buntu. Peringatan dokter begitu keras bagi saya," jelas Avicii. Get well soon Avicii, and dancefloor gonna miss you :)
  5. Ketika dokter diminta melakukan tes keperawanan, mereka mesti menolak karena secara medis tidak perlu dan dapat menimbulkan bahaya psikologis, demikian pendapat sejumlah pakar etika Amerika Serikat. Pemeriksaan seputar panggul ini dilakukan di banyak negara di dunia sebelum seorang perempuan menikah. Namun dokter tak setuju adanya pemeriksaan tersebut, seperti dilansir Reuters. Pasalnya ada tiga hal dalam etika profesi yang dilanggar, yakni melindungi kesejahteraan pasien, menghormati kedaulatan tumbuh perempuan, dan mendukung keadilan, demikian ditulis kelompok ahli etika dalam jurnal The Lancet. “Tes keperawanan tidak melindungi dan mendukung kesehatan pasien perempuan. Karenanya tes keperawanan sangat tak kompatibel dengan tiga prinsip etika profesional obstetri dan ginekologi,” kata Laurence McCullough, peneliti kebijakan etika dan kesehatan di Baylor College of Medicine di Houston, AS, sekaligus co-author esai tersebut. Tes keperawanan bisa menyakitkan dan membuat perempuan merasa dipermalukan atau direndahkan, ujar McCullough menambahkan lewat email. "Tak ada manfaat kebersihan klinis dan risiko pencegahan dari bahaya biopsikososial,” ujar McCullough. Dalam tes tersebut, yang kerap disebut tes “dua jari”, dokter melakukan pemeriksaan dalam vagina untuk merasakan adanya selaput dara, membran tipis yang dipercaya beberapa budaya akan tetap utuh hingga perempuan melakukan hubungan seksual. Padahal ada perempuan yang terlahir tanpa selaput dara, dan membran tersebut juga dapat robek atau meregang akibat aktivitas, seperti olah raga atau menggunakan tampon. Sejumlah organisasi HAM mengutuk tes keperawanan, menyebutnya tak berperikemanusiaan dan tak beretika. Menurut WHO, “tak ada tempat bagi tes keperawanan (atau 'dua jari'). Tak ada validitas ilmiahnya.” Walau begitu, praktik ini tetap diberlakukan di banyak negara, antara lain India, Turki, Afganistan, Mesir, Libya, Yordania, Indonesia, dan Afrika Selatan. Tes keperawanan di tempat-tempat tersebut dilakukan karena budaya atau agama bahwa perempuan harus perawan hingga pernikahan. Tes keperawanan juga dilakukan di kondisi lain untuk memastikan perempuan tersebut, misalnya, masih perawan ketika masuk militer; serta ketika perempuan dituduh atas kejahatan moral atau lari dari rumah. Di Afrika Selatan, tes keperawanan awalnya menimbulkan pro-kontra. Namun kemudian jadi umum dilakukan bersamaan meningkatnya epidemik AIDS, ujar Louise Vincent, peneliti dalam tes keperawanan dan isu kesehatan reproduksi perempuan di Rhodes University di Afrika Selatan yang tak dilibatkan dalam penelitian. Dalam konteks AIDS, di negara yang banyak perempuan mudanya melaporkan pengalaman seksual pertama mereka bukan suka sama suka, momok tes keperwanan dapat berfungsi sebagai pencegah hubungan seksual yang tak diinginkan di masa depan, ujar Vincent. Walau dalam kondisi seperti ini, tes keperawanan tak etis dilakukan dokter, ujar McCullough. “ Tak ada situasi di mana pasien perempuan dapat dianggap lebih baik melakukan tes keperawanan,” kata McCullough.
  6. MariaAngeline

    Gejala Flu, Ternyata Radang Selaput Otak!

    Saat mengalami sakit yang mungkin dirasa ringan, kebanyak orang akan mengabaikan rasa sakit tersebut. Mereka mungkin hanya akan meminum obat atau antibiotik untuk meringankannya dan tidak memeriksakan diri ke dokter. Mulai saat ini, jangan melakukannya lagi ya, karena gejala-gejala ringan seperti itu bisa jadi adalah tanda suatu penyakit yang tidak bisa dianggap remeh. Seorang gadis belia bernama Natasha Willard harus mengalami kelumpuhan dan kehilangan kemampuan bicara karena tidak segera menangani rasa sakit yang dialaminya. Natasha dan keluarganya menganggap bahwa ia hanya terkena flu. Namun lama-kelamaan, keadaan Natasha semakin memburuk. Setelah beberapa hari, gadis berusia 17 tahun ini tidak bisa menggerakkan tangan dan kakinya. Hingga yang paling parah, ia kehilangan kemampuannya berjalan dan berbicara. Kini keluarganya sedang mencoba untuk mengajarinya mengatakan beberapa hal, dan kata-kata yang bisa ia ucapkan hanya nama beberapa orang, kata sapaan, serta kata “yeah”. Mulanya, dokter tidak bisa memastikan penyakit apa yang diderita oleh Natasha. Namun setelah meneliti lebih lanjut, mereka mengatakan bahwa Natasaha terkena peradangan otak yang disebut encephalitis. Kini Natasha hanya bisa berbaring lemah di tempat tidurnya. Keluarganya kini sedang berusaha untuk mengumpulkan biaya untuk pengobatan gadis malang tersebut. Sebentar lagi adalah ulang tahun Natasha yang ke 18, mereka berharap saat itu Natasha sudah pulih dan bisa kembali lagi ke rumah.
  7. Coba semua dokter di Indonesia seperti ini pastinya semua anak kecil tidak takut pada dokter.
  8. Sebuah majalah mingguan di Jepang bernama Friday yang dilansir Tribun News, pekan lalu baru saja menulis profil seorang dokter ahli kecantikan bernama Eriko Wakisaka. Tak disangka, tulisan mengenai perjalanan hidup dokter berparas cantik ini membuat semua orang geger membacanya. Pasalnya, ia sudah meniduri 800 pria tampan. Beredar kabar, Wakisaka rela mengeluarkan uang sembilan juta yen untuk membayar hosto atau penghibur laki-laki di sebuah klub hosto di Tokyo. Untuk diketahui, wanita berusia 36 tahun ini pernah mengenyam pendidikan dari Universitas Medikal Wanita Tokyo. Namun, dari semua alumnus selama 10 tahun terakhir, ia yang dinilai berbakat dan ahli anestesi. Pada tahun 2012, Wakisaka membuat klinik kecantikan di Nakameguro Tokyo dan cukup banyak memiliki pasien wanita. Paling sedikit Wakisaka menerima pendapatan per tahunnya sebesar 50 juta yen sebagai dokter kecantikan. Sejak akhir tahun lalu klinik tersebut ditutup karena ada kasus tuntutan cukup berat dari pasiennya. Sponsor ikut meninggalkannya karena ada sejumlah masalah lain yang dihadapi Wakisaka. Kini, sehubungan dengan pemberitaan di majalah tersebut, keberadaan Wakisaka hilang bak tenggelam dari muka bumi.
  9. Beberapa waktu lalu kita dikejutkan dengan foto selfie tim dokter di China yang sedang melakukan operasi kaki pasien. Foto tersebut mendapat banyak kecaman karena dokter dianggap lalai dalam tugas dan tidak sepantasnya mengabaikan pasien di kondisi operasi. Di Korea Selatan, hal yang sama terjadi. Otoritas kesehatan Korea Selatan sedang menyelidiki sebuah klinik operasi plastik di Seoul. Hal itu dilakukan setelah beredar foto-foto dokter dan timnya yang tampak mengabaikan seorang pasien operasi yang masih dalam kondisi tak sadarkan diri. Para staf rumah sakit, dokter dan perawat tampak berpesta di dalam ruangan operasi, dilansir oleh Asiaone.com. Dalam beberapa akun sosial media milik staf klinik, tampak mereka sedang berpesta (sangat mungkin pesta ulang tahun) di dalam ruangan operasi dengan pasien yang tak sadarkan diri. Mereka makan burger, minum softdrink dan ada setumpuk camilan. Mereka juga santai melakukan selfie di saat sedang bertugas. Yang menyedihkan, mereka tidak serius saat bertugas. Dalam sebuah foto tampak staf memegang implan payudara di depan dadanya. Seolah-olah hal itu lucu, padahal tidak pantas dilakukan oleh tim medis yang sedang/akan melakukan operasi. Tidak heran para netizen marah setelah melihat foto-foto itu. Tim medis yang seharusnya siap siaga dan serius dengan tugas mereka justru tampak main-main. Tim Departemen Kesehatan Masyarakat di wilayah Gangnam, Seoul angkat bicara mengenai kasus yang memalukan ini. "Pejabat kami sedang menyelidiki klinik tersebut untuk melihat apakah ada pelanggaran terhadap hukum medis. Apa yang mereka lakukan jelas merusak reputasi praktisi medis," ujar seorang juru bicara. Tindakan ceroboh dan membuat geram ini akhirnya ditanggapi oleh klinik yang bersangkutan dalam situsnya. "Kami meminta maaf dengan sangat mendalam, kami akan melakukan pelatihan lebih baik pada semua anggota staf dan mengutamakan keselamatan pasien," demikian permintaan maaf dari Jewelry Plastic Surgery Centre.
×

Important Information

Kami menggunakan cookie. Mereka tidak menakutkan, tetapi beberapa orang berpikir mereka. Terms of Use & Kebijakan Privasi